Hujan turun sejak sore tadi dan malam ini hujan masih turun rintik-rintik. Walaupun tidak sederas sore tadi, namun hujan itu masih membuat orang enggan keluar rumah. Apalagi malam itu dingin sekali. Lebih enak berada di dalam rumah, menghangatkan diri di dekat perapian atau di atas pembaringan menyusup ke bawah selimut daripada di luar rumah.
Kota Nan-king yang biasanya amat ramai dengan kehidupan malamnya itu kini nampak sunyi sepi seperti kota mati. Hanya satu dua orang saja nampak melangkah di atas jalan raya yang basah dan sunyi lagi gelap itu, orang-orang yang mempunyai urusan penting sekali. Mereka itu melindungi tubuh dengan jubah dan mantel, juga memegang payung.
Di sebuah rumah besar dan kuno yang terletak di tepi jembatan di ujung timur kota itu, suasananya juga amat sunyi. Rumah itu milik keluarga Siangkoan Leng yang terkenal sebagai keluarga jagoan, memiliki ilmu silat yang tinggi dan juga dihormati orang karena mereka itu berdagang obat-obatan dan terkenal pula pandai mengobati orang sakit. Karena pandai mengobati orang, maka Siangkoan Leng sendiri oleh penduduk kota Nan-king disebut Siangkoan Sinshe yang pandai mengobati orang dengan tusuk jarum. Perdagangan obatnya laris dan keluarga itu memiliki penghasilan cukup besar.
Akan tetapi keluarga ini pun, yang terdiri dari ayah ibu dan seorang anak, dibantu oleh empat orang pelayan, sejak sore sudah berada di kamar masing-masing, segan keluar kamar di malam yang sunyi dan dingin itu. Siangkoan Leng dan isterinya adalah sepasang suami isteri yang memiliki ilmu silat tinggi. Tiada orang di Nan-king yang pernah mengira, apalagi mengetahui, bahwa suami isteri itu, sebelum tinggal di Nan-king tujuh tahun yang lalu, pernah dikenal sebagai penjahat-penjahat besar di sepanjang pantai selatan! Selama belasan tahun mereka merajalela di daerah selatan, merampok, membajak, membunuh dan tidak ada kejahatan yang mereka pantang. Akan tetapi ketika isteri Siangkoan Leng yang bernama Ma Kim Li itu mengandung dalam usia hampir empat puluh tahun, peristiwa ini seperti menyadarkan mereka dan mereka berdua mengambil keputusan untuk memulai hidup baru dengan anak yang akan dilahirkan. Mereka lalu merantau ke utara dan akhirnya menetap di Nan-king meninggalkan pekerjaan jahat dan mencari uang secara halal. Mereka telah tinggal di situ selama tujuh tahun dan anak yang terlahir laki-laki mereka beri nama Siangkoan Hay dan kini telah berusia tujuh tahun. Sejak anak ini masih kecil, suami isteri itu telah menggembleng tubuh anak mereka dengan ramuan obat-obatan dan mendidiknya dengan ilmu silat.
Sebagai suami isteri yang pernah malang melintang sebagai tokoh sesat di dunia selatan, tentu saja Siangkoan Leng dan Ma Kim Li telah menanam bibit permusuhan dengan banyak golongan atau perorangan. Ketika mereka masih malang-melintang di selatan, mereka selalu hidup dalam keadaan siap siaga karena setiap waktu bisa saja ada musuh datang menyerang karena setiap saat ada saja yang mengintai untuk mencelakai mereka sebagai pembalasan dendam. Karena cara hidup yang tidak aman inilah maka suami isteri itu mengambil keputusan melarikan diri dan meninggalkan dunia hitam. Mereka tidak ingin anak mereka terlahir dalam keluarga yang selalu terancam keselamatannya. Dan sejak tinggal di Nan-king, mereka hidup dengan tenang dan tenteram, tidak pernah lagi merasa khawatir karena tidak ada yang mengenal mereka dan mereka merasa tidak punya musuh.
Biarpun demikian, karena sejak muda suami isteri itu adalah orang-orang yang selalu berkecimpung di dunia persilatan, apalagi kini mereka bermaksud menggembleng putera tunggal mereka menjadi seorang yang akan mewarisi ilmu-ilmu mereka, maka keduanya tak pernah lalai berlatih, bahkan berusaha untuk memperdalam ilmu mereka. Malam itu pun mereka tidak tidur seperti diperkirakan orang melainkan duduk bersamadhi di dalam kamar mereka, bersila di atas tempat tidur dan melatih ilmu baru yang sedang mereka ciptakan bersama untuk diturunkan kepada putera mereka. Dan bagaimana dengan Siangkoan Hay? Dasar anak tunggal dari suami isteri jagoan, anak ini pun suka sekali dengan ilmu silat dan malam itu pun dia duduk bersila untuk melatih diri menghimpun hawa murni dalam tubuhnya, sendirian di dalam kamarnya.
Akan tetapi, empat orang pelayan, dua laki-laki dan dua wanita, yang tidur di kamar-kamar belakang sejak tadi sudah tidur keenakan dalam udara dingin yang menerobos masuk ke dalam kamar mereka. Tak seorang pun dari tujuh penghuni rumah besar itu yang tahu bahwa ada dua sosok tubuh orang yang berjalan sambil berlindung di bawah sebatang payung, berhimpitan dan keduanya mengenakan mantel yang lebar, kini berhenti di depan rumah, menoleh ke kanan kiri. Sepi di sekitar tempat itu dan dua orang itu lalu memasuki pekarangan rumah keluarga Siangkoan. Di bawah sinar lampu yang tergantung di luar, di pojok rumah, nampak sekelebatan wajah dua orang laki-laki dan perempuan, yang laki-laki bertubuh jangkung kurus dan yang perempuan bertubuh sedang. Hanya sekelebatan saja wajah mereka nampak karena keduanya segera menyelinap ke dalam bayangan gelap dan hanya dua pasang mata mereka yang mencorong dalam kegelapan malam.
Dengan tenang mereka lalu menutup payung, membuka mantel, membungkus payung dalam mantel dan mengikat mantel-mantel itu di atas punggung. Kini mereka berpakaian ringkas, pakaian berwarna hitam yang membuat bayangan mereka sukar dapat dilihat. Dengan gerakan yang amat cekatan, setelah saling berbisik, keduanya lalu meloncat ke atas tembok pagar dan terus berloncatan ke atas genteng rumah besar itu. Gerakan mereka demikian ringan dan cepat, seperti dua ekor kucing saja ketika kaki mereka menginjak genteng tanpa menimbulkan suara sama sekali, dan bagaikan dua ekor burung saja ketika mereka meloncat.
Di ruangan belakang rumah itu, dua orang itu berloncatan turun. Dengan tenang mereka lalu menghampiri dua buah kamar di mana empat orang pelayan itu tidur. Masing-masing menghampiri sebuah kamar, yang laki-laki menghampiri pintu kamar pertama dan yang perempuan menghampiri pintu kamar ke dua, mereka berdua menggunakan tangan kanan mendorong daun pintu.
"Krekkk!" Daun pintu yang terkunci dari dalam itu jebol dan terbuka. Di dalam kamar pertama tidur dua orang pelayan pria dan laki-laki jangkung itu lalu menggerakkan tangan kirinya. Sinar hitam menyambar ke arah pembaringan dan dua tubuh pelayan laki-laki yang sedang tidur pulas itu berkelojotan dan tewas tak lama kemudian tanpa sempat membuka mata atau mengeluarkan suara.
Akan tetapi dua orang pelayan wanita yang berada di dalam kamar ke dua, ternyata belum pulas benar. Suara jebolnya daun pintu mengejutkan mereka. Keduanya bangkit duduk dan terbelalak memandang ke arah daun pintu yang sudah jebol. Ketika mereka melihat munculnya seorang wanita yang bermuka pucat dingin di tengah ambang pintu mereka terkejut dan ketakutan. Akan tetapi wanita itu pun sudah menggerakkan tangan kirinya dan sinar hitam menyambar ke arah dua orang pelayan wanita. Seorang di antara mereka sempat menjerit kecil sebelum ia roboh ke atas pembaringan kembali seperti temannya dan tubuh mereka berkelojotan lalu terdiam, mati. Sinar lampu di ruangan luar kamar itu kini menyinari dua muka pembunuh itu. Wajah seorang laki-laki yang kurus akan tetapi cukup tampan, kumisnya kecil panjang berjuntai ke bawah, bersatu dengan jenggotnya yang pendek dan sudah berwarna dua. Usianya sekitar lima puluh tahun. Wajah wanita itu pucat akan tetapi cantik, dengan hidung dan mulut yang membayangkan keangkuhan. Kini mereka saling pandang dan tersenyum, akan tetapi senyum mereka itu bagi orang lain tentu mengerikan karena seperti senyum iblis yang mengandung kekejaman.
Kini dua ekor anjing yang berlari dari belakang, datang sambil menggonggong dan hendak menyerang dua orang itu. Akan tetapi, dua orang itu menggerakkan tangan seperti orang menampar ke arah dua ekor anjing itu dan suara anjing itu pun terhenti seketika dan mereka pun terpelanting dan tewas dengan mulut, hidung dan telinga mengeluarkan darah. Dua orang itu lalu berkelebatan di belakang rumah. Beberapa kali terdengar suara ayam berkeyok dan jerit pendek babi-babi yang berada di kandang belakang. Kalau saja air hujan rintik-rintik tidak membuat suara gaduh di atas genteng, agaknya dua orang suami isteri yang sedang bersamadhi itu akan dapat mengetahui akan datangnya dua orang penyebar maut itu. Betapapun tinggi ilmu ginkang (meringankan tubuh) yang dimiliki tamu-tamu gelap itu, agaknya pendengaran suami isteri yang sedang bersamadhi itu akan mampu menangkapnya, karena pendengaran mereka amat tajam dan terlatih dengan baik. Suara gaduh yang ditimbulkan air hujan yang merintik di atas genteng menutupi semua suara lain. Akan tetapi jerit pelayan wanita tadi masih dapat menembus celah-celah dan memasuki kamar.
"Suara apa itu?" Ma Kim Li bertanya, sadar dari samadhinya. Suaminya juga sudah membuka mata dan memandangnya, menggeleng kepala. Akan tetapi karena tidak terdengar suara apa-apa lagi yang mencurigakan, mereka pun merasa lega. "Mungkin mereka mengigau dalam tidur ," kata Siangkoan Leng, sama sekali tidak menduga buruk karena selama bertahun-tahun ini tidak pernah terjadi sesuatu menimpa keluarganya.
Akan tetapi kelegaan hati mereka itu tidak berlangsung lama. Kecurigaan hati mereka kembali diusik ketika terdengar gonggong kedua ekor anjing peliharaan mereka, apalagi ketika suara menggonggong kedua ekor anjing itu tiba-tiba saja terhenti. Hal ini tidak wajar, pikir mereka. dari pandang mata saja kedua suami isteri itu sudah saling sepakat untuk melakukan penyelidikan. Berbareng mereka meloncat turun dari pembaringan, mengenakan sepatu dan keluar dari dalam kamar. Pertama-tama, mereka membuka daun pintu putera mereka dan melihat betapa putera mereka masih duduk bersila, akan tetapi agaknya juga terganggu oleh suara gonggongan anjing-anjing itu.
"Anjing-anjing itu kenapa, Ibu?" tanya Siangkoan Hay yang sangat menyayang anjing peliharaan mereka.
"Kau di sinilah, kami akan melihat ke belakang." kata ibunya. Mereka lalu keluar dari kamar itu, menutupkan kembali daun pintunya dan dengan langkah ringan namun cepat, suami isteri itu lalu berlari ke belakang. Dan apa yang dilihatnya pertama-tama membuat mereka terbelalak dan wajah mereka berubah. Dua ekor anjing peliharaan mereka yang setia itu telah menggeletak mati dengan mulut, hidung dan telinga mengeluarkan darah! Siangkoan Leng cepat menghampiri dan sebagai seorang ahli pengobatan, begitu meraba, tahulah dia bahwa dua ekor anjing itu tewas karena pukulan yang amat ampuh, pukulan yang tidak membekas pada kulit anjing akan tetapi yang merusak bagian dalam sehingga dua ekor binatang itu tewas dengan mulut, hidung dan telinga mengeluarkan darah.
Jeritan tertahan isterinya membuat Siangkoan Leng cepat meloncat dan menghampiri dua kamar itu. Dia menahan napas melihat betapa empat orang pelayan itu pun sudah tewas dan ketika mereka berdua melakukan pemeriksaan, mereka semakin terkejut akan tetapi juga marah sekali karena empat orang itu tewas dengan leher menghitam dan membengkak, tanda bahwa mereka telah dibunuh dengan menggunakan senjata rahasia jarum yang mengandung racun jahat!
Mereka saling pandang dengan mata terbelalak. "Perbuatan siapa ini....?" Bisik isterinya.
Suaminya menggeleng kepala, akan tetapi kelihatan marah. "Mari kita mencarinya!" Mereka berlompatan ke belakang dan ketika melakukan pemeriksaan mereka menemukan semua binatang peliharaan mereka, babi, ayam, bahkan seekor kucing, telah mati semua! Tidak ada seekor pun binatang peliharaan mereka yang masih hidup!
"Cepat, anak kita....!" Ma Kim Li setengah menjerit ketika teringat anaknya dan seperti berlumba saja kedua orang suami isteri itu berlari kembali ke dalam ruangan besar dan segera menuju ke kamar anak mereka. Daun pintu masih tertutup dan dengan hati penuh ketegangan Ma Kim Li yang datang lebih dulu dari suaminya itu cepat mendorong daun pintu. Legalah hatinya melihat betapa puteranya masih duduk bersila seperti tadi!
"Eh, ada apakah Ibu?" tanya Siangkoan Hay, terkejut melihat cara masuknya ibu dan ayahnya itu dan melihat wajah mereka pucat, dibayangi ketegangan dan kegelisahan.
Tanpa mengeluarkan kata-kata Ma Kim Li merangkul puteranya. "Tidak ada apa-apa, hanya ada orang jahat memasuki rumah kita," bisiknya.
"Wah, kalau begitu mari kita tangkap dan hajar dia, Ibu!" Siangkoan Hay berkata penuh semangat dan dia sudah meloncat turun dan tentu akan berlari keluar kalau tidak dipegang ibunya.
"Ssttt..." kata ibunya.
Pada saat itu terdengar suara ketawa bergelak dari luar. "Ha-ha-ha, jelas nampak betapa orang tuanya pengecut akan tetapi anaknya gagah berani! Hari ini kami membunuhi semua pelayan dan binatang peliharaan, seminggu kemudian kami datang mengambil kembali anak kami dan sebulan kemudian kami datang untuk mengambil nyawa suami isteri Siangkoan!"
"Keparat!" Siangkoan Leng meloncat keluar melalui jendela sedangkan isterinya sudah melompat keluar melalui pintu setelah memesan agar puteranya tinggal saja dalam kamar.
Suami isteri itu muncul di pekarangan depan rumah mereka dari dua jurusan pada waktu yang sama dan di tengah pekarangan itu, di bawah sinar lampu yang suram karena walaupun hujan tinggal sedikit sekali namun cuaca masih amat gelap, berdiri dua orang yang berpakaian serba hitam dan menggendong buntalan hitam. Yang seorang bertubuh jangkung kurus, seorang lagi bertubuh kecil ramping.
Siangkoan Leng dan Ma Kim Li mendekati dua orang itu dengan hati-hati dan memandang penuh perhatian. Setelah mengenal wajah dua orang itu, suami isteri ini menjadi marah bukan main.
Kiranya kalian... suami isteri Guha Iblis Pantai Selatan?"
Laki-laki jangkung kurus berusia kurang lebih lima puluh tahun itu tertawa bergelak dan isterinya yang cantik dan hanya beberapa tahun lebih muda, tersenyum, akan tetapi baik suara ketawa maupun senyum itu mengerikan, mengandung ejekan dan kekejaman luar biasa.
Sekilas terbayanglah pengalaman kurang lebih sepuluh tahun ketika suami isteri Siangkoan masih merajalela di selatan. Di antara banyak sekali musuh dan saingan dalam rimba raya persilatan dan dunia hitam, suami isteri dari Guha Iblis Pantai Selatan ini merupakan musuh besar mereka. Tentu saja sebabnya hanya memperebutkan kekuasaan dan wilayah kekuasaan.
Beberapa kali dua pasang suami isteri ini saling bentrok, akan tetapi di dalam perkelahian-perkelahian yang seimbang dan seru, selalu Siangkoan Leng dan Ma Kim Li selalu menang dan suami isteri Guha Iblis itu selalu melarikan diri dengan luka-luka. Melihat bahwa musuh yang datang hanya suami isteri yang beberapa kali pernah kalah oleh mereka, tentu saja Siangkoan Leng dan Ma Kim Li memandang rendah dan mereka menjadi marah sekali.
"Kalian datang mengantar nyawa!" bentak Siangkoan Leng. "Ha-ha, yang jelas kami datang mencabut nyawa para pelayan dan semua binatang peliharaanmu. Seminggu kemudian kami akan datang mengambil kembali anak kami, dan sebulan kemudian baru kami akan mengambil nyawa kalian."
"Jahanam busuk!" Ma Kim Li memaki wanita yang menjadi musuhnya itu. "Lancang sekali kau mengatakan bahwa putera kami adalah anak kalian!"
"Tentu saja anak kami!" jawab wanita berpakaian hitam itu. "Kalian telah merampasnya dari tangan kami, mendahului kami yang memang merencanakan untuk mengambil anak itu. Dia anak kami, dan seminggu lagi kami akan mengambilnya."
"Mulut besar, kami akan membunuh kalian untuk perbuatan kalian malam ini!" bentak Siangkoan Leng dan tanpa banyak cakap lagi dia pun mengeluarkan suara melengking nyaring yang disusul oleh isterinya dan kedua suami isteri ini lalu menubruk ke depan. Kedua lengan mereka dikembangkan, jari-jari tangan dibuka membentuk cakar dan bukan main dahsyatnya serangan itu karena mereka yang marah sekali telah mengeluarkan ilmu baru yang sedang mereka ciptakan agar cepat-cepat dapat membunuh dua orang musuh besar itu.
Dua orang tokoh Guha Iblis Pantai Selatan itu mengeluarkan suara ketawa mengejek dan tiba-tiba mereka bertiarap ke atas tanah, kemudian mencelat ke atas memapaki serangan lawan. Sungguh aneh sekali gerakan mereka itu, akan tetapi ternyata mereka mampu menyambut serangan lawan dengan dorongan telapak tangan terbuka yang amat kuat.
"Desss! Dessss! !" Empat tangan itu saling bertemu di udara dan terjadi benturan tenaga sinkang yang amat dahsyat sehingga keadaan sekeliling tempat itu seperti tergetar.
Siangkoan Leng dan Ma Kim Li terdorong dan terhuyung ke belakang, muka mereka menjadi pucat. Sedangkan dua orang berpakaian hitam itu berdiri tegak sambil tertawa-tawa.
"Siangkoan Leng, kami tidak ingin membunuh kalian sekarang. Seminggu lagi kami datang untuk mengambil anak itu, dan sebulan kemudian baru kami akan membunuh kalian. Ha-ha-ha, selamat tinggal!" Dua orang itu tertawa-tawa dan sekali berkelebat keduanya lenyap dari depan suami isteri yang masih tertegun itu.
Ma Kim Li teringat akan puteranya dan cepat ia lari memasuki rumah lagi, diikuti oleh suaminya yang juga merasa khawatir sekali. Ketika mereka membuka daun pintu, dapat dibayangkan betapa kaget dan gelisah rasa hati mereka melihat bahwa kamar putera mereka itu telah kosong dan tidak nampak bayangan Siangkoan Hay!
"Hay Hay !" Ma Kim Li menjerit dan cepat keluar lagi, berlari ke sana-sini mencari-cari puteranya. Juga Siangkoan Leng mencari-cari dan memanggil-manggil nama anaknya.
Akan tetapi mereka tidak dapat menemukan Siangkoan Hay yang seolah- olah lenyap ditelan bumi, tidak meninggalkan bekas! Mereka mencari-cari sampai jauh ke tuar rumah, bahkan mengejar ke sana-sini di seluruh kota dan sampai pagi, tetap saja mereka tidak dapat menemukan putera mereka. Dapat dibayangkan betapa gelisah rasa hati orang tua itu setelah mencari-cari semalam suntuk tanpa hasil dan pada pagi harinya berjatan pulang dengan tubuh lemmas. Biarpun tidak sampai mengeluarkan air mata karena wanita seperti Ma Kim Li itu tidak dapat menangis lagi, akan tetapi wajahnya menjadi amat pucat. Juga wajah Siangkoan Leng pucat dan keduanya setelah tiba di rumah, kembali mencari anak mereka tanpa hasil. Mereka melakukan penyelidikan di kamar Siangkoan Hay namun tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan atau sesuatu yang dapat memberi petunjuk ke mana perginya anak itu.
"Jangan-jangan mereka telah membawanya!" kata Ma Kim Li.
"Kalau mereka yang menculik Hay Hay, berarti mereka tentu mempunyai pembantu. Mereka sendiri tidak mungkin karena mereka bentrok dengan kita dan ketika mereka pergi kita langsung pergi ke kamar Hay Hay. Akan tetapi kurasa bukan mereka penculiknya. Bukankah mereka sudah mengatakan akan mengambil Hay Hay seminggu lagi?"
"Iblis-iblis macam mereka itu mana bisa dipercaya?"
"Jangan kau memandang rendah mereka! Kukira mereka itu tidak boleh disamakan dengan keadaan mereka sepuluh tahun yang lalu. Sepuluh tahun yang lalu, kepandaian mereka hanya berada sedikit di bawah tingkat kita, akan tetapi engkau tentu merasakan ketika kita beradu tenaga dengan mereka tadi. Kita mempergunakan ilmu kita yang baru, dengan pengerahan seluruh tenaga, akan tetapi tangkisan mereka membuat kita hampir jatuh! Itu saja membuktikan bahwa mereka kini telah memiliki tingkat kepandaian yang berada di atas tingkat kita!"
"Aku tidak takut!"
"Aku pun tidak takut, akan tetapi aku hanya mengatakan keadaan sebenarnya. Dengan kepandaian setinggi itu, mereka tentu bukan hanya menggertak saja. Mereka bahkan sengaja menentukan waktu-waktunya untuk bertindak agar kita dapat membuat persiapan lebih dulu. Kesombongan seperti itu tentu hanya mereka lakukan karena mereka yakin benar akan kepandaian mereka. Mereka seolah-olah memberi kesempatan kepada kita untuk melarikan diri, atau minta bantuan orang lain, dan agaknya mereka sudah siap akan semua kemungkinan itu."
"Kalau bukan mereka, siapa yang mengambil anak kita?" " Aku tidak tahu... ah, begitu banyak musuh kita di selatan, mana kita bisa menduga siapa yang menculiknya?"
"Sudah tujuh tahun tidak ada seorang pun di antara mereka yang datang mengganggu...."
"Buktinya malam tadi sepasang suami isteri Guha Iblis Pantai Selatan datang, siapa tahu ada pula yang lain-lain datang untuk mengganggu kita."
"Kalau begitu, bagaimana baiknya ?" Ma Kim Li nampak bingung dan putus asa. Wajahnya yang biasanya cerah dan masih nampak cantik itu kini menjadi muram dan sepasang matanya yang biasanya bersinar-sinar penuh keramahan yang berseri-seri, kini nampak layu dan membayangkan ketajaman yang penuh kekejaman dan kemarahan. Kedua tangannya sebentar terbuka sebentar tertutup seperti hendak mencengkeram sesuatu dan sepuluh batang jari-jari tangannya itu dimasuki tenaga dahsyat sehingga kadang-kadang mengeluarkan bunyi berkerotokan, mengerikan sekali.
"Sudahlah, lebih baik kita sekarang mengurus mayat empat orang pelayan kita itu dan jangan sampai ada orang lain yang tahu. Kita kubur mereka diam-diam di kebun kita dan semenjak hari ini kita tutup toko kita. Setelah itu baru kita akan mencari akal bagaimana untuk menghadapi mereka dan juga ke mana kita harus mencari anak kita."
"Akan tetapi Hay Hay... bagaimana kalau anak kita itu dibunuh.....?"
"Bodoh! Kalau mereka memang ingin membunuhnya, mengapa harus susah-susah menculiknya? Kalau sudah dapat menculiknya, apa susahnya membunuhnya di sini juga? Jangan bodoh, penculik itu tidak membunuhnya, hanya menculiknya untuk membikin kita tersiksa."
"Seperti juga dua iblis itu yang sengaja memberi waktu kepada kita agar kita gelisah dan tersiksa sebelum mereka turun tangan."
"Benar, dan mari kita bekerja membereskan mayat-mayat itu."
Suami isteri itu menutup pintu rapat-rapat dan diam-diam lalu bekerja keras. membuat lubang yang cukup besar di dalam kebun belakang mereka untuk mengubur empat mayat pelayan mereka menjadi satu. Juga bangkai-bangkai babi, anjing dan ayam itu mereka kuburkan ke dalam satu lubang yang lain!
Sebetulnya, Siangkoan Leng dan Ma Kim Li bukanlah orang biasa. Ketika mereka masih merajalela di selatan, mereka merupakan sepasang manusia iblis yang tidak pantang melakukan perbuatan jahat apa pun. Di samping kekejaman mereka, suami isteri ini pun amat lihai. Jarang ada orang yang mampu menandingi mereka. Nama besar Lam-hai Siang-mo (Sepasang Iblis Laut Selatan) sebagai julukan yang diberikan oleh dunia kang-ouw kepada mereka amat terkenal dan ditakuti orang. Entah sudah berapa banyak orang terbunuh atau kalah oleh mereka berdua sehingga tidak mengherankan apabila banyak orang menaruh dendam kepada mereka. Semenjak mereka pindah ke Nan-king, mereka "mencuci tangan" dan tidak pernah melakukan kejahatan lagi, memelihara dan mendidik anak tunggal mereka dan bekerja dengan halal. Mereka tidak tahu bahwa semua perbuatan mereka yang lalu itu tidak habis begitu saja, mengandung akibat-akibat yang agaknya baru sekarang timbul dan mengganggu kehidupan mereka yang tadinya tenteram.
Sambil bekerja mengubur mayat-mayat dan bangkai-bangkai, pekerjaan yang bagi mereka biasa saja karena menghadapi kematian sudah tidak aneh lagi bagi mereka, kedua orang suami isteri itu bercakap-cakap dan menduga-duga siapa kiranya musuh-musuh lain yang berani mengganggu mereka dan menculik Siangkoan Hay.
"Sungguh aneh sekali, apa maksudnya tikus-tikus dari Guha Iblis itu mengaku Siangkoan Hay sebagai anak mereka?" antara lain Ma Kim Li bertanya.
"Aku juga sudah memikirkan hal itu sejak tadi," jawab suaminya. "Dan aku mengambil kesimpulan bahwa agaknya mereka sudah tahu akan rahasia kita dan agaknya pula pada waktu itu mereka pun berniat untuk menculik anak itu. Hanya bedanya, kalau mereka ingin menculik, sebaliknya kita menukarnya dengan anak yang mati. Anehnya, bagaimana mereka bisa tahu? Bukankah dua orang saksi telah kita bunuh semua?"
Setelah pekerjaan mengubur itu selesai, Siangkoan Leng dan isterinya masuk ke dalam rumah dan keduanya termenung. Mereka membayangkan peristiwa tujuh tahun yang lalu. Ketika Ma Kim Li mulai mengandung, ia dan suaminya mendengar akan adanya suami isteri pendekar yang baru tiba di selatan dari pelariannya keluar dari Tibet. Suami isteri itu terkenal sebagai pendekar-pendekar budiman dan ketika mereka merantau ke Tibet Si isteri mengandung, ada petunjuk kepada para pendeta Lama bahwa anak yang dikandungnya oleh isteri pendekar itu adalah penitisan (reinkarnasi) dari Dalai Lama dan bahwa anak itu kelak akan menjadi Dalai Lama atau seorang yang suci. Karena itu, suami isteri pendekar itu menjadi ketakutan. Berita itu berarti bahwa mereka harus melepaskan anak mereka kalau sudah terlahir, untuk dirawat dalam biara oleh para pendeta Lama. Dengan ilmu kepandaian mereka, suami isteri itu akhirnya berhasil lolos dari kepungan para pendeta Lama dan melarikan diri sampai ke pantai selatan. Akan tetapi berita itu ramai dibicarakan orang dan terdengar pula oleh Lam-hai Siang-mo. Ramai orang membicarakan bahwa anak yang akan terlahir dari isteri pendekar itu tentu seorang anak yang disebut Sin-tong (Anak Ajaib).
Kebetulan sekali, kandungan dalam perut Ma Kim Li sama tua dengan kandungan isteri pendekar itu. Ketika Ma Kim Li melahirkan, ternyata bayi laki-laki itu memiliki tubuh yang lemah sekali. Suami isteri itu berusaha mengobatinya, namun sia-sia bahkan pertumbuhan anak itu setelah dua bulan tidak berjalan normal dan amat terbelakang. Tentu saja Siangkoan Leng dan Ma Kim Li menjadi kecewa bukan main. Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang tidak pernah mau mengalah terhadap nasib dan dengan cara apa pun juga mereka ingin mengubah nasib diri mereka. Mereka mendengar bahwa suami isteri pendekar itu yang untuk sementara kini mondok dalam sebuah kuil para nikouw (pendeta wanita) yang terpencil di luar kota, juga sudah dikaruniai seorang anak laki-laki yang lahirnya hanya selisih satu dua hari dengan kelahiran anak mereka yang diberi nama Siangkoan Hay itu. Pada suatu malam, pergilah suami isteri ini membawa anak mereka yang baru berusia dua bulan, memasuki kuil dari kebun belakang.
Siangkoan Leng menyuruh isterinya bersembunyi di balik rumpun bunga dan mendekap mulut anak mereka agar jangan mengeluarkan suara, sedangkan dia sendiri cepat menyelinap untuk menyelidiki keadaan di dalam kuil itu. Dia merasa terheran-heran melihat betapa kuil itu sunyi senyap dan terdengar suara orang-orang tidur mendengkur di dalam kamar-kamar kuil itu, tanda bahwa para penghuninya sudah tidur lelap.
Cepat dia memberi isyarat kepada isterinya dan mereka lalu mengadakan pemeriksaan dan mengintai ke dalam setiap kamar. Akhirnya mereka melihat seorang wanita yang berpakaian seperti pengasuh anak-anak, bersama seorang nikouw, yaitu seorang pendeta wanita yang berkepala gundul, berada di dalam sebuah kamar dan anehnya, mereka pun agaknya tidur nyenyak. Seorang anak laki-laki berusia kurang lebih dua bulan juga tertidur di atas pembaringan.
"Cepat.....!" Bisik Siangkoan Leng kepada isterinya. Mereka berloncatan tanpa mengeluarkan suara ke dalam kamar itu. Ma Kim Li lalu menaruh anaknya sendiri di atas pembaringan dan menyambar anak laki-laki yang sedang tidur nyenyak itu, seorang anak laki-laki yang bertubuh montok dan berkulit putih bersih. Akan tetapi anaknya sendiri menangis dan tanpa banyak cakap lagi Siangkoan Leng lalu menggerakkan tangan menampar dan anak itu pun terdiam dan tewas dengan muka yang tak dapat dikenal lagi karena sudah remuk! Sementara itu, Ma Kim Li juga mempergunakan tangannya yang bergerak menyambitkan jarum-jarum hitam. Jarum-jarum itu berubah menjadi sinar hitam menyambar ke arah leher dua orang wanita itu yang tak sempat berteriak lagi dan langsung saja tewas dengan jarum-jarum itu terbenam dalam-dalam di leher mereka! Setelah itu, suami isteri itu berloncatan ke luar. Pekerjaan terkutuk itu mereka lakukan dengan tenang-tenang saja. Membunuh anak sendiri dan dua orang wanita tidur itu bagi mereka bukan apa-apa, karena membunuh anak sendiri dan merusak mukanya agar tidak dikenal itu memang sudah termasuk dalam rencana mereka.
Setelah menukarkan anak mereka yang lemah dan tidak normal itu dengan putera suami isteri pendekar, anak yang dihebohkan sebagai Sin-tong, anak yang sejak dalam kandungan sudah ditunjuk oleh para pendeta Lama di Tibet sebagai calon orang besar, Siangkoan Leng dan Ma Kim Li merasa girang sekali. Akan tetapi mereka pun maklum bahwa orang-orang tidak akan tinggal diam saja, maka mereka pun seperti memperoleh dorongan lebih kuat lagi untuk segera meninggalkan daerah selatan. Memang sejak Ma Kim Li mengandung, mereka ingin meninggalkan pekerjaan sebagai penjahat demi anak mereka. Kini, mereka setengah terpaksa meninggalkan daerah selatan pada malam hari itu juga dan setelah merantau berbulan-bulan lamanya, menghilangkan jejak mereka agar tidak dapat disusul oleh mereka yang mungkin melakukan pengejaran, akhirnya mereka tinggal di Nan-king sebagai pedagang dan ahli obat.
Suami isteri itu mengenangkan semua peristiwa itu dan kini menduga-duga siapakah yang membocorkan rahasia mereka sehingga diketahui oleh suami isteri Guha Iblis itu? Dan mengapa yang mencari mereka, yang ingin merampas anak itu adalah dua orang dari Guha Iblis itu, dan bukan orang tua anak itu, apakah sepasang pendekar yang menjadi orang tua aseli dari anak yang kini bernama Siangkoan Hay dan menjadi anak mereka selama tujuh tahun? Dan siapa pula yang sebenarnya telah menculik anak mereka?
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" berkali-kali Ma Kim Li bertanya, kepada suaminya dan kepada diri sendiri karena ia merasa bingung sekali. Biarpun bukan Siangkoan Hay anak yang dikandungnya dan dilahirkannya, akan tetapi karena ia telah memelihara dan mendidik anak itu sejak berusia dua bulan, ia sudah merasa amat mencinta anak itu dan dianggapnya seperti anak kandungnya sendiri saja.
"Kita menghadapi dua hal yang amat gawat," kata suaminya setelah lama berpikir-pikir mencari akal. "Pertama, dua orang itu tentu tidak mau melepaskan kita begitu saja. Mereka memberi waktu, dan selama itu tentu mereka akan selalu mengamati gerak-gerik kita sehingga andaikata kita melarikan diri pun mereka akan tahu dan membayangi kita. Ilmu kepandaian mereka amat tinggi dan kita harus mencari daya upaya untuk melawan mereka dan menang. Ke dua, kita pun harus cepat-cepat mencari anak kita yang diculik orang. Mencari anak kita dalam keadaan kita selalu dibayangi, sungguh akan tidak leluasa sekali, dan menghadapi mereka secara begitu saja, juga amat berbahaya. Ilmu kita yang paling baru saja tidak mampu merobohkan mereka!"
"Habis, bagaimana?" tanya isterinya yang diam-diam merasa jerih juga walaupun ia tidak menyatakan dengan mulut. Ia pun merasa ketika menyerang wanita yang menjadi lawannya malam itu, ia telah mengeluarkan ilmunya yang terbaru dan mengerahkan tenaga. Akan tetapi lawan itu dengan gerakan bertiarap lalu meloncat bangun, sanggup menahan pukulannya, bahkan membuat ia terdorong ke belakang dan terhuyung hampir roboh! Padahal dahulu, wanita itu yang bernama Tong Ci Ki berjuluk Si Jarum Sakti, pernah dikalahkannya dalam perkelahian sampai beberapa kali. Juga suami wanita itu, yang bernama Kwee Siong berjuluk Si Tangan Maut, beberapa kali kalah oleh suaminya. Kiranya mereka telah memperoleh kemajuan yang amat hebat selama sepuluh tahun ini.
"Kita harus menggunakan akal sehingga untuk sementara kita dapat lolos dari ancaman mereka dan di lain pihak kita pun dapat bebas melakukan pengintaian kepada mereka apakah mereka itu menculik anak kita atau tidak."
"Bagaimana akalnya?" isterinya bertanya khawatir .
"Yang terpenting kita harus dapat meloloskan diri dari pengamatan mereka agar kita dapat leluasa bergerak dan dapat berbalik membayangi mereka, dan satu-satunya akal kita adalah begini." Suami itu mendekati isterinya dan berbisik-bisik di dekat telinganya, karena khawatir kalau-kalau pihak musuh mengadakan pengintaian dan akan dapat mendengarkan siasatnya. Isterinya mengangguk-angguk setuju.
***
Berita kematian Siangkoan Sinshe dan isterinya amat menggemparkan seluruh penduduk Nan-king. Banyak sekali orang datang untuk melayat. Menurut penuturan empat orang pelayan laki-laki yang baru beberapa hari bekerja di situ karena kabarnya pelayan-pelayan lama keluar dan pulang kampung, mereka mendapatkan majikan mereka itu kedua-duanya telah mati di dalam kamar tidur mereka. Memang agak aneh. Apalagi ketika para tetangga itu mendapatkan bahwa dua mayat Siangkoan Leng dan isterinya itu telah dimasukkan ke dalam dua buah peti yang sudah tertutup. Akan tetapi tidak ada yang meributkan soal ini. Tidak ada jalan lain bagi mereka kecuali melayat dan ikut berkabung karena bagaimanapun juga, suami isteri itu dikenal sebagai pedagang obat yang pandai mengobati orang sakit dan sudah banyak orang sakit sembuh oleh pengobatan mereka.
Kepala daerah yang sudah mengenal baik Siangkoan Leng dan isterinya, datang pula melayat begitu mendengar berita itu dan dia pun merasa curiga, maka dia memaksa empat orang pelayan itu, dibantu oleh orang-orang kepala daerah itu sendiri, membuka sedikit peti-peti mati itu agar dia dapat melihat wajah suami isteri yang dikabarkan mati mendadak itu.
Dua buah peti mati itu lalu dibuka sedikit dan digeser penutupnya. Nampaklah wajah dua orang suami isteri itu, wajah yang pucat tak mengandung darah lagi, wajah jenazah yang sudah tidak bernyawa lagi! Si Kepala Daerah baru percaya dan peti itu pun ditutup lagi dan dipaku. Dan para tetangga juga kini percaya bahwa suami isteri itu sudah benar-benar mati. Hanya, tidak ada yang tahu bagaimana dua orang yang tadinya sehat-sehat itu tiba-tiba saja meninggal dunia.
Selama dua hari banyak tamu berdatangan dan bersembahyang di depan dua buah peti mati itu. Asap hio mengepul dan bau dupa wangi yang dibakar memenuhi ruangan. Pada hari ke tiga, anak tunggal suami isteri yang mati itu, yang selama beberapa hari itu menjadi pertanyaan para tetangga dan kenalan Siangkoan Leng sekeluarga, tiba-tiba saja muncul, dan berlari-lari sambil menangis dan memanggil ayah ibunya!
Keadaan menjadi gempar dan mengharukan ketika Siangkoan Hay, yang menjadi buah bibir dan pertanyaan para tetangga karena tidak nampak, apalagi karena empat orang baru itu mengatakan bahwa mereka belum pernah melihat putera majikan mereka itu karena semenjak mereka dipekerjakan, tuan muda itu sudah tidak berada di rumah, menangis tersedu-sedu di depan dua peti mati itu.
"Ayah..., Ibu... kenapa kalian mati? Kenapa... ? Apa yang telah terjadi....?" Dia menangis dan bertanya, akan tetapi tak seorang pun mampu menjawabnya.
Dari luar terdengar suara ketawa. Tentu saja semua tamu menjadi terkejut dan menengok dan pandang mata mereka membayangkan kemarahan. Sungguh tidak sopan sekali di dalam ruangan berkabung itu ada orang tertawa! Akan tetapi pandang mata mereka yang tadinya mengandung kemarahan segera berubah menjadi ketakutan dan kengerian ketika mereka melihat siapa yang tertawa tadi.
Mereka adalah seorang laki-laki dan seorang wanita. Yang laki-laki bertubuh jangkung kurus, wajahnya tampan akan tetapi mengerikan, dingin dan kaku seperti kedok saja, hanya sepasang matanya yang hidup dan mencorong menakutkan. Yang wanita bertubuh kecil ramping, mukanya berbentuk bagus dan cantik, akan tetapi muka itu pucat sekali seperti muka mayat dan bibir yang pucat membiru itu tersenyum, akan tetapi senyum yang mengandung kekejaman, sedangkan sepasang matanya juga mencorong seperti mata laki-laki jangkung di sampingnya. Kiranya yang mengeluarkan suara ketawa tadi adalah wanita itu dan kini mereka melangkah memasuki ruangan di mana terdapat dua buah peti mati yang berjajar. Sejenak kedua orang itu memandang ke sekeliling, ke arah para tamu yang nampak terkejut dan bengong memandang kedua orang yang baru datang itu.
Tidak ada seorang pun di antara para tamu itu yang mengenal suami isteri ini. Akan tetapi di selatan, di sepanjang pantai selatan, semua orang di dunia kang-ouw, terutama di dunia hitam, mengenal sepasang suami isteri Guha Iblis Pantai selatan. Laki-laki yang usianya sudah lima puluh tahun lebih itu bernama Kwee siong akan tetapi lebih terkenal dengan julukan Si Tangan Maut. Adapun wanita yang sedikit lebih muda daripada dia itu adalah isterinya bernama Tong Ci Ki yang terkenal dengan julukannya Si Jarum sakti. Mereka merupakan pasangan suami isteri yang terkenal ganas, kejam dan lihai seperti sepasang iblis, penghuni Guha Iblis di pantai selatan, ditakuti oleh semua orang.
Kini suami isteri yang sikapnya amat dingin mengerikan itu memandang ke arah anak laki-laki yang menangis di antara dua buah peti mati. Si Jarum Sakti Tong Ci Ki menghampiri anak ini dan, bibirnya yang pucat kebiruan itu bergerak-gerak. "Apakah engkau anak dari Siangkoan Leng dan Ma Kim Li?"
Anak itu memang Siangkoan Hay dan sambil mengusap air matanya, dia kini memandang kepada dua orang itu. Dia tidak mengenal mereka, akan tetapi ketika mereka menyebut nama ayah ibunya, dia mengangguk. "Benar, aku adalah anak mereka, namaku Siangkoan Hay."
"Sin-tong...!" kata Tong Ci Ki dan ia pun melangkah maju mendekati Siangkoan Hay sambil mengulurkan tangannya.
"Apa... ?" Hay Hay bertanya heran, akan tetapi pada saat itu, tubuhnya seperti ditarik oleh kekuatan yang luar biasa dan tahu-tahu pergelangan tangannya telah ditangkap oleh tangan wanita itu yang berkulit halus namun dingin. Hay Hay menggigil kedinginan dan hendak menarik kembali tangannya, akan tetapi tiba-tiba saja tangan yang lain dari wanita itu mengelus kepalanya dan dia pun tidak mampu menggerakkan tangannya itu, bahkan ketika hendak mengeluarkan suara, tidak ada suara keluar dari tenggorokannya. Hay Hay terkejut sekali dan hanya berdiri bengong, tak mampu bersuara atau bergerak, dan masih bergantungan pada tangan wanita itu yang memegang pergelangan tangannya.
Sementara itu Si Tangan Maut Kwee Siong, dengan senyum yang lebih pantas dinamakan senyum iblis karena hanya menyeringai dengan mulut saja akan tetapi bagian lain dari mukanya sama sekali tidak bergerak, menghampiri dua buah peti mati itu.
"Heii! Siapa kalian dan mau apa?" seorang di antara para tamu, yang merasa tidak senang melihat sikap suami isteri itu, menegur.
Si Tangan Maut menoleh kepada orang itu, menyeringai. "Kami adalah sahabat-sahabat baik dari Siangkoan Leng dan Ma Kim Li, sungguh tak disangka hari ini kami melihat mereka telah berada di dalam peti mati."
Mendengar ini, semua orang tertegun. Alangkah anehnya dua orang yang berpakaian serba hitam itu, pikir mereka. Sementara itu, Si Tangan Maut Kwee Siong sudah menghampiri kedua peti mati itu dan kedua tangannya menekan dan menepuk-nepuk kedua peti itu seperti orang menepuk-nepuk bahu sahabat baiknya
"Siangkoan Leng dan Ma Kim Li, biarlah kalian dapat senang di alam baka." Setelah menepuk beberapa kali, dia pun mundur dan menoleh kepada isterinya. "Apakah kau tidak ingin membekali sesuatu kepada mereka melalui lubang-lubang kecil di samping peti itu?"
Wanita itu pun tersenyum. Andaikata mukanya tidak seperti mayat, tentu wajahnya yang belum kelihatan keriputan itu akan nampak cantik. Ia masih menggandeng tangan Siangkoan Hay dan kini ia menggerakkan sebelah tangannya ke arah peti. Sinar hitam lembut menyambar ke arah kedua peti itu dan tepat sekali sinar-sinar kecil itu memasuki lubang-lubang di samping peti. Memang aneh peti mati itu ada lubang-lubang kecilnya di kanan kiri peti, seolah-olah peti-peti mati itu diberi lubang hawa! Hal ini tidak nampak oleh para tamu lainnya karena tertutup bunga-bunga, akan tetapi ternyata kelihatan oleh suami isteri luar biasa itu.
Semua orang tidak mengerti akan sikap mereka dan tidak tahu apa yang mereka lakukan tadi. Akan tetapi tiba-tiba semua orang yang berada dekat kedua peti itu mengeluarkan seruan kaget. Dengan mata terbelalak mereka menuding ke arah bawah peti karena kini dari dua peti itu keluar darah menetes-netes dan tergenang di bawah peti!
Melihat ini, Si Tangan Maut Kwee Siong dan isterinya, Si Jarum Sakti Tong Ci Ki, tertawa bergelak dan mereka lalu pergi dari ruangan itu sambil membawa Siangkoan Hay yang masih digandeng oleh Tong Ci Ki.
"Hai, apa yang telah kalian lakukan?"
"Tunggu dulu......!"
Beberapa orang tamu, orang-orang yang ahli ilmu silat, mulai curiga dan menduga bahwa tentu telah terjadi peristiwa mengerikan sekali dan dua orang laki-laki dan wanita pakaian hitam ini tentu bukan sahabat baik keluarga Siangkoan, apalagi melihat mereka hendak pergi membawa Siangkoan Hay, sudah menghadang mereka.
Akan tetapi suami isteri iblis itu dengan tenang melanjutkan langkahnya dan ketika tiba di dekat mereka yang berani menghadang, dua orang suami isteri itu hanya berseru, "Minggir kalian!" lalu keduanya menggerakkan tangan seperti orang mengusir lalat saja akan tetapi akibatnya, empat orang itu terpelanting ke kanan kiri seperti diamuk gajah! Padahal, empat orang itu termasuk orang-orang yang memiliki ilmu silat cukup tangguh dan merupakan jagoan-jagoan di Nan-king! Melihat betapa empat orang lihai itu demikian mudah dirobohkan oleh suami isteri berpakaian hitam, semua orang menjadi jerih dan tidak ada lagi yang berani menghalangi mereka. Apalagi ketika semua orang melihat betapa pria jangkung bermuka seperti topeng itu tiba-tiba menarik tangan Siangkoan Hay sehingga tubuh anak itu terpental ke atas lalu dipondongnya dan bersama wanita muka mayat itu kini mereka lari dengan kecepatan yang membuat mereka terbelalak, tak seorang pun berani melakukan pengejaran.
Dalam sekejap mata saja dua orang itu telah lenyap dan barulah semua orang menjadi panik dan bising. Mereka lari mendekati dua peti mati dan dapat dibayangkan betapa kaget dan ngeri hati mereka ketika melihat bahwa selain dua buah peti itu masih menetes-netes darah melalui lubang-Iubang kecil tersembunyi itu, juga empat orang pelayan laki-Iaki yang tadi duduk di belakang peti-peti itu kini sudah terkapar dan tak bernyawa lagi, dengan muka berubah kehitaman! Padahal, mereka tidak melihat dua orang tamu aneh tadi turun tangan terhadap empat orang pelayan itu dan tidak salah lagi, mereka berempat itu tewas ketika terjadi ribut-ribut penghadangan terhadap dua orang tamu yang melarikan Siangkoan Hay. Tak seorang pun melihat bagaimana empat orang pelayan itu tewas dan siapa yang membunuhnya.
Gegerlah tempat itu! Apalagi kepala daerah Nan-king yang pernah diobati oleh suami isteri Siangkoan, yang tadinya memang sudah menaruh curiga dan pernah menyuruh membuka tutup peti mati di hari pertama, menjadi marah sekali mendengar berita itu. Dia bersama orang-orangnya segera datang ke situ dan memerintahkan para pengawalnya untuk membuka tutup peti dengan paksa. Kembali dua buah peti itu dibuka tutupnya dan semua orang terbelalak, ada yang mengeluarkan pekik keheranan dan kengerian. Kiranya yang berada di dalam peti itu bukan Siangkoan Leng dan Ma Kim Li, bukan suami isteri pedagang obat itu, melainkan dua orang laki-laki dan perempuan lain lagi, yang usianya sekitar empat puluh tahun dan melihat pakaian mereka, mudah diduga bahwa mereka adalah petani-petani sederhana!
Ke mana perginya Siangkoan Leng dan Ma Kim Li, atau lebih tepat lagi, ke mana hilahgnya jenazah-jenazah mereka yang tadinya sudah berada dalam peti mati? Kenapa tubuh dua orang petani itu tahu-tahu sudah berada di dalam peti dan agaknya mereka belum mati ketika berada dalam peti? Jelas bahwa mereka mati karena serangan gelap dua orang tamu aneh itu karena di sebelah dalam peti nampak bekas jari-jari tangan dan juga di lambung mereka nampak luka-luka menghitam yang kecil-kecil dan ketika dibedah, ternyata di dalamnya terdapat jarum-jarum hitam kecil. Dan siapa pula yang membunuh empat orang pelayan itu?
Semua itu terjadi karena ulah suami isteri Siangkoan sediri! Seperti kita ketahui, suami isteri itu mengatur siasat untuk meloloskan diri dari pengamatan dua orang musuh mereka yang amat lihai agar mereka dapat leluasa bergerak dan berbalik melakukan pengintaian dan pengamatan. Diam-diam mereka lalu minta bantuan empat orang yang pernah belajar silat kepada Siangkoan Leng untuk menjadi pengganti pelayan, dan memberitahu kepada mereka bahwa para pelayan di rumah itu telah pulang ke kampung karena takut dengan ancaman musuh.
Kemudian, dibantu oleh empat orang pelayan yang juga murid mereka itu, suami isteri ini lalu menggali lubang terowongan yang menembus ke luar pagar tembok sehingga suami isteri itu dapat keluar dengan leluasa di waktu malam. Hal ini mereka lakukan agar tidak sampai ketahuan pihak musuh yang tentu selalu melakukan pengintaian. Setelah melakukan perundingan dengan empat orang pelayan itu bahwa mereka akan melakukan siasat untuk mengelabuhi musuh, Siangkoan Leng dan Ma Kim Li pura-pura mati bunuh diri dengan minum racun. Ketika kepala daerah melakukan pemeriksaan, tubuh mereka memang berada dalam peti dan dengan ilmu kepandaian mereka yang tinggi, suami isteri itu dapat menghentikan pernapasan mereka, bahkan jalan darah mereka menjadi sedemikian lemahnya sehingga tidak dapat dilihat orang begitu saja, dan wajah mereka menjadi pucat seperti mayat, juga mereka sanggup menahan napas sampai beberapa lamanya. Dengan kepandaian itu, mereka dapat mengelabuhi kepala daerah dan orang-orangnya. Untuk keperluan pernapasan ketika peti itu tertutup, mereka sengaja membuat lubang-lubang kecil di kanan kiri peti yang agak tersembunyi di antara bunga hiasan peti.
Malam hari sebelum terjadi kunjungan dua orang suami isteri iblis itu, diam-diam Siangkoan Leng dan Ma Kim Li keluar dari peti mati dan melalui jalan terowongan di bawah tanah, mereka pergi ke dusun di luar kota. Tidak sukar bagi mereka untuk menemukan sebuah rumah terpencil di pinggir dusun. Setelah melakukan pengintaian, mereka merasa girang sekali menemukan suami isteri yang mereka cari-cari, yaitu sepasang suami isteri berusia kurang lebih tiga puluh lima tahun dan yang lebih cocok lagi dengan siasat mereka adalah bahwa mereka itu hanya tinggal berdua saja di rumah kecil miskin yang sunyi terpencil itu.
Suami isteri petani itu belum tidur dan tentu saja mereka merasa terkejut melihat munculnya Siangkoan Leng dan isterinya yang begitu saja mendorong daun pintu dari luar sampai jebol.
"Eh....apa... siapa....?" teriak petani itu, akan tetapi Siangkoan Leng telah menotoknya sehingga dia tidak lagi mampu bergerak ataupun berteriak, sedangkan Ma Kim Li melakukan hal yang sama terhadap isteri petani.
"Itu ada pakaian anak-anak." bisik Ma Kim Li kepada suaminya. Mereka mencari dan menggeledah rumah kecil itu, akan tetapi tidak menemukan orang lain. Biarpun mereka adalah orang-orang yang biasa melakukan perbuatan jahat akan tetapi kali ini mereka bekerja secara rahasia dan bersembunyi dari pengintaian musuh, maka keduanya tidak berani mencari lebih jauh dan cepat memanggul tubuh suami isteri petani yang sudah lemas itu, kembaIi ke kota Nan-king. MelaIui jalan terowongan itu mereka mehyeret dua tubuh petani memasuki rumah mereka dan cepat memasukkan tubuh suami isteri petani itu ke dalam peti-peti mati menggantikan tubuh mereka. Sebelum itu, mereka menggunakan obat bius untuk membuat suami isteri petani itu pingsan selama sehari semalam.
Setelah melakukan perbuatan itu yang hanya disaksikan oleh empat orang pembantu mereka, Siangkoan Leng dan Ma Kim Li lalu keluar dari pekarangan rumah mereka melalui jalan rahasia dan mulailah mereka melakukan pengintaian dari tempat tersembunyi di luar pekarangan. Kini mereka melakukan pengintaian terhadap rumah mereka sendiri!
Mereka melihat kesibukan yang terjadi di pekarangan dan juga di ruangan pendapa di mana dua buah peti mati diletakkan, melihat orang-orang datang berlayat dan bersembahyang untuk memberi penghormatan terakhir kepada "jenazah" mereka. Tentu saja mereka terkejut bukan main melihat seorang anak laki-laki berpakaian kotor dan berambut kusut memasuki pekarangan itu, anak yang bukan lain adalah Siangkoan Hay yang mereka cari-cari. Hampir saja Ma Kim Li berteriak melihat puteranya, akan tetapi suaminya sudah memegang lengannya dan cepat memberi isyarat agar jangan mengeluarkan suara atau bergerak. Sekali mereka keluar dan kelihatan orang, berarti terbukalah semua rahasia mereka!
Boleh jadi Siangkoan Leng dan Ma Kim Li merupakan dua orang yang sudah kehilangan peri kemanusiaan, perasaan mereka sudah membeku terhadap kehalusan, keadaan hidup mereka yang lalu sebagai dua orang sesat yang berkecimpung dalam dunia hitam dan bergelimang dengan kejahatan membuat hati mereka mengeras dan tidak mengenal keharuan, namun ketika melihat Siangkoan Hay menangis di antara dua buah peti itu, menangis sambil memanggil-manggil ayah ibunya, dua orang ini nampak bengong dan termenung. Bahkan Ma Kim Li sampai mengusap kedua matanya dan Siangkoan Leng beberapa kali menelan ludah. Bagaimanapun juga, mereka berdua itu menganggap Hay Hay sebagai anak kandung sendiri. Walaupun anak itu bukan anak kandung, akan tetapi mereka memeliharanya, membesarkan dan mendidiknya sejak bayi berusia dua bulan, sampai anak itu kini berusia tujuh tahun. Dan anak itu cerdas, tabah dan lincah, selalu bergembira dan merupakan cahaya terang dalam kehidupan mereka. Karena watak yang baik dari Siangkoan Hay itulah yang banyak mendorong kepada suami isteri ini untuk memaksa diri melalui jalan benar, tidak pernah lagi mengulangi perbuatan jahat mereka. Demi untuk kehidupan anak mereka itu di kemudian hari maka mereka memaksa diri untuk menjadi "orang baik-baik". Karena paksaan dan bukan sewajarnya, maka kebaikan-kebaikan yang mereka pertahankan itu pun mudah luntur dan begitu ada ancaman bahaya kepada mereka, timbul kembali watak jahat mereka!
Hidup baik atau kebaikan tidak mungkin dapat dilatih! Kebaikan bukanlah suatu hasil usaha atau hasil latihan, tidak mungkin juga dilakukan karena ketaatan atau karena ingin memperoleh balas jasa. Bukanlah suatu kebaikan kalau dilakukan dengan kesengajaan untuk menjadi baik, bukan pula kebaikan kalau dilakukan dengan pamrih apapun juga, bahkan bukan suatu kebaikan namanya kalau pelakunya menyadari bahwa yang dilakukan itu adalah suatu "kebaikan"! Kesadaran melakukan kebaikan ini pun jelas menyembunyikan pamrih, betapapun halus pamrih itu, sedikitnya tentu merupakan kesadaran akan kebaikan dirinya yang akan membentuk suatu gambar tentang diri sendiri yang penuh dengan kebaikan! Suatu kesombongan terselubung, dan pamrihnya ingin mengulang suatu nikmat yang timbul dalam hati karena telah "berbuat baik"!
Kebaikan adalah suatu keadaan seseorang yang batinnya penuh dengan sinar cinta kasih. Perbuatan yang didasari cinta kasih pasti benar dan baik, bukan "kebaikan" lagi namanya, melainkan suatu perbuatan wajar penuh perikemanusiaan yang berlandaskan cinta kasih. Adapun kebaikan yang dilakukan orang tanpa dasar cinta kasih, melainkan kebaikan yang dilakukan karena kesadaran bahwa dia "harus" berbuat baik, maka perbuatan seperti itu, betapapun baik nampaknya, tiada lain hanyalah kemunafikan, kepalsuan yang menyembunyikan pamrih untuk diri sendiri, betapa halus pun pamrih itu. Dan kebaikan seperti ini akan mudah luntur. Sekali pamrihnya tidak terdapat, maka perbuatan baiknya pun akan berhenti. Kebaikan yang dilakukan dengan kesadaran seperti itu hanyalah merupakan suatu jalan atau cara untuk memperoleh suatu tujuan tertentu, dan kebaikan seperti itu tidak ada artinya, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.
Tidak anehlah kalau orang-orang seperti Siangkoan Leng dah Ma Kim Li, setelah selama tujuh tahun menjadi "orang-orang baik" lalu tiba-tiba saja dapat kembali menjadi kejam. Kekejaman dalam batin mereka belum lenyap, hanya ditekan-tekan saja selama itu, "demi sesuatu" yang mereka harapkan dalam hal ini, mungkin demi anak mereka! Kebaikan itu seperti harum bunga. Bunganya adalah cinta kasih dan keharuman itulah kebaikan. Cinta kasih selalu akan menyebarkan kebaikan, tanpa disengaja, karena cinta kasih itu kebaikan, keduanya tak terpisahkan, seperti matahari dengan cahayanya.
Keharuan yang menyentuh hati Siangkoan Leng dan Ma Kim Li segera buyar ketika mereka melihat munculnya Si Tangan Maut Kwee Siong dan Si Jarum Sakti Tong Ci Ki, dua musuh yang ditunggu-tunggu itu! Kembali Ma Kim Li hendak bergerak ketika melihat betapa anaknya ditotok dan ditangkap oleh Tong Ci Ki. Akan tetapi suaminya memegang tangannya dan berbisik. "Jangan bergerak....."
"Tapi... bagaimana kalau mereka mencelakakan Hay Hay.....?"
"Tidak. Mereka hendak merampas Hay Hay, bukan hendak membunuhnya! Kalau kita muncul dan rahasia kita terbuka, tentu lebih repot lagi bagi kita. Biarkan saja mereka, kita dapat membayangi dan setiap waktu dapat berusaha menyelamatkan anak itu."
Mereka berdua terus mengintai dan ngeri juga rasa hati mereka ketika melihat betapa dengan kekuatan sinkangnya yang dahsyat, iblis dari Guha Iblis Pantai Selatan itu menyerang ke dalam peti, sedangkan isterinya menyerang pula dengan jarum melalui lubang-lubang angin. Andaikata tubuh mereka yang berada di dalam peti, agaknya sukar bagi mereka untuk dapat menyelamatkan diri. Ketika keadaan menjadi kacau karena suami isteri iblis itu membawa Hay Hay keluar dan merobohkan orang-orang yang berani menghadang mereka, Siangkoan Leng dan Ma Kim Li cepat menggerakkan tangan menyerang empat orang pembantu yang juga pernah menjadi murid mereka dari jarak jauh. Tentu saja empat orang itu tidak mampu menghindarkan diri dari sambaran jarum-jarum maut Ma Kim Li yang dalam hal penggunaan senjata rahasia beracun ini tidak kalah oleh Si Jarum Sakti Tong Ci Ki. Empat orang itu roboh dan tewas seketika dan peristiwa pembunuhan ini tidak nampak oleh orang lain karena suasana sedang kacau dan bising.
Tentu saja para tamu yang berlayat di rumah keluarga Siangkoan itu menjadi geger ketika mendapat kenyataan bahwa mayat-mayat di dalam dua buah peti mati itu bukanlah Siangkoan Leng dan isterinya dan betapa empat orang pelayan itu tiba-tiba saja mati seperti tanpa sebab. Ada yang bisik-bisik dengan muka pucat bahwa semua ini tentulah perbuatan setan.
Siangkoan Leng dan Ma Kim Li tidak mau peduli lagi akan keributan yang terjadi di rumah mereka, dan mereka pun sudah cepat membayangi dua orang musuh mereka yang kini membawa pergi Hay Hay dengan melakukan perjalanan cepat sekali keluar dari kota Nan-king.
AKAN tetapi, suami isteri iblis ini sama sekali tidak mengira bahwa jauh di belakang mereka ada sepasang suami isteri yang tidak kalah kejamnya melakukan pengejaran dan selalu membayangi mereka sejak mereka melarikan diri dari Nan-king membawa anak laki-laki itu. Mereka ini adalah Siangkoan Leng dan Ma Kim Li.
Setelah tiba di atas bukit kecil itu, K wee Siong dan Tong Ci Ki menghentikan lari mereka dan membawa Hay Hay menuju ke bawah sebatang pohon besar yang berada di puncak bukit. Di bawah pohon itu nampak bersih dan agaknya mereka sudah pernah di tempat itu, dan tempat itu memang menjadi tempat mengaso bagi mereka yang berani melalui daerah rawan ini. Tempat itu yang paling tinggi, bersih terlindung oleh pohon besar dan rumput yang tebal itu masih bertilamkan daun-daun kering yang lunak, enak untuk duduk maupun untuk tidur.
Kwee Siong menurunkan tubuh Hay Hay yang sejak tadi dipondongnya, dan cara dia menurunkan tubuh itu, dengan hati-hati dan lembut, menunjukkan bahwa dia tidak bersikap keras terhadap anak itu. Hal ini pun dirasakan oleh Hay Hay, apalagi ketika tiba-tiba laki-laki jangkung kurus itu mengusap tengkuknya dan dia pun seketika dapat bergerak maupun mengeluarkan suara kembali, maka Hay Hay menjadi berani dan dia pun segera bangkit berdiri dari keadaan rebah miring. Semenjak dia diculik dari dekat peti-peti jenazah itu, dia merasa terkejut dan juga diam-diam marah sekali. Apalagi ketika dia melihat betapa dua buah peti mati itu setelah diraba oleh Si Jangkung lalu mengeluarkan darah. Dia merasa ngeri dan tidak mengerti. Kalau ayah ibunya memang sudah mati, kenapa dari kedua petinya keluar darah menetes-netes?
Ketika dia dilarikan dalam keadaan tidak mampu bergerak maupun bersuara. Hay Hay membayangkan semua peristiwa yang dialaminya, sejak malam yang mengerikan itu. Ketika ayah ibunya menjenguknya malam-malam itu, dia merasa curiga dan menduga bahwa melihat wajah ayah bundanya yang tegang, tentu telah terjadi sesuatu yang luar biasa. Dia seorang anak pemberani. Maka, ketika ayah ibunya keluar lagi, diam-diam dia pun lalu cepat meninggalkan kamarnya dan berindap-indap menuju ke belakang rumah. Dan dia pun melihat apa yang telah ditemukan ayah ibunya, bangkai-bangkai binatang dan mayat-mayat bergelimpangan di dalam rumah keluarganya! Dia lalu lari pula mencari-cari dan akhirnya dia melihat ayah ibunya berhadapan dengan laki-laki dan perempuan yang keadaannya mengerikan, seperti dua sosok mayat hidup. Akan tetapi yang amat menarik perhatiannya adalah percakapan yang terjadi antara ayah ibunya dan dua orang aneh itu. Dua orang itu agaknya memperebutkan dia! Dan biarpun dia tidak dapat mengerti sepenuhnya akan maksud perbantahan empat orang itu, namun dia mendengar betapa laki-laki dan perempuan berpakaian serba hitam itu mengaku dia sebagai anak mereka! Seminggu lagi mereka akan datang untuk mengambilnya dan sebulan kemudian akan membunuh ayah ibunya!
Melihat bangkai-bangkai dan mayat-mayat tadi sudah mengguncang perasaan Hay Hay! kini mendengar perbantahan itu, dia menjadi semakin bingung. Benarkah dia bukan anak kandung ayah ibunya, melainkan anak kandung sepasang manusia seperti mayat hidup ini? Dia merasa semakin ngeri dan bingung. Mereka datang untuk mengambilnya! Ingatan ini saja yang mengejarnya dan anak ini pun lari meninggalkan rumahnya.
Sebagai seorang anak laki-laki yang lincah dan suka berkeliaran. Hay Hay mengenal tempat-tempat yang amat tersembunyi dan ketika ayah ibunya mencari-carinya, dia pun bersembunyi di bawah jembatan kecil. Dia seringkali datang ke sini untuk memancing ikan dan mencari belut. Tempatnya amat tersembunyi dan kalau tidak merangkak ke tepi sungai kecil itu, orang takkan dapat memasukinya, bahkan tidak nampak sama sekali dari luar karena tertutup oleh semak-semak. Tidak mengherankan apabila orang-orang lihai seperti Siangkoan Leng dan Ma Kim Li tidak berhasil menemukan putera mereka itu. Siapa yang menyangka anak itu akan bersembunyi di bawah jembatan itu, yang pantasnya hanya ditempati katak dan belut-belut? Pula, Siangkoan Leng dan isterinya menduga bahwa anak mereka diculik orang, bukan melarikan diri.
Hay Hay tinggal di bawah jembatan sampai tiga hari. Hanya kalau perutnya merasa amat lapar saja dia keluar di waktu malam gelap dan mendatangi kawan-kawannya, minta makanan dan teman-teman itu pun, seperti biasanya anak-anak kecil yang suka akan petualangan, merahasiakan tempat sembunyinya dan setia kawan padanya. Pada hari ke empat, ketika dia masih tidur nyenyak, seorang kawannya datang menjenguknya dan mengguncang-guncang tubuhnya, membangunkannya dengan berita, bahwa ayah ibunya telah meninggal dunia dan telah dilayat orang! Mendengar berita hebat itu, Hay Hay lupa akan segala kengerian dan dia pun berlari pulang.
Dapat dibayangkan betapa sedih dan bingungnya ketika dia melihat dua buah peti mati di ruangan depan. Apalagi ketika ada seorang tetangga yang mengenalnya ketika dia baru memasuki pekarangan. Tetangga itu merangkulnya dan mengeluh. "Kasihan kau, Hay Hay. Masih begini kecil ditinggal mati ayah ibu secara mendadak....."
Hay Hay tanpa ragu-ragu lagi. Ayah ibunya telah mati dan telah dimasukkan peti mati! Dia lalu menghampiri, berlutut di depan kedua peti dan menangislah dia dengan hati sedih dan bingung. Diam-diam dia merasa menyesal sekali mengapa dia telah melarikan diri sehingga dia tidak tahu mengapa ayah ibunya mati dan apa yang menyebabkan kematian mereka.
Kemudian muncul dua orang yang membuatnya merasa serem itu dan dia pun dibuat tidak dapat bergerak maupun bersuara sehingga ketika dia dipondong dan dibawa pergi, dia tidak mampu melawan sama sekali. Sehari semalam dia dibawa pergi dan mereka hanya berhenti untuk makan minum. Akan tetapi Hay Hay tidak pernah mau makan dan minum. Tiap kali dibebaskan dari totokan, dia segera bertanya apa yang telah terjadi dengan ayah ibunya kepada orang-orang itu. Akan tetapi mereka tidak pernah mau bicara dan memaksa kalau dia tidak mau makan. Dia hanya ditotok lagi dan dibawa pergi lagi. Bagaimanapun juga, suami isteri yang seperti mayat hidup atau iblis itu tidak pernah bertindak kasar terhadap dirinya. Sebaliknya malah, mereka mencoba membujuknya dengan kata-kata manis agar dia mau makan atau minum. Namun selalu ditolaknya.
Ketika pagi hari itu mereka berhenti di puncak bukit dan dia diturunkan lalu dibebaskan dari totokan, Hay Hay langsung bangkit berdiri dan memandang kepada suami isteri itu dengan mata terbelalak penuh penasaran, kemarahan dan keberanian.
"Sebetulnya, apakah yang telah kalian lakukan? Di mana ayah ibuku, dan apa yang telah terjadi dengan mereka?"
Dua orang itu saling pandang dan agaknya dalam bertukar pandang itu mereka juga bertukar pikiran karena Kwee Siong mengangguk dan membiarkan isterinya yang bicara dengan anak itu.
"Sin-tong....."
"Namaku bukan Sin-tong, namaku Siangkoan Hay dan biasa disebut Hay Hay!" kata Hay Hay dengan sikap angkuh karena hatinya penuh kemengkalan terhadap mereka.
Wanita itu tersenyum. Memang manis sekali wajahnya kalau tersenyum walaupun usianya sudah mendekati setengah abad, akan tetapi karena muka itu pucat seperti mayat dan hanya kedua matanya saja yang nampak hidup dan indah, maka kemanisan wajah itu mengandung keseraman.
"Anak baik, namamu sekarang ini adalah palsu. Engkau disebut Sin-tong (Anak Ajaib) dan belum diberi nama, karena itu kusebut Sin-tong padamu. Ketahuilah bahwa yang bernama Siangkoan Leng itu bukan ayahmu, dan Ma Kim Li itu bukan ibumu!"
Hal ini sudah didengarnya malam itu ketika dua orang ini berbantahan dengan ayah ibunya. Tentu saja dia tidak mau percaya begitu mudah. Dia seorang anak cerdik yang biasanya berwatak lincah jenaka, dan walaupun saat itu dia merasa berduka dan bingung, namun dia tidak kehilangan kecerdikan dan keberaniannya yang memang luar biasa.
"Bukan anak kandung mereka akan tetapi anak kalian, begitukah? Hemm, jangan harap aku dapat mempercayai keterangan itu. Kalau aku bukan anak mereka, bagaimana sejak bayi aku berada bersama mereka?"
"Karena engkau memang diculik oleh mereka sejak engkau berusia dua bulan, mereka datang membawa bayi mereka yang berpenyakitan, menukarkan bayi mereka dengan engkau, membunuh dua orang, tiga dengan bayi mereka sendiri dan melarikan engkau ke utara, ke Nan-king."
Hay Hay mengerutkan alisnya. "Membunuh bayi mereka sendiri dan menukarnya bayi itu dengan aku? Tidak mungkin Ayah dan Ibu melakukan perbuatan seperti itu!"
"Anak baik, tentu engkau tidak mengenal benar siapa adanya orang-orang yang kauanggap sebagai ayah dan ibu kandungmu itu."
"Tentu saja aku mengenal mereka! Ayahku bernama Siangkoan Leng dan ibuku bernama Ma Kim Li. Mereka adalah ahli-ahli pengobatan dan berdagang obat-obatan, mereka orang-orang yang baik dan suka menolong orang, mengobati orang, kalau perlu mengobati otang-orang miskin tanpa bayar."
"Ha-ha-ha-ha!" Si Tangan Maut Kwee Siong tertawa dan Hay Hay memandang kepada wajah orang itu dengan mata terbelalak dan hati merasa ngeri. Orang itu benar-benar memiliki muka seperti kedok. Ketika tertawa, hanya mulutnya saja ternganga dan mengeluarkan suara bergelak itu, akan tetapi bagian lain dari muka itu sama sekali tidak ikut tertawa.
"Sin-tong, ketahuilah bahwa ayah dan ibumu itu bukanlah orang tua kandungmu dan mereka adalah tokoh-tokoh yang terkenal dengan julukan Lam-hai Siang-mo (Sepasang Iblis Laut Selatan)! Setelah pada tujuh tahun yang lalu menukarkan anak kandung mereka yang berpenyakitan denganmu, membunuh dua orang yang mengasuhmu dan juga membunuh anak mereka sendiri untuk menghilangkan jejak mereka lalu membawamu lari ke Nan-king dan untuk menyembunyikan diri, mereka pura-pura berdagang obat. Akan tetapi kami akhirnya dapat menemukan mereka dan telah menghukum mereka. Mereka kini telah tewas, ha-ha-ha!"
Diam-diam anak itu terkejut dan masih ragu-ragu, sukar untuk dapat mempercaya keterangan dua orang yang seperti mayat hidup itu, akan tetapi juga mulai meragukan keaslian ayah ibunya. "Kalau benar aku ini anak kalian, kenapa kalian membiarkan aku diculik orang?"
"Kami sedang pergi dan engkau hanya berada dengan seorang pengasuh yang ditemani seorang nikouw ketika mereka datang membawamu dan..." Tiba-tiba saja Kwee Siong berhenti bicara dan telah meloncat berdiri diikuti isterinya. Juga Hay Hay terkejut bukan main ketika secara tiba-tiba saja datang angin besar yang membuat daun-daun kering yang berserakan di bawah pohon itu beterbangan! Dan tiba-tiba saja, ketika daun-daun yang tadinya beterbangan dan menutupi pandangan mata itu turun kembali ke atas tanah bersama debu yang tadi mengepul tinggi, terdengar suara ketawa dan tahu-tahu di situ, hanya beberapa meter dari mereka, telah berdiri seorang kakek berkepala botak! Kakek itu tubuhnya bundar seperti bola karet, kepalanya bundar, perutnya bundar bahkan kaki dan tangannya itu seperti bundar-bundar saking gemuknya. Matanya, hidungnya, mulutnya, telinganya, semua berbentuk bundar. Karena gemuk dan berkulit kuning, dia seperti seekor babi raksasa yang berdiri di atas kedua kaki belakangnya dan memakai pakalan! Pakaiannya kedodoran, celana yang lebar dan jubah yang terbuka bagian depannya, sehingga nampak dada dan perut yang penuh daging, kulit yang kuning mulus tanpa rambut seperti tubuh seorang bayi. Sukar menaksir berapa usia kakek ini, dan melihat mukanya yang selalu menyeringai dan matanya yang lebar itu selalu bercahaya, mukanya selalu berseri, orang akan menduga bahwa kakek ini seorang yang peramah dan baik hati.
"Heh-heh-heh-heh, ada orang-orang yang tidak tahu diri, berani sekali mengotori tempat ini." Kakek itu memandang kepada Kwee Siong, Tong Ci Ki dan Hay Hay bergantian, lalu melanjutkan. "Hayo kalian bersihkan tempat ini, sapu bersih daun-daun ini setelah itu cepat pergi tinggalkan tempat ini!" Semua ini diucapkan dengan wajah masih berseri dan ramah sehingga amat berlawanan. Mukanya saja nampak tersenyum mecnyeringai dan ramah, akan tetapi isi kata-katanya memerintah dan bahkan mengandung nada mengancam.
Suami isteri penghuni Guha Iblis Pantai Selatan itu adalah dua orang tokoh hitam yang amat terkenal di daerah pantai selatan. Mereka adalah orang-orang yang sudah biasa mempergunakan kekerasan dan sudah biasa pula dihormati dan ditakuti orang. Hal ini mendatangkan suatu watak sombong dan memandang rendah orang lain. Oleh karena itu, biar pun kemunculan kakek bulat itu tadi mengejutkan hati mereka, setelah melihat bahwa kakek itu nampaknya tidak mengesankan dan tidak menakutkan, apalagi mendengar ucapannya yang mereka anggap sebagai penghinaan, suami isteri itu menjadi marah sekali.
"Tua bangka bermulut tancang! Engkau sudah bosan hidup rupanya!" Si Jarum Sakti Tong Ci Ki membentak marah dan sekali tangan kirinya bergerak, sinar hitam menyambar ke arah dada dan perut yang tidak terlindung itu. Kakek gendut itu agaknya tidak tahu akan serangan itu, atau memang tidak sempat mengelak atau menangkis. Selain sambitan jarum itu amat cepat dan jarak mereka tidak terlalu jauh, juga kakek gendut itu tentu saja amat lamban gerakannya, mengingat tubuhnya yang gendut. Jelas nampak betapa belasan batang jarum halus berwarna hitam itu menyambar dan mengenai leher, dada dan perut yang tak terlindung baju itu. Nampak jelas betapa jarum-jarum hitam itu menancap di kulit leher, dada dan perut, akan tetapi kakek botak gendut yang sedang tersenyum itu seperti tidak pernah merasakan dan senyumnya tidak pernah putus, bahkan berkedip pun tidak! Tentu saja Tong Ci Ki terbelalak dan mulutnya ternganga, tidak percaya akan penglihatannya sendiri. Jarum-jarum hitamnya itu adalah senjata rahasia yang ampuh, mengandung racun yang dapat mencabut nyawa lawan yang terkena jarum itu seketika. Akan tetapi, kini jarum-jarumnya menancap di tubuh itu seperti menancap batang pohon saja!
Kwee Siong yang juga marah sekali, menyusul serangan isterinya itu dengan terjangan dahsyat. Dia juga terkejut melihat betapa jarum-jarum yang dilepas isterinya itu tepat mengenai tubuh lawan akan tetapi kakek gendut itu tidak roboh, maka dia pun mempercepat serangannya dan tangannya yang kanan menyambar ke arah kepala kakek botak itu. Kembali kakek itu tidak mengelak atau menangkis, hanya memandang dengan mulut tersenyum menyeringai saja, bahkan matanya berkedip-kedip lucu. Akan tetapi, ketika tangan yang menampar itu, tangan yang mengandung tenaga sinkang amat kuatnya, menyambar dekat, tinggal beberapa senti lagi dari kepala botak itu, tiba-tiba saja tangan itu menyeleweng seperti terpeleset oleh sesuatu yang licin dan sama sekali tidak mengenai kepala itu, hanya menyerong ke samping dan lewat beberapa senti jauhnya dari kepala itu.
Suami isteri penghuni Guha Iblis Pantai Selatan itu selain terkejult dan heran, juga merasa penasaran dan marah sekali. Orang-orang seperti mereka ini selalu memandang diri sendiri terlalu tinggi dan tidak menghargai orang lain, maka setiap kali mereka gagal, tentu hal ini dianggap sebagai sesuatu yang menimbulkan rasa penasaran dan kemarahan. Mereka lalu tiba-tiba saja menjatuhkan diri bertiarap di atas tanah, bergulingan dari dua jurusan menuju ke arah kakek gendut dan setelah dekat, keduanya menggerakkan tubuh serentak menyerang dari bawah dengan pukulan yang luar biasa dahsyatnya. Pukulan mereka itu datang dari kanan kiri dan menghantam ke arah tubuh gendut kakek itu yang masih saja tersenyum-senyum seperti seorang dewasa menghadapi kenakalan dua orang anak kecil. Suami isteri yang tadinya bergulingan dan bertiarap itu, ketika memukul tubuh mereka mendadak meloncat ke atas dan tenaga pukulan yang bertolak dari tanah itu amatlah kuatnya.
"Desss! Desss!!" Dua pukulan itu seperti berlumba mengenai tubuh kakek gendut dari kanan kiri. Seperti juga tadi, kakek itu sama sekali tidak mengelak, hanya berdiri tegak dengan kedua kakinya terpentang lebar dan agaknya membiarkan dua pukulan dari kanan kiri itu mengenai tubuhnya. Hanya ketika pukulan itu tiba, dia mengembangkan kedua lengannya, kemudian setelah pukulan mengenai tubuhnya, dia mengibaskan kedua tangannya yang jari-jarinya juga bulat-bulat itu ke bawah, seperti orang mengusir dua ekor lalat yang mengganggu saja layaknya. Dan akibatnya, tubuh yang menerima pukulan itu tidak bergoyang sedikit pun, sebaliknya, dua tubuh yang sedang meloncat sambil memukul dari bawah tadi, kini terpelanting dan berguling-guling di atas tanah. Suami isteri itu merasa tubuh mereka panas seperti disambar petir.
Ketika mereka dapat menguasai tubuh dan hendak meloncat bangun, kakek gendut itu menggerakkan tangannya dan angin yang kuat menyambar, membuat dua orang suami isteri itu roboh kembali setiap kali mereka mau bangkit! Tentu saja dua orang itu terkejut setengah mati. Setelah mengerahkan seluruh tenaga dan mencoba untuk bangkit dengan segala cara dan akal namun selalu dirobohkan kembali oleh pukulan jarak jauh dari kakek itu, akhirnya keduanya baru yakin benar bahwa sesungguhnya mereka berdua itu berhadapan dengan seorang yang memiliki kesaktian luar biasa, yang tingkat kepandaiannya beberapa kali lebih tinggi daripada tingkat mereka. Maklumlah mereka bahwa bagaimanapun juga, mereka tidak akan mampu menandingi kakek itu dan kalau kakek itu menghendaki, agaknya dengan mudah kakek itu akan mampu membunuh mereka. Oleh karena ini, Si Tangan Maut Kwee Siong lalu berlutut dan memberi hormat kepada kakek itu, diturut oleh isterinya walaupun dengan segan.
"Kami berdua seperti buta, tidak mengenal Locianpwe yang sakti sehingga berbuat kurang ajar, harap Locianpwe sudi memaafkan kami." demikian Kwee Siong berkata, tanpa malu-malu lagi karena selain di situ tidak ada orang yang menyaksikan kekalahan mereka kecuali Hay Hay yang hanya berdiri dan menonton dengan mata terbelalak kagum, juga mereka harus mengubah sikap untuk mencari keselamatan diri.
Kakek itu hanya tertawa dan pada saat itu, kembali suami isteri dari Guha Iblis Pantai Selatan itu terkejut karena tiba-tiba saja ada angin yang menyambar kuat. Nampak bayangan orang berkelebat lalu bayangan itu membuat gerakan berputar, dan timbullah angin berpusing, angin puyuh yang menerbangkan daun-daun pohon dan makin lama angin itu berpusing makin cepat dan makin banyak pula daun-daun beterbangan ikut dalam pusingan yang kuat itu.
Setelah angin puyuh itu mereda dan daun-daun sudah turun kembali, nampak di situ seorang kakek tinggi besar yang berkulit hitam. Kakek itu sukar ditaksir berapa usianya, akan tetapi tubuhnya tinggi besar dan kokoh kekar, nampak makin kuat karena kulit muka, leher dan tangannya yang hitam kasar. Wajahnya penuh dengan alis tebal, kumis dan jenggot lebat hitam dan muka itu membayangkan kegalakan dan kekejaman yang amat keras. Pakaiannya sederhana namun kuat dan ringkas, sepatunya dari kulit tebal dan berlapis besi di bawahnya, sungguh keadaan kakek ini menjadi kebalikan keadaan kakek gendut yang nampaknya halus dan ramah itu.
Tiba-tiba kakek hitam itu melangkah lebar ke arah semak-semak belukar yang agak jauh dari situ. Tentu saja Siangkoan Leng dan Ma Kim Li suami isteri yang yang sejak tadi melakukan pengintaian dan menanti kesempatan baik untuk merampas kembali anak mereka, menjadi terkejut ketika melihat kakek tinggi besar itu melangkah lebar dan tahu-tahu berada di depan mereka yang sedang bersembunyi. Celaka, pikir mereka. Sepasang suami isteri Guha Iblis itu saja tadi seperti anak-anak kecil yang tidak berdaya terhadap kakek gendut, dan kini muncul lagi kakek tinggi besar yang aneh ini. Agaknya, dengan adanya mereka, merampas kembali anak mereka merupakan hal yang kecil sekali kemungkinannya. Paling perlu menyelamatkan diri lebih dulu, pikir mereka dan tanpa banyak cakap, Siangkoan Leng memegang tangan isterinya untuk diajak meloncat pergi dari tempat berbahaya itu.
Akan tetapi, begitu meloncat, keduanya terpelanting dan roboh terbanting. Seolah-olah ada tenaga tidak nampak yang menarik mereka dari samping dan ketika terjatuh, Siangkoan Leng melihat bahwa kakek tinggi besar itu hanya menggerakkan tangan kiri saja, dari mana tenaga yang membuat mereka terpelanting tadi. Karena panik, Siangkoan Leng menjadi nekat. Dia membuat gerakan meloncat sambil melengking, diikuti oleh isterinya. Itulah ilmu yang mereka andalkan dan karena mereka melakukan penyerangan berbareng, maka hebat bukan main daya serang mereka berdua. Dari atas, kanan kiri, mereka menerkam ke arah kakek hitatn dengan kedua tangan terbuka dan membentuk cakar, dari mana keluar tenaga yang amat kuat.
Kakek tinggi besar hitam tidak mengeluarkan suara apa-apa, berdiri tegak dan tiba-tiba dia menggerakkan kedua tangan menyambut. Hanya mengibas saja kedua tangan yang besar itu ke arah dua orang lawannya dan tubuh dua orang suami isteri itu pun terjengkang lalu terbanting keras ke atas tanah!
Sebelum Sjangkoan Leng dan Ma Kim Li sempat bergerak, tahu-tahu kakek tinggi besar itu sudah tiba di dekat mereka, dua tangan yang besar itu menyambar tengkuk dan bagaikan dua ekor kelenci saja, dua orang itu sudah diangkat oleh Si Kakek Hitam yang melangkah lebar mendekati kakek gendut lalu melemparkan Siangkoan Leng dan Ma Kim-Li ke atas tanah!
"Pak-kwi-ong, kau dimata-matai orang sampai tidak tahu. Sungguh ceroboh!" Si Tinggi Besar muka hitam mengomel. Kakek gendut yang disebut Pak-kwi-ong (Raja Setan Utara) itu sejak tadi tersenyum menyeringai saja dan kini dia tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, Setan Hitam, kedatanganmu pun aku sudah tahu sebelumnya, apalagi dua ekor tikus itu!"
Sementara itu, Ma Kim Li yang merasa sudah terlanjur memasuki tempat berbahaya itu, segera menghampiri Hay Hay dan berkata. "Hay Hay, Anakku...! Mari ikut Ibu, Nak."
Akan tetapi, Hay Hay yang sedang mengalami pukulan-pukulan batin dan kebingungan itu mendadak saja merasa asing terhadap ibunya sendiri dan ketika ibunya memanggilnya, dia malah mundur sambil memandang dengan muka agak pucat. Melihat ini, Ma Kim Li menghampirinya.
Akan tetapi tiba-tiba Tong Ci Ki yang tadinya berlutut di depan kakek gendut, bangkit berdiri dan menerjang ke arah Ma Kim Li sambil membentak, "Jangan ambil lagi anak itu'"
Ma Kim Li marah dan menyambut dengan serangan. Pukulannya meluncur ke arah dada Tong Ci Ki. Wanita baju hitam ini mengelak dan membalas dengan tendangan kakinya yang dapat dielakkan pula oleh lawan. Melihat isteri mereka berkelahi, Siangkoan Leng dan Kwee Siong tidak tinggal diam. Mereka menyerbu dan keduanya juga sudah berkelahi dengan sengit.
Melihat empat orang itu berkelahi, dua orang kakek itu saling pandang. Si Kakek Hitam hanya mengerutkan alisnya, akan tetapi Si Kakek Gendut tertawa-tawa. "Wah, bocah-bocah kurang ajar ini memang terlalu sekali! Di depan kakek-kakek buyut mereka masih berani berkelahi tanpa minta ijin lebih dulu." Dia mengomel, kemudian dia mengeluarkan suara memerintah, "Hayo kalian berempat berlutut semua!" Dan kedua tangannya bergerak-gerak seperti orang menggapai dan akibatnya luar biasa. Empat orang yang sedang berkelahi itu tiba-tiba saja roboh terguling. Mereka terkejut bukan main. Mereka itu, baik suami isteri penghuni Guha Iblis Pantai Selatan, maupun Lam-hai Siang-mo, keempatnya telah diberi julukan "iblis" yang menunjukkan bahwa mereka sudah berada di tingkat puncak dari dunia hitam, menjadi datuk-datuk golongan sesat yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Akan tetapi kenapa sekarang mereka seperti anak-anak kecil yang tidak bisa apa-apa dan amat lemah saja? Dan yang lebih mengejutkan lagi, kakek gendut itu tak pernah menyentuh mereka, hanya dengan hawa pukulan saja mampu merobohkan mereka! Karena maklum bahwa mereka semua sama sekali tidak akan mampu menandingi dua orang kakek itu, maka mereka lalu menjatuhkan dirinya berlutut. Mereka memiliki jalan pikiran yang sama. Kini mereka berhadapan dengan orang-orang yang jauh lebih tinggi tingkatnya, maka sebaiknya tidak melawan dan bahkan minta pertimbangan mereka!
"Harap Locianpwe maafkan kami..." Demikian terdengar suara lirih dari mulut mereka.
Melihat betapa dua orang yang tadinya dianggap ayah bundanya, juga musuh mereka, yaitu suami isteri yang menculiknya, kini nampak tak berdaya sama sekali, seperti orang-orang yang lemah saja, kehilangan kegalakan mereka, terhadap dua orang kakek aneh ini, tiba-tiba saja Hay Hay memperoleh pikiran untuk mengorek rahasia tentang dirinya dari mereka berempat. Kalau saja dua orang kakek itu mau membantunya! Maka dia pun cepat berlari menghampiri dua orang kakek itu yang kini sudah duduk bersila di atas batu-batu di puncak itu, berdampingan, dan dia berkata dengan suara lantang.
"Ji-wi Locianpwe yang baik. Karena aku masih kecil dan tidak mampu bertindak sendiri, maka aku mengharap Ji-wi suka membantuku untuk mencari rahasia tentang diriku. Akan tetapi kalau Ji-wi menolak, berarti aku salah menilai orang."
Kedua orang kakek itu kembali saling pandang dan kakek hitam memancarkan sinar mata berkilat tanda marah kepada anak kecil itu, sedangkan kakek gendut masih tersenyum lebar, akan tetapi alisnya berkerut juga ketika dia mendengar ucapan anak itu.
"Salah menilai bagaimana ?" tanya kakek gendut.
"Aku menilai bahwa Ji-wi tentu merupakan datuk-datuk persilatan yang sudah berkedudukan tinggi sekali, penuh wibawa dan adil, maka tentu Ji-wi akan mau membantuku. Kalau tidak berarti penilaianku salah dan ternyata Ji-wi juga hanya dua orang kakek usil dan suka mengandalkan kepandaian yang tidak seberapa itu untuk mengganggu orang yang lebih lemah saja."
Hay Hay memang pandai bicara, lincah dan cerdik. Akan tetapi sikap dan ucapannya sekarang ini bahkan membuat suami isteri yang selama ini mengaku orang tuanya menjadi khawatir bukan main.
"Kepandaian yang tidak seberapa katamu!" bentak kakek hitam tinggi besar. Selama hidupnya belum pernah ada orang berani memandang rendah kepadanya, dan kini seorang anak kecil berusia tujuh tahun berani mengatakan dia dan Pak-kwi-ong sebagai orang-orang yang memiliki kepandaian yang tidak seberapa.
"Ya, tidak seberapa. Coba Ji-wi lihat. Sebatang pohon yang tidak mampu bergerak dapat menghasilkan daun hijau, bunga indah dan buah. Apakah Ji-wi mampu membuat semua itu? Kalau tidak dapat berarti Ji-wi kalah oleh sebatang pohon saja. Dan lihat kupu-kupu itu. Apa Ji-wi dapat terbang seperti mereka? Berarti Ji-wi kalah oleh kupu-kupu kecil saja. Apakah semua ini bukan membuktikan bahwa kepandaian Ji-wi tidak seberapa? Kalau dipakai menolongku masih ada gunanya, sebaliknya kalau hanya untuk main sombong-sombongan, apa gunanya?"
Dua orang kakek itu bangkit berdiri dan memandang kepada anak kecil itu dengan mata terbelalak. Mereka seolah-olah mendengar suara seorang yang lebih tinggi kedudukannya dan kepandaiannya daripada mereka!
"Kau siapa?" bentak kakek hitam.
Hay Hay menggeleng kepalanya. "Aku sendiri pun bingung, Locianpwe. Menurut dua orang yang memeliharaku sejak kecil ini, yang mengaku sebagai ayah ibuku, aku bernama Siangkoan Hay, anak mereka. Akan tetapi menurut mereka berdua itu, yang menculik aku, katanya aku bukan anak mereka dan namaku itu palsu, bahwa aku adalah Sin-tong...... "
"Sin-tong... ? Ha-ha, sungguh menarik!" Kakek gendut terkekeh dan memandang dengan penuh perhatian kepada Hay Hay.
Akan tetapi kakek hitam yang berjuluk Tung-hek-kwi (Setan Hitam Timur) itu tidak banyak bicara lagi. Dengan matanya yang mencorong aneh itu dia memandang suami isteri penghuni Guha Iblis Pantai Selatan. "Coba ceritakan tentang anak ini. Kalau membohong tebusannya nyawa kalian!"
Biarpun merasa terhina dan rendah sekali diperlakukan seperti itu, namun suami isteri ini mengenal orang yang jauh melebihi mereka, maka sikap yang menghina itu pun mereka telan saja. Bahkan mereka mengharapkan untuk mendapat bantuan dan dukungan kakek sakti itu untuk dapat mempertahankan Hay Hay yang telah mereka rampas dari tangan Siangkoan Leng dan isterinya.
"Heh-heh, kalian juga harus menceritakan yang sebenarnya tentang anak ini!" kata pula Pak-kwi-ong kepada Lam-hai Siang-mo.
"Anak itu adalah anak tunggal kami, Locianpwe, dan namanya Siangkoan Hay ..." kata Siangkoan Leng.
"Bohong! Dia berbohong, Locianpwe!" bantah Kwee Siong. "Tidak perlu cekcok, kauceritakan lebih dulu yang sebenarnya." kini kakek hitam Tung-hek-kwi berkata keren. "Yang lain diam saja!"
Si Tangan Maut Kwee Siong lalu bercerita dan merasa dirinya remeh sekali terhadap dua orang kakek sakti itu. "Tujuh tahun yang lalu, suami isteri pendekar Pek melarikan diri dari Tibet ketika isteri pendekar itu mengandung tua. Mereka terpaksa melarikan diri karena ramalan diantara para pimpinan Lama menyatakan bahwa anak yang dikandung itu adalah calon Dalai Lamat calon seorang suci dan setelah terlahir tentu akan diambil dan dibawa ke dalam kuil untuk dididik......"
"Nanti dulu!" bentak Tung-hek-kwi. "Kaumaksudkan pendekar Pek yang mana? Apakah pendiri dari Pek-sim-pang (Perkumpulan Hati Putih) di barat?"
"Kalau tidak keliru, muridnya atau puteranya, Locianpwe. Mungkin puteranya karena dia terkenal dengan nama warga Pek."
Teruskan!"
"Berita, itu segera tersiar luas dan terkenallah bahwa ada Sin-tong yang akan terlahir. Hal ini tentu saja amat menarik perhatian. Dan pada suatu malam, ketika suami isteri pendekar itu menyembunyikan diri dalam kuil setelah anak mereka terlahir , baru berusia dua bulan, datanglah Lam-hai Siang-mo ini dan mereka pun mempunyai seorang anak yang sebaya. Anak mereka itu berpenyakitan dan agaknya, mendengar berita tentang Sin-tong, mereka lalu membunuh seorang nikouw dan pengasuh anak itu, kemudian menculik Sin-tong dan meninggalkan anak mereka sendiri sebagai gantinya setelah mereka membunuh anak itu dan merusak mukanya agar tidak dikenal orang dan disangka Sin-tong yang terbunuh. Kami tiba di tempat kejadian itu dan setelah memeriksa luka dan jarum-jarum yang berada di tubuh para korban, kami dapat menduga bahwa pembunuhnya tentulah Lam-hai Siang-mo. Kami lalu melakukan pencarian dan setelah tujuh tahun, baru kami berhasil menemukan mereka. Kami lalu merampas kembali Sin-tong dan kami bawa lari sampai di sini dengan maksud untuk mengembalikannya kepada orang tuanya yang sesungguhnya....."
"Benarkah cerita itu?" bentak Tung-hek-kwi bengis kepada Lam-hai Siang-mo. Suami isteri ini tidak berani menyangkal lagi karena memang cerita itu benar. "Memang benar, akan tetapi mereka itu membohong kalau mengatakan bahwa mereka akan membawa Hay Hay kepada pendekar Pek. Mereka bohong! Yang jelas, mereka tentu akan membawa Hay Hay kepada para pendeta Lama untuk memperoleh ganjaran!" Ma Kim Li berhenti sebentar sambil memandang kepada Tong Ci Ki dan suaminya penuh geram. "Mereka adalah penghuni-penghuni Guha Iblis Pantai Selatan, mana mungkin mau membantu pendekar Pek?"
Mendengar percakapan mereka itu, sejak tadi Hay Hay memandang kepada orang tuanya dengan mata terbelalak dan tanpa disadarinya lagi, kedua matanya itu basah. Akan tetapi dia tidak menangis. Tidak, dia malah mengepal kedua tinjunya, menekan perasaannya yang terguncang. Kiranya benar bahwa dia bukan anak Siangkoan Leng dan Ma Kim Li! Dia bukan she (nama keturunan) Siangkoan, melainkan she Pek! Putera pendekar Pek! Dengan tabah dia lalu melangkah maju menghadapi suami isteri yang tadinya dianggap ayah bundanya. Mereka itu tidak pernah memperlihatkan sikap mereka kepadanya, akan tetapi harus diakuinya bahwa mereka pun tidak pernah bersikap kasar. Mereka itu menyayangnya dengan cara mereka sendiri!
"Benarkah bahwa aku bukan anak kandung kalian dan bukan she Siangkoan, melainkan she Pek?" Dia bertanya kepada suami isteri itu tanpa menyebut ayah atau ibu.
Ma Kim Li mengangguk. "Benar, Hay Hay, akan tetapi kami menyayangmu seperti anak kandung kami sendiri. Hal ini tentu kau tahu."
Hay Hay adalah seorang anak yang selain cerdik, juga amat keras hati sehingga dia bukan anak cengeng dan tidak mudah dikuasai perasaannya. Kini dia memandang kepada wanita yang biasa dipanggil ibu itu dengan sinar mata dingin.
"Anak kandung sendiri kalian bunuh dan rusak mukanya untuk ditukarkan dengan aku, anak orang lain. Apa sebabnya kalian sampai hati melakukan hal itu?"
Lam-hai Siang-mo tidak menjawab.
"Apa sebabnya?" Anak itu mendesak.
Dua orang itu tetap tidak mengeluarkan suara jawaban. Dengan tiga langkah lebar saja Tung-hek-kwi sudah menghampiri mereka dan kedua tangannya menyambar Suami isteri yang berjuluk Lam-hai Siang-mo (Sepasang Iblis Laut Selatan) itu berusaha mengelak atau menangkis, akan tetapi entah bagaimana, tahu-tahu mereka kehilangan tenaga dan tengkuk mereka sudah dicengkeram, tubuh mereka diangkat dan kakek tinggi besar hitam itu membanting.
"Bresss...!" Tubuh suami isteri itu terbanting keras sampai mereka terguling-guling.
"Masih juga tidak mau menjawab pertanyaan Sin-tong?" bentak kakek itu.
Siangkoan Leng dan isterinya terkejut sekali dan kesakitan, mereka mengangguk-angguk dan cepat Ma Kim Li berkata kepada anak yang biasanya dianggap anak sendiri yang disayangnya. "Anak kandung kami...berpenyakitan dan kami ingin menukarkan dia dengan anak yang sehat, kami bunuh dua orang itu agar tidak membuka rahasia kami dan kami rusak muka anak kandung kami agar tidak dikenal lagi."
"Bohong!" Tiba-tiba terdengar Tong Ci Ki berseru "Kalau hanya ingin memperoleh anak sehat, kenapa justru dipilihnya Sin-tong, putera keluarga pendekar Pek yang banyak dibicarakan orang itu? Mereka tentu mempunyai keinginan yang sama dengan kami, yaitu ingin memperoleh pahala dengan menyerahkan anak itu kepada para pendeta Lama di Tibet."
Mendengar ini, Hay Hay kembali mendesak wanita yang pernah menjadi ibunya. "Benarkah begitu?"
Sambil melirik ke arah kakek tinggi besar yang galak dan sakti itu, Ma Kim Li menjawab. "Benar, Hay Hay. Pada mulanya memang kami ingin menukarkan engkau dengan para pimpinan pendeta Lama di Tibet yang memiliki banyak benda-benda indah tak ternilai harganya, akan tetapi kami lalu merasa suka kepadamu dan menganggap engkau sebagai anak kandung kami sendiri."
Kini Hay Hay memandang kepada empat orang itu bergantian dan di dalam hatinya dia merasa heran dan juga ngeri membayangkan betapa empat orang ini merupakan orang-orang yang amat jahat. Tak disangkanya ada orang-orang demikian jahatnya, terutama sekali dua di antara mereka adalah orang-orang yang selama ini dianggap sebagai ayah ibunya! Diam-diam ia merasa lega dan bersyukur bahwa dua orang yang demikian jahatnya itu bukan ayah dan ibu kandungnya.
"Kalian adalah orang-orang yang amat jahat!" Akhirnya dia berkata. "Kalian yang menjadi penghuni Guha Iblis Pantai Selatan telah membunuh empat orang pelayan keluarga Siangkoan, juga semua binatang peliharaan, kemudian kalian membunuh pula dua orang di dalam peti mati yang menggantikan mereka ini!" Berkata demikian, dia menuding ke arah Kwee Siong dan Tong Ci Ki penuh teguran. Suami isteri itu hanya menundukkan muka saja tidak berani menjawab, takut kalau harus berurusan dengan kakek hitam tinggi besar atau kakek gendut yang luar biasa lihainya itu.
Kini Hay Hay memandang kepada suami isteri yang pernah menjadi orang tuanya. "Dan kalian tidak kalah jahatnya, pantas berjuluk Lam-hai Siang-mo. Kalian telah membunuh dua orang wanita yang tak berdosa, bahkan membunuh ahak kandung sendiri! Betapa kejinya itu. Dan tentu kalian yang memasukkan tubuh dua orang tidak berdosa ke dalam peti mati itu menggantikan tubuh kalian, sehingga mereka yang tewas menggantikan kalian."
Siangkoan Leng sudah sejak tadi kehilangan rasa sayangnya kepada Hay Hay yang bersikap memusuhinya itu. Dia tersenyum sinis dan menjawab, "Memang benar, bahkan kami juga membunuh empat orang murid kami yang bertugas menjaga peti. Semua itu kami lakukan agar tidak membuka rahasia kami. Hay Hay, itu bukan kejam atau jahat, melainkan cerdik sekali!"
"Kalian berempat ini orang-orang jahat dan kalau sekiranya aku memiliki ilmu kepandaian tinggi, tentu kalian sudah kubasmi habis!" kembali Hay Hay berkata dengan nada suara gemas.
"Heh-heh-heh-heh, Sin-tong. Apakah engkau ingin agar empat orang ini dibunuh? Aku akan melakukannya untukmu dengan mudah saja! Empat ekor tikus ini memang sudah sepatutnya kalau dibunuh!" Kakek gendut yang berjuluk Pak-kwi-ong itu berkata sambil tertawa-tawa.
Empat orang itu bukanlah orang-orang lemah. Mereka adalah datuk-datuk kaum sesat di daerah pantai selatan. Mereka belum pernah bertemu dengan orang-orang seperti dua orang kakek ajaib itu, dan mereka sudah maklum akan kehebatan dua orang kakek itu yang tidak akan dapat mereka tandingi. Akan tetapi dibunuh begitu saja? Mereka tentu akan melawan sekuat tenaga dan akan melindungi nyawa sendiri selama mereka masih hidup! Dan agaknya mereka berempat memang memiliki kecerdikan atau kelicikan yang sama, karena kini begitu mereka mendengar ucapan kakek gendut, mereka bangkit berdiri dan seperti dikomando saja, empat orang itu sudah menyerbu ke arah Hay Hay untuk menangkap anak itu!
Ditubruk oleh empat orang yang lihai itu dari semua jurusan, tentu saja Hay Hay tidak mampu menghindarkan diri. Bahkan dua orang kakek sakti itupun sama sekali tidak menyangka bahwa empat orang itu melakukan hal itu, maka anak itu sudah dapat ditangkap oleh Kwee Siong dan Siangkoan Leng. Dan anehnya, dalam sekejap mata saja, empat orang yang tadi yang bermusuhan karena memperebutkan Hay Hay itu, kini dalam keadaan terancam oleh pihak yang lebih kuat, mereka mendadak dapat bersatu!
"Heh-heh-heh, tikus-tikus pecomberan! Berani kalian melakukan itu? Hayo lepaskan atau harus kuhancurkan dulu kepala kalian yang tidak berharga itu?" bentak si gendut Pak-kwi-ong, masih dengan senyum, akan tetapi sinar matanya mencorong penuh ancaman maut.
"Ji-wi Locianpwe, jangan bergerak! Sekali bergerak atau melakukan hal-hal yang mencurigakan, kami akan lebih dulu membunuh anak ini sebelum membela diri dan melawan mati-matian sebelum kami semua mati!" bentak Siangkoan Leng yang sudah menaruh telapak tangannya menempel di ubun-ubun kepala Hay Hay.
Hay Hay sama sekali tidak merasa takut, hanya marah dan juga semakin heran melihat betapa orang yang selama ini dianggap ayahnya itu kini mengancam untuk membunuhnya! Timbul rasa penasaran di dalam hatinya dan dia pun berteriak, tidak peduli bahwa dia telah dicengkeram dan diancam oleh empat orang lihai itu.
"Ji-wi Locianpwe, jangan dengarkan gertak sambal mereka! Biar mereka membunuhku, aku tidak takut. Akan tetapi Ji-wi hajarlah mereka sampai mereka itu lenyap dari permukaan bumi. Mereka ini orang-orang jahat yang perlu dibasmi!"
Akan tetapi dua orang kakek itu kini nampak ragu-ragu dan saling pandang. Tung-hek-kwi yang memandang kakek gendut itu bertanya. "Kau.... tidak turun tangan?"
Si Kakek Gendut masih menyeringai, akan tetapi dia menggeleng kepala. "Mana bisa? Dia.... dia itu Sin-tong, sayang kalau terbunuh." Lalu dia memandang kepada empat orang yang masih siap siaga sambil mengancam Hay Hay itu. "Eh, sebenarnya apa kehendak kalian?"
"Kami ingin pergi membawa anak ini dan sedikit saja Ji-wi membuat gerakan mencurigakan, kami akan bunuh anak ini lebih dulu." kata Kwee Siong dan mereka berempat itu tanpa menanti jawaban sudah mulai menggiring dan menyeret Hay Hay meninggalkan puncak bukit itu. Dua orang kakek itu, yang memiliki kesaktian jauh lebih tinggi dibandingkan empat orang itu, hanya saling pandang dan tidak mampu berbuat sesuatu. Tentu saja mereka itu akan dapat dengan sekali gerakan tangan membunuh empat orang itu, akan tetapi mereka maklum bahwa tak mungkin mereka dapat mencegah empat orang itu lebih dahulu membunuh Hay Hay, dan karena inilah keduanya menjadi ragu-ragu, bahkan tak berdaya melakukan sesuatu ketika empat orang itu hendak meninggalkan tempat itu.
Akan tetapi, baru saja empat orang itu pergi beberapa langkah jauhnya, tiba-tiba terdengar suara melengking yang mengandung getaran amat kuat sehingga seolah-olah menusuk telinga dan menggetarkan jantung. Hay Hay yang mula-mula roboh tak sadarkan diri, sedangkan empat orang yang mengepungnya itu pun tiba-tiba menjadi pucat dan mereka berempat itu maklum bahwa suara itu merupakan serangan melalui tenaga khikang yang amat dahsyat. Mereka cepat menahan napas dan mengerahkan sinkang mereka untuk melindungi diri mereka. Karena serangan tiba-tiba melalui suara itu, sejenak keempat orang ini lupa akan pengamatan mereka terhadap Hay Hay. Dan pada beberapa detik itu, mendadak nampak sesosok bayangan seperti seekor burung raksasa menyambar ke arah mereka. Empat orang itu, tadi hanya melakukan pengamatan terhadap gerak-gerik Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi saja, dan mereka sedang mengalami kekagetan karena datangnya serangan suara yang bukan datang dari dua orang kakek sakti itu. oleh karena itu, begitu ada bayangan seperti burung raksasa ini menyambar ke arah mereka, empat orang itu terkejut bukan main. Mereka sedang melawan pengaruh suara melengking, dan kini disambar oleh burung raksasa, yang mendatangkan angin sambaran amat dahsyat, Tentu saja mereka terkejut dan berusaha untuk membela diri. Akan tetapi, sambaran angin dari sayap "burung raksasa" itu sedemikian kuatnya sehingga mereka itu terdorong ke belakang dan pada saat itu, mahluk itu sudah menyambar turun dan tahu-tahu tubuh Hay Hay telah dipondongnya dan dibawa melompat agak jauh dari situ.
Ketika empat orang yang hendak melarikan Hay Hay itu kini terbebas dari pengaruh suara melengking yang tiba-tiba sudah terhenti dan mereka memandang, ternyata di situ telah muncul dua orang aneh lainnya. Seorang kakek berpakaian pengemis dengan baju kembang-kembang dan bertambal-tambal akan tetapi bersih, tubuhnya kurus dan tingginya sedang saja, kakinya memakai sepatu butut, rambutnya kusut dan awut-awutan, demikian pula kumis dan jenggotnya, akan tetapi sepasang matanya tajam bukan main. Di punggungnya nampak sebuah ciu-ouw (guci arak) yang berpinggang, dan di tangannya nampak sebatang suling yang panjangnya ada tiga kaki, terbuat dari kayu hitam. Kakek ini muncul seperti dari dalam bumi saja, dan begitu muncul dia tersenyum menyeringai, dan wajahnya selalu berseri gembira seperti orang yang selalu merasa geli akan keadaan sekelilingnya.
Dan tak jauh dari situ, telah muncul pula seorang kakek tinggi besar yang berkepala gundul. Kakek inilah yang tadi disangka burung raksasa oleh Siangkoan leng dan Kwee Siong bersama isteri mereka. Kakek yang memakai jubah seorang pendeta lama, jubahnya lebar berkotak-kotak merah dan kuning dan tadi ketika kakek itu meloncat seperti terbang, jubahnya ini berkembang seperti sepasang sayap. Kakek pendeta lama ini berwajah alim, alisnya tebal dan pandang matanya lembut, mukanya bulat dan kedua telinganya amat panjang. Kini tangan kirinya menggandeng tangan Hay Hay sedangkan tangan kanannya memegang seuntai tasbeh, mulutnya berkemak-kemik seperti orang membaca doa.
Tentu saja Siangkoan leng, Ma Ki li, Kwee Siong dan Tong Ci Ki terkejut dan merasa gentar bukan main. Baru saja mereka bertemu dengan dua orang kakek yang luar biasa lihainya, yaitu Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi, dan sekarang muncul pula dua orang kakek yang juga memiliki ilmu kepandaian amat tinggi, jauh lebih tinggi daripada tingkat kepandaian mereka sendiri. Kakek berpakaian pengemis itu dengan suara sulingnya telah membuat mereka kerepotan dan mereka maklum betapa saktinya kakek yang dapat mengeluarkan suara yang memiliki daya serang sedemikian kuatnya. Juga pendeta raksasa itu jelas memiliki kepandaian luar biasa, karena sekali gebrakan saja sudah dapat merampas Hay Hay dari tangan mereka. Kini anak itu yang sudah terbebas pula dari pengaruh suara suling, telah berdiri digandeng kakek pendeta Lama itu, memandang kagum kepada penolongnya.
Karena maklum bahwa berdiam di tempat itu lebih lama merupakan bahaya besar bagi mereka, sepasang suami isteri Guha Iblis dan sepasang suami isteri Laut Selatan segera menggerakkan tubuh mereka berlompatan dan melarikan diri turun dari atas puncak itu.
Empat orang kakek aneh yang berkumpul di puncak bukit itu, agaknya sudah tidak mempedulikan lagi kepada mereka yang melarikan diri. Biarpun Siangkoan Leng dan Kwee Siong bersama isteri mereka itu merupakan tokoh-tokoh besar di antara kaum sesat, namun agaknya bagi empat kakek sakti itu mereka tidak lebih hanyalah penjahat-penjahat kecil yang tidak ada artinya dan karena itu, begitu mereka melarikan diri, mereka pun tidak mempedulikan sama sekali, bahkan sudah melupakan mereka karena mereka lebih tertarik akan pertemuan antara mereka berempat itu.
Sungguh aneh sekali. Siangkoan Leng bersama isterinya dan Kwee Siong bersama isterinya, empat orang yang tadinya saling bermusuhan itu, kini melarikan diri bersama-sama turun dari bukit secepatnya seperti orang-orang yang dikejar setan saja. Dan ketika mereka sudah berada jauh dari bukit itu, mereka berhenti di sebuah hutan dan lenyaplah semua permusuhan yang tadinya berada di dalam batin mereka. Agaknya, peristiwa di puncak bukit tadi, bertemu dengan orang-orang yang jauh lebih lihai, membuka mata mereka bahwa mereka itu sebenarnya bukan apa-apa. Apalagi karena Hay Hay yang menjadi perebutan di antara mereka itu kini terjatuh ke tangan orang yang jauh lebih lihai, maka mereka kini sudah melupakan semua permusuhan di antara mereka agaknya!
"Bukan main... sungguh gila mereka itu! Belum pernah aku bertemu dengan orang-orang selihai mereka!" kata Kwee Siong sambil mengusap keringat dari leher dan mukanya, menggunakan sehelai saputangan hitam. Wajah isterinya yang biasanya memang sudah amat pucat seperti mayat itu, kini nampak kehijauan.
"Mereka itu bukan manusia lagi..." kata pula isterinya yang masih merasa tegang dan gentar.
Siangkoan Leng menarik napas panjang. "Ah, setelah bertemu dengan mereka, baru aku tahu bahwa apa yang kita miliki ini tidak ada artinya sama sekali. Kita masih harus belajar banyak! Dan kita saling gempur sendiri....hemm, betapa bodohnya....."
"Engkau benar, Siangkoan Leng. Kini tidak ada artinya lagi bagi kita untuk saling bermusuhan. Bahkan bersatu pun kita masih tidak mampu menandingi mereka, apalagi kalau kita saling bermusuhan sendiri. Lalu apa yang dapat kita lakukan untuk bisa merampas kembali Sin-tong?"
Siangkoan Leng menggerakkan pundaknya. "Apa lagi yang dapat kita lakukan? Kita tidak mengenal mereka, kecuali dua orang kakek pertama yang berjuluk Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi. Entah siapa jembel tua yang amat lihai dengan suara sulingnya itu. Dan aku pun tidak mengenal siapa adanya pendeta yang merampas Hay Hay itu."
"Pendeta itu jelas seorang pendeta Lama dari Tibet. Entah dia mewakili para pimpinan Dalai Lama atau tidak, kita tidak tahu. Dan pengemis Jembel itu .....hemm, jangan-jangan dia itulah yang dikenal seperti tokoh dongeng dari Pulau Hiu!" kata Kwee Siong.
"Apa? Majikan Pulau Hiu yang berjuluk Ciu-sian Sin-kai (Pengemis Sakti Dewa Arak)? Benarkah tokoh dongeng itu masih hidup?" kata Ma Kim Li dengan mata terbelalak.
"Wah, kalau benar dia, berarti tokoh-tokoh dongeng yang kabarnya memiliki kepandaian seperti dewa itu, kini bermunculan di dunia ramai!" kata Tong Ci Ki. "Bukankah Pengemis Sakti itu termasuk kelompok tokoh yang dinamakan Pat Sian (Delapan Dewa)?"
"Kabarnya begitu." jawab suaminya. "Akan tetapi karena mereka itu disebut sebagai tokoh dongeng karena tidak pernah keluar sejak puluhan tahun, tidak ada yang memperhatikan lagi. Dan sekarang agaknya seorang di antara mereka muncul, dan mungkin yang tiga orang itu pun termasuk kelompok Delapan Dewa. Kalau benar demikian, benar-benar kita berempat ini mengalami kesialan luar biasa. Ah, semua gagal. Apa yang dapat kita lakukan sekarang?"
"Satu-satunya jalan bagi kita untuk membalas semua penghinaan ini adalah mengadu domba di antara mereka. Sebaiknya kita kabarkan kepada para pimpinan Dalai Lama di Tibet akan Hay Hay... maksudku Sin-tong. Mereka tentu tidak akan tinggal diam kalau menemukan jejak Sin-tong. Juga kita kabarkan kepada keluarga pendekar Pek. Mereka pun tentu tidak akan tinggal diam. Dan harus kita ketahul bahwa keluarga Pek yang menjadi pendiri dan pimpinan Pek-sim-pang (Perkumpulan Hati Putih) tidak boleh dibuat main-main. Kita adu dombakan mereka." kata Siangkoan Leng.
"Baik sekali itu. Mari kita membagi-bagi tugas." kata Kwee Siong dan mereka pun lalu berunding seperti empat orang sahabat baik. Sungguh lucu dan aneh sekali. Baru beberapa saat yang lalu, mereka akan dengan segaja senang hati saling serang dan saling bunuh, dengan kebencian luar biasa. Akan tetapi sekarang, mereka berunding seperti empat orang sahabat baik.
Memang demikianlah watak kita manusia pada umumnya. Dalam keadaan biasa, masing-masing hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, masing-masing mengejar kesenangan bagi diri sendiri, sehingga dalam pengejaran kesenangan itu, siapa pun yang dianggap sebagai penghalang akan diterjang dan disingkirkan dan dalam pengejaran kesenangan ini, selalu tentu akan terdapat halangan-halangan yang menimbulkan permusuhan. Sebaliknya, dalam keadaan sengsara, dalam keadaan terancam, orang akan condong untuk menghindarkan diri, untuk mencari kawan, mencari bantuan dari orang lain. Kecondongan inilah yang mendorong kita untuk berbaik dengan orang lain, terutama dengan orang yang senasib sependeritaan seperti yang terjadi pada empat orang yang biasanya dianggap jahat dan kejam seperti iblis itu.
Matahari memandikan permukaan puncak bukit itu dengan cahaya yang keemasan. Masih nampak sisa-sisa embun pada ujung-ujung daun, pada kelopak-kelopak bunga, pada puncak-puncak rumput, dan masih terasa kesejukan pagi yang amat menyegarkan. Bau rumput bermandikan embun bercampur dengan bau daun-daun kering membusuk, mendatangkan bau khas. Suara desir angin pagi di antara daun-daun pohon, diseling kicau burung. Matahari sudah naik agak tinggi, namun kesegaran pagi masih belum terbakar siang, sinar matahari masih lembut hangat dan ramah. Di bawah puncak, nampak segala pohon-pohon dan tumbuh-tumbuhan sudah bangun dari tidur semalam, bergoyang-goyang dan melambai-lambai tertiup angin pagi. Di angkasa hampak awan yang tenang dalam segala macam bentuk yang aneh-aneh, dilatarbelakangi langit biru yang makin lama semakin menjadi muda warnanya menuju keputihan.
Keindahan terdapat di mana-mana, akan tetapi hanya dapat dinikmati hanya dapat dilihat oleh batin yang tidak disibukkan dan dipenuhi kebisingan pikiran yang resah. Di dalam batin yang bebas dari kesibukan pikiran, pintu-pintu hati terbuka sehingga dapat menampung sinar cinta kasih, seperti kamar yang dibuka daun pintu dan jendelanya, dapat menampung cahaya matahari sehingga menjadi terang. Hanya batin yang bebas saja yang disinari cahaya cinta kasih dan dapat menikmati keindahan yang nampak di manapun juga! Keindahan nampak jelas, terdapat di setiap ujung daun dan bunga, keindahan terletak pada kewajaran, di mana hati tidak dicampuri dengan segala kecondongan dan seleranya, keindahan terdapat pada sehelai daun kering yang melayang turun dari pohonnya, yang menari-nari lepas dengan lenggang-lenggok bebas, terdapat dalam kicau burung yang mengeluarkan bunyi yang tak terikat oleh nada dan irama tertentu, bunyi yang bebas dan wajar, tidak dibuat-buat.
Sayang sekali bahwa keindahan jarang nampak oleh kita. Kepekaan batin kita sudah menjadi tumpul karena setiap saat dibebani masalah-masalah kehidupan yang diciptakan oleh pikiran kita sendiri. Sumber keindahan terdapat pada keadaan batin kita. Batin yang bebas dan penuh cinta kasih, akan melihat keindahan. keindahan itu yang berada di manapun juga. Sebaliknya batin yang penuh ikatan, batin yang penuh dengan segala masalah, penuh dengan emosi, kebencian, kekecewaan, batin seperti itu membuat mata, telinga, hidung dan semua panca indra, buta dan tumpul akan segala keindahan, bahkan yang nampak hanyalah yang kita anggap tidak menyenangkan saja. Segala sesuatu akan nampak buruk dan tidak menyenangkan bagi batin seperti ini.
Tidak ada cara yang tertentu untuk membebaskan batin. Latihan-latihan hanya akan menciptakan ikatan-ikatan baru saja, dan menjadi beban baru bagi batin. Akan tetapi kita dapat mengurangi beban batin dengan menghabiskan segala sesuatu yang menimpa diri kita pada saat itu juga! Menyelesaikan persoalan yang timbul pada saat itu juga, tanpa menampungnya ke dalam batin. Hal ini mengurangi beban batin, walaupun tak dapat dikata bahwa dengan demikian batin sudah menjadi bebas. Menghadapi segala sesuatu yang terjadi pada kita sebagaimana adanya, sebagai sesuatu kewajaran, tanpa keluhan, dengan penuh perhatian dan penuh pengamatan, lalu menghabiskannya pada waktu itu juga, tanpa menyimpan. Mungkinkah kita melakukan ini setiap saat, selama hidup kita?
Orang yang berada di atas puncak bukit itu, andaikata dia sendirian dan tidak menghadapi persoalan, sedikit banyak tentu ikan terbawa oleh suasana yang hening dan penuh damai. Akan tetapi sayang, mereka yang kini berada di puncak itu, tidak dapat menikmati segala keindahan itu karena mereka saling berhadapan, bahkan dengan sinar mata saling menentang.
"Heh-heh-heh, Tung-hek-kwi, apakah engkau yang mengundang jembel tua ini untuk datang ke sini menjadi saksi, ataukah untuk membantumu?" terdengar Pak-kwi-ong berkata dengan nada suara mengejek kepada Si Raksasa Hitam ketika Siangkoan Leng dan isterinya, bersama Kwee Siong dan isterinya, sudah melarikan diri meninggalkan puncak bukit itu.
"Huh, siapa mengundang jembel tua yang usilan ini? Aku tidak butuh bantuannya untuk menandingimu, Pak-kwi-ong! Sebaliknya, engkau malah mengajak pendeta Lama gundul ini ke sini untuk membantumu!" jawab Tung-hek-kwi.
"Siapa sudi mengekor kepada seorang pendeta palsu?" Pak-kwi-ong mengejek.
"Ha-ha-ha-ha, See-thian Lama, lihat dua orang ini. Kiranya mereka ini yang berjuluk Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi, dua orang di antara Setan Empat Penjuru Dunia! Dan memang mereka ini kurang ajar, berani mati, dan sombong seperti nama mereka. Kiranya masih ada sisa mereka, tadinya kukira bahwa Empat Setan itu sudah kembali ke neraka semua, ha-ha-ha!"
Pendeta Lama tinggi besar itu, lebih tinggi besar dibandingkan Tung-hek-kwi, menarik napas panjang dan jari-jari tangan kanannya memutar-mutar biji tasbeh, sedangkan tangan kiri mengelus kepala Hay Hay. "Omitohud...! Tak pernah pinceng mengira bahwa masih ada mereka ini, seperti juga tidak pernah pinceng mimpi akan bertemu denganmu di sini, Ciu-sian Sin-kai!"
Kini dua orang datuk sesat itulah yang terkejut bukan main. Namun mereka itu sama sekali tidak kelihatan kaget. walaupun jantung mereka mengalami guncangan. Pak-kwi-ong malah terkekeh gembira. "Heh-heh-heh-heh! Mimpikah aku?" Dia mencubit lengannya sendiri. "Hayaa, bukan mimpi akan tetapi lebih aneh daripada mimpi! Tung-hek-kwi, kita berdua berjanji akan mengadakan pertemuan di sini dan siapa tahu, di sini kita bertemu Sin-tong, dan juga bertemu dengan dua orang dari Delapan Dewa! Heh-heh-heh, tak tahu aku apakah ini merupakan suatu keberuntungan ataukah kesialan."
"Omitohud... semoga diberkahi seluruh umat di dunia!" See-thian Lama berkata dengan kaget dan gembira. "Ji-wi tadi bicara tentang Sin-tong? Siancai... apakah anak ini Sin-tong, putera pendekar Pek?"
"Wah? Sin-tong yang pernah diributkan dan pernah menggegerkan para Lama di Tibet itu? Pernah aku mendengar tentang itu beberapa tahun yang lalu!" kata pula Ciu-sian Sin-kai.
Pak-kwi-ong terkekeh. "Menurut keterangan empat ekor tikus tadi begitulah. Akan tetapi benar tidaknya, mana aku tahu? Kalian adalah dua di antara Delapan Dewa, dan kabarnya menurut dongeng, para dewa itu tahu segala, kenapa tanya aku?"
Tentu saja maksud kakek gendut ini untuk berkelakar seperti memang telah menjadi wataknya yang suka berkelakar, akan tetapi juga untuk mengejek, memperlihatkan sikap tidak takut dan tidak tunduk walaupun dia pernah mendengar bahwa ilmu kepandaian Delapan Dewa amatlah hebatnya.
"Omitohud, tidak ada yang lebih tahu daripada anak ini sendiri. Anak baik." katanya sambil mengelus kepala Hay Hay, "benarkah engkau ini anak pendekar Pek yang pernah melarikan diri dari Tibet ketika engkau masih dalam kandungan ibumu?"
Hay Hay mengerutkan alisnya. Baru saja dia terlepas dari tangan empat orang jahat yang memperebutkannya, dan sekarang agaknya dia kembali terjatuh ke tangan orang-orang yang lebih sakti lagi, akan tetapi yang juga agaknya tertarik oleh keturunannya dan hendak menyelidiki asal-usulnya. Hal ini membuatnya merasa sebal.
"Tak tahulah, Lo-suhu. Aku ini entah anak pendekar Pek ataukah anak setan. Yang jelas, aku mengenal namaku sebagai Hay Hay dan sejak kecil aku ikut Siangkoan Leng, dan isterinya yang ternyata adalah Lam-hai Siang-mo. Menurut keterangan empat orang yang memperebutkan diriku tadi, memang katanya aku ini anak pendekar Pek, akan tetapi aku sendiri mana tahu?"
Kembali pendeta Lama itu mengelus-elus kepala Hay Hay dan sekarang Hay Hay tahu bahwa kakek itu bukan mengelus sembarangan saja, melainkan meraba-raba kepalanya seperti ingin mengukur atau melihat bentuk kepala itu.
"Pinceng dapat menentukan apakah engkau memang Sin-tong atau bukan." Tiba-tiba saja Hay Hay merasa betapa seluruh pakaiannya terlepas dari tubuhnya. Dia tidak melihat bagaimana pendeta itu melakukannya, akan tetapi tiba-tiba saja, dengan cepat sekali sehingga tidak ada waktu baginya untuk menolak atau menegur, semua pakaiannya itu terlepas dari tubuhnya dan kini dia berdiri dengan tubuh telanjang bulat di tengah-tengah sedangkan empat orang kakek itu berdiri di sekelilingnya. Mereka itu mengamati seluruh tubuhnya, menaksir-naksir seperti empat orang pedagang sapi sedang menaksir seekor sapi sebelum menentukan harganya.
"Omitohud, pinceng tidak melihat tanda merah di punggungnya yang telah ditentukan oleh ramalan di Tibet bahwa Sin-tong itu ada tanda merah di bagian punggungnya. Anak ini bukan Sin-tong!" Akhirnya See-thian Lama berkata dan tiga orang sakti itu mengangguk-angguk percaya. Nama See-thian Lama sebagai seorang di antara Delapan Dewa tentu saja menjadi jaminan akan kebenaran keterangannya itu.
"Biarpun demikian, aku melihat bakat yang baik bersinar dari matanya! See-thian Lama, berikan saja dia kepadaku untuk menjadi muridku. Sudah lama aku mencari seorang anak yang cocok untuk kuberikan peninggalan semua ilmuku, heh-heh!" kata Ciu-sian Sin-kai dengan girang.
"Omitohud, penglihatanmu masih awas sekali, Sin-kai!" See-thian Lama memuji. "Akan tetapi sebelum engkau melihatnya, sejak tadi pinceng sudah mengetahui bakat terpendam anak ini dari bentuk kepalanya dan sejak tadi pinceng sudah mengambil keputusan bahwa kalau anak ini bukan Sin-tong yang harus diserahkan kepada para Dalai Lama, pinceng akan mengambilnya sebagai murid pinceng."'
"Wah-wah-wah, engkau Isudah menjadi pendeta harus mau mengalah kepadaku, See-thian Lama. Apa engkau tidak merasa kasihan kepadaku kalau aku membawa mati ilmuku tanpa kusalurkan kepada murid yang berbakat?"
"Heii, nanti dulu!" Tiba-tiba Tunghek-kwi membentak marah. "Kalian ini enak saja bicara tentang anak itu seolah-olah kami tidak mempunyai hak. Sebelum kalian datang, kami yang berhak atas diri anak ini dan bicara tentang murid, kami juga belum punya murid dan merasa bahwa kami yang memiliki hak pertama untuk menjadi gurunya." Sebetulnya Tung-hek-kwi ataupun Pak-kwi-ong tidak ingin mengambil murid Hay Hay, hanya karena merasa dikesampingkan, maka Tung-hek-kwi menegur dan merasa penasaran.
"Benar! Sejak dahulu kami sudah mendengar nama Delapan Dewa sebagai orang-orang yang tinggi hati dan tidak memandang sebelah mata kepada golongan lain." sambung Pak-kwi-ong. " Aku pun ingin mengambil anak ini sebagai murid!"
"Wah-wah-wah, berabe sekarang!" Ciu-sian Sin-kai berkata sambil tertawa gembira. Baginya keadaan yang berabe itu malah menggelikan dan menggembirakan. "See-thian Lama, bagaimana sekarang? Dua orang dari Empat Setan ini pun menghendaki anak itu. Bagaimana pikiranmu? Apakah engkau rela menyerahkan anak ini agar kelak menjadi calon datuk sesat yang hanya akan mengeruhkan dunia? Dosamu besar sekali kalau kauberikan dia kepada mereka, ha-ha-ha!"
"Omitohud, segala bentuk kekerasan tidak ada gunanya dan hanya merusak. Memaksa anak ini menjadi muridku pun akan merusaknya. Karena anak ini yang akan menjadi murid, dan begini banyaknya orang yang ingin mengambilnya sebagai murid, maka biarlah pinceng serahkan kepada anak itu sendiri, siapa yang akan diangkat menjadi gurunya. Anak baik, kautentukanlah pilihanmu."
Sejak tadi Hay Hay sudah mendengarkan semua ucapan mereka itu dan diam-diam dia pun merasa girang sekali. Agaknya empat orang ini, yang dia tahu merupakan orang-orang yang luar biasa, mempunyai niat yang berbeda dibandingkan dengan dua pasang suami isteri tadi. Mereka ini agaknya memperebutkan dia untuk diambil murid! Ketika tadi melihat sepak terjang Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi, dia merasa kagum bukan main karena mendapat kenyataan bahwa mereka itu jauh lebih lihai dibandingkan dengan dua pasang suami isteri iblis itu. Akan tetapi kemudian muncul pengemis itu dan pendeta yang luar biasa ini, maka tentu saja hatinya menjadi bimbang.
"Biarkan aku mengenakan pakaianku dulu." katanya dan pendeta Lama itu tersenyum ramah, menyerahkan pakaiannya, bahkan membantunya memakai bajunya. Setelah selesai berpakaian, Hay Hay lalu menuju ke tengah lapangan itu, memandang empat orang itu satu demi satu. Masih sukar dia menentukan dan memandang ragu-ragu. Dia suka menjadi murid seorang di antara mereka, mempelajari ilmu yang tinggi agar kelak dia dapat melakukan penyelidikan sendiri mengenai dirinya. Dia harus mencari ayah bundanya yang aseli, dan dia yang akan memberi hajaran kepada orang-orang seperti dua pasang suami isteri tadi. Dia harus mendapatkan guru yang paling pandai. Paling pandai! Itulah ukurannya untuk memilih!
"Aku ingin berguru kepada orang yang paling pandai di antara Locianpwe berempat. Silakan para Locianpwe mengadu kepandaian dan siapa yang paling tinggi kepandaiannya dan menang dalam pertandingan ini, nah, dialah guruku."
"Anak setan...!!" Tung-hek-kwi menyumpah.
"Omitohud...!" Se-thian Lama berseru.
Dua orang kakek lain, yaitu Pak-kwi-ong dan Ciu-sian Sin-kai tertawa bergelak mendengar kata-kata Hay Hay itu.
"Ha-ha-ha, anak baik, ketahuilah bahwa di antara Delapan Dewa tidak ada yang saling bertanding. Aku suka mengalah kepada See-thian Lama dan dia pun suka mengalah kepadaku. Akan tetapi entah dengan dua orang dari Empat Setan ini. Bagaimana Pak-kwi-ong? Engkau hanya tertawa saja. Apakah engkau ingin memasuki..... ha-ha, sayembara ini?" Kata Ciu-sian Sin-kai sambil tertawa geli.
"Heh-heh, aku sungguh tidak tahu diri kalau berani menandingi Pat Sian! Akan tetapi, kini muncul kesempatan bagiku untuk menguji satu jurus pukulanku yang paling akhir. Begini saja, Ciu-sian Sin-kai, karena di antara Pat Sian hanya engkau yang paling cocok dengan aku, kita sama-sama suka bergembira, bagaimana kalau engkau membantu aku dan menguji jurusku itu?' Satu jurus saja dan aku akan mengerti sudah apakah aku harus melangkah terus ataukah mundur. Ciu-sian Sin-kai mengangguk-angguk dan tersenyum. Dia menyukai ketegasan sikap seorang di antara Empat Setan yang memang paling suka berkelakar ini walaupun hatinya amat kejam. "Boleh, boleh, hanya aku khawatir tulang-tulangku yang sudah tua ini akan menjadi remuk nanti dan berarti dalam usia setua ini engkau akan menjadi pembunuh lagi. Ha-ha-ha, itu namanya menambah dosa saja!"
"Heh-heh, usia kita sebaya, Sin-kai, kalau sampai engkau mati berarti aku tidak keterlaluan dan tidak menjadi buah tertawaan orang sedunia. Nah, mari kita bersiap."
"Anak baik, kau minggir dulu." Kata Sin-kai sambil mendorong pundak Hay Hay dengan lembut sehingga anak ini melangkah minggir untuk memberi tempat kepada dua orang kakek yang hendak mengadu ilmu. Diam-diam anak ini merasa gembira bukan main. Kalau dia berhasil menjadi murid orang terpandai di antara mereka ini, sungguh hal itu amat menyenangkan. "
"Pak-kwi-ong, aku telah siap." kata Ciu-sian Sin-kai. Kakek ini sama sekali tidak berani memandang rendah kepada lawannya. Dia tahu siapa adanya Empat Setan yang sudah amat terkenal di dunia persilatan kalangan atas, beberapa puluh tahun yang lalu. Orang seperti Empat Setan, apalagi yang sikapnya gembira seperti Pak-kwi-ong, harus dihadapi dengan penuh kewaspadaan. Oleh karena itu, biarpun nampaknya dia berdiri santai saja, namun tubuh tua itu berada dalam keadaan siap siaga, seluruh tubuhnya dialiri hawa sinkang yang sukar dapat diukur kekuatannya. Bahkan tangan kanannya sudah memegang senjata yang juga menjadi alat musiknya, yaitu suling yang terbuat dari kayu berwarna hitam.
Pak-kwi-ong juga tidak mau membuang waktu lagi. Dia bersikap cerdik ketika minta diuji sejurus ilmunya oleh Ciu-sian Sin-kai. Kalau dia menantang berkelahi, dia meragukan apakah dia akan mampu keluar dengan nyawa masih menempel di tubuhnya. Ujian hanya satu jurus ini, andaikata dia gagal dan kalah sekalipun, dia akan dapat keluar dengan selamat dan satu jurus saja sudah cukup baginya untuk menguji. Jurus yang akan dikeluarkan adalah jurus terampuh dan kalau jurus ini tidak mampu mengalahkan Sin-kai, maka jurus-jurus lainnya tidak akan ada artinya lagi.
Dengan kedua kakinya yang nampak pendek karena bulat dia melangkah maju sambil menggosok-gosok kedua telapak tangannya. Tak lama kemudian, tampak uap tebal mengepul dari telapak tangannya. Dapat dibayangkan kehebatan tenaga sinkang kakek ini. Ketika muncul di situ, tenaga saktinya telah datang menerpa seperti badai yang membuat daun-daun kering beterbangan dan kini dia mengumpulkan seluruh kekuatannya pada kedua telapak tangannya, maka dapat dibayangkan betapa berbahaya kedua telapak tangan yang telah diisi tenaga sakti itu.
"Sin-kai, terimalah seranganku ini!" Kakek gendut botak itu berseru dengan suara nyaring seperti bentakan. Kakek ini adalah seorang datuk sesat yang kejam, akan tetapi juga cerdik sekali. Selain mengerahkan seluruh kekuatan dan menggunakan jurus terampuh dalam serangan yang hanya satu kali ini, juga dia memakai sopan-santun memberi peringatan terlebih dulu. Hal ini dilakukan karena dia belum yakin benar akan dapat mengalahkan lawan ini dalam satu serangan itu. Andaikata yang diserangnya itu orang yang dianggap tingkatnya lebih rendah dan dia yakin akan mampu merobohkannya, tentu dia akan turun tangan tanpa banyak aturan lagi.
"Wuuuuttt...!" Angin dari hawa pukulan itu menyambar dahsyat ketika Pak-kwi-ong menerjang ke arah Ciu-sian Sin-kai. Ternyata jurus pukulannya itu hanya sederhana saja, tangan kiri menampar dari atas ke arah kepala sedangkan tangan kanan menghantam lurus dari depan ke arah dada. Biarpun sederhana, jangan harap pukulan ini akan dapat dihindarkan oleh ahli-ahli silat kebanyakan saja karena di kedua lengan itu terkandung kekuatan yang amat dahsyat. Dan hebatnya, biarpun nampaknya tidak begitu cepat, namun Ciu-sian Sin-kai, seorang di antara Delapan Dewa, melihat bahwa pukulan Si Gendut itu tak mungkin dapat dielakkan karena hawa pukulan itu telah membuat semua jalan keluar tertutup. Kalau orang memaksa diri mengelak, tentu akan terkena pukulan, betapa cepatnya dia mengelak. Satu-satunya jalan untuk menghadapi pukulan kedua tangan itu hanyalah menyambutnya dengan tangkisan. Dan inilah yang dikehendaki oleh Pak-kwi-ong. Dia hendak memaksa lawan menggunakan tenaga menyambutnya untuk mengadu tenaga! Dan karena ini pula maka dia mengerahkan seluruh tenaganya pada kedua tangan.
Akan tetapi, Ciu-sian Sin-kai tidak merasa gentar, juga sebagai seorang datuk persilatan yang sudah memiliki tingkat tinggi sekali, dia tidak kekurangan akal. Dengan tenang saja dia lalu menyalurkan tenaga sinkang dari pusarnya ke arah kedua tangan, lebih banyak ke tangan kiri daripada tangan kanan. Tangan kanan yang memegang suling hitam itu lalu bergerak, menggunakan sulingnya untuk menyambut dan menotok ke arah telapak tangan kiri Pak-kwi-ong yang menampar dari atas ke arah kepalanya. Karena dia menyambut tamparan itu dengan totokan, bukan tangkisan, maka dia tidak perlu mengerahkan terlalu banyak tenaga. Ujung tongkatnya menyambar ke arah jalan darah yang menjadi pusat, yaitu di antara pangkal telunjuk dan ibu jari. Adapun tangan kirinya, dengan jari-jari terbuka, menyambut hantaman lawan dari depan. Dia menerima tantangan adu tenaga itu.
Melihat sambaran ujung suling, Pak-kwi-ong maklum bahwa besar kemungkinan tangan kirinya akan tertotok dan hal itu dapat mengakibatkan kelumpuhan. Oleh karena itu, terpaksa dia miringkan sedikit tangan kirinya yang menampar agar ujung suling itu mengenai bagian lain dari telapak tangannya, dan dengan nekat dia pun mengadu tenaga dengan tangan kanannya yang terbuka, menghantam ke arah telapak tangan kiri lawan yang berani menyambutnya.
"Pak...!Dessss.....!!" Hebat bukan main pertemuan tenaga dua kali itu, terutama yang terakhir ketika tangan kanan Pak-kwi-ong bertemu dengan tangan kiri Ciu-sian Sin-kai. Hay Hay sampai terpelanting dan para tokoh lain dapat merasakan getaran yang hebat ketika dua tenaga dahsyat itu bertemu. Tubuh Ciu-sian Sin-kai yang kurus itu masih berdiri tegak dengan mulutnya tetap tersenyum, akan tetapi tubuh Pak-kwi-ong yang gendut itu terdorong mundur sampai lima langkah! Jelaslah bahwa Pak-kwi-ong kalah dalam adu tenaga itu dan dia pun terkejut bukan main, merasa untung bahwa dia tadi hanya menantang untuk satu kali atau satu jurus serangan saja. Jurus itu pun tidak dilanjutkan karena lengkapnya masih ada susulan tendangan. Dari pertemuan tenaga tadi saja dia maklum betapa hebatnya tokoh dari Delapan Dewa ini. Bukan nama kosong belaka. Isi dadanya sampai terguncang dan dia pun cepat menahan napas untuk menghimpun hawa murni. Kemudian, sambil tersenyum menyeringai dia pun mengangkat kedua tangan di depan dadai.
"Hebat memang kepandaian Ciu-sian Sin-kai. Aku tidak merasa malu untuk mengakui kekalahanku."
Berbeda dengan dua orang kakek dari Empat Setan itu, para tokoh Delapan Dewa adalah datuk-datuk persilatan yang berwatak gagah perkasa. Biarpun mereka juga tidak pernah mengaku sebagai golongan putih atau golongan pendekar, dan tidak langsung memusuhi golongan hitam seperti kaum pendekar, namun mereka itu tidak pernah melakukan perbuatan jahat dan terkenal sebagai tokoh-tokoh aneh yang selalu bersikap adil dan gagah perkasa. Melihat betapa Pak-kwi-ong, seorang tokoh besar yang tingkatnya sudah tinggi sekali, kini mau mengakui kekalahannya begitu saja, Ciu-sian Sin-kai merasa kasihan. Suling hitamnya yang terbuat dari kayu cendana itu tadi ketika bertemu dengan telapak tangan kiri Pak-kwi-ong, mengalami keretakan. Hal ini dia tahu dan rasakan benar. Suling itu sudah rusak dan tidak ada gunanya dipakai lagi, maka kini melihat lawannya mengaku kalah, dia pun tertawa.
"Heh-heh-heh, Pak-kwi-ong, kau ini merendahkan diri ataukah mengejek orang? Lihat, dalam adu tenaga tadi engkau telah merusak sulingku." Dia melemparkan suling itu ke atas tanah dan ternyata benda itu telah patah menjadi dua potong. Tadinya memang retak akan tetapi dengan bantuan tenaga sin-kang Ciu-sian Sin-kai, kini suling itu patah menjadi dua tanpa ada yang melihatnya.
Pak-kwi-ong bukan orang bodoh. Biarpun, andaikata benar, dia berhasil merusak suling lawan, namun bagaimanapun juga kalau perkelahian dilanjutkan, dia akan kalah. Maka dia pun tertawa, "Sudahlah, aku memang kalah. Mudah-mudahan lain kali aku akan dapat membalas kekalahanku. Selamat tinggal!" Berkata demikian, kakek gendut itu lalu melompat dan tubuhnya seperti menggelundung saja dari puncak bukit itu, dan sebentar saja dia sudah menghilang.
"Omitohud... Pak-kwi-ong sungguh tahu diri, semoga dia memperoleh kebahagiaan dan kedamaian hidup" kata Seng-thian Lama, merasa lega bahwa seorang di antara Empat Setan itu tidak membuat onar selanjutnya dan mau mengalah. "Dan bagaimana dengan engkau, Tung-hek-kwi?"
Sejak tadi Tung-hek-kwi sudah memutar otak. Dia seorang yang pendiam, akan tetapi juga cerdik. Melihat betapa Pak-kwi-ong tidak mampu mengalahkan Ciu-sian Sin-kai, dia mengerti bahwa dia pun tidak akan menang menghadapi dua orang dari Delapan Dewa itu. Hatinya merasa mengkal sekali. Dia pun tidak terlalu ingin mengambil anak itu sebagai muridnya, akan tetapi melihat ada orang datang dan mengambil alih begitu saja anak yang tadinya berada dalam lindungannya, dia merasa dipandang rendah sekali. Apalagi anak itu telah mengadakan semacam sayembara, yang berarti mengadu domba dan kalau dituruti berarti dia akan membuktikan kekurangan dan kekalahannya terhadap dua orang kakek Delapan Dewa itu. Maka timbullah kemarahan dan kemendongkolan hatinya terhadap Hay Hay.
"Daripada diperebutkan, biarlah tak seorang di antara kita memperolehnya!" bentaknya.
"Omitohud...!" See-thian Lama berseru dan tiba-tiba saja tubuhnya lenyap. Ternyata tubuh yang tinggi besar itu telah melayang ke atas seperti seekor burung garuda terbang saja dan demikian cepat gerakan pendeta Lama ini sehingga dia mampu menghadang di depan Hay Hay ketika Tung-hek-kwi datang menghantam anak itu. See-thian Lama menyambut pukulan itu dengan tangkisan tangannya selagi tubuhnya masih menyambar turun.
"Dessss.....!!"
Demikian hebatnya tangkisan itu dan tidak terduga-duga oleh Tung-hek-kwi sehingga tubuh kakek hitam yang tinggi besar itu pun terjengkang dan bergulingan di atas tanah! Melihat betapa kakek hitam itu nyaris membunuh anak kecil itu, kakek pendeta ini sudah mengerahkan seluruh tenaganya dan mana mungkin Tung-hek-kwi mampu menahannya? Tubuhnya yang terjengkang dan bergulingan itu membuktikan betapa dahsyatnya tenaga tangkisan See-thian Lama!
Tung-hek-kwi meloncat bangun dan mukanya berubah pucat, matanya mengeluarkan sinar berapi. Akan tetapi kini Ciu-sian Sin-kai juga sudah berdiri menghadang di depan anak itu.
"Ha-ha-ha, Tung-hek-kwi, kalau engkau mau bermain curang dan hendak mengganggu anak ini, terpaksa aku akan menghajarmu!"
Tung-hek-kwi adalah seorang yang berwatak keras. Akan tetapi dia pun bukan orang bodoh dan dia maklum bahwa menghadapi dua orang kakek itu sama sekali dia tidak akan dapat menandinginya. Baru melawan seorang di antara mereka saja dia akan sukar menang, apalagi mereka berdua kini melindungi anak itu.
"Huh!" dengusnya. "Tidak sekarang, kelak dia akan mampus di tanganku!" Setelah berkata demikian, dia pun membalikkan tubuhnya dan sekali meloncat, dia pun lenyap dari situ.
Ciu-sian Sin-kai hanya tertawa dan See-thian Lama berkata, "Omitohud...mereka berdua itu kelak akan menjadi ancaman bagi anak ini."
"Siangkoan Hay..... "
"Locianpwe, aku tidak mau lagi memakai nama keluarga Siangkoan. Akan tetapi karena nama Hay Hay adalah namaku sejak kecil, biarlah aku menggunakan nama Hay Hay saja." Hay Hay memotong ucapan Ciu-sian Sin-kai.
Kakek berpakaian pengemis itu terkekeh, "Heh-heh-heh, baiklah. Akan tetapi karena engkau dari keluarga Pek, namamu menjadi Pek Hay."
"Omi tohud, pinceng sangsikan apakah dia ini benar-benar putera pendekar Pek. Menurut perhitungan dan ramalan para pimpinan Dalai Lama, putera pendekar Pek itu adalah Sin-tong dan dipunggungnya terdapat tanda merah. Akan tetapi di punggung anak ini tidak ada tandanya, berarti dia bukan Sin-tong dan bukan pula anak pendekar Pek."
"Pendapatmu benar, See-thian Lama, akan tetapi kita hanya tahu bahwa Lam-hai Siang-mo menculiknya dari keluarga Pek, oleh karena itu, sebelum ada keterangan lebih lanjut dari keluarga Pek, biarlah dia bernama Pek Hay. Bagaimana Hay Hay, maukah engkau memakai nama keluarga Pek? Tidak baik orang tidak memiliki nama keluarga sama sekali."
Hay Hay menarik napas panjang. Dia sendiri bingung dengan keadaannya, akan tetapi dia tidak peduli akan segala macam nama keturunan atau nama keluarga, maka dia pun hanya mengangguk saja.
"Nah, sekarang, kepada siapakah engkau hendak berguru? Kepadaku atau kepada See-thian Lama? Ingat, antara kami berdua terdapat ikatan persaudaraan dan kami tidak mungkin mau mengadu ilmu untuk memperebutkan dirimu. Kalau engkau ikut dengan aku, engkau akan menjadi murid seorang pengemis jembel yang kadang-kadang makan sisa makanan dan tidur di emper toko atau di kuil rusak, tak tentu tempat tinggalnya, tak tentu makan dan pakainya. Kalau engkau ikut dengan See-thian Lama, engkau akan hidup sebagai seorang murid pendeta dan menjadi penghuni kuil. Nah, engkau pilih yang mana?"
Anak itu memandang kepada dua orang kakek itu bergantian, menimbang-nimbang. Dia telah kehilangan segala-galanya dan kini hidupnya tergantung kepada dua orang kakek ini. Dia belum mengenal mereka dan tidak tahu pula siapa di antara mereka yang paling baik, paling pandai dan paling dapat diharapkan.
"Aku memilih... keduanya!" Dan dia pun menjatuhkan diri berlutut di depan dua orang kakek itu. "Harap Ji-wi Locianpwe sudi menerimaku sebagai murid dan aku berjanji akan mentaati segala perintah Ji-wi."
Dua orang kakek itu saling pandang dan kemudian mereka berdua pun tertawa. "Omitohud, anak ini memang lihai sekali. Ciu-sian Sin-kai, pinceng merasa kasihan kalau melihat anak yang masih kecil ini kau ajak berkeliaran dan hidup terlantar. Biarlah selama lima tahun dia ikut bersama pinceng, kemudian setelah lima tahun, engkau boleh menjemputnya dan mengajaknya pergi. Bagaimana?"
"Ha-ha-ha, aku mengerti maksudmu, See-thian Lama. Engkau takut anak ini menjadi tersesat seperti aku, maka engkau hendak menanamkan dasar-dasar semua ilmu kepadanya, mengajarkan ilmu membaca menulis dan keagamaan. Baiklah, aku setuju saja. Nah kalau tidak ada sesuatu, lima tahun kemudian aku mengunjungimu untuk menjemput Hay Hay. Dan kau, Hay Hay, engkaulah satu di antara jutaan anak-anak di dunia ini yang paling beruntung, dapat menjadi murid See-thian Lama. Belajarlah baik-baik." Setelah berkata demikian, Ciu-sian Sin-kai berkelebat dan lenyap dari tempat itu.
Biarpun hatinya agak kecewa ditinggalkan oleh kakek jembel yang ramah dan lucu itu, karena dia sudah berjanji akan mentaati kedua orang itu, Hay Hay diam saja dan masih berlutut di depan See-thian Lama.
"Bangkitlah, Hay Hay, dan mari ikut dengan pinceng." Setelah berkata demikian, kakek itu tanpa menanti Hay Hay bangkit, lalu turun dari puncak bukit itu. Hay Hay cepat bangkit berdiri dan mengikuti pendeta itu dari belakang. Karena pendeta itu berjalan perlahan-lahan, maka Hay Hay dapat mengimbangi kecepatannya. Mulailah Hay Hay memasuki suatu keadaan hidup yang baru, yang sama sekali berbeda dengan keadaan hidupnya sebagai putera Siangkoan Leng di Nan-king.
Memang kehidupan ini mudah sekali berubah. Peristiwa-peristiwa yang kebetulan, yang tidak terduga-duga, dapat merubah keadaan hidup seseorang. Apa yang terjadi pada diri Hay Hay juga kebetulan saja. Kwee Siong dan Tong Ci Ki, suami isteri dari Guha Iblis Pantai Selatan itu, selain ingin membalas dendam atas kekalahan-kekalahan mereka terhadap Siangkoan Leng, juga mempunyai niat untuk menculik Hay Hay demi keuntungan mereka sendiri. Tanpa mereka sengaja, suami isteri ini membawa Hay Hay ke puncak bukit itu, dibayangi dan diintai oleh Siangkoan Leng dan isterinya.
Akan tetapi, sungguh terjadi hal yang tidak sengaja dan kebetulan sekali bahwa di puncak bukit itu muncul Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi, dua orang datuk sesat, tokoh-tokoh Empat Setan yang sakti! Di antara Empat Setan, memang tinggal dua orang tokoh ini yang masih hidup, dan puncak bukit itu memang merupakan tempat pertemuan antara mereka selama puluhan tahun. Kebetulan sekali, pada pagi hari itu adalah tepat merupakan pertemuan antara dua orang datuk ini. Munculnya dua orang datuk ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Hay Hay, hanya kebetulan saja, akan tetapi telah merubah semua jalan kehidupan Hay Hay. Andaikata mereka tidak muncul dan Hay Hay dibawa pergi oleh suami isteri Guha Iblis atau mungkin terampas kembali oleh Lam-hai Siang-mo, tentu keadaan hidupnya akan menjadi berlainan sama sekali.
Di dalam peristiwa yang kebetulan itu, terjadi lagi peristiwa kebetulan lain yang menimpa dirinya, yaitu kemunculan Ciu-sian Sin-kai dan See-thian Lama. Dua orang kakek yang jarang sekali muncul di dunia ramai ini adalah dua di antara Pat-sian atau Delapan Dewa, julukan yang diberikan kepada delapan orang tokoh besar dunia persilatan. Kemunculan mereka di situ pun hanya kebetulan saja. Ciu-sian Sin-kai dalam perantauannya sebagai seorang pengemis yang selalu memilih jalan sunyi dan tempat-tempat rawan dan gawat, jarang mau menemui orang lain. Adapun See-thian Lama, seorang tokoh besar di daerah Pegunungan Himalaya, biarpun dia penganut Agama Buddha seperti para Lama di Tibet, namun dia tidak tergabung dalam golongan Lama di Tibet, juga sedang merantau ke timur dengan dua maksud. Pertama, untuk ikut pula menyelidiki tentang hilangnya Sin-tong yang menghebohkan para pendeta itu, dan ke dua, untuk mencari murid karena dia merasa sudah tua dan ingin menurunkan ilmu-ilmunya kepada seorang murid yang baik. Dan sungguh dia memperoleh berkah, mungkin dari cara hidupnya yang bersih sehingga terjadi hal yang begitu kebetulan. Dia menemukan anak yang diributkan sebagai Sin-tong, bahkan sekaligus menemukan seorang murid yang baik.
Segala peristiwa yang terjadi di dunia ini, adalah fakta-fakta yang tak dapat diubah lagi oleh apa dan siapapun juga. Peristiwa yang terjadi adalah suatu hal yang sudah nyata, wajar, dan tidak baik maupun buruk. Yang terjadi pun terjadilah! Kitalah yang menempelkan sebutan baik atau buruk pada peristiwa yang terjadi, sesuai dengan penilaian kita yang didasari oleh kepentingan diri pribadi. Dan sekali kita menilai, sekali kita memberi sebutan baik atau buruk, maka muncullah sebutan baik buruk, kita senang kalau peristiwa itu baik (menguntungkan) dan kita kecewa kalau peristiwa itu buruk (merugikan). Kecewa, marah, duka dan sebagainya itu berada di dalam CARA MENERIMA KENYATAAN yang berupa peristiwa itu, bukan terletak pada kenyataan itu sendiri. Dan oleh karena penilaian kita didasari kepentingan diri, maka apa yang kita anggap baik hari ini, belum tentu kita anggap baik pada keesokan harinya, dan sebaliknya. Apa yang kita tangisi hari ini, mungkin besok akan kita tertawakan, dan apa yang mendatangkan tawa hari ini kepada kita, mungkin akan mendatangkan tangis pada keesokan harinya. Semua itu tergantung dari keadaan hati kita ketika menghadapi kenyataan itu.
Kalau kita mau menghadapi segala macam peristiwa dalam hidup ini sebagai suatu kenyataan, suatu fakta yang wajar, maka kita akan menerimanya dengan hati lapang, dengan penuh kewaspadaan tanpa menilai baik buruknya. Dengan demikian, batin kita akan tetap tenang dan jernih, dan tindakan kita sebagai tanggapan terhadap peristiwa itu bukan lagi dikuasai oleh emosi, oleh nafsu, melainkan didasari kecerdasan dan akal budi yang sehat. Dan kewaspadaanlah yang akan membuka mata kita bahwa sesungguhnya, segala peristiwa yang terjadi hanyalah suatu akibat dari suatu sebab. Sebab-sebab itu dapat berantai panjang, namun pusatnya atau sebab utama dan pertamanya, akan selalu kita dapatkan di dalam diri sendiri! Kalau sudah begini, tidak mungkin akan ada lagi keluhan, apa pun yang terjadi menimpa diri. Jangankan hanya urusan yang tidak langsung mengenai diri, bahkan datangnya penyakit dan kematian sekalipun merupakan suatu kewajaran yang tidak dinilai sebagai baik ataupun buruk. Dan kalau sudah begini, apakah masih ada masalah dalam kehidupan? Kalau batin sudah bebas dari ikatan apapun juga, kematian pun hanya merupakan suatu kewajaran yang tidak mendatangkan perasaan was-was atau takut sama sekali.
*
Kita tinggalkan dulu Hay Hay yang mengikuti See-thian Lama menuju kebarat, ke Pegunungan Himalaya dan mari kita menengok keadaan keluarga lain yang dekat hubungannya dengan Hay Hay.
Di kota Nam-co, di daerah Tibet, sebelah utara kota Lha-sa yang menjadi ibu kota Tibet di mana para Dalai Lama menjadi penguasa-penguasa mutlak, terdapat banyak pendatang dari timur, bukan penduduk aseli Tibet. Mereka ini sebagian besar menjadi pedagang, membuka toko dan melakukan perdagangan dengan mendatangkan barang-barang dari Propinsi-propinsi Yu-nan, Secuan, ateu Cing-hai. Karena banyak pula keluarga bangsa Han (Cina) yang berada di Tibet, maka terdapat pula kelompok-kelompok atau golongan-golongan di kota Nam-cao. Akan tetapi yang paling terkenal adalah perkumpulan Pek-sim-pang (Perkumpulan Hati Putih). Perkumpulan ini adalah perkumpulan silat, merupakan sebuah perguruan akan tetapi juga perkumpulan sosial yang suka bertindak membantu masyarakat yang tertimpa malapetaka atau ketidakadilan. Para penjahat di daerah Tibet merasa gentar menghadapi perkumpulan Pek-sim-pang, karena keluarga Pek, yaitu pendiri dari Pek-sim-pang, adalah ahli-ahli silat yang amat lihai. Semenjak berdiri kurang lebih empat puluh tahun yang lalu, Pek-sim-pang memperoleh kemajuan besar. Banyak orang muda yang gagah perkasa menjadi murid dan anggauta perkumpulan itu. Karena sepak terjang mereka itu gagah perkasa dan seperti pendekar-pendekar sejati, maka nama Pek-sim-pang semakin terkenal dan anggautanya semakin banyak sampai berjumlah kurang lebih seratus orang. Dan selama bertahun-tahun keadaan perkumpulan itu jaya dan tenteram, bahkan nama besar Pek-sim-pang membuat kota Nam-co menjadi tenteram pula. Hal ini diakui oleh para pendeta Lama di Lha-sa sehingga mereka pun menghargai Pek-sim-pang yang mereka anggap sebagai perkumpulan sahabat yang dikagumi. Apalagi mengingat bahwa pendirinya pada empat puluh tahun yang lalu adalah seorang pendekar besar, murid dari Siauw-lim-pai. Para guru besar Siauw-lim-pai masih mempunyai hubungan baik, bahkan hubungan persaudaraan dalam perguruan dengan para pimpinan Lama di Tibet, maka tentu saja keluarga Pek diterima sebagai keluarga seperguruan pula.
Akan tetapi, tidak ada sesuatu yang abadi dan tidak berubah di dunia ini. Ketenteraman Pek-sim-pang, dan keluarga Pek pada khususnya, mengalami perubahan hebat pada tujuh tahun yang lalu. Pada waktu itu, Pek Khun, pendiri Pek-sim-pang yang telah berusia enam puluh tahun, telah mengundurkan diri dan pergi bertapa ke sebuah puncak di Pegunungan Kun-lun-san. Yang menggantikannya menjadi ketua Pek-sim-pang adalah Pek Ki Bu, puteranya yang pada waktu itu sudah berusia empat puluh lima tahun. Pek Ki Bu telah mewarisi ilmu-ilmu silat ayahnya dan dia pun amat lihai dalam ilmu silat Siauw-lim-pai yang banyak ragamnya itu. Pek Ki Bu hanya mempunyai seorang putera yang bernama Pek Kong. Melalui diri Pek Kong inilah peristiwa yang menimbulkan perubahan hebat pada Pek-sim-pang itu terjadi. Baru setahun Pek Kong menikah dengan seorang gadis puteri seorang pedagang obat di Nam-co, dan ketika isterinya mengandung tua, tiba-tiba saja datang utusan dari Lha-sa, dari para pendeta Dalai Lama yang menyatakan bahwa anak dalam kandungan isteri Pek Kong itu adalah calon Dalai Lama! Sebagai cirinya, di punggung anak itu akan nampak tanda merah selebar telapak tangan dan karena anak itu merupakan calon orang suci atau guru besar, maka diminta kerelaan orang tuanya untuk menyerahkan anak itu apabila terlahir kelak!
Keluarga Pek merupakan keluarga yang sudah dua keturunan tinggal di daerah Tibet sehingga mereka maklum apa artinya itu. Anak itu kelak akan menjadi seorang calon Dalai Lama dan sama sekali terputus hubungannya dengan keluarga Pek! Tentu saja keluarga itu tidak rela dengan bayangan ini. Pek Kong merupakan keturunan terakhir dan tunggal dari keluarga Pek. Kalau kelak anak itu terlahir laki-laki, maka anak itulah yang merupakan keturunan terakhir. Bagaimana mungkin mereka dapat menyerahkan keturunan terakhir itu untuk menjadi calon Dalai Lama dan terputus hubungannya dengan keluarga mereka? Bagaimana kalau Pek Kong, seperti kakeknya dan juga ayahnya, hanya mempunyai seorang saja anak laki-laki? Bukankah dengan demikian akan berarti putus dan lenyap keturunan keluarga mereka? Bagi bangsa Han di seluruh negeri, keturunan laki-laki yang menyambung nama keluarga mereka merupakan hal yang teramat penting.
Dalam kebingungan itu, keluarga Pek tentu saja tidak berani menolak permintaan para pendeta Lama yang amat berpengaruh di Tibet. Pek Ki Bu sebagai ketua Pek-sim-pang menjadi bingung dan cepat dia pergi menghadap ayahnya yang bertapa di Kun-lun-san untuk minta nasehat.
"Aihhh, kenapa ada urusan yang sulit itu menimpa keluarga kita?" Kakek Pek Khun menarik napas panjang dan mengelus jenggotnya yang panjang. "Biarpun andaikata ada aku sendiri di sana dan semua puncak pimpinan para Lama menjadi sahabat-sahabat baikku yang amat menghormatiku, namun urusan pemilihan calon Lama itu sungguh merupakan urusan yang tak boleh dipandang ringan. Para Lama itu percaya akan ramalan, dan menganggap hal itu seperti perintah dari Sang Buddha sendiri. Biar sahabat baik, kalau menentang tentu akan dimusuhi! Sebaiknya begini saja. Sebelum anak itu terlahir, Pek Kong dan isterinya harus mengungsi jauh ke timur. Dan kelak, kalau anaknya terlahir, kita harus menukar anaknya itu dengan anak lain, kalau memang ternyata di punggungnya ada tanda merah, dan anak itu, cucu buyutku, biarlah aku yang akan membawa dan menyembunyikannya."
Demikianlah, keluarga Pek mentaati kakek Pek Khun itu dan diam-diam Pek Kong bersama isterinya melarikan diri ke timur, memasuki Propinsi Yu-nan kemudian mereka terus melanjutkan perjalanan sampai ke pantai selatan di daerah Propinsi Kuangsi. Setelah merasa cukup jauh dan kandungan isterinya sudah hampir tiba saatnya melahirkan, suami isteri Pek ini lalu menyembunyikan diri dan mondok di sebuah kuil. Tanpa mereka ketahui, diam-diam mereka dibayangi oleh seorang kakek yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, yaitu kakek mereka sendiri, pertapa Pek Khun yang diam-diam melindungi pelarian cucunya itu.
Setelah mereka memperoleh tempat pondokan di kuil itu, barulah Pek Khun menemui mereka sehingga girang dan legalah hati Pek Kong bersama isterinya. Saat yang dinanti-nantikan telah tiba dan isteri Pek Kong melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat. Dapat dibayangkan betapa kaget dan gelisah rasa hati Pek Kong dan isterinya ketika melihat bahwa pada punggung anak mereka memang terdapat tanda merah sebesar telapak tangan! Kulit di bagian itu seperti bekas terbakar atau ada kelainan sehingga warnanya kemerahan.
Kalau tidak ada kakek Pek Khun di situ, tentu suami isteri yang masih amat muda itu, baru berusia dua puluh tahun lebih, menjadi panik dan khawatir. Kakek Pek Khun yang membuat mereka tenang. Mula-mula, kakek pertapa ini mencoba untuk menggunakan ilmu kepandaiannya, agar tanda kemerahan pada punggung itu dapat lenyap. Namun, semua usahanya sia-sia belaka dan akhirnya dia harus mengambil jalan terakhir seperti yang direncanakannya.
"Cucuku, agaknya Thian memang sudah menghendaki bahwa anak ini terlahir dengan tanda ini yang tidak dapat dihilangkan dengan obat. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan keturunan kita ini adalah menyembunyikan dan menukarnya dengan seorang anak lain yang tidak mempunyai tanda merah di punggungnya. Dengan demikian, anak kalian itu dapat kita ajak pulang dan kalau para pendeta Lama tidak melihat tanda merah di punggungnya, tentu mereka tidak akan mengganggunya."
Pek Kong dan isterinya yang merasa bingung dan tidak tahu bagaimana caranya untuk dapat menyelamatkan putera mereka tanpa menjadi keluarga pelarian, menyetujui saja siasat yang akan diatur oleh kakek Pek Khun itu. Mulailah kakek yang sakti itu melakukan penyelidikan di sepanjang pantai selatan, ke dusun-dusun yang sunyi. Namun, dia tidak menemukan anak yang dianggap cocok sekali keadaannya dengan cucu buyutnya. Dia harus menemukan keluarga yang mempunyai anak bayi yang sebaya, dan keluarga itu harus mau menerima penukaran anak dan bersedia merawat cucu buyutnya dan mencari keluarga seperti ini tentu saja tidak mudah.
Pada hari ke tiga, selagi dia berjalan menyusuri pantai yang sunyi, pandang matanya tertarik oleh sesosok tubuh yang berdiri di atas tebing yang curam. Biarpun waktu itu sudah menjelang senja dan cuaca sudah remang-remang, namun penglihatan kakek yang masih tajam ini dapat melihat bahwa tubuh yang berdiri di tepi tebing itu adalah seorang perempuan yang agaknya memondong sesuatu. Dia merasa khawatir melihat wanita itu berdiri demikian dekat di bibir tebing yang demikian curam. Ingin dia berteriak memperingatkan wanita itu, akan tetapi dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika dia melihat wanita itu tiba-tiba malah meloncat ke bawah, ke air laut yang bergelombang ! Dan lebih ngeri lagi rasa hatinya ketika dia melihat bahwa benda yang dipondong oleh wanita itu adalah seorang anak kecil yang terdengar menangis ketika wanita itu meloncat kebawah. Tanpa berpikir panjang lagi, kakek Pek Khun lalu cepat lari ke tepi pantai itu dengan meloncat ke air bergelombang ketika wanita dan anak kecil itu sudah terbanting ke air.
Hati kakek itu tergerak melihat tubuh kecil bayi itu diombang-ambingkan ombak dan masih terdengar tangisnya. Maka dia pun cepat berenang ke arah anak itu dan akhirnya berhasil menyambar tubuh kecil itu. Dengan cepat diikatnya tubuh anak itu di atas punggungnya menggunakan robekan bajunya yang lebar, kemudian barulah dia berenang lagi menolong wanita tadi yang sudah tenggelam timbul. Kalau dia tidak bergerak dengan cepat, tentu wanita itu akan dihempaskan ombak ke batu karang di bawah tebing. Untung bahwa kakek Pek Khun sejak muda memang ahli renang yang terlatih dan dia dapat bergerak dengan cepat dan lincahnya di dalam air, walaupun air laut itu bergelombang dengan amat kuatnya.
Setelah berhasil mencengkeram rambut wanita itu yang terlepas dari sanggulnya yang terurai panjang, dia lalu berenang ke tepi, memanggul anak kecil di punggungnya yang masih terus menangis dan menyeret wanita yang sudah pingsan itu. Berhasillah kakek yang gagah perkasa ini membawa tubuh wanita itu ke darat, menjauhi jangkauan air. Anak itu ternyata seorang bayi laki-laki yang bertubuh sehat dan montok dan tangisnya amat nyaring. Tangis inilah yang agaknya menolong bayi itu. Dengan hati-hati kakek Pek Khun merebahkan bayi itu di atas pasir dan dia pun cepat menolong wanita itu, mengeluarkan air dari dalam perutnya. Akan tetapi, wanita itu ternyata telah terluka parah pada dahinya. Agaknya ketika meloncat ke bawah dan dipermainkan ombak, kepalanya sempat terbentur pada batu karang. Napasnya sudah empas-empis dan darah banyak keluar dari luka di dahi. Melihat keadaan dahi itu, kakek Pek Khun mengerutkan alisnya. Dia adalah seorang ahli silat yang juga pandai ilmu pengobatan, terutama mengobati luka-luka. Melihat luka di dahi yang demikian dalam, dia tidak melihat harapan untuk dapat bertahan hidup pada wanita itu.
Setelah ditotok sana-sini untuk menghentikan darah keluar, mengurangi rasa nyeri dan menyadarkannya, wanita itu membuka matanya. Ia menengok ke kanan kiri dengan lemah, lalu bertanya. "Mana... mana anakku.....?"
Anak itu sudah berhenti menangis dan kakek itu berkata, "Jangan khawatir, anakmu selamat." Dia menunjuk ke arah anak itu yang kini rebah dan diam saja.
Melihat anaknya, wanita itu menitikkan air mata yang bercampur dengan air laut yang menetes-netes dari rambutnya membasahi mukanya. " Anakku... ah, dia tidak berdosa... biarlah dia mati bersamaku...."
Kakek itu mengerutkan alisnya. Betapa menyedihkan melihat seorang manusia mengalami penderitaan batin sehingga putus asa dan memilih jalan membunuh diri seperti yang dilakukan oleh perempuan ini, pikirnya. Seorang perempuan yang masih amat muda, belum dua puluh tahun agaknya, dan memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang sehat. Dan dia tahu bahwa perempuan muda ini sekarang menghadapi maut yang agaknya sukar untuk dapat dielakkan lagi.
"Anak baik, kenapa kau melakukan ini? Kenapa engkau berusaha membunuh diri bersama anakmu yang masih bayi itu?"
Mendengar pertanyaan ini, wanita itu memandang wajah kakek Pek Khun, mengamat-amatinya penuh perhatian dan air matanya bercucuran semakin banyak. Kemudian ia pun mulai bercerita, tersendat-sendat suaranya, kadang-kadang hanya berbisik-bisik lemah, dan napasnya semakin empas-empis. Namun agaknya ia memiliki semangat terakhir untuk menceritakan keadaan dirinya, cerita yang mengandung penuh penasaran baginya.
Wanita muda itu puteri guru silat Coa-kauwsu, seorang guru silat yang tinggal di dusun dekat pantai. Kurang lebih setahun yang lalu, di dusun itu datang seorang pengacau, seorang jai-hoa-cat (penjahat pemetik bunga) yang mengganggu wanita-wanita muda di dusun itu, bahkan telah melakukan penculikan-penculikan dan pemerkosaan-pemerkosaan. Hal ini membuat keluarga Coa yang menjadi jagoan-jagoan di dusun itu merasa penasaran dan marah. Coa-kauwsu bersama puterinya, satu-satunya murid yang paling pandai dan boleh diandalkan, melakukan penyelidikan dan pengintaian di waktu malam secara berpencar. Akan tetapi, malang bagi Coa Si, anak guru silat itu, ia bertemu dengan penjahat itu, berkelahi dan ia kalah. Ia yang tadinya ingin menangkap penjahat, sebaliknya malah tertawan dan kemudian diperkosa! Anehnya, ia malah jatuh cinta kepada jai-hoa-cat yang selain tampan dan lihai, juga pandai merayu itu sehingga ia merahasiakan peristiwa itu dari orang tuanya. Ia malah kemudian menjadi pacar Sang Penjahat, berkali-kali mengadakan pertemuan dan setiap kali jai-hoa-cat itu lewat di dusun itu, tentu mereka mengadakan pertemuan secara sembunyi-sembunyi untuk memadu cinta. Dan Sang Jai-hoa-cat juga membebaskan dusun itu dari gangguannya setelah Coa Si menjadi kekasihnya.
Akan tetapi, ketika Coa Si mengandung, jai-hoa-cat itu pun tak pernah mau singgah lagi ke dusun itu! Orang tua Coa Si marah bukan main melihat keadaan puteri mereka yang mengandung dan kemarahan itu semakin memuncak ketika Coa-kauwsu mendengar pengakuan puteri mereka bahwa ayah dari anak yang dikandungnya adalah Sang Jai-hoa-cat! Hampir saja Coa-kauwsu membunuh puterinya. Akan tetapi isterinya, yang amat menyayang anak tunggal itu, berhasil meredakan kemarahannya sehingga Coa Si tidak dibunuh melainkan diusir dari rumah keluarga Coa!
Mulailah Coa Si hidup terlunta-lunta, hidup terasing di tepi laut. Akan tetapi, ia masih terus mengharapkan kedatangan kekasihnya. Ia tidak dapat mencari kekasihnya itu karena memang tidak tahu di mana tempat tinggal jai-hoa-cat yang merupakan seorang petualang dan perantau itu. Dan akhirnya, ia pun melahirkan seorang anak laki-laki, hanya dibantu oleh seorang bidan yang dikirim oleh ibunya yang diam-diam masih suka membantu anaknya.
Kakek Pek Khun mendengarkan cerita itu dengan sabar, cerita yang di tuturkan dengan suara lirih dan tersendat-sendat. "... begitulah... ketika anakku terlahir.....Ayahnya datang... tapi melihat aku melahirkan anak... dia malah marah-marah dan pergi lagi. Aku... putus asa... lebih baik anakku kubawa mati... ohhh....." Wanita itu terkulai.
Kakek Pek Khun cepat menekan pundak wanita muda itu. "Katakan siapa ayah anak ini, dan siapa pula nama anak ini...."
Wanita muda itu membuka mata, kini mulutnya membentuk senyum lemah. "Aku... titip anakku... belum kuberi nama ...ayahnya... ayahnya... Tang... Tang " Wanita itu meraba ke balik bajunya dan mencabut sebuah benda yang tadinya menempel di bajunya dengan bantuan peniti, menyerahkan benda itu kepada kakek Pek Khun, sambil berbisik. "...ini...ini dari Ayahnya " Dan ia pun terkulai dan napasnya terhenti. Kakek Pek Khun berusaha untuk menahan kematiannya, namun tidak berhasil.
Pada saat itu, terdengar suara anak kecil itu menangis, seolah-olah dia merasa bahwa saat itu ibu kandungnya telah meninggalkannya untuk selamanya. Kakek Pek Khun menarik napas panjang, merebahkan tubuh wanita yang tadi diangkat kepalanya dan dia pun segera memondong anak bayi itu dan diayun-ayunnya sampai anak itu terdiam kembali. lalu kakek Pek Khun cepat membuat lubang yang cukup dalam dan menguburkan jenazah ibu muda yang malang itu. Niatnya untuk memberitahukan kepada keluarga wanita itu ke dusun diurungkannya. Malah dia tergesa-gesa mengubur jenazah itu, kemudian membawa pergi bayi laki-laki itu dengan cepat, pulang ke kuil di mana Pek Kong dan isterinya menanti dengan hati penuh ketegangan.
Demikianlah, anak kandung Coa Si itu lalu diserahkan kepada Pek Kong dan isterinya sebagai pengganti anak kandung mereka yang akan dibawa pergi oleh kakek Pek Khun. Semua ini terjadi tanpa ada yang mengetahui kecuali mereka bertiga. "Ibu anak ini sudah meninggal dunia, namanya Coa Si, dan ayahnya She Tang. Ibunya hanya menyerahkan benda ini kepadaku. Nah, simpanlah benda ini dan rawat anak ini baik-baik."
Pek Kong dan isterinya menerima anak laki-laki yang sehat itu bersama sebuah benda yang ternyata merupakan sebuah perhiasan terbuat dari logam dan batu permata berwarna merah berbentuk seekor tawon. Seekor tawon merah!
"Kong-kong, ke manakah Kong-kong hendak membawa anakku....?" Isteri Pek Kong bertanya sambil mencucurkan air mata, memandang kepada anak kandungnya yang kini sudah dipondong oleh kakek suaminya.
"Aku akan membawanya bersembunyi di Pegunungan Kun-lun di mana aku bertapa. Jangan khawatir, kelak kalau sudah tidak ada bahaya atau ancaman dari para pendeta Lama, tentu akan kukembalikan anak kalian kepada kalian. Aku akan menjaganya baik-baik dan akan mendidiknya."
Kakek Pek Khun lalu pergi pada malam hari itu juga, membawa cucu buyutnya yang dipondongnya dan dibawanya berlari cepat. Sementara itu, Pek Kong sibuk merangkul dan menghibur isterinya yang menangis dengan sedih. Biarpun ia tahu bahwa anaknya berada di tangan yang akan melindunginya, dan biarpun ia sudah memperoleh penggantinya, seorang anak laki-laki yang bertubuh sehat dan montok, akan tetapi hati ibu muda ini tetap saja berduka karena harus berpisah dari anak kandungnya yang baru berusia dua bulan itu. Hanya dengan setengah hati ia suka menyusui anak yang dibawa oleh kakek Pek Khun. Melihat keadaan isterinya itu, Pek Kong lalu minta bantuan seorang wanita pengasuh dan seorang nikouw untuk menjaga anaknya, setiap isterinya rewel dan minta diajak berlayar untuk menghibur hatinya. Mereka sering naik perahu layar dan mencari ikan, suatu kesibukan yang kadang-kadang bisa mendatangkan kegembiraan di hati isteri Pek Kong dan membuat ia melupakan kedukaannya.
Ketika Lam-hai Siang-mo, yaitu Siangkoan Leng dan isterinya, Ma Kim Li, datang ke kuil itu dan menculik anak mereka, membunuh pengasuh dan nikouw dan meninggalkan mayat anak yang rusak mukanya, Pek Kong dan isterinya juga sedang mencari ikan di tengah lautan, gembira karena pada waktu itu musim udang sehingga jala mereka menghasilkan banyak udang besar.
Tentu saja mereka terkejut bukan main ketika kembali ke kuil dan melihat betapa dua orang pengasuh anak itu telah tewas dan anak mereka telah ditukar dengan seorang anak sebaya yang sudah tewas pula dengan muka rusak! Hal ini sungguh mengejutkan hati mereka dan baru mereka yakin benar bahwa memang anak mereka itu selalu diincar orang. Untuk memperkuat peristiwa itu, demi keselamatan anak mereka, suami isteri ini lalu menyebar-luaskan berita tentang pembunuhan anak mereka! Dan benar saja. Begitu terdengar berita bahwa anak mereka yang diluaran terkenal sebagai Sin-tong itu terbunuh, banyak orang aneh bermunculan dengan alasan melayat, akan tetapi yang sesungguhnya ingin membuktikan dan menyelidiki. Bahkan tiga orang pendeta Lama dari Tibet tiba-tiba muncul di ambang pintu dan mereka ini sengaja datang untuk memeriksa dan membuktikan sendiri mayat anak kecil itu! Selain tiga orang pendeta Lama, di antara para tamu yang datang melayat, terdapat pula suami isteri penghuni Guha Iblis Pantai Selatan. Sepasang iblis ini datang terlambat dan jenazah pengasuh nikouw dan anak kecil itu sudah dikubur. Akan tetapi, pada malam harinya, mereka membongkar tiga kuburan itu dan memeriksa keadaan mayat yang sudah hampir membusuk itu! Dari pemeriksaan inilah mereka menemukan jarum-jarum yang dipergunakan oleh Ma Kim Li untuk membunuh nikouw dan pengasuh dan mereka pun dapat menduga siapa yang telah melakukan pembunuhan itu. Mereka adalah orang-orang cerdik dan mereka tidak percaya bahwa anak kecil yang tubuhnya berpenyakitan dan mukanya rusak itulah yang dikabarkan sebagai Sin-tong, anak kandung suami isteri pendekar Pek! Suami isteri yang bertubuh sehat dan hidup bersih itu tidak mungkin mempunyai anak berpenyakitan seperti itu. Tentu Lam-hai Siang-mo mencuri anak ajaib itu dan menukarnya dengan anak kecil yang mereka bunuh pula. Dan memang sudah lama suami isteri penghuni Guha Iblis Pantai Selatan bermusuhan dengan Lam-hai Siang-mo, juga mereka ingin sekali menemukan Sin-tong untuk dibawa kembali ke Tibet dan diserahkan kepada para pendeta Lama agar mereka memperoleh hadiah benda-benda mujijat. Karena itu, mereka lalu mulai melakukan pencarian sambil memperdalam ilmu silat mereka karena mereka maklum bahwa musuh besar mereka itu, Lam-hai Siang-mo, merupakan lawan yang tangguh.
Ketika itu Pek Kong dan isterinya merasa bahwa anak kandung mereka sudah aman dan mereka boleh kembali lagi ke Nam-co. Bukankah setelah kini tersiar berita bahwa anak kandung mereka yang disebut Sin-tong dan diinginkan oleh para pendeta Lama itu tewas, mereka tidak akan mengalami gangguan lagi? Maka, mereka pun lalu melakukan perjalanan kembali ke barat, menuju ke Nam-co.
Akan tetapi, di tengah perjalanan mereka bertemu dengan orang tua mereka dan para anggauta Pek-sim-pang yang berbondong-bondong menuju ke timur meninggalkan Nam-co! Tentu saja pertemuan itu amat mengejutkan dan apakah yang telah terjadi di Nam-co? Kiranya urusan Sin-tong menimbulkan banyak peristiwa yang menyedihkan.
Ketika mendengar bahwa Pek Kong dan isterinya melarikan diri dari Nam-co, para pendeta Lama menjadi marah sekali. Mereka lalu pergi mengunjungi perkumpulan Pek-sim-pang di Nam-co. Yang datang adalah lima orang pendeta Lama yang menjadi utusan para pimpinan Dalai Lama di Lha-sa. Pek Ki Bu sudah menduga bahwa para pendeta Lama tentu tidak akan tinggal diam saja, maka dia pun sudah siap dan menyambut kedatangan lima orang pendeta Lama itu dengan sikap ramah dan hormat. Para pendeta itu dipersilakan duduk, akan tetapi mereka tidak mau duduk dan sambil berdiri dengan sikap kaku mereka memandang Pek Ki Bu dengan alis berkerut. Seorang di antara mereka yang menjadi pimpinan lalu bertanya dengan suara lantang. "Pek-pangcu, kami datang diutus oleh para pimpinan kami untuk menanyakan kesehatan putera pangcu dan terutama keadaan kandungan anak mantu pangcu."
Pek Ki Bu dapat menduga bahwa tentu para pendeta itu sudah mendengar bahwa anaknya bersama mantunya telah melarikan diri. Hal itu telah lewat lima hari, maka dia merasa aman dan dengan sikap ramah dia menjawab. "Terima kasih banyak atas perhatian para suhu di Lha-sa. Keadaan mereka baik-baik saja berkat doa restu para suhu yang mulia."
"Siancai... kalau begitu bagus sekali! Harap Pangcu suka mempersilakan mantu Pangcu untuk keluar karena kami ingin menyaksikan sendiri keadaan kandungannya."
Pek Ki Bu tidak bermain sandiwara lagi. "Harap Ngo-wi Suhu ketahui bahwa Pek Kong dan isterinya tidak berada di rumah. Mereka sedang melakukan perlawatan ke timur untuk pulang ke kampung halaman karena mantu saya ingin melahirkan di sana, dekat dengan keluarga orang tuanya."
"Omitohud......!" Pendeta Lama itu membelalakkan mata, hal yang dibuat-buat karena sesungguhnya dia pun sudah mendengar akan kepergian mereka itu. "Bagaimana Pangcu memperbolehkan mereka pergi tanpa Setahu dan seijin pimpinan kami?"
Inilah pertanyaan yang ditunggu-tunggu oleh ketua Pek-sim-pang. Dia mengerutkan alisnya. Memang harus diakuinya bahwa sejak dahulu, sejak ayahnya mendirikan Pek-sim-pang, keluarga Pek menjadi sahabat-sahabat baik dari para pimpinan pendeta Lama di Lha-sa. Akan tetapi sekali ini, dia menganggap bahwa pihak pendeta Lama terlalu mencampuri urusan dalam keluarganya.
"Ngo-wi Suhu harap suka mengingat bahwa Pek Kong adalah anakku dan isterinya adalah mantu kami. Kalau mereka pergi mengunjungi keluarga di kampung halaman, jauh di timur, mereka cukup memperoleh ijin dari kami sebagai orang tuanya. Kenapa harus setahu dan seijin pimpinan para suhu di Lha-sa?"
"Omitohud...! Apakah Pangcu tidak tahu apakah pura-pura tidak tahu? Mantumu adalah wanita yang dipilih oleh Sang Buddha untuk melahirkan calon Guru Suci, calon Dalai Lama! Tentu saja selama mengandung, ia harus berada di bawah pengawasan kami dan ia tidak boleh pergi begitu saja tanpa ijin kami. Bagaimana kalau sampai terjadi apa-apa dengan Sin-tong?"
Hati Pek Ki Bu merasa mendongkol sekali, akan tetapi dia menahannya karena dia pun tidak ingin bermusuhan dengan para pendeta Lama. "Harap Ngowi jangan khawatir, mereka akan selamat. Dan pula, belum tentu mantuku akan melahirkan Anak Ajaib yang kelak akan menjadi Dalai Lama."
"Sudah pasti! Ramalan kami tidak akan meleset. Yang dikandungnya adalah Sin-tong yang kelak akan menjadi pimpinan kami!"
"Ngo-wi harap jangan lupa bahwa bagaimanapun juga, yang dikandung itu adalah anak dari Pek Kong dan calon cucuku!" kata Pek Ki Bu dengan suara agak keras karena dia mulai marah.
"Omitohud, sungguh dangkal pertimbangan akal Pangcu. Keluarga Pek dalam hal ini hanyalah dipinjam saja! Anak yang akan terlahir itu adalah untuk kami, untuk dunia, bukan untuk keluarga Pangcu pribadi. Sudahlah, harap Pangcu beri tahu ke mana mereka pergi, agar kami dapat cepat menyusul dan mengajak mereka kembali ke sini atau langsung saja ke Lha-sa karena kandungannya sudah tua dan ia harus memperoleh perawatan dan pengamatan langsung dari kami."
Marahlah Pek Ki Bu. "Para suhu sungguh keterlaluan dan tidak memandang lagi persahabatan! Apa pun pendapat para suhu di Lha-sa tentang anak yang akan terlahir itu dia tetap calon cucuku dan keluarga kami, dan kami yang paling berhak untuk menentukan tentang dirinya!"
"Siancai, sesungguhnya Pek-pangcu yang tidak memandang persahabatan. Tentu Pangcu sudah memaklumi bahwa seluruh wilayah di Tibet tunduk kepada pimpinan kami di Lha-sa dan pimpinan kami yang merupakan kekuasaan mutlak yang harus ditaati oleh semua orang yang tinggal di Tibet. Keluarga Pek telah dipinjam dan dipilih untuk melahirkan seorang calon Dalai Lama, Pangcu sekeluarga tidak bersyukur atas karunia itu, malah hendak memberontak dan hendak mengubah nasib yang sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Sekali lagi, harap Pangcu cepat memberi tahu di mana kami bisa menemukan kembali anak dan mantu Pangcu."
Wajah Ketua Pek-sim-pang berubah merah dan para muridnya sudah siap siaga dan mereka semua memandang kepada lima orang pendeta Lama itu dengan sinar mata tajam. Mereka tahu bahwa ketua mereka sudah marah terhadap bekas kawan-kawan baik itu.
"Dan sekali lagi kami tegaskan bahwa kami tidak akan memberitahukan kepada siapapun juga!" jawab Pek Ki Bu.
"Siancai...! Berarti Pek-pangcu hendak menentang kami?" bentak seorang di antara para pendeta Lama itu.
"Terserah penilaian Ngo-wi Suhu, akan tetapi kalau kebebasan pribadi keluarga kami ditekan, kami tentu akan melawan mati-matian!"
"Bagus, agaknya Pek-sim-pang memang sudah siap untuk memberontak terhadap kami. Pek-pangcu, terpaksa kami harus menangkapmu dan menghadapkan Pangcu kepada pimpinan kami!"
Akan tetapi belum juga lima orang pendeta Lama itu bergerak melaksanakan ancamannya, anak buah Pek-sim-pang sudah bergerak mengurung dan menyerang mereka. Karena pertentangan itu hanya bersifat pertentangan pendapat dan didasari panasnya perasaan, bukan permusuhan, maka para murid Pek-sim-pang itu tidak ada yang berani menggunakan senjata. Mereka menyerang dengan kepalan tangan dan tendangan kaki.
"Omitohud... kalian mencari penyakit!" kata para pendeta Lama itu dan mereka pun bergerak berpencaran. Gerakan mereka kuat sekali dan jubah mereka yang berwarna kuning dan lebar itu berkibar ketika mereka bergerak menyambut serangan para murid Pek-sim-pang.
Akan tetapi, agaknya para anggauta rendahan itu sama sekali bukan tandingan yang setimpal dari para pendeta Lama itu. Begitu bentrok, lima orang murid Pek-sim-pang terbanting roboh! Hal ini mengejutkan para murid kepala Pek-sim-pang. Biarpun hanya anggauta rendahan, namun para murid itu rata-rata sudah memiliki ilmu silat yang cukup tangguh, tidak mudah dirobohkan demikian saja. Akan tetapi, serangan mereka terhadap lima orang pendeta itu ternyata Sekali gebrakan saja membuat mereka sendiri terbanting keras dan tidak mampu melanjutkan perkelahian! .
Karena maklum bahwa para pendeta Lama ini lihai sekali, serentak sepuluh orang murid kepala Pek-sim-pang menerjang maju. Mereka disambut dengan tenang oleh lima orang pendeta itu dan setelah berkelahi selama sepuluh jurus, kembali ada lima orang murid Pek-sim-pang yang roboh.
"Para pendeta yang suka mencampuri urusan keluarga orang!" bentak Pek Ki Bu marah dan dia pun menerjang maju. Terjangan Pek Ki Bu disambut oleh seorang pendeta Lama yang melompat ke depan dan menangkis serangan ketua Pek-sim-pang itu.
"Dukk...!" Dua tenaga raksasa melalui saluran kedua lengan itu bertumbuk di udara dan akibatnya, Pek Ki Bu tertahan langkahnya, akan tetapi pendeta Lama itu pun terdorong mundur dua langkah! Hal ini membuktikan bahwa tenaga Ketua Pek-sim-pang itu masih lebih besar daripada lawannya.
"Omitohud, Pangcu sungguh kuat sekali!" Pendeta Lama itu berseru dan dia pun menerjang maju lagi dengan dahsyatnya. Pek Ki Bu mengelak dan balas menyerang dari samping yang juga dapat ditangkis oleh lawannya. Akan tetapi, begitu Pek Ki Bu memainkan ilmu silat Pek-sim-kun (Ilmu Silat Hati Putih) yang merupakan ilmu keturunan dari keluarga Pek dan menjadi dasar dari ilmu-ilmu silat yang dilatih oleh para anggauta Pek-sim-pang, pendeta itu terdesak hebat, dan selalu main tangkis dan mundur. Ilmu ini dasarnya adalah dari ilmu silat Siauw-lim-pai. Akan tetapi telah disesuaikan dengan ilmu-ilmu silat lain yang digabung dan menjadi semacam ilmu silat khas dari keluarga Pek.
Melihat ini, dua orang pendeta Lama menerjang maju dan membantu kawannya. Kini Pek Ki Bu dikeroyok tiga orang pendeta yang amat lihai dan perkelahian itu menjadi berimbang, bahkan berbalik keadaannya karena Ketua Pek-sim-pang itu kini mulai terdesak. Sedangkan dua orang pendeta Lama yang lain, menghajar semua murid Pek-sim-pang yang berani melawan. Puluhan orang murid Pek-sim-pang sudah roboh terkena pukuran atau tendangan dan yang lain-lain mengeroyok dari kejauhan karena mulai merasa gentar menghadapi para pendeta Lama yang lihai itu.
Keadaan pihak Pek-sim-pang sungguh gawat. Ketuanya sendiri sudah terdesak terus dan sebentar lagi tentu akan roboh oleh tiga orang lawannya yang terlalu kuat baginya itu. Dan para anak muridnya juga sudah banyak yang roboh.
Tiba-tiba terdengar bentakan halus, "Omitohud...! Tak pantas sekali antara sahabat sendiri menggunakan kekerasan seperti ini!" Dan semua orang merasa betapa ada angin keras bertiup dan nampak bayangan merah kuning yang melayang turun dari atas seperti seekor burung garuda raksasa. Lima orang pendeta Lama itu merasa seperti terdorong oleh kekuatan yang luar biasa dahsyatnya membuat mereka terpaksa mundur dan juga pihak Pek-sim-pang terhuyung oleh kekuatan angin besar yang menarik mereka. Ketika semua orang memandang, ternyata di situ telah berdiri seorang kakek bertubuh tinggi besar seperti raksasa, berkepala gundul dan jubahnya yang lebar itu bergaris kotak-kotak merah kuning, tangan kirinya memegang seuntai tasbeh. Begitu melihat pendeta Lama yang tinggi besar dan berwajah lembut ini, lima orang pendeta Lama yang tadi berkelahi, terbelalak kaget dan cepat-cepat mereka itu menjura dengan sikap hormat.!
"Mohon Kakek Guru sudi memaafkan, teecu sekalian yang berkelahi bukan karena terdorong nafsu ingin menggunakan kekerasan, melainkan karena berselisih pendapat dengan pihak Pek-sim-pang. Teecu oleh para pimpinan Dalai Lama di Lha-sa diutus untuk mencari kembali ayah dan ibu calon Sin-tong yang telah melarikan diri dengan diam-diam." Demikianlah seorang di antara mereka melapor. Tentu saja mereka itu terkejut dan takut karena pendeta Lama raksasa ini masih terhitung kakek guru mereka. Para pimpinan di Lha-sa masih terhitung murid-murid keponakannya dan pendeta ini adalah See-thian Lama, seorang di antara Pat Sian (Delapan Dewa)!
Karena pendeta ini selama puluhan tahun tidak pernah keluar dan sama sekali tidak dikenal orang luar, maka Pek Ki Bu sendiri pun tidak mengenalnya. Akan tetapi, melihat betapa hwesio Lama yang amat sakti itu disebut guru oleh pendeta Lama yang amat lihai itu, dia tahu bahwa pendeta Lama ini tentu memiliki kedudukan tinggi dan juga memiliki kesaktian yang luar biasa. Maka dia pun cepat memberi hormat.
"Harap Lo-suhu sudi mengampuni kami. Sejak Ayah kami mendirikan Pek-sim-pang, kami selalu menjadi sahabat-sahabat baik dari para pendeta Lama di Lha-sa dan kami tidak pernah melakukan pelanggaran. Akan tetapi sekali ini, para pendeta Lama hendak menekan kami dalam urusan keluarga kami. Anak kami Pek Kong dan isterinya yang mengandung tua telah pergi untuk berkunjung kepada keluarga mereka di kampung halaman dan isterinya ingin melahirkan di antara keluarganya di timur. Akan tetapi, para Lo-suhu di Lha-sa menghendaki agar mereka itu kembali dan bahkan hendak memaksa mereka kembali. Bukankah hal itu berarti bahwa para pendeta Lama di Lha-sa hendak memperkosa hak kebebasan keluarga kami? Mohon pertimbangan Lo-suhu yang seadil-adilnya."
See-thian Lama tersenyum lebar dan mengangguk-angguk. "Pek-pangcu, pinceng kira tidak perlu pinceng jelaskan lagi bahwa setiap orang manusia yang hidup di dunia ramai tidak akan dapat terbebas daripada peraturan-peraturan yang diadakan oleh para penguasa setempat. Sudah menjadi peraturan dan kebiasaan di Tibet tentang pemilihan Sin-tong, anak ajaib yang telah ditunjuk untuk menjadi Dalai Lama kelak. Dan kebetulan sekali yang terpilih adalah calon cucu Pangcu. Karena keluarga Pek bertempat tinggal di daerah Tibet, tentu saja Pangcu juga tidak terbebas daripada peraturan itu. Nah, tentu saja para pimpinan Dalai Lama tidak dapat dianggap sewenang-wenang kalau mereka itu ingin melindungi mantu Pangcu yang akan melahirkan Sin-tong, karena itu adalah menjadi hak dan kewajiban mereka. Kalau Pangcu menentang, berarti Pangcu menentang peraturan dan kepercayaan dan kebiasaan yang sudah berjalan sejak ratusan tahun yang lalu." Pek Ki Bu dapat mengerti akan pendapat pendeta Lama yang tua ini dan dia pun tidak dapat membantah. Diam-diam dia mencari akal dan dia pun tahu bahwa ayahnya sudah mengatur rencana jangka panjang untuk menyelamatkan cucunya.
"Pendapat Lo-suhu memang tepat dan benar, dapat kami mengerti. Akan tetapi, anak dan mantu kami itu tidak bermaksud melarikan diri, melainkan hendak melahirkan anak di lingkungan keluarga di timur. Kami memang belum percaya benar bahwa mantuku akan melahirkan seorang Sin-tong yang memiliki tanda merah di punggungnya. Bagaimana kalau kelak ia melahirkan anak yang tidak mempunyai tanda itu?"
"Tidak mungkin...!" kata seorang di antara lima pendeta Lama itu penuh semangat.
"Biasanya, perhitungan dan ramalan para pimpinan Dalai Lama tidak akan keliru, Pangcu. Akan tetapi kalau benar anak itu terlahir tanpa tanda itu, berarti ada kekeliruan dalam perhitungan itu dan tentu saja anak itu bukan Sin-tong."
"Bagus, kalau begitu kami berjanji. Kalau anak itu keluar dengan tanda merah di punggungnya, kami akan mengantarkannya ke Lha-sa. Akan tetapi kalau tidak ada tandanya, kami minta agar cucuku itu dibebaskan."
"Biar kami yang menyaksikan apakah dia terlahir dengan tanda itu atau tidak. Kami harus mengetahui di mana mantumu itu agar kami dapat mengamatinya dan melindunginya." seorang pendeta Lama berkeras.
"Kalau begitu, biar kami semua dibunuh, kami tidak akan mau memberi tahu di mana adanya anak dan mantuku!" Pek Ki Bu berkeras. Kedua pihak sudah saling melotot lagi dan tentu akan terjadi perkelahian kelanjutan yang lebih mati-matian, akan tetapi See-thian Lama mengangkat tangan ke atas dan semua orang pun terdiam. Memang kepada Pendeta Lama raksasa inilah kedua pihak agaknya minta pertimbangan dan keputusan.
"Omitohud....kekerasan takkan pernah dapat menciptakan perdamaian. Kalau urusan Sin-tong dicemari oleh kekerasan, perkelahian apa lagi sampai bunuh-membunuh, maka kesucian yang diciptakan dengan lahirnya seorang Sin-tong akan ternoda. Ada peraturan di Lha-sa bahwa pimpinan Dalai Lama berhak untuk menentukan segala sesuatu yang berkenaan dengan penduduk di Tibet. Kalau seorang Sin-tong akan terlahir di dalam wilayah Tibet, maka para pimpinan Dalai Lama boleh mengambil tindakan apa saja untuk mengambil anak itu. Akan tetapi kalau kebetulan Sin-tong akan dilahirkan di luar wilayah Tibet, suatu hal yang sering pula terjadi, maka para Dalai Lama tidak berhak memaksa keluarga yang bersangkutan karena bukan warga negaranya, walaupun tentu saja mereka juga akan berusaha sedapatnya untuk menarik Sin-tong ke dalam biara. Nah, Pek-pangcu, kalau keluargamu dan seluruh Pek-sim-pang tidak menjadi penghuni di Tibet lagi, maka tentu saja para pimpinan Lama di Lha-sa tidak akan memaksamu. Dengan kepindahan kalian dari sini, berarti kalian tidak harus tunduk akan peraturan, dan semua pertikaian mengenai anak itu akan habis sampai di sini saja."
Andaikata yang mengeluarkan pendapat ini bukan See-thian Lama, orang yang amat dihormati oleh para pendeta Lama, tentu mungkin sekali menimbulkan kemarahan di pihak para pendeta karena nadanya seperti melindungi dan menasehati keluarga Pek dan anak buahnya. Sebaliknya, mungkin saja pihak Pek-sim-pang dapat merasa terhina atau seperti diusir. Akan tetapi, para pendeta Lama itu diam saja dan hanya memandang kepada Pek Ki Bu dan anak buahnya.
Pek Ki Bu bukanlah seorang yang berpikiran pendek atau keras kepala. Dia pun maklum bahwa dengan adanya urusan cucunya itu, kalau dia sekeluarga dan Pek-sim-pang tidak pergi dari Nam-co, tentu selalu akan dimusuhi oleh para pendeta Lama. Hal ini sama saja dengan dimusuhi oleh penguasa setempat dan tentu saja kehidupan mereka menjadi tidak aman lagi.
Demikianlah, tanpa banyak membantah lagi, Pek Ki Bu lalu membawa keluarga dan perkumpulannya untuk boyongan dan meninggalkan kota Nam-co, menuju ke timur. Memang ada beberapa orang murid yang tidak ikut karena mereka lebih suka tetap tinggal di Nam-co bersama keluarga mereka. Karena kini Pek-sim-pang sudah tidak berada lagi di Nam-co dan para murid itu tidak mempunyai hubungan secara langsung dengan pertikaian yang disebabkan oleh Sin-tong, maka murid-murid yang masih tinggal di Nam-co itu tidak merasa khawatir akan mengalami gangguan.
Dan di tengah perjalanan, di luar batas Propinsi Tibet, rombongan keluarga Pek ini bertemu dengan Pek Kong dan isterinya. Tentu saja pertemuan itu menggembirakan akan tetapi juga menyedihkan dan mengharukan. Masing-masing menceritakan pengalaman mereka. Ketika mendengar bahwa secara rahasia cucunya telah dibawa pergi oleh ayahnya sendiri, Pek Ki Bu merasa lega. Dia pun merasa ngeri mendengar akan peristiwa maut yang menewaskan pengasuh, nikouw dan seorang anak kecil yang ditukarkan.
"Kong-ji (Anak Kong)," kata Pek Ki Bu. "Kita tidak boleh melupakan anak laki-laki yang diculik penjahat itu. Bagaimanapun juga, anak itu telah menyelamatkan cucuku dan kasihanlah dia, masih begitu kecil sudah kehilangan ibunya, tidak pernah dipedulikan ayah kandungnya, dan kini berpindah tangan lagi diculik penjahat. Kelak engkau harus mencari anak itu dan menyelamatkannya."
Pek Kong mengangguk. "Kong-kong sudah meninggalkan sebuah benda perhiasan yang menurut Kong-kong adalah milik ayah kandung anak itu yang mempunyai nama keturunan Tang." Dia lalu menceritakan apa yang didengarnya dari kakek Pek Khun. Kemudian rombongan itu lalu melanjutkan perjalanan menuju ke daerah Kong-goan, sebuah kota besar di Propinsi Se-cuan darimana keluarga Pek berasal.
Anak laki-laki yang dilahirkan oleh isteri Pek Kong dan kemudian dibawa pergi oleh kakek buyutnya itu diberi nama Pek Han Siong, sebuah nama yang dipilih oleh Pek Kong dan isterinya untuk putera mereka. Dapat dibayangkan betapa sukarnya bagi seorang kakek tua seperti Pek Khun, membawa seorang bayi yang baru berusia beberapa hari, melakukan perjalanan yang jauh dan sukar! Akan tetapi, kakek Pek Khun adalah seorang kakek yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, juga dia adalah seorang ahli pengobatan sehingga dia dapat merawat anak itu di sepanjang perjalanan, tidak malu-malu atau segan-segan untuk minta tolong kepada ibu-ibu yang masih menyusui untuk membantu sedikit air susu untuk bayi Han Siong, di setiap dusun yang dilaluinya. Dengan demikian, akhirnya dia dapat membawa bayi itu ke Pegunungan Kun-Iun dengan selamat. Mula-mula dia tinggal di sebuah dusun di kaki Pegunungan Kun-Iun sambil membayar seorang ibu muda untuk menyusui Han Siong. Setengah tahun kemudian, dia membawa anak itu naik ke tempat pertapaannya yang tersembunyi dan merawat sendiri anak itu dengan susu binatang keledai.
Sejak bayi, anak itu digembleng oleh kakek Pek Khun, dan setelah anak itu berusia empat tahun, dia mulai membimbingnya untuk melatih langkah-langkah dasar ilmu silat, menggembleng tubuh itu dengan ramuan obat-obatan untuk menguatkannya, juga setelah anak itu berusia lima tahun, dia mengajarkan ilmu membaca dan menulis.
Akan tetapi, kakek itu mulai merasa kasihan kepada cucu buyutnya. Tidak baik kalau anak itu dibiarkan tumbuh dewasa di tempat terpencil itu. Han Siong kurang sekali bergaul dengan anak lain. Hanya sebulan sekali dia mengajak anak itu untuk turun dari puncak, mengunjungi dusun-dusun di lereng puncak dan bertemu dengan manusia-manusia lain. Dia khawatir kalau-kalau kekurangan pergaulan ini akan membuat anak itu kelak menjadi manusia canggung, pemalu dan mempunyai kelainan-kelainan jiwa. Pula, dia sendiri sudah menjadi semakin tua untuk dapat melindungi diri anak itu. Bagaimana kalau sewaktu-waktu muncul pendeta-pendeta Lama yang lihai dan merampas anak itu dari tangannya? Belum tentu dia akan mampu mempertahankan dan melindungi anak itu. Maka dia mulai mencari akal bagaimana untuk bertindak agar cucu buyutnya itu terbebas daripada ancaman bahaya dari Tibet.
Akhirnya Kakek Pek Khun mengambil keputusan untuk membawa saja cucu buyutnya itu ke kuil Siauw-lim-si dan menjadikan anak itu seorang calon hwesio! Dengan demikian, akan selamatlah Han Siong! Pada suatu hari, ketika Han Siong sudah berusia tujuh tahun, kakek Pek Khun membawa cucu buyut itu turun dari pegunungan Kun-Iun.
Bukan main girang rasa hati Han Siong ketika kakeknya menyatakan bahwa dia akan dibawa ke timur, untuk belajar ilmu di dalam kuil Siauw-lim-si. Sudah sering kakek buyutnya bercerita tentang kuil Siauw-lim-si di mana tinggal banyak hwesio yang suci dan juga sakti, memiliki ilmu yang luar biasa tingginya. Bukan hanya karena akan mempelajari ilmu silat saja yang menggirangkan hati Han Siong, terutama sekali karena dia akan meninggalkan puncak yang amat dingin dan amat sunyi itu. Dia butuh pergaulan dengan manusia lain! Dan dia dapat membayangkan bahwa hidup di dalam biara Siauw-Iim-si itu berarti hidup bersama banyak orang lain, yaitu para hwesio yang menjadi penghuni biara! Alangkah akan senangnya!
Kakek Pek Khun sendiri adalah seorang murid Siauw-lim-pai, oleh karena itu, kunjungannya ke kuil Siauw-lim-si yang terletak di luar kota Yu-nan di Propinsi Cing-hai, diterima baik oleh ketua kuil itu bersama para hwesio pimpinan lainnya, setelah Pek Khun memperkenalkan dirinya. Kuil itu cukup besar, dan terletak di sebuah tempat yang indah, ditepi Sungai Cin-sha yang mengalir ke selatan, di antara Pegunungan Heng-tuan-san. Biarpun terletak di tepi sungai besar dan di daerah pegunungan yang sunyi dan nyaman, namun kuil itu tidak terlalu terpencil. Kota Yu-shu tidak begitu jauh dari kuil itu, hanya beberapa li jauhnya, dalam perjalanan satu jam orang akan sampai ke kota itu. Dan kuil itu pun banyak dikunjungi para penduduk kota Yu-shu dan dusun di sekitarnya untuk bersembahyang.
Ketua kuil itu berjuluk Ceng Hok Hwesio dan setelah mereka bercakap-cakap, tahulah mereka bahwa antara Ceng Hok Hwesio dan kakek Pek Khun masih ada hubungan seperguruan, dan kakek Pek Khun memiliki satu tingkat lebih tinggi dari ketua kuil itu yang segera menyebut Susiok (Paman Guru) kepada Pek Khun.
"Sungguh menyenangkan kenyataan ini." kata Pek Khun. "Anak ini adalah cucu buyutku, berarti juga cucumu sendiri. Namanya Pek Han Siong. Karena sejak kecil dia turut aku, dan aku merasa sudah terlalu tua untuk mendidiknya, juga dia harus memperluas pergaulannya, maka aku mohon dengan sangat dapatlah dia diterima di kuil ini sebagai murid dan calon hwesio."
Mendengar permintaan yang dianggap agak aneh ini, Ceng Hok Hwesio mengerutkan alisnya. "Omitohud..., Susiok tentu maklum bahwa Siauw-lim-si selalu membuka tangan untuk menolong siapa saja, apalagi terhadap Pek-susiok yang masih seorang murid Siauw-lim-pai pula. Berarti kita adalah sekeluarga sendiri. Akan tetapi, Pek-susiok tentu maklum pula bahwa Siauw-lim-pai memiliki peraturan yang ketat dan keras. Tidak mungkin menerima murid begitu saja, harus diketahui mengapa anak ini dimasukkan ke biara kami untuk menjadi murid, dan bagaimana pula pendapat Ayah dan Ibu anak ini. Maaf, hal ini bukan berarti kami tidak percaya kepada Pek-susiok, melainkan karena aneh sekali kalau Susiok mengajak cucu buyut Susiok ke sini. Bukankah kalau Susiok sudah terlalu tua untuk mendidiknya, masih ada Kakeknya dan Ayahnya?"
Kakek Pek Khun mengangguk-angguk, maklum akan isi hati Ketua Siauw-lim-si itu. Dia menoleh kepada Han Siong. "Han Siong, engkau keluar dan bermain-mainlah di kebun itu, biarkan aku bicara dengan Suhu ini."
"Baik, aku memang ingin sekali bermain-main di kebun yang penuh bunga indah itu!" kata Han Siong yang menjadi girang sekali. Tadi dia merasa canggung dan tidak betah harus duduk bersama kakeknya di ruangan itu mendengarkan percakapan yang tidak begitu dimengerti olehnya dan dia sudah ingin sekali memasuki kebun indah yang nampak dari jendela ruangan itu.
Setelah Han Siong meninggalkan ruangan itu dan dari jendela nampak anak itu berjalan-jalan di antara rumpun bunga-bunga, kakek Pek Khun lalu menarik napas panjang dan berkata. "Sesungguhnya keluarga kami memang sengaja hendak menyembunyikan anak itu dari pengejaran para pendeta Dalai Lama di Tibet."
"'Omitohud......" Ceng Hok Hwesio membelalakkan matanya. "Ada urusan apakah maka para saudara Dalai Lama di Tibet mengejarnya?"
"Han Siong ini sejak dari dalam kandungan telah diramalkan menjadi calon Dalai Lama....."
"Sin-tong? Omitohud....!" Ceng Hok Hwesio menyembah dengan kedua tangan di depan dadanya.
"Ini rahasia di antara kita saja. Ceng Hok Hwesio." kata kakek Pek Khun. "Jangan dibocorkan rahasia ini. Bukan hanya para Dalai Lama yang mencarinya, akan tetapi juga tokoh-tokoh di dunia kang-ouw. Ada tokoh-tokoh kaum sesat yang mati-matian mencarinya, mungkin untuk dijadikan murid atau semacam jimat atau juga untuk diserahkan kepada para Dalai Lama dengan mengharapkan pahala. Kami sekeluarga menentang keras. Kami tidak percaya akan segala ketahyulan para Dalai Lama dan kami tidak ingin anak itu dijadikan patung hidup seperti kehidupan Dalai Lama. Karena itu sejak bayi sudah kubawa pergi dan kusembunyikan. Sekarang, aku harap kuil ini suka menerimanya sebagai murid dan calon hwesio. Biarlah dia menjadi hwesio yang baik untuk mengabdi kepada agama dan rakyat daripada harus menjadi Dalai Lama di Tibet."
"siancai, siancai, siancai.....! Pendapat Susiok memang tepat sekali. Dan pinceng merasa girang sekali untuk mendidik dan membimbing Pek Han Siong, semoga Sang Buddha akan memberi petunjuk kepada pinceng."
"Rahasia ini perlu disimpan rapat-rapat, karena kalau hal itu sampai tersiar ke luar kuil, tentu akan mendatangkan bahaya, baik bagi Han Siong sendiri maupun bagi Siauw-lim-pai. Ada tanda merah di punggung anak itu yang dijadikan pegangan bagi para Dalai Lama dan antek-anteknya. Tanda merah itu harus disembunyikan pula."
"Omitohud... kalau begitu, anak itu memang luar biasa sekali. Sejak lahir sudah diberi tanda, benar-benar seorang Sin-tong (anak ajaib)." kata Ceng Hok Hwesio.
"Aahhh, semua itu omong kosong dan tahyul belaka." cela kakek Pek Khun. "Setiap orang anak itu sama saja, merupakan kitab bersih dan kosong. Baik buruknya kitab itu kelak ditentukan oleh para pengisinya, yaitu para pendidiknya. Karena itulah maka hatiku merasa lega sekali kalau dia dapat diterima sebagai murid di sini."
"Pinceng merasa terhormat sekali untuk mendidiknya, Pek-susiok."
Pek Khun lalu memanggil Han Siong. Ketika dia menjenguk dari jendela, dilihatnya Han Siong sedang bercakap-cakap dengan empat orang anak lain, anak-anak yang gundul kepalanya, calon-calon hwesio yang menjadi murid dan juga pembantu-pembantu pekerja di kuil itu. Ketika dia memanggilnya, Han Siong cepat bangkit berdiri dan berlari memasuki ruangan. Kakek Pek Khun girang sekali karena kehidupan di kuil ini akan merobah cara hidup Han Siong yang tentu tidak akan kesepian lagi. Di situ terdapat pula banyak calon hwesio yang sejak kecil digembleng untuk menjadi manusia-manusia yang baik.
Setelah Han Siong datang menghadap, kakek Pek Khun berkata, "Han Siong, seperti sudah kuberitahukan kepadamu, mulai hari ini engkau akan menjadi murid di kuil ini. Ceng Hok Hwesio ini adalah ketua kuil ini dan menurut tingkat, dia masih kakek gurumu sendiri. Akan tetapi karena mulai hari ini engkau akan menjadi muridnya, maka engkau harus memberi hormat kepadanya sebagai gurumu."
Han Siong memandang kepada Ceng Hok Hwesio, kemudian memandang kepada kakek buyutnya. "Apakah Kakek hendak meninggalkan aku di sini?"
"Benar, aku sudah terlalu tua untuk mendidikmu dan engkau perlu mendapatkan pengalaman hidup yang lain, pergaulan yang tepat. Di sini terdapat bahyak anak-anak yang menjadi murid, maka engkau dapat bergaul dengan mereka."
"Baik, Kek." kata Han Siong dan dia pun cepat menjatuhkan diri berlutut di depan Ceng Hok Hwesio, memberi hormat delapan kali, sambil menyebut "Suhu!"
Dengan wajah berseri Ceng Hok Hwesio menyentuh pundak anak itu. "Bangkitlah, Han Siong dan mulai sekarang, engkau harus mentaati segala peraturan di kuil ini. Untuk sementara, engkau menjadi murid dalam ilmu silat, mempelajari agama akan tetapi belum menjadi calon hwesio karena untuk hal itu diperlukan bakat dan pinceng ingin melihat dulu apakah engkau berbakat untuk menjadi calon hwesio."
"Baik, Suhu. Teecu hanya mentaati perintah Suhu." kata Han Siong dan diam-diam hwesio itu kagum sekali. Anak ini baru berusia tujuh tahun, sejak kecil hidup di dalam pertapaan bersama kakek buyutnya, namun anak ini sudah pandai membawa diri.
"Han Siong, engkau harus ingat bahwa engkau keturunan keluarga Pek yang turun-temurun menjadi pimpinan dari perkumpulan Pek-sim-pang. Nama perkumpulan ini berarti Hati Putih dan hati putih adalah hati yang bersih, tidak ternoda oleh perbuatan-perbuatan yang sesat dan jahat. Karena itu, aku hanya mengharapkan agar kelak engkau akan dapat melanjutkan pimpinan Pek-sim-pang dengan baik, dan untuk itu, terimalah kitab ini. Kitab ini adalah tulisanku sendiri, merupakan inti dari ilmu silat Pek-sim-kun, sudah kusaring dan kupadatkan menjadi tiga belas jurus saja. Untuk dapat mempelajari ini, engkau harus sudah mencapai tingkat ilmu silat yang cukup tinggi, karena itu rajin-rajinlah belajar di Siauw-lim-si." Kakek itu menyerahkan sebuah kitab yang diterima dengan sikap hormat oleh Han Siong.
"Pesan Kakek akan kuperhatikan baik-baik dan akan kulaksanakan dengan patuh." jawabnya. Setelah meninggalkan pesan-pesan kepada cucu buyutnya, pada hari itu juga kakek Pek Khun meninggalkan kuil Siauw-lim-si itu untuk kembali ke Kun-lun-san di mana dia akan bertapa sampai akhir hayatnya.
Demikianlah, mulai hari itu, Han Siong tinggal di kuil Siauw-lim-si dan menjadi murid yang setiap hari membantu pekerjaan para hwesio tua muda di kuil itu. Setelah dia dapat menyesuaikan diri, barulah Ceng Hok Hwesio mulai memberi pelajaran ilmu silat, juga ilmu baca tulis dan membaca kitab-kitab agama. Ternyata anak itu cerdik sekali sehingga segala macam mata pelajaran yang diajarkan kepadanya, dengan cepat dapat diresapi dan dimengerti. Di Siauw-lim-si ini, dia menerima gemblengan dasar-dasar ilmu silat sehingga dia memiliki dasar yang kuat dan aseli dari Siauw-lim-pai. Berbeda dengan kakek Pek Khun yang biarpun tokoh Siauw-lim-pai namun tidak mempunyai cukup waktu untuk menggembleng seperti yang dilakukan di perguruan Siauw-lim-si, di kuil ini Han Siong benar-benar mengulang kembali dan belajar dari tingkat terendah. Untuk memperkuat dan menyempurnakan kuda-kuda kedua kakinya saja, setiap hari dia harus berlatih memikul air melalui jalan tanjakan yang licin dan berliku-liku, dan harus terus berlatih selama dua tahun! Setelah itu, dia harus melatih kaki tangannya untuk memperkuat otot-ototnya dengan menggantungi kaki tangan dengan gantungan besi yang cukup berat. Belajar pula menghimpun tenaga untuk dasar ilmu meringankan tubuh.
Setelah lima tahun digembleng, walaupun belum pernah diajar ilmu silat yang berarti, tubuh Han Siong yang berusia dua belas tahun itu menjadi kuat sekali, otot-ototnya kuat dan lentur, dia dapat bergerak dengan gesit seperti tubuh seekor kijang, kuat seperti seekor harimau. Bukan hanya otot-otot tubuhnya yang terlatih dan menjadi kuat, juga panca inderanya dilatih sehingga memiliki pandangan yang tajam, pendengaran dan penciuman yang peka pula. Pendeknya, selama lima tahun dia digembleng sehingga memiliki dasar-dasar bagi seorang calon ahli silat yang lihai.
Di antara tugas-tugas pekerjaannya, Han Siong setiap pagi dan sore menyapu lantai, baik pekarangan depan maupun pekarangan belakang. Setelah lima tahun tinggal di dalam kuil, kadang-kadang dia merasa kesepian dan rindu kepada kakek buyutnya. Sejak kecil dia biasa hidup di alam terbuka, dan di Pegunungan Kun-lun-san dia setiap hari menjelajah hutan-hutan dan alam bebas. Akan tetapi kini dia tidak boleh keluar dari dalam kuil dan dia mulai merasa terkurung dan tidak leluasa.
Di bagian belakang bangunan kuil itu terdapat dua buah bangunan kecil, di ujung kanan dan di ujung kiri, dekat kebun yang luas. Dari para hwesio kecil lainnya, dia mendengar bahwa dua bangunan kecil ini merupakan tempat-tempat hukuman. Yang sebelah kanan terdapat seorang hwesio yang menjalani hukuman kurungan, sedangkan yang sebelah kiri terdapat seorang nikouw (pendeta perempuan) yang menjalani hukuman yang sama.
Setelah lima tahun berada di situ, kini Han Siong juga telah menjadi seorang calon hwesio. Kepalanya sudah digundul dan dia mengenakan pakaian seperti hwesio. Dia sudah pandai membaca kitab-kitab agama, pandai berliam-keng (berdoa) dan selain berlatih ilmu silat, kesukaannya adalah membaca kitab-kitab suci sampai jauh malam.
Malam itu sunyi sekali. Semua hwesio sudah tidur. Bahkan hwesio yang membaca liam-keng dengan suara yang parau sudah berhenti dan suasananya menjadi semakin sunyi. Namun, seperti biasa, Han Siong yang suka menyendiri itu belum memasuki kamarnya. Dia masih duduk melamun di sudut pekarangan belakang, di tepi kebun sambil menikmati langit yang amat indah, penuh dengan bintang-bintang cemerlang. Semenjak kecil di Pegunungan Kun-lun-san, Han Siong suka sekali menerawang ke langit mengagumi kebesaran alam. Karena sudah menjadi kebiasaannya, maka dia banyak mengenal bintang-bintang di langit. Dari kakek buyutnya, dia banyak mendengar keterangan tentang perbintangan sehingga niatnya untuk mempelajari menjadi semakin besar. Setelah kini dia menjadi calon hwesio di kuil Siauw-lim-si dan memperdalam ilmu membaca kitab agama, dia menemukan kitab tentang perbintangan di perpustakaan. Dibacanya kitab itu dan kini dia dapat menikmati bintang-bintang di langit lebih tertarik karena dia sudah mulai mengenal peredaran dan pergerakan bintang-bintang itu.
Tiba-tiba Han Siong terkejut dan cepat dia menyelinap di belakang batang pohon di sebelah kirinya untuk bersembunyi. Dia melihat berkelebatnya orang yang meloncat turun dari luar pagar tembok kebun! Lalu ada bayangan ke dua yang juga berkelebat cepat sekali. Dua bayangan itu bagaikan terbang saja lalu berlari menuju kedua pondok belakang di sudut kanan kiri kebun dan lenyap di situ.
Han Siong merasa jantungnya berdebar. Demikian cepatnya gerakan dua orang itu sehingga dia tidak mampu melihat muka mereka dengan jelas. Selagi dia menduga-duga, tiba-tiba berkelebat bayangan ke tiga dari luar. Bayangan ini berbeda dengan dua bayangan terdahulu karena bayangan ini begitu meloncat turun, lalu celingukan seperti orang menyelidik. Ketika orang itu agak berdongak, mukanya tertimpa sinar bintang dan terkejutlah Han Siong ketika dia mengenal muka itu sebagai muka seorang hwesio tua yang bekerja sebagai tukang sapu di dalam kuil, seorang hwesio tua yang tuli dan gagu. Dia ditemukan kelaparan dan hampir mati di pekarangan depan kuil, maka oleh Ceng Hok Hwesio lalu ditolong, dirawat dan diberi pekerjaan sebagai tukang sapu di situ.
Setelah celingukan dan sepasang matanya seperti mencorong ditujukan ke arah kedua pondok di mana dua bayangan pertama tadi menghilang, hwesio tua ini pun meloncat dan menghilang di bagian belakang bangunan di mana terdapat kamar hwesio tua tuli gagu itu.
Han Siong mengerutkan alisnya, berpikir dengan hati tegang. Biarpun tidak jelas, dia dapat menduga bahwa dua bayangan pertama tadi tentulah dua orang terhukum itu. Hal ini saja sudah amat aneh. Akan tetapi lebih aneh lagi adalah hwesio tua tuli dan gagu itu. Jelaslah bahwa melihat gerakannya, hwesio tua ini lihai bukan main. Sudah lama dia mempunyai perasaan curiga terhadap hwesio gagu ini. Seringkali dia melihat betapa kalau dia sedang tidak diperhatikan orang, hwesio tua itu mempunyai sinar mata yang mencorong dan berkilat, penuh kekerasan. Akan tetapi di depan para hwesio, sinar matanya dapat berubah menjadi demikian lembut dan mendatangkan rasa iba. Selain ini, yang membuat Han Siong semakin curiga adalah ketika beberapa kali, dalam perjalanannya keliling kalau sedang bergadang, dia lewat di depan kamar hwesio tua ini dan mendengar suara hwesio tua ini mengigau! Hal ini tentu saja amat mengejutkan hatinya karena mana mungkin seorang gagu dapat mengigau dan bicara, walaupun dalam tidur! Dia semakin curiga akan tetapi masih menyembunyikan hal itu sebagai rahasianya sendiri. Dan malam ini, secara kebetulan dia memergoki hwesio tua itu yang agaknya tadi membayangi dua orang hukuman yang berkeliaran keluar dari kuil, dan mendapat kenyataan bahwa hwesio tua gagu ini adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Pada keesokan harinya, Han Siong masih menyembunyikan rahasia yang dilihatnya itu. Jantungnya kadang-kadang berdebar tegang dan bagi pemuda remaja seperti dia, mengetahui sebuah rahasia untuk dirinya sendiri seolah-olah menggenggam sebutir mutiara yang belum diketahui orang lain. Menimbulkan ketegangan yang menggembirakan sekali!
Selagi Han Siong pada pagi hari itu menyapu lantai pekarangan dengan sinar mata berseri karena kegembiraan menyimpan rahasia semalam, tiba-tiba terdengar suara Ceng Hok Hwesio memanggilnya dari ruangan depan.
"Han Siong... ke sinilah sebentar!"
Han Siong menyandarkan sapunya pada dinding lalu memasuki ruangan depan itu. Dia melihat suhunya duduk bersila di atas lantai bertilamkan kasur kecil dan hwesio tua itu memandang kepadanya dengan sinar mata tajam penuh selidik. Hal ini mengherankan hati Han Siong karena belum pernah gurunya bersikap seperti itu. Dia lalu menjatuhkan diri berlutut dan menghadap gurunya.
"Suhu memanggil teecu hendak memerintah apakah?" tanyanya dengan sikap sopan.
Ceng Hok Hwesio tidak segera menjawab, melainkan mengamati anak itu dengan penuh perhatian. "Han Siong, tahukah engkau siapa yang berada di dalam dua buah kamar di sudut belakang dekat kebun itu?" tiba-tiba dia bertanya dan pandang matanya amat tajam menatap wajah anak itu.
Han Siong sampai terkejut melihat sinar mata gurunya itu dan dia menjadi semakin heran. "Suhu maksudkan, dua kamar yang bernama Kamar Renungan dosa itu?"
"Benar! Bukankah setiap hari engkau menyapu lantai depan dua kamar itu? Tahukah engkau siapa yang berada disana?"
Dengan pandang mata yang polos Han Siong menjawab sejujurnya. "Teecu pernah mendengar penuturan beberapa orang suheng bahwa di kamar sebelah barat terdapat seorang hwesio tua yang bertapa dan menjalani hukuman, sedangkan di kamar sebelah timur terdapat seorang nikouw tua. Hanya itulah yang pernah teecu dengar dari pembicaraan para Suheng."
"Hemm, apa yang engkau dengar itu memang benar. "Pernahkah engkau bertemu atau melihat mereka atau seorang di antara mereka berdua itu?" Kembali sepasang mata Ceng Hok Hwesio menatap tajam penuh selidik.
Han Siong sejenak tertegun. Semalam dia melihat dua bayangan orang yang lenyap di dalam kedua kamar itu, akan tetapi dia tidak melihat wajah kedua orang itu dan dia pun tidak berani merasa yakin bahwa dua bayangan orang itu adalah Si Hwesio dan Si Nikouw yang dibicarakan. Maka ia lalu menggeleng kepala. "Teecu belum pernah bertemu dengan mereka, Suhu."
"Dan tidak pernah bicara atau mendengar suara mereka? Ingat, engkau tidak boleh membohong."
"Suhu, bagaimana teecu berani membohong kepada Suhu atau kepada siapapun juga? Teecu tahu bahwa membohong adalah sebuah dosa. Tidak, Suhu, teecu tidak membohong kepada Suhu."
"Baiklah, pinceng percaya kepadamu. Akan tetapi sekarang engkau pergilah kepada kedua orang itu, ketuk pintu kamar mereka dan sampaikan bahwa pinceng memanggil mereka agar sekarang juga menghadap ke sini."
Han Siong terkejut dan juga hatinya merasa tegang. Tentu saja dia merasa gembira bahwa dia yang diserahi tugas ini karena memang sudah lama ingin sekali melihat kedua orang hukuman itu. Diam-diam dia merasa kasihan sekali karena menurut percakapan para hwesio kecil di kuil itu, kedua orang hukuman itu kabarnya sudah menjalani hukuman selama sepuluh tahun lebih dan masih harus meringkuk di situ selama sepuluh tahun lagi karena mereka masing-masing dihukum dua puluh tahun! Tak seorang pun hwesio kecil di situ tahu apa yang menjadi kesalahan kedua orang itu maka dihukum selama dua puluh tahun.
"Ba... baik, Suhu....." katanya agak gagap saking tegang hatinya dan cepat dia lalu bangkit dan berlari menuju kebelakang.
Pertama-tama Han Siong menuju ke rumah pondok satu kamar yang menjadi kamar hukuman dengan nama Kamar Renungan Dosa itu, yang sebelah barat. Jantungnya berdebar penuh ketegangan, karena bukanlah selama bertahun-tahun dia menganggap kamar ini penuh rahasia, merupakan tempat larangan untuk dikunjungi? Dia hanya boleh menyapu lantai pekarangannya saja, sama sekali tidak boleh mendekati pintu, apalagi menyentuhnya. Dan kini dia harus mengetuk pintu itu, dan bicara dengan penghuninya yang selama ini menjadi tokoh penuh rahasia.
"Tok-tok-tok!" Tiga kali Han Siong mengetuk daun pintu yang ternyata terbuat dari papan yang tebal itu. Dia menanti sambil memasang telinga mendengarkan suara yang keluar dari dalam. Namun tidak ada jawaban.
"Heiii, Sute, apa yang kaulakukan itu?" Tiba-tiba terdengar bentakan seorang hwesio muda karena dia terkejut bukan main melihat betapa hwesio kecil itu berani mengetuk daun pintu kamar larangan itu!
"Sssttt, Suheng, aku diperintah Suhu untuk mengetuk pintu ini dan memanggil penghuninya agar menghadap Suhu!"
Mendengar jawaban ini, hwesio itu nampak terkejut, lalu mengangguk-angguk dan pergi dari situ karena dia tidak berani mencampuri sutenya yang sedang melaksanakan tugas penting itu.
"Tok-tok-tok.. ..!"
"Siapa di luar yang mengetuk pintu?" tiba-tiba terdengar pertanyaan dari dalam, suaranya lembut namun nyaring dan mengejutkan Han Siong walaupun tadinya dia mengharapkan memperoleh jawaban.
"Aku... eh, teecu.....diutus oleh Suhu Ceng Hok Hwesio untuk mengundang....Lo-suhu agar suka datang menghadap Lo-suhu...."
Hening sejenak, lalu suara itu bertanya lagi. "Siapa namamu?" ,
"Teecu... Han Siong....." Jawabnya tanpa berani menyebutkan she (nama keluarga) yang oleh kakek buyutnya telah dipesan agar dia tidak memperkenalkan she-nya kepada siapapun juga.
"Engkau anak yang suka menyapu di pekarangan luar pondok ini?" kembali suara itu terdengar.
Tentu saja Han Siong merasa heran. Orang ini tidak pernah keluar, bagaimana bisa tahu bahwa dia suka menyapu pekarangan di luar rumah itu?
"Benar, Lo-suhu!"
Daun pintu berderit dan Han Siong melangkah mundur. Ketika daun pintu terbuka, muncullah seorang laki-laki dan Han Siong memandang dengan mata terbelalak, tertegun karena kagum dan heran. Sama sekali tidak seperti yang diduganya. Tadinya dia membayangkan bahwa hwesio tua yang dihukum itu tentulah seorang hwesio yang sudah tua, pucat dan kurus kering, karena hwesio itu tidak pernah tersentuh sinar matahari, makan pun hanya dari makanan yang diantar khusus oleh hwesio tua di dapur. Akan tetapi ternyata yang muncul ini adalah seorang laki-laki yang rambutnya panjang awut-awutan biarpun jubahnya masih jubah hwesio. Agaknya karena lama tidak bercukur, maka rambut telah tumbuh dengan subur di kepalanya yang tadinya gundul. Mukanya sebagian tertutup kumis dan jenggot, akan tetapi dapat dilihat bahwa muka itu amat tampan, gagah dan tidak terlalu tua. Sekitar tiga puluh tahun lebih! Sinar matanya mencorong akan tetapi penuh kelembutan dan kegagahan dan biarpun pakaiannya pakaian hwesio yang lusuh, namun tidak menyembunyikan tubuhnya yang tegap. Anehnya, lengan kiri pria itu buntung sebatas siku sehingga lengan bajunya tergantung lemas dan kosong. Makin iba rasa hati Han Siong melihat bahwa orang yang terhukum ini adalah seorang penderita cacat.
Sejenak keduanya saling pandang dan pria itu tersenyum melihat keheranan membayang di mata anak itu. "Kau...kau... masih muda dan bukan hwesio...."
"Anak baik, ketika memasuki kamar ini, aku adalah seorang hwesio." Dia meraba kepalanya yang penuh dengan rambut yang subur, lalu tersenyum. "Sekarang bukan lagi."
Ingin sekali Han Siong bertanya mengapa pria itu dihukum, akan tetapi tentu saja dia tidak berani karena hal itu dianggapnya tidak sopan. Akan tetapi hatinya telah demikian tertarik kepada pria ini, kagum dan juga kasihan. Teringatlah dia akan hwesio tua gagu yang menjadi tukang sapu itu, yang semalam dia lihat seperti membayangi dua bayangan orang terdahulu. Jangan-jangan hwesio tua gagu itu mempunyai niat buruk, pikirnya. Tentu berniat buruk karena dia sendiri tidak percaya bahwa hwesio itu benar-benar gagu. Dan orang yang pura-pura gagu, tentu mengandung niat tidak baik.
"Lo-suhu... eh, Paman... aku mempunyai berita yang menarik sekali untuk Paman...." Han Siong celingukan ke kanan kiri dan melihat bahwa di situ tidak ada orang lain, dia lalu melanjutkan sambil berbisik, "semalam, dengan tidak sengaja aku melihat dua bayangan orang berloncatan masuk dari luar pagar tembok, akan tetapi tidak lama kemudian muncul pula seorang lain yang agaknya membayangi dua orang terdahulu...."
Pria itu mengerutkan alisnya yang tebal. "Hemm... siapakah orang terakhir itu?"
Kembali Han Siong celingukan. "Dia adalah hwesio tua gagu tukang sapu di sini, akan tetapi aku curiga kepadanya, Paman. Dia itu mengaku gagu, baru setahun ditolong karena kedapatan kelaparan, di jadikan tukang sapu di sini, akan tetapi sudah beberapa kali aku mendengar dia mengigau dan bicara dalam tidurnya."
"Ehhh... ?" Pria itu semakin tertarik. "Anak baik, coba ceritakan bagaimana bentuk wajah dan tubuh orang yang mengaku gagu itu."
"Usianya sekitar lima puluh tahun, mukanya panjang meruncing ke depan seperti muka kuda, mulutnya lebar dengan gigi atas menjorok ke depan dan menonjol keluar, dua matanya sipit dan kedua telinganya lebar. Tubuhnya tinggi kurus dan kedua kakinya timpang."
Pria itu kembali mengerutkan alisnya dan mengangguk-angguk. "Anak baik, keteranganmu ini amat penting sekali. Apakah engkau juga diutus untuk memanggil....penghuni di kamar timur?"
Han Siong mengangguk.
"Kalau begitu, pergilah kau ke sana, Han Siong. Selain menyampaikan panggilan ketua, juga kauceritakan apa yang kaulihat semalam kepadanya. Hal ini penting sekali untuk diketahuinya."
Girang rasa hati Han Siong. Pria yang menimbulkan perasaan kagum di hatinya ini percaya kepadanya!
"Baik, Paman!" Dan dia pun berlari menuju ke pondok terpencil di ujung timur itu. Ketika dia mengetuk beberapa kali, dia pun mendengar suara wanita dari dalam.
"Siapa yang mengetuk pintu?" Suara itu demikian halus dan merdu, juga seperti suara pria tadi, mengandung penuh kesabaran sehingga menyenangkan hati Han Siong.
"Saya Han Siong, diutus oleh Suhu Ceng Hok Hwesio untuk mengundang Locianpwe menghadap Suhu sekarang juga."
Hening sejenak, lalu suara halus itu bertanya, "Engkau anak yang biasa menyapu pekarangan depan pondok ini?"
Kembali Han Siong terkejut dan sebelum dia menjawab, daun pintu terbuka dan untuk kedua kalinya dia tertegun. Wanita yang nampak setelah daun pintu dibuka itu sama sekali jauh daripada perkiraan yang dibayangkannya. Bukan seorang nikouw tua, melainkan seorang wanita yang amat cantik dan perkasa! Seperti juga pria tadi, wanita ini usianya sekitar tiga puluhan dan pakaiannya juga seperti pakaian seorang pendeta. Dari keadaan ini Han Siong dapat menduga bahwa agaknya wanita ini pun dahulunya seorang nikouw yang gundul kepalanya, akan tetapi rambutnya tumbuh dengan subur selama bertahun-tahun dalam tahanan. Dia merasa kagum bukan main, akan tetapi juga kasihan. Dua orang itu ternyata masih muda, dan mereka tentu lebih muda lagi ketika pertama kali masuk ke kamar hukuman itu. Mengapa? Apa kesalahan mereka?
Seperti yang dipesankan oleh pria di kamar sebelah barat tadi, Han Siong lalu menceritakan tentang apa yang dilihatnya semalam. Wanita itu nampak lebih terkejut lagi.
"Hemmm... jahanam itu berani memata-matai kami!" Demikian ia menggumam akan tetapi agaknya ia dapat menguasai kemarahannya dan berkata, "Han Siong, sampaikan kepada ketua kuil bahwa sebentar lagi aku datang menghadap."
"Baik... Bibi!" kata Han Siong. Wanita itu tersenyum, manis sekali, mendengar betapa anak itu sudah cepat merobah sebutan setelah melihatnya. Tadi menyebut Locianpwe, sebutan menghormat dari kaum muda kepada kaum tua yang dianggap gagah perkasa dan memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi kini menyebut Bibi saja. Dan agaknya ia lebih senang dengan sebutan ini.
Han Siong lalu berlari ke ruangan depan di mana Ceng Hok Hwesio masih duduk bersila. Dia menjatuhkan diri berlutut di depan kakek hwesio itu. "Suhu, teecu sudah menyampaikan undangan Suhu kepada kedua orang Paman dan Bibi yang berada di dalam Kamar Renungan Dosa itu."
"Bagus, dan kau boleh pergi melanjutkan pekerjaanmu." kata ketua kuil itu sambil memandang keluar. Han Siong bangkit berdiri dan keluar dari ruangan itu. Dia melihat apa yang dipandang oleh gurunya, yaitu pria dan wanita yang ditemuinya tadi. Mereka berjalan perlahan, berdampingan, dengan tenang.
Han Siong mengambil sapunya lagi dan menyapu lantai, melanjutkan pekerjaannya. Ketika pria dan wanita itu lewat di depannya, mereka berhenti melangkah dan tersenyum kepadanya. Han Siong membalas senyum mereka dan melanjutkan pekerjaannya ketika mereka meninggalkannya untuk memasuki ruangan depan di mana Ceng Hok Hwesio sudah menanti.
***
Han Siong.....!"
Suara ini demikian dekat terdengar olehnya, seperti diserukan orang di dekat telinganya saja, mengejutkan Han Siong yang sore hari itu duduk mengaso di bawah pohon di kebun setelah selesai bekerja. Dia menoleh ke kanan kiri akan tetapi tidak melihat seorang pun manusia.
"Han Siong ke sinilah engkau!" kembali terdengar suara itu dan Han Siong segera mengenal suara lembut itu. Suara pria yang berada dalam kamar tahanan di pondok sebelah barat! Maka bergegas dia lalu bangkit dan melangkah cepat menuju ke Kamar Renungan Dosa sebelah barat. Dia menghampiri pintu dan tiba-tiba terdengar suara yang jelas sekali, keluar dari kamar itu.
"Han Siong, kaupergilah menghadap Gurumu dan katakan kepadanya bahwa hwesio gagu tukang sapu itu adalah seorang tokoh sesat bernama Lam-hai Giam-lo, murid mendiang Lam-kwi-ong seorang di antara Empat Setan. Kedatangannya ke sini, menyamar sebagai seorang hwesio gagu, tentu mengandung maksud yang tidak baik!"
Han Siong merasa terkejut sekali. Sudah diduganya bahwa kakek gagu itu tentu seorang yang memiliki niat jahat. Akan tetapi tak disangkanya bahwa kakek itu adalah seorang yang memiliki julukan demikian mengerikan. Lam-hai Giam-lo (Malaikat Pencabut Nyawa Laut Selatan)!
"Baik..., baik, Paman....!" katanya dan dia pun berlari-lari mencari suhunya.
Pada saat itu, Ceng Hok Hwesio sedang duduk di dalam ruangan samadhi, akan tetapi dia tidak sedang bersamadhi karena sudah selesai membaca kitab suci. Melihat munculnya Han Siong di ambang pintu, dia lalu menggapai. Han Siong memasuki ruangan dan menjatuhkan diri berlutut.
"Harap Suhu sudi memaafkan kalau teecu datang mengganggu."
Ketua kuil itu tersenyum. Dia seorang yang berwatak keras dan memegang teguh disiplin dan peraturan kuil, akan tetapi setiap kali habis berliam-keng dan bersamadhi, kekerasan itu seperti luntur dan dia lebih ramah.
"Tidak mengapa Han Siong. Pinceng sudah selesai bersamadhi. Ada keperluan apakah engkau agaknya mencari pinceng?"
"Benar, Suhu. Tadi... paman yang berada di Kamar Renungan Dosa di sebelah barat memanggil teecu dan minta agar teecu menyampaikan pesanan penting kepada Suhu."
Hwesio tua itu mengerutkan alisnya dan mulailah nampak kekerasan hatinya. Agaknya dia tidak suka mendengar ini. "Han Siong, engkau tentu sudah tahu apa artinya Kamar Renungan Dosa itu. Orang yang dihukum di dalam kamar itu harus merenungkan dosa-dosa yang telah diperbuatnya."
Ingin Han Siong bertanya dosa apa gerangan yang telah dilakukan oleh pria dan wanita itu. Akan tetapi dia tahu akan kegalakan suhunya, maka dia menahan keinginannya dan mengangguk.
"Teecu mengerti, Suhu."
"Nah, karena itu, jangan engkau terlalu berdekatan dengan mereka yang sedang menjalani hukuman di dalam Kamar Renungan Dosa karena dosa itu menular seperti sebuah penyakit, muridku."
"Baik, Suhu."
"Nah, sekarang pesan penting apakah yang harus kausampaikan kepada pinceng?"
"Begini, Suhu....." Han Siong memandang ke kanan kiri, takut kalau-kalau kakek tukang sapu itu berada di dekat situ. Mendengar bahwa kakek itu seorang penjahat besar, seorang tokoh sesat, dia sudah merasa ngeri. "Paman di sana itu mengatakan bahwa hwesio tua tukang sapu yang gagu itu sebenarnya adalah seorang tokoh sesat yang amat jahat berjuluk Lam-hai Giam-lo, murid dari mendiang Lam-kwi-ong seorang di antara Empat Setan "
"Plakk!" Ketua kuil Slauw-lim-si itu menepuk pahanya sendiri dengan tidak sabar. "Jangan bicara sembarangan!"
"Teecu hanya menyampaikan pesan paman itu...."
"Dia bohong! Mana pinceng bisa percaya omongan seorang yang berdosa? Sudah setengah tahun dia di sini dan dia benar-benar seorang tua yang patut dikasihani, mengapa difitnah demikian kejam?"
"Akan tetapi, Suhu, teecu percaya akan keterangan Paman di Kamar Perenungan Dosa itu."
Ceng Hok Hwesio membelalakkan kedua matanya yang lebar, menatap Han Siong dan alisnya berkerut. "Han Siong, bagaimana engkau bisa mempercaya keterangan seorang yang berdosa? Engkau ikut berdosa kalau menjatuhkan fitnah kepada orang lain!"
"Teecu tidak mengucapkan fitnah, Suhu, akan tetapi memang keadaan kakek itu amat mencurigakan. Beberapa kali di waktu malam, teecu lewat di depan kamarnya dan mendengar dia ngelindur dan mengigau. Suhu, seorang gagu mana dapat bicara walaupun hanya dalam ngelindur?"
Ceng Hok Hwesio nampak terkejut. "Benarkah apa yang kaukatakan itu?"
"Demi nama Sang Buddha, teecu tidak berbohong, Suhu."
"Omitohud, jangan membawa-bawa nama Sang Buddha dalam hal ini. Akan tetapi pinceng masih belum yakin benar." Dia lalu bertepuk tangan beberapa kali dan muncullah lima orang hwesio yang menjadi murid-murid kepala di dalam kuil itu. Mereka datang dan memandang kepada guru mereka dan Han Siong dengan heran.
"Panggil hwesio tua yang tuli gagu ke sini!" perintah Ceng Hok Hwesio. "Dan kalian berlima berdiam di sini pula menjadi saksi."
Lima orang murid itu duduk bersila dan seorang di antara mereka memanggil tukang sapu tua yang gagu tuli itu. Tak lama kemudian, seorang kakek hwesio yang wajahnya menyeramkan, mirip seekor kuda, dengan mata sipit dan telinga lebar, masuk bersama hwesio murid kepala itu dengan terpincang-pincang. Memang jelas hwesio tua ini tidak kelihatan sebagai seorang jahat, apalagi yang berkepandaian tinggi. Dia lebih pantas menjadi seorang hwesio cacat yang lemah dan patut dikasihani.
Hwesio tua itu lalu memberi hormat dan duduk bersila pula, memandang kepada ketua kuil dengan sikap bodoh. Lima orang murid kepala pun memandang guru mereka, karena mereka belum tahu apa maksud guru mereka memanggil mereka dan memanggil pula hwesio gagu itu.
"Pinceng mendengar bahwa Aekau Hwesio (Gagu) ini dapat bicara, oleh karena itu pinceng ingin menguji apakah berita itu benar ataukah tidak." Kata Ceng Hok Hwesio dan mendengar ucapan ini, lima orang murid itu terkejut dan memandang kepada Si Gagu yang kelihatan tenang-tenang saja karena agaknya dia tidak mendengar dan tidak mengerti apa yang dibicarakan. Akan tetapi di dalam hatinya, Han Siong merasa menyesal. Dia menganggap bahwa keterus-terangan suhunya itu merupakan kebodohan. Kalau betul persangkaannya bahwa Si Gagu ini tidak gagu dan betul pula keterangan orang hukuman itu bahwa kakek yang pura-pura gagu ini seorang tokoh sesat yang lihai, bukankah ucapan suhunya itu sama saja dengan membuka rahasia sehingga kakek itu dapat menjadi berhati-hati dan dapat menjaga diri sebelumnya?
Ceng Hok Hwesio lalu menggapai dan memberi isyarat agar Si Gagu mendekat. Si Gagu menggeser duduknya, menghadap semakin dekat dengan pandang mata bodoh. Lalu Ceng Hok Hwesio menggunakan bahasa isyarat dengan tangan, bertanya apakah Si Gagu dapat bicara.
Hwesio tua yang gagu ini menggeleng kepala keras-keras, mengeluarkan suara ah-ah-uh-uh, memberi isyarat dengan tangan bahwa. mulutnya tidak dapat bicara dan telinganya tidak dapat mendengar. Sampai beberapa kali Ceng Hok Hwesio mendesaknya, dibantu oleh lima orang muridnya, namun tukang sapu gagu itu tetap menggelengkan kepala keras-keras, menyangkal bahwa dia dapat bicara atau mendengar.
"Omitohud......semoga Sang Buddha memaafkan pinceng kalau memang dia ini benar-benar gagu dan tuli. Memang sukar membuktikan bahwa dia ini benar gagu atau tidak. Akan tetapi pinceng ada akal untuk membuktikan apakah dia benar-benar tuli ataukah tidak. Kalian berlima harus menutup telinga dengan rapat dan mengerahkan sinkang melindungi pendengaran kalian. Dan engkau, Han Siong, keluarlah dan pergi jauh dari ruangan ini, dan kalau masih ada suara getaran menyerangmu, cepat tutup kedua telingamu dengan tangan. Beritahu kepada para Suhengmu agar melakukan hal yang sama."
Lima orang murid kepala itu mengerti apa yang akan dilakukan oleh Ceng Hok Hwesio, maka mereka pun cepat menggunakan kedua telapak tangan menutupi telinga, dan mengerahkan tenaga sinkang mereka. Sementara itu, Han Siong juga sudah pergi keluar.
Ceng Hok Hwesio lalu mengerahkan sinkang dan tak lama kemudian keluarlah suara melengking tinggi dari dalam dada kakek ketua kuil Siauw-lim-si ini. Suara itu makin lama semakin tinggi, menggetarkan dan lima orang murid kepala yang sudah memiliki ilmu kepandaian tinggi itu pun terpaksa harus memejamkan mata dan mengerahkan sinkang sekuatnya untuk melindungi telinga dan jantung mereka. Han Siong yang sudah berada di kebun, biarpun sudah menutupi kedua telinga dengan tangan, masih merasakan getaran hebat.
Akan tetapi, kakek gagu tuli itu hanya duduk bersila diam saja, menundukkan muka dan sama sekali tidak terpengaruh oleh suara yang mengandung tenaga khikang amat kuatnya itu! Dari sikap ini saja tahulah ketua kuil itu bahwa kakek tukang sapu yang berada di depannya memang benar-benar tuli! Hanya orang tuli yang akan mampu duduk diam tak terpengaruh sama sekali oleh lengkingannya. Maka dia pun menghentikan ujian itu dan lima orang murid kepala kini baru berani membuka mata.
"Ternyata Aekau Hwesio ini benar gagu dan tuli. Apa yang pinceng dengar hanyalah berita bohong belaka. Sudahlah, ajak dia keluar lagi agar dia bekerja seperti biasa, akan tetapi amat-amati gerak-geriknya." pesannya kepada para murid. Mereka semua keluar dan memberi isyarat kepada hwesio gagu itu untuk keluar pula.
Setelah hwesio gagu itu keluar. Ceng Hok Hwesio lalu memanggil Han Siong lagi ke dalam ruangan itu. "Han Siong, mulai sekarang engkau tidak perlu mendengarkan fitnah yang diucapkan oleh dua orang hukuman itu. Kau melihat sendiri, hwesio tukang sapu itu memang tuli dan gagu, pinceng yakin akan hal ini, karena kalau tidak tuli, tentu dia tadi sudah roboh pingsan. Nah, sekarang terbukti bahwa dua orang hukuman itu sama sekali tidak boleh dipercaya. Dasar orang-orang berdosa, mana mungkin ucapan mereka dapat dipercaya?"
Han Siong diam saja, hanya menundukkan mukanya dan tidak menjawab, melainkan mengangguk-angguk saja." Kemudian dia pun keluar dan melanjutkan pekerjaannya. Hatinya merasa penasaran sekali. Benarkah dua orang itu membohong? Akan tetapi, melihat wajah mereka yang menimbulkan rasa suka dan iba di dalam hatinya, Han Siong tidak percaya bahwa mereka itu tukang fitnah dan pembohong yang jahat. Sebaliknya, tentu kakek gagu itu yang pandai membohong dan bersandiwara. Dan, melihat betapa gerakannya amat cepat ketika malam itu dia melihatnya membayangi dua orang yang berkelebat lenyap di dalam pondok hukuman, bukan tidak mungkin Si Gagu yang palsu itu mampu pula bertahan terhadap ujian suara melengking ketua kuil.
Karena merasa penasaran sekali Han Siong malam itu tidak tidur melainkan keluar dari tempat tidur dan kamarnya, dan bersembunyi tak jauh dari kamar hwesio gagu yang berada di samping kanan bangunan, di kamar yang sunyi menyendiri karena dia belum diterima sebagai anggauta kuil, melainkan seorang pembantu.
Baru setelah lewat tengah malam, kesabaran Han Siong mendapatkan hasil. Dia mula-mula mendengar suara mendengkur dari dalam kamar itu. Tahu bahwa penghuninya sudah tidur nyenyak, diam-diam dia lalu menyelinap dan berindap-indap mendekati kamar itu. Tak lama kemudian barulah dia mendengar suara orang mengigau, suaranya parau, pecah seperti ringkik kuda! Akan tetapi jelas bahwa igauan itu mengandung kata-kata.
Han Siong cepat meninggalkan tempat itu dan berlari menuju ke kamar suhunya. Hatinya lega melihat hwesio itu masih belum tidur, masih duduk bersila sambil membaca kitab agama.
"Suhu..., Suhu !" katanya dengan napas agak memburu dan suara berbisik.
Ceng Hok Hwesio mengerutkan alisnya, merasa terganggu dengan kemunculan Han Siong. "Ada apa lagi engkau sekali ini?" tanyanya tidak sabar.
"Suhu... Si Gagu itu mengigau lagi..."
"Han Siong! Jangan bicara sembarangan saja!"
"Tidak, Suhu. Teecu tidak berbohong, silakan Suhu membuktikannya sendiri."
Ceng Hok Hwesio memandang wajah anak itu dengan tajam penuh selidik. Wajah anak itu serius dan tegang. Hatinya tertarik dan dia menarik napas panjang. "Omitohud... engkau ini mengada-ada saja. Han Siong, mengganggu ketenteraman pinceng...." Akan tetapi karena hatinya tertarik, dia pun turun dari tempat dia bersila bergegas mengikuti Han Siong menuju ke bagian belakang.
Setelah mereka tiba di luar kamar kakek gagu, benar saja dalam kamar itu terdengar suara bergumam orang ngelindur! Ceng Hok Hwesio merasa penasaran sekali dan dia menempelkan telinganya pada daun jendela. Terdengar suara parau, pecah dan serak yang menginggatkan orang akan ringkik kuda! Dan memang benar suara itu merupakan igauan yang mengandung kata-kata!
"....kalau tidak diberikan kepadaku kubunuh kalian...."
Ceng Hok Hwesio terkejut sekali mendengar suara yang mengerikan itu. Dan kini mau tidak mau dia harus percaya karena telinganya sudah mendengar sendiri ucapan itu. Jelaslah bahwa Si Gagu itu sebenarnya dapat bicara! Hati Ceng Hok Hwesio yang memang keras sekali itu menjadi marah. Dia telah ditipu dan dikelabuhi oleh hwesio tukang sapu itu. Kalau begini, jelaslah bahwa dulu dia hanya pura-pura saja sakit dan kelaparan, agar memperoleh kesempatan masuk ke kuil tanpa dicurigai. Akan tetapi mengapa hal itu dilakukannya? Apa pun niatnya, tentu niat itu tidak baik dan jahat sekali.
"Manusia palsu, penipu yang jahat!" Dia membentak dan kedua tangannya mendorong ke arah daun pintu kamar itu.
"Braaakkk....!" Daun pintu itu pecah dan jebol
Ceng Hok Hwesio meloncat kedalam. Kaget oleh suara itu, hwesio tua tukang sapu sudah terbangun dan kini nampak dia duduk di atas pembaringannya, matanya yang sipit memandang dengan marah dan nampak mencorong di bawah sinar lampu gantung yang menyorot masuk dari pintu yang tak berdaun lagi itu. Ceng Hok Hwesio semakin terkejut melihat sinar mata itu, sungguh jauh bedanya dengan sinar mata yang biasa dilihatnya pada sepasang mata sipit itu.
"Penipu jahat! Berlutut dan menyerahlah!" kata Ceng Hok Hwesio dengan suara keren berwibawa.
Akan tetapi, orang yang dibentak itu tiba-tiba tertawa dan Han Siong yang berada di luar bergidik mendengar suara ketawa yang tidak patut menjadi suara manusia itu.
"Ha-ha-ha, Ceng Hok Hwesio, engkau jangan berlagak di depanku!"
Ketua kuil itu sampai terbelalak saking kaget dan herannya. Kini sikap orang bermuka kuda itu benar-benar berubah sama sekali. Biasanya, sebagai seorang gagu dia selalu tunduk dan taat, akan tetapi sekarang, begitu bicara berani bersikap demikian angkuhnya sehingga memandang rendah kepadanya!
"Siapakah engkau?" bentak Ceng Hok Hwesio, kemudian laporan yang disampaikan oleh Han Siong beberapa hari yang lalu teringat olehnya. "Benarkah engkau berjuluk Lam-hai Giam-lo, murid mendiang Lam-kwi-ong?"
Kembali kakek itu tertawa dan kamar itu seakan-akan hendak runtuh oleh getaran suara ketawanya, "Hah-hah-hah, Ceng Hok Hwesio! Kalau sudah tahu, kenapa engkau tidak lekas berlutut di depan kakiku?"
Dapat dibayangkan betapa marahnya Ceng Hok Hwesio mendengar kata-kata yang amat menghinanya itu. "Omitohud, manusia jahat seperti engkau patut dihajar!" Dan dia pun menerjang ke depan, menggerakkan kedua tangannya yang membentuk cakar harimau menyerang kakek yang duduk di atas pembaringan itu. Akan tetapi, tiba-tiba bayangan kakek itu berkelebat dan terdengar bunyi kain robek dan kapuk berhamburan ketika kedua cakar tangan Ceng Hok Hwesio mengenai kasur yang tadi diduduki kakek muka kuda itu! Mendengar suara ketawa di belakangnya, Ceng Hok Hwesio memutar tubuh sambil menyerang lagi, sekali ini serangannya lebih hebat. Ketua kuil ini memang seorang ahli gwakang (tenaga luar) yang selain memiliki tenaga kuat, juga menguasai ilmu-ilmu silat yang sifatnya keras dari Siauw-lim-pai.
Membalik sambil menggunakan kedua tangan untuk menyerang dengan bentuk cakar ini luar biasa kuatnya dan kalau mengenai tubuh lawan, tentu kulit dan daging akan terkoyak oleh jari-jari tangan yang seperti berubah menjadi kaitan baja itu, tulang pun akan remuk.
Akan tetapi, sambil mengeluarkan suara seperti kuda meringkik, kakek gundul bermuka kuda itu sama sekali tidak kelihatan jerih, bahkan menggunakan lengan kirinya menangkis dari samping dengan memutar siku.
"Desss...!!" Pertemuan antara kedua lengan Ceng Hok Hwesio yang ditangkis oleh lengan kiri kakek yang di kuil itu dikenal sebagai Aekau Hwesio itu hebat sekali karena begitu bertemu, tubuh Ceng Hok Hwesio terpental seperti terdorong oleh angin yang amat kuat! Padahal, gerakan kakek gagu itu nampak lambat dan tidak bertenaga.
"Aihhh!" Ceng Hok Hwesio sudah berjungkir balik sehingga tubuhnya tidak sampai terbanting. Dia terkejut sekali dan maklum bahwa lawannya memiliki sinkang yang luar biasa kuatnya, maka dia bersikap hati-hati dan maju perlahan-lahan sambil memasang kuda-kuda yang kokoh kuat. Karena maklum bahwa dia berhadapan dengan lawan tangguh, Ceng Hok Hwesio lalu berkata dengan sikap keren.
"Lam-hai Giam-lo, selamanya pinceng dan Siauw-lim-pai tidak pernah ada urusan denganmu, maka apa maksudmu menyamar dan menyelundup ke kuil kami?"
"Ha-ha-ha, Ceng Hok Hwesio. Sudah setahun aku berada di sini. Apa sebabnya aku berada di sini adalah urusanku sendiri. Tidakkah selama ini aku bekerja baik-baik dan tidak pernah mengganggu Siauw-lim-pai? Jangan campuri urusanku dan aku pun tidak akan mengganggumu!"
"Omitohud, kuil kami bukanlah tempat persembunyian segala macam penjahat! Engkau pergilah dengan aman dari sini dan jangan kembali lagi!" Kini nada suara kakek ketua kuil itu tidak tinggi hati seperti tadi, tidak minta agar Lam-hai Giam-lo berlutut dan menyerah, melainkan minta kepadanya agar pergi dengan aman!
"Ha-ha-ha, engkaulah yang harus pergi dari sini! Aku datang atau pergi sesuka hatiku."
"Keparat! Engkau memang jahat!" Dan Ceng Hok Hwesio sudah menyerang lagi dengan lebih dahsyat karena merasa bahwa wewenang dan kekuasaannya dilanggar. Namun dengan mudah pukulan dengan tangan terbuka itu ditangkis oleh lawannya dan kembali dia terhuyung. Pada saat itu, lima orang murid kepala Siauw-lim-pai bersama belasan murid lain sudah tiba di tempat itu dan Lam-hai Giam-lo lalu dikepung.
"Dia ini Lam-hai Giam-lo, penjahat besar yang hendak mengacaukan kuil kita. Usir dia!" teriak Ceng Hok Hwesio yang dari dua gebrakan tadi saja sudah maklum bahwa lawannya ini lihai bukan main dan untuk mengusirnya dibutuhkan bantuan murid-muridnya. Para hwesio itu tua muda lalu bergerak mengepung dengan sikap mengancam, walaupun dengan pandang mata penuh keheranan karena mereka sama sekali tidak mengira bahwa hampir tidak dapat percaya bahwa hwesio gagu tukang sapu tua ini sekarang disebut Lam-hai Giam-Io seorang penjahat besar!
"Ha-ha-ha-ha-hiyeeehh.....!" Suara ketawa yang makin mirip dengan kuda itu terdengar berbareng dengan penyerbuan para hwesio Siauw-lim-si, disusul pekik kesakitan dan dua orang murid Siauw-lim-pai roboh ketika Lam-hai Giam-lo menggerakkan kedua tangannya. Lengannya dipentang lebar dan tubuhnya seperti berputar. Dengan gerakan ini, dia sudah menangkis semua pukulan yang datang dari empat penjuru dan juga merobohkan dua orang pengeroyok dengan amat mudahnya
Melihat kehebatan kakek itu, diam-diam Han Siong yang menonton dari luar, menyelinap pergi. Tak lama kemudian dia sudah mengetuk daun pintu Kamar Renungan Dosa di mana ditahan laki-laki berlengan buntung itu.
"Paman....! Paman.....! Bukalah pintu!" teriaknya, lupa akan larangan ketua kuil bahwa dia tidak boleh berhubungan dengan orang hukuman itu.
"Anak baik, apakah yang terjadi?" Terdengar suara pria itu dan daun pintu pun terbuka.
"Paman... terjadi keributan. Kakek gagu palsu itu kini mengamuk, dikeroyok para Suheng dan Suhu, tapi...agaknya dia lihai sekali."
"Ahhh! Sudah kuduga akan begini jadinya!" laki-laki itu berkelebat dan Han Siong terbelalak karena orang itu tahu-tahu sudah lenyap dari depan matanya. Dia menjadi bingung, tidak tahu ke mana perginya pria itu, maka dia pun cepat lari ke Kamar Renungan Dosa yang kedua, dengan maksud mengabarkan kepada wanita cantik yang berada di sana.
Akan tetapi, ketika dia tiba di depan kamar itu, daun pintu kamar itu sudah terbuka dan tiba-tiba berkelebat bayangan dua orang keluar dari kamar itu.
Demikian cepat gerakan mereka sehingga Han Siong hanya dapat melihat bentuk tubuh mereka saja dan dia pun mengenal bahwa mereka adalah pria lengan buntung dan wanita cantik yang sudah dikenalnya itu. Maka dia pun cepat kembali ke tempat terjadinya pertempuran tadi.
Kiranya Ceng Hok Hwesio dan para muridnya kewalahan ketika mengeroyok Lam-hai Giam-lo. Kakek bermuka kuda ini mengamuk, semakin lama semakin beringas dan ganas sekali. Melihat betapa para muridnya roboh berserakan, Ceng Hok Hwesio menjadi marah. Dia menyambar sebatang toya dan dengan senjata andalannya ini, yang diputarnya dengan amat cepat, dia pun menerjang Lam-hai Giam-lo sambil mengeluarkan bentakan nyaring.
Namun, lawannya terkekeh dan menyambut serangan ketua kuil itu dengan kedua tangan kosong saja. Dengan lengan tangannya, dia berani menangkis hantaman toya kuningan, bahkan membalas dengan tamparan ke arah kepala hwesio ketua kuil itu.
"Dukk! Wuuuttt...!" Ceng Hok Hwesio terkejut sekali dan untung dia masih mampu mengelak dengan melompat ke belakang. Tangkisan pada toyanya tadi membuat kedua lengannya tergetar sehingga dia tidak mampu menggerakkan toyanya sebagai lanjutan serangannya, bahkan tidak sempat lagi menangkis ketika tangan yang menampar kepala itu datang menyambar. Namun, kemarahan membuat ketua kuil itu tidak mengenal bahaya dan dia pun sudah menyerbu lagi, toyanya kini menusuk ke arah perut.
Kembali yang diserang tertawa dan sekali ini sama sekali tidak mengelak, juga tidak menangkis, melainkan menerima toya yang menusuk itu begitu saja dengan perutnya.
"Cusss!" Ujung toya kuningan itu seperti amblas ke dalam perut. Akan tetapi sebetulnya bukan menembus kulit daging, melainkan disedot oleh perut itu yang tiba-tiba saja mengempis. Ketika Ketua Siauw-lim-pai itu terkejut karena mengira bahwa toyanya melukai perut dan mungkin membunuh, mendadak kedua tangan Lam-hai Giam-lo sudah bergerak, yang satu menotok pundak yang lain mencengkeram jubah pada tengkuk Ceng Hok Hwesio! Ketua kuil itu seketika lemas dan tengkuk jubahnya kena dicengkeram!
Melihat betapa guru mereka tertawan musuh, para murid Siauw-lim-pai terkejut dan marah. Mereka kini sudah memegang senjata di tangan dan siap untuk mengeroyok.
"Saudara sekalian harap mundur dan biarkan kami berdua menghadapi Lam-hai Giam-lo!" tiba-tiba terdengar suara yang lembut namun berwibawa. Semua hwesio mundur ketika melihat bahwa yang muncul adalah seorang pria berlengan kiri buntung dan seorang wanita cantik setelah tadi nampak dua bayangan berkelebat dan tahu-tahu di situ berdiri dua orang itu. Para hwesio yang sudah lama menjadi penghuni kuil itu mengenal siapa adanya dua orang hukuman itu, akan tetapi mereka yang datang belum ada sepuluh tahun, tidak pernah melihat dua orang itu dan kini mereka memandang dengan heran. Baru setelah para hwesio yang lebih tua berbisik-bisik memberi tahu bahwa laki-laki dan perempuan itu adalah dua orang hukuman di Kamar Renungan Dosa, mereka memandang lebih tertarik lagi.
Laki-laki berlengan buntung itu kini sudah melangkah maju menghadapi Lam-hai Giam-lo yang masih mencengkeram tengkuk jubah Ceng Hok Hwesio. "Lam-hai Giam-lo, lepaskan Suhu Ceng Hok Hwesio!" Sambil berkata demikian, tiba-tiba saja lengan baju kiri yang kosong dan buntung itu bergerak dan ujung lengan baju menyambar ke arah Si Muka Kuda. Ketika ujung lengan baju itu menyambar, terdengar suara berdesing keras seolah-olah yang menyambar itu sebatang pedang, bukan sehelai kain lemas!
Lam-hai Giam-lo tadinya memandang rendah, akan tetapi melihat gerakan ini, dia terkejut dan tidak berani sembrono untuk menangkis, melainkan mengelak dengan menarik kepala ke belakang. Akan tetapi, tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan wanita itu sudah menyerangnya dari samping. Serangannya hebat sekali karena kedua tangan wanita itu bertubi-tubi mengirim totokan-totokan kearah sembilan jalan darah di bagian depan tubuhnya. Lam-hai Giam-lo dapat menduga akan kelihaian wanita ini, maka dia pun terpaksa melepaskan cengkeraman pada tengkuk jubah Ceng Hok Hwesio sambil melontarkan tubuh ketua kuil itu ke arah Si Laki-laki lengan kiri buntung! Lontarannya kuat sekali sehingga tubuh ketua kuil itu seperti sebatang balok yang berat melayang ke arah laki-laki itu.
Akan tetapi, Si Lengan Kiri Buntung dengan tenang menggerakkan tangan kanannya dan sekali tangan itu menyambar, dia pun sudah dapat mencengkeram punggung jubah hwesio itu sehingga daya luncurnya tertahan dan sekali menepuk pundaknya, Ceng Hok Hwesio dapat bergerak lagi dan diturunkan. Dengan muka merah Ceng Hok Hwesio lalu mundur dan berdiri menjadi seorang di antara para penonton. Dia tahu bahwa dia bukan lawan Si Muka Kuda, maka kini dia hanya nonton saja, membiarkan dua orang hukuman itu menghadapinya. Hatinya diam-diam merasa heran sekali karena selama ini dia memandang rendah kepada dua orang bekas hwesio dan nikouw yang telah menjadi orang hukuman menebus dosa di Kamar Renungan Dosa. Akan tetapi, jelas bahwa Si Lengan Kiri Buntung itu lihai, kalau tidak, tentu tidak akan dapat membebaskannya dari cengkeraman Si Muka Kuda sedemikian mudahnya. Hanya satu kali serang saja!
Kini, Lam-hai Giam-lo sudah menjadi marah sekali. "Baiklah, kalian sudah mengenal aku. Memang aku Lam-hai Giam-lo yang tadinya hanya ingin mempergunakan tempat ini sebagai tempat istirahat tanpa bermaksud mengganggu kalian. Akan tetapi karena di sini aku menemukan sesuatu yang menarik sekali, maka biarlah aku berterus terang saja. Heii, kalian dua orang berdosa yang menjalani hukuman. Siapakah sebenarnya kalian berdua ini?" tanyanya dan mata yang sipit itu menyapu ke arah laki-laki dan wanita itu.
Laki-laki yang buntung lengan kirinya itu menahan senyum, lalu menjawab singkat. "Sebelum kami menjadi hwesio dan nikouw, namaku adalah Siangkoan Ci Kang dan ia adalah Toan Hui Cu." Para pembaca cerita Asmara Berdarah tentu masih teringat akan kedua nama ini. Seperti telah diceritakan dalam kisah Asmara Berdarah, Siangkoan Ci Kang adalah putera mendiang Siangkoan Lo-jin yang berjuluk Si Iblis Buta, seorang tokoh datuk sesat yang lihai sekali. Akan tetapi puteranya, yaitu Siangkoan Ci Kang, tidak mewarisi kejahatan ayahnya bahkan sejak muda dia telah menyadari akan kesesatan ayahnya yang tidak disukanya. Kemudian, dengan beruntung dia menjadi murid Ciu-sian Lokai, seorang sakti yang menurunkan ilmu-ilmunya kepada Ci Kang. Akan tetapi, di dalam kehidupan asmaranya, Ci Kang mengalami kegagalan karena cintanya kepada Ceng Sui Cin tidak dibalas oleh gadis itu yang telah mencinta pria lain, yaitu Cia Hui Song putera ketua Cin-ling-pai. Bahkan, dia masih bersikap demikian bijaksana dan gagah perkasa untuk melindungi Hui Song yang hendak dihukum ayahnya sendiri karena fitnah. Ci Kang dengan jantan melindungi dan bahkan menggunakan lengan kiri menangkis pedang sehingga demi keselamatan Hui Song, dia kehilangan lengan kirinya sebatas siku. Semua ini dilakukannya bukan hanya demi menolong Hui Song yang dia tahu tidak berdosa, juga demi cintanya terhadap Sui Cin!
Setelah Hui Song dan Sui Cin menikah, di kebun pada malam hari itu, Ci Kang yang hatinya merasa duka dan merana itu melihat Toan Hui Cu yang sedang menangis sedih. Dia tahu bahwa mengapa Hui Cu menangis. Keadaan gadis itu tiada bedanya dengan dia. Patah hati, kasih tak sampai, atau bertepuk tangan sebelah. Gadis itu mencinta Cia Sun, pendekar muda yang gagah perkasa dan budiman, akan tetapi sebaliknya Cia Sun sudah menjatuhkan pilihan hatinya kepada Tan Siang Wi, murid terkasih dari Ketua Cin-ling-pai. Dia dan Hui Cu sama-sama patah hati. Bukan hanya itu, akan tetapi juga asal-usul mereka hampir sama. Dia sendiri putera seorang datuk sesat yang amat tersohor, juga Toan Hui Cu lebih hebat lagi karena ayah dan ibunya adalah Raja Iblis, rajanya datuk-datuk sesat! Karena persamaan keadaan, nasib dan kedukaan, ketika mereka saling jumpa dan mengenal keadaan masing-masing, timbul keakraban pada kedua orang itu dan mereka pun bergandeng tangan untuk bersama-sama menghadapi gelombang kehidupan yang penuh bahaya dan kepahitan itu. Tentu saja sebagai puteri Raja dan Ratu Iblis yang amat sakti, Hui Cu juga mewarisi ilmu-ilmu yang amat dahsyat!
Akan tetapj agaknya Lam-hai Giam-lo belum pernah mendengar kedua nama ini. Memang kedua orang ini masih amat muda ketika muncul di dunia kang-ouw dan tentu saja ilmu kepandaian mereka menggemparkan. Akan tetapi, mereka yang patah hati itu lalu masuk menjadi hwesio dan nikouw mempelajari ilmu-ilmu keagamaan dan kebatinan di dalam kuil dan tentu saja nama mereka tidak terkenal. Bahkan para hwesio di kuil tidak ada yang tahu bahwa mereka berdua sesungguhnya adalah dua orang muda yang amat lihai!
"Bagus, kalian berdua adalah orang-orang muda yang berhasil. Nah, setelah aku berada di sini dan melihat kalian berdua latihan, hatiku tertarik sekali. Sekarang, berikanlah kitab kuno itu kepadaku, dan aku akan pergi dari sini tanpa mengganggu kalian lagi!" kata Lam-hai Giam-lo.
Ci Kang dan Hui Cu saling pandang, dan keduanya menggeleng kepala tanda tidak setuju untuk memenuhi permintaan Si Muka Kuda. "Enak saja engkau bicara!" Hui Cu berseru marah. "Lebih baik engkau pergi sebelum kami turun tangan menghajar muka kudamu!"
Lam-hai Giam-lo membelalakkan mata saking marahnya, akan tetapi karena memang matanya sipit sekali, biar dibelalakkan juga tidak dapat menjadi lebar dan tidak menakutkan, melainkan merobah muka itu semakin buruk dan lucu. Akan tetapi, tangannya bergerak cepat bukan main dan tahu-tahu tangan itu sudah mulur panjang dan membentuk cakar yang mencengkeram ke arah dada Hui Cu. Jarak antara kakek itu dan Hui Cu cukup jauh, ada empat meter, akan tetapi tangan itu dapat terulur dan tentu dada wanita itu akan kena dicengkeramnya kalau saja Hui Cu tidak cepat menangkis dengan sinar putih. Sinar putih itu mengeluarkan bunyi mencuit nyaring dan ternyata itu adalah ujung sabuk sutera putih yang telah dilolos dari pinggangnya. Ujung sabuk sutera putih yang berubah menjadi sinar dan berkelebat mengeluarkan suara mencicit nyaring itu, bukan menangkis lengan, melainkan menyambut lengan yang mencengkeram kearah dadanya itu dengan totokan mengarah jalan darah di pergelangan tangan. Totokan ini berbahaya sekali dan tentu akan lebih dulu mengenai jalan darah dipergelangan tangan sebelum jari-jari tangan itu sempat mencengkeram dadanya.
"Uhhh.....!" Si Muka Kuda berseru dan tangannya yang tadi mulur itu, seperti karet yang diulur dan dilepas, cepat sekali sudah kembali menjadi normal sehingga totokan sabuk sutera itu pun luput.
"Heh-heh-heh, baiklah. Hari ini aku akan membunuh kalian berdua, kemudian membakar kuil ini dan merampas semua kitab yang ada!" berkata demikian, Lam-hai Giam-lo lalu menggerakkan tubuhnya yang segera berpusing dengan cepat. Tubuh itu kini hanya nampak bayangan yang berpusing dengan amat cepatnya dan dari pusingan itu kadang-kadang menyambar keluar dua buah lengan yang dapat mulur dan melakukan serangan-serangan dahsyat ke arah Ci Kang dan Hui Cu!
Ci Kang sudah mencabut keluar sebatang tongkat hitam yang panjangnya hanya tiga kaki. Dia mainkan tongkat ini dengan tangan kanannya, kadang-kadang memegang ujungnya seperti orang bermain pedang, kadang-kadang dipegang di bagian tengah-tengah dan diputar-putar sehingga membentuk segulung sinar hitam. Ayah Ci Kang, mendiang Si lblis Buta, amat terkenal dengan ilmu tongkatnya sehingga biarpun dia buta, jarang ada tokoh yang mampu menandinginya. setelah menjadi murid Ciu-sian Lo-kai yang juga merupakan seorang ahli permainan tongkat, tentu saja ilmu tongkat Ci Kang menjadi semakin matang dan hebat.
Menghadapi permainan tongkat yang dikombinasikan dengan ujung lengan baju itu, ditambah lagi dengan permainan sabuk dari Hui Cu yang kini mengeluarkan pula sebatang tongkat untuk mengimbangi sabuknya, kakek bermuka kuda itu menjadi terkejut karena ilmunya yang hebat itu pun merasa kurang kuat untuk menandingi amukan dua orang yang memainkan dua senjata yang sama itu! Memang hebat ilmu silat kedua orang hukuman itu. Kalau gerakan Siangkoan Ci Kang amat tenang dan kuatnya, sebaliknya gerakan Toan Hui Cu cepat dan ringan bukan main, seperti seekor burung yang menyambar-nyambar saja. Kadang-kadang Hui Cu menyerang dengan cepatnya dari atas seperti burung garuda menyambar-nyambar, sedangkan Ci Kang menyerang dari bawah dengan gerakan yang tenang namun cepat dan amat kuat, seperti serangan seekor ular.
Betapapun hebatnya Ci Kang dan Hui Cu, kini mereka bertemu tanding. Lam-hai Giam-lo adalah murid mendiang Lam-kwi-ong, seorang di antara Empat Setan yang memiliki kesaktian dan kakek muka kuda ini sudah mewarisi seluruh ilmu dari mendiang gurunya. Selain memiliki banyak ilmu silat tinggi, juga kakek ini menang pengalaman dibandingkan kedua orang lawannya. Maka, biarpun dikeroyok dua, Lam-hai Giam-lo dapat mengimbangi Kecepatan dua orang pengeroyoknya dan kedua lengan itu setelah diputar-putar mengeluarkan bunyi berkerotokan dan kini menjadi kebal, mampu menahan tongkat dengan tangkisan, bahkan totokan-totokan ujung lengan baju dan ujung sabuk yang mengenai kedua lengannya tidak mempengaruhi!
Sejak tadi, Ceng Hok Hwesio mengikuti perkelahian itu dengan kedua matanya dan hwesio ketua kuil ini tertegun. Mengertilah dia kini mengapa ketika dia menguji dengan pengerahan khikang, kakek muka kuda itu tidak terpengaruh. Kiranya memang kakek itu memiliki kepandaian yang amat tinggi dan tentu dengan kekuatan sinkangnya yang hebat kakek itu dapat menahan suara khikang yang menyerangnya. Ceng Hok Hwesio juga merasa kagum. Tak disangkanya sama sekali bahwa dua orang hukuman itu memiliki ilmu kepandaian setinggi itu, jauh lebih tinggi daripada tingkatnya sendiri! Teringatlah dia ketika pertama kali mereka datang ke situ. Seorang pemuda dan seorang gadis, gagah dan cantik jelita, yang sambil menangis memohon kepadanya agar diperbolehkan masuk menjadi pendeta untuk menebus dosa-dosa mereka yang lalu. Nampaknya mereka itu lembut dan biarpun mungkin dapat bermain silat, akan tetapi siapa menduga bahwa mereka sehebat ini dan mampu menandingi seorang sakti seperti Lam-hai Giam-lo?
Diam-diam Ci Kang dan Hui Cu juga kagum akan kehebatan ilmu kepandaian lawan mereka. Semenjak mereka mengundurkan diri dari dunia ramai, baru sekali ini mereka berkelahi dan selama hidup mereka, baru sekali ini bertemu orang yang demikian lihainya. Biarpun mereka mengeroyok, sampai lewat lima puluh jurus, belum juga mereka mampu mendesak lawan, bahkan beberapa kali mereka terdorong mundur oleh angin pukulan kakek yang luar biasa tangguhnya itu. Bahkan mereka tahu kalau dilanjutkan, bukan tidak mungkin mereka akan kalah. Oleh karena itu, tiba-tiba Ci Kang berseru nyaring, ditujukan kepada Hui Cu.
"Kwan Im Hud-couw.......!"
Mendengar teriakan ini, berbareng dengan Ci Kang, Hui Cu meloncat mundur dan mereka berdua menyimpan tongkat, juga Hui Cu menyimpan sabuknya. Kemudian, mereka berdiri tegak dan merangkap kedua tangan di depan dada. Tentu saja Ci Kang hanya dapat memiringkan tangan kanan saja depan dada. Mereka mengambil sikap seperti menyembah, sikap yang biasa terdapat pada patung Dewi Kwan Im. Lam-hai Giam-lo tertegun dan tadinya dia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Ci Kang yang meneriakkan sebutan untuk Dewi Kwan Im tadi. Akan tetapi, melihat betapa keduanya memasang kuda-kuda seperti sikap Dewi Kwan Im itu, dia pun dapat menduganya dan wajahnya berubah cerah berseri.
"Ha-ha, akhirnya kalian terpaksa membuka rahasia! Jadi ilmu dari kitab kuno itu adalah ilmu dari Dewi Kwan Im? Perlihatkanlah, anak-anak, biar aku mengujinya!"
Akan tetapi, kedua orang itu tidak menyerang, sebaliknya malah berpencar, dengan menggeser kaki secara lembut dan halus sekali, seperti seorang puteri yang melangkahkan kaki, pendek-pendek dan lembut dan kini mereka berada di kanan kiri lawan. Lam-hai Giam-lo menoleh ke kanan kiri dan tertawa, memandang rendah karena sejak tadi dia pun sudah tahu bahwa betapapun lihainya dua orang pengeroyoknya, namun dia mampu menandingi mereka, bahkan yakin akan dapat mengalahkan mereka.
"Biarlah aku yang memaksa kalian bergerak!" teriaknya dan dia pun menerjang ke arah Hui Cu. Seperti tadi, serangannya mengandung keceriwisan karena dia sengaja mencengkeram dengan kedua tangan, satu di dada dan satu ke bawah perut! Akan tetapi, dengan gerakan lembut sekali Hui Cu menggerakkan kakinya melangkah aneh sekali sambil memutar tubuhnya dan serangan itu pun luput! Kakek muka kuda terkejut bukan main. Dia tadi merasa yakin bahwa serangannya akan berhasil karena gerakan wanita itu lembut dan lambat sekali. Siapa tahu, secara tiba-tiba saja serangannya seperti hanya menyerang bayangan dan mengenai udara kosong! Dia tidak dapat mengikuti bagaimana cara wanita itu mengelak, langkahnya demikian aneh, gerakannya pun lembut, namun nyatanya, cengkeraman kedua tangannya yang dahsyat itu luput! Dan tiba-tiba saja, seperti orang melambaikan tangan Hui Cu sudah "mengusap" ke arah leher Lam-hai Giam-lo. Nampaknya memang hanya seperti orang melambaikan tangan dan mengusap mesra saja sehingga mengherankan Si Muka Kuda. Akan tetapi tiba-tiba dia merasa betapa ada hawa yang dingin sekali menyambar dengan kekuatan dahsyat ke arah lehernya, keluar dari jari-jari tangan yang mungil dan halus itu!
"Celaka!" teriaknya dan cepat Lam-hai Giam-lo melempar tubuh atas ke belakang sehingga leher itu luput dari totokan jari-jari yang amat lihai. Dengan marah kakek ini lalu memutar lagi tubuhnya berpusingan cepat dan membalas serangan lawan, bahkan bukan hanya Hui Cu yang diserangnya, melainkan juga Ci Kang sekaligus.
"Jurus ke tiga dan ke sebelas!" tiba-tiba Ci Kang berseru dan Hui Cu secara otomatis bergerak memainkan jurus ke sebelas sedangkan Ci Kang sendiri memainkan jurus ke tiga dari ilmu silat mereka yang aneh itu. Ci Kang merendahkan tubuhnya dan merangkap kedua tangan ke depan dada, lalu kedua tangan itu bergerak ke depan, kedua lengan dikembangkan dengan penyerangan dahsyat ke arah dada dan perut lawan, sedangkan Hui Cu tiba-tiba melayang ke atas dan turun sambil menotok dengan tangan kanan kiri bergantian dengan gerakan seperti orang memetik sesuatu. Jurus ke tiga itu adalah jurus Kwan-im-khai-bun (Dewi Kwan Im Membuka Pintu) sedangkan jurus ke sebelas yang dimainkan Hui Cu adalah jurus Kwan Im Mencari Teratai. Kelihatan kedua gerakan itu sederhana sekali, gerakannya lembut dan perlahan, seperti tidak mengandung tenaga. Akan tetapi dengan kaget Lam-hai Giam-lo merasa betapa angin dingin menyambar-nyambar dari empat buah lengan itu dan terdengar suara mendesis seperti benda tajam mengiris udara. Dia masih mengandalkan kecepatan tubuhnya yang berpusing itu dan kedua lengannya yang panjang membalas serangan sambil memutar tubuh lebih cepat. Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika melihat betapa tangan dua orang pengeroyoknya mampu menembus gulungan sinar atau bayangannya dan tahu-tahu tangan Ci Kang sudah mengancam lambungnya dan tangan Hui Cu meluncur ke bawah dari atas, mengancam pelipis kepalanya!
Aihhh....!" Dia berteriak dan cepat melempar tubuh ke belakang lalu bergulingan di atas lantai. Akan tetapi, dengan langkah-langkah aneh kedua orang pengeroyoknya itu sudah mengejarnya dan bertubi-tubi empat buah lengan melakukan tamparan ke bawah. Yang mengerikan adalah hawa dingin dari serangan mereka. Namun, kakek bermuka kuda itu memang lihai bukan main. Biarpun dia sedang bergulingan dan dihujani tamparan, sambil bergulingan itu dia masih mampu menggerakkan kedua tangan, bahkan kedua kakinya, untuk menangkis. Dia merasa betapa hawa dingin menyergap ke dada melalui tangannya yang menangkis, juga menyergap ke dalam perutnya melalui kaki yang menangkis.
Betapapun juga, tamparan-tamparan itu demikian aneh dan hebat sehingga masih ada sebuah tamparan dari Ci kang yang sempat mengenai pundaknya.
"plakk......"
Lam-hai Giam-lo mengeluarkan suara parau yang panjang dan dari mulutnya keluar darah segar. Teriakannya yang parau itu mengandung daya serangan yang ampuh karena dikeluarkan dengan pengerahan khikang. Hui Cu dan Ci Kang terkejut, cepat melompat mundur dan melindungi dada dan telinga dengan pengerahan sinkang. Akan tetapi kesempatan itu dipergunakan oleh Lam-hai Giam-lo untuk melarikan diri. Dengan lompatan panjang dia menghilang ke luar dan ketika kedua orang lawannya mengejar, dia sudah lenyap ditelan kegelapan malam. Hui Cu tidak melanjutkan pengejaran, melainkan kembali ke ruangan itu, disambut oleh Ceng Hok Hwesio dan para penghuni kuil dengan pandang mata kagum.
"Wah, sungguh berbahaya sekali Lam-hai Giam-lo..." kata Ci Kang sambil menggeleng kepala dan menarik napas panjang. Semenjak dia dahulu ikut mengeroyok Raja Iblis, baru sekarang dia bertemu dengan orang yang luar biasa lihainya. Andaikata dia dan Hui Cu tidak memiliki ilmu baru yang sedang mereka latih berdua, biarpun melakukan pengeroyokan, agaknya dia dan Hui Cu tidak akan dapat menandingi kakek muka kuda itu!
Ceng Hok Hwesio merangkapkan kedua tangan di depan dada. Hwesio ini masih belum pulih dari keadaan terheran-heran dan terkejut mendapat kenyataan bahwa dua orang hukuman itu ternyata memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat! "Omitohud, kalian telah menolong kami, semoga amal perbuatan kalian itu diterima oleh Sang Buddha dan dapat meringankan dosa kalian. Sekarang harap kalian suka kembali ke dalam Kamar Renungan Dosa diiringi ucapan terima kasih kami."
Ci Kang dan Hui Cu saling pandang, maklum bahwa ketua kuil itu masih tetap keras hati terhadap kesalahan mereka dan Ci Kang lalu menarik napas panjang, merangkap kedua tangan di depan dada dan berkata. "Baiklah, Suhu, kami akan kembali ke kamar masing-masing."
Akan tetapi Hui Cu menghadap Ceng Hok Hwesio dan setelah memberi hormat wanita ini berkata, "Suhu, kami mengulang permintaan kami beberapa hari yang lalu, yaitu agar kami diperbolehkan mengambil Han Siong menjadi murid kami."
Mendengar ini, Han Siong terkejut sekali dan juga merasa girang bukan main. Wajahnya berseri-seri dan dia memandang kepada dua orang itu dengan sinar mata penuh kegirangan. Akan tetapi, seri wajahnya melayu dan lenyap ketika dia mendengar ucapan Ceng Hok Hwesio yang keren dan penuh wibawa.
"Sayang, hal itu tidak mungkin dapat dilakukan. Kalian adalah orang-orang hukuman yang tidak dapat menjadi hwesio dan nikouw lagi, sedangkan Han Siong adalah seorang calon pendeta, seorang hwesio yang hidupnya bersih. Mana mungkin dapat menjadi murid kalian? Dia hanya boleh mempelajari ilmu silat Siauw-Iim-pai dari para hwesio yang suci."
Selama hampir lima tahun Han Siong mempelajari kitab-kitab suci agama dan filsafat, dan karena dia memang mempunyai kecerdikan yang lebih daripada kecerdikan anak-anak seusianya, maka ucapan suhunya itu membuat dia mengerutkan alisnya. Dari sikap dan kata-kata ketua kuil itu, jelaslah bahwa ketua kuil itu merendahkan dua orang hukuman itu, menekankan bahwa mereka berdua adalah orang-orang berdosa yang kotor, sebaliknya para hwesio adalah orang-orang yang bersih dan suci! Hal ini sama sekali tidak cocok dengan isi pelajaran agama dan filsafat. Bukankah anggapan bahwa diri sendiri bersih merupakan suatu anggapan yang kotor? Di situ tersembunyi suatu kesombongan dan ketinggian hati yang sama sekali berlawanan dengan pelajaran agama!
Memang demikianlah kenyataannya dalam diri kita manusia di dunia ini. Kita yang beragama selalu kejangkitan penyakit yang sama, yaitu menganggap diri sendiri bersih dan baik, menganggap diri sendiri sebagai kekasih-kekasih Tuhan akan tetapi memandang orang atau golongan lain seperti melihat orang-orang yang kotor penuh dosa dan dikutuk atau dimusuhi Tuhan! Betapa kotornya pandangan seperti ini dan jelas bukan pandangan yang bersih. Kekuasaan Tuhan yang nampak di dunia ini sama sekali tidak pernah membeda-bedakan antara manusia, dari bangsa atau golongan atau agama apapun juga! Kasih Tuhan nampak di mana-mana, merata dan sudah tersedia bagi manusia yang tinggal menikmatinya saja asal kita mau menyadari akan hal itu. Lihatlah sinar matahari yang hangat, menghidupkan, nyaman dan menjadi sumber kehidupan segala sesuatu yang nampak di permukaan bumi. Bukankah sinar matahari itu satu di antara kekuasaan dan kasih sayang Tuhan? Dan apakah sinar matahari itu, seperti anugerah-anugerah yang lain, membeda-bedakan? Sama sekali tidak. Baik seseorang itu pendeta yang katanya suci, maupun dia seorang yang dianggap paling jahat, akan menerima sinar matahari yang sama. Hanya bedanya, orang yang mau membuka matanya dan sadar akan semua yang berada di luar dirinya, akan dapat menikmati sepenuhnya kalau matahari pagi yang hangat dan sehat memancarkan cahayanya, dan akan berteduh dengan penuh pengertian kalau matahari menyengat terlampau keras. Sebaliknya, orang yang pikirannya selalu keruh dan sibuk, akan lengah dan tidak mampu menikmati keindahan dan kegunaan matahari pagi, kemudian akan mengeluh dan mengomel kalau matahari terlalu terik. Jelaslah, bagi kekuasaan Tuhan, bagi alam, tidak ada bedanya di antara manusia karena di situ tidak terdapat penilaian. Hanya penilaian yang menimbulkan pembedaan, karena penilaian ini didasari oleh aku yang merasakan diuntungkan atau dirugikan. Kalau diuntungkan, maka penilaian tentu sa ja condong ke arah baik sedangkan kalau dirugikan, dinilai buruk. Jelas bahwa penilaian bersumber kepada keakuan yang selalu mengejar kesenangan
"Suhu! Paman dan Bibi ini dengan gagah berani telah mengusir kakek jahat itu. Tanpa adanya bantuan mereka berdua, mungkin kita semua akan habis binasa dibunuh Lam-hai Giam-lo dan kuil kita dibakar! Tidak sepatutnya kalau mereka dihukum!"
Mendengar ucapan lantang dari Han Siong ini, Ceng Hok Hwesio mengerutkan alisnya. Apalagi ketika dia melihat betapa para hwesio lain nampaknya setuju dengan pendapat Han Siong karena banyak di antara mereka yang mengangguk.
"Hemm, Han Siong. Engkau anak kecil tahu apa? Mereka telah melakukan dosa besar, dan setiap pelanggaran dan dosa harus dihukum menurut peraturan kuil." Demikian ketua kuil itu berkata dengan keren.
"Akan tetapi, Suhu, teecu ingin sekali menjadi murid mereka!" kembali Han Siong berseru dengan suara lantang. "Dan teecu kira Suhu tidak berhak untuk melarang teecu menjadi murid mereka."
"Omitohud, bicaramu lancang sekali, Han Siong. Ketika Kakek Buyutmu, Susiok Pek Khun, menyerahlah engkau kepada pinceng, dia menghendaki agar engkau menjadi murid di sini. Dan setelah engkau menjadi seorang calon hwesio,berarti engkau menjadi murid Siauw-lim-pai dan pinceng tentu saja berhak melarang semua murid Siauw-lim-pai untuk berguru kepada orang lain!" .
"Teecu ingin sekali menjadi murid mereka, dan biarlah teecu tidak dianggap murid Siauw-lim-pai asal teecu diperbolehkan menjadi murid mereka!"
Ucapan Han Siong ini mengejutkan semua orang. Betapa beraninya anak itu! Akan tetapi, Ceng Hok Hwesio mengerutkan alisnya dan memandang kepada Han Siong penuh perhatian, kemudian memandang kepada dua orang hukuman yang masih belum pergi meninggalkan ruangan itu.
"Pinceng tidak akan merobah aturan. Kalau engkau menjadi hwesio di kuil kami, tentu saja engkau tidak boleh berguru kepada siapapun juga kecuali kepada pinceng. Akan tetapi kalau engkau mau menanggalkan jubah hwesio, memelihara rambut dan tidak menjadi murid Siauw-lim-pai lagi, tentu saja engkau boleh berguru kepada mereka."
"Kalau begitu teecu ingin menjadi orang biasa saja!" Han Siong berteriak. "Biarlah teecu di sini bekerja sebagai kacung saja, membersihkan kebun dan melanjutkan pekerjaan sehari-hari, juga mengurus keperluan kedua orang Paman dan Bibi, dan teecu menjadi murid mereka!"
Sebelum Ceng Hok Hwesio menjawab, Ci Kang berkata. "Kami kira permintaan Han Siong itu patut dan sudah sepantasnya kalau dipenuhi. Suhu tentu melihat betapa kami selalu patuh dan selama sepuluh tahun merenungkan dosa di kamar. Permintaan kami untuk mengambil murid kami kira tidak berlebihan, dan kebetulan anak ini pun suka menjadi murid kami. Kami sekali lagi mengharap kemurahan dan kebijaksanaan Suhu untuk meluluskan permintaan Han Siong agar menjadi murid kami."
Didesak oleh Han Siong dan dua orang hukuman itu, Ceng Hok Hwesio merasa kewalahan dan tidak enak hati kalau terus menerus menolak. "Baiklah, akan tetapi kalau kelak keluarga anak ini minta pertanggungan jawab, kalian yang harus memikulnya."
"Biarlah teecu yang akan bertanggung jawab!" Han Siong berseru dengan tegas.
"Omitohud... pinceng hanya melaksanakan sesuai dengan peraturan kuil. Mulai saat ini, engkau kembali menjadi orang biasa dan bekerja di sini hanya sebagai seorang kacung atau pembantu sukarela, tiada bedanya dengan mereka yang membayar kuil dan bekerja sukarela di kuil ini. Tentang hubunganmu dengan kedua orang hukuman, kami tidak tahu menahu asalkan tidak mengganggu ketenteraman kuil." Setelah berkata demikian, Ceng Hok Hwesio lalu membalikkan tubuhnya, kembali ke kamarnya. Jelas bahwa dia merasa tidak senang hati dan menekan kemarahan hatinya.
Han Siong merasa girang sekali dan dia pun menjatuhkan dirinya berlutut di depan kedua orang itu. "Suhu... Subo!" katanya sambil memberi hormat kepada kedua orang gurunya.
"Han Siong, bangkitlah dan mari ikut bersamaku ke dalam kamarku." kata Ci Kang dan Han Siong menurut. Mereka bertiga meninggalkan tempat itu. Hui Cu kembali ke kamarnya ai sebelah timur sedangkan Ci Kang mengajak Han Siong kembali ke kamarnya yang berada di ujung barat.
Ketika Han Siong ikut memasuki kamar itu, dia merasa terharu. Sebuah kamar kosong, sama sekali tidak ada perabot kamarnya. Dengan demikian, selama sepuluh tahun ini, orang gagah yang buntung lengan kirinya ini tinggal di lantai kamar itu tanpa beralaskan sesuatu! Kamar itu berdinding putih dan nampak bersih sekali. Dia diajak duduk bersila di atas lantai. Hawa dalam kamar itu cukup karena terdapat banyak lubang angin di atas jendela dan pintu. Sebuah lampu gantung terdapat di sudut kamar, tergantung dari langit-langit. Setiap beberapa hari sekali hwesio pengantar makanan selalu membawa sebotol minyak ke kamar ini, tentu untuk lampu itu, pikir Han Siong.
"Han Siong, setelah menjadi muridku, engkau harus menceritakan semua tentang keadaanmu dan keluargamu. Tadi Suhu Ceng Hok Hwesio mengatakan bahwa Kakekmu bernama Pek Khun, siapakah dia?"
"Dia adalah Kakek Buyut teecu bernama Pek Khun. Kakek Buyut teecu itu bertapa di Pegunungan Kun-lun-san dan sejak kecil teecu ikut di Kun-lun-san."
Sepasang mata Ci Kang memandang penuh selidik. "Kenapa begitu? Di mana Ayah Ibumu dan siapakah mereka?"
"Teecu tidak pernah mengenal Ayah dan Ibu. Menurut cerita Kakek Buyut teecu, Ayah adalah cucunya dan Ayah bernama Pek Kong. Karena teecu hendak dirampas orang-orang jahat, demikian kata Kakek Buyut teecu, maka teecu sejak bayi dibawa pergi oleh Kakek. Pek Khun ke Kun-lun-pai, kemudian dititipkan di sini untuk mempelajari ilmu. Menurut Kakek Pek Khun, Kakek dan juga Ayah teecu berturut-turut menjadi ketua perkumpulan Hati Putih yang didirikan oleh kakek buyut Pek Khun."
"Pek-sim-pang (Perkumpulan Hati Putih)? Hemm, belum pernah aku mendengarnya. Ceritamu menarik dan aku yakin engkau keturunan orang-orang gagah."
"Teecu sendiri tidak banyak tahu tentang keluarga teecu, dan teecu ingin sekali tahu kenapa Suhu dan Subo sampai menjalani hukuman di sini. Kalau boleh teecu mengetahui maukah Suhu menjelaskan hal yang teecu ingin sekali tahu agar teecu tidak menjadi penasaran lagi?"
Mendengar pertanyaan anak itu, Ci Kang termenung. Semua peristiwa yang pernah terjadi pada dirinya dan Hui Cu kini terbayang semua olehnya. Ketika dia berjumpa dengan Hui Cu di kebun, keduanya merana dan berduka karena orang-orang yang dicinta telah menikah dengan orang lain, keduanya saling tertarik, merasa senasib sependeritaan dan merasa saling berkasihan. Lalu keduanya pergi bersama, tanpa kata apa pun di mulut, keduanya seperti telah bersepakat untuk menghadapi sisa hidup ini bersama-sama.
Mereka berdua lalu pergi naik turun gunung, keluar masuk hutan besar dengan hati nelangsa dan prihatin. Setelah lewat beberapa pekan, baru masing-masing mendapat kenyataan betapa mereka dapat bergaul dengan akrab, bahkan ada suatu ikatan istimewa dalam batin mereka, mungkin didorong oleh rasa iba dan senasib. Kemudian, di dalam sebuah hutan yang sunyi, di suatu malam yang diterangi bulan purnama, dengan hawa yang sejuk terjadilah hal itu di antara mereka! Dorongan berahi mereka membuat mereka lupa akan segala dan terjadilah hubungan yang amat mesra itu dengan suka rela.
Pada keesokan harinya, Hui Cu menangis dan Ci Kang termenung. Keduanya menyesali apa yang telah mereka lakukan. Teringat pula mereka akan nasib mereka yang buruk. Teringat betapa mereka berdua adalah keturunan orang-orang sesat dan timbul keraguan di dalam hati mereka apakah mereka juga tidak menuruni kesesatan orang tua mereka. Dalam keadaan putus asa dan semakin berduka disertai penyesalan, mereka lalu pergi ke kuil Siauw-lim-si di tepi Sungai Cin-sha di Pegunungan Heng-tuang-san yang sunyi itu. Dan mereka lalu pergi menghadap ketua kuil, Ceng Hok Hwesio, mohon untuk dapat diterima menjadi hwesio dan nikouw untuk mempelajari ilmu keagamaan dan kebatinan untuk menebus dosa-dosa mereka yang lalu.
Ceng Hok Hwesio amat tertarik melihat pemuda buntung lengan kirinya yang nampak gagah dan tampan bertubuh tinggi tegap itu, apalagi melihat Hui Cu yang cantik jelita. Hatinya terharu dan merasa kasihan melihat dua orang muda yang ingin menebus dosa dan masuk menjadi hwesio dan nikouw itu. Diterimanya mereka dengan hati rela dan mulai saat itu, dua orang muda yang gagah perkasa ini pun menjadi hwesio dan nikouw, menggunduli rambut kepala dan mengenakan pakaian calon pendeta, siang malam mempelajari ilmu keagamaan di dalam kuil, dipimpin sendiri oleh Ceng Hok Hwesio. Karena itu, Ceng Hok Hwesio merupakan guru mereka dan mereka pun menyebut suhu, walaupun mereka tidak pernah minta diajari ilmu silat dari ketua kuil itu. Melihat ketekunan mereka, Ceng Hok Hwesio merasa semakin suka dan mengajarkan keagamaan dengan tekun.
Yang sering kita namakan bisikan iblis yang suka membujuk manusia untuk melakukan perbuatan yang tidak sepatutnya, sesungguhnya adalah bisikan dari pikiran kita sendiri. Pikiran yang menyimpan kenang-kenangan senang dan susah, membentuk Si Aku yang selalu ingin mengejar kesenangan dan menjauhi ketidaksenangan. Selain pandai menyimpan kenangan masa lalu, juga Si Aku suka membayang-bayangkan kesenangan yang khayal, dua hal inilah yang mendorong orang melakukan sesuatu yang tidak patut. Keinginan untuk mencapai dan memperoleh hal-hal menyenangkan yang dibayangkan itulah yang menjerumuskan kita ke dalam perbuatan-perbuatan sesat. Keinginan memperoleh kesenangan ini besar sekali kemungkinannya melahirkan cara-cara pengejaran yang jahat. Pengejaran kesenangan yang berupa uang dapat mendorong orang melakukan korupsi, penipuan, pencurian, pemerasan dan sebagainya lagi. Pengejaran kesenangan yang berupa kedudukan dapat mendorong orang untuk saling jegal, saling hantam dan mungkin saling bunuh dan menimbulkan perang. Pengejaran kesenangan yang berupa sex dapat mendorong orang untuk melacur, berjina, memperkosa dan sebagainya lagi.
Sejak pertama kali melihat Hui Cu, Ceng Hok Hwesio yang pada waktu itu berusia kurang lebih lima puluh tahun, telah merasa tertarik dan kagum sekali. Hwesio ini sejak kecil hidup di dalam kuil dan belum pernah bergaul dekat dengan wanita. Kini sebagai muridnya, Hui Cu seringkali berada dalam satu ruangan dengan dia, untuk belajar membaca kitab agama dan mendengarkan penjelasan Ceng Hok Hwesio tentang artinya. Di dalam pergaulan ini, terjadi sesuatu di dalam batin Ceng Hok Hwesio. Dia merasa semakin suka, bahkan ada gairah cinta mengusiknya.
Hui Cu, biarpun ketika itu baru berusia sembilan belas tahun, namun ia adalah seorang gadis yang sudah malang-melintang di antara orang-orang sesat, tentu saja dapat melihat sikap dan pandang mata Ceng Hok Hwesio kepadanya. Hal ini amat mengejutkan hatinya, juga mendatangkan perasaan tidak senang dan penolakannya ia perlihatkan dengan jelas dalam sikap dan pandang matanya terhadap guru agama itu. Dan Ceng Hok Hwesio juga dapat menangkap isyarat-isyarat penolakan ini. Hatinya menjadi pahit dan kemarahan mulai timbul. Dia masih dapat mengekang nafsu berahi, hanya ingin berdekatan, ingin bermesraan dengan gadis itu yang sudah dinyatakannya dengan pandang matanya. Akan tetapi, gadis itu menolaknya, bahkan pada pandang mata gadis itu terkandung pula ejekan dan pandangan merendahkan!
Kemudian, terjadilah sesuatu yang menghebohkan. Setelah berada di kuil itu selama sembilan bulan, pada suatu malam Hui Cu melahirkan seorang anak perempuan! Selama ini ia dapat menyembunyikan kandungannya di balik jubah nikouw yang longgar, akan tetapi setelah melahirkan, tentu saja ia tidak mampu menyembunyikannya lagi.
Bagaikan seekor harimau kelaparan. Ceng Hok Hwesio menyerbu kamar muridnya itu. Mukanya merah, matanya terbelalak dan kedua tangannya dikepal. "Omitohud... engkau perempuan tidak tahu malu!" Dia memaki.
Pada saat itu, Ci Kang maju berlutut. "Harap Suhu bersikap tenang dan tidak menyalahkan Hui Cu. Sebenarnya, teecu yang bersalah. Akan tetapi, semua ini terjadi di luar pengetahuan kami. Selama kami berdua berada di sini, kami tidak pernah melakukannya, dan ternyata kandungan itu terbawa tanpa diketahui Hui Cu."
"Keparat! Jadi engkaukah bapaknya?" bentak Ceng Hok Hwesio dan diam-diam Ci Kang terkejut dan heran mendengar ucapan kasar itu keluar dari mulut suhunya yang biasanya bersikap tenang, sabar dan lembut itu.
"Benar, Suhu. Sebelum kami berdua datang ke kuil ini, kami telah... telah...akan tetapi kami tidak tahu bahwa Hui Cu telah mengandung."
"Hemm, apakah kalian ini suami isteri? Sudah menikah?"
Ci Kang menggeleng kepalanya. "Kami tidak berbohong kepada Suhu ketika kami datang dan mengatakan bahwa kami hanyalah sahabat baik yang senasib sependeritaan. Kami bukan suami isteri....."
"Omitohud... semoga kuil kami diampuni dari dosa-dosa yang amat besar ini. Bukan suami isteri dan kini terlahir seorang anak! Dan kalian adalah seorang hwesio dan seorang nikouw. Memalukan! Memalukan pinceng, memalukan kuil, memalukan Siauw-lim-si.....!"
"Ampun, Suhu, kami tidak sengaja. Andaikata kami tahu bahwa Hui Cu sudah mengandung tentu kami tidak akan berani menjadi murid Suhu."
"Andaikata... andaikata... lebih baik melihat kenyataan yang ada sekarang! Kalian telah melakukan dosa besar, mencemarkan nama dan kehormatan, juga kesucian kuil kami. Untuk itu, sepatutnya kalian dihukum mati. Akan tetapi, pinceng adalah seorang suci yang tidak mau mengotorkan tangan dengan pembunuhan. Sebagai gantinya, kalian harus dihukum di dalam Ruangan Renungan Dosa agar kalian merenungkan dosa kalian yang besar itu dan bertaubat. Sanggupkah kalian menerima hukuman merenungkan dosa itu?"
Ci Kang dan Hui Cu yang juga berlutut mendengarkan dengan hati pilu, apalagi pada saat itu bayi mereka menangis dengan suara nyaring sekali.
"Bagaimanapun juga, kalian harus menerima hukuman yang akan pinceng jatuhkan, karena kalau kalian menolak, berarti terpaksa pinceng harus menjatuhkan hukuman mati!" kembali terdengar suara Ceng Hok Hwesio.
"Teecu... sanggup..." kata Hui Cu dan Ci Kang terkejut sekali. Hukuman itu belum dijatuhkan dan Hui Cu sudah menyatakan kesanggupannya! Melihat betapa Hui Cu sudah sanggup, tidak ada pilihan lain baginya untuk menyatakan kesanggupannya juga.
"Teecu sanggup."
"Omitohud, semoga Sang Buddha mengampuni kalian. Pinceng menjatuhkan hukuman bertapa dalam dua kamar Renungan Dosa selama masing-masing dua puluh tahun!"
Semua hwesio yang berada di situ terkejut bukan main. Juga Ci Kang terbelalak, akan tetapi ketika dia melihat pandang mata Ceng Hok Hwesio yang dingin dan tegas, dia hanya dapat menarik napas panjang. Mereka berdua sudah menyatakan kesanggupan, maka mau tidak mau harus menjalani hukuman yang luar biasa beratnya itu.
Semua peristiwa yang terjadi pada sepuluh tahun yang lalu itu terbayang di dalam benak Ci Kang ketika muridnya, Han Siong, bertanya kepadanya tentang sebab hukuman itu. Tentu saja dia tidak dapat menceritakan semua hal sejelasnya karena Han Siong masih terlalu kecil untuk mengetahui semua hal itu. Usianya baru dua belas tahun, belum dewasa.
"Han Siong, Suhu dan Subomu ini telah melakukan pelanggaran di dalam kuil. Kami berdua telah menjadi suami isteri dan Subomu melahirkan seorang anak, maka kami harus menjalani hukuman selama dua puluh tahun di Kamar Renungan Dosa......"
"Tapi itu tidak adil! Apa salahnya menjadi suami isteri dan mempunyai anak?"
"Di kuil ini dianggap dosa besar, muridku. Apalagi ketika itu kami telah menjadi pendeta. Kami sama sekali tidak tahu bahwa pada waktu kami masuk menjadi murid kuil, Subomu sudah mengandung. Andaikata kami tahu, tentu kami tidak menjadi hwesio dan nikouw dan tidak melakukan pelanggaran dan dosa."
"Tapi, dua puluh tahun untuk itu? Terlalu berat dan tidak adil, Suhu!" kembali Han Siong berseru.
tersenyum. "Sstt, sudahlah, jangan ribut-ribut. Kami berdua sudah menerimanya dengan rela. Kami anggap sebagai penebusan dosa-dosa kami dan nenek moyang kami, dan juga sebagai tempat bertapa, kamar-kamar kami amat baik, juga kami perlu tempat yang rahasia untuk melakukan latihan-latihan."
Han Siong mengangguk-angguk. "Ya, memang benar, Suhu. Setiap saat, kalau Suhu dan Subo kehendaki, tentu Suhu dan Subo dapat saja keluar dari kamar ini, apalagi kalau malam tiba......"
"Eh, kau tahu akan hal itu?" gurunya bertanya heran.
"Pernah teecu melihat dua bayangan berkelebat masuk dan dikejar oleh bayangan Lam-hai Gim-lo. Bukankah dengan demikian berarti bahwa Suhu dan Subo suka keluar dari kamar secara rahasia?"
Kembali gurunya mengangguk-angguk. "Engkau benar, dan memang kami perlu kadang-kadang keluar. Anak kami itu, seorang anak perempuan, tentu saja tidak boleh tinggal di sini dan kami menyerahkannya kepada suami isteri petani she Cu di kaki gunung untuk dirawat. Mereka tidak mempunyai anak maka mereka menerima dengan senang hati. Nah, kami kadang-kadang pergi menjenguk anak kami dan ada urusan-urusan lain yang penting yang memaksa kami kadang-kadang meninggalkan kamar. Akan tetapi, kami akan tetap memenuhi masa hukuman kami, karena sebagai orang-orang gagah kami harus memenuhi janji. Hal inilah yang merisaukan kami, Han Siong, yaitu bahwa sejak setahun ini, anak perempuan kami itu telah lenyap."
"Lenyap... ?" Han Siong terbelalak memandang kepada wajah suhunya. "Bagaimana bisa lenyap, Suhu? Apa yang telah terjadi?"
Ci Kang menarik napas panjang, lalu melanjutkan ceritanya. Setelah dia dan Hui Cu menjalani hukuman, keduanya di waktu malam seringkali keluar dari tempat tahanan itu secara diam-diam untuk pergi mengunjungi dan menengok puteri mereka yang mereka beri nama Siangkoan Bi Lan, di rumah keluarga petani Cu Pak Sun di kaki pegunungan, di sebuah desa yang amat kecil sederhana. Tentu saja semenjak mereka tahu bahwa Hui Cu mengandung, mereka melanjutkan hubungan mereka sebagai suami isteri tanpa penyesalan lagi, apalagi setelah mereka tidak menjadi hwesio dan nikouw, melainkan orang-orang biasa yang sedang melaksanakan hukuman di Kamar Renungan Dosa. Sejak dihukum, ketua kuil tidak lagi menganggap mereka sebagai anggauta Siauw-lim-pai.
Mereka berdua bukan saja menengok anak mereka secara teratur, sedikitnya sepekan sekali, akan tetapi mereka juga mulai mengajarkan dasar-dasar ilmu silat kepada Bi Lan, sejak anak itu berusia enam tahun. Dan secara kebetulan sekali, ketika dia sedang memeriksa keadaan kamar di mana dia ditahan, di bawah lantai, Siangkoan Ci Kang menemukan sebuah peti hitam yang berisi dua buah kitab pelajaran ilmu silat. Yang sebuah adalah ilmu silat pedang dan yang lain ilmu silat tangan kosong. Tidak ada nama pada kulit kitab-kitab itu, hanya peti hitamnya terukir gambar Dewi Kwan Im. Setelah mendapat kenyataan bahwa ilmu-ilmu silat di dalam dua buah kitab itu ternyata merupakan ilmu-ilmu yang aneh dan hebat, Ci Kang girang sekali dan bersama-sama Hui Cu dia lalu mempelajari isi kitab. Ternyata, ilmu-ilmu silat itu amat aneh dan sukar untuk dipelajari. Akan tetapi, setelah mereka mempelajari selama sepuluh tahun, mereka sudah mulai dapat menguasai. Dapat dibayangkan betapa sukarnya mempelajari ilmu-ilmu itu kalau dua orang berkepandaian tinggi seperti mereka berdua saja baru dapat menguasai ilmu-ilmu itu setelah belajar selama sepuluh tahun! Karena kedua ilmu itu tidak ada namanya, mengingat akan gambar Dewi Kwan Im pada petinya, Ci Kang dan Hui Cu lalu memberi nama Kwan-im-kiam-sut (Ilmu Pedang Dewi Kwan Im) dan Kwan-im Sin-kun (Silat Sakti Dewi Kwan Im) kepada dua ilmu itu. Dan ternyata bahwa Kwan-im Sin-kun telah berhasil mereka pergunakan dan dapat mengalahkan Lam-hai Giam-lo.
Demikianlah, dengan adanya Bi Lan yang cerdik dan lincah jenaka dan dengan adanya dua buah kitab pelajaran ilmu silat itu, Ci Kang dan Hui Cu tidak terlalu berat menjalani hukuman yang dijatuhkan kepada mereka. Apalagi mereka saling memiliki dan mereka saling mencinta. Hari demi hari mereka lewatkan dengan tenang, memperdalam ilmu silat dan memperkuat sinkang dengan jalan bersamadhi.
Akan tetapi, kurang lebih setahun yang lalu, ketika pada suatu malam mereka pergi berkunjung ke dusun untuk menengok puteri mereka, mereka melihat dusun itu porak-poranda dan rusak binasa. Mereka terkejut sekali dan dari beberapa orang yang selamat dari kebinasaan, mereka mendengar berita yang amat mengejutkan, yaitu bahwa dusun itu kedatangan iblis-iblis yang mengamuk dan saling berkelahi dengan hebat. Banyak di antara penghuni dusun yang tewas karena amukan yang membabi buta, dan di antara mereka yang tewas adalah Cu Pak Sun dan isterinya. Sementara itu, Bi Lan lenyap tanpa meninggalkan bekas! Tentu saja Ci Kang dan Hui Cu cepat melakukan penyelidikan dan mereka terkejut melihat betapa mayat-mayat yang masih berada di dalam peti mati, karena peristiwa itu baru terjadi kemarin, ternyata menunjukkan bahwa mereka tewas oleh pukulan-pukulan sakti! Mereka berusaha mencari ke sana-sini namun tanpa hasil. Anak mereka lenyap tanpa meninggalkan bekas, tidak tahu pergi ke mana atau dibawa oleh siapa! Hui Cu menangis dan tentu akan nekat meninggalkan tempat hukuman kalau tidak dihibur dan dibujuk oleh Ci Kang.
"Tidak ada gunanya." demikian antara lain Ci Kang menghibur. "Kita tidak tahu ke mana perginya Bi Lan dan tidak tahu pula siapa yang membawanya pergi. Ke mana kita harus mencari? Dan tidak mungkin meninggalkan hukuman yang sudah kita lalui setengahnya. Ingat, bukankah sejak dulu kita memang sengaja hendak menebus dosa orang tua kita? Percayalah, keprihatinan kita selama ini bukan tidak ada gunanya dan Bi Lan tentu akan selamat dan kelak dapat berjumpa kembali dengan kita. Anak itu tidak dibunuh orang, melainkan mungkin melarikan diri atau diculik. Dan kalau diculik, berarti penculiknya bukan bermaksud membunuhnya."
Akhirnya Hui Cu dapat dihibur dan ia semakin giat berlatih sampai perhatian mereka tertarik kepada Han Siong. Anak itu setiap hari menyapu di depan kamar tahanan dan mereka berdua melihat bahwa anak itu memiliki bakat yang amat baik! Dan usianya sebaya atau sedikit saja lebih tua dari Bi Lan. Timbul niat di hati mereka untuk mengambil Han Siong sebagai murid. Mereka lalu melayangkan surat kepada ketua kuil, mempergunakan kepandaian mereka di waktu malam. Ketua kuil menerima surat itu dan karena itulah dia menyuruh Han Siong memanggil dua orang tahanan itu untuk menghadap dan itulah pertama kalinya Han Siong bertemu muka dengan mereka.
"Demikianlah, muridku. Kami kehilangan anak kami yang tercinta dan permintaan kami untuk mengambil engkau sebagai murid ditolak. Kemudian terjadilah peristiwa dengan Lam-hai Giam-lo sehingga akhirnya engkau dapat juga menjadi murid kami walaupun engkau harus pula meninggalkan jubah hwesio. Dan dapatkah engkau menduga, apa sebabnya kami, selain melihat engkau berbakat, ingin sekali mengangkatmu menjadi murld kami?"
Han Siong adalah seorang anak yang amat cerdik. Mendengar penuturan suhunya dia dapat menghubungkan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya, maka tanpa ragu-ragu lagi dia menjawab, "Setelah memperoleh ilmu dari Suhu dan Subo sehingga teecu cukup kuat, teecu akan pergi mencari Adik Bi Lan sampai dapat!"
Mendengar ucapan ini, Ci Kang tersenyum dan merangkul pundak muridnya yang duduk di depannya. Dia merasa girang, juga bangga dan kagum. "Ah, sudah kuduga bahwa engkau memang cerdik sekali, Han Siong. Memang itulah yang kami harapkan! Setelah kami menganggap engkau cukup kuat, kami minta agar engkau pergi mencari Bi Lan sampai dapat, dan menyerahkan dua buah kitab pusaka kami kepadanya, juga membimbingnya untuk mempelajari kitab-kitab Dewi Kwan Im itu. Kami sendiri dengan susah payah mempelajarinya karena kami belajar tanpa pembimbing. Kalau dibimbing, tentu orang dapat menguasainya lebih cepat lagi."
Demikianlah, mulai hari itu, Han Siong membiarkan rambut di kepalanya tumbuh, mengenakan pakaian biasa, akan tetapi masih bekerja biasa. Hanya sekarang dia tidak diperbolehkan membersihkan bagian yang dianggap suci dan hanya menyapu di pekarangan dan kebun, memikul air dan pekerjaan lain. Tidak lagi mempelajari kitab-kitab agama walaupun dia masih boleh membaca kitab-kitab kuno yang berisi cerita dan filsafat dari ruang perpustakaan. Dan di waktu malam, dia berlatih ilmu silat di bawah pengawasan suhu dan subonya dan dia berlatih dengan amat giatnya. Kedua orang gurunya dengan penuh semangat melatihnya karena dua orang ini mengharapkan agar Han Siong cepat menguasai ilmu silat yang tinggi agar dapat diharapkan untuk mencari dan menemukan puteri mereka yang hilang. Tentu saja Ci Kang dan Hui Cu tidak secara langsung mengajarkan ilmu silat dari dua kitab Kwan Im, karena masih terlalu tinggi bagi Han Siong. Pemuda ini dilatih dengan ilmu-ilmu silat mereka yang juga amat tinggi sebagai dasar untuk kelak dapat menerima kedua ilmu silat yang luar biasa itu
Kakek itu sudah tua sekali, usianya tentu sudah mendekati delapan puluh tahun. Seorang kakek raksasa yang tubuhnya amat tinggi besar, kepalanya gundul, jubahnya kotak-kotak berwarna merah dan kuning, tangan kirinya memegang tasbeh yang seolah-olah sudah menjadi bagian dari tangannya karena tak pernah dilepasnya. Biarpun dia sudah tua sekali, namun pada wajahnya nampak kesegaran usia muda, bahkan sepasang matanya masih memiliki sinar yang gembira dan cerah. Sejak tadi, kakek itu duduk bersila di atas batu besar di bawah pohon raksasa, tubuhnya tak bergerak dan tegak, hanya jari-jari tangan kiri saja yang memutar-mutar tasbehnya. Agaknya dia sedang berdoa.
Setelah selesai berdoa, kakek pendeta gundul itu membuka kedua matanya kemudian memandang ke kanan kiri seperti mencari-cari. Karena tidak melihat yang dicarinya, dia lalu turun dari tempat dia bersila, dan dengan langkah lembut dia lalu mencari ke arah anak sungai yang mengalir tak jauh dari situ. Anak itu suka sekali bermain di tepi sungai, pikirnya sambil menahan senyum. Akhirnya, dia melihat seorang anak laki-laki berusia kurang lebih dua belas tahun sedang duduk termenung di tepi sungai yang airnya amat jernih itu. Kakek pendeta itu mengintai dari balik semak-semak.
Anak laki-laki itu berwajah tampan dan cerah, sepasang matanya tajam bersinar-sinar, bibirnya selalu menyungging senyum dan wajahnya berseri gembira. Pada saat itu, dia berdongak memandang ke arah pohon tak jauh dari situ, di antara daun-daun yang lebat dan seperti terpesona. Kakek itu menjadi tertarik dan ikut memandang, mencari-cari dengan pandang matanya dan ketika dia melihat apa yang sedang dipandang oleh anak itu, dia tersenyum lebar, akan tetapi wajahnya seperti tersipu malu. Kiranya yang dipandang oleh anak laki-laki itu adalah sepasang burung yang sedang berkasih-kasihan dan bermain cinta. Paruh mereka saling bersentuhan seperti orang bercumbu dan berciuman dan berulang-ulang burung gereja jantan itu naik ke atas punggung burung betina yang mendekam pasrah. Dan agaknya anak itu demikian terpesona, mengikuti setiap gerakan kedua ekor burung itu. Akhirnya sepasang burung gereja itu terbang pergi dan barulah anak itu seperti sadar dari dalam pesona yang amat menarik hatinya.
Alam menjadi guru, demikian kakek itu berpikir. Selagi dia hendak menegur, tiba-tiba anak itu memandang ke arah tepi sungai dan dia sendiri pun tertarik. Kebetulan sekali, pada saat itu muncul sepasang kijang mendekati tepi sungai, jelas bahwa sepasang kijang itu hendak minum air yang jernih. Mereka minum dengan lahap, kemudian si Jantan timbul gairah dan mereka pun berkejaran sebentar di tepi sungai. Yang betina nampaknya saja melarikan diri, akan tetapi hanya berputaran di sekitar tepi sungai itu, di mana tumbuh rumput hijau yang gemuk dan sikapnya seperti mempermainkan si Jantan. Akhirnya ia pun menyerah dan mereka berdua bermain cinta di tepi sungai.
Kakek tua renta itu melihat betapa anak laki-laki itu kini bangkit, memandang dengan muka menjadi kemerahan dan mulut agak terbuka, napasnya agak terengah-engah. Dia pun mengerti bahwa alam telah memperlihatkan kekuasaannya. Tanda-tanda peralihan dari masa kanak-kanak menjadi remaja mendekati dewasa mulai nampak pada diri anak laki-laki itu. Kakek itu pun tidak mau mengganggu. Biarkan anak itu mempelajari kenyataan hidup dari alam sekitarnya, pikirnya. Dia sendiri lalu duduk bersila, memejamkan kedua matanya dan semua penglihatan itu lenyap dari bayangan dalam benaknya.
Akhirnya sepasang kijang itu pun pergi dari situ dan anak itu pun kini duduk kembali dan nampak dahi dan lehernya basah oleh keringat. Dia masih tenggelam ke dalam renungan, membayangkan kembali segala yang dilihatnya tadi ketika suara halus memanggilnya.
"Hay Hay.....!"
Anak itu terkejut karena seperti terseret keluar dari alam lamunannya, akan tetapi hanya sebentar saja karena wajahnya segera berubah cerah ketika dia menoleh dan melihat kakek itu berdiri tak jauh di belakangnya.
"Suhu!" serunya gembira dan dia cepat meloncat bangun dan lari menghampiri kakek itu, lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu. "Sepagi ini Suhu sudah berada di sini!" Biasanya, kakek itu tentu masih duduk bersamadhi di depan pondok sambil mandi cahaya matahari. Setiap pagi kakek itu bersila dengan dada telanjang menghadap matahari, maka kehadiran gurunya di tepi anak sungai itu mengherankan hatinya.
Anak itu adalah Hay Hay yang tadinya menjadi anak angkat Lam-hai Siang-mo. Seperti telah diceritakan di bagian depan. Hay Hay akhirnya tahu akan rahasia kedua orang tua yang tadinya dianggap sebagai orang tua kandung itu, tahu bahwa mereka itu sebetulnya adalah penjahat-penjahat besar yang menculiknya dari tangan kedua orang tuanya yang aseli, yaitu keluarga Pek. Akan tetapi hal ini pun masih meragukan karena setelah dia menjadi murid See-thian Lama, kakek gundul itu dan dibawa ke Pegunungan Himalaya, dia mendengar dari gurunya bahwa yang dimaksudkan dengan sebutan Sin-tong adalah putera keluarga Pek dari Pek-sim-pang, yaitu anak yang terlahir dengan tanda merah di punggung. Akan tetapi, dia tidak mempunyai tanda merah itu, maka biarpun Siangkoan Leng dan Ma Kim Li, yaitu suami isteri Lam-hai Siang-mo sudah mengaku bahwa "mereka menculiknya dan menukar dengan anak mereka sendiri dari keluarga Pek, masih diragukan apakah dia benar-benar putera keluarga Pek.
"Karena itulah, Hay Hay, pinceng nasihatkan agar engkau jangan tergesa-gesa mempergunakan nama keturunan Pek. Kelak kalau engkau sudah besar dan berkepandaian, engkau boleh menyelidiki sendiri tentang asal-usulmu itu."
Selama lima tahun, Hay Hay diajak bertapa oleh See-thian lama, dibawa ke tempat sunyi di tepi sungai kecil yang airnya jernih itu, di tengah hutan di kaki Pegunungan Himalaya. Setiap hari, kakek itu menggemblengnya, mengajarkan dasar-dasar ilmu silat dan juga mengajarkan ilmu baca tulis. Karena kakek itu merupakan seorang di antara Pat-sian (Delapan Dewa) yang berilmu tinggi, maka tentu saja di bawah bimbingannya, Hay Hay menjadi seorang anak yang luar biasa. Ditambah lagi bakat yang amat baik pada dirinya, maka biarpun usianya baru dua belas tahun dan dia baru mempelajari ilmu silat selama lima tahun, kepandaiannya sudah amat hebat, jauh melampaui tingkat orang-orang dewasa yang belajar ilmu silat selama belasan tahun.
Akan tetapi, waktu yang lima tahun itu sebagian dihabiskan untuk latihan-latihan dasar, sehingga tidaklah mungkin bagi Hay Hay untuk mempelajari semua ilmu silat tinggi dari See-thian Lama. Oleh karena itu, See-thian Lama hanya mengajarkan teori-teori gerakan ilmu-ilmu silat yang pilihan, untuk dihafal di luar kepala oleh Hay Hay.
"Ilmu-ilmu ini membutuhkan latihan yang masak Hay Hay. Akan tetapi, pinceng kalah cerdik oleh Ciu-sian Sin-kai. Pinceng melatihmu lebih dulu, sama saja dengan memberimu dasar-dasar yang kuat sehingga lima tahun berikutnya, Si Jembel itu akan menerimamu dalam keadaan siap menerima segala macam ilmu silat tinggi. Sedangkan sekarang, engkau hanya dapat menghapal ilmu-ilmu silat dariku. Akan tetapi, kelak, kalau tubuhmu sudah kuat, engkau akan dapat melatih ilmu-ilmu yang sekarang kau hapal di luar kepala ini."
Hay Hay dapat mengerti apa yang dikemukakan suhunya, maka dia pun mentaatinya dan menghapalkan ilmu-ilmu itu dengan sungguh-sungguh. Dari See-thian Lama, terutama sekali dia mendapatkan ilmu meringankan tubuh yang luar biasa sekali, yaitu Yan-cu Coan-in (Burung Walet Menembus Awan) dan ilmu langkah yang luar biasa bernama Jiauw-pouw-poan-soan (Langkah Ajaib Berputar-putar).
Ketika See-thian Lama, mendengar ucapan muridnya yang merasa heran mengapa sepagi itu dia sudah menyusul muridnya di tepi anak sungai, dia tertawa. "Omitohud, betapa cepatnya sang waktu berjalan, Hay Hay. Kalau kita mengenangkan masa-masa lalu kita, seolah-olah baru terjadi kemarin saja. Pinceng pun kini sudah begini tua tanpa pinceng rasakan! Dan tahukah engkau bahwa kita telah berada di sini selama hampir lima tahun?"
Hay Hay dapat menyembunyikan kagetnya mendengar ucapan itu. "Tapi...tapi... teecu masih ingin belajar terus dari Suhu!"
Kakek itu tertawa. Anak ini memang cerdik sekali, kalau bicara langsung saja kepada sasarannya.
"Hay Hay, satu di antara nilai seorang manusia yang perlu dijaga adalah mulut yang harus dapat dipercaya. Sekali berjanji, seorang gagah akan memenuhinya dan mempertahankannya dengan taruhan apa pun juga. Pinceng telah berjanji dengan Ciu-sian Sin-kai bahwa pinceng akan mendidikmu selama lima tahun, kemudian akan menyerahkan engkau kepadanya untuk dididik lima tahun lamanya."
Hay Hay bukan tidak suka berguru kepada Ciu-sian Sin-kai, kakek pengemis yang juga amat lihai itu, akan tetapi dia belum merasa puas berguru kepada pendeta Lama ini. Namun dia tahu pula bahwa orang-orang seperti gurunya ini tentu tidak akan mau melanggar janjinya, maka membantah pun tidak akan ada gunanya.
"Akan tetapi, Suhu. Di manakah tempat tinggal Suhu Ciu-sian Sin-kai itu? Ke mana kita harus mencarinya?"
"Ha-ha-ha, kaukira dia seorang jembel miskin yang berkeliaran ke mana-mana mencari sisa nasi? Ha-ha, jangan salah sangka, muridku. Sin-kai adalah seorang yang kaya-raya, dia majikan Pulau Hiu yang selain kaya-raya, memiliki pula banyak anak buah dan hidup sebagai raja di pulau itu. Dalam beberapa hari ini dia pasti akan muncul untuk menjemputmu."
Diam-diam Hay Hay merasa terkejut juga. Hal ini sungguh tak pernah disangkanya. Orang-orang yang menjadi guru-gurunya ini memang aneh. See-thian Lama yang menjadi pendeta Lama, sepatutnya hidup di dalam biara yang besar di Tibet, atau setidaknya tentu memiliki kuil yang besar di mana dia menjadi ketuanya. Akan tetapi kenyataannya sama sekali tidak demikian. Pendeta ini membawanya ke tempat sunyi itu dan mereka hanya tinggal di sebuah pondok darurat yang mereka bangun. Sebaliknya, orang berpakaian tambal-tambalan seperti pengemis itu, Ciu-sian Sin-kai, malah hidup sebagai raja yang kaya-raya di sebuah pulau.
Akan tetapi sebelum dia mengeluarkan suara, tiba-tiba See-thian Lama memegang lengannya dan berbisik. " Ada orang-orang datang ke sini!"
Baru saja dia bicara, nampak berkelebat tiga bayangan orang dan tahu-tahu di situ sudah muncul tiga orang pendeta Lama. Sikap mereka keren akan tetapi mereka tetap menghormati See-thian Lama, bahkan mereka sudah merangkap kedua tangannya di depan dada sebagai penghormatan dan ketiganya menyebut, "Susiok!"
See-thian Lama menatap wajah ketiga orang pendeta Lama itu. Mereka itu rata-rata berusia lima puluh sampai enam puluh tahun, dan dari sikap dan bentuk tubuh mereka, dapat diduga bahwa mereka adalah orang-orang yang berilmu tinggi. See-thian lama tidak mengenal semua pendeta Lama, akan tetapi dari sebutan mereka, dia tahu bahwa mereka ini adalah pendeta-pendeta tingkat dua di Tibet, satu generasi lebih muda darinya.
"Kalian berlima darimanakah dan ada keperluan apa datang berkunjung ke sini?" tanya See-thian Lama dengan sikap dan suara yang lembut.
Seorang di antara tiga pendeta lama itu, yang bertubuh jangkung kurus berjenggot panjang, melangkah maju mewakili dua orang temannya. Pendeta ini bersikap halus, akan tetapi suaranya terdengar tegas dan keras. "Susiok, maafkan kalau kami bertiga mengganggu Susiok. Akan tetapi kami mendukung tugas yang diberikan oleh para Suhu di Tibet untuk mencari Sin-tong." Dia menghentikan kata-katanya dan mengerling ke arah Hay Hay yang mendengarkan dengan hati tertarik, apalagi ketika pendeta itu menyebut Sin-tong yang mempunyai hubungan erat dengan dirinya.
See-thian Lama tetap tersenyum walaupun sinar matanya menjadi berkilat. "Mencari Sin-tong kenapa datang ke sini?"
"Karena kami merasa yakin bahwa anak yang berada bersama Susiok ini adalah Sin-tong dan kami harus mengajaknya kembali ke Tibet."
"Hemmm, apa alasanmu bahwa muridku ini Sin-tong?"
"Kami merasa yakin, Susiok, berdasarkan penyelidikan kami yang bertahun-tahun lamanya. Mula-mula Lam-hai Siang-mo datang ke Tibet dan memberi tahu kepada para Suhu bahwa Sin-tong telah terampas dari tangan mereka oleh Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi, dua orang di antara Empat Setan. Para Suhu mengutus kami bertiga untuk pergi mencari kedua orang tokoh iblis itu. Bertahun-tahun kami merantau dengan susah payah dan setelah kami berhasil menemukan dua orang itu, mereka mengatakan bahwa Sin-tong telah terampas pula dari tangan mereka oleh Susiok dan Ciu-sian Sin-kai. Oleh karena itu, kami segera mencari Susiok di sini dan melihat anak ini......"
See-thian Lama tersenyum. Kiranya dua pasang iblis itu telah mencari cara lain untuk membalas kekalahan mereka, yaitu dengan melapor kepada para pendeta Lama di Tibet! "Akan tetapi, muridku ini sama sekali bukan Sin-tong!" katanya.
"Maaf, Susiok. Bukankah anak ini yang diperebutkan di antara Lam-hai Siang-mo, Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi? Bukankah anak ini yang tadinya telah dibawa oleh sepasang suami isteri itu untuk diserahkan ke Tibet?"
See-thian Lama mengerti bahwa tentu saja suami isteri iblis itu berbohong dan memutarbalikkan kenyataan tentang diri Hay Hay, mengatakan bahwa mereka berdua tadinya berniat menyerahkan Hay Hay ke Tibet! Akan tetapi, memang Hay Hay yang diperebutkan itu maka dia pun mengangguk. "Benar, memang anak ini yang diperebutkan, akan tetapi dia bukan Sin-tong."
Tiga orang pendeta Lama itu saling pandang, kemudian Si Jangkung berjenggot itu berkata, "Harap Susiok maafkan. Bukan maksud kami ingin berbantah dengan Susiok, akan tetapi sudah bertahun-tahun kami mencari dengan susah payah dan setelah sekarang bertemu, terpaksa kami tidak akan membiarkannya terlepas begitu saja."
"Maksud kalian?"
"Dengan atau tanpa perkenan Susiok, kami harus membawa anak itu ke Tibet dan menghaturkannya kepada Suhu di Tibet"
"See-thian Lama tertawa, "Omitohud, kau mendengar itu, Hay Hay? Nah, sekarang tiba saatnya pinceng menguji latihan-latihanmu selama ini. Coba pinceng ingin melihat apakah selama sepuluh jurus engkau mampu menghindarkan diri dari tangkapan tiga orang pendeta Lama ini!" Kepada tiga orang murid keponakan itu, dia pun berkata, "Nah, kalian kuberi kesempatan untuk menangkapnya, selama sepuluh jurus."
Tiga orang pendeta itu kembali saling pandang. Mereka sudah tahu akan kelihaian See-thian Lama yang amat terkenal di Tibet, maka mereka memperlihatkan sikap jerih. Akan tetapi, tentu saja mereka memandang ringan bocah yang usianya baru dua belas tahun itu. Mereka bertiga menangkap selama sepuluh jurus? Satu dua jurus saja tentu seorang di antara mereka akan berhasil menangkapnya, apalagi maju bertiga!
"Baik, Susiok, kami akan mencobanya!" Dan mereka bertiga lalu menghampiri Hay Hay yang tidak beranjak dari tempatnya. Anak ini memang cerdik. Melihat betapa di kanan kirinya terdapat banyak pohon-pohon besar, dia menganggap bahwa tempat itu amat baik untuk dipakai kucing-kucingan dan menghindarkan diri dari penangkapan tiga orang pendeta itu. Biarpun dia sudah menguasai Jiauw-pouw-poan-soan dan Yan-cu Coan-in, akan tetapi di tempat terbuka, disergap tiga orang pendeta yang tentu memiliki ilmu kepandaian tinggi itu, sungguh berbahaya. Kalau berada di antara pohon-pohon, dia dapat memanfaatkan batang-batang pohon itu untuk membantunya.
Tiga orang pendeta Lama itu kini sudah tiba dekat dan tiba-tiba saja Si Jangkung berjenggot menubruk ke arah Hay Hay tanpa banyak cakap lagi. Tangan kirinya menyambar ke arah tengkuk dan tangan kanan menyambar lengan kiri Hay Hay. Sambarannya itu amat cepatnya akan tetapi bagi Hay Hay nampak lambat sehingga dengan mudah saja dia mendahului mengelak dengan lompatan ke belakang dan miringkan tubuhnya. Melihat ini, dua orang pendeta lainnya menyergapnya dari kanan kiri. Gerakan mereka juga cepat sekali dan bagaikan dua ekor biruang mereka menubruk dengan kedua lengan terpentang lebar, kedua tangan membentuk cakar untuk mencengkeram. Namun, dengan menggerakkan kedua kakinya secara aneh dan lincah sekali, miringkan tubuh ke sana-sini, Hay Hay sudah menyelinap di antara batang-batang pohon dan tubrukan dua orang pendeta itu pun luput! !
Tiga orang pendeta Lama itu terkejut. Sungguh tak mereka sangka bahwa anak itu dapat menghindarkan diri sedemikian mudahnya dari tubrukan-tubrukan mereka. Padahal mereka adalah pendeta-pendeta Tibet tingkat dua yang tentu saja sudah memiliki ilmu kepandaian tinggi, tenaga sinkang dan khikang yang kuat, juga memiliki ilmu meringankan tubuh yang sudah hebat. Mereka tentu saja merasa penasaran dan mulailah mereka melakukan penyergapan dari kanan kiri, mengejar ke mana saja anak itu bergerak dan mengelak. Namun, untuk kesekian kalinya mereka hanya menangkap angin dan menubruk tempat kosong saja. Makin cepat mereka bergerak, makin cepat pula Hay Hay mengelak sambil menyelinap di antara pohon-pohon sehingga ketika hwesio Lama, yang agak gendut menubruknya terlalu cepat dan sudah yakin akan berhasil, tahu-tahu yang ditangkapnya adalah sebatang pohon sehingga hidungnya membentur batang pohon dan berdarah!
Kini barulah tiga orang pendeta itu sadar bahwa anak itu benar-benar tak boleh dipandang ringan! Sudah lima jurus mereka berusaha menangkap, tanpa hasil sedikitpun juga. Jangankan menangkap, bahkan menyentuh lengan atau baju anak itu pun tak pernah dapat mereka lakukan!
See-thian Lama melihat betapa muridnya main kucing-kucingan di antara pohon-pohon besar, merasa tidak puas. Dia ingin menguji kepandaian muridnya, bukan akal dan kecerdikannya. Masih ada lima jurus lagi untuk mengujinya.
"Hay Hay, engkau bukan kucing. Keluarlah di tempat terbuka!" teriaknya dan Hay Hay terkejut. Suhunya malah menyuruh dia keluar di tempat terbuka, padahal dia tahu benar betapa lihainya tiga orang itu. Gerakan mereka cepat dan dari gerakan tangan mereka itu keluar angin yang amat kuat. Bagaimana kalau mereka menyerangnya dan dia roboh terluka? Tentu akan mudah dapat tertangkap. Akan tetapi dia tidak berani membantah perintah suhunya dan sekali meloncat, tubuhnya mencelat keluar dari balik pohon dan kini dia berdiri di tengah-tengah bagian yang terbuka, di atas padang rumput dan berdiri tegak, siap untuk memainkan Jiauw-pouw-poan-soan karena itulah satu-satunya ilmu yang dapat dipergunakannya untuk mengelak dari semua usaha penangkapan. Juga dia mengerahkan ilmu meringankan tubuh Yan-cu Coan-in agar mudah meloncat dengan ringan kalau-kalau terancam oleh tangan tiga orang itu.
Melihat betapa anak itu kini berdiri di tempat terbuka, tiga orang pendeta itu menjadi girang sekali. Kini kesempatan bagi mereka terbuka untuk dapat menyergap dan menangkap anak itu. Mereka lalu berloncatan mengepung anak itu di tempat terbuka. Kini tidak terdapat batang pohon di mana anak itu menyelinap dan berlindung dari penyergapan. Hampir saja mereka tertawa saking girang rasa hati mereka. Bertahun-tahun mereka melakukan perjalanan yang amat jauh dan sukar, dan baru sekarang mereka diberi harapan besar untuk akhirnya berhasil membawa Sin-tong ke Tibet dan menerima berkah dan anugerah dari para Dalai Lama di Tibet.
Hay Hay segera menggerakkan kakinya, digeser sedikit demi sedikit mengikuti gerakan tiga orang pengepungnya, mencari posisi yang baik dan menguntungkan sesuai dengan ilmu langkah Jiauw-pouw-poan-soan. Tubuhnya ikut terbawa gerakan kaki, berputaran perlahan dan seluruh urat syaraf di tubuhnya dalam keadaan siap siaga.
Tiba-tiba pendeta Lama jangkung berjenggot mengeluarkan bentakan nyaring dan tubuhnya sudah menubruk ke depan, disusul dua orang temannya yang menubruk pula dari kanan kiri. Tidak ada tempat bagi Hay Hay untuk mengelak, demikian perkiraan tiga orang pendeta itu. Akan tetapi, sungguh luar biasa sekali. Tubuh anak itu bergerak ke sana-sini, dekat sekali dengan jangkauan tangan mereka, akan tetapi buktinya, tubrukan mereka itu sedikit pun tidak berhasil! Sambaran tangan mereka hanya meluncur di dekat tubuh anak itu! Nampaknya seolah-olah gerakan tangan mereka yang mendorong tubuh anak itu seperti orang hendak menangkap bulu sutera halus yang amat ringan.
Tentu saja mereka hampir tidak dapat percaya akan apa yang mereka alami. Dengan penasaran mereka berusaha menangkap lagi dan memperketat pengepungan. Melihat ini, Hay Hay maklum bahwa mengandalkan Jiauw-pouw-poan-soan saja amat berbahaya, maka dia pun mulai menambah langkah-langkah ajaibnya dengan loncatan-loncatan dengan menggunakan ilmu Yan-cu Coan-in. Ilmu ini meniru gerakan burung walet yang amat gesit, yang dalam keadaan terbang dapat membalik ke sana-sini, bahkan dalam keadaan terbang berkelompok dan bersimpang-siur, mereka tidak pernah saling bertabrakan. Dan kini, tiga orang pendeta Lama itu kembali dibikin tertegun karena ke mana pun mereka menubruk dan mengulur tangan, sama sekali mereka tidak mampu menyentuh tubuh Hay Hay. Tanpa terasa, sepuluh jurus telah lewat. Mereka tidak menghitung jurus lagi dan kini dengan penasaran, mereka mulai menyerang dengan tamparan-tamparan karena mereka memperhitungkan bahwa sekali anak itu roboh tertampar, biarpun dalam keadaan terluka, tentu akan dapat mereka tangkap dan mereka bawa ke Tibet.
"Omitohud, kalian tidak boleh bertindak curang!" Tiba-tiba See-thian Lama berkelebat dan tahu-tahu tiga orang pendeta itu merasa tubuh mereka lemas ketika ada bayangan berkelebatan di atas kepala mereka. Kiranya dengan ujung jubahnya yang panjang dan lebar, See-thian Lama telah berhasil menotok jalan darah di pundak mereka, tidak terlalu keras untuk merobohkan mereka, namun cukup untuk membuat mereka lemas dan terpaksa mereka melangkah mundur menghentikan serangan mereka terhadap Hay Hay.
"Susiok, kami adalah utusan dari Tibet! Apakah Susiok bermaksud untuk mengkhianati Tibet dan para Suhu di sana?" pendeta jangkung berjenggot kini bertanya, suaranya tegas dan penuh teguran.
"Omitohud, percuma saja kalian berlatih puluhan tahun lamanya kalau tidak mampu menguasai perasaan sendiri. Pinceng tidak ingin berbantahan dengan kalian, akan tetapi kalau para pimpinan dari Tibet datang sendiri, baru pinceng akan membuktikan bahwa murid pinceng ini bukan Sin-tong!"
Melihat sikap See-thian Lama dan mendengar ucapan itu, tiga orang pendeta Lama saling pandang dengan kecewa sekali. Segala susah payah mereka selama bertahun-tahun ini hanya akan membawa hasil laporan bahwa mereka menemukan Sin-tong akan tetapi tidak mampu membawanya ke Tibet! Akan tetapi karena maklum bahwa menghadapi See-thian Lama, tidak ada gunanya mempergunakan kekerasan karena mereka akan kalah, tiga orang pendeta itu terpaksa memberi hormat dan Si Jangkung berjenggot lalu berkata, nada suaranya mengandung rasa penasaran dan ancaman.
"Apa yang terjadi pagi ini di sini tentu akan kami laporkan kepada para suhu!" setelah berkata demikian, tiga orang itu menjura dan membalikkan tubuh dan berjalan pergi dari situ tanpa menoleh lagi. setelah mereka pergi jauh, see-thian Lama menarik napas panjang. "Omitohud, dirimu dikepung rahasia dan berbahaya, Hay Hay. Pinceng tidak dapat membayangkan apa yang telah terjadi dengan sin-tong yang sesungguhnya dan di mana kini dia berada. Atau........benar engkau ini putera keluarga Pek akan tetapi terlahir tanpa tanda merah di punggung sehingga ramalan para Dalai Lama itu sekali ini meleset?"
Akan tetapi Hay Hay tidak mempedulikan semua itu. Dia masih merasa tegang dan gembira karena tadi memperoleh kesempatan untuk memainkan ilmu yang selama ini dilatihnya dengan tekun. "Suhu, bagaimana dengan gerakan teecu tadi? Apakah masih ada yang keliru dan mengecewakan?"
See-thian lama tersenyum. "Sudah cukup baik, akan tetapi kalau besok atau lusa datang rombongan Lama yang lain, engkau sama sekali tidak boleh lagi memperlihatkan kepandaianmu itu. Yang akan datang ke sini adalah orang-orang yang amat lihai, dan biarkan pinceng yang akan menghadapi mereka."
"Suhu, siapakah yang akan datang lagi ke sini?" tanya Hay Hay, terkejut juga mendengar bahwa akan datang lagi rombongan Lama yang lebih lihai.
"Guru-guru mereka atau pimpinan Dalai Lama yang tingkatnya sama dengan pinceng."
"Akan tetapi bukankah mereka berada di Tibet? Jaraknya tentu jauh dan bagaimana mereka akan dapat datang demikian cepat, besok atau lusa?"
"Heh-heh, engkau masih belum tahu, Hay Hay. Para pendeta Lama memiliki ilmu yang luar biasa, bukan hanya ilmu silat dan ilmu sihir. Mereka juga dapat melakukan hubungan batin dari jarak jauh. Tiga orang pendeta tadi akan mampu mengundang guru-guru mereka melalui kekuatan batin saja sehingga yang berada di Tibet akan mengetahui dan cepat datang ke sini. Dan mereka yang akan datang itu, rata-rata memiliki ilmu berlari cepat yang hebat, biarpun mungkin belum dapat menandingi Yan-cu Coan-in, akan tetapi sudah amat cepat sehingga dalam waktu satu dua hari saja akan dapat tiba di sini."
Hay Hay tertegun. Demikian banyaknya orang sakti di dunia ini, pikirnya. Hal ini menebalkan keyakinannya bahwa dia harus belajar penuh semangat, dan sama sekali tidak boleh menilai kepandaian sendiri terlalu tinggi sehingga menjadi besar kepala dan tinggi hati karena di dunia ini banyak sekali orang pandai yang tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi darinya.
Apa yang dikatakan See-thian Lama memang terbukti. Dua hari kemudian, pada suatu pagi, selagi Hay Hay dan See-thian Lama berlatih samadhi di dalam pondok seperti yang diajarkan oleh pendeta itu, terdengar suara di luar pondok itu.
"See-thian Lama, keluarlah, kami ingin bicara!"
See-thian Lama membuka matanya dan berkata kepada Hay Hay. "Nah, mereka sudah tiba. Mari kita keluar, Hay Hay dan jangan kau melakukan sesuatu, serahkan saja kepada pinceng." Dia pun turun dan menggandeng tangan Hay Hay diajak keluar dari pondok. Ketika mereka tiba di luar pondok, di situ sudah berdiri dua orang pendeta Lama yang sudah amat tua. Usia mereka sebaya dengan See-thian Lama, yang seorang bertubuh pendek kecil akan tetapi sinar matanya mencorong penuh wibawa, sedangkan orang ke dua gemuk dan gendut seperti Ji-lai-hud dan mulutnya selalu tersenyum lebar.
Melihat bahwa yang muncul adalah seorang Dalai Lama yang cukup besar kekuasaannya di Tibet, yaitu Bai Long Lama yang masih terhitung suhengnya sendiri, pendeta yang kecil pendek itu, dan Bai Hang Lama yang terhitung sutenya, Si Gendut itu, maka See-thian Lama cepat-cepat maju dan memberi hormat.
"Selamat datang di gubukku, Suheng dan Sute!" katanya.
"Omitohud.....engkau masih belum menghilangkan kesukaanmu menyendiri dan menyepi, Sute." kata Bai Long Lama, cukup lembut dan ramah, akan tetapi pandang matanya tetap saja keren berwibawa. Sebaliknya, Bi Hang Lama yang memang selalu tersenyum lebar itu kini tertawa.
"Ha-ha-ha, engkau kelihatan semakin sehat saja, Suheng!"
"Terima kasih,.. Sute. Engkau pun semakin gendut."
"Ha-ha-ha-ha-ha!" Si Gendut itu tertawa bergelak dan perutnya yang penuh gajih itu bergoyang-goyang seperti hidup.
"Suheng dan Sute, kalian berdua ini datang untuk berkunjung saja ataukah ada keperluan lain yang penting?" See-thian Lama bertanya, sementara itu, dua orang pendeta Lama sudah menatap wajah Hay Hay dengan penuh perhatian.
"Sute See-thian Lama, perlukah engkau berpura-pura lagi? Kami datang untuk mengambil anak ini!" Tiba-tiba suara pendeta Lama yang pendek kecil itu penuh wibawa dan ketegasan, bahkan sinar matanya yang mencorong itu mengandung tantangan.
See-thian Lama tentu saja sudah tahu akan maksud kedatangan mereka dan dia pun tersenyum ramah penuh kesabaran. "Suheng, dengan alasan apakah Suheng hendak mengambil anak yang menjadi muridku ini?"
"Karena dia Sin-tong! Engkau pun tahu sendiri bahwa calon Dalai Lama harus berada di biara untuk dididik." kata pula Bai Long Lama.
"Kalau dia Sin-tong, memang benar apa yang kaukatakan itu, Suheng. Akan tetapi bagaimana kalau dia bukan Sin-tong? Dan pinceng dapat memastikan bahwa dia ini hanyalah muridku, sama sekali bukan Sin-tong."
"Hemmm, hal itu harus kami selidiki dulu. Apa buktinya bahwa anak ini bukan Sin-tong? Bukankah engkau merampasnya dari Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi yang merampas anak ini dari Lam-hai Siang-mo?"
"Benar, akan tetapi Lam-hai Siang-mo mungkin juga tidak tahu bahwa anak ini bukan Sin-tong. Lihatlah baik-baik, Suheng dan Sute!" Berkata demikian, See-thian Lama lalu menarik baju Hay Hay sehingga merosot turun dan memperlihatkan punggungnya yang putih bersih, sedikit pun tidak ada tanda merah di situ. "Bukankah Sin-tong sudah diramalkan memiliki tanda merah di punggungnya? Anak ini tidak mempunyai tanda merah. Kalau dia mempunyai tanda itu tentu sudah dulu-dulu kubawa ke Tibet untuk diserahkan kepada para pimpinan Lama, Suheng."
Melihat punggung yang kulitnya putih halus dan sama sekali tidak nampak ada tanda merahnya itu. Bai Long Lama dan Bai Hang Lama saling pandang dan merasa terkejut, juga terheran-heran. Hal ini sama sekali tak pernah disangkanya semula. Mereka masih merasa penasaran karena mereka tahu bahwa See-thian Lama adalah seorang pandai luar biasa. Bukan tidak mungkin dengan satu dan lain cara, See-thian Lama sudah berhasil menghapus tanda merah itu dari punggung Sin-tong!
"Omitohud... pinceng benar-benar merasa heran melihat kenyataan ini, Sute See-thian Lama. Akan tetapi pinceng tidak dapat memberi keputusan begitu saja, anak ini harus dibawa ke Tibet untuk dilakukan pemeriksaan dengan teliti apakah dia benar Sin-tong yang kami cari ataukah bukan."
Terkejutlah hati See-thian Lama mendengar ucapan ini. Disangkanya bahwa kenyataan akan tidak adanya tanda merah di punggung Hay Hay akan cukup membuktikan bahwa anak itu bukan Sin-tong.
Pada saat itu terdengar suara ketawa bergelak yang datangnya dari jauh sehingga terdengar sayup sampai saja, akan tetapi semakin lama, suara ketawa itu menjadi semakin keras dan jelas. Semua orang terkejut karena maklum bahwa suara ketawa itu adalah suara yang mengandung tenaga khikang yang amat kuat.
Akan tetapi See-thian Lama mengenal suara itu setelah terdengar dekat dan dia pun mengerahkan khikangnya sambil berkata. "Omitohud, Ciu-sian Sin-kai, jangan kau main-main seperti ini! Tidak tahukah dengan siapa pinceng bercakap-cakap?"
Kembali terdengar suara ketawa dan tiba-tiba muncullah seorang kakek yang masih tertawa bergelak. Kakek ini usianya juga sebaya dengan mereka, mendekati delapan puluh tahun. Tubuhnya agak kurus, pakaiannya penuh dengan tambal-tambalan berkembang akan tetapi bersih, sepatunya butut berlubang, rambut, kumis dan jenggotnya yang sudah banyak putihnya itu kusut akan tetapi juga bersih, sepasang matanya tajam dan bergerak-gerak cepat membayangkan kecerdikan. Di pinggangnya terselip sebatang suling yang tiga kaki panjangnya.
"Ha-ha-ha, sungguh lucu sekali. Justeru karena yang bercakap-cakap adalah tiga orang pendeta Lama tingkat tertinggi, maka terdengar amat lucu sekali. Ha-ha-ha!"
Mendengar ucapan ini dan melihat sikap kakek jembel itu, Bai Long Lama menjadi marah atau setidaknya hatinya merasa tidak senang karena dia merasa dipermainkan dan ditertawakan. Dia pun mengenal siapa adanya kakek jembel itu, seorang di antara Delapan Dewa, rekan dari sutenya, See-thian Lama.
"Siancai... Ciu-sian Sin-kai majikan Pulau Hui, sungguh tidak memandang sebelah mata kepada orang-orang Tibet. Sin-kai, kami yang tadi bercakap-cakap, kalau kauanggap lucu menggelikan, apanya yang lucu?" Biarpun suaranya masih lunak, namun mengandung kekerasan dan tantangan.
"Ha-ha-ha-ha!" kembali kakek pengemis itu tertawa dan seperti bicara kepada diri sendiri dia berkata, "Sama-sama menggerakkan mulut dan mengeluarkan suara, jauh lebih sehat ketawa dari pada menangis, bergembira daripada berduka! Para Lama yang mulia, sebelum aku menjawab, aku ingin bertanya lebih dulu. Apakah ucapan Dalai Lama yang terkenal angker dan mengandung kebenaran, pernah salah? Apakah ramalan yang keluar dari kamar suci para Dalai Lama di Tibet, pernah bohong dan tidak cocok dengan kenyataan?"
"Tentu saja belum pernah!" kata Bai Long Lama dengan marah.
"Heh-heh-heh, pinceng juga senang ketawa seperti engkau, jembel tua. Akan tetapi pinceng tidak berani main-main dengan kesucian Dalai Lama. Tentu saja segala ucapan yang keluar dari kamar suci, yang diramalkan dari sana, semua tentu benar dan sama sekali tidak pernah bohong!" Sambung Bai Hang Lama yang gendut.
"Nah, nah, itulah yang lucu!" Kakek jembel itu kembali tertawa. "Aku sendiri mendengar berita itu di dunia kang-ouw bahwa calon Dalai Lama yang baru adalah seorang anak laki-laki yang terlahir dengan tanda warna merah di kulit punggungnya! Dan anak bernama Hay Hay ini kulit punggungnya putih bersih, sedikitpun tidak ada merahnya. Akan tetapi tetap saja kalian tidak percaya! Bukankah ini lucu sekali? Dua orang Lama tingkat tinggi tidak mempercayai ramalan dari kamar suci Dalai Lama. Aneh dan lucu!"
Wajah kedua orang pendeta Lama itu menjadi agak merah. "Bukan tidak percaya, engkau salah sangka, Sin-kai. Calon itu sudah pasti punggungnya ada tanda merahnya. Yang kami kurang percaya bahwa, Sin-tong ini memang tidak memiliki tanda itu. Siapa tahu tanda itu hilang atau sengaja dihilangkan. Karena itu, kami akan membawanya ke Tibet agar para pimpinan mengadakan pemeriksaan dan menentukan benar tidaknya dia Sin-tong yang kami cari!"
"Ha-ha-ha, itu lebih lucu lagi namanya! Siapa tidak mengenal See-thian Lama seorang di antara Delapan Dewa? Pernahkah ada tokoh Delapan Dewa berbohong? Dan siapa pula tidak mengenal Ciu-sian Sin-kai? Biar pengemis, aku selamanya tidak pernah mau berbohong. Kami berdua yang menemukan anak ini, kami berdua yang memeriksa dan mendapat kenyataan bahwa anak ini sama sekali bukan Sin-tong seperti yang dikabarkan orang. Kalau dia Sin-tong, untuk apa kami mengambilnya sebagai murid? Tentu sudah kami kembalikan ke Tibet. Hemm, aku menjadi curiga. Pernah aku mendengar kabar angin bahwa karena sejak kecil tidak boleh berdekatan dengan wanita, banyak kaum pendeta yang memelihara remaja-remaja pria! Benarkah itu? Jangan-jangan murid kita akan dijadikan peliharaan semacam itu, See-thian Lama!"
Ucapan terakhir ini benar-benar menyentuh kelemahan para pendeta Lama ltu. Muka mereka menjadi merah. Harus diakui bahwa mereka berdua bukan termasuk para pendeta yang suka menyembunyikan anak laki-laki yang menjadi kekasih mereka dengan berkedok menjadi kacung, akan tetapi mereka melihat kenyataan yang amat memalukan seperti itu.
"Sudahlah, mungkin pinceng yang keliru. Kalau engkau juga menjadi saksi bahwa anak ini memang tidak memiliki tanda merah di punggung sebelumnya, berarti dia bukan Sin-tong, kami percaya. Biarlah kami akan kembali ke Tibet untuk melaporkan hal ini kepada para pimpinan, terserah kebijaksanaan mereka nanti. Sute, selamat tinggal." kata pendeta Lama yang kecil pendek itu.
"Suheng, selamat tinggal. Mari, Sinkai!" kata pendeta ke dua, Bai Hang Lama yang gendut dan suka ketawa.
"Selamat jalan, Suheng dan Sute." kata See-thian Lama.
"Terima kasih, kalian ternyata Lama-Lama yang mau mengerti dan bijaksana, ha-ha-ha!" Ciu-sian Sin-kai juga berkata. Dua orang pendeta Lama itu lalu pergi dan cara mereka pergi juga mengejutkan hati dan mengagumkan hati Hay Hay karena begitu berkelebatan mereka telah nampak jauh sekali dan sebentar saja mereka hanya nampak seperti titik-titik hitam yang cepat sekali menghilang.
Setelah mereka pergi, Ciu-sian Sin-kai lalu memandang kepada Hay Hay dan tersenyum simpul. "Wah, engkau sudah besar sekarang, Hay Hay. Nah, cepat kau menyerang aku untuk dapat kulihat sampai di mana kemampuanmu setelah lima tahun digembleng oleh Lama pemakan rumput ini!" Ciu-sian Sin-kai memang selalu mengejek kaum pendeta yang tidak suka makan barang berjiwa sebagai "pemakan rumput". Bukan mengejek untuk mencemooh atau mencela, bahkan dia merasa kagum sekali dan membenarkan mereka karena pernah dikatakannya bahwa pemakan rumput adalah mahluk-mahluk yang paling besar dan kuat di dunia ini. Lihat saja, katanya, binatang-binatang pemakan rumput adalah yang terkuat, di antaranya gajah, onta, kuda, sapi, kerbau dan lain-lainnya. Sedangkan binatang pemakan bangkai hanya menjadi ganas saja, seperti harimau, serigala dan sebagainya.
Tentu saja Hay Hay meragu ketika disuruh menyerang kakek berpakaian pengemis itu. Dia memang masih ingat kepada Ciu-sian Sin-kai, akan tetapi karena sudah lima tahun tidak jumpa, tentu saja dia sungkan kalau datang-datang disuruh menyerangnya! Akan tetapi See-thian Lama tertawa dan berkedip kepadanya.
"Hay Hay, Gurumu Ciu-sian Sin-kai sudah mulai hendak memberi petunjuk, kenapa engkau malu dan sungkan? Seranglah dan habiskan kepandaianmu!"
Mendengar perintah ini, baru Hay Hay teringat bahwa watak kakek pengemis tua itu tidak kalah anehnya dibandingkan dengan See-thian Lama, maka dia pun cepat meloncat ke depan kakek itu. Sejenak mereka saling pandang dan Sin-kai girang melihat remaja yang wajahnya cerah dan sepasang matanya yang mengandung kecerdikan itu. Sebaliknya, Hay Hay juga senang melihat wajah kakek jembel itu yang membayangkan gairah dan kebahagiaan hidup, selalu gembira, berbeda dengan sikap See-thian Lama yang selalu lembut dan tenang seperti air danau yang dalam. Sebaliknya sikap kakek jembel ini seperti anak sungai yang airnya berdendang dan gemericik terus-menerus, mengalir cepat di antara batu-batu sungai. Timbullah niatnya untuk menguji, siapa yang lebih unggul antara kedua orang kakek itu dan dia sudah memperoleh cara untuk melakukannya.
"Suhu Ciu-sian Sin-kai, teecu mulai menyerang. Awas!" bentaknya dan dia pun segera menerjang dengan pukulan keras sambil memainkan langkah-langkah ajaibnya, yaitu Jiauw-pouw-poan-soan dan menggunakan ginkang Yan-cu Coan-in yang membuat tubuhnya ringan dan gerakannya cepat bukan main.
Kakek jembel itu terkekeh ketika melihat betapa anak itu bergerak luar biasa cepatnya. Pukulan ke arah perutnya itu dielakkan dan dari samping dia mengulur tangan hendak menangkap pundak Hay Hay. Akan tetapi tiba-tiba saja tangkapannya mengenai angin kosong karena pada saat yang tepat, pundak itu lenyap ketika Hay Hay kembali menyerang, sekali ini menotok ke arah punggung.
"Ehhh... ?" Ciu-sian Sin-kai berseru kagum, cepat meloncat ke depan dan membalikkan tubuhnya dan tanpa ragu-ragu lagi dia pun melayangkan kakinya menendang ke arah kedua lutut Hay Hay. Gerakan kaki kiri kakek ini hebat sekali karena sekali bergerak, ujung kaki kirinya sudah membuat gerakan menendang dua kali mengarah kedua lutut. Cepat sekali. Akan tetapi, dengan langkah ajaibnya kembali Hay Hay dapat menghindarkan kedua lututnya dari serangan kakek itu.
"Bagus! Engkau sudah menguasai Jiauw-pouw-poan-soan dengan baik!" Sin-kai memuji dan terus menghujani anak itu dengan tamparan-tamparan dan tendangan-tendangan dari segala pihak. Namun, memang dalam hal mempergunakan langkah-langkah ajaib, anak ini telah digembleng oleh See-thian Lama sehingga telah menguasainya. Dengan langkah-langkahnya itu, dia malah dapat menghindarkan diri dari sergapan tiga orang pendeta Lama.
"Suhu, coba hendak teecu lihat bagaimana Suhu akan mampu merobohkan teecu kalau teecu menggunakan Jiauw-pouw-poan-soan dan Yan-cu Coan-in!" tiba-tiba Hay Hay berseru gembira.
Hampir saja See-thian Lama menegur muridnya karena ucapan itu dianggapnya takabur sekali. Juga Cui-sian Sin-kai mengerutkan alisnya. "Kaukira aku tidak mampu?" berkata demikian tiba-tiba saja kakek itu merendahkan tubuhnya dan kedua kakinya membuat gerakan menyapu dari kanan kiri secara bergantian. Dibabat dari kanan kiri seperti itu, langkah-langkah kaki Hay Hay menjadi agak kacau dan ketika anak itu mengerahkan ilmu ginkang Yan-cu-coan-in untuk berlompatan menghindar, tiba-tiba saja ujung kaki Sin-kai telah mencium belakang lutut kirinya sehingga tanpa dapat dicegah lagi tubuh Hay Hay terjatuh berlutut!
Hay Hay memang sengaja memancing agar dirobohkan kakek jembel itu. Begitu roboh, dia segera menghadap See-thian Lama.. "Harap suhu ampunkan teecu kalau teecu kurang pandai memainkan ilmu Suhu, ataukah memang ilmu Suhu Ciu-sian Sin-kai yang lebih lihai maka teecu mudah saja dijatuhkan?"
"Hushhh...! Hay Hay, jangan bicara bergitu!" Ciu-sian Sin-kai berseru kaget. Akan tetapi terlambat. Api yang disulutkan oleh Hay Hay itu telah membakar dan menyentuh harga diri See-thian Lama.
"Hay Hay, engkau tadi roboh karena salahmu sendiri. Kalau engkau sudah mahir benar, menghadapi segala macam serampangan seperti tadi, tentu engkau berbalik akan berada di pihak pemenang, dan tidak mungkin dapat dirobohkan."
Hay Hay merasa mendapatkan jalan dengan kata-kata itu. Dia lalu berkata kepada Ciu-sian Sin-kai, "Suhu, teecu ingin sekali mempelajari ilmu membabat dengan kedua kaki tadi, yang telah dapat merobohkan teecu dan membuat langkah ajaib teecu tidak berdaya."
Ciu-sian Sin-kai tertawa. "Ha-ha, boleh saja, muridku. Ilmu itu hanya sebagian kecil saja dari apa yang akan kuajarkan kepadamu. Nah, perhatikan baik-baik. Jurus ini adalah jurus Kaki Gunting dari Ilmu Tendang Soan-hong-twi (Tendangan Berantai). Lihat bagaimana engkau menggerakkan tubuh dan kedua kakimu." Kakek itu memberi petunjuk dan karena Hay Hay memang berbakat dan pula sudah menguasai dasar-dasar ilmu silat tinggi, maka dilatih sebentar saja dia sudah mampu memainkan tendangan jurus Kaki Gunting itu.
"Nah, Suhu, marilah kita berlatih. Suhu mempergunakan Jiauw-pouw-poan-soan dan teecu akan mencoba jurus Kaki Gunting ini!" kata Hay Hay dengan gembira sekali sambil menghampiri See-thian Lama. Kakek ini tersenyum dengan pandang mata mengejek.
"Hemm, jurus kaki gunting tumpul seperti itu saja, apa artinya? Nah, kau boleh menyerangku!"
Karena memang ini yang dikehendaki Hay Hay, dia lalu memainkan jurus tendangannya itu dengan sungguh-sungguh sambil mengerahkan tenaga. Dia menerjang ke depan, merendahkan tubuhnya dan kedua kakinya membuat gerakan menyapu seperti menggunting dari kanan kiri dengan cepat, kadang-kadang bergantian, kadang-kadang berbareng dengan menahan tubuh menggunakan kedua tangan.
Akan tetapi, See-thian Lama sambil tersenyum-senyum, melakukan langkah-langkah mundur dan kedua tangannya bergerak-gerak melakukan totokan-totokan atau tamparan-tamparan ke arah kepala Hay Hay. Karena kedua kaki pendeta itu selalu melangkah mundur, tentu saja sabetan kedua kaki dari kanan kiri itu tak pernah mengenai sasaran, sebaliknya, serangan ke arah bagian atas tubuh itu membuat Hay Hay kerepotan. Dia mencoba menangkis, akan tetapi sukar untuk mengelak karena kedua kakinya dipergunakan untuk melakukan tendangan bertubi-tubi sehingga akhirnya, pundaknya terkena totokan. Biarpun See-thian Lama tidak menggunakan tenaga besar, namun tetap saja Hay Hay terduduk lemas untuk beberapa detik lamanya.
"Suhu belum pernah mengajarkan jurus itu kepada teecu!" kata Hay Hay kepada See-thian Lama setelah dia dapat bangkit berdiri.
"Itulah Jurus Burung Mematuk Ular untuk menghadapi Kaki Gunting tadi."
"Harap Suhu suka mengajarkan kepada teecu."
Tentu saja See-thian Lama yang sedikit banyak merasa bangga karena sudah dapat membalas Ciu-sian Sin-kai secara tidak langsung itu, mengalahkan jurus Kaki Gunting, dengan senang hati mengajarkan jurus Burung Mematuk Ular kepada muridnya. Sebentar saja Hay Hay sudah dapat memainkan jurus itu dengan baik, menggunakan langkah Jiauw-pouw-poan-soan dengan mundur sambil kedua tangannya mematuk-matuk ke depan dari atas. Setelah dia menguasai jurus itu, dia pun menghadap Ciu-sian Sin-kai.
"Suhu, sekarang teecu sudah dapat mengalahkan jurus Kaki Gunting."
"Ha-ha-ha, akan tetapi jurus Burung Mematuk Ular itu pun mudah pula dipunahkan." kata Ciursian Sin-kai. Kakek ini lalu mengajarkan jurus baru untuk mengatasi dan mengalahkan jurus Burung Mematuk Ular itu. Setelah menguasai jurus itu, Hay Hay lalu diberi pelajaran jurus baru dari See-thian Lama untuk mengalahkan jurus dari Cui-sian Sin-kai.
Demikianlah, dengan cerdiknya, Hay Hay berhasil "mengadu" kedua orang gurunya itu. Dua orang kakek sakti itu "saling menyerang dan saling mengalahkan jurus lawan" secara tidak langsung, melainkan melalui murid mereka. Dan karena ingin saling mengalahkan, tentu saja makin lama mereka mengeluarkan jurus-jurus yang semakin tinggi dan pilihan! Dan semakin sukarlah bagi Hay Hay untuk mempelajari setiap jurus baru yang semakin rumit. Karena itu adu ilmu secara tidak langsung ini terjadi lebih dari tiga bulan! Nampaknya saja keduanya melatih Hay Hay dengan jurus-jurus ampuh dan pilihan, akan tetapi sesungguhnya, keduanya saling tidak mau mengalah untuk menonjolkan kehebatan ilmu masing-masing. Tentu saja yang untung adalah Hay Hay. Biarpun tentu saja dia tidak atau belum dapat menguasai semua jurus itu dengan sempurna karena kurang latihan, namun setidaknya dia telah mengenal dan menguasai teorinya sehingga kelak tinggal mematangkan saja dengan latihan.
Lambat laun, kedua kakek itu pun maklum bahwa mereka berdua telah diadu oleh murid mereka. Diam-diam mereka merasa geli akan kebodohan diri sendiri dan kagum akan kecerdikan murid mereka, akan tetapi mereka maklum betapa pentingnya cara mengajarkan ilmu seperti itu kepada Hay Hay, mereka melanjutkan "adu ilmu" ini sampai seratus hari lamanya.
"Omitohud, sudah cukuplah, Hay Hay. Pinceng hari ini merasa kalah dan mengaku kelebihan Ciu-sian Sin-kai. Engkau ikutlah dia dan belajarlah dengan rajin selama lima tahun." kata See-thian Lama setelah Hay Hay memperlihatkan jurus baru dari kakek pengemis itu.
"Ha-ha-ha, See-thian Lama terlalu merendah. Ketahuilah, Hay Hay. Bagi orang-orang yang sudah benar-benar menguasai ilmu silat, tidak ada jurus yang tidak akan dapat dihadapi sebagaimana mestinya. Akan tetapi, seperti juga tidak ada benda yang paling besar dan tempat yang paling tinggi di alam ini, tidak ada pula orang yang tidak terkalahkan. Sepandai-pandainya orang, tidak akan mampu menandingi serangan usia sendiri yang menggerogoti dari dalam. Karena itu, belajarlah yang giat dan lenyapkan sikap takabur. Selama hidup, engkau masih sempat mempelajari hal-hal yang baru."
Hay Hay berlutut di depan kedua orang gurunya itu sambil menghaturkan terima kasihnya. Dan pada hari itu juga, Hay Hay pergi meninggalkan See-thian Lama, mengikuti gurunya yang baru, Ciu-sian Sin-kai yang membawanya pulang ke Pulau Hiu.
Kita tinggalkan dulu Hay Hay yang mulai berguru kepada Ciu-sian Sin-kai dan mengikuti gurunya itu pergi ke Pulau Hiu dan marilah kita mengikuti keadaan Lam-hai Giam-lo, kakek muka kuda yang penuh rahasia itu. Mengapa kakek yang memiliki kepandaian amat tinggi itu sampai rela merendahkan diri, menjadi tukang kebun dan bahkan pura-pura gagu tuli di kuil Siauw-lim-si yang sunyi itu? Dia menyamar sebagai seorang hwesio tuli gagu, seolah-olah dia hendak menyembunyikan diri karena ketakutan.
Memang kakek iblis ini dilanda ketakutan! Ada dua orang musuh besar yang selalu mengejarnya dan biarpun dia amat lihai, namun dalam beberapa kali perkelahian melawan mereka, dia selalu kalah dan nyaris tewas. Akhirnya, karena terus dikejar-kejar, dalam keadaan terluka dalam dia melarikan diri dan menggunduli rambut, menyamar sebagai hwesio dan dengan bermain sandiwara sebagai seorang hwesio terlantar kelaparan, dia ditolong oleh para hwesio kuil itu dan diterima bekerja sebagai tukang sapu.
Siapakah dua orang yang ditakuti seorang seperti Lam-hai Giam-lo ini dan mengapa dia bermusuhan dengan mereka? Awal mula permusuhan itu terjadi sepuluh tahun yang lalu. Ketika itu, Lam-hai Giam-lo yang baru saja kehilangan gurunya, yaitu Lam-kwi-ong seorang di antara Empat Setan Dunia, seperti menggantikan kedudukan mendiang gurunya dan dia merajalela di dunia persilatan, di bagian selatan dan jauh di barat. Karena sejak muda dia memang berkeliaran di pantai selatan sehingga memperoleh julukan Lam-hai Giam-lo (Raja Akhirat Laut Selatan), maka namanya amat ditakuti di daerah selatan. Ketika itu, usianya baru sekitar empat puluh tahun dan satu di antara kejahatan yang dilakukannya adalah menculik dan memperkosa wanita yang menarik hatinya.
Pada suatu hari, dia melarikan seorang gadis cantik dari kota Swatouw, dilarikannya menuju ke pantai yang amat curam karena pantai ini merupakan bagian pegunungan tepi laut selatan. Gadis itu berusia tujuh belas tahun dan selalu menangis, meronta dan menolak untuk melayani orang yang mukanya mengerikan seperti muka kuda itu. Hal ini membuat Lam-hai Giam-lo marah sekali. Dia ingin gadis ini menyerahkan diri dengan suka rela karena dia tidak merasa puas kalau harus memperkosa dengan kekerasan. Di tempat yang sunyi itu, di tebing jurang yang amat curam, dia marah-marah karena kembali gadis itu menolak, bahkan memaki-maki sambil menangis. Dijambaknya rambut gadis itu yang panjang dan terurai lepas dari sanggulnya, dan dibawanya gadis itu ke tepi tebing. Dengan satu tangan, dia menggantung gadis itu pada rambut yang dijambaknya.
"Nah, lihat ke bawah! Apakah engkau lebih suka kulempar ke bawah sana? Hayo pilih, engkau memenuhi permintaanku dengan manis atau kulempar ke bawah sana?"
Gadis itu tergantung di udara dan dengan muka pucat dan mata terbelalak ia memandang ke bawah. Jauh di sana nampak air laut dan batu-batu besar, amat jauh di bawah. Air laut yang kalau didekati bergelombang besar itu, dari tempat setinggi ini nampak tenang dan indah. Akan tetapi membayangkan dirinya dilepas dan meluncur ke bawah, sungguh amat mengerikan. Batu-batu yang seperti bentuk-bentuk binatang purba itu tentu akan menyambut tubuhnya menjadi hancur lebur dan ombak-ombak laut akan melenyapkan sisa-sisa tubuhnya. Tinggi tebing itu tidak kurang dari seribu kaki!
"Tidak... tidak... lebih baik kaubunuh saja aku! Lebih baik ,aku mati daripada harus memenuhi permintaanmu yang keji!" Gadis itu sudah nekat dan ia memejamkan mata, menanti saat ia dilemparkan ke bawah.
Dapat dibayangkan betapa marahnya rasa hati Lam-hai Giam-lo. Dia amat suka kepada gadis ini, suka akan kecantikannya, kesegaran tubuhnya, dan keberaniannya. Dia ingin memiliki gadis ini dengan sukarela, tidak memperkosa seperti yang biasa dilakukannya terhadap wanita yang tidak mau melayaninya dengan sukarela. Penolakan yang amat keras dari gadis itu membuat rasa sukanya berbalik menjadi rasa benci yang besar.
"Baik, kalau begitu, engkau akan kuperkosa sampai puas, baru akan kulemparkan ke bawah sana!" katanya penuh geram. Mendengar ancaman ini, yang baginya lebih mengerikan daripada maut, gadis itu menjerit sekuat tenaga, lalu terkulai pingsan!
Agaknya jeritannya itu menarik perhatian dua orang yang berada tak jauh dari tempat itu. Seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih dan seorang gadis kecil berusia dua belas tahun datang berlari-lari. Laki-laki itu buntung lengan kirinya, sebatas siku, tubuhnya tinggi besar dan wajahnya membayangkan sikap yang gagah perkasa. Adapun gadis cilik itu cantik mungil, dengan tubuh yang tangkas terlatih. Ketika laki-laki buntung lengan kirinya itu tiba di situ dan melihat seorang laki-laki bermuka kuda sedang menjambak rambut seorang gadis yang tergantung di tepi tebing, dia terkejut bukan main dan membentak nyaring.
"Lepaskan gadis itu!"
Melihat munculnya seorang laki-laki buntung sebelah lengannya, dan seorang gadis remaja yang cantik, Lam-hai Giam-lo menatap tajam ke arah wajah gadis remaja itu. Kejengkelan hatinya memuncak melihat ada orang berani membentaknya dan mencampuri urusannya, akan tetapi dia pun tertarik melihat gadis remaja itu.
"Ha-ha-ha, baik, kulepaskan gadis ini dan gadis remaja itu menjadi penggantinya, ha-ha-ha!" Dan dia benar-benar melepaskan jambakan rambutnya sehingga tentu saja tubuh gadis yang sudah pingsan itu meluncur ke bawah. Melihat ini, gadis remaja itu terbelalak dan lari ke tepi tebing, menjenguk ke bawah. Mukanya berubah pucat melihat betapa tingginya tebing itu dan tubuh yang meluncur ke bawah itu sudah tidak nampak lagi. Tentu sudah hancur lebur terbanting pada batu-batu karang di bawah sana!
Laki-laki tinggi besar berlengan buntung sebelah itu marah bukan main. "Keparat, engkau ini iblis jahat, bukan manusia!" Sambil membentak demikian, dia melangkah maju.
Lam-hai Giam-lo tertawa lagi. "Tepat, memang aku bukan manusia, melainkan Raja Akhirat Laut Selatan. Aku tadi memberi korban kepada laut selatan, ha-ha!"
"Lam-hai Giam-lo...!" Kini laki-laki berlengan buntung sebelah itu terbelalak, mukanya berubah. Tentu saja dia sudah mendengar akan nama tokoh sesat ini ketika dia mulai memasuki daerah pantai selatan. Tak disangkanya dia akan menyaksikan iblis itu membunuh seorang wanita begitu kejam dan biarpun dia sudah mendengar bahwa iblis itu amat sakti, melihat kekejamannya dia melupakan hal ini dan mengambil keputusan untuk menentangnya.
"Ha-ha-ha, engkau sudah mendengar namaku? Lekas berlutut dan serahkan gadis remaja itu kepadaku sebagai pengganti korban tadi."
Laki-laki berlengan buntung itu memandang marah. Mukanya yang gagah dan keras itu berubah merah dan dia mengepal tangan kanannya. "Iblis seperti engkau ini harus dibasmi!" bentaknya dan dia pun kini menerjang maju dengan marah, menyerang dengan tangan kanannya, menghantam ke arah dada Lam-hai Giam-lo.
Lam-hai Giam-lo melihat datangnya pukulan yang mengandung angin pukulan keras, tersenyum mengejek. Dia tidak berani menerima pukulan yang cukup ampuh itu, melainkan mengelak ke samping dan kakinya mencuat dalam sebuah tendangan kilat mengarah lambung lawan. Akan tetapi, laki-laki buntung lengan kirinya ini dapat meloncat ke samping, menghindarkan tendangan dan kembali tangan kanannya menyambar dengan totokan ke arah lener.
Lam-hai Giam-lo menangkis sambil mengerahkan tenaga pada lengan kirinya. "Dukk!" Tangan laki-laki buntung itu terpental, akan tetapi tidak membuat lengan itu patah, bahkan kembali tangan kanan laki-laki itu menyerang dengan cengkeraman ke arah ubun-ubun kepala Lam-hai Giam-lo. Iblis ini menyeringai, maklum bahwa bagaimanapun juga, laki-laki buntung sebelah lengannya ini mempunyai sedikit kepandaian. Dan melihat gerak dan geseran kakinya, dia maklum bahwa lawannya memiliki dasar ilmu silat yang cukup tinggi. Maka, dia pun mengeluarkan kepandaian simpanannya dan dengan gerakan dahsyat dia menubruk ke depan, mengembangkan kedua tangannya dan membentak dengan nyaring sekali. Suara bentakannya melengking dan mengejutkan laki-laki itu yang berusaha untuk menghindar sambil menggerakkan tangan kanan menangkis. Namun, serangan itu terlampau hebat. Angin pukulan yang keras menyambar dan laki-laki itu terpelanting sampai bergulingan dan sebuah tendangan susulan yang mengenai pinggulnya membuat tubuhnya terjungkal ke dalam jurang, ke bawah tebing yang amat curam tadi!
"Ha-ha-ha, kaususullah gadis keras kepala tadi. Dan kau, anak manis, ke sinilah, mari ikut bersamaku bersenang-senang!" Dia melangkah menghampiri gadis remaja yang masih berada di tepi tebing. Gadis itu tadi masih merasa ngeri melihat betapa tubuh wanita itu tadi dilempar ke bawah, kini melihat pria buntung lengan kirinya juga terpelanting ke bawah tebing, ia menahan jeritnya dan memandang dengan mata terbelalak ke bawah tebing. Ketika Lam-hai Giam-lo yang mukanya menyeramkan itu kini menghampirinya, gadis cilik itu tak dapat menahan rasa ngerinya dan dengan nekat ia pun meloncat ke bawah tebing menyusul gurunya sambil berteriak memanggil.
"Suhuuuuu......!!"
Lam-hai Giam-lo tertegun. Mukanya berubah merah dan dia mengepal tinjunya, mengamang-amangkan tinjunya kebawah tebing. "Keparat, kau melahap semuanya!" bentaknya seolah-olah marah kepada tebing yang telah menelan dua calon korbannya. Kini dia tidak kebagian apa-apa dan kalau saja di situ terdapat orang lain, tentu akan menjadi korban kemarahannya. Dia menendang sebuah batu besar sehingga batu itu pun menggelinding ke bawah tebing, lalu mendorong roboh sebatang pohon besar dengan kedua tangannya, menendangi batu-batu kecil seperti orang kesurupan setan. Setelah melampiaskan kemarahannya, Lam-hai Giam-lo lalu lari dari tempat itu.
Menurut akal sehat, sungguh tidak mungkin sekali kalau orang yang terjungkal ke bawah tebing securam itu, seribu kaki tingginya, akan tetapi selamat. Tubuh tentu akan hancur lebur kalau menimpa batu-batu karang, dan akan lebih remuk lagi kalau ditangkap dan dihempaskan ombak laut yang besar itu kepada batu dan dinding karang yang runcing tajam dan keras. Akan tetapi, kenyataan kadang-kadang lebih aneh daripada perhitungan akal. Terdapat keajaiban di mana mana yang oleh kita dinamakan "kebetulan". Apalagi urusan nyawa, sungguh di luar perhitungan akal dan kita sama sekali tidak dapat menguasai mati hidup kita sendiri.
Kalau memang sudah tiba saatnya nyawa harus meninggalkan raga, biarpun kita bersembunyi ke dalam lubang semut, tetap saja maut akan datang menjemput, tepat pada saatnya dan dengan cara yang bagaimana aneh pun. Sebaliknya, kalau memang belum saatnya kita mati, biarpun sudah terancam seribu satu bahaya maut, ada saja "kebetulan" yang seribu satu macamnya yang akan membuat kita terluput daripada kematian. Seorang perajurit yang sejak mudanya menjadi perajurit, hidup di medan perang dan setiap saat terancam bahaya maut, dapat keluar tanpa lecet sedikit pun sampai hari pensiunnya. Akan tetapi begitu dia pulang ke kampung, baru saja dia terkena penyakit dan dalam satu dua hari saja meninggal dunia! Banyak pula orang yang sudah menderita sakit yang berat, sampai bertahun-tahun tidak juga mati walaupun dia sudah merasa bosan dengan penderitaan penyakitnya dan minta mati. Sebaliknya, ada pula orang yang hari ini masih nampak segar bugar dan tertawa-tawa, besok secara tiba-tiba saja meninggal dunia!
Karena itu, biarpun nampaknya ajaib dan luar biasa aneh, kalau mengingat akan hal-hal di atas, tidaklah aneh kalau laki-laki buntung lengan kirinya tadi, yang terjungkal dari tempat setinggi seribu kaki, tidak menjadi mati karena memang belum saatnya. Hanya perkataan "belum saatnya" itulah yang dapat kita keluarkan karena kita tidak dapat menembus rahasia di balik itu semua.
Ketika dia meluncur turun, laki-laki gagah ini tidak menjadi pingsan, bahkan tidak kehilangan ketenangannya. Dia tahu bahwa dia tentu akan hancur terbanting di batu-batu karang bawah sana. Akan tetapi tiba-tiba saja tubuhnya tertahan dan dia merasa punggungnya perih dan ketika dengan cekatan tangan kanannya meraih ke belakang, kiranya secara "kebetulan" sekali tubuhnya tertahan oleh sebuah pohon yang secara "kebetulan" pula tumbuh miring pada dinding tebing curam itu! Agaknya jubahnya yang berkembang karena luncuran tadi, tertangkap dan terkait dahan pohon yang "kebetulan" tidak patah sehingga tubuhnya tertahan. Pada saat itu, dia mendengar jeritan muridnya. Cepat dia bergantung dengan kedua kakinya pada dahan pohon yang terbesar, dan memandang ke atas dan dilihatnya tubuh kecil muridnya melayang turun!
laki-laki itu memang hebat, memiliki kekuatan batin yang luar biasa sehingga dalam keadaan seperti itu, dia masih sadar dan dapat membuat perhitungan dengan tepat. Ketika tubuh gadis remaja itu meluncur di dekatnya, cepat dia menyambar dengan tangan kanannya dan berhasil menangkap lengan anak perempuan itu!
Anak perempuan itu mengaduh dan dia sendiri menahan keluhannya karena belakang lutut kedua kakinya yang bergantung, juga pangkal lengan kanannya, terbetot keras dan terasa nyeri sekali. Akan tetapi dia dapat bertahan dan dia girang bahwa anak perempuan itu pun masih dalam keadaan sadar.
"Cepat, Hui Lian, kautangkap dahan pohon depanmu itu." katanya sambil menarik tubuh anak itu ke atas.
Anak yang bernama Hui Lian itu menangkap dahan pohon, kemudian dia mendekam di situ, tubuhnya agak gemetar dan ia kembali menutup matanya ketika memandang ke bawah. Ia merasa ngeri bukan main.
"Tenangkan hatimu, jangan memandang ke atas atau ke bawah. Bersukurlah bahwa kita masih dalam keadaan selamat."
"Baik, Suhu!" Dan dalam suara anak itu kini sudah terdengar keriangan, tanda bahwa hatinya sudah tenang dan ia pun berusaha bersikap riang untuk membesarkan hati gurunya.
Laki-laki itu lalu memandang ke bawah dan ke atas, mengukur dengan pandang matanya. Kiranya letak pohon itu berada di tengah-tengah tebing, ke atas masih lima ratus kaki, ke bawah masih lima ratus kaki! Dan tidak mungkin mendaki tebing itu karena tegak lurus dan permukaannya rata dan licin. Ketika dia melihat-lihat, tiba-tiba dia melihat bahwa pohon itu keluar dari sebuah guha. Burung-burung walet beterbangan keluar masuk guha yang tidak lebih dari satu meter garis tengahnya. Hal ini menandakan bahwa biarpun bagian luarnya hanya bergaris tengah satu meter, akan tetapi di sebelah dalamnya, guha itu tentu cukup lebar. Kalau tidak demikian, burung-burung itu tidak akan memilih tempat itu sebagai sarang mereka."
"Hui Lian, engkau berpegang erat-erat pada dahan itu, aku mau menyelidiki keadaan guha itu."
Laki-laki itu, dengan hanya sebelah tangan dan dua kaki, merayap melalui dahan dan batang pohon dan akhirnya berhasil sampai ke mulut guha. Dia menjenguk dan hampir berteriak kegirangan. Benar seperti yang diduga dan diharapkannya. Guha itu amat besar di bagian dalamnya dan memperoleh sinar yang cukup dari "pintu" yang satu meter garis tengahnya itu.
"Hui Lian, mari, ikuti aku, merayap ke sini. Hati-hati." katanya.
Hui Lian dengan hati-hati sekali lalu merayap melalui dahan dan batang pohon, mengikuti gurunya dan masuk ke dalam guha itu melalui batang pohon. Ketika mereka tiba di dalam guha dan turun, berdiri di lantai guha, keduanya girang bukan main. Barulah laki-laki itu sadar bahwa mereka berdua baru saja lolos dari lubang maut dan dia pun merangkul muridnya.
"Hui Lian, kita harus berterima kasih kepada Tuhan yang secara ajaib telah menyelamatkan kita!" Dan dia pun mengajak muridnya berlutut dan menghaturkan terima kasih kepada Bumi dan Langit. Setelah bersembahyang keduanya bangkit berdiri dan mulai memeriksa keadaan guha itu. Sebuah guha yang besar dan dalam, dan ada terowongannya ke dalam. Mereka belum memasuki terowongan itu, karena hati mereka masih tegang dan mereka perlu beristirahat. Laki-laki itu mengajak muridnya duduk bersila di bagian depan guha itu yang merupakan ruangan yang tidak kurang dari sepuluh meter panjangnya dan lima meter lebarnya, dengan pintu lubang satu meter garis tengahnya tadi. Lantainya rata dan licin, seperti lantai rumah saja.
"Suhu, bagaimana kita dapat naik lagi?"
"Hui Lian, belum saatnya kita memikirkan hal itu. Sekarang, bergembiralah bahwa kita telah mendapatkan sebuah tempat yang untuk sementara dapat kita tinggali."
"Tapi... tapi... bagaimana kita dapat minum, makan dan keluar dari tempat ini....?"
Gurunya memegang kepalanya dengan tangan kanan, mengelus rambutnya dan berkata, suayanya halus. "Hui Lian, kita baru saja terlepas dari cengkeraman maut, perlu apa kehilangan akal untuk urusan lain? Semua itu nanti dapat kita selidiki perlahan-lahan, dan sekarang, yang terpenting kita samadhi untuk memulihkan tenaga dan ketenangan batin. Marilah." Hui Lian mengangguk, tidak membantah lagi dan tak lama kemudian, guru dan murid itu sudah duduk bersila dengan tubuh tegak lurus, tenggelam kedalam samadhi.
Siapakah guru dan murid ini? Laki-laki berlengan kiri buntung itu bernama Ciang Su Kiat dan muridnya bernama Kok Hui Lian. Para pembaca kisah Asmara Berdarah mungkin belum lupa akan nama Ciang Su Kiat. Dia adalah bekas murid Cin-ling-pai yang membuntungi lengan kirinya sendiri karena dianggap bersalah terhadap Cin-ling-pai oleh Ketua Cin-ling-pai yang ketika itu menjadi gurunya, ialah Cia Kong Liang yang berwatak keras dan tegas itu. Setelah membuntungi lengan kirinya sendiri, Ciang Su Kiat keluar dari Cin-ling-pai, tidak menjadi anggauta Cin-ling-pai lagi dan selanjutnya orang tidak tahu ke mana dia pergi menyembunyikan dirinya.
Akan tetapi, dengan hati yang prihatin, Ciang Su Kiat bukan bersembunyi untuk merenungi nasibnya, melainkan dengan mati-matian dia menggembleng dirinya dengan ilmu-ilmu silat yang lebih mendalam sehingga biarpun dia kehilangan lengan kiri sebatas siku, di lain pihak dia memperoleh kemajuan pesat dalam ilmu silat. Beberapa tahun kemudian, ketika terjadi San-hai-koan dilanda perang, barulah secara tiba-tiba dia muncul dan dengan kepandaiannya yang sudah maju pesat, dia berhasil menyelamatkan puteri tunggal keluarga Kok-taijin Gubernur San-hai-koan yang terbasmi semua, lalu membawa puteri yang baru berumur sepuluh tahun itu meninggalkan San-hai-koan. Puteri itu bukan lain adalah Kok Hui Lian yang kemudian menjadi muridnya, juga anak angkatnya karena Hui Lian sudah kehilangan ayah bunda dan seluruh keluarganya.
Sebetulnya, yang tadinya menyelamatkan Hui Lian dari rumah Gubernur Kok adalah Cia Hui Song, putera dari ketua Cin-ling-pai. Akan tetapi karena dia dikeroyok orang-orang pandai, terpaksa dia melepaskan Hui Lian dan hampir saja Hui Lian celaka tertawan musuh kalau saja tidak muncul Ciang Su Kiat yang menyelamatkannya dan membawanya lari.
Sampai dua jam lamanya Ciang Su Kiat dan Kok Hui Lian duduk bersamadhi di ruangan depan guha itu. Setelah mereka merasa bahwa kekuatan mereka pulih kembali dan batin mereka menjadi tenang, barulah mereka bangkit dan Ciang Su Kiat mengajak muridnya untuk melakukan pemeriksaan ke dalam guha. Mula-mula mereka menjenguk ke luar dan sekali lagi mereka mendapat kenyataan bahwa tidak mungkin mereka keluar dari tempat itu. Untuk merayap, turun atau naik tidaklah mungkin. Jarak naik atau turun sejauh lima ratus kaki, dan dinding tebing itu terjal, tegak lurus dan licin sekali. Seekor monyet sekalipun kiranya tidak mungkin mampu merayap sampai ke permukaan laut di bawah atau naik sampai ke atas. Hanya burung-burung walet itulah mampu keluar dari tempat itu. Setelah merasa yakin bahwa mereka tidak mungkin keluar dari situ melalui dinding di luar guha, mereka lalu masuk kembali dan memeriksa keadaan ruangan dalam. Guha itu adalah guha alam, lantai dan dindingnya semua dari batu karang yang amat kuat. Hanya anehnya, lantainya begitu rata dan licin seolah-olah ada orang yang melicinkannya. Ketika meraba dinding dan merasa betapa dinding itu lembab dan basah, Su Kiat berkata girang, "Ahh, setidaknya, kebutuhan kita akan air dapat terpenuhi!"
"Di mana ada air, Suhu?"
"Di dalam dinding ini. Lihat, dinding ini basah dan lembab, dan di sana-sini nampak air menetes. Kalau kita melubangi dinding ini membentuk mangkok, sebentar saja tentu akan penuh dengan air jemih dan segar!"
Keduanya lalu mempergunakan pecahan-pecahan batu untuk memukuli bagian dinding yang paling basah dan karena Ciang Su Kiat memiliki tenaga yang besar, tak lama kemudian dia berhasll membuat lubang sebesar kepala orang yang mencekung seperti mangkok pada dinding itu. Benar saja, nampak air menetes-netes dan walaupun hanya satu tetes demi satu tetes, karena deras dan tiada hentinya, tempat itu pun penuh dengan air jernih yang ketika mereka minum, terasa manis dan segar.
Mereka lalu memeriksa terus, dan mulai memasuki terowongan. Baiknya sinar matahari yang memasuki tempat itu melalui lubang guha, amat terang sehingga cahayanya sempat pula masuk keterowongan. Biarpun remang-remang keadaannya, mereka masih dapat melihat dengan jelas keadaan terowongan. Terowongan itu setinggi manusia. Su Kiat harus agak menunduk dan panjangnya hanya sepuluh meter. Burung-burung walet menyambar-nyambar dan ternyata burung-burung itu membuat sarang mereka di atas atap terowongan, juga di bagian belakang terowongan yang tingginya dua meter setengah. Akan tetapi, yang mengherankan hati mereka adalah ketika mereka menemukan dua buah ruangan di kanan kiri terowongan, seperti dua buah kamar saja walaupun tanpa daun pintu.
"Iihhhhh......." Su Kiat terkejut dan cepat melompat ke dekat muridnya yang menjerit tadi. Dia tadi memeriksa kamar di kiri sedangkan muridnya agaknya masuk ke kamar sebelah kanan. Kini dia pun dapat melihat apa yang menyebabkan muridnya menjerit tadi. Di dalam kamar sebelah kanan itu terdapat dua rangka manusia yang masih lengkap dan utuh, keduanya duduk bersila dan bersandar pada dinding. Di depan dua rangka itu terdapat dua buah kitab yang masih terbuka! Mereka segera memeriksanya. Agaknya dua orang yang kini telah menjadi rangka itu, dahulunya mati dalam keadaan bersila di kamar itu. Dan ketika Su Kiat memeriksa dua buah kitab yang berada di depan rangka, ternyata bahwa itu adalah kitab-kitab pelajaran ilmu silat, lengkap dengan gambar-gambar dan huruf-hurufnya. Jantungnya berdebar tegang. Akan tetapi dua buah kitab itu tidak dijamahnya dan setelah memeriksa keadaan di kamar itu lebih teliti, dia lalu mengajak muridnya memeriksa kamar di sebelah kiri. Di dalam kamar ini dia menemukan sebatang pedang pendek dengan sarung pedang berukirkan kembang seruni. Ketika dia mencabutnya, dia terkejut karena pedang itu bukan sebatang pedang biasa, melainkan sebatang pedang pusaka yang berkilauan saking tajamnya, dengan sinar putih kebiruan! Kembali dia meletakkan pedang di tempatnya.
Penemuan-penemuan itu hanya mendatangkan kegembiraan sedikit saja karena pada saat itu, yang terpenting adalah mempertahankan hidup dan mencari jalan keluar. Tanpa ada makanan mereka tak mungkin hidup dari air saja, dan tanpa dapat keluar dari tempat itu, apa gunanya kitab pelajaran ilmu silat dan pusaka?
Akan tetapi setelah tinggal di situ tiga hari lamanya, setelah mereka kehilangan harapan untuk dapat keluar dari situ, setelah mereka tidak mengharapkan lagi untuk dapat keluar, batin mereka bahkan menjadi tenang. Mereka dapat menerima kenyataan yang ada dan hal ini menenangkan batin, dan kalau batin tenang, kecerdasan pun timbul. Mereka mulai menemukan hal-hal baru. Telur-telur dan sarang burung dapat menjadi makanan mereka setiap hari, bahkan kalau perlu mereka dapat menangkap burung kecil-kecil itu untuk menjadi makanan tanpa mengurangi jumlah burung yang ribuan banyaknya. Juga di bagian belakang terowongan mereka menemukan semacam lumut atau jamur-jamur kecil berwarna putih yang ternyata enak dimakan, kalau dimasak seperti daging ayam saja rasanya. Untuk membuat api bukan merupakan hal yang sulit karena di situ terdapat banyak batu-batu keras yang kalau digosokkan keluar bunga api dan mencari daun kering dan kayu kering juga banyak terdapat di luar guha. Pohon yang tumbuh di dalam mulut guha itu mungkin dahulunya merupakan biji yang dibawa burung dan terjatuh ke mulut guha, karena di situ lembab banyak air dan mendapat sinar matahari lalu tumbuh menjadi pohon besar yang keluar dari dalam melalui mulut guha.
Hal yang amat aneh akan tetapi juga menggirangkan hati didapatkan oleh guru dan murid. itu. Setelah mereka setiap hari makan telur dan sarang burung walet, ditambah jamur kecil atau lumut itu, mereka merasa betapa tubuh mereka menjadi segar seperti memperoleh kekuatan baru! Giranglah hati Su Kiat yang dapat menduga bahwa di dalam makanan itu tentu terkandung gizi yang luar biasa, terkandung obat yang menguatkan tubuh.
Karena merasa sehat dan segar, mulailah Su Kiat memperhatikan dua buah kitab itu dan dengan girang dia mendapat kenyataan bahwa dua buah kitab itu adalah kitab-kitab pelajaran ilmu silat yang luar biasa anehnya, juga di situ terdapat ilmu silat yang luar biasa anehnya, juga di situ terdapat pelajaran untuk menghimpun tenaga sakti, pelajaran untuk memperkuat sinkang mereka. Tentu saja mereka berdua semakin bersemangat mempelajari isi kitab itu dan di bawah bimbingan Su Kiat, mulailah Hui Lian mempelajari dan melatih diri dengan ilmu silat dari dua buah kitab itu. Kitab pelajaran silat tangan kosong itu pada kulitnya tertulis nama itu, ialah Sian-eng Sin-kun (Silat Sakti Bayangan Dewa), sedangkan kitab ke dua bernama In-Iiong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Awan). Su Kiat sama sekali tidak pernah mimpi bahwa dia dan muridnya telah menerima warisan ilmu yang amat dahsyat, merupakan ilmu inti dari dua orang tokoh besar, yaitu In Liong Nio-nio dan Sian-eng-cu The Kok, dua di antara Delapan Dewa! Dua kerangka manusia itu adalah kerangka dua orang sakti itulah, yang meninggal dunia di dalam guha itu dengan meninggalkan kitab pelalaran inti ilmu silat mereka. Sungguh sukar mencapai tempat itu dan kalau bukan "jodoh", sudah pasti takkan ada yang dapat menemukan dua buah kitab itu. Dan kalau dibiarkan terus, tentu dalam waktu puluhan tahun, kitab itu akan hancur dan lenyap pula.
Dua macam ilmu itu ternyata amat rumit dan sukar sekali dipelajari, bahkan tidak mungkin dapat dikuasai sebelum orang yang mempelajarinya melatih diri dengan ilmu-ilmu sinkang yang khas untuk kedua ilmu itu, seperti yang dijelaskan pada lembaran-lembaran pertama. Karena itu, Su Kiat memimpin muridnya untuk lebih dahulu mempelajari penghimpunan tenaga sakti menurut petunjuk dua kitab itu. Dan karena ketika masuk kedalam guha itu, usia Hui Lian baru dua belas tahun, maka untuk berlatih menghimpun tenaga sakti itu saja membutuhkan waktu empat tahun! Kemudian, barulah dara ini melatih diri dengan ilmu itu bersama-sama gurunya.
Ada satu hal yang aneh lagi terjadi pada diri Hui Lian. Setelah ia mulai dewasa dan dari anak-anak berubah menjadi seorang gadis, bau keringat tubuhnya menjadi harum! Hal ini tidak terjadi pada diri Su Kiat dan pria gagah itu pun dapat menduga bahwa keharuman keringat ini tentu timbul karena terjadi proses di dalam tubuh muridnya sebagai akibat makanan yang hanya terdiri dari telur burung, sarang burung, dan jamur-jamur kecil putih itu! Dan kalau dia sendiri tidak mendapatkan keharuman pada keringatnya, hal itu tentu karena ada perbedaan antara dia dan muridnya. Dia seorang pria dan muridnya seorang wanita.
Kadang-kadang di waktu malam, Su Kiat bersembahyang dan merasa bersyukur kepada Tuhan bahwa di dalam hatinya telah tumbuh rasa sayang kepada Hui Lian sebagai seorang ayah terhadap anak kandungnya! Tanpa rasa sayang seperti ini, dia tahu amatlah berbahaya bagi dia sebagai seorang pria hidup berdua saja dengan seorang wanita seperti Hui Lian, apalagi setelah Hui Lian kini bukan kanak-kanak lagi melainkan makin lama makin nampak menjadi seorang gadis yang luar biasa cantiknya. Mereka berdua hidup di tempat terkurung seperti itu, dengan pakaian yang makin lama makin tidak lengkap. Mereka sudah berusaha untuk menghemat pakaian, dengan memotong pakaian mereka menjadi beberapa potong baju dan celana pendek. Akan tetapi tahun demi tahun, pakaian itu semakin tua dan rusak sehingga setiap hari dia harus melihat muridnya itu hanya memakai pakaian sekedar penutup dada dan pusar saja. Dia sendiri hanya memakai celana pendek tanpa baju! Untung Hui Lian mendapatkan akal, menggunakan kulit batang pohon untuk dijadikan semacam penutup tubuh yang biarpun kasar sekali akan tetapi awet.
Cintanya terhadap Hui Lian seperti cinta seorang ayah, yang ada hanya rasa sayang dan iba. Perasaan cinta seperti ini meniadakan nafsu berahi, akan tetapi kalau malam tiba, dia harus banyak melakukan siu-lian (samadhi) sehingga dapat juga dia selalu memadamkan api berahi yang kadang-kadang timbul juga sebagai suatu kewajaran.
Dengan daya tahan yang luar biasa, kedua orang itu dapat melewati waktu sepuluh tahun! Kini Su Kiat telah menjadi seorang laki-laki berusia empat puluh tahun, sedangkan Hui Lian menjadi seorang gadis yang cantik jelita berusia dua puluh dua tahun. Dan mereka telah menamatkan seluruh isi kedua kitab itu.
Pagi itu Hui Lian keluar dari guha dan nongkrong di atas dahan pohon. Seekor burung yang agak besar melayang dan hendak hinggap di pohon itu. Melihat burung yang besar ini Hui Lan merasa gembira sekali. Ingin dia menangkapnya. Tentu enak daging burung ini. Tidak seperti burung walet yang kecil-kecil dan lebih banyak tulangnya dan bulunya dari pada dagingnya. Begitu burung itu hinggap, cepat Hui Lian menyambar dan kini gadis itu tak boleh disamakan dengan sepuluh tahun yang lalu. Berkat latihan ilmu-ilmu yang luar biasa itu, ia memiliki kecepatan seperti kilat dan angin. Burung itu hanya sempat terkejut, akan tetapi tahu-tahu lehernya sudah ditangkap. Akan tetapi, karena gembiranya, Hui Lian sampai lupa diri, lupa bahwa ia berada di atas pohon, bukan di atas tanah. Gerakannya tadi menggunakan tenaga terlalu besar.
"Krekkkk...!" dahan itu patah dan tubuhnya terjatuh ke bawah! Hui Lian melepaskan burung itu dan cepat ia menggunakan tenaga dalam di tubuhnya untuk meraih ke samping. Kedua tangannya secara otomatis mencengkeram dan mengenai dinding tebing.
"Crepp!" Jari-jari kedua tangannya menancap pada dinding itu seperti dua cakar harimau mencengkeram daging kijang saja! Dan tubuhnya terhenti.
"Hui Lian.....!" Gurunya menjenguk dari atas dan guru ini terheran-heran dan khawatir melihat muridnya bergantung di dinding tebing yang demikian curamnya.
"Suhu, kedua tanganku dapat mencengkeram dinding tebing!" teriak Hui Lian dari bawah, kurang lebih sepuluh meter dari guha. "Teecu akan merayap ke atas!" Kini dengan kedua tangannya, dibantu oleh kakinya yang menekan tebing, kedua tangan itu bergantian mencengkeram ke atas, Hui Lian perlahan-lahan merayap naik dan dapat mencapai guha dengan selamat. Begitu meloncat ke dalam guha, Hui Lian langsung merangkul gurunya dan menangis.
"Eh...! Anak gila, kenapa kau malah menangis? Engkau sudah selamat, sepatutnya bersukur......"
"Suhu, apakah Suhu tidak melihatnya? Aku dapat merayap naik dengan kedua tanganku!"
Suhunya tersenyum. "Habis mau apa? Apakah aku harus bertepuk tangan memuji? Nah, aku bertepuk tangan." Dia pun bertepuk tangan seperti orang memuji dan mengagumi.
"Ihh, Suhu ini bagaimana sih? Makin tua malah semakin bodoh!" Hui Lian mengomel. Selama tinggal di dalam guha itu memang Su Kiat bergaul dengan muridnya , seperti sahabat saja, tidak pernah menekankan sikap hormat bagi muridnya sehingga pergaulan mereka akrab dan hanya kalau teringat saja Hui Lian bersikap hormat.
"Wah, engkau ini murid macam apa? Berani memaki gurunya bodoh!" Su Kiat menegur, akan tetapi dengan sikap berkelakar.
"Maaf, Suhu. Saking gembiraku maka aku sampai lupa diri. Suhu, kalau aku mampu merayap dengan kedua tangan, berarti Suhu juga akan mampu melakukannya!"
"Untuk apa? Jangan-jangan kuku jari-jari tanganku akan copot." !
"Untuk apa? Bagaimana sih Suhu ini? Tentu saja untuk merayap naik keluar dari neraka ini!"
Sepasang mata itu terbelalak. "Keluar dari sini... ? Ahh.....ah, mungkinkah itu......?"
"Suhu, tentu saja! Mari kita coba!"
Bagaikan baru sadar dari mimpi, Su Kiat lalu meloncat keluar dari dalam mulut guha, menginjak batang pohon dan mencoba dengan kedua tangannya untuk mencengkeram dinding tebing. Dan ternyata lima buah jari tangannya juga dapat menancap dan mencengkeram batu padas itu dan tanpa banyak kesukaran dia merayap naik sampai beberapa meter tingginya.
"Suhu, tunggu dulu! Kita harus berpamit dan berterima kasih kepada kedua orang Locianpwe di dalam!" kembali Hui Lian memperingatkan gurunya. Biarpun dia bergembira bukan main. Su Kiat teringat akan hal ini dan dia pun merayap turun lagi, meloncat ke dalam guha dan merangkul muridnya, seperti yang dilakukan oleh Hui Lian tadi. Gadis itu merasa terharu melihat betapa kedua mata suhunya basah oleh air mata. Suhunya juga menangis saking haru dan girangnya! Baru dara ini sadar betapa diam-diam suhunya, walaupun sama sekali tidak memperlihatkannya, teramat rindu untuk dapat keluar dari tempat itu. Keduanya lalu masuk ke dalam, menjatuhkan diri berlutut di depan kedua kerangka manusia itu.
"Ji-wi Locianpwe (Dua Orang Tua Gagah), kami berdua menghaturkan banyak terima kasih atas warisan ilmu-ilmu dan pedang. Tanpa petunjuk Ji-wi, tidak mungkin kami akan dapat keluar dari tempat ini."
Kemudian mereka membawa dua buah kitab yang oleh Su Kiat diikatkan pada punggungnya, dibungkus sisa kain dan diikat dengan tali terbuat dari kulit batang pohon, sedangkan pedang Kiok-hwa-kiam (Pedang Bunga Seruni) yang oleh Su Kiat diberikan kepada muridnya, tergantung pula di punggung Hui Lian. Lalu keduanya mulai merayap naik, perlahan-lahan dan hati-hati sekali, Su Kiat di atas dan Hui Lian mengikutinya dari bawah. Dengan tenaga sinkang mereka yang sudah amat tinggi, jari-jari tangan mereka yang mencengkeram itu menjadi keras seperti cakar baja dan dengan hati berdebar penuh ketegangan, harapan dan kegembiraan, mereka merayap terus pada dinding tebing yang tingginya tidak kurang dari seratus lima puluh meter itu!
Akhirnya, setelah merayap perlahan-lahan selama hampir setengah jam, tibalah mereka di daratan atas. Saking girangnya, Su Kiat lalu berlutut dan Hui Lian berlutut di sebelahnya. Sampai lama kedua orang guru dan murid itu hanya mendekam di situ, tanpa kata, dengan hati penuh rasa bersyukur dan terima kasih karena mereka sama sekali tidak pernah menyangka bahwa mereka akan pernah dapat keluar dari tempat kurungan itu! Setelah sepuluh tahun!
Tidaklah mengherankan kalau Su Kiat dan Hui Lian merasa penuh dendam terhadap Lam-hai Giam-lo. Orang bermuka kuda itulah yang membuat mereka menderita selama sepuluh tahun di tempat terasing itu.
"Suhu, kalau aku tidak dapat membekuk jahanam itu, hatiku akan selalu merasa penasaran. Aku ingin membekuknya, menyeretnya ke sini dan melemparkannya ke bawah tebing!" demikian Hui Lian berkata dengan suara yang membuat gurunya merasa tengkuknya meremang karena dalam suara itu terkandung kedinginan dari hati yang penuh dendam. "Setelah itu aku ingin pergi mengunjungi Cin-ling-pai, hendak kulihat sampai di mana kelihaian Cin-ling-pai maka mereka berani menghina Suhu!"
Selama sepuluh tahun berdua dengan suhunya di dalam guha itu, Hui Lian mendengar banyak tentang riwayat gurunya dan tentang Cin-ling-pai yang dipimpin oleh ketuanya yang berwatak keras dan angkuh, tentang para pendekar di dunia kang-ouw yang pernah dikenal oleh suhunya. Juga dara ini mendengar tentang dirinya yang sudah tidak memiliki keluarga lagi. Karena itu, selain mendendam kepada Lam-hai Giam-lo yang membuat mereka berdua menderita, ia pun diam-diam merasa penasaran kepada Ketua Cin-ling-pai.
Ciang Su Kiat menarik napas panjang. "Muridku yang baik, tenangkan hatimu. Menentang orang-orang jahat memang sudah menjadi tugasmu karena aku ingin melihat engkau menjadi seorang pendekar wanita yang gagah perkasa. Akan tetapi ingatlah baik-baik bahwa di dunia ini terdapat banyak sekali orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Aku sendiri pun harus membalas atas kejahatan Lam-hai Giam-lo, akan tetapi ada hal yang lebih penting dari itu."
"Apakah hal yang lebih penting itu, Suhu?"
"Pertama-tama, mencari pakaian yang pantas untukmu!" kata Ciang Su Kiat sambil tersenyum melihat keadaan muridnya. Muridnya itu telah menjadi seorang gadis berusia dua puluh dua tahun, dengan wajah yang amat cantik manis, tubuhnya yang padat berisi dan sudah masak sehingga tentu akan menggegerkan orang kalau muncul di depan umum dengan pakaian seperti itu! Hanya sebuah celana sebatas lutut dan baju yang hanya menutupi dadanya saja. Mana mungkin menyembunyikan lekuk lengkung tubuhnya dengan tonjolan-tonjolan yang menggairahkan itu!
"Pakaian?" Hui Lian menundukkan muka memandang ke arah pakaiannya dan wajahnya menjadi kemerahan, akan tetapi hanya sebentar saja. Ia sudah tidak merasa canggung sama sekali berpakaian seperti itu di depan suhunya, karena sudah terbiasa, dan karena memang tidak ada pandang mata yang menimbulkan rasa canggung atau malu dari gurunya. "Ah, ke mana kita harus mencari pakaian, Suhu?"
Suhunya bangkit berdiri dan memandang ke kanan kiri. Dia mengingat-ingat dan teringatlah dia bahwa tidak jauh dari situ, kurang lebih sepuluh li saja, terdapat sebuah dusun nelayan di tepi pantai.
"Kita pergi ke dusun sana dan mencuri pakaian untukmu."
"Mencuri... ??" Hui Lian menatap wajah gurunya dengan mata terbelalak dan Su Kiat memandang dengan kagum. Muridnya ini cantik bukan main, memiliki sepasang mata yang demikian lebar, jeli dan indah. "Suhu sendiri yang berkali-kali mengatakan bahwa mencuri adalah perbuatan yang tidak baik, dan hanya dilakukan oleh orang-orang jahat."
"Memang benar, muridku. Kalau kita mencuri karena kita menginginkan barang-barang mahal dan indah, kalau mencuri karena keinginan, hal itu amatlah jahat, apalagi kalau perbuatan kita itu mendatangkan duka dan kesengsaraan kepada yang kita curi. Akan tetapi dalam hal keadaan kita ini, kita mencuri karena terpaksa, dan kita hanya akan mencuri pakaian di rumah seorang yang kaya sehingga tidak ada artinya bagi yang kecurian. Apa artinya pakaian beberapa potong bagi keluarga kaya? Mari kita pergi." Hui Lian mengikuti gurunya melangkah pergi setelah mereka untuk yang terakhir kalinya menjenguk ke bawah tebing. "Akan tetapi, Suhu, aku tetap tidak ingin mencuri. Aku mau terang-terangan mendatangi orang kaya dan minta pakaian untuk aku dan untuk Suhu."
Hampir saja Su Kiat tidak dapat menahan ketawanya. Hui Lian hendak mendatangi orang dan minta pakaian dalam keadaan setengah telanjang seperti itu? Akan tetapi dia menahan kegelian hatinya. Bagaimanapun juga, belum tentu yang dimintai oleh muridnya itu orang-orang tidak sopan, mungkin saja orang budiman yang mau menolong. Andaikata Hui Lian akan menemui kekurang ajaran seperti yang disangkanya, biarlah gadis itu belajar tentang hidup dan watak manusia pada umumnya, dari pengalaman langsung. Dia merasa kasihan kepada muridnya. Sejak berusia dua belas tahun telah terasing, hanya berdua saja dengan dia selama sepuluh tahun, tak pernah mengenal manusia lain sehingga mungkin saja gadis itu menganggap bahwa semua orang seperti dia, tidak bersikap kurang ajar. Gadis itu masih merasa seperti kanak-kanak, tidak tahu bahwa dirinya telah menjadi seorang gadis yang masak, yang memiliki wajah dan tubuh menggiurkan, apalagi dengan pakaian setengah telanjang seperti itu.
"Baiklah, engkau boleh mencobanya dan aku akan menanti di luar dusun." katanya.
Setelah mereka tiba di luar dusun yang dimaksudkan, hari telah menjelang sore dan matahari mulai condong ke barat, cahayanya mulai redup. Seorang diri Hui Lian melangkah dan memasuki dusun itu. Tentu saja kemunculannya membuat semua orang terbelalak. Mula-mula orang mengira bahwa ia seorang perempuan gila, akan tetapi ketika mata mereka, terutama mata laki-laki, melihat bahwa ia adalah seorang gadis yang cantik dengan bentuk tubuh yang menggairahkan, tubuh yang berkulit kuning halus dan mulus, hampir tidak tertutup pakaian, semua orang memandang kagum dan terheran-heran.
Tanpa mempedulikan sikap orang-orang itu, juga beberapa orang laki-laki yang mengikuti di belakangnya. Hui Lian melangkah terus dan akhirnya ia berhenti di depan sebuah rumah yang paling besar dan megah di dusun itu. Inilah rumah orang kaya, pikirnya. Ia sendiri di waktu kecil adalah puteri gubernur, dan banyak rumah-rumah besar dan indah dilihatnya di kota. Rumah yang kini dipandangnya itu, kalau di kota tentu belum termasuk rumah orang kaya. Akan tetapi di dusun ini, rumah itu menonjol di antara rumah-rumah gubuk yang sederhana.
Kebetulan sekali pada saat itu, seorang pria berusia tiga puluh tahun yang melihat pakaiannya tentu seorang yang kaya, diiringkan oleh empat orang pengawalnya, keluar dari rumah itu. Tentu saja dia dan empat orang kawannya, yang rata-rata berusia tiga puluh tahun dan berpakaian seperti tukang-tukang pukul, tertegun melihat masuknya seorang gadis hampir telanjang dari pintu pekarangan. Gadis yang amat cantik, dengan bentuk tubuh yang aduhai!
Hui Lan sudah melangkah dekat dan menjura, "Apakah engkau pemilik rumah ini?" tanyanya, cara bicaranya sederhana sekali.
Pria itu masih melongo karena dia merasa seperti mimpi bertemu dengan seorang gadis seperti ini. Gadis itu hampir telanjang, bukit-bukit payudaranya nampak, perutnya juga nampak, kulitnya begitu putih mulus, namun gadis itu sama sekali tidak kelihatan malu-malu atau canggung!
"Benar, Lui-kongcu ini adalah tuan rumah." seorang di antara pengawalnya yang menjawab sambil menyeringai.
Hui Lian sudah mengerutkan alisnya melihat pandang mata lima orang laki-laki itu. Pandang mata mereka itu bukan hanya pecundang mata keheranan, melainkan mengandung sesuatu yang kurang ajar. Pandang mata itu seperti dapat dia rasakan meraba-raba ke seluruh kulit tubuhnya.
"Aku datang untuk minta pertolongan." katanya pula.
"Ah, tentu saja, Nona. Aku akan suka sekali menolong Nona. Silakan masuk, Nona." kaki-Iaki yang disebut Lui-kongcu itu mempersilakannya dengan sikap manis.
Hui Lian menggeleng kepala. "Aku hanya datang untuk minta agar diberi satu pasang pakaian untuk aku dan untuk guruku. Kami kehabisan pakaian dan membutuhkannya."
Lui-kongcu tersenyum dan kembali matanya menjelajahi seluruh tubuh gadis itu dengan penuh kagum. Seorang gadis yang hebat, pikirnya. Dia mengangguk-angguk. "Aku dapat melihat bahwa engkau memang membutuhkan pakaian, Nona. Marilah, mari masuk dan kau boleh tinggal di sini dan akan kuberi pakaian sebanyak-banyaknya. Pakaian yang indah-indah, perhiasan dan apa saja yang kau butuhkan."
"Berilah sepasang saja untukku dan sepasang untuk Guruku, dan aku akan pergi dengan berterima kasih."
"Aihh, mengapa tergesa-gesa, Nona? Seorang gadis cantik seperti engkau tidak pantas berkeliaran dalam keadaan setengah telanjang. Masuklah, aku akan memberi segalanya asal saja engkau mau......"
"Mau apa ?" tanya Hui Lian yang tidak mengerti maksud orang.
"Heh-heh-heh!" Lui-kongcu tertawa dan empat orang pengawalnya ikut pula tertawa.
"Masa engkau tidak tahu, Nona. Asal engkau mau menjadi kekasihku tentu saja. Engkau cantik dan aku suka sekali....."
"Plakkk!" Tiba-tiba saja tangan Hui Lian sudah menamparnya.
"Aughhh.....!" Lui-kongcu terpelanting. Beberapa buah giginya copot dan mulutnya berdarah, bibirnya pecah dan pipinya membengkak hitam. Dia mengaduh-aduh dan mengusap pipinya yang ditampar tadi.
Melihat ini, tentu saja empat orang pengawal atau tukang pukulnya menjadi marah sekali. Tanpa dikomando lagi, mereka berempat sudah menubruk maju, bermaksud menangkap gadis itu dan menyerahkannya kepada Lui-kongcu.
Akan tetapi, Hui Lian yang sudah marah menyambut terkaman mereka itu dengan gerakan kaki tangannya dan empat orang itu sendiri tidak tahu apa yang terjadi atas diri mereka karena tiba-tiba saja mereka terpelanting ke kanan kiri dan kepala pening dan tidak mampu bangun kembali. Ketika mereka sadar dan dapat bangkit, ternyata gadis setengah telanjang itu telah lenyap dari situ.
Hui Lian menghadap suhunya dengan muka merah, masih marah dan mulutnya cemberut. Su Kiat yang melihat keadaan muridnya segera bertanya apa yang terjadi. Hui Lian menceritakan pengalamannya dan gurunya itu tertawa.
"Ha-ha-ha, sudah kuduga akan terjadi demikian, muridku. Memang aku membiarkan engkau menghadapinya agar engkau tahu sendiri dari pengalaman. Bukankah aku sudah menyarankan agar kita mencuri saja?"
"Suhu, apakah semua laki-laki seperti mereka itu?" Ia teringat akan sikap gurunya lalu menambahkan. "Apakah tidak ada laki-laki lain yang seperti Suhu sikapnya?"
"Tentu saja ada dan banyak, muridku. Akan tetapi, sebagian besar laki-laki memang mata keranjang dan kurang ajar terhadap wanita. Mereka itu sudah terlanjur menganggap wanita sebagai sesuatu yang indah, sesuatu untuk dipermainkan dan untuk menghibur dan menyenangkan hati mereka. Karena itu, melihat keadaanmu seperti ini, setengah telanjang, tentu saja kekurangajaran mereka timbul secara menyolok."
Hui Lian mengepal tinju. "Hemm, lain kali kalau ada yang kurang ajar seperti itu, akan kubunuh dia!"
Su Kiat mengerutkan alisnya. "Sabarlah, muridku. Tidak baik sembarangan membunuh orang hanya karena kesalahan yang sedikit saja. Laki-laki memang suka menggoda wanita dan belum dapat dinamakan jahat kalau dia hanya sekedar menggoda dengan pandang mata dan kata-kata saja. Laki-laki menggoda wanita itu biasanya karena dia menyukainya atau mengaguminya. Tidak ada laki-laki yang menggoda wanita yang dianggapnya buruk dan tidak menarik. Karena tertarik, seorang laki-laki menggoda untuk menarik perhatian dan kalau wanita yang digodanya menanggapinya, maka mereka pun tentu saja akan menjadi akrab. Jadi, mereka itu tidak dapat dinamakan jahat, walaupun tidak sopan atau kurang ajar, karena sikap itu sudah menjadi melemahkan semua pria, tentu saja ada kecualinya. Kalau seorang laki-laki sudah melakukan paksaan atau perkosaan terhadap wanita, barulah dia itu seorang jai-hwa-cat yang berbahaya dan jahat, dan perlu diberantas."
Malam itu juga, dua bayangan berkelebat dengan cepatnya di atas wuwungan rumah hartawan Lui. Pada keesokan harinya, keluarga itu menjadi gempar lagi ketika mendapat kenyataan bahwa ada beberapa potong pakaian yang lenyap berikut sepatu, bahkan sejumlah uang. Biarpun tak seorang pun melihat bayangan Su Kiat dan Hui Lian, namun Lui-kongcu dapat menduga bahwa tentu kehilangan barang-barang itu ada hubungannya dengan gadis manis setengah telanjang yang menghajar dia, dan empat orang tukang pukulnya. Karena itu, dia pun tidak membuat ribut, takut kalau-kalau gadis yang lihai dan galak itu datang kembali.
Setelah memperoleh pakaian yang rapir, mulailah Su Kiat dan Hui Uan melakukan penyelidikan dan mencari-cari musuh besar mereka. Tidak sukar mencari seorang seperti Lam-hai Giam-lo yang amat tersohor itu. Pada suatu hari, selagi Lam-hai Giam-lo berada di pondoknya yang dibangun secara darurat di tepi Laut Selatan, masih tidur, karena semalam bergadang, namanya dipanggil orang dari luar. Lam-hai Giam-lo terbangun dan mendengarkan suara itu.
"Lam-hai Giam-lo, jahanam busuk, keluarlah engkau!"
Tentu saja kakek yang sudah berusia lima puluh tahun itu, menjadi marah mendengar makian orang, apalagi suara itu adalah suara seorang wanita! Wanita mana di dunia ini yang berani meremehkannya, bahkan memakinya? Setelah menggosok kedua matanya dan sadar benar, dia lalu melangkah keluar dari pondoknya.
Seorang gadis berpakaian sutera putih, berwajah cantik dan bertubuh ramping padat, berusia dua puluh tahun lebih, berdiri di depan pondoknya bersama seorang pria berusia empat puluh tahun lebih. Juga pria tinggi besar yang lengan kirinya buntung ini tidak dikenalnya, maka lam-hai Giam-lo memandang dengan alis berkerut dan menduga-duga siapa adanya dua orang pengunjung yang agaknya bersikap memusuhinya itu. Sepuluh tahun yang lalu, Su Kiat merupakan lawan yang amat lunak bagi Lam-hai Giam-lo, maka peristiwa itu sama sekali tidak meninggalkan kesan di hatinya dan dia benar-benar sudah lupa sama sekali kepada pria berlengan buntung sebelah itu. Apalagi kepada Hui Lian yang ketika itu masih merupakan seorang anak perempuan belum dewasa.
Sebaliknya, Su Kiat dan Hui Lian ingat benar kepada laki-laki muka kuda ini dan mereka sudah memandang dengan sinar mata mencorong penuh kemarahan. "Lam-hai Giam-lo, kami datang untuk membalas dendam atas kejahatanmu sepuluh tahun yang lalu!" kata Ciang Su Kiat.
"Siapakah kalian?" Lam-hai Giam-lo membentak, marah karena dua orang itu agaknya memandang rendah kepadanya, padahal di daerah selatan ini dia dapat menamakan dirinya sebagai tokoh sesat nomor satu.
"Lam-hai Giam-lo, lupakah engkau akan peristiwa sepuluh tahun yang lalu, ketika engkau melempar seorang gadis tak berdosa ke bawah tebing yang curam, kemudian menendang aku ke bawah tebing pula?"
"Dan aku meloncat ke bawah, menyusul Suhu!" Hui Lian membantu suhunya mengingatkan kepada musuh itu.
Kini Lam-hai Giam-lo teringat dan dia pun tertawa bergelak. Suara ketawanya lebih mirip lagi dengan ringkik kuda daripada suaranya yang sudah parau dan serak itu.
"Hieeeh-heh-heh...! Jadi kalian adalah mereka itu? Hah-hah-hah !" Tiba-tiba dia menghentikan suara ketawanya dan memandang dengan mata yang sipit itu dicoba untuk dilebarkan. "Tapi... tapi kalian sudah jatuh ke bawah tebing.....bagaimana sekarang bisa muncul lagi?"
"Lam-hai Giam-lo, betapa pun jahat dan kejammu, engkau bukanlah Giam-lo-ong yang sesungguhnya dan tidak berhak mencabut nyawa orang sebelum kematian orang itu dikehendaki oleh Thian! Dan kini kami datang untuk membalas kejahatanmu yang melampaui takaran itu."
Kembali kakek muka kuda itu tertawa meringkik. "Heh, heh, heh, kalau sepuluh tahun yang lalu aku gagal, sekarang tentu aku tidak akan gagal mencabut nyawamu, lengan buntung. Dan anak perempuan dulu itu kini telah menjadi seorang gadis yang cantik, hemm, sekarang harus melayaniku beberapa hari lamanya.!"
"Jahanam bermulut busuk!" Hui Lian memaki dan gadis ini sudah mencabut pedang Kiok-hwa-kiam (Pedang Bunga Seruni) dari punggungnya, lalu menyerang dengan tusukan kilat ke arah perut lawan.
Melihat sinar pedang yang meluncur cepat itu, dan sinarnya berkilauan menyambar, Lam-hai Giam-lo tidak berani memandang rendah dan dia pun mengelak dengan melangkah ke belakang dan miringkan tubuhnya. Akan tetapi, ternyata pedang yang meluncur lewat itu tahu-tahu sudah membalik secara aneh dan cepat sekali, tahu-tahu telah membabat ke arah lehernya dari samping!
"Ehh...!" Lam-hai Giam-lo terpaksa melempar tubuh ke belakang dan meloncat mundur, sambil mengirim tendangan yang dapat dielakkan pula oleh Hui Lian.
"Tahan dulu! Aku tidak ingin membunuh orang-orang yang tak bernama. Siapakah kalian?" bentak Lam-hai Giam-lo.
Hui Lian mewakili gurunya menjawab, suaranya dingin seperti pandang matanya sehingga Lam-hai Giam-lo merasa ngeri juga. "Aku bernama Kok Hui Lian dan ini adalah Guruku Ciang Su Kiat." Lalu dara itu mengelebatkan pedangnya. "Lam-hai Giam-lo, bersiaplah engkau untuk menebus dosa-dosamu!" Pedangnya lalu menyambar dan diputar dengan cepat sehingga lenyaplah bentuk pedangnya, berubah menjadi segulungan sinar putih yang menyilaukan mata. Sementara itu, Su Kiat juga tidak tinggal diam. Dia melihat betapa muridnya sudah memainkan In-liong Kiam-sut, maka dia pun mengimbanginya dengan permainan silat sakti Sian-eng Sin-kun.
Melihat betapa gulungan sinar pedang itu menyambar seperti ombak hendak menggulungnya, dan gerakan tangan kanan Su Kiat mengandung hawa pukulan seperti badai menderu, diam-diam Lam-hai Giam-lo menjadi terkejut. Tak disangkanya bahwa dua orang yang telah terjatuh ke bawah tebing curam itu masih hidup dan lebih tak disangkanya lagi bahwa dalam waktu sepuluh tahun, kedua orang ini telah memiliki ilmu kepandaian yang begini hebat. Dia pun cepat menggerakkan tubuhnya dan tubuhnya diputar dengan cepat sekali, berpusing seperti gasing dan dari putaran itu, kedua lengannya yang dapat mulur panjang itu mencuat dan kadang-kadang menyerang dengan tiba-tiba. Beberapa kali dia berusaha menangkap sebelah tangan Su Kiat atau pergelangan tangan Hui Lian yang memegang pedang, namun tak pernah berhasil karena kedua orang itu dapat bergerak dengan cepat, dibarengi langkah-langkah kaki yang aneh.
Lam-hai Giam-lo hampir tidak percaya akan hal yang dialaminya sendiri. Dia adalah seorang tokoh besar dan dalam hal ilmu silat, dia telah mewarisi ilmu kepandaian gurunya, mendiang Lam-kwi-ong sehingga tingkat kepandaiannya dibandingkan dengan mendiang gurunya, tidak banyak selisihnya. Akan tetapi sekarang, menghadapi pengeroyokan dua orang yang pada sepuluh tahun yang lalu belum apa-apa, kini dia terdesak hebat dan repot melayani sinar pedang dan tangan yang hanya sebelah kanan itu. Yang berbahaya bahkan lengan baju kiri yang buntung itu karena secara tak disangka-sangka sekali, kadang-kadang ujung lengan baju itu menyambar dan melakukan totokan-totokan yang ampuh. Harus diakui bahwa ilmu silat yang dimainkan laki-laki buntung lengan kirinya ini hebat luar biasa, aneh dan mengandung tenaga dahsyat. Akan tetapi, pedang yang dimainkan oleh gadis itu pun ampuh sekali. Selain pedangnya merupakan pusaka yang ampuh, juga ilmu pedang itu membingungkan Lam-hai Giam-lo. Sudah banyak dia berkelahi melawan ilmu-ilmu pedang di dunia persilatan, akan tetapi belum pernah dia menghadapi ilmu pedang yang begini tangkas. Pedang yang berubah menjadi segulungan sinar putih itu seperti seekor naga yang mengamuk! Akan tetapi nampaknya demikian lembut dan indah sekali gerakannya, seperti seorang gadis cantik yang menari-nari saja, hanya tarian itu mengandung ancaman maut di setiap gerak serangannya! Su Kiat dan Hui Lian harus mengakui bahwa mereka berhadapan dengan lawan yang amat tangguh. Su Kiat pernah menjadi murid Cin-ling-pai dan bagaimanapun juga, dia sudah memiliki pengalaman berkelahi yang cukup banyak. Sebaliknya, Hui Lian belum pernah berkelahi dan semua ilmu yang dikuasainya hanyalah berkat latihan-latihannya yang amat rajin, dibantu oleh bimbingan gurunya yang sungguh-sungguh. Oleh karena itu, permainan pedang Hui Lian juga amat hebatnya. Bahkan Su Kiat sendiri harus mengakui bahwa dalam hal berlatih ilmu pedang In-liong Kiam-sut, dia sendiri masih kalah oleh muridnya sendiri. Bukan hanya karena lengan kirinya buntung, sehingga kurang keseimbangan kalau dia yang memainkan pedang dengan ilmu itu, akan tetapi terutama sekali karena Ilmu Pedang In-liong Kiam-sut itu memang bersifat lembut seperti wanita, dan gerakannya halus indah, lebih tepat digerakkan oleh tubuh wanita yang lentur dan lemah gemulai. Dia tidak tahu bahwa ilmu pedang itu adalah ciptaan mendiang In-liong Nio-nio, seorang di antara Delapan Dewa, dan karena penciptanya wanita dan untuk dimainkan sendiri, tentu saja memiliki ciri khas permainan wanita yang halus.
Perkelahian itu semakin seru dan hebat mati-matian. Makin lama, Lam-hai Giam-lo menjadi semakin marah dan penasaran. Dia bukan hanya mempertahankan diri, melainkan juga merasa bahwa dia mempertahankan nama dan kedudukannya. Masih untung baginya bahwa pada saat itu, tidak ada saksi yang akan melihat betapa dia, Lam-hai Giam-lo, kini terdesak oleh seorang laki-laki buntung sebelah tangannya dan seorang gadis muda. Dia mengerahkan seluruh tenaganya dan mengeluarkan semua ilmunya, akan tetapi tetap saja dia terdesak terus. Sampai seratus jurus dia mampu bertahan, akan tetapi akhirnya, pundaknya terkena totokan ujung lengan baju kiri yang buntung dari Su Kiat. Lam-hai Giam-lo tidak roboh melainkan merasa kesemutan dan dalam beberapa detik dia terhuyung. Kesempatan ini cukup bagi Hui Lian untuk mendesak dengan pedangnya. Pedang itu berkelebat menuju ke arah leher lawan. Lam-hai Giam-lo terkejut, untuk mengelak sudah tidak ada waktu lagi, terpaksa dia berlaku nekat, menggunakan tangan kirinya yang diisi tenaga sinkang sepenuhnya untuk menangkis.
"Plakk!" Pedang itu tertangkis, akan tetapi kulit lengannya terobek sedikit sehingga terluka dan berdarah. Pada saat itu, sebuah pukulan tangan kanan Su Kiat mengenai punggungnya.
"Bukk!" Lam-hai Giam-lo terpelanting terus bergulingan dan muntahkan darah segar. Maklumlah dia bahwa kalau dilanjutkan, berarti dia bunuh diri, maka tanpa malu-malu lagi dia lalu meloncat dan melarikan diri.
"Pengecut, hendak lari ke mana kau!" Su Kiat membentak dan mengejar.
"Ke neraka pun akan kukejar kau! Keparat jahanam jangan lari!" Hui Lian juga berteriak mengejar.
Keringat dingin membasahi dahi dan leher Lam-hai Giam-lo, karena ketika dia menoleh, dia melihat betapa guru dan murid itu dapat berlari amat cepatnya sehingga sukar baginya untuk meloloskan diri. Dia mengerahkan seluruh tenaga dan mempergunakan semua ilmu ginkangnya untuk mempercepat larinya, namun bayangan dua orang itu tetap saja mengejar di belakangnya, hanya dalam jarak seratus meter lebih! Dan dia sudah menderita luka di sebelah dalam tubuhnya, kalau dilanjutkan pengerahan sinking seperti ini, akhirnya dia akan roboh sendiri. Untuk berhenti dan melawan, dia tidak sanggup lagi karena maklum bahwa dia tidak akan menang.
Dengan napas terengah-engah karena harus berlari cepat terus-menerus, akhirnya sebuah sungai yang cukup lebar menghalang di depannya. Lam-hai Giam-lo hampir bersorak ketika dia berhasil mencapai tepi sungai ini. Memang sungai itu yang ditujunya dan sungai itu satu-satunya harapannya untuk menyelamatkan diri. Begitu tiba di tepi sungai, dia lalu meloncat ke air dan menyelam. Memang satu di antara keahlian Lam-hai Giam-lo adalah permainan di dalam air. Melihat buruan mereka meloncat ke dalam air dan lenyap, Su Kiat dan Hui Lian tertegun berdiri di tepi sungai. Mereka hanya mampu mencari-cari dengan pandang mata mereka dan akhirnya mereka melihat buruan itu telah mendarat di seberang, akan tetapi di hulu yang agak jauh. Terpaksa guru dan murid ini lalu mencari perahu untuk dapat menyeberang dan ketika akhirnya mereka dapat menumpang perahu nelayan dan menyeberang, buruan mereka telah lenyap tanpa meninggalkan jejak.
Su Kiat dan Hui Lian merasa kecewa sekali, akan tetapi mereka tidak putus asa dan mereka melanjutkan penyelidikan dan pencarian mereka. Mereka terus menyelidiki jejak Lam-hai Giam-lo dan bertanya-tanya. Untung bagi mereka bahwa selain tersohor juga Lam-hai Giam-lo memiliki wajah yang mengesankan, sehingga semua orang yang pernah melihatnya tidak akan mudah melupakan wajah yang seperti kuda, suara yang serak parau seperti ringkik kuda itu pula. Mereka dapat mengikuti jejak musuh mereka dan akhirnya kurang lebih sebulan kemudian, mereka berhasil menemukan tempat persembunyian Lam-hai Giam-lo di luar kota Swatouw, Su Kiat dan Hui Lian menyerbu rumah di luar kota itu dan memang benar Lam-hai Giam-lo berada di situ bersama lima orang temannya yang juga merupakan orang-orang yang memiliki ilmu silat tinggi. Lam-hai Giam-lo sudah sembuh dari lukanya dan kini dia mengandalkan lima orang temannya yang merupakan penjahat-penjahat besar di Swatouw untuk mengeroyok.
Namun Su Kiat dan Hui Lian mengamuk dan lima orang teman Si Muka Kuda itu roboh semua oleh sinar pedang Hui Lian. Terpaksa Lam-hai Giam-lo melawan lagi sampai lebih dari seratus jurus. Akan tetapi akhirnya sebuah tendangan kaki Hui Lian mengenal perutnya dan sebuah pukulan tangan kanan Su Kiat kembali membuatnya muntah darah dan untuk kedua kalinya kakek muka kuda itu melarikan diri! Dan dua orang musuhnya melakukan pengejaran.
Akan tetapi sekali ini, Lam-hai Giam-lo sudah membuat persiapan. Dia memang cerdik sehingga ketika dia bersembunyi di luar kota Swatouw, dia telah memperhitungkan bahwa kalau sampai dia dapat dikejar musuh, dia sudah mempunyai tempat untuk menyelamatkan diri. Dia berlari ke utara dan tak lama kemudian tibalah dia di tepi sungai yang mengalir dari pegunungan Tai-yun-san. Sekali meloncat dia pun lenyap di bawah permukaan air.
Kembali guru dan murid itu harus mencari perahu untuk menyeberang dan untuk kedua kalinya, mereka melakukan penyelidikan dan pencarian. Lam-hai Giam-lo yang melarikan diri ke barat menjadi semakin panik melihat betapa dua orang musuhnya itu dengan nekat terus melakukan pengejaran terhadap dirinya. Diam-diam dia merasa penasaran dan juga jengkel sekali, akan tetapi untuk menghadapi mereka, dia merasa tidak akan menang. Bahkan kini untuk kedua kalinya dia terluka, lebih parah dari pada yang pertama. Untuk minta bantuan orang lain, dia merasa malu. Mau ditaruh ke mana mukanya kalau dunia persilatan tahu bahwa dia lari ketakutan dari dua orang yang sama sekali tidak terkenal, apalagi kalau minta bantuan orang lain? Lima orang yang bersama dia dan membantunya itu pun tidak dia mintai bantuan. Mereka adalah penjahat-penjahat yang termasuk bawahannya dan bantuan mereka tidak ada artinya bagi dua orang lawan yang amat lihai itu. Demikianlah, kejar-mengejar terjadi sampai akhirnya Lam-hal Giam-lo menggunduli rambutnya dan menyamar sebagai seorang hwesio. Kemudian, dia menggunakan akal dan berhasil masuk ke dalam kuil Siauw-lim-si, menjadi seorang tukang sapu yang gagu dan tuli. Dan di tempat itulah dia berhasil bersembunyi karena Su Kiat dan Hui Lian tentu saja sama sekali tidak berani mencari ke dalam kuil Siauw-lim-si. Apalagi, guru dan murid ini merasa yakin bahwa orang-orang Siauw-lim-pai yang terkenal gagah perkasa itu tidak akan sudi menyembunyikan seorang datuk sesat seperti Lam-hai Giam-lo! Inilah sebabnya, Lam-hai Giam-lo berhasil tinggal di kuil itu sampai selama satu tahun. Akan tetapi memang dasar seorang jahat, ketika dia melihat bahwa dua orang hukuman itu mempelajari ilmu-ilmu yang hebat, dia ingin sekali memiliki ilmu-ilmu itu dan dia pun mulai melakukan pengintaian-pengintaian kalau dua orang hukuman di dalam kuil, yaitu Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu, mengadakan latihan-latihan di waktu malam. Akhirnya dia bentrok dengan mereka dan dikalahkan, terusir keluar dari kuil karena dia harus melarikan diri, tak sanggup melawan dua orang hukuman yang ternyata luar biasa tangguhnya itu.
Demikianlah, Lam-hai Giam-lo berhasil lolos dari pengejaran musuh-musuhnya dan dia tidak berani lagi merajalela di selatan, takut kalau-kalau dua orang yang selalu mengejarnya itu datang lagi ke sana. Dia bahkan lebih banyak menyembunyikan diri dan memperdalam ilmu-ilmunya karena di dalam hatinya dia masih merasa penasaran bahwa dia dapat dikalahkan oleh seorang yang berlengan buntung dan seorang gadis cantik.
Nama Pat sian (Delapan Dewa) pernah terkenal sekali di daerah selatan dan barat sebagai nama delapan orang yang dianggap sebagai datuk-datuk persilatan. Memang di dalam kisah Asmara Berdarah, nama mereka tidak pernah muncul karena mereka memang sudah lama mengasingkan diri dan tidak pernah lagi berkecimpung di dunia persilatan sehingga ketika di dunia persilatan muncul tokoh-tokoh sakti seperti Raja Iblis dan Ratu Iblis, mereka itu tidak mencampurinya. Padahal, dalam ilmu kepandaian, tingkat Pat Sian tidak berada di sebelah bawah tingkat Raja Iblis.
"Kini, yang muncul di dunia setelah usia mereka tua, hanya Ciu-sian Sin-kai dan See-thian Lama, keduanya seperti terdorong keluar dari tempat pertapaan mereka karena adanya urusan Sin-tong atau Anak Ajaib yang diperebutkan dan dicari oleh para Dalai Lama. Di antara delapan datuk yang terkenal dengan nama Delapan Dewa, hanya dua orang kakek itu yang agaknya masih hidup. Dua yang lain adalah In Liong Ni-nio dan Sian-eng-cu The Kok, yang seperti kita ketahui, telah mati dan kerangka mereka, bersama ilmu-ilmu mereka, di temukan secara kebetulan oleh Su Kiat dan Hui Lian di dalam guha yang amat sukar untuk didatangi manusia itu. Empat orang lainnya tidak diketahui ke mana perginya, tidak pula yang tahu apakah mereka itu masih hidup ataukah sudah mati.
Berbeda dengan See-thian Lama yang hidup mengasingkan diri di kaki Pegunungan Himalaya dan tidak mau bergabung dengan para Lama di Tibet, Ciu-sian Sin-kai yang kelihatan sebagai seorang kakek pengemis itu sebetulnya sama sekali bukanlah seorang miskin. Bahkan dia pun tidak hidup menyendiri. Ciu-sian Sin-kai adalah seorang tocu (majikan pulau) yang berkuasa atas Pulau Hiu yang berada di lautan Po-hai, tidak nampak dari pantai karena kecil saja pulau itu, akan tetapi setelah orang berada di pulau itu akan merasa kagum karena pulau yang luasnya hanya kurang dari sepuluh hektar itu ternyata memilik tanah yang amat subur. Pulau itu dikelilingi batu-batu karang yang menonjol di sana-sini sehingga merupakan daerah berbahaya sekali untuk pelayaran karena perahu terancam kandas pada batu karang yang mengintai sedikit di bawah permukaan laut. Bukan hanya batu-batu karang ini yang membuat para pelayan menjauhkan diri dari pulau itu, melainkan juga banyaknya ikan hiu ganas berkeliaran di sekeliling pulau itu. Dengan demikian, pulau itu seperti terasing dan ini bahkan menguntungkan para penghuninya. Karena tidak mengalami gangguan dari luar.
Ciu-sian Sin-kai menjadi majikan pulau itu secara tidak sengaja. Di dalam petualangannya, dia mendengar akan banyaknya bajak laut yang mengganggu kapal-kapal dagang dan perahu-perahu nelayan. Hatinya tergerak dan dengan menggunakan sebuah perahu kecil, seorang diri dia membikin pembersihan, menyerbu setiap perahu bajak. Dengan kepandaiannya yang hebat, seorang di antara Delapan Dewa ini menghancurkan banyak perahu bajak laut dan menewaskan banyak pula kepala bajak laut, menangkapi anak buahnya dan menyeret mereka ke darat untuk diadili. Ketika pada suatu hari dia mengejar-ngejar sebuah perahu bajak yang besar, perahu itu tiba-tiba lenyap. Hal ini membuat dia penasaran dan semalam suntuk dia mencari terus. Akhirnya dia menemukan perahu itu di antara batu-batu karang di pulau terpencil. Dia pun dengan nekat memasuki daerah berbahaya itu, berhasil mendarat dengan selamat dan ternyata pulau itu, yang kemudian dinamakan Pulau Hiu, merupakan tempat persembunyian dan juga gudang barang-barang bajakan. Dia menyerbu dan membasmi para bajak yang melakukan perlawanan dengan gigih. Akhirnya, sisa para bajak itu menakluk. Ciu-sian Sin-kai lalu mengusir anak buah bajak dengan memberi pembagian harta yang terdapat di pulau itu. Akan tetapi dia memilih belasan orang yang dianggapnya baik dan ada harapan untuk bertaubat, dilihat dari keadaan sikap dan wajahnya, juga dia memilih mereka yang masih muda-muda.
Sisa harta simpanan para bajak masih amat banyak dan mulai Ciu-sian Sin-kai menjadi majikan pulau yang kaya raya. Dia mendirikan sebuah bangunan seperti istana untuknya, dan bangunan-bangunan untuk tempat tinggal bekas anak buah bajak yang kini menjadi anak buahnya. Hiduplah dia sebagai seorang raja kecil dan benar saja, para bekas bajak itu dapat merobah kehidupan mereka menjadi orang-orang yang taat dan tidak lagi mau melakukan pekerjaan membajak. Bahkan mereka lalu berkeluarga sehingga pulau kecil itu kini menjadi ramai dengan keluarga belasan orang itu. Anak buah Ciu-sian Sin-kai menjadi semakin banyak, yaitu anak buah para bekas bajak yang digemblengnya menjadi anak buah yang baik dan cukup pandai ilmu silat. Pulau itu menjadi semakin angker dan disegani para nelayan. Bahkan kini jarang ada bajak laut yang berani muncul di perairan itu. Nama Ciu-sian Sin-kai masih membuat mereka ketakutan dan merasa lebih aman untuk memilih daerah operasi di bagian lain, di laut utara atau selatan, akan tetapi tidak berani di sekitar Pulau Hiu.
Kini, anak-anak dari para bekas bajak telah belasan tahun dan mereka semua menjadi anak buah Ciu-sian Sin-kai dengan taat dan penuh disiplin, menganggap kakek pengemis itu sebagai guru, majikan atau ketua yang harus ditaati sepenuhnya.
Demikian taatnya para anak buah itu sehingga kalau kakek pengemis itu pergi sampai lama sekalipun, dalam sebuah di antara perantauannya, mereka akan menjaga pulau itu dengan tertib, seperti kalau Sin-kai berada di pulau. Segala keperluan kehidupan para penghuni pulau sudah terpenuhi. Mereka menanam sayur-sayuran, pohon-pohon buah, dan kalau membutuhkan ikan, hanya tinggal berlayar meninggalkan daerah hiu untuk mengail atau menjala, sedangkan keperluan-keperluan lain mereka peroleh dengan membeli ke daratan.
Akan tetapi kepergian Ciu-sian Sin-kai sekali ini agak terlalu lama. Hampir satu tahun kakek itu pergi dan belum kembali, sedangkan para anak buahnya di Pulau Hiu tidak ada yang tahu ke mana dia pergi. Dan agaknya kepergian yang lama ini selain merisaukan hati para penghuni Pulau Hiu, juga diketahui oleh pihak lain yang mempergunakan kesempatan itu untuk membalas dendam sambil mencari keuntungan.
Pada suatu hari, pagi-pagi sekali, nampak ada lima buah perahu besar hitam yang memasuki daerah batu-batu karang itu, didahului oleh sebuah perahu kecil yang didayung oleh seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih yang bertubuh pendek berperut gendut. Perahu kecil itulah yang menjadi petunjuk jalan, membelok ke kanan kiri, menyusup antara pagar batu karang dan akhirnya membawa lima buah perahu besar itu mencapai pulau dengan selamat. Dengan sigapnya, dari lima buah perahu besar itu berloncatan turun masing-masing sepuluh orang sehingga jumlah mereka menjadi lima puluh orang. Adapun orang gendut pendek yang tadi memimpin perahu-perahu itu, sudah menyelinap pergi di antara pohon-pohon buah yang ditanam di sepanjang pantai. Dan lima puluh orang itu, sambil menghunus senjata tajam, segera dipimpin oleh seorang kakek raksasa bermuka hitam, menyerbu ke tengah pulau. Tentu saja gerakan lima puluh orang ini segera diketahui oleh penghuni pulau dan terdengarlah kentungan dipukul bertalu-talu dan para penghuni segera nampak berkumpul dengan senjata di tangan. Laki perempuan berkumpul dan jumlah mereka yang dulunya hanya belasan orang itu, kini bersama isteri dan anak-anak mereka telah mencapai jumlah kurang lebih lima puluh orang. Dan mereka lalu berlari keluar menyambut kedatangan musuh. Tidak perlu lagi diadakan pertanyaan atau percakapan di antara mereka. Para bajak laut itu yang datang sengaja untuk membalas dendam terhadap Ciu-sian Sin-kai sambil merampok harta karun yang banyak terdapat di situ selagi kakek yang ditakuti itu tidak berada di pulau, sudah menyerbu dan menyerang para penghuni pulau di bawah pimpinan kakek raksasa muka hitam.
Terjadilah pertempuran yang seru. Kurang lebih dua puluh orang laki-laki dan wanita muda usia yang terlahir di pulau itu dan pernah menerima gemblengan dasar ilmu silat dari Ciu-sian Sin-kai, melakukan perlawanan dengan gigih dan mereka kini rata-rata amat gesit dan tangguh. Akan tetapi, kakek raksasa muka hitam itu lihai sekali. Senjata rantai baja yang panjang di tangannya sukar dilawan dan banyak yang sudah roboh olehnya. Selain itu, anak buahnya terdiri dari bajak-bajak laut yang kejam dan perkelahian merupakan pekerjaan mereka sehari-hari. Mereka itu menang pengalaman dan menang nekat sehingga di pihak penghuni pulau mulai jatuh korban dan keadaan mereka terdesak.
Agaknya para penghuni itu tentu akan roboh atau terbasmi semua kalau saja pada saat itu tidak muncul dua orang yang bukan lain adalah Ciu-sian Sin-kai sendiri dan Hay Hay! Mereka baru saja tiba dan ketika dari jauh kakek itu melihat adanya lima buah perahu besar hitam berlabuh di dekat pulaunya, dia terkejut dan mendayung perahu secepatnya. Perahunya meluncur seperti terbang saja, apalagi di situ ada Hay Hay yang juga membantunya. Dan ketika mereka berlompatan ke daratan pulau, mereka melihat betapa para penghuni pulau sedang bertempur melawan puluhan orang kasar yang dipimpin oleh seorang kakek raksasa muka hitam.
Melihat betapa anak buahnya banyak yang sudah roboh terluka dan betapa para bajak laut itu mengamuk dengan kejam, apalagi kakek raksasa muka hitam itu, Ciu-sian Sin-kai menjadi marah. Dia tidak mengenal siapa adanya raksasa muka hitam itu namun dapat menduga bahwa dia tentulah seorang kepala bajak laut yang menggunakan kesempatan selagi dia tidak berada di pulau untuk datang membalas dendam dan merampok.
"Bajak-bajak tak tahu diri!" bentak kakek itu dan bersama Hay Hay dia lalu menyerbu ke dalam arena pertempuran. Para penghuni pulau yang melihat munculnya Ciu-sian Sin-kai, bersorak gembira dan semangat mereka tumbuh bagaikan api yang tadinya sudah mulai meredup, kini disiram minyak bakar dan berkobar lagi dengan ganas.
Hay Hay juga tidak tinggal diam. Tubuh anak laki-laki remaja ini bergerak cepat dan ke mana pun tubuhnya bergerak, seorang bajak tentu akan terjungkal roboh, entah terkena tendangannya, pukulannya atau tamparan tangannya yang kecil namun ampuh itu
Kepala bajak yang bertubuh raksasa bermuka hitam itu terkejut. Maklum siapa yang muncul, dia pun memapaki Ciu-sian Sin-kai dengan rantai bajanya yang berat dan panjang, yang diayun menyambut dengan sambaran pada muka kakek bertubuh kurus itu. Akan tetapi, kakek itu tidak mengelak, melainkan menyambut dengan tangannya dan berhasil menangkap ujung rantai. Si Raksasa muka hitam terkejut, menggunakan tenaga pada kedua lengannya yang besar dan kuat untuk menarik rantainya. Namun, rantai itu seperti telah melekat dengan tangan Ciu-sian Sin-kai! Biarpun kakek tua ini kurus dan berdiri seenaknya, sedangkan Si Raksasa muka hitam memasang kuda-kuda dan menarik sekuat tenaga, tetap saja rantai itu tidak dapat terlepas dari pegangan kakek berpakaian pengemis.
"Hemm, siapakah kau yang berani membawa anak buah mengacau ke sini?" Ciu-sian sin-kai bertanya, matanya mencorong ditujukan kepada wajah raksasa muka hitam itu.
Tadinya raksasa muka hitam itu terkejut dan juga gentar, akan tetapi karena merasa bahwa dia tidak akan menang, dia menjadi nekat. "Aku Hek-bin Hai-liong (Naga Laut Muka Hitam), hendak membalas dendam atas kekalahan atas rekanku!"
Ciu-sian sin-kai tertawa mengejek, tangan kirinya mengambil ciu-ouw (guci arak) yang selalu tergantung di pinggangnya, dan minum arak dengan tangan kirinya, langsung dari guci itu. Melihat ini, Si Muka Hitam kembali mengerahkan tenaganya dan menarik dengan sentakan kuat. Akan tetapi, tetap saja rantai itu tidak dapat dirampasnya dan dia merasa amat terkejut. Orang yang sedang mengerahkan sinkang, mana mungkin mempertahankan kekuatannya itu selagi minum dan menelan arak? Akan tetapi, biarpun sedang minum, kakek jembel itu tetap saja amat kuat.
"Menjemukan kau!" Tiba-tiba Ciu-sian Sin-kai menyemburkan arak dari mulutnya. Arak memercik ke muka yang hitam itu dan biarpun Si Muka Hitam sudah siap siaga dan mengerahkan tenaga sinkang untuk mengebalkan muka, tidak urung dia menjerit, melepaskan rantai dan menggunakan dua tangan untuk mendekap muka sendiri. Semburan arak itu dirasakan olehnya seperti ribuan jarum halus yang menusuki mukanya.
Ciu-sian Sin-kai melangkah maju dan sekali tangannya menotok, tubuh kakek tinggi besar itu pun terkulai dan lemas tak mampu bergerak pula. Anak buah bajak menjadi panik dan mereka mencoba untuk melarikan diri. Namun, mereka telah dikepung oleh para penghuni pulau yang dibantu oleh Hay Hay yang mengamuk seperti seekor harimau kecil yang galak. Ciu-sian Sin-kai juga menyepak ke kanan kiri dan tak lama kemudian, seluruh bajak dapat dirobohkan dan tak ada yang melawan lagi! Ada di antara mereka yang tewas, banyak yang terluka parah dan sisanya terluka ringan namun mendekam saja di atas tanah, tidak berani berkutik, ada yang malah pura-pura mati!
Dengan pandang matanya, Ciu-sian Sin-kai melihat keadaan anak buahnya. Ada tujuh orang anak buahnya tewas, belasan orang luka-luka. Hal ini membuat dia marah.
"Kumpulkan mereka semua dan masukkan dalam perahu-perahu mereka!" perintahnya. Para penghuni pulau itu dengan senang hati melaksanakan perintah ini. Biarpun ada tujuh orang di antara mereka yang tewas dan belasan orang luka-luka, namun mereka boleh mengucap sukur bahwa guru dan majikan mereka sudah pulang tepat pada saatnya karena kalau tidak, tentu mereka sudah terbasmi habis! Dengan marah mereka menyeret tubuh-tubuh itu, baik yang sudah tak bernyawa, yang luka berat maupun ringan, menuju ke pantai, tidak peduli akan rintihan mereka yang mengaduh-aduh karena ketika diseret, tentu saja luka-luka mereka menjadi semakin parah.
Pada saat itu, dua orang anak buah pulau itu datang sambil menyeret seorang yang bertubuh pendek berperut gendut. Melihat bahwa yang diseret itu adalah seorang di antara anak buahnya sendiri, Ciu-sian Sin-kai bertanya heran.
"Apa artinya ini?" tanyanya menegur kedua orang anak buah lain yang menyeret Kai Ti, Si Gendut Pendek itu.
"Tocu, dia inilah yang menjadi pengkhianat, menjadi penunjuk jalan sehingga lima buah perahu bajak itu dapat memasuki daerah kita dan mendarat di pulau."
Mendengar pelaporan ini, Ciu-sian Sin-kai memandang kepada Kai Ti dengan alis berkerut. Teringatlah dia bahwa Kai Ti ini adalah seorang yang pernah melakukan pelanggaran, yaitu berusaha untuk memperkosa seorang wanita isteri temannya di pulau. Dia sudah memaafkan Kai Ti karena pada waktu itu Kai Ti sedang mabok keras. Akan tetapi, Kai Ti terkenal kejam kepada isterinya, suka marah-marah dan memukuli. Dan ketika isterinya sakit berat, Kai Ti bahkan berusaha untuk meminang seorang gadis puteri temannya sendiri yang ditolaknya sehingga menimbulkan pertengkaran. Tahulah dia kini mengapa Kai Ti menjadi pengkhianat. Dia pernah memarahi Kai Ti dan mengancam bahwa kalau Kai Ti tidak mau mengubah tabiatnya, maka Si Gendut itu akan diusir dari pulau.
"Kai Ti, benarkah engkau melakukan perbuatan keji itu?"
"Ti....tidak....Tocu.....," kata Kai Ti dengan tubuh gemetar.
"Saya melihat ketika pagi tadi semua orang menyambut penyerbuan bajak laut, dia tidak ada dan ketika saya menaruh curiga dan mencarinya, dia sedang berusaha untuk membongkar kamar pusaka!" kata seorang di antara kedua orang penangkapnya. "Kami menjadi curiga dan setelah pertempuran selesai, kami lalu mencarinya dah menyeretnya ke sini, Tocu."
"Kai Ti, engkau tahu bahwa aku dapat menyiksamu dan memaksamu untuk mengaku. Apakah engkau menantangku untuk menyiksamu?" Ciu-sian Sin-kai berkata, suaranya dingin sekali, berbeda dengan sikapnya yang biasanya senyum-senyum ramah.
Tiba-tiba Kai Ti menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu, mengangguk-angguk seperti ayam sedang makan padi."Ampunkan saya, Tocu......saya... saya dipaksa oleh Hek-bin Hai-liong..., saya dipaksa mengantarkan, kalau saya tidak mau akan dibunuh..."
Ciu-sian Sin-kai mengerti bahwa ucapan itu pun hanya untuk mencari alasan saja untuk membersihkan diri. "Baiklah karena engkau bersekutu dengan mereka, engkau harus ikut pula dengan mereka. Lempar dia ke perahu kepala bajak itu"
"Ampunn... Jangan......saya... saya akan dibunuhnya...!" teriaknya, akan tetapi karena Ciu-sian Sin-kai sudah memberi perintah dan para penghuni pulau memang tidak suka kepada orang yang curang ini, Kai Ti lalu ditangkap dan diseret seperti seekor babi yang menguik-nguik, lalu dilempar pula ke dalam perahu. Perahu-perahu itu lalu didorong ke tengah, layar-layar dikembangkan dan tentu saja para bajak itu tidak ingin membiarkan perahu-perahu mereka meluncur tanpa kemudi. Mereka yang luka ringan lalu cepat-cepat mencoba untuk mengemudikan perahu-perahu mereka agar jangan sampai menabrak batu karang. Bersama seluruh penghuni Pulau Hiu, Hay Hay melihat lima buah perahu itu bergerak menghindarkan batu-batu karang. Juga dia melihat betapa kepala bajak yang berjuluk Hek-bin Hai-liong itu kini sudah sadar dan dia memaki-maki Kai Ti yang dianggapnya menjadi biang keladi malapetaka itu karena memberi keterangan yang tidak benar. Kalau benar Ciu-sian Sin-kai berada di pulau, tentu dia tidak akan berani membawa teman-temannya menyerbu. Dan menurut keterangan Kai Ti, majikan pulau tidak akan pulang dalam waktu satu dua bulan lagi. "Kai Ti, anjing keparat! Kau telah menjerumuskan kami!" bentak kepala bajak bermuka hitam itu.
"Tidak... tidak... aku tidak tahu bahwa hari ini Tocu akan pulang...." kata Kai Ti dengan muka pucat dan kepala digeleng-gelengkan dengan keras.
"Keparat, engkau menjadi sebab kami semua celaka. Lempar dia keluar perahu!"
"Tidak, jangan!" Kai Ti menjadi semakin ketakutan, kemudian, melihat beberapa orang anak buah bajak yang luka ringan sudah bangkit dan menghampirinya, dia menyambar sebatang tombak yang menggeletak tak jauh dari situ, lalu menodongkan senjata itu sambil mengancam.
"Kubunuh siapa yang hendak menjamahku!"
Akan tetapi, tujuh orang anak buah bajak itu pun sudah marah kepadanya dan mereka memandang rendah Si Gendut Pendek ini, maka mereka pun maju terus dan mengepungnya. Orang yang ketakutan dapat menjadi orang yang paling nekat dan kejam, maka demikian pula dengan keadaan Kai Ti. Sebagai bekas anak buah Pulau Hiu, tentu saja dia pandai ilmu silat dan melihat betapa para anak buah bajak itu tetap mengancamnya, dia lalu mengeluarkan teriakan panjang dan tubuhnya menubruk ke depan, tombaknya digerakkan.
"Crappp......!" Tombak itu menancap di perut seorang di antara anak buah bajak laut sampai menembus ke punggungnya. sayang baginya saking takutnya, dia tadi menusuk terlampau kuat sehingga tombak itu menembus jauh dan ketika dia berusaha mencabutnya kembali, mata tombak itu terkait dan tidak dapat dicabutnya. Dia berusaha lagi dan berkutetan, akan tetapi tetap saja tombak itu sukar dicabut dan pada saat itu, enam orang anak buah bajak telah menyerangnya dan membuatnya tidak berdaya. Hujan pukulan diterimanya dan dia pun diseret lalu dilemparkan keluar perahu. Ikan-ikan hiu segera muncul dan menyergapnya. Hay Hay melihat betapa orang itu terbelalak lebar dan berusaha berenang cepat menjauhi ikan-ikan hiu yang mengejarnya, akan tetapi dari depan, kanan dan kiri muncul lagi puluhan ekor ikan hiu yang besar-besar. Kemudian terdengar Kai Ti menjerit-jerit seperti babi disembelih, akan tetapi ikan-ikan itu memperebutkannya, menyambar-nyambar dan darah pun membasahi air laut ketika tubuhnya yang cabik-cabik itu diseret ke bawah permukaan air.
"Lemparkan semua mayat keluar!" kembali kepala bajak muka hitam memberi perintah.
Anak buahnya yang terluka ringan memenuhi perintah ini dan mayat-mayat teman mereka segera mereka lemparkan keluar dari perahu. Kembali ikan-ikan hiu memperebutkan mangsa itu, badan mayat-mayat itu dicabik-cabik akan tetapi sekali ini tidak ada darah keluar. Hanya dalam waktu singkat saja, semua mayat telah lenyap dari permukaan air. Agaknya ikan-ikan hiu itu masih kelaparan dan pesta pora itu menarik perhatian teman-teman mereka karena tempat itu kini penuh dengan ikan hiu besar-besar yang ratusan banyaknya, meluncur cepat di sekeliling lima buah perahu hitam. Melihat itu, Hay Hay bergidik penuh kengerian. Sukar baginya untuk menilai siapa yang lebih ganas dan kejam antara manusia dan ikan-ikan hiu itu.
Tiba-tiba perahu pertama yang paling besar tergetar keras ketika terdengar suara meledak, kemudian perahu itu pun roboh miring! Ternyata perahu pertama itu melanggar batu karang dan pecah. Air masuk dengan cepat dan perahu itu pun terancam tenggelam! Anak buah bajak menjadi panik dan kembali terjadi perkelahian di antara mereka sendiri karena berebutan untuk menggunakan satu-satunya perahu dayung kecil yang berada di atas perahu yang sedang tenggelam itu. Karena diperebutkan, banyak di antara mereka roboh dalam perkelahian dan akhirnya perahu kecil itu terlepas dan jatuh ke air tanpa seorang pun yang berhasil menjadi penumpang. Akhirnya perahu itu tenggelam dan para anak buah bajak berlompatan ke air sambil berteriak ketakutan dan berusaha berenang menghindarkan diri dari jangkauan ikan-ikan hiu. Akan tetapi, apa artinya renang seorang manusia dibandingkan dengan kecepatan ikan hiu? Sebentar saja, di bawah pekik-pekik mengerikan ikan-ikan hiu itu berpesta dan kembali air menjadi merah, lebih merah daripada ketika Kai Ti menjadi mangsa pertama tadi.
Terdengar suara keras lagi dan perahu ke dua terguling, disusul perahu ke tiga. Kemudian terjadi kepanikan dan perkelahian yang mengerikan. Akan tetapi kini dua perahu lainnya juga dilanda kepanikan dan Hek-bin Hai-liong berteriak. "Mana penunjuk jalan? Suruh dia menunjukkan jalan yang aman bagi perahu-perahu kita!"
Dalam kepanikannya, kepala bajak ini sampai lupa bahwa dia sendiri yang menyuruh penunjuk jalan satu-satunya, yaitu Kai Ti, dilempar keluar. Setelah Kai Ti tidak ada lagi, siapa yang akan mampu menunjukkan jalan aman? Berturut-turut, dua perahu lainnya juga melanggar karang dan terjadilah peristiwa yang amat mengerikan, yang membuat Hay Hay sendiri kadang-kadang menutup kedua matanya saking merasa ngeri melihat betapa orang-orang yang sudah terluka itu menjadi mangsa ikan-ikan hiu yang agaknya tidak mengenal puas dan kenyang itu. Teriakan paling keras terdengar ketika Hek-bin Hai-liong yang terpaksa meloncat ke air karena perahunya tenggelam, mencoba untuk mengamuk. Sebagai kepala bajak tentu saja dia pandai berenang, dan dengan tenaganya yang kuat dia berhasil memukul dua tiga ekor ikan hiu. Akan tetapi jumlah ikan hiu amat banyak dan setelah sebelah kakinya kena disambar ikan dan tubuhnya diseret ke bawah, perlawanan terhenti dan tubuhnya dicabik-cabik oleh ikan-ikan yang memperebutkannya
Penglihatan yang mengerikan ini terjadi dengan cepat, tidak sampai dua jam dan habislah sudah seluruh bajak, baik yang sudah mati maupun yang tadi terluka. Lima puluh orang lebih habis dilumat oleh ikan-ikan hiu yang masih nampak berenang hilir-mudik seolah-olah mengharapkan tambahan. Dan tidak ada sepotong pun tangan tersisa dari lima puluh lebih orang-orang tadi. Habis berikut pakaian dan sepatu mereka! Hay Hay terpaksa lari ke balik semak-semak dan membiarkan isi perutnya keluar. Dia muntah-muntah. Bukan hanya dia, akan tetapi banyak di antara anak buah Pulau Hiu, terutama anak-anak perempuannya, muntah-muntah saking ngeri dan tegang, juga jijik menyaksikan peristiwa yang amat mengerikan itu.
Tujuh orang anak buah Pulau Hiu yang tewas dalam penyerbuan itu juga diperabukan, Ciu-sian Sin-kai melarang mereka dikubur. "Pulau kita begini kecil, kalau kita membiasakan diri mengubur orang-orang kita yang mati, sebentar saja pulau ini akan menjadi kuburan dan tidak ada sisanya lagi untuk kita yang masih hidup." Demikian katanya dan memang ucapannya ini mengandung kebenaran. Maka mayat-mayat itu pun dibakar dengan upacara sederhana.
"Suhu, kenapa Suhu demikian kejam terhadap para bajak itu?" Hay Hay yang sudah biasa bersikap terbuka kepada Ciu-sian Sin-kai, bertanya dengan nada suara mencela.
Kakek itu tertawa, "Heh-heh-heh, kejam? Hay Hay, dapatkah engkau membayangkan bagaimana andaikata kita datang terlambat beberapa jam saja? Seluruh anak buahku akan habis dibantai, yang perempuan akan mereka larikan dan permainkan, seluruh kekayaan yang berada di sini akan habis mereka bawa, dan segala yang terdapat di pulau ini, yang tak dapat mereka bawa, akan mereka bakar! Mereka itu jahat dan ganas melebihi binatang buas."
"Akan tetapi, haruskah mereka itu dihukum secara demikian kejam, Suhu?" kembali Hay Hay membantah, masih bergidik membayangkan betapa orang-orang itu dipermainkan ikan-ikan hiu.
Kembali kakek itu tersenyum. "Menghadapi orang-orang jahat memang kadang-kadang harus tidak mengenal kasihan. Engkau belum tahu tentang kekejaman. Pendekar yang paling kejam terhadap orang-orang jahat, yang tidak mengenal ampun dan bertangan baja menghukum dan membasmi orang-orang jahat, dijuluki orang Pendekar Sadis."
"Pendekar Sadis?"
"Ya, dan engkau akan bergidik melihat betapa dia menyiksa orang-orang jahat. Akan tetapi dia seorang pendekar budiman dan berkepandaian tinggi sekali. Akan tetapi, aku tidak pernah bertemu dengan dia, karena aku tidak pernah mencampuri urusan dunia sudah lama sekali dan dulu pun aku bergerak di sekitar pantai saja. Hanya ketika terjadi gelombang pemberontakan di daerah selatan, aku bersama rekan-rekan lain, termasuk See-thian Lama, mencampuri dan nama kami dikenal orang sebagai Pat-sian. Menurut kabar, isteri dari Pendekar Sadis juga pernah menjadi datuk selatan yang terkenal sekali. Kelak, kalau engkau sudah memiliki ilmu yang cukup, engkau boleh merantau dan berkenalan dengan para pendekar, termasuk Pendekar Sadis."
Ketika Hay Hay diajak masuk ke dalam gedung yang dibangun oleh kakek itu, di tengah pulau, anak ini terbelalak kagum. Gedung itu seperti istana saja! Kiranya gurunya yang baru ini adalah seorang yang kaya-raya dan hidup sebagai seorang raja saja di pulau ini. Pantaslah kalau gerombolan bajak laut itu berusaha untuk merampok tempat ini.
Mulai hari itu, Hay Hay menjadi seorang di antara para penghuni Pulau Hiu. Dia mempelajari rahasia jalan masuk menuju pulau itu, dan selain mempelajari ilmu-ilmu silat tinggi dari Ciu-sian Sin-kai, juga mematangkan ilmu-ilmu pukulan yang diperoleh dengan jalan "mengadu" Ciu-sian Sin-kai dengan See-thian Lama secara tidak langsung, dia pun mempelajari ilmu-ilmu dalam air dari para penghuni Pulau Hiu yang rata-rata pandai bermain di air itu.
Dan sebentar saja Hay Hay menjadi pemuda yang paling terkenal di pulau itu. Bukan hanya karena dia dianggap murid terkasih dari Tocu, akan tetapi karena memang dia cerdas dan lihai bukan main. Di antara para gadis-gadis kelahiran pulau itu, yang sebaya dengan Hay Hay, bahkan yang lebih tua sekalipun, dia amat terkenal karena dia berwajah tampan, bertubuh tegap dan juga lincah jenaka dan ramah, terkenal pandai merayu dan menyenangkan hati para gadis. Tiga tahun kemudian saja, setelah Hay Hay berusia lima belas tahun, dia pun menjadi rebutan di antara para gadis dan wanita di pulau itu. Setiap orang gadis jatuh cinta kepadanya dan ingin menjadi kawan dekatnya. Dan Hay Hay ternyata memiliki bakat untuk menyenangkan hati para gadis itu. Dia selalu bersikap manis dan ramah terhadap setiap orang gadis sehingga mulailah dia dikenal sebagai seorang pemuda perayu wanita. Para pemuda lain yang merasa iri kepadanya, menyebutnya pemuda mata keranjang yang seolah-olah hendak menggandeng semua wanita yang berada di situ. Tentu saja sebutan mata keranjang ini mereka lontarkan di belakang Hay Hay karena kalau berhadapan, mereka tidak berani terhadap murid Tocu yang paling lihai ini
Tentu saja perkembangan ini tidak terlepas dari pengamatan Ciu-sian Sin-kai. Ketika Hay Hay berusia lima belas tahun dan pemuda ini suka sekali bergaul secara akrab dengan para gadis di pulau itu, sehingga menimbulkan iri hati para pemuda lain, pada suatu malam kakek itu memanggilnya dan mengajaknya bicara di dalam kamar.
"Hay Hay, berapakah usiamu sekarang?"
"Seingat teecu menurut pemberitahuan Suhu See-thian Lama, ketika teecu mengikuti Suhu, teecu sudah berusia dua belas tahun. Sampai sekarang, teecu sudah tiga tahun ikut Suhu sehingga kalau tidak salah, usia teecu kini sudah lima belas tahun."
"Lima belas tahun, ya?" kakek itu mengelus jenggotnya dan memandang dengan tajam, mengamati muridnya itu. Hay Hay berwajah tampan memang, sepasang matanya tajam, hidungnya mancung dan mulutnya membayangkan kegagahan akan tetapi juga manis, sikapnya periang dan lincah sekali, wajahnya cerah dan pertumbuhan badannya amat baik sehingga dalam usia lima belas tahun dia sudah nampak dewasa. "Engkau sudah hampir dewasa, muridku dan melihat ketekunanmu berlatih, aku tidak merasa heran kalau engkau memperoleh kemajuan begini pesat dalam ilmu silatmu."
"Berkat bimbingan Suhu yang bijaksana, mudah-mudahan teecu akan selalu dapat belajar dengan tekun."
Selain tampan dan ramah, anak ini pun pandai membawa diri, pandai mengeluarkan kata-kata yang menyenangkan hati orang, pikir Ciu-sian Sin-kai. Tidak mengherankan kalau para gadis suka kepadanya. Wanita memang paling suka kepada pria yang pandai merayu dan bersikap manis, apalagi kalau rayuan dan sikap manis itu bukan palsu, melainkan keluar dari watak yang ramah seperti Hay Hay ini.
"Hay Hay, engkau tahu bahwa seorang gagah akan selalu berterus terang dan tidak perlu menyembunyikan segala hal seperti seorang pengecut."
"Teecu mengerti, Suhu." kata Hay Hay dan hatinya merasa agak tidak enak karena dia dapat menduga bahwa tentu suhunya akan membicarakan sesuatu mengenai dirinya dan dia diharapkan untuk bicara terus terang.
"Hay Hay, aku mendengar dan melihat sendiri betapa engkau bergaul akrab sekali dengan semua gadis berada di pulau ini. Sampai sejauh manakah pergaulanmu itu?"
Hay Hay tersenyum, agak malu-malu akan tetapi hatinya lega karena kiranya hal itu yang ditanyakan gurunya. "Salahkah itu, suhu? Teecu bergaul dengan mereka karena bukankah mereka itu masih terhitung sekeluarga pulau ini? Pergaulan teecu hanya akrab saja, bermain-main dengan mereka di tepi pantai, menggoda ikan-ikan hiu, memancing ikan, bekerja di ladang dan kadang-kadang kalau bulan purnama, teecu membantu mereka berlatih silat di pantai berpasir sambil main-main."
Ciu-sian Sin-kai mengangguk-angguk dan tersenyum. Kesenangan seperti itu adalah sehat. "Apakah hanya seperti itu saja? Apakah tidak pernah engkau melakukan hubungan yang lebih mesra lagi? Merangkul dan mencium seorang gadis misalnya?"
Kembali Hay Hay tersenyum malu-malu, bahkan kini kulit mukanya menjadi agak kemerahan.
"Aihh, Suhu, apakah hal itu juga salah? Kalau sedang main-main, kami saling rangkul dan... , eh, adakalanya... eh, kami saling cium karena dorongan rasa suka, apakah itu.....maksud teecu, melanggar kesusilaan seperti yang pernah teecu pelajari di dalam kitab-kitab yang diberikan oleh Suhu See-thian Lama?"
Ciu-sian Sin-kai tertawa. "Ha-ha-ha, pelanggaran kesusilaan bukan ditentukan oleh pandangan umum terhadap suatu perbuatan. Jadi, engkau pernah saling rangkul dan saling cium dengan seorang gadis? Apakah ada gadis tertentu di sini yang melakukan hal itu denganmu?"
Hay Hay menggeleng kepala dengan sungguh-sungguh. "Tidak hanya seorang tertentu, Suhu, akan tetapi... sebagian besar dari mereka. Hampir semua!"
"Dan kau layani mereka semua itu?" suhunya bertanya, kini memandang dengan mata terbelalak walaupun mulutnya mengulum senyum geli.
Hay Hay mengangguk. "Kami melakukannya karena merasa gembira dan suka, Suhu. Apakah hal itu salah dan dilarang? Kalau Suhu melarangnya, tentu teecu tidak berani lagi melakukannya."
"Tidak, muridku, aku tidak melarangnya. Akan tetapi, kenapa kemesraan itu kaulakukan dengan semua wanita yang berada di sini?"
"Tidak semua, Suhu." kata Hay Hay sejujurnya, "hanya.....mereka yang suka saja dan juga mereka yang teecu sukai......"
"Kaumaksudkan, mereka yang suka padamu dan mereka yang kausukai karena mereka itu cantik? Jadi mereka yang cantik-cantik saja?"
Hay Hay mengangguk dan meledaklah suara ketawa Ciu-sian Sin-kai. "Ha-ha-ha, kau ini kecil-kecil sudah mata keranjang!"
"Apakah hal itu tidak baik dan tidak boleh, Suhu?"
Dengan senyum lebar kakek itu berkata. "Semua laki-laki adalah mata keranjang! Tidak ada seorang pun pria di dunia ini yang tidak suka melihat wanita cantik, kecuali kalau dia sakit dan ada kelainan. Kalau kebanyakan pria hanya menyembunyikan rasa sukanya, maka engkau menunjukkannya dengan terus terang. Engkau jujur, akan tetapi sifat mata keranjang ini juga ada bahayanya bagimu sendiri, muridku."
"Bagaimana bahayanya, Suhu?"
"Engkau belum cukup dewasa untuk mengetahuinya dan kelak engkau akan tahu sendiri. Kalau engkau tidak hati-hati, engkau akan menjadi hamba nafsumu sendiri, dan yang jelas, engkau akan mendatangkan rasa iri di dalam hati banyak pria. Sekarang pun di pulau ini para pemuda sudah merasa iri hati kepadamu karena engkau paling disuka oleh para gadis di sini. Para pemuda lainnya merasa tersisihkan!"
"Akan tetapi teecu tidak merebut gadis, Suhu. Para gadis itu sendiri juga suka bermain-main dengan teecu. Kenapa mereka tidak mau seperti teecu, menyenangkan hati para gadis itu?"
"Ha-ha, sudah kukatakan tadi, kebanyakan pria merahasiakan rasa suka terhadap gadis-gadis cantik. Ada yang demi harga diri, ada yang karena malu, atau demi kesopanan dan sebagainya. Sekarang dengar baik-baik, Hay Hay. Engkau boleh saja bergaul dengan mereka, akan tetapi....eh, urusan peluk cium itu sedapat mungkin harus kaujauhi, atau setidaknya, kaukurangi."
"Kenapa, Suhu? Jahatkah itu, salahkah dan kalau salah, mengapa? Kami sama-sama suka melakukannya dan tidak ada yang memaksa, tidak ada yang merugikan orang lain
"Husshh, kau belum mengerti. Permainan seperti itu berbahaya sekali. Wanita dan pria ibarat api dengan minyak, kalau terlalu berdekatan dapat saja terbakar habis-habisan."
"Teecu tidak mengerti, Suhu."
"Sudahlah, kelak engkau akan mengerti sendiri. Asal engkau ingat saja semua percakapan kita ini, dan ingatlah selalu bahwa main-main yang terlalu akrab itu dapat mengobarkan api yang membakar, dapat menimbulkan nafsu dan amat membahayakan. Hanya laki-laki dan perempuan yang sudah menjadi suami isteri sajalah yang patut melakukan kemesraan itu karena di antara mereka tidak ada batas-batas susila dan larangan-larangan, tidak terdapat pula bahaya, misalnya kalau si wanita menjadi hamil karena hubungan dengan pria yang menjadi suaminya."
Hati Hay Hay tertarik sekali. Belum pernah dia mendengar pelajaran tentang itu, dan yang diketahuinya secara sedikit-sedikit hanya kalau dia bercakap-cakap dengan para pemuda di pulau itu. Dia hanya tahu bahwa seorang pemuda dan seorang gadis kalau sudah menikah lalu mempunyai anak. Biarpun dengan malu-malu, para pemuda pernah pula menyentuh urusan hubungan sex dalam percakapan mereka, akan tetapi percakapan itu sifatnya hanya kelakar saja, dilakukan dengan malu-malu dan hanya merupakan pengertian samar-samar saja. Dan harus diakui bahwa kalau ada seorang gadis manja yang suka bersentuhan dengannya, bahkan dia dan gadis itu saling rangkul leher atau pinggang, dan saling mencium dengan hidung menyentuh pipi, dagu atau leher, timbul gairah yang membuat dia kadang-kadang tergetar hebat. Akan tetapi, dia tidak berani melakukan yang lebih dari itu, karena ada pengertian bahwa satu hal sama sekali merupakan pantangan dan tidak boleh dilanggar, yang dapat menyeret mereka ke dalam bahaya, yaitu kehamilan gadis itu!
"Suhu, teecu ingin sekali mengetahui dengan jelas akan hubungan antara pria dan wanita, mohon petunjuk Suhu agar teecu tahu apa yang boleh dan tidak boleh teecu lakukan, di mana letak bahaya-bahayanya."
Kakek itu tersenyum dan mengangguk-angguk. Memang sudah tiba saatnya muridnya itu tahu akan segala urusan itu. Bagaimanapun juga, seorang manusia, tak peduli dia itu pria ataukah wanita, pada waktunya akan memasuki masa akil balik, usia dewasa yang tubuh mereka menuntut kebutuhan sex. Sebaliknya kalau orang memasuki masa itu dengan mata terbuka, mengerti akan keadaan masa itu, sehingga tidak akan sesat jalan. Daripada dibiarkan mendapatkan pengertian tentang itu secara liar di luaran, salah-salah bisa saja mengetahui tidak sebagaimana mestinya.
"Hay Hay, coba kau pergi ke lianbu-thia (ruangan belajar silat) dan ambil ke sini gambar tubuh manusia laki-laki dan perempuan yang menggambarkan jalan-jalan darah untuk latihan tiam-hiat-hoat (ilmu menotok jalan darah) itu."
Hay Hay pergi dan kembali ke kamar suhunya membawa dua gulungan gambar yang melukiskan tubuh seorang pria dan seorang wanita dengan garis-garis jalan darah masing-masing yang mempunyai sedikit perbedaan. Dia sudah hapal akan jalan-jalan darah pria dan wanita itu, akan tetapi kini perasaannya membisikkan bahwa yang hendak diajarkan suhunya sama sekali tidak mengenai jalan darah!
Ciu-sian Sin-kai menggantungkan dua gambar itu berdampingan di atas dinding, kemudian mulailah dia menjelaskan tentang keadaan tubuh pria dan wanita dalam hubungannya dengan sex. Dengan jelas, tanpa malu-malu, tanpa ragu-ragu dia menceritakan semua, mulai dari hubungan kelamin, sampai terjadinya benih yang tumbuh menjadi seorang anak di dalam rahim si wanita. Dengan perlahan dia memberi penjelasan sehingga Hay Hay dapat memperoleh gambaran yang amat jelas tanpa menjadi terangsang.
"Nah, sekarang engkau tentu sudah mengerti betul. Pria tertarik kepada wanita cantik dan sebaliknya, merupakan hal yang wajar, muridku. Daya tarik dari masing-masing pihak itulah yang merupakan syarat utama sehlngga pria dan wanita saling mendekati dan melakukan hubungan badan sehingga terlahirlah manusia-manusia baru, seperti juga yang terjadi pada semua binatang dan semua tumbuh-tumbuhan. Yang berbeda hanya cara melakukan hubungan itu saja. Tanpa pertemuannya dua zat Im dan Yang, takkan terjadi pertumbuhan kehidupan baru."
Hay Hay mengangguk-angguk tanpa menjawab, hanya sepasang matanya kadang-kadang memandang wajah suhunya, kadang-kadang memandang kedua gambar tubuh manusia di dinding itu.
"Karena itu, berhati-hatilah mengendalikan rasa sukamu terhadap wanita. Pergaulan akrab boleh saja, mengapa tidak? Hanya, engkau harus berhati-hati. Hubungan kelamin yang dapat membuahkan manusia baru, hanya tepat dilakukan oleh kedua orang pria dan wanita yang saling mencinta, yang sadar bahwa hubungan mereka dapat menghasilkan anak, dan keduanya sudah siap untuk menerima kehadiran anak itu untuk dibesarkan dan dididik. Hubungan yang berdasarkan nafsu dan iseng belaka, kalau sampai membuahkan anak, tentu akan mereka terima sebagai suatu malapetaka dan hal ini tentu saja amat tidak baik."
"Terima kasih atas segala petunjuk Suhu yang amat berharga." kata Hay Hay dengan hati lega. Sebegitu jauh, belum pernah dia melakukan pelanggaran dan memang dia merasa ngeri kalau membayangkan bahwa dia akan lupa diri bersama seorang gadis, melakukan hubungan, kemudian mendapat kenyataan bahwa gadis itu mengandung dan melahirkan seorang anak! Tidak, dia belum siap untuk menjadi ayah! Belum siap untuk menikah Dia akan selalu ingat akan bahaya ini.
"Nah, sekarang engkau sudah tahu. Orang-orang muda di pulau ini mempunyai ayah bunda, tentu mereka akan mengetahui hal itu dari orang tua mereka. Engkau boleh saja mengajak mereka bicara tentang ini, juga boleh engkau memberi tahu kepada para gadis itu agar mereka berhati-hati. Wanitalah yang menanggung akibat jauh lebih hebat daripada pria dalam hubungan di luar nikah ini, karena wanitalah yang akan mengandung dan melahirkan anak! Jadi, terutama sekali, wanita yang harus mengekang diri dan berhati-hati. Masih baik kalau si pria bertanggung jawab dan mencintanya dengan sungguh-sungguh sehingga bersedia menjadi suaminya, menjadi ayah dari anaknya. Bagaimana kalau mendapatkan pria yang hanya main-main karena terdorong napsu belaka, setelah wanita itu mengandung lalu meninggalkannya begitu saja?"
Semenjak menerima petunjuk dan nasihat gurunya, Hay Hay bersikap lebih hati-hati. Bukan berarti dia menjauhi wanita, sama sekali tidak. Dia memang suka sekali bergaul dengan gadis-gadis, apalagi gadis yang cantik manis dan manja. Dia suka mengamati wajah mereka yang manis, rambut mereka yang halus dan kulit tubuh mereka yang putih mulus. Dia suka mencium bau sedap tubuh mereka, suka mendengar suara mereka yang halus merdu dan manja, menyentuh kulit yang hangat dan halus. Betapapun juga, dia kini lebih berhati-hati!
Masalah sex dan hubungan antara pria dan wanita, terutama sekali antara muda mudi, sejak dahulu menjadi bahan perdebatan, pergunjingan, penulisan yang tak kunjung habis, dan membikin pusing kebanyakan orang tua, terutama yang mempunyai anak gadis. Ada yang condong untuk menggunakan tangan besi berupa pelajaran-pelajaran tentang dosa, tentang kesusilaan, dan sebagainya untuk mengekang anak-anak mereka agar jangan sampai tergelincir oleh godaan nafsu dalam diri sendiri, nafsu yang mulai bangkit semenjak tubuh mereka menjadi dewasa. Ada pula yang acuh saja, bahkan kurang perhatian dan masa bodoh sikapnya. Akan tetapi kedua-duanya, kalau sampai terjadi anak gadis mereka mengandung sebelum menikah, menjadi kelabakan, berduka, menyesal, marah-marah dan sebagainya lagi karena dorongan emosi yang timbul oleh perasaan dirugikan.
Mengekang dengan jalan kekerasan seperti mengurung seorang gadis di dalam kamarnya atau dalam rumah saja, sudah bukan jamannya lagi sekarang. Akan tetapi membiarkan seorang gadis begitu saja dalam kebebasan dalam keadaan yang kurang kuat sehingga mudah ia tergoda dan tergelincir, tentu saja bukan suatu sikap yang baik dari orang tua. Lalu apa yang harus dilakukan orang tua menghadapi pergaulan yang makin modern dan bebas dari anak-anaknya? Orang tua yang mempunyai anak laki-laki khawatir kalau-kalau anak mereka menghamili seorang gadis sehingga terpaksa mereka harus mengambil gadis itu sebagai mantu, cocok ataukah tidak, sudah waktunya anak mereka menikah ataukah belum. Sebaliknya, orang tua yang mempunyai anak gadis selalu khawatir kalau anaknya itu tergoda dan tergelincir menjadi hamil dan seribu satu usaha dilakukan orang-orang tua setelah gadis itu hamil, di antaranya cara yang tidak terpuji, yaitu dengan mencoba untuk menggugurkan kandungan itu!
Setiap orang anak memiliki dunianya sendiri, kehidupannya sendiri, selera dan jalan pikiran, pandang hidupnya masing-masing. Namun semua ini tidak terpisah sama sekali dari pengaruh lingkungan, terutama lingkungan keluarganya. Sudah sepatutnya kalau anak yang lahir di dunia karena ulah ayah bundanya, memperoleh cinta kasih yang murni dari ayah bundanya, karena HANYA KASIH SAYANG inilah merupakan pendidikan yang paling benar. Dengan adanya kasih sayang, hubungan antara anak dan orang tua menjadi akrab, dan keakraban ini yang membuat si anak menjadikan orang tuanya sebagai sumber segala pertanyaan, sumber segala perlindungan. Dengan dasar cinta kasih, anak akan menerima keterangan-keterangan tentang kehidupan dari orang tuanya, dan sejak kecil akan memiliki dasar yang kuat, tidak pernah merasa terkekang dan merasa bebas dan bertanggung jawab akan segala perbuatan yang dilakukannya sendiri. Rasa tanggung jawab ini meniadakan penyesalan atas suatu perbuatan yang dilakukannya. Apalagi kalau tidak ada tuntutan dari orang tua yang merasa dirugikan, merasa dicemarkan namanya, dan sebagainya lagi, tuntutan-tuntutan dan kemarahan-kemarahan atau kedukaan-kedukaan orang tua yang kesemuanya hanya bersumber dari rasa keakuan si orang tua yang merasa terganggu dan dirugikan! Namun, kasih sayang melenyapkan sifat-sifat seperti itu. Anak akan memasuki kehidupan dalam masa apapun juga dengan mata terbuka dan jiwa bebas kalau anak itu memperoleh cinta kasih sejak kecilnya. Jiwanya tidak terkekang, tidak tertekan, terbuka dan tidak dihantui kesalahan ini dan itu yang membuatnya menjadi pengecut dan tidak berani mempertanggung-jawabkan segala akibat daripada perbuatannya sendiri.
Orang tua yang benar-benar mencintai anak-anaknya, tidak pernah merasa khawatir anaknya akan melakukan hal-hal yang dianggapnya tidak patut tentu saja dasarnya takut kalau si anak mencemarkan nama dan kehormatan orang tua. Dengan dasar cinta kasih murni, maka tidak ada persoalan yang tak dapat di atasi atau dipecahkan, tidak ada persoalan yang menimbulkan amarah, duka atau penyesalan. Cinta kasih bersinar terang dan sinarnya mengusir segala kegelapan pikiran, mencuci segala yang tadinya dianggap kotor.
Semenjak memperoleh keterangan suhunya, Hay Hay menjadi lebih dewasa dalam sikapnya, walaupun kesukaannya terhadap gadis-gadis cantik tak pernah berkurang, bahkan semakin hebat, seperti juga kesukaannya terhadap bunga-bunga, terhadap segala sesuatu yang indah, makin meningkat. Anak ini memang berjiwa romantis dan tidaklah aneh kalau pemuda di Pulau Hiu menjulukinya Pendekar Mata Keranjang! Julukan pendekar karena memang ilmu silatnya semakin meningkat dan semakin hebat, dan mata keranjang karena sepasang matanya selalu bersinar-sinar dan mulutnya tersenyum-senyum, wajahnya menjadi semakin cerah setiap kali dia bertemu dengan seorang wanita cantik.
Ciu-sian Sin-kai yang hanya mempunyai waktu lima tahun, sengaja mengajarkan ilmu-ilmu simpanan yang paling tinggi sehingga biarpun pemuda itu hanya belajar lima tahun lamanya, boleh dibilang telah mewarisi seluruh ilmunya, karena telah menyelami dasar-dasar dan melatih ilmu-ilmu yang paling tinggi dan pilihan. Bahkan Hay Hay belajar pula meniup suling dengan pengerahan khikang untuk menyerang lawan, disamping memainkan suling itu sebagai sebatang pedang.
Waktu memang memiliki kekuasaan atas diri kita manusia secara mutlak. Hampir seluruh hidup ini kita isi dengan hal-hal yang ada hubungannya dengan waktu, atau yang dikuasai waktu. Kita memisah-misahkan waktu lampau, waktu ini, dan waktu mendatang dan dengan pemisahan-pemisahan inilah maka timbul segala macam persoalan di dalam kehidupan kita. Hampir seluruh perasaan yang menguasai batin dan menimbulkan emosi lahir dari waktu yang mengisi seluruh ingatan kita. Perasaan duka timbul dari waktu karena pikiran mengingat-ingat hal yang telah lalu, membandingkannya dengan waktu kini dan membayangkan keadaan waktu mendatang. Karena pikiran mengunyah-ngunyah hal yang telah lampau, mengingat-ingatnya kembali, timbullah duka. Karena pikiran membayang-bayangkan hal yang mungkin terjadi di masa depan, timbullah rasa takut, harapan-harapan yang kemudian menimbulkan kekecewaan-kekecewaan atau kepuasan-kepuasan sejenak. Karena pikiran membayangkan hal-hal yang menimpa diri kita, yang merasa dirugikan lahir atau batin oleh orang lain, timbullah rasa marah, dendam dan kebencian. Batin kita diombang-ambingkan antara masa lampau, masa kini dan masa, mendatang, dicengkeram oleh waktu!
Melihat kenyataan-kenyataan yang dapat kita rasakan sendiri hal ini merupakan sesuatu kenyataan yang tak terpisahkandari kehidupan kita masing-masing, timbullah suatu pertanyaan yang amat penting: Dapatkah kita hidup terlepas dari cengkeraman waktu? Tentu saja yang dimaksudkan di sini adalah kehidupan batiniah. Kehidupan lahir tentu saja tidak dapat dipisahkan dari waktu. Masuk sekolah, kantor, naik kendaraan umum, dan sebagainya memang harus menurutkan jadwal waktu. Akan tetapi dapatkah batin bebas dari cengkeraman waktu bebas dari pengenangan kembali hal yang lalu, bebas dari harapan-harapan masa mendatang, dan hidup saat demi saat, detik demi detik, hidup SEKARANG ini? Kalau dapat, jelas bahwa kita akan bebas pula dari duka, kebencian, ketakutan. Mungkinkah bagi kita untuk memutuskan ikatan dengan masa lalu? Menghabiskan sampai di sini saja segala urusan yang telah lalu? Dan tidak membayang-bayangkan, tidak mengharapkan, hal-hal yang belum terjadi? Hidup dan menikmati hidup saat demi saat, menghadapi dengan penuh kewaspadaan dan kesadaran akan segala yang terjadi saat demi saat, seperti apa adanya? Ini merupakan suatu seni hidup yang amat tinggi dan indah. Mari kita coba saja! Bukan dihalangi oleh tanggapan-tanggapan baha hal itu sukar, tidak mungkin dan sebagainya. Kita lakukan saja sekarang dan kita lihat bagaimana perkembangannya.
Waktu melesat melebihi anak panah cepatnya kalau kita tidak memperhatikannya, sebaliknya merayap seperti keyong kalau kita perhatikan. Tanpa disadarinya, telah delapan tahun lamanya semenjak Hay Hay berpisah dari See-thian Lama! Delapan tahun hanya merupakan waktu sekilat kalau tidak kita perhatikan lewatnya.
Pada suatu pagi yang cerah, seorang pemuda berjalan perlahan-lahan keluar dari sebuah hutan, menuju ke sebuah dusun yang genteng-genteng rumahnya sudah nampak dari atas lereng dari mana dia tadi turun di waktu pagi sekali. Dari atas lereng gunung yang penuh hutan itu, pagi-pagi buta tadi dia melihat sebuah perkampungan di kaki gunung dan lampu-lampunya masih belum dipadamkan semua di pagi hari itu. Kini, setelah melewati hutan terakhir, matahari pagi telah bersinar cerah dan dia sudah melihat genteng-genteng rumah yang kemerahan dari jauh.
Pemuda itu berwajah ganteng. Matanya bersinar-sinar penuh gairah hidup, mulutnya selalu tersenyum atau mengulum senyum, hidungnya mancung dan dagunya membayangkan kegagahan seorang jantan. Pakaiannya terbuat dari kain sederhana saja, namun potongannya rapi dan nampak bersih terawat baik. Pakaian itu berwarna biru muda dengan garis-garis kuning di tepinya. Sebuah buntalan pakaian terikat di punggungnya. Tubuhnya sedang, akan tetapi tegap dan dadanya bidang dan membusung, membayangkan kekuatan yang tersembunyi. Usia pemuda ini sekitar dua puluh tahun. Biarpun masih muda, namun dalam sinar matanya yang berkilat dan berseri itu, di dalam senyumnya yang seolah-olah penuh pengertian, pemuda ini nampak jauh lebih dewasa daripada usia yang sebenarnya. Dari cara dia berpakaian, dia seperti seorang pelajar dari dusun yang menempuh ujian di kota dan kini dalam perjalanan pulang ke dusun, seorang pemuda pelajar yang pandai, halus dan sopan, akan tetapi lemah lembut. Akan tetapi kalau melihat tubuhnya yang tegap dan dadanya yang lebar, dia lebih mirip seorang yang suka akan olah raga, atau setidaknya seorang pemuda yang biasa bekerja kasar di ladang di bawah sinar matahari yang sehat.
Pemuda itu bukan lain adalah Hay Hay! Dia tidak lagi mau menggunakan she (nama keturunan) Siangkoan karena nama keturunan itu adalah milik Lam-hai Siang-mo, suami isteri iblis yang telah menculiknya dari tangan keluarga Pek itu. Dan dia pun tidak berani memakai nama keturunan keluarga Pek, karena menurut kedua orang gurunya, amat diragukan bahwa dia benar putera keluarga Pek, karena bukankah putera keluarga Pek itu adalah Sin-tong seperti yang pernah diramalkan oleh para Dalai Lama dan bahwa Sin-tong memiliki ciri khas pada punggungnya, yaitu dengan tanda kulit punggung merah? Tidak, daripada menggunakan nama keturunan yang salah, lebih baik dia tidak memakai nama keturunan dan tetap memakai nama kecilnya saja, yaitu Hay Hay!
Kurang lebih tiga tahun yang lalu, ketika dia berusia tujuh belas tahun, dia meninggalkan Pulau Hiu karena waktu lima tahun telah lewat, yaitu waktu yang ditentukan baginya untuk berguru kepada Ciu-sian Sin-kai. Dengan memperoleh bekal ilmu-ilmu yang tinggi, juga nasihat-nasihat dan sekantung uang emas dari gurunya yang mencintanya, Hay Hay mendayung sebuah perahu kecil keluar dari perairan Pulau Hiu yang berbahaya. Dia masih bergidik ngeri kalau teringat kembali akan peristiwa penyerbuan pulau itu oleh kaum bajak laut ketika dia datang bersama gurunya untuk pertama kali di pulau itu, membayangkan puluhan orang disergap ikan-ikan hiu dan dijadikan mangsa. Ketika dia mendayung perahu di antara batu-batu karang dan melihat sirip ikan-ikan hiu yang meluncur ke sana-sini, dia pun merasa ngeri juga. Betapapun tinggi ilmu kepandaiannya, sekali dia terjatuh ke dalam perairan itu, tak mungkin dia dapat menyelamatkan diri lagi.
Akan tetapi berkat pengetahuannya akan rahasia dan lika-liku batu-batu karang di perairan itu, dia dapat keluar dengan selamat dan tak lama kemudian mendarat di pantai lautan Po-hai. Selama tiga tahun Hay Hay merantau dan sudah banyak dia mengalami hal-hal yang memperdalam pengertiannya akan kehidupan ini, membuat dia lebih mengenal watak manusia dan sedikit banyak tahu akan keadaan dunia kang-ouw. Akan tetapi dia selalu mentaati pesan kedua orang gurunya, yaitu dia tidak mau menonjolkan diri dan kepandaiannya, dia tidak mau membuat nama besar karena menurut pesan kedua orang gurunya, nama besar itu merupakan ikatan yang amat kuat membelenggu diri dan setiap ikatan akan selalu mendatangkan kerepotan.
Memiliki sesuatu merupakan suatu bentuk ikatan yang amat kuat, demikian antara lain See-thian Lama pernah menasihatinya. Biasanya, kita ingin memiliki sesuatu yang menimbulkan kesenangan dan siapa yang memiliki sesuatu, dia pasti akan terancam oleh kehilangan. Ancaman inilah yahg menimbulkan kekerasan dalam batin untuk menjaga dan mempertahankan apa yang dimilikinya itu, karena kalau kehilangan, berarti dia akan kehilangan kesenangan-kesenangan yang didatangkan oleh yang dimilikinya itu. Dalam mempertahankan inilah terjadi kekerasan, permusuhan, kebencian dan selanjutnya. Dahulu, dalam usia dua belas tahun, Hay Hay belum mengerti benar apa yang dimaksudkan oleh gurunya itu. Akan tetapi kini dia mengerti dan melihat kenyataan dan kebenaran dalam! ucapan pendeta Lama itu. Siapa yang memiliki dia akan menjaga yang dimilikinya dari kehilangan. Yang memiliki sajalah yang akan kehilangan! Yang tidak memiliki apa-apa takkan kehilangan apa-apa. Dan dia pun melihat kenyataan bahwa hanya orang yang tidak memiliki apa-apa, dalam arti kata batinnya tidak terikat oleh apa pun, maka hanya dia itulah yang sesungguhnya penuh dengan segala sesuatu! Dan orang yang batinnya kosong, yang jiwanya kosong, memang haus untuk memiliki sesuatu atau dimiliki seseorang, dia membutuhkan sesuatu yang disenanginya untuk memenuhi kekosongan jiwanya
Memang banyak kenyataan aneh di dunia ini. Mengapa orang INGIN MEMILIKI benda-benda yang dapat dinikmati dengan penglihatan, pendengaran atau penciuman misalnya? Mengapa kita ingin memiliki bunga yang indah dan harum itu? Padahal, tanpa kita miliki sekalipun, dapat saja kita menikmati keindahan dan keharumannya! Mengapa kita ingin memiliki burung yang nyanyiannya demikian merdu? Bukankah tanpa memiliki sekalipun, kita sudah dapat menikmati kemerduan suara burung itu? Kita ingin memiliki segala-galanya! Bukan hanya memiliki benda-benda, bahkan memiliki manusia lain. Isteri atau suami, anak-anak, keluarga menjadi milik kita yang kita kuasai, milik yang dapat menimbulkan kesenangan dan kebanggaan hati kita. Bahkan kita ingin memiliki nama besar, kedudukan, kehormatan. Si Aku tak pernah puas, terus membesar dan berkembang. Badanku keluargaku, hartaku, namaku, kedudukanku, terus membesar sampai ke bangsaku, agamaku dan selanjutnya. Karena melihat betapa si aku ini sebenarnya bukan apa-apa, hanya seonggok daging hidup Yang menanti saatnya kematian tiba dan kalau sudah mati segala miliknya itu terpisah dari "aku", maka si aku haus untuk mengikatkan diri dengan apa saja, untuk mengisi kekosongan dan kekecilannya, untuk tempat bergantung sesudah mati agar diingat terus, agar "hidup" terus!
Kini Hay Hay telah menjadi seorang pemuda yang berusia dua puluh tahun, berwatak gembira, jenaka, memandang kehidupan dengan sepasang mata bersinar-sinar, wajah yang cerah penuh gairah hidup. Hidup baginya nampak indah dan segala hal dapat dinikmatinya sepenuhnya. Udara yang jernih sejuk dan nyaman, air, tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, sayur-sayur, bunga-bunga dan segala yang nampak di permukaan bumi ini sesungguhnya amat indah dan segalanya itu dapat kita nikmati sepenuhnya. Dia memang suka akan keindahan dan karena inilah agaknya, maka terhadap kecantikan wanita dia peka sekali!
Ketika Hay Hay berjalan seorang diri menuju ke dusun itu, tiba-tiba pendengarannya yang tajam menangkap suara ketawa merdu sekelompok wanita. Dia tersenyum gembira. Bagi Hay Hay, suara dan ketawa wanita memasuki telinganya seperti bunyi musik yang merdu dan selalu menimbulkan perasaan yang tenang, damai dan menyenangkan. Dia lalu membelok ke kiri, ke arah suara.
Kiranya ada tujuh orang wanita muda usia, antara lima belas sampai dua puluh tahun, sedang mencuci pakaian dan mandi disebuah sungai kecil yang mengalir di luar dusun itu. Air sungai itu cukup jernih karena mengalir dari pegunungan yang ditinggalkannya pagi tadi. Karena mandi di tempat umum sambil mencuci pakaian, gadis-gadis itu tidak telanjang sama sekali, melainkan mengenakan pakaian dalam yang tipis. Air yang membasahi tubuh dan pakaian itu membuat pakaian melekat dan dari tempat dia berdiri nampak tubuh-tubuh yang padat itu seperti tidak berpakaian saja. Pemandangan yang indah!
Hay Hay tersenyum dan memilih tempat duduk di bawah pohon, di atas batu besar dari mana dia dapat nonton dengan enaknya, lalu menurunkan buntalan bekalnya dan mulai makan sepotong roti kering karena sejak pagi tadi dia belum sarapan. Seguci kecil arak yang tidak keras menemani roti kering itu, juga sepotong daging kering manis.
Makin lezat rasa roti dan daging kering sederhana itu karena pemandangan yang amat menarik hatinya. Betapa lembut dan padat tubuh gadis-gadis itu, dengan kulit yang berkilau mulus tertimpa matahari pagi. Dan wajah-wajah itu demikian manis. Dan suara sendau gurau itu demikian riang gembira, merdu seperti tiupan suling. Dengan gigi putih kadang-kadang berkilau kalau gadis-gadis itu tersenyum gembira.
Selama tiga tahun merantau ini, dan dirinya menjadi semakin dewasa, sudah banyak Hay Hay bertemu dan bergaul dengan wanita. Akan tetapi pergaulannya itu selalu dibatasinya. Dia tidak pernah melupakan kuliah yang diterimanya dari Ciu-sian Sin-kai. Tidak, dia belum siap untuk menjadi suami dan ayah. Dia belum siap untuk menikah. Dan dia pun tidak mau menjadi seorang laki-laki pengecut yang tidak bertanggung jawab, menghamili seorang gadis lalu meninggalkannya begitu saja. Karena itu, dia selalu berhati-hati, tidak membiarkan dirinya terseret terlalu jauh dan selalu dia menyingkir dan menjauhkan diri kalau pergaulannya dengan seorang wanita menjadi terlampau erat dan nampak bayangan bahaya terseret ke dalam pelaksanaan hal yang dipantangnya. Dan sejauh ini, dia berhasil.
Keadaan Hay Hay memang berbeda dengan keadaan pemuda pada umumnya, atau para pria kalau melihat wanita-wanita cantik. Hay Hay secara langsung menikmati keindahan bentuk tubuh wanita-wanita itu, menikmati kecantikan mereka, kelembutan mereka, keluwesan gerakan tubuh mereka, dan kemerduan suara mereka. Dia menikmati semuanya itu pada saat itu juga, tanpa membiarkan pikirannya membawanya hanyut ke dalam permainan waktu. Pria alim pada umumnya akan hanyut ke dalam alam khayal, mengenangkan kembali segala pengalaman dengan wanita-wanita cantik, lalu mengkhayal bahwa wanita-wanita itu, atau seorang di antaranya menjadi miliknya, menjadi kekasihnya, dicumbunya sehingga dengan demikian timbullah dan bangkitlah nafsu. Hay Hay tidak mengkhayal apa-apa. Dia melihat keindahan semua itu tanpa keinginan memiliki, seperti orang menikmati keindahan bulan purnama, keindahan tamasya alam di pegunungan, keindahan gelombang air di samudera. Sedikit pun tidak timbul khayal pikiran untuk mengikatkan diri dengan yang dikaguminya, untuk mendapatkan kesenangan darinya. Dia menikmati semua itu secara langsung, dan akan habis di saat itu pula, tidak menjadi kenangan.
Akan tetapi karena Hay Hay enak-enak saja duduk di tempat itu tanpa menyembunyikan diri, makan roti dan daging kering sambil menikmati tontonan di bawah, tentu saja akhirnya seorang di antara gadis-gadis itu melihatnya.
"Aihhhh...!!" Gadis itu menjerit dan mendekam di dalam air sambil menggunakan kedua tangan menutupi dada yang tercetak melekat pada kain basah. Teman-temannya terkejut dan bertanya. Gadis itu menunjuk ke arah Hay Hay. Semua gadis menoleh dan terdengarlah jerit-jerit manja ketika gadis-gadis itu melihat ada seorang pemuda tampan duduk enak-enak nongkrong di atas batu besar sambil makan dan nonton mereka. Mereka semua berjongkok di dalam air dan menutupi dada dengan kedua tangan.
Hay Hay tersenyum lebar. Sikap para gadis yang malu-malu itu sungguh merupakan sikap kewanitaan yang amat lucu dan menarik. Seratus prosen wanita! Mencoba untuk bersembunyi di dalam air, mencoba untuk menyembunyikan tonjolan payudara dengan kedua tangan akan tetapi kadang-kadang melirik untuk melihat apakah sikap mereka itu cukup manis dan menarik! Perempuan namanya! Naluri kewanitaan selalu mendorong wanita untuk menarik perhatian orang lain, terutama sekali kalau orang lain itu pria, dan lebih-lebih lagi kalau pria muda yang tampan. Haus akan perhatian pria, haus akan kekaguman yang terbayang dalam pandang mata pria, haus akan pujian yang keluar dari mulut pria. Itulah wanita!
Seorang di antara para gadis itu, yang paling tua usianya kurang lebih sembilan belas tahun, agaknya yang paling tabah di antara mereka. Melihat betapa pemuda tampan yang nongkrong itu masih enak-enak makan sambil terus memandangi mereka, dan ternyata pemuda itu seorang asing, bukan pemuda dari dusun mereka, ia lalu berkata dengan nada suara marah.
"Kau... kau pemuda kurang ajar! Tidak sopan!"
Hay Hay membelalakkan matanya, dan sebelum menjawab, dia mendorong makanan di dalam mulutnya dengan seteguk arak anggur. Kemudian dia membersihkan kedua tangannya dan sambil memandang ke arah tujuh orang gadis yang berjongkok di dalam air itu, dia berkata, suaranya lantang dan tidak dibuat-buat.
"Sungguh aneh. Kenapa kalian marah-marah? Bukankah sudah wajar kalau yang indah-indah itu ditonton dan dikagumi? Aku melihat dan mengagumi bunga indah, burung-burung yang bersuara merdu dan manja, aku nonton mereka sepuasku, dan mereka tidak menjadi marah! Yang indah-indah memang baru nampak indah kalau ditonton dan dikagumi, bukan?"
"Apa yang indah?" tanya gadis itu.
"Apa yang indah?" Hay Hay bangkit berdiri di atas batu besar itu dan mengembangkan kedua lengannya. "Kalian masih bertanya lagi? Kalian inilah yang indah! Wajah kalian begitu manis dan cerah, sinar mata begitu indah berseri, senyum kalian di bibir yang segar itu, kedua pipi yang kemerahan, bentuk tubuh yang demikian sempurna. Aihhhhh, suara kalian yang demikian merdu. Demikian banyak keindahan pada diri kalian dan kalian masih bertanya apanya yang indah? Ambooiii, kalian adalah gadis-gadis dusun yang benar-benar polos, wajar dan tidak berpura-pura. Makin mengagumkan, seperti sekumpulan bunga mawar hutan yang liar akan tetapi semakin cerah warnanya dan semakin semerbak harumnya. Wahai nona-nona cantik jelita, tadi aku hampir terpesona dan menyangka bahwa kalian adalah sekumpulan bidadari dari kahyangan yang turun mandi di sungai ini."
Tujuh orang gadis itu adalah gadis-gadis dusun sederhana. Melihat pemuda yang tampan itu berdiri di atas batu dan mengucapkan kata-kata yang amat indah bagi mereka itu, yang penuh dengan pujian-pujian, dengan lagak seperti seorang pemain panggung yang pandai, menjadi melongo. Tidak ada wanita yang tidak merasa nyaman perasaannya mendengar orang memujinya bahwa cantik, apalagi pujian seperti itu, demikian muluk dan indah kata-katanya, dikeluarkan oleh mulut seorang pemuda yang demikian tampan. Hati siapa takkan menjadi gembira? Tujuh orang gadis itu merasa girang sekali, walaupun masih mereka sembunyikan di balik senyum-senyum yang mulai timbul, bahkan terdengar suara ketawa kecil tertahan.
"Ihhh, jangan-jangan itu hanya rayuan gombal!" terdengar seorang di antara para gadis itu berkata lirih. Akan tetapi cukup bagi pendengaran Hay Hay yang tajam terlatih untuk menangkapnya.
"Astaga, Nona manis, aku mohon janganlah engkau demikian kejam menuduh aku mengeluarkan rayuan gombal. Rayuan gombal adalah rayuan yang mengandung pamrih untuk bermuka-muka dan menjilat-jilat, sedangkan aku tidak mempunyai pamrih apa-apa terhadap kalian, kecuali memang aku merasa terpesona dan kagum akan keadaan kalian yang bagaikan bunga-bunga yang bermandikan embun di waktu pagi, demikian segar dan cerah dan cantik dan harum!"
Tentu saja para gadis itu semakin tertarik dan gadis tertua tadi bertanya. "Siapakah engkau dan mau apa engkau berada di sini mengintai kami yang sedang mandi dan mencuci pakaian?"
Hay Hay tersenyum. Selama perantauannya yang tiga tahun ini, banyak sudah dia bergaul dengan gadis-gadis cantik dan dia pun tahu bahwa kalau seorang gadis sudah mau melayani bicara, itu tanda Si Gadis tertarik dan dapat diajak berkenalan!
"Namaku Hay Hay." Dia menjura dengan sikap hormat. "Dan aku kebetulan lewat di sini. Perutku lapar dan aku lalu beristirahat di sini sambil sarapan dan mengagumi kalian."
"Apakah... apakah kau tidak akan berbuat kurang senonoh dan kurang ajar terhadap kami?"
Hay Hay mengerutkan alisnya dan menunjuk ke atas dan ke bawah. "Langit dan Bumi menjadi saksi dan akan menghukum aku kalau aku mempunyai niat buruk dan kurang ajar terhadap kalian, Nona-nona manis. Sebagai bukti bahwa aku ingin sekedar berkenalan dan bersahabat, marilah kalian kuundang untuk sarapan pagi, aku masih membawa cukup banyak roti dan daging kering." Dia mengeluarkan sebungkus roti dan sebungkus daging, lalu dibukanya dan dipamerkan kepada gadis-gadis itu. "Roti ini bukan roti biasa melainkan roti istimewa yang dicampuri kenari, dan daging ini pun lezat bukan bukan main karena ini adalah daging dendeng manis dari daerah Kwei-lin, sedap dan gurih! Dan aku pun masih mempunyai seguci anggur yang tidak keras, wangi dan manis. Silakan, Nona-nona."
Kembali gadis-gadis itu tertawa kecil cekikikan, ditahan dan mereka saling berbisik dan merupakan kelompok yang lucu. Lalu yang tertua berkata, "Kami mau naik akan tetapi engkau berbaliklah agar kami dapat mengenakan pakaian kering yang patut."
Hay Hay maklum akan batas godaannya. Kalau terlalu didesak sehingga merasa amat malu, gadis-gadis ini dapat mundur teratur. Dia tersenyum ramah. "Baiklah, Nona-nona, aku takkan melihat kalian berganti pakaian!" Dan dia pun membalikkan tubuhnya, duduk di atas batu itu membelakangi sungai.
Gadis-gadis itu tergesa-gesa berganti pakaian di balik batu-batu sambil kadang-kadang mengerling ke arah Hay Hay. Kalau Hay Hay menengok dan memandang, tentu mereka akan marah dan tidak percaya lagi kepadanya. Akan tetapi, pemuda itu sama sekali tidak pernah menengok. Dia pun tidak mempunyai keinginan untuk mencuri pandang. Dia suka bergaul dengan gadis-gadis manis yang lincah itu, bukan menyembunyikan maksud untuk mencuri sesuatu, melainkan rasa suka yang wajar.
Karena melihat pemuda itu benar-benar tidak pernah menengok, tujuh orang gadis itu menjadi percaya dan setelah berganti pakaian kering dan mengumpulkan cucian, mereka lalu membawa keranjang pakaian keluar dari sungai, mendaki tebing sungai dan menghampiri batu besar di mana Hay Hay duduk, sambil tertawa-tawa kecil.
"Apakah aku sudah boleh memandang?" Hay Hay bertanya walaupun telinganya sudah mendengar akan gerakan mereka yang mendaki tebing.
"Boleh, kami telah berganti pakaian," kata seorang di antara mereka dan kini mereka telah tiba di dekat batu besar.
Hay Hay membalikkan tubuhnya dan dia terbelalak memandangi mereka dengan sinar mata penuh kagum yang tidak dibuat-buat dan tidak disembunyikan. Dia lalu meloncat turun di depan gadis-gadis itu dan mengembangkan kedua lengannya.
"Amboiii... , setelah kalian berpakaian dan kulihat dekat benar-benar kalian merupakan sekelompok bunga yang indah dan harum semerbak! Lihat, sinar matahari pagi menjadi semakin cerah dengan adanya kalian di sini!"
Wajah tujuh orang gadis itu menjadi kemerahan walaupun jantung mereka berdebar penuh dengan rasa bangga dan gembira. Mereka pun kini memandang kagum karena pemuda yang amat menyenangkan hati mereka karena kata-kata dan sikapnya itu ternyata seorang yang berwajah tampan, bertubuh tegap dan berpakaian pantas. Bukan seorang pemuda dusun, pikir mereka.
"Apakah... apakah engkau seorang kongcu dari kota?" yang tertua bertanya.
Hay Hay tersenyum lebar, nampak deretan giginya yang sehat dan putih terpelihara rapi. Dia menggeleng kepala. "Nona, apakah bedanya antara orang kota dan orang dusun? Menurut penglihatanku, bedanya hanya bahwa kalau orang kota banyak yang sombong dan licik, orang dusun sebaliknya rendah hati, ramah dan jujur. Aku adalah seorang perantau yang tidak tentu tempat tinggalku, bagiku dusun dan kota sama saja."
"Akan tetapi, engkau tentu bukan pemuda dusun, engkau tentu pandai baca tulis," kata gadis lain yang ada tahi lalatnya di dagu.
"Aih, Nona, tahi lalat di dagumu itu benar-benar membuat engkau nampak manis sekali!" Hay Hay memuji sehingga gadis yang usianya sekitar enam belas tahun tersipu. "Memang aku bisa baca tulis. Ah, aku sampai lupa. Silakan mencoba roti dan daging dendengku, Nona-nona, mari, jangan malu-malu. Bukankah kita sudah berkenalan dan menjadi sahabat?" Hay Hay menawarkan dan membuka bungkusan roti dan daging itu di atas batu.
Para gadis itu nampak ragu-ragu, akan tetapi seorang gadis yang rambutnya terurai panjang sampai ke pinggul berkata, "Dia sudah menawarkan, tidak baik kalau kita menolak. Mari kita cicipi." Dan ia pun memelopori teman-temannya mengambil sepotong roti dan daging.
Setelah gadis berambut panjang itu mengambil sepotong roti dan dendeng, yang lain pun sambil tersenyum-senyum dan tertawa-tawa kecil mengulur lengan-lengan yang kecil mungil dan mulus untuk mengambil roti dan daging, masing-masing sepotong. Mereka mulai makan, menggigit sedikit-sedikit akan tetapi begitu mereka merasakan roti dan dendeng yang memang enak, gigitan mereka menjadi semakin besar karena mereka tidak pernah berpura-pura dan bersopan-sopan seperti gadis-gadis kota. Melihat ini Hay Hay menjadi semakin gembira. Dengan sinar mata berseri dia memandangi gadis-gadis itu penuh kagum.
"Aduh, indahnya rambutmu, Nona, begitu panjang, hitam dan gemuk. Bukan main!" katanya memuji Si Gadis berambut panjang. "Cantik sekali!"
Para gadis itu tertawa dan gadis tertua menuding ke arah gadis bertahi lalat dan gadis berambut panjang. "Hi-hik, dia memuji-muji Siauw Lan dan Siauw Cin..." dan semua gadis mentertawakan dua orang gadis itu yang tersipu malu.
Melihat ini, Hay Hay cepat berkata. "Bukan hanya mereka berdua, akan tetapi aku mengagumi kalian semua karena kalian semua masing-masing memiliki keindahan yang khas. Aku dapat memuji kalian semua, bukan rayuan gombal, melainkan pujian yang setulusnya atas dasar kenyataan."
"Aih, tidak mungkin engkau memuji kami semua!" kata gadis tertua, menyembunyikan keinginan hatinya untuk mendengar pujian apa yang akan diberikan pemuda luar biasa itu untuknya. Hay Hay memandang kepada lima orang gadis yang belum dipujinya itu dengan senyum manis. Dia memang suka sekali kepada wanita, dan belum pernah dia melihat wanita yang tidak memiliki sesuatu yang menonjol pada dirinya, sesuatu yang menarik dan istimewa.
"Engkau sendiri, Nona, engkau memiliki kulit yang demikian putih mulus, bersih dan lembut tanpa cacat! Kulitmu nampak putih kemerahan, seperti sutera halus, setelah mandi dan basah tertimpa sinar matahari pagi nampak cemerlang. Alangkah indahnya dan aku yakin, semua pria tentu akan terpesona melihatnya. Hanya pria yang buta kedua matanya sajalah yang tidak akan dapat melihat keindahan kulitmu."
Bukan main girang rasa hati gadis itu. Memang ia memiliki kulit yang paling putih bersih dibanding teman-temannya, akan tetapi selama hidupnya, baru satu kali inilah ada orang memuji-muji kebersihan kulitnya seperti itu! Jantungnya berdebar-debar dan ia menundukkan mukanya yang menjadi kemerahan.
"Aihhh, bisa saja engkau memuji Kongcu......!" katanya sambil tersenyum malu-malu.
"Kalau aku yang hitam seperti arang ini, apanya yang pantas dipuji?" tiba-tiba gadis berusia tujuh belas tahun yang memang berkulit agak kehitaman berkata, menantang dan teman-temannya memperhatikan pemuda itu. A-kiu ini memang dianggap paling buruk di antara mereka karena kulitnya memang lebih hitam dari pada yang lain. Hay Hay memandang gadis itu, sinar matanya mencari-cari dan akhirnya dia berseru.
Ah, siapa bilang engkau buruk, Nona? Memang kulitmu agak hitam, akan tetapi hitam manis itu namanya! Dan lihat matamu! Duhai siapa takkan terpesona melihat mata seperti matamu itu? Demikian jeli, demikian jernih, demikian indah bentuknya. Sepasang matamu itu saja sudah cukup untuk menundukkan hati setiap pria, Nona!" Dan kini kawan-kawan nona berkulit kehitaman itu baru melihat bahwa Si A-kiu memang memiliki mata yang indah!
"Dan engkau, Nona, keistimewaan yang ada padamu adalah bentuk wajahmu inilah yang dinamakan bentuk wajah bulat telur. Manis bukan main, dengan dagu meruncing dan tulang pipi agak menonjol. Bentuk wajah seperti yang kaumiliki itu membuat semua bagian mukamu menjadi nampak manis sekali!" kata Hay Hay memuji gadis berikutnya yang tersipu-sipu malu-malu senang.
"Dan jarang ada gadis memiliki hidung dan mulut sepertimu, Nona." katanya lagi memandang gadis berbaju hijau, gadis ke enam. "Hidungmu kecil mancung cocok sekali dengan mulutmu yang kecil dengan bibir yang penuh dan merah membasah. Amboiii..... mata pria takkan mau berkedip memandangi mulutmu itu. Engkau seorang gadis yang hebat!" Dan tentu saja gadis itu hanya dapat mengeluarkan suara "aahhh....." yang manja dan tersipu-sipu seperti yang lain.
"Dan engkau?" Hay Hay memandang gadis ke tujuh atau yang terakhir. "Bentuk tubuhnya, Nona! Sungguh bagaikan setangkai bunga sedang mekar! Pinggangmu ramping, tubuhmu... sungguh menggairahkan setiap orang pria yang memandangnya. Semua pria dapat tergila-gila memandang bentuk tubuh seorang wanita seperti bentuk tubuhmu ini!"
Tujuh orang gadis itu semua telah mendapat giliran dipuji-puji oleh Hay Hay dan mereka yang menerima pujian menjadi girang bukan main, akan tetapi setiap kali Hay Hay memuji seorang gadis, yang lain merasa tak senang dan iri!
"Hemm, Kongcu..." kata gadis tertua yang kulitnya putih.
"Aihh, jangan menyebut Kongcu (Tuan Muda), membikin aku malu saja. Namaku Hay Hay dan kalian boleh saja menyebut aku Kakak Hay."
"Kak Hay Hay yang baik," kata gadis tertua. "Engkau memuji kami semua, katakanlah siapa di antara kami yang kauanggap paling menarik?" Gadis-gadis yang lain tersenyum dan tertawa, ikut pula mendesak dan suasana menjadi gembira sekali. Mereka tertawa-tawa, merubung Hay Hay yang menjadi girang sekali. Dirubung tujuh orang gadis cantik dan segar itu merasa seperti berada di taman kahyangan dikelilingi tujuh orang bidadari jelita! Dia pun tertawa-tawa gembira. Alangkah bahagianya hidup ini! Di setiap keadaan terdapat hal-hal yang dapat dinikmati, yang mendatangkan rasa gembira di hati.
"Aku menjadi bingung kalau disuruh mengatakan siapa yang paling menarik. Habis semuanya menarik sih!" jawabnya sambil tertawa-tawa dan tujuh orang gadis itu pun tertawa semua. Senang rasa hati mereka dan selama hidup belum pernah mereka berjumpa dengan seorang pemuda yang begini menyenangkan hati.
"Andaikata engkau disuruh memilih seorang di antara kami untuk menjadi..." gadis berambut panjang itu berhenti, mukanya merah sekali dan ia tidak berani melanjutkan karena malu.
"Menjadi apa?" Hay Hay pura-pura tidak mengerti.
"Jadi itu tuuhh.....!" sambung gadis bertahi lalat.
"Jadi pacarmu.....!" akhirnya gadis tertua memberanikan diri berkata. "Engkau akan memilih yang mana, Kak Hay?"
Hay Hay tertawa bergelak di tengah-tengah para gadis itu. "Wah repotnya! Pilih yang mana, ya?" Dia memandang kepada mereka satu demi satu untuk menimbulkan suasana penuh harapan yang menegangkan hati mereka, kemudian menyambung, "aku pilih semuanya! Ha-ha-ha!"
Gadis-gadis itu menjerit kecil dan tertawa-tawa dengan sikap manja dan genit. Mereka pun menikmati keadaan yang luar biasa, menggembirakan dan sekaligus membangkitkan gairah hidup dan semangat muda mereka. Mereka merasa demikian bebas dekat pemuda ini, bebas akan tetapi tidak merasa terancam. Pemuda ini sama sekali tidak kurang ajar, pandang matanya demikian jenaka namun lembut, tanpa kandungan pandang mata penuh nafsu yang kurang sopan. Biasanya, mereka merasa betapa pandang mata pria kalau ditujukan kepada mereka seolah-olah hendak meraba-raba tubuh mereka, bahkan seolah-olah sinar mata pria hendak menelanjangi mereka. Pemuda ini tidak. Ucapan-ucapannya yang mengandung pujian bukan rayuan belaka, melainkan pujian yang wajar dan setengah kelakar.
Baik Hay Hay maupun gadis itu tidak tahu bahwa tidak jauh dari situ, di balik semak-semak belukar, sejak tadi ada sepasang mata jeli yang mengintai dan mengikuti setiap gerakan maupun kata-kata mereka. Sepasang mata yang amat tajam, yang kadang-kadang memancarkan kemarahan, kadang-kadang juga kegembiraan. Pemilik sepasang mata ini adalah seorang gadis yang usianya kurang lebih delapan belas tahun. Terjadi hal lucu pada gadis pengintai ini ketika Hay hay tadi memuji para gadis itu satu-satu. Kalau Hay Hay memuji rambut seorang di antara mereka, tak terasa lagi ia pun meraba rambutnya. Kalau Hay Hay memuji hidung seorang gadis, ia pun otomatis meraba hidungnya sendiri dan seterusnya. Ketika Hay Hay dirubung oleh para gadis itu dan mereka semua tertawa-tawa dengan girang, gadis pengintai itu mengerutkan alisnya dan mengamati mereka dengan pandang mata tajam.
"Hemmm, Si Mata Keranjang!" berkali-kali mulutnya mengeluarkan bisikan mendesis dan pandang matanya terhadap Hay Hay menjadi keras dan semakin tajam.
Para gadis itu sampai lupa waktu ketika mereka bersendau gurau dengan Hay Hay. Semua bekal roti dan dendeng pemuda itu sudah habis mereka makan, dan kini Hay Hay menanyakan nama mereka. Seperti sekelompok burung, dengan suara merdu dan gaya masing-masing, mereka memperkenalkan nama mereka.
Pada saat itu, datanglah belasan orang laki-laki tua muda. Mereka datang dari dusun karena mereka adalah penghuni dusun itu, ada yang menjadi ayah atau kakak dari para gadis yang sedang bersendau gurau dengan Hay Hay. Seorang anak kecil tadi melihat betapa gadis-gadis itu merubung seorang pemuda asing dan tertawa-tawa, maka dia berlari ke dusun dan melaporkan kepada para penduduk. Berkumpullah belasan orang dan mereka kini menuju ke tepi sungai kecil.
"Apa yang kalian lakukan?" bentak seorang kakek kepada mereka. Hay Hay dan tujuh orang gadis itu sedang bercakap-cakap dan mereka tertawa-tawa mendengar sebuah dongeng yang diceritakan Hay Hay kepada mereka, sebuah dongeng lucu.
Terkejutlah tujuh orang gadis itu dan mereka semua menoleh. Kiranya kepala dusun sendiri yang menegur mereka dan tentu saja mereka menjadi ketakutan, cepat mengumpulkan cucian mereka dan mundur menjauhi Hay Hay.
"Tidak-apa-apa, kami hanya bercakap-cakap....." gadis tertua mewakili teman-temannya menjawab, memandang dengan lugu karena memang tidak merasa bersalah, akan tetapi takut karena sikap kepala dusun itu seperti orang marah.
"Siapa dia?" Kepala Dusun itu menuding ke arah Hay Hay yang sudah turun dari batu besar yang didudukinya tadi.
"Dia... Kakak Hay dan baru saia kami berkenalan dan....."
"Tidak pantas anak perawan bercengkerama dengan pria yang asing, bersendau gurau tak mengenal sopan santun. Hayo kalian pulang sana!" bentak Kepala Dusun itu dengan marah. Tujuh orang gadis itu semakin ketakutan. Merekar melempar pandang ke arah Hay Hay dengan khawatir sekali, takut kalau-kalau pemuda yang menyenangkan itu akan dipukuli orang-orang dusun yang kelihatannya marah itu.
"Dia tidak melakukan apa-apa yang tidak pantas! Dia tidak bersalah apa-apa...." teriak gadis bertahi lalat yang masih terhitung keponakan dari kepala dusun.
"Diam kau! Dan pulanglah kalian, anak-anak tak tahu malu!" bentak Kepala Dusun dan kini tujuh orang gadis itu tak berani membantah, lalu berjalan perlahan-lahan meninggalkan tempat itu, akan tetapi mereka menengok dan menengok lagi.
Sementara itu, kepala dusun kini bersama belasan orang penduduk dusun menghampiri Hay Hay yang sudah turun dan pemuda itu tersenyum, bahkan lalu menjura dengan sikap hormat.
"Lopek yang baik, harap jangan memarahi adik-adik itu. Mereka tidak melakukan sesuatu yang salah. Kami hanya bercakap-cakap saja setelah saling berkenalan. Saya bernama Hay Hay dan kebetulan lewat di sini, melihat mereka selesai mencuci pakaian dan saya menawarkan roti dan daging kering. Kami makan bersama, bercakap-cakap dan tidak terjadi sesuatu yang tidak baik, Lopek. Kalau memang hal itu dianggap salah, biarlah saya yang bersalah, akan tetapi adik-adik yang baik itu sama sekali tidak bersalah."
Kepala dusun itu bersama yang lain-lain, tertegun melihat sikap pemuda yang hormat dan kata-kata yang halus itu. Mereka saling pandang dan tahulah mereka bahwa mereka berhadapan dengan seorang pemuda yang selain tampan dan berpakaian seperti seorang pelajar yang beruang, juga bicaranya halus dan sopan seperti juga sikapnya. Kepala dusun itu merasa tidak enak kalau harus memperlihatkan sikap keras. Siapa tahu pemuda ini masih berdarah bangsawan atau setidaknya putera seorang berpangkat tinggi di kota!
"Kami tidak menyalahkan siapa-siapa, hanya merasa tidak pantaslah kalau gadis-gadis bercengkerama dengan seorang laki-laki asing, di tempat sunyi begini." katanya. "Kongcu siapakah, datang dari mana dan ada keperluan apakah mengunjungi dusun kami ini? Aku adalah Kepala Dusun di sini dan berhak untuk mengenal setiap orang tamu asing yang berada di wilayah kami."
Hay Hay tersenyum dan menjura lagi kini kepada kakek itu. "Ah, kiranya saya berhadapan dengan Chung-cu (Kepala Kampung). Maafkan kalau saya mengganggu, akan tetapi sesungguhnya seperti yang saya katakan tadi, saya hanya kebetulan saja lewat di sini dan melihat keindahan pemandangan sekitar tempat ini, saya bermaksud untuk bermalam di dusun. Kebetulan saya bertemu dan berkenalan dengan gadis-gadis tadi, harap Chung-cu tidak menyangka yang tidak baik. Nama saya Hay Hay dan saya seorang perantau yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap."
Berubah lagi pandangan mereka mendengar bahwa pemuda itu seorang yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap. Seorang pemuda dusun itu yang bertubuh tinggi besar dan berwajah galak, segera melangkah maju dan menudingkan telunjuknya. "Tentu saja kami menyangka buruk melihat betapa engkau berani merayu gadis-gadis kami. Sungguh kurang sopan bagi seorang pria yang baru saja datang untuk bersendau gurau dengan gadis-gadis kami!" Pemuda ini menaruh hati kepada gadis yang bertahi lalat di dagunya dan sejak tadi dia sudah merasa cemburu dan iri hati sekali terhadap pemuda tampan ini, apalagi melihat betapa gadis yang dicintanya itu nampak membela Si Pemuda Asing.
Kembali Hay Hay hanya tersenyum menghadapi hardikan ini. "Maaf, sungguh aku tidak mengerti mengapa hanya bicara dan bersendau gurau secara baik-baik saja dianggap tidak sopan? Kalau aku berbuat tidak sopan, tentu gadis-gadis itu sudah menjadi marah atau melarikan diri. Sebaliknya, mereka suka bersahabat dan makan bersama-sama aku di sini!"
"Karena engkau orang kota pandai merayu! Engkau hendak memikat gadis-gadis dusun dengan rayuanmu, ya? Lebih baik engkau cepat minggat dari sini sebelum aku kehilangan kesabaran dan menghajarmu sampai babak belur!" pemuda itu dengan hati panas dan dengan kedua tangan terkepal mengancam.
Hay Hay tidak menjadi marah. Malah dia tersenyum lebar memandang pemuda itu. "Engkau sungguh mengagumkan, sobat. Karena cintamu kepada seorang di antara adik-adik itu, maka engkau menjadi panas hati dan hendak menghajarku."
Pemuda itu terbelalak, mukanya menjadi merah dan beberapa orang temannya tertawa mendengar ini karena memang mereka tahu bahwa temannya ini jatuh hati kepada gadis bertahi lalat yang nama panggilannya Siauw Lan itu.
"Sudah, tak perlu banyak cakap lagi. Pergilah sekarang juga!" pemuda itu menghardik dan maju semakin dekat, siap untuk memukul.
Hay Hay tetap tenang dan dia memandang kepada kepala dusun yang sejak tadi hanya diam saja menjadi penonton. "Lo-chung-cu, sudah benarkah saya diusir dari dusun ini tanpa dosa? Bagaimana kalau saya pergi kemudian aku mengabarkan perlakuan dan sikap kalian terhadap para tamu yang datang ke dusun ini?"
Kepala Dusun menjadi bimbang. Siapa tahu pemuda tampan itu benar-benar putera atau setidaknya sahabat dari pejabat-pejabat tinggi di kota! Dia pun menengahi dan menarik lengan pemuda itu agar mundur.
"Sudahlah, selama tidak ada keluhan dan laporan dari anak gadis kami, maka kami habiskan saja perkara ini. Akan tetapi, untuk menjaga agar tidak terjadi keributan, kami harap Kongcu suka pergi dari sini."
"Saya bukan tuan muda, dan harap jangan sebut saya dengan kongcu. Dan saya sudah memutuskan untuk bermalam di tempat ini. Apakah dilarang untuk seorang yang melakukan perjalanan untuk berhenti di sini barang satu dua malam?"
Kepala dusun itu menarik napas panjang. Pemuda ini terlalu tenang dan sikapnya amat ramah dan baik, tak pernah memperlihatkan sikap sombong atau marah. Tidak baik kalau terus bersikap kaku.
"Terserah kepadamu, orang muda. Akan tetapi ketahuilah bahwa di dusun kami tidak ada penginapan, dan para penduduk tentu tidak akan ada yang suka menerimamu sebagai tamu. Kalau engkau suka bermalam di tempat terbuka seperti di sini, terserah kepadamu." Setelah berkata demikian, kepala dusun itu lalu mengajak orang-orangnya untuk pulang ke dusun karena mereka harus melakukan pekerjaan masing-masing. Pemuda tinggi besar itu masih memandang dengan mata tajam kepada Hay Hay, lalu sebelum dia pergi bersama yang lain, masih sempat dia mengancam.
"Awas, kalau engkau berani mendekati gadis-gadis kami lagi, aku benar-benar akan mencari dan menghajarmu!"
Hay Hay hanya tersenyum dan menggerakkan pundaknya sambil menduga-duga, gadis yang mana dari ketujuh gadis tadi yang dicinta pemuda ini. Kasihan gadis itu, tentu kelak akan menjadi bulan-bulan kemarahan pemuda ini kalau sudah menjadi suaminya karena pemuda ini pencemburu benar.
Karena tidak diperbolehkan bermalam di dalam rumah penduduk di dalam dusun itu, Hay Hay lalu mulai mencari tempat untuk melewatkan malam. Daerah dusun itu memang indah sekali, tanahnya subur dan dusun itu dikelilingi bukit-bukit yang penuh dengan hutan-hutan yang lebat. Akhirnya dia menemukan sebuah kuil tua yang sudah rusak dan tidak terpakai lagi yang letaknya di tepi hutan di sebuah lereng bukit, hanya beberapa li jauhnya dari dusun itu. Ketika dia berdiri di depan kuil tua itu, nampaklah dusun itu, nampak genteng-genteng rumahnya dan teringatlah dia akan ketujuh orang gadis manis tadi dan dia pun tersenyum gembira. Sebuah dusun yang subur dan indah pemandangannya, dengan gadis-gadisnya yang segar dan manis. Sayang para penghuninya salah paham dan mengira dia akan berbuat kurang ajar. Kurang ajarkah dia? Tidak sopankah dia? Dia tidak mampu menjawab, hanya menggaruk-garuk belakang kepalanya, lalu dia pun mencari tempat yang baik untuk melewatkan malam di dalam kuil itu. Dia menemukan ruangan dalam yang bersih. Untung, pikirnya, agaknya baru saja ada pelancong yang juga kebetulan lewat dan bermalam di situ, karena ruangan itu bersih dan nampak bekas-bekas bahwa ada orang yang membersihkannya, bahkan membuat api unggun di situ. Dengan perasaan lega dia melepaskan buntalan yang dipanggulnya di punggungnya, dan duduk bersila melepaskan lelah di lantai yang sudah dibersihkan orang lain untuknya itu.
Dia tidak tahu bahwa orang lain yang membersihkan lantai itu untuknya, kini mengintai dari jauh dan mengomel panjang pendek.
"Sialan dangkalan! Susah-susah aku membersihkan ruangan itu, yang memakai orang lain dan pemuda yang mata keranjang itu lagi!" Yang mengomel panjang pendek ini adalah seorang gadis bermata tajam, bukan lain adalah gadis yang tadi melakukan pengintaian ketika Hay Hay bersendau gurau dengan tujuh orang gadis dusun.
Dengan perasaan gemas, gadis itu lalu berloncatan dan gerakannya sedemikian ringan dan cepatnya sehingga kalau ada orang yang melihatnya tentu akan tercengang keheranan. Dengan muka merah saking marahnya, gadis itu sudah memasuki kuil tanpa mengeluarkan suara dan tahu-tahu sudah berada di dalam ruangan di mana Hay Hay masih duduk bersila. Senja telah mendatang, namun matahari belum kehilangan semua sinarnya sehingga di dalam ruangan kuil rusak itu masih cukup terang.
"Heiii......!" Gadis itu menghardik dengan nyaring.
Hay Hay terkejut, membuka kedua matanya dan begitu dia melihat wajah gadis itu, dia pun meloncat bangun dan dengan mata terbelalak dia pun berseru. "Heiii.....!" hal yang mengejutkan hati gadis itu pula.
"Ada apa kau berteriak seperti orang gila?" bentaknya.
"Waaah, itu... wajahmu itu......" Gadis itu otomatis membawa kedua tangan ke wajahnya. Apakah pipinya coreng-moreng?
"Rambutmu itu...!" Hay Hay melanjutkan dan kembali Si Gadis meraba kepalanya, takut kalau-kalau rabutnya awut-awutan.
"Matamu...! Hidungmu...! Mulutmu...! Tahi lalat di dagumu! Kulitmu dan bentuk tubuhmu !"
"Heiii! Apakah engkau sudah gila?" teriak gadis itu, merasa dipermainkan.
"Tidak, tidak, siapa yang mempermainkan? Tapi, engkau tentu bidadari dari kahyangan! Atau siluman! Kenapa begitu cepat engkau mengambil alih setiap keindahan dari tujuh orang gadis dusun tadi? Lihat, wajahmu bulat telur, sepasang matamu seperti mata bintang, hidungmu mancung, mulut kecil merah membasah, rambutmu hitam gemuk panjang, kulitmu putih halus, bentuk tubuhmu ramping dan indah. Sungguh masih ditambah tahi lalat di dagumu lagi! Lengkaplah sudah!"
Bukan main marahnya gadis itu. Ia memang merasa jantungnya berdebar girang oleh pujian-pujian itu, akan tetapi ia dimaki siluman!
"Kaubilang aku siluman? Engkaukah yang monyet munyuk, cacing dan kacoa, anjing babi tikus!"
Mendengar makian-makian itu nyerocos keluar dari mulut yang manis itu, Hay Hay terbelalak dan mengangkat kedua tangan ke atas. "Ampun ya para dewi! Kenapa engkau marah-marah dan memaki-maki aku seperti itu?"
"Huh, apakah engkau kira aku akan bersikap seperti perawan-perawan dusun yang lemah dan takluk menghadapi semua rayuan gombalmu? Jangan harap, ya!" Gadis itu mengeluarkan suara dari hidung dengan sikap mengejek dan memandang rendah, tangan kirinya dikibaskan seperti orang mengusir lalat.
Hay Hay terpesona. Selama perjalanannya, selama dia menjadi dewasa dan berkenalan dengan banyak wanita, belum pernah rasanya dia bertemu dengan seorang gadis yang demikian hebat dan kuat daya tariknya! Dan dia tadi tidak sekedar memuji atau merayu. Gadis itu bertubuh ramping, kulit tubuhnya putih mulus, rambutnya hitam panjang dikuncir dan digelung, dihias dengan perhiasan rambut yang indah, mukanya bulat telur, hidungnya kecil mancung, matanya tajam seperti bintang, mulutnya kecil berbibir merah membasah, dan di dagunya ada setitik tahi lalat hitam. Semua keistimewaan tujuh orang gadis dusun itu ditemui dalam diri gadis ini! Dan semua kehebatan ini dimiliki seorang gadis yang luar biasa galaknya! Galak seperti setan, datang-datang memaki-maki padanya dan dalam pandang mata yang bersinar tajam itu nampak jelas keganasan dan kekerasan hatinya. Melihat pakaiannya yang indah dan caranya bicara, dia dapat menduga bahwa gadis ini bukan seorang gadis dusun.
"Ya ampun......! Apakah kesalahan hamba terhadap paduka, maka paduka puteri yang agung menjatuhkan kemarahan yang demikian besarnya terhadap diri hamba?" Hay Hay masih berusaha untuk meredakan kemarahan gadis itu dengan sikapnya yang terlalu hormat dan lucu.
Akan tetapi agaknya gadis itu sama sekali tidak tertarik akan sikap Hay Hay dan tidak mau melayani kelakarnya. "Laki-Iaki mata keranjang! Akulah yang membersihkan ruangan ini, dan engkau yang baru datang mau enak-enak saja memakainya? Hayo pergi tinggalkan tempat istirahatku ini!"
"Ampun Dewi...! Kiranya begitu?" Hay Hay benar-benar tertegun mendengar ini, bukan hanya karena dia telah memakai tempat yang telah lebih dulu ditemukan dan dibersihkan orang lain, juga terheran-heran mendengar bahwa gadis secantik itu memilih tempat ini untuk istirahat. Padahal kalau bukan orang yang tabah sekali tentu akan merasa ngeri bermalam di tempat yang menyeramkan ini. Biasanya, kuil-kuil tua seperti ini, apalagi di tepi hutan yang sunyi, akan dikabarkan sebagai yang dihuni setan-setan dan iblis-iblis, setidaknya mahluk halus dan siluman. Akan tetapi, betapa kagetnya ketika tiba-tiba tubuh itu berkelebat dan tahu-tahu jari tangan yang mungil itu sudah menyentuh jalan darah di ubun-ubun kepalanya. Diam-diam dia kaget setengah mati. Sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi, dia maklum bahwa sekali saja wanita itu menggerakkan jari tangannya menyerang, dia akan tewas!
"Engkau mengenalku?"
Hay Hay terbelalak dan menggeleng kepala. "Tidak... tidak... Dewi....."
"Kalau begitu, siapa yang memberi tahu bahwa aku berjuluk Sian-li (Dewi)?" Jari tangan itu masih juga belum meninggalkan ubun-ubun kepalanya.
"Maaf, tidak ada yang memberi tahu, dan juga aku tidak tahu bahwa engkau berjuluk Sian-li. Aku menyebut Dewi karena engkau demikian cantik dan agung seperti seorang dewi... maafkan aku....." Hay Hay merasa tegang bukan main karena nyawanya berada di ujung jari wanita itu, akan tetapi dia pura-pura tidak tahu dan agaknya hal inilah yang menyelamatkannya. Gadis itu melangkah mundur dan mengomel, "Perayu......!"
Hay Hay diam-diam bernapas lega. Baru saja dia lolos dari maut yang amat mengerikan dan kini tahulah dia bahwa dia berhadapan dengan seorang gadis kang-ouw yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, kalau tidak tentu tidak akan mampu mengancam ubun-ubun seperti itu. Dia harus bersikap waspada sekali ini.
"Maafkan aku, Nona. Sesungguhnya bukan maksudku untuk merayu atau kurang ajar terhadapmu. Akan tetapi aku sama sekali tidak pernah mimpi bahwa ruangan dalam kuil ini sudah ada yang menempatinya lebih dulu. Kalau begitu, maafkan, aku akan pihdah saja ke ruangan lain, di belakang atau di depan." Berkata demikian Hay Hay mengambil buntalan pakaian dan bekalnya, lalu menggendongnya.
Sejenak gadis itu memandangnya penuh perhatian, lalu berkata, suaranya ketus.
"Engkau harus meninggalkan kuil ini, tidak boleh tinggal di belakang atau di depan, bahkan di pekarangan pun tidak boleh. Engkau harus pergi meninggalkan tempat ini sampai tidak nampak dari sini, dan jangan mencoba-coba untuk mengganggu aku!"
Aduh galaknya, pikir Hay Hay. Sayang gadis secantik jelita seperti ini memiliki watak yang demikian galak.
"Tapi, Nona. Aku tidak akan mengganggumu, dan kiranya engkau pun hanya orang lewat saja yang kemalaman dan singgah di kuil ini. Kuil tua ini tidak ada yang punya, bukan? Siapa saja boleh beristirahat di sini...."
"Cukup! Tahukah engkau bahwa baru saja nyawamu nyaris melayang? Aku tidak biasa mengampuni orang untuk kedua kalinya. Pergilah dan jangan banyak membantah lagi! Thiat-sim Sian-li bicara hanya satu kali, tidak akan dua kali! Yang kedua kalinya, tanganku yang bicara dan nyawamu melayang! Pergi!"
Hay Hay mengerutkan alisnya. Hatinya merasa kecewa sekali. Gadis ini demikian cantik jelita dan manis, akan tetapi juga demikian galak, ganas dan keras! Ingin dia mencoba kepandaian gadis ini, akan tetapi dia tahu bahwa kalau dia melakukan hal itu, tentu akan menimbulkan kemarahan dan kebencian di hati gadis yang ganas ini. Kalau dia menang, tentu gadis ini akan membencinya, dan kalau sebaliknya dia kalah, besar kemungkinan dia akan mati terbunuh. Dia tidak mau mati, juga tidak ingin dibenci seorang gadis secantik ini, tanpa sebab penting. Hanya memperebutkan tempat di kuil kuno dan kotor ini, tidak cukup berharga untuk dijadikan bahan pertentangan. Dia pun tersenyum dan menjura.
"Baiklah, Nona, aku pergi dan mudah-mudahan Nona akan dapat tidur nyenyak malam ini ditempat yang serem dan banyak setannya ini. Selamat tinggal." Dan dia pun melangkah pergi, diikuti pandang mata gadis itu yang mengerutkan alisnya. Tak sedap rasa hatinya mendengar ucapan Hay Hay itu. Tentu saja ia tidak takut setan, akan tetapi bayangan-bayangan yang menyeramkan dapat saja mengganggu tidurnya malam ini.
"Sialan." gerutunya, "bertemu dengan pemuda berandalan mata keranjang!"
**
Siapakah gadis berjuluk Thiat-sim sian-li (Dewi Berhati Besi) yang galak dan ganas itu? Ia adalah puteri tunggal siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu yang kini menjadi orang hukuman di kuil siauw-lim-si di tepi sungai Cin-sha itu! Namanya adalah Bi Lian, siangkoan Bi Lian. Akan tetapi ia sendiri mengenal dirinya sebagai Cu Bi Lian, puteri Cu Pak Sun petani di dusun tak jauh dari kuil itu. Hal ini disengaja oleh siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu. Mereka menghendaki agar puteri mereka itu, untuk sementara tidak tahu bahwa orang-orang yang dipanggil suhu dan subo sebenarnya adalah ayah dan ibu kandungnya sendiri. Hal ini mereka lakukan untuk menjaga agar keadaan puteri mereka tetap rahasia dan tersembunyi tidak diketahui oleh para hwesio, dan ke dua, agar puterinya itu tidak menjadi prihatin kalau mendengar bahwa ayah ibu kandungnya menjadi orang-orang hukuman di kuil siauw-lim-si. Karena itu, Bi Lian sejak kecil menganggap dirinya puteri keluarga Cu dan ia memakai nama Cu Bi Lian. Seringkali di waktu malam suhu dan subonya datang berkunjung dan sejak kecil ia dilatih dan digembleng oleh mereka.
Akan tetapi pada suatu hari, ketika Bi Lian berusia kurang lebih sepuluh tahun, terjadilah peristiwa yang amat hebat di dusunnya yang kecil itu. Peristiwa yang tak pernah diimpikan oleh para penduduk dusun, malapetaka hebat yang menimpa dusun itu sehingga hampir menghancurkan dan membinasakan semua penduduknya. Memang penduduk dusun itu sedang mengalami nasib sial karena pada suatu malam, muncullah dua orang manusia iblis di dusun itu. Mereka ini bukan lain adalah Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi, dua orang di antara Empat Setan yang terkenal jahat dan kejam, juga memiliki kesaktian luar biasa itu. Dua orang ini memang sudah berjanji akan saling bertemu di Pegunungan Heng-tuan-san, di tepi Sungai Cin-sha dan kebetulan sekali mereka saling bertemu di dusun itu!
Mula-mula, pada sore hari itu, seorang kakek yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa, mukanya brewok, kulitnya hitam, matanya lebar dan sikapnya menakutkan sekali, dengan sikap acuh memasuki dusun. Karena kakek ini merupakan orang asing, dan pakaiannya penuh debu, sepatunya compang-camping, para penduduk mengira bahwa dia seorang dusun yang biasanya bersikap polos dan ramah, mencoba untuk menyapanya. Akan tetapi kakek itu sama sekali tidak menjawab, menengok pun tidak, melainkan berjalan saja dengan kepala tunduk, mulutnya kemak-kemik, berkeliaran di dalam dusun tanpa tujuan. Sedikitpun tak pernah tersenyum, nampak galak dan sepasang mata yang lebar itu mencorong menakutkan. Para penduduk dusun menjadi ketakutan dan menyangka dia seorang yang terlantar dan gila. Mereka tidak tahu bahwa kakek raksasa yang mereka sangka gila ini adalah seorang manusia iblis yang amat lihai dan berjuluk Tung-hek-kwi, seorang di antara Empat Setan yang membuat semua tokoh kang-ouw gemetar kalau melihatnya!
Akhirnya kakek itu duduk di tepi jalan, di bawah sebatang pohon besar. Agaknya bukan para penduduk dusun itu saja yang menaruh curiga kepada kakek ini, juga dua ekor anjing dusun itu datang menyerbu, menggonggong dan menyalak di sekeliling kakek itu, nampak marah akan tetapi juga takut-takut. Beberapa orang penduduk hanya menonton saja dari jauh, tidak mencoba untuk memanggil anjing-anjing itu karena mereka hendak melihat apa yang akan dilakukan kakek raksasa yang mereka sangka gila itu.
Mula-mula Tung-hek-kwi yang merasa terganggu oleh sikap dua ekor anjing itu, hanya mendengus untuk mengusir mereka. Akan tetapi, ketika melihat bahwa seekor di antara anjing-anjing itu berbulu hitam mulus dan gemuk sekali, matanya terbelalak dan tiba-tiba saja kedua tangannya bergerak dan tahu-tahu, dua ekor anjing itu telah ditangkap pada lehernya! Dua ekor anjing itu menguik-nguik dan Tung-hek-kwi membanting anjing belang yang ditangkap dengan tangan kirinya.
"Ngekkk....!" Pecah kepala anjing itu dan tak mampu bergerak lagi. Kemudian, anjing hitam gemuk yang masih dicengkeram tangan kanannya dengan jari-jari panjang besar dan masih menguik-nguik dan meronta-ronta ketakutan itu, dipegang dengan kedua tangannya dan sekali dia menggerakkan tangan itu menarik, terdengar suara robek dan pekik maut anjing itu yang tubuhnya telah terobek menjadi dua potong! Darah muncrat dan kakek itu seperti orang kehausan, menjilat dan mencucup darah anjing hitam itu yang masih bercucuran! Semua orang yang menonton dari kejauhan, terbelalak penuh kengerian dan anak-anak sudah berlari-larian menyembunyikan diri dengan muka pucat.
"Wah, kau lahap dan rakus, Tung-hek-kwi!" Tiba-tiba saja muncul seorang kakek gendut yang bukan lain adalah Pak-kwi-ong. Dia menghampiri rekannya yang masih menikmati darah anjing hitam itu. "Uwahhh....! Anjing hitam! Hebat, obat kuat, jangan habiskan, aku pun perlu darahnya!"
"Huh, siapa yang rakus?" bentak Tung-hek-kwi dan dia pun melemparkan potongan di tangan kanannya kepada Pak-kwi-ong yang menerimanya dan terus menjilat dan menghisap darah anjing itu pula. Mengerikan melihat dua orang kakek tua renta ini duduk di bawah pohon, menjilati darah anjing hitam, kemudian mereka mulai mengganyang daging anjing dengan menggerogotinya begitu saja!
"Ha-ha-ha, engkau memang sahabat baik, Setan Hitam. Menyambut aku dengan suguhan yang segar dan menyehatkan!" kata Pak-kwi-ong sambil tertawa-tawa, sedangkan Tung-hek-kwi tetap makan tanpa senyum, hanya matanya yang lebar itu jelalatan ke sana-sini.
Pada waktu itu, berita tentang peristiwa yang mengerikan itu telah tersiar luas dan para penghuni dusun yang tidak berapa banyak jumlahnya, hanya sekitar lima puluh keluarga itu, bersama kepala dusunnya, telah berkumpul dan nonton dari jarak jauh. Hanya laki-laki dewasa saja yang berani nonton. Anak-anak dan para wanita tidak ada yang berani keluar!
Biarpun mereka berjumlah banyak dan mereka marah melihat betapa dua orang kakek itu membunuh dua ekor anjing dan kini minum darah anjing dan makan dagingnya mentah-mentah, Kepala Dusun dan anak buahnya tidak berani turun tangan. Mereka melihat sendiri betapa dengan sekali bergerak saja, kakek tinggi besar itu telah membunuh dua ekor anjing, bahkan merobek tubuh anjing gemuk itu dengan kedua tangan seolah-olah hal itu merupakan pekerjaan yang amat ringan. Ini sudah membuktikan bahwa kakek tinggi besar itu kuat sekali dan mereka merasa jerih.
"Bagaimana hasilnya, Pak-kwi-ong?" akhirnya Tung-hek-kwi bertanya.
"Engkau dulu bagaimana?" Pak-kwi-ong berbalik bertanya.
"Anak itu ikut dengan See-thian Lama Ke Himalaya, dan agaknya memang tidak akan diserahkan kepada Dalai Lama. Jelas bukan Sin-tong." jawab Tung-hek-kwi singkat mengenai tugasnya menyelidik anak yang disangka Sin-tong dan dirampas oleh See-thian Lama dan Ciu-sian Sin-kai dari tangan mereka itu. "Dan bagaimana dengan engkau?"
"Aku sudah bertemu dengan keluarga Pek. Mereka berterus terang bahwa anak mereka memang diculik oleh Lam-hai Siang-mo yang meninggalkan bayi mati sebagai penggantinya. Jadi anak itu memang anak keluarga Pek." jawab Pak-kwi-ong.
"Hemm, anak keluarga Pek akan tetapi bukan Sin-tong..." kata Tung-hek-kwi.
"Berita tentang Sin-tong itu yang bohong, atau memang kita telah dipermainkan orang." kata Pak-kwi-ong. Tiba-tiba dia bangkit, juga Tung-hek-kwi bangkit, dan potongan anjing itu masih digerogoti. Ternyata pendengaran mereka tajam bukan main walaupun usia mereka sudah mendekati delapan puluh tahun. Kiranya mereka bangkit karena mendengar suara kaki orang dan kini, di dalam keremangan senja, muncullah sedikitnya dua puluh orang yang rata-rata kelihatan gagah perkasa, semua memegang senjata, dipimpin oleh dua pasang suami isteri yang bukan lain adalah Lam-hai Siang-mo yang terdiri dari Siangkoan Leng dan Ma Kim Li, dan suami isteri Guha Iblis Pantai S'elatan, yaitu Kwee Siong dan Tong Ci Ki. Seperti yang sudah kita ketahui, dua pasang suami isteri yang namanya amat terkenal di dalam dunia sesat ini pernah saling bermusuhan untuk memperebutkan Hay Hay, akan tetapi mereka terpaksa melarikan diri ketika muncul dua orang dari Empat Setan dan dua orang lagi dari Delapan Dewa. Mereka membagi tugas, yang dua orang melapor ke Tibet, kepada para pendeta Lama bahwa Sin-tong telah dirampas oleh empat orang tokoh besar itu sehingga akibatnya, para pendeta Lama mencoba untuk merampas Hay Hay dari tangan See-thian Lama. Yang dua orang lagi melapor kepada keluarga Pek yang agaknya menerima berita itu dengan dingin saja, bahkan keluarga itu mengatakan bahwa Sin-tong, keturunan mereka, telah tewas beberapa tahun yang lalu, dibunuh orang jahat!
Betapapun juga, dua pasang suami isteri ini masih merasa penasaran dan terutama sekali merasa sakit hati terhadap Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi, dua orang datuk sesat yang mereka anggap telah menggagalkan rencana mereka untuk menguasai anak yang mereka yakin adalah Sin-tong itu. Dan mereka juga tidak tahu bahwa anak itu telah dibawa pergi oleh See-thia:n Lama, mengira bahwa dua orang kakek iblis dari Empat Setan itulah yang menguasai Sin-tong. Maka, ketika mereka melihat Pak-kwi-ong, mereka berempat cepat mengumpulkan teman-teman dari dunia hitam untuk membayangi kakek gendut itu yang ternyata mengadakan pertemuan dengan Tung-hek-kwi di dusun itu.
Melihat betapa dua orang itu makan daging anjing mentah, dua pasang suami isteri segera mengepung bersama teman-teman mereka. Jumlah mereka tidak kurang dari dua puluh empat orang, terdiri dari jagoan-jagoan kalangan hitam yang menjadi teman-teman akrab dua pasang suami isteri itu. Dapat dibayangkan betapa kuat kedudukan mereka. Dua pasang suami isteri itu saja sudah merupakan datuk-datuk sesat yang amat lihai, apalagi ditambah dua puluh orang teman yang rata-rata memiliki ilmu silat yang tinggi dan berwatak garang dan kejam.
Akan tetapi, dua pasang suami isteri itu sudah mengenal kesaktian Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi, maka mereka pun tidak mau bertindak secara sembrono dan setelah mereka semua mengepung dua orang kakek itu, Siangkoan Leng berseru dengan suara lantang.
"Ji-wi Locianpwe telah terkepung dan lihat, kedudukan kami kuat sekali. Akan tetapi, kami tidak akan mengeroyok Ji-wi kalau Sin-tong dikembalikan kepada kami!"
Tentu saja kedua orang kakek itu mendongkol bukan main mendengar tuntutan ini. Mereka berdua dikalahkan oleh See-thian Lama dan Ciu-sian Sin-kai, dua orang di antara Delapan Dewa dan kini tikus-tikus itu datang untuk merampas Sin-tong dari tangan mereka. Akan tetapi, mereka berdua adalah raja-raja datuk sesat, tentu saja merasa malu untuk mengakui kekalahan mereka terhadap dua orang dari Delapan Dewa. Mereka bahkan duduk lagi dan melanjutkan makan daging anjing mentah seolah-olah tidak memandang mata kepada dua puluh empat orang yang mengepung mereka dengan senjata-senjata di tangan.
"Wah, Tung-hek-kwi! Engkau Setan Hitam membikin gara-gara. Engkau membunuh dua ekor anjing dan lihat akibatnya! Dua puluh empat ekor anjing yang lain datang menggonggong dan hendak menggigit kita, ha-ha-ha!" Pak-kwi-ong berkata sambil tertawa bergelak, lalu menggerogoti sedikit daging yang masih menempel di tulang paha anjing itu.
"Apa kau masih haus? Kita minum darah anjing-anjing ini!" teriak Tung-hek-kwi.
"Ha-ha, engkau benar. Dua ekor anjing betina itu biarpun sudah agak tua tentu lebih lunak dagingnya dan lebih hangat darahnya!" kata Pak-kwi-ong dan tiba-tiba saja, kedua tangannya mematahkan tulang kaki anjing dan melemparkan dua potongan tulang itu ke arah Ma Kim Li dan Tong Ci Ki, isteri-isteri dua orang pemimpin gerombolan itu.
Bukan main kuatnya lemparan ini dan dua batang tulang itu dengan kecepatan kilat menyambar ke arah dua orang wanita, tepat mengarah muka mereka. Kalau mengenai sasaran, biarpun dua orang wanita itu memiliki kekebalan, tentu akan menderita cidera. Akan tetapi, dua orang wanita yang diserang itu bukan wanita-wanita lemah. Melihat sinar menyambar, mereka cepat mengelak dan dua batang tulang itu pun lewat dan tentu akan mengenai orang-orang di belakang mereka kalau saja anak buah mereka yang juga rata-rata lihai itu tidak cepat mengelak pula. Sebagai dua orang wanita iblis yang mahir mempergunakan jarum-jarum beracun, terutama sekali Tong Ci Ki yang berjuluk Si Jarum sakti, kedua orang itu lalu melemparkan jarum-jarum beracun mereka ke arah Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi.
"Sing-sing-singgg......!"
Dan sinar yang kecil menyambar ke arah dua orang kakek itu, mengeluarkan suara berdesing nyaring, terutama sekali jarum-jarum yang dilepas oleh Tong Ci Ki ke arah Tung-hek-kwi, yang lebih kuat daripada jarum-jarum Ma Kim Li yang menyambar ke arah Pak-kwi-ong.
Akan tetapi, dua orang kakek itu sama sekali tidak mengelak atau menangkis. Jarum-jarum yang mengenai kulit tubuh mereka rontok semua, dan sambil tersenyum mengejek mereka menyapu rontok jarum-jarum yang menancap di pakaian mereka. Tentu saja dua orang wanita itu terkejut bukan main. Melihat ini, Siangkoan Leng dan Kwee Siong sudah memberi aba-aba dan dua puluh orang pembantu mereka itu sudah menerjang maju, menggerakkan senjata mereka mengeroyok dua orang kakek tua renta itu.
Terdengar Pak-kwi-ong tertawa-tawa dan dua orang kakek itu pun bangkit berdiri dan menyambut pengeroyokan itu. Hebat bukan main sepak terjang dua orang kakek itu. Mereka tidak memegang senjata, hanya mempergunakan kedua lengan mereka dan kedua kaki mereka, menghadapi keroyokan orang-orang yang bersenjata tajam. Namun, karena kedua lengan dan kaki mereka itu kebal dan dapat menangkis senjata-senjata lawan, bahkan kalau tubuh mereka terkena tusukan senjata tajam yang datang bagaikan hujan senjata itu mental, bahkan ada yang patah, maka terjadilah kepanikan di antara para pengeroyok. Dua orang kakek itu hanya mengelak kalau dua pasang suami isteri itu yang menyerang, baik dengan senjata maupun dengan tangan mereka karena dua pasang suami isteri ini merupakan orang-orang yang berbahaya serangannya.
Para penduduk dusun yang tidak tahu apa-apa, kini ada pula yang ikut mengeroyok. Mereka tidak mengenal mereka yang berkelahi, akan tetapi melihat betapa dua orang kakek tua itu tadi selain membunuh dua ekor anjing mereka, juga minum darah anjing dan makan dagingnya dengan mentah-mentah, tentu saja mereka condong untuk berpihak kepada dua puluh empat orang yang mengeroyok dua orang kakek itu. Mereka menganggap bahwa tentu dua orang kakek itu merupakan iblis-iblis jahat, dan dua puluh empat orang itu adalah orang-orang gagah yang menentang kejahatan. Maka, tanpa diminta, ada beberapa orang penduduk yang merasa kuat, mengambil senjata dan ikut pula mengeroyok!
Melihat betapa para pengeroyoknya berkelahi dengan mati-matian, mengeroyok mereka seperti segerombolan anjing-anjing serigala kelaparan, dua orang datuk kaum sesat itu menjadi marah sekali.
Pak-kwi-ong mengeluarkan suara tertawa bergelak dan tahu-tahu dia telah menangkap dua orang pengeroyok dan membanting mereka. Terdengar bunyi keras dan kepala dua orang itu pecah berantakan, darah berhamburan bersama otak mereka. Juga Tung-hek-kwi mengeluarkan suara menggereng seperti seekor binatang buas dan seperti yang dilakukan Pak-kwi-ong, dia berhasil menangkap dua orang pengeroyok dan membanting mereka sehingga tubuh mereka remuk!
Melihat ini, dua pasang suami isteri itu menjadi marah sekali. Dengan aba-aba mereka memberi semangat, bahkan mereka mempergunakan pedang untuk melakukan serangan dengan gencar, dibantu oleh para teman mereka. Namun, dua orang kakek itu memang memiliki kesaktian yang jauh melampaui kepandaian mereka. Mereka berdua mengamuk dan dalam waktu singkat saja, masing-masing telah menewaskan dua orang anak buah gerombolan dan dua orang penduduk yang ikut-ikut mengeroyok. Melihat ini, kembali dua pasang suami isteri itu mengeluarkan aba-aba dan memberi semangat. Namun, sia-sia, kini teman-teman mereka sudah menjadi gentar menghadapi dua orang kakek sakti itu. Apalagi ketika Siangkoan Leng terhuyung oleh tendangan Pak-kwi-ong, sedangkan tulang lengan kiri Tong Ci Ki patah ketika ditangkis oleh Tung-hek-kwi, mereka semua menjadi semakin panik dan akhirnya, sisa para pengeroyok itu melarikan diri tanpa dapat dicegah lagi! Mereka meninggalkan sedikitnya mayat enam orang kawan mereka. Yang terluka ikut pula melarikan diri. Terpaksa dua pasang suami isteri itu pun harus melarikan diri kalau mereka tidak ingin tewas di tangan dua orang raja datuk sesat itu!
Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi mengamuk terus. Karena dua pasang suami isteri dan teman-teman mereka telah melarikan diri ke malam gelap, dua orang kakek itu mengamuk kepada orang-orang dusun yang mereka anggap telah membantu musuh-musuh mereka! Celakalah para penghuni dusun yang tidak sempat melarikan diri. Mereka diseret keluar dan dibanting remuk, tidak peduli laki-laki perempuan atau kanak-kanak.
Dua orang kakek itu tidak melewatkan rumah keluarga Cu Pak Sun. Mereka menjebol daun pintu dan sambil tertawa-tawa, Pak-kwi-ong memasuki rumah itu, diikuti oleh Tung-hek-kwi. Kedua lengan tangan mereka sudah berlepotan darah!
Pada waktu itu, Cu Pak Sun dan isterinya memeluk Bi Lian yang baru berusia kurang lebih sembilan tahun. Suami isteri ini menggigil ketakutan mendengar suara perkelahian di luar itu, mendengar jeritan-jeritan kematian mereka yang menjadi korban. Akan tetapi Bi Lian tidak kelihatan takut, bahkan merasa penasaran. Tadi ia hendak menonton keluar, akan tetapi dipeluk ayah dan ibunya dengan erat yang tidak memperkenankan ia keluar. Kini mereka malah bersembunyi di dalam kamar dan ia dipeluk dua orang, dipegangi agar jangan keluar.
"Aku harus melihat keluar.....!" kata Bi Lian berkali-kali.
"Jangan... jangan... ada orang-orang jahat seperti iblis mengamuk di luar, membunuhi orang-orang!" kata Cu Pak Sun dengan suara gemetar dan isterinya menangis dengan menahan suara tangisnya.
"Kalau begitu lebih baik aku harus keluar, membantu orang-orang untuk melawan penjahat-penjahat itu!" Bi Lian memang memiliki watak yang keras dan berani, tabah karena gemblengan suhu dan subonya. Malam itu kebetulan suhu dan subonya tidak datang karena baru kemarin malam mereka datang dan melatihnya ilmu silat sampai hampir pagi.
"Jangan, engkau akan celaka.....!" kata Cu Pak Sun.
"Jangan, Bi Lian, aku takut... engkau jangan keluar, di sini saja menemaniku..." Nyonya Cun mengganduli dan merangkul Bi Lian sambil menangis.
Ketika dua orang kakek iblis itu menjebol pintu, tentu saja Cu Pak sun dan isterinya yang bersembunyi di dalam kamar menjadi semakin ketakutan. Apalagi ketika dua orang kakek itu muncul seperti iblis sendiri di ambang pintu kamar, seketika isteri Cu Pak Sun jatuh pingsan. Cu Pak Sun sendiri segera berlutut di atas lantai dengan suara gemetar minta-minta ampun.
Melihat ini, Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi tertawa. Akan tetapi tiba-tiba Bi Lian meloncat berdiri, menghadapi dua orang kakek itu dengan sinar mata tajam seperti sepasang mata seekor anak harimau.
"Kalian sungguh kakek-kakek jahat sekali! Jangan ganggu ayah ibuku dan keluarlah kalian dari sini!" Bi Lian membentak, seperti mengusir dua ekor anjing saja, sedikit pun tidak merasa takut dan sepasang matanya yang tajam itu terbelalak penuh kemarahan.
Dua orang datuk sesat itu terkejut dan terheran, sampai bengong sejenak, kemudian saling pandang dan Pak-kwi-ong tertawa bergelak. Tentu saja mereka terkejut dan heran melihat ada seorang anak perempuan berusia paling banyak sepuluh tahun berani menghardik mereka, padahal banyak laki-laki dewasa lari ketakutan melihat mereka!
"Ha-ha-ha-ha, Setan Hitam, aku mendadak merasa seperti menjadi seekor anjing kecil yang ketakutan, ha-ha!"
"Huh, anak setan!" Tung-hek-kwi menggereng dan lengan tangannya yang panjang itu meluncur ke depan, ke arah Bi Lian dengan jari-jari tangan terbuka seperti cakar harimau hendak mencengkeram seekor kelenci kecil. "Dagingnya tentu lunak!"
"Wuuuttt... ehhhh......?" Tung-hek-kwi berseru kaget karena terkaman tangannya tadi luput! Dengan gerakan lincah dan langkah kaki yang aneh, Bi Lian mampu menghindarkan diri dari cengkeraman itu, menyelinap, bahkan mendekati Tung-hek-kwi yang menyerangnya dan dengan cepat sekali tangannya bergerak menghantam ke arah perut Si Iblis Hitam dari Timur itu!
"Bukk!" Perut Tung-hek-kwi terpukul dan akibatnya tubuh Bi Lian terlempar ke belakang. Akan tetapi, anak ini berjungkir balik dan membuat poksai (salto) yang indah sekali!
"Ha-ha-ha, yang kaukira kelenci berdaging lunak ternyata anak naga!" Pak-kwi-ong berseru kagum dan dia pun sudah mengulur tangan menerkam. Kembali Bi Lian memperlihatkan keringanan tubuhnya dan langkahnya yang ajaib, karena seperti juga terkaman Tung-hek-kwi, kini cengkeraman tangan Pak-kwi-ong juga luput!
"Ehhh...!!" Pak-kwi-ong lupa tertawa saking kaget dan herannya. Dia mengerahkan tenaga sinkangnya mendorong dan tubuh Bi Lian tentu saja tidak kuat bertahan dan anak itu pun roboh terguling, disambut tangan Pak-kwi-ong yang menangkap kedua kakinya dan mengangkat tubuh itu ke atas!
Dengan kedua kaki tergantung, kepala di bawah, Bi Lian tidak menjerit ketakutan, bahkan ia mengamuk dan berusaha untuk memukul dengan kedua tangannya, terus menggeliat-geliat berusaha membebaskan diri sambil memaki-maki. "Kakek setan! Kakek iblis! Lepaskan aku dan mari kita berkelahi sampai seribu jurus kalau kau memang gagah!" Melihat sikap anak itu, dan mendengar tantangannya, kembali Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi melongo.
"Ha-ha-ha-ha! Setan Hitam, apa yang kita temukan di sini? Ia memiliki bakat yang lebih baik daripada Sin-tong agaknya!"
"Serahkan padaku, Pak-kwi-ong! Aku ingin mendidiknya!" kata Tung-hek-kwi yang tiba-tiba merasa suka pula kepada anak itu karena dia dapat melihat sendiri betapa anak itu memiliki keberanian luar biasa, juga memiliki gerakan cepat dan aneh, sepasang mata tajam mencorong dan seluruh keadaannya menunjukkan bakat yang luar biasa.
"Ha-ha-ha, enak saja! Aku yang menangkapnya lebih dulu!" berkata Pak-kwi-ong dan kakinya menendang ke depan ketika Cu Pak Sun merangkak hendak menolong anaknya yang digantung dengan kepala di bawah itu.
"Desss.......!" Tubuh Cu Pak Sun terlempar dan dia tewas seketika oleh tendangan itu.
"Ouhhh......!" Nyonya Cu Pak Sun yang kebetulan siuman, melihat suaminya ditendang, bangkit dan hendak menubruk. Di saat itu, Tung-hek-kwi yang merasa marah kepada Pak-kwi-ong yang dianggap merebut anak itu darinya, menggerakkan kakinya pula ke arah wanita itu.
"Desss.....!" Kini giliran wanita itu yang tewas seketika dan tubuhnya terlempar dan terbanting menindih mayat suaminya.
"Kalian pembunuh-pembunuh jahat!" Berkali-kali Bi Lian berteriak dan meronta-ronta, akan tetapi, Pak-kwi-ong hanya tertawa dan tiba-tiba kakek ini meloncat keluar dari rumah itu sambil membawa tubuh Bi Lian dengan cara seperti tadi yaitu memegangi kedua kaki anak itu dengan tangan kiri seperti orang membawa seekor ayam saja. Pak-kwi-ong bukan sembarangan meloncat, melainkan mengelak karena pada saat itu Tung-hek-kwi sudah menubruk untuk merampas tubuh Bi Lian dari tangannya. Begitu tiba di luar dusun, Pak-kwi-ong terus melarikan diri dengan cepat, dikejar oleh Tung-hek-kwi!
Kejar-kejaran itu berlangsung sampai semalam suntuk dan sampai keesokan harinya pagi-pagi sekali Pak-kwi-ong masih dikejar-kejar oleh Tung-hek-kwi. Mereka telah tiba di daerah pegunungan yang jauh sekali dari dusun di mana mereka menyebar maut semalam itu. Dan Bi Lian masih dibawa oleh Pak-kwi-ong dalam keadaan tergantung! Dapat dibayangkan penderitaan anak ini, akan tetapi, bukan main rasa kagum di hati Pak-kwi-ong karena anak itu satu kalipun tidak pernah terdengar berteriak ketakutan ataupun menangis! Benar-benar seorang anak perempuan dengan hati keras melebihi besi!
Pak-kwi-ong terpaksa melarikan diri karena dia maklum bahwa tingkat kepandaiannya berimbang dengan Tung-hek-kwi. Kalau dia harus melawan rekannya itu sambil melindungi anak perempuan itu, tentu dia akan kalah. Akan tetapi untuk menyerahkannya, dia pun tidak rela. Akhirnya dia memperoleh akal dan dia pun berhenti. Peluh sudah membasahi seluruh tubuhnya dan napasnya agak terengah-engah. Biarpun dia seorang sakti, dia harus mengaku kalah oleh usianya. Usia tua membuat kekuatannya tidak sehebat dulu lagi. Ketika Tung-hek-kwi berhenti di depannya, keadaan kakek raksasa ini sama saja, mandi peluh dan napasnya memburu.
"Setan Hitam, engkau nekat mengejarku?" tegur Pak-kwi-ong, kini membalikkan tubuh Bi Lian dan mengempit di bawah lengannya, membuat Bi Lian tidak mampu berkutik, namun kini anak itu tidak begitu tersiksa seperti ketika dijungkir balikkan tadi. Hanya bau ketiak penuh keringat yang dekat hidungnya itu saja membuat ia ingin muntah. Akan tetapi untuk muntah pun ia sudah kehilangan kekuatan. Tubuhnya lemas dan setengah pingsan oleh penderitaannya semalam, dilarikan dalam keadaan tergantung jungkir balik.
"Lari ke neraka pun akan kukejar. Anak itu harus menjadi muridku." Jawab Tung-hek-kwi, semakin kagum kepada Bi Lian karena anak itu sama sekali tidak menangis, kelihatan ketakutan atau berduka. Selama hidupnya belum pernah dia melihat anak seperti ini, apalagi anak perempuan.
"Aku pun ingin menjadi gurunya." kata Pak-kwi-ong.
"Aku akan merampasnya dari tanganmu." Tung-hek-kwi menjawab kukuh.
"Kalau aku melawan sambil membawa anak ini tentu aku kalah, akan tetapi, kalau anak ini berhasil kaurampas dan aku menyerangmu, tentu engkau pun akan kalah. Perkelahian antara kita memperebutkan anak ini hanya akan berakhir dengan tewasnya anak ini terkena pukulan kita, Setan Hitam!"
"Tidak peduli, ia harus menjadi muridku atau mati!" kata Tung-hek-kwi.
"Aih, kita berebutan seperti anak kecil. Anak ini luar biasa, sebaiknya kita tanyakan ia, siapa di antara kita yang ia pilih sebagai guru!" kata Pak-kwi-ong dan dia melepaskan Bi Lian dari kempitannya. Anak itu berdiri agak terhuyung karena lemas dan pusing, akan tetapi dengan angkuh ia mengangkat kepalanya dan berusaha untuk berdiri tegak dan tidak memperlihatkan kelemahannya. Sepasang matanya masih berkilat menyambar kepada dua orang kakek itu penuh kemarahan.
"Anak baik, kami berdua ingin sekali mengambil engkau sebagai murid. Coba kaupilih, siapa di antara kami yang kau pilih untuk menjadi gurumu?" kata Pak-kwi-ong dengan suara ramah dan muka penuh senyum.
Akan tetapi dengan alis berkerut Bi Lian memandang kedua orang kakek itu, penuh kebencian dan ia pun menjawab dengan suara ketus. "Memilih kalian untuk menjadi guru? Hemmm, aku memilih kalian berdua untuk menjadi musuh besarku yang kelak harus kubunuh untuk membalas dendam atas kematian Ayah dan Ibuku dan orang-orang dusun kami!" Jawaban itu berapi-api, penuh perasaan dan bersungguh-sungguh.
"Wah, anak ini berbahaya, sebaiknya dibunuh saja!" Tung-hek-kwi berseru sambil mengangkat tangan. Akan tetapi Pak-kwi-ong mencegahnya dan dia pun mengedipkan mata kepadanya.
"Bunuhlah! Aku tidak takut mati! Kelak kalian akan kubunuh!" Anak itu tetap membentak dan matanya mencorong menatap wajah Tung-hek-kwi yang menyeramkan itu, sedikit pun tidak mengenal takut. Sikapnya ini tidak memarahkan hati Tung-hek-kwi, sebaliknya malah membuat dia kagum dan merasa semakin suka.
"Anak baik, engkau salah paham. Kami bukan pembunuh Ayah Ibumu. Bukan kami yang membunuh mereka......."
"Bohong! Aku melihat dengan mataku sendiri betapa engkau membunuh Ayahku, kakek gendut dan engkau yang membunuh ibu, kakek hitam!" Bi Lian menudingkan telunjuknya bergantian kepada mereka. "Kelak aku akan menuntut balas!"
"Ah-ah, engkau tidak mengerti. Memang tangan kami..... "
Kaki kalian yang membunuh!!" teriak Bi Lian, teringat betapa dua orang kakek itu menendang mati ayah dan ibunya.
"Benar, memang kaki kami yang melakukan pembunuhan, akan tetapi itu hanya akibatnya saja. Kami sama sekali tidak bermusuhan dengan Ayah ibumu, mengenal mereka pun tidak! Mereka tewas sebagai akibat perkelahian dan yang menjadi biang keladi adalah dua pasang suami isteri. Merekalah yang sesungguhnya membunuh orang tuamu, menjadi sebab kematian Ayah Ibumu!"
"Benar, Pak-kwi-ong berkata benar dan dia bukan pembohong!" kata pula Tung-hek-kwi, mengangguk-angguk. Bi Lian menjadi bingung dan mengerutkan alisnya. "Apa maksudmu? Jangan memutar-balik, kalian menendang mati Ayah Ibuku, bagaimana menyalahkan orang lain?"
"Tahu akibat harus tahu sebabnya!" kata pula Pak-kwi-ong. "Aku dan Tung-hek-kwi sedang berada di dusun itu, lalu datanglah dua pasang suami isteri Lam-hai Siang-mo (Sepasang Iblis Laut Selatan) dan suami isteri Guha Iblis Pantai Selatan. Mereka membawa dua puluh orang bahkan mengerahkan penduduk dusun itu untuk mengeroyok kami berdua. Terjadilah perkelahian sehingga banyak yang jatuh dan tewas, di antaranya Ayah dan Ibumu yang menjadi korban karena dihasut dan dipaksa oleh dua pasang suami isteri itu untuk memusuhi kami. Kami tidak mengenal Ayah Ibumu. Nah, kalau begitu bukankah yang bersalah itu dua pasang suami isteri tadi? Andaikata mereka tidak mengajak orang-orang dusun mengeroyok kami, perlu apa kami membunuh orang-orang dusun termasuk Ayah dan Ibumu?"
Bi Lian adalah seorang gadis cilik yang amat cerdik. Sejak tadi ia sudah maklum bahwa dua orang kakek ini memiliki kesaktian yang hebat sekali mungkin tidak kalah oleh suhu dan subonya. Dan mendengar keterangan dari Pak-kwi-ong itu, ia pun dapat melihat kebenarannya. Jelas, yang menyebabkan kematian ayah ibunya adalah dua pasang suami isteri itu!
"Jadi, kalau engkau hendak membalas dendam, balaslah kepada dua pasang suami isteri itu, dan hal itu pasti akan terlaksana kalau engkau menjadi murid seorang di antara kami." kata pula Tung-hek-kwi yang biasanya tidak banyak cakap.
Hati Bi Lian menjadi bimbang. Ia tidak tahu siapa di antara dua orang kakek ini yang lebih lihai dan tiba-tiba ia mempunyai akal yang amat baik. "Aku hanya mau menjadi murid kalian berdua, bukan seorang di antara kalian. Kalau kalian berdua mau mengajarku sehingga kelak aku dapat membalas dendam kepada dua pasang suami isteri itu, biarlah aku suka menjadi murid kalian." katanya.
Dua orang kakek itu saling pandang. Anak ini benar-benar mengagumkan hati mereka dan syarat itupun dapat mereka terima.
"Kita kerja sama... ? Ha-ha-ha!" Pak-kwi-ong tertawa dan Tung-hek-kwi mengangguk.
"Kita sudah tua, usia kita takkan lama lagi. Apa salahnya kita bekerja sama membentuk anak ini agar kelak dapat mengangkat nama kita?" kata Tung-hek-kwi.
Demikianlah, mulai saat itu, Cu Bi Lian menjadi murid Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi. Dua orang dari Empat Setan ini amat sayang kepada Bi Lian karena anak itu memperlihatkan watak yang cocok dengan mereka. Keras, ganas dan berani, juga cerdik bukan main. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa murid mereka itu adalah keturunan dari datuk-datuk sesat yang tidak kalah besar namanya dari mereka sendiri, yaitu cucu dari mendiang Siangkoan Lojin Si Iblis Buta, dan cucu luar dari Raja dan Ratu Iblis yang pernah mengguncangkan seluruh dunia- kang-ouw! Dan agaknya Bi Lian menuruni watak para kakek dan nenek moyangnya sehingga ia menjadi seorang gadis yang cantik jelita dan manis namun ganas keras dan penuh keberanian. Dan karena dua orang kakek datuk sesat itu amat sayang kepadanya, mereka pun tanpa ragu-ragu dan sama sekali tidak pelit untuk menurunkan seluruh kepandaian yang mereka miliki kepada murid tunggal mereka. Mereka mengharapkan agar murid mereka itu, biarpun seorang wanita, kelak akan menjadi jagoan nomor satu atau setidaknya akan mengangkat nama besar mereka yang menjadi gurunya.
Demikianlah riwayat Cu Bi Lian atau yang sesungguhnya she Siangkoan itu karena ia di luar tahunya adalah anak kandung suhu dan subonya yang pertama, yaitu Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu. Selama kurang lebih sepuluh tahun ia digembleng oleh kedua orang gurunya sehingga Bi Lian menjadi seorang gadis yang memiliki ilmu kepandaian luar biasa. Tentu saja watak yang seperti iblis dari dua orang gurunya itu, sedikit banyak berpengaruh dalam membentuk watak Bi Lian sehingga ketika ia meninggalkan dua orang gurunya yang kini sudah amat tua itu, ia telah menjadi seorang gadis yang selain amat tinggi ilmu silatnya, juga memiliki watak yang aneh dan kadang-kadang ganas sekali.
Pertemuannya tanpa disengaja dengan Hay Hay membuat hatinya terganggu. Mula-mula ia merasa muak dan membenci pemuda itu yang dianggapnya mata keranjang, akan tetapi ketika mendapat kenyataan bahwa pemuda itu tidak melakukan hal-hal yang melanggar kesusilaan dan tidak mengganggu gadis-gadis itu, ia pun tidak peduli. Juga, karena pemuda itu tidak melawannya ketika ia usir dari dalam ruangan kuil tua, ia pun lalu mencoba untuk melupakan pemuda yang tampan dan suka bergurau dan pandai merayu itu. Peduli setan, pikirnya dan Bi Lian tidak peduli lagi di mana pemuda itu akan melewatkan malam, asal tidak di dalam kuil tua. Malam ini ia harus beristirahat yang enak dan tidak terganggu agar besok tenaganya pulih kembali karena ia akan melanjutkan perjalanannya yang sukar, yaitu mencari musuh-musuh besarnya. Mereka adalah dua pasang suami isteri yang namanya terkenal di dunia kang-ouw, yaitu Lam-hai Siang-mo dan suami isteri dari Guha Iblis Pantai Selatan.
Sementara itu, Hay Hay sendiri juga merasa penasaran bertemu dengan seorang gadis yang cantik jelita dan agaknya memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, akan tetapi wataknya demikian galak dan ganas. Terpaksa dia menjauhi kuil tua itu dan akhirnya dia pun memilih tempat dekat sungai kecil airnya jernih yang mengalir di luar dusun. Dia kembali ke tempat itu dan duduk di atas batu besar di mana dia bertemu dengan para gadis dusun pagi tadi.
Selagi ia mengumpulkan kayu bakar untuk membuat api unggun sebentar malam, tiba-tiba. dia mendengar suara ketawa tertahan. Cepat dia menoleh dan ternyata yang datang adalah gadis bertahi lalat di dagunya dan gadis hitam manis yang matanya indah.
"Aih, kalian lagi gadis-gadis manis. Hendak ke manakah sore-sore begini, Nona-nona manis?" tegur Hay Hay dan dua orang gadis itu tersenyum gembira, akan tetapi mereka menoleh ke kanan kiri seperti orang merasa ketakutan kalau-kalau ada orang lain melihat pertemuan mereka dengan pemuda itu.
"Sstttt....!" kata gadis bertahi lalat yang menaruh telunjuk di depan mulut, lalu bersama temannya ia menghampiri Hay Hay. "Hay-ko (Kakak Hay), jangan keras-keras, takut ada yang mendengar. Engkau... tadi tidak apa-apakah?"
Hay Hay tersenyum dan menggeleng kepala.
"Kami khawatir sekali, Hay-ko." Kata gadis manis bermata indah. "Kemudian kami mendengar bahwa engkau sore ini kembali lagi ke sini, agaknya hendak bermalam di tempat terbuka ini."
Hay Hay menggerakkan pundaknya. "Yah, begitulah. Habis bagaimana lagi kalau semua penduduk dusun tidak ada yang sudi menerima diriku untuk bermalam?"
"Kami mendengar dan merasa kasihan, Hay-ko. Nih, aku membawa selimut untukmu. Kaupakailah agar malam ini engkau tidak kedinginan dan tidak diganggu nyamuk." kata gadis bertahi lalat, mengeluarkan sehelai selimut tebal yang dilipat rapi dan tadi disembunyikan di dalam keranjang sayurnya.
"Dan ini aku membawa daging panggang untukmu, Hay-ko. Hanya ini untuk sekedar penambah makan malammu, Hay-ko." kata gadis hitam manis.
Hay Hay yang tadinya tersenyum gembira itu, kini memandang dengan mata mengandung keharuan. Ingin dia merangkul dan mencium dua orang gadis ini untuk menyatakan rasa sukur dan terima kasihnya. Akan tetapi tentu saja dia tidak berani melakukan hal itu karena takut akan akibatnya yang tentu tidak baik bagi mereka berdua.
"Ah, kalian sungguh baik sekali!" serunya terharu. "Kenapa kalian bersusah payah untukku? Kalian tahu, kalau sampai terlihat kepala dusun atau penduduk dusun, tentu kalian akan mendapat marah."
"Biar saja mereka marah!" Gadis bertahi lalat berkata penasaran. "Si A-Iiong itu hanya iri hati dan cemburu. Huh, tak tahu malu!"
Hay Hay tersenyum. "A-liong siapakah yang kaumaksudkan? Pemuda tinggi besar yang hendak menghajarku itu?"
Gadis hitam manis mengangguk. "Benar, dia mencinta Siauw Lan....."
"Akan tetapi aku tidak sudi padanya!" Siauw Lan gadis bertahi lalat di dagunya itu memotong. "Pula, apa salahnya kalau kami berkenalan denganmu, Hay-ko? Engkau seorang pemuda yang baik dan menyenangkan, tidak seperti mereka. Aku... kami... suka padamu......"
Hay Hay semakin terharu dan dipegangnya tangan dua orang gadis itu dengan kedua tangannya. Tangan-tangan hangat dan tulus. "Kalian memang Adik-adikku yang cantik manis dan berhati baik. Aku berterima kasih padamu. Percayalah, aku pun suka sekali kepada kalian dan selamanya aku takkan melupakan gadis-gadis di dusun ini yang manis-manis. Akan tetapi, sekarang sebaiknya kalian pulang saja sebelum hari menjadi malam. Sungguh tidak enak bagi kalian kalau sampai kelihatan orang lain kalian datang menjengukku, apalagi membawakan setimut dan makanan."
Dua orang gadis itu pun merasa terharu walaupun mereka girang sekali dapat saling berpegang tangan dengan pemuda yang mereka kagumi itu. "Hay-ko, engkau tentu akan lama tinggal di sini, bukan?" tanya Si Gadis Bertahi Lalat.
"Benar, jangan tergesa-gesa pergi, Hay-ko, kami ingin menjadi sahabat-sahabatmu. Besok pagi-pagi kami akan datang lagi, mungkin dengan teman-teman. Setiap pagi kami mencuci pakaian dan mandi di sini, dan kami dapat menjengukmu....." kata gadis kedua.
Hay Hay menggeleng kepala dan sebagai gantinya mencium pipi atau bibir mereka, dia membungkuk dua kali dan mencium punggung tangan mereka, lalu melepaskan tangan mereka. "Aku besok pagi sekali harus melanjutkan perjalanan. Nah, pulanglah dan selamat berpisah, Nona-nona manis."
Dua orang gadis itu pun tersipu dengan jantung berdebar ketika punggung tangan mereka tersentuh hidung dan bibir pemuda itu, dan biarpun mereka merasa ogah dan tidak tega meninggalkan pemuda itu, karena cuaca mulai gelap, terpaksa mereka lalu berpamit dan meninggalkan tempat itu dengan dua pasang mata yang basah. Mereka merasa sedih sekali mengingat betapa pemuda ini besok sudah tidak akan berada lagi di tempat itu dan mereka tahu bahwa ada sesuatu yang lenyap dari dalam hati mereka, meninggalkan kenangan indah yang hanya akan mendatangkan duka.
"Selamat tinggal, Hay-ko."
"Semoga kita bertemu kembali kelak, suatu waktu......!"
Hay Hay tersenyum dan melambaikan tangan, sengaja tidak mengeluarkan sepatah kata pun agar keharuan tidak semakin menenggelamkan mereka bertiga. Setelah kedua orang gadis itu pergi, Hay Hay lalu mempersiapkan tempat beristirahat di dekat batu besar itu, menyalakan api unggun dan setelah hari menjadi gelap, dia pun duduk bersila, menyelimuti tubuhnya dengan selimut pemberian gadis manis bertahi lalat di dagunya. Selimut yang tebal dan hangat. Akan tetapi Hay Hay sudah melupakan lagi dua orang gadis itu. Demikianlah watak pemuda ini, tidak mau mengikatkan diri dengan segala sesuatu, dengan kenangan pun tidak! Segala peristiwa yang terjadi lewat saja tanpa bekas di hatinya, dan dengan cara hidup demikian itu, dia selalu bergembira dan kini dia pun duduk bersila dengan wajah tenang gembira, sedikit pun tidak ada bekas-bekas peristiwa masa lalu yang mengganggu hatinya, baik yang menyenangkan, dan menimbulkan keinginan untuk mengulanginya maupun yang tidak menyenangkan dan menimbulkan kegelisahan atau duka.
Malam itu bulan bersinar dengan terangnya. Hawa amat sejuk dan sinar bulan menciptakan suasana yang amat indah di malam itu, indah dan kelihatan tenang tenteram penuh damai. Akan tetapi, agaknya tidak demikian keadaan di dusun kecil itu. Para penduduk laki-laki berkumpul di rumah kepala dusun dan wajah mereka nampak tegang. Ada dua orang gadis yang hilang malam itu! Orang tuanya bingung mencari karena mereka berdua, gadis bertahi lalat di dagu gadis hitam manis bermata cerah tidak pamit ketika pergi.
"Mereka tentu pergi mengunjungi pemuda itu!"tiba-tiba terdengar seorang laki-laki berkata. "Aku tadi melihat dia berada di batu besar dekat sungai!"
"Hemm, orang asing kurang ajar itu berani kembali ke sana?" kata kepala dusun sambil mengerutkan alisnya.
"Mari kita cari ke luar dusun sekalian mengusir pemuda itu. Aku yang akan menghajarnya!" kata A-liong, pemuda tinggi besar yang menaruh hati kepada Siauw Lan, gadis bertahi lalat.
Kepala dusun menyetujui dan berangkatlah sekitar dua puluh orang laki-laki sambil membawa obor mencari keluar dusun. Sudah terlalu lama dua orang gadis itu pergi dan memang menimbulkan kekhawatiran dan kecurigaan. Berbondong-bondong mereka pergi menuju ke sungai kecil yang berada agak jauh di luar dusun.
Akan tetapi ketika rombongan itu tiba di luar dusun, di sebuah lapangan rumput, ada yang berteriak dan semua orang segera menghampiri. Dan mereka melihat dua orang gadis yang mereka cari-cari itu menggeletak di atas lapangan rumput dalam keadaan telanjang bulat. Pakaian mereka berserakan di sekitar tempat itu. Yang mengerikan, gadis hitam manis itu telah tewas dengan leher terluka menganga lebar hampir putus, sedangkan gadis bertahi lalat di dagunya masih hidup, akan tetapi merintih-rintih dan seperti orang yang menderita ketakutan hebat. Begitu melihat banyak orang datang menghampirinya, gadis bertahi lalat itu merangkak menjauhi, mulutnya merintih-rintih menyebut nama Hay Hay.
"Hay-ko... tolong... tolonglah aku.....!" Mudah saja bagi orang-orang ini untuk menduganya apa yang terjadi. Dua orang gadis ini telah diperkosa orang! Dan yang berkulit hitam manis dibunuh! Masih nampak jelas betapa mereka bertelanjang bulat.
Kepala dusun cepat menubruk keponakannya, gadis bertahi lalat, dan menyelimutinya dengan mantelnya. Gadis itu menangis terisak-isak, tidak takut lagi dan agaknya sudah sadar.
"Keparat! Ini tentu perbuatannya! Mari kita kejar ke sana!" Teriak kepala dusun dan semua orang lalu mengikutinya menuju ke sungai kecil dengan cepat.
Hanya pemuda tinggi besar yang tinggal di situ, merangkul gadis bertahi lalat sambil menghiburnya. Akan tetapi Siauw Lan, gadis itu kini telah sadar dan ia pun menjadi histeris dalam rangkulan pemuda itu. Ia meronta-ronta minta lepas sambil menangis tersedu-sedu.
"Lepaskan aku...! Ah, lepaskan aku, biarkan aku mati saja.....!!"
Akan tetapi, A-Liong, demikian nama panggilan pemuda tinggi besar itu, merangkul semakin kuat mendengar ucapan ini. Dia sudah banyak mendengar tentang gadis yang membunuh diri karena aib dan gadis yang dicintanya ini, bukan tidak mungkin akan membunuh diri karena diperkosa laki-laki keparat itu. Dia harus dapat menghiburnya. Diambilnya pakaian gadis itu yang bertebaran di mana-mana.
"Siauw Lan, kaupakailah pakaianmu dulu... jangan berduka, ada aku di sini. Maukah engkau bercerita apa yang telah terjadi?"
Gadis itu sadar bahwa masih telanjang bulat, bahwa tubuhnya hanya tertutup mantel milik pamannya, kepala daerah itu. Ia melirik ke kanan dan melihat tubuh telanjang dari temannya yang masih menggeletak mandi darah dan ia pun menggigil, lalu menangis lagi, akan tetapi dipakainya pakaiannya.
"Apakah yang telah terjadi? Apakah dia telah menyerang kalian berdua?"
Siauw Lan mengangguk-angguk, masih terisak. "Kami berjalan berdua......dan tiba-tiba orang itu menyergap. Aku merasa dipukul pundakku dan aku pun tidak mampu bergerak lagi. Dia menyeret kami ke sini dari jalan itu dan melemparku di atas rumput. Aku tidak mampu menggerakkan kaki dan tanganku, hanya dapat melihat betapa dia.....dia menanggalkan pakaian A-kiu dan mereka bergumul. A-kiu menjerit-jerit dan meludahi mukanya, lalu... lalu... ahhh hu-hu-hu-huuuh......!"
Kembali A-liong merangkulnya dan menepuk-nepuk bahunya, "Tenanglah, semua telah berlalu dan ada aku di sini menjaga dan melindungimu." Gadis itu merasa aman dalam rangkulan A-liong, dan ia menangis di pundak pemuda itu. Setelah tangisnya mereda, ia melanjutkan.
"Orang itu marah dan menampar A-kiu, lalu.....lalu pedangnya berkelebat dan... ah, mengerikan......!" Ia menengok ke arah mayat kawannya dan menangis lagi.
"Keparat itu membunuhnya karena A-kiu menjerit dan meludahinya?"
Siauw Lan mengangguk. "Ya... lalu dia menghampiri aku yang tidak mampu bergerak dan aku ditepuknya di pundak, dan tiba-tiba aku dapat bergerak lagi. Dan dia lalu menunjuk ke arah tubuh A-kiu yang masih berkelojotan dengan darah menyembur keluar, berkata bahwa kalau aku melawan aku pun akan disembelih... hu-huuuuh! Dia... dia... lalu memaksaku, memperkosaku......uhuhuhuuuhhh........!"
A-liong mendekap mukanya di dada. "Tenanglah, engkau tidak bersalah ....."
"Aku mau mati saja! A-liong, biarkan aku mati saja! Untuk apa hidup dalam aib dan akan terhina selamanya?" Gadis itu meronta-ronta dan menangis.
"Tenanglah, Siauw Lan, ada aku di sini. Aku... cinta padamu, dan aku yang akan menutupi aibmu itu. Aku akan mengawinimu....."
Gadis itu mengangkat muka, melalui air matanya ia memandang wajah pemuda itu, matanya terbelalak. "Kau.....? Mau mengawini aku yang telah ternoda......?"
A-liong mengangguk penuh kepastian. "Aku bersumpah, aku akan mengawinimu dan aku tetap menganggap engkau seorang gadis yang suci dan paling baik di dunia ini. Tentang perkosaan itu, bukan salahmu, lupakan saja. Sekarang pemuda bermulut manis dan perayu itu tentu sedang dikeroyok dan dihajar sampai mampus! Dan kelak kalau ada orang yang menghinamu karena peristiwa ini, akulah yang akan menghajarnya....."
Tiba-tiba Siauw Lan mencengkeram lengan A-liong. "A-liong, siapa yang kaumaksudkan? Siapa yang dikeroyok dan dipukuli, yang kaumaksudkan perayu bermanis mulut itu tadi?"
A-liong memandang wajah gadis itu dengan alis berkerut. "Siapa lagi kalau bukan pemuda asing yang pagi tadi mencoba untuk mengganggu kalian? Pemuda yang berada di batu besar dekat sungai itu?"
"Hay-ko... ?? Ahh.....tidak, tidaaakkk.....!!" teriaknya sambil meronta dan pemuda itu menjadi kaget.
"Siauw Lan, bukankah dia yang telah membunuh A-kiu dan..... memperkosamu?"
"Tidak! Bukan dia! Ahhh, A-liong, kalau engkau benar cinta padaku, lepaskan aku, aku harus pergi ke sana, mencegah mereka mengeroyoknya. Dia sama sekali tidak berdosa!"
"Bukan dia... ?" pemuda itu terkejut dan merasa heran.
"Bukan! Bukan dia. Penjahat itu jauh lebih tua dan ini......ini...." Siauw Lan meraba-raba ke kanan kiri di atas rumput dan akhirnya menemukan yang dicarinya, sebuah benda kecil berkilauan. "Ini...dia meninggalkan ini untukku... katanya, kalau kelak aku ingin mencari dia, inilah tandanya....."
A-liong mengambil benda itu dari tangan Siauw Lan dan mengamatinya di bawah sinar bulan. Ternyata sebuah perhiasan berupa tawon merah, terbuat dari emas dan batu merah.
"A-liong, kita harus cepat ke sana, mencegah mereka mengeroyok orang yang tidak bersalah!"
A-liong adalah seorang pemuda petani yang kasar namun jujur. Mendengar pengakuan ini, dia pun menggandeng tangan Siauw Lan dan diajaknya melakukan pengejaran. Akan tetapi Siauw Lan merintih, tubuhnya terasa nyeri dan sukar baginya untuk jalan cepat.
"Biar kupondong engkau agar cepat!" kata A-Iiong. Gadis itu tidak menolak, karena ia ingin agar mereka dapat cepat tiba di tempat itu, untuk mencegah orang-orang dusun mengeroyok pemuda yang sama sekali tidak berdosa itu.
Kita menengok keadaan Hay Hay. Dia belum tidur ketika orang-orang dusun datang berbondong-bondong ke tempat dia beristirahat. Dia masih duduk bersila di atas tanah yang telah dia beri daun-daun kering, berkalung selimut pemberjan Siauw Lan sampai ke lehernya untuk melindungi tubuhnya dari serangan nyamuk yang masih banyak berdatangan walaupun dia telah membuat api unggun. Ketika dia mendengar suara banyak orang datang, ada yang membawa obor, dia bersikap tenang saja. Memang Hay Hay selalu bersikap tenang. Ketenangan terdapat pada diri orang yang tidak pernah mengkhawatirkan sesuatu. Kekhawatiran timbul dari pikiran yang membayangkan hal-hal yang menyusahkan, hal-hal yang belum terjadi dan yang diperkirakan mungkin terjadi menimpa dirinya. Orang hanya dapat merasa takut dan khawatir akan hal-hal yang belum atau tidak ada. Bukan berarti orang yang tidak membayangkan hal-hal yang belum ada itu lalu menjadi lengah dan acuh. Sama sekali tidak. Kewaspadaan akan saat ini membuat orang selalu dalam keadaan waspada, tanpa rasa takut dan khawatir. Demikian pula keadaan Hay Hay. Dia merasa heran melihat banyak orang berdatangan membawa obor, akan tetapi karena tidak membayangkan sesuatu yang tidak enak dia pun tenang-tenang saja duduk bersila dan memandang ke arah mereka.
Kewaspadaannya membuat dia maklum bahwa mereka yang kini berdiri membuat setengah lingkaran di depannya itu mempunyai niat buruk. Kemarahan dan kebencian terbayang dalam pandang mata mereka. Hay Hay merasa heran dan siap siaga, lalu bangkit berdiri melihat bahwa rombongan orang dipimpin sendiri oleh kepala dusunnya yang tadi pagi juga sudah datang menegurnya. Kini, dua puluh orang lebih itu memandang kepadanya dengan kemarahan meluap-luap, seolah-olah mereka tidak sabar lagi dan ingin segera menghajarnya.
"Selamat malam Chung-cu." kata Hay Hay. "Ada urusan apakah maka Cu-wi beramai-ramai malam-malam begini datang ke sini?"
Orang-orang itu tidak segera menjawab, melainkan memandang kepadanya dengan sinar mata penuh kemarahan, kebencian dan selidik.
"Lihat, itu selimut Siauw Lan!" tiba-tiba seorang laki-laki, kakak Siauw Lan, berteriak sambil menuding ke arah selimut yang masih mengalungi leher Hay Hay itu. Semua orang memandang dan kemarahan mereka memuncak.
Hay Hay meraba selimut itu. "Benar, memang Nona Siauw Lan yang tadi datang bersama seorang temannya, memberi selimut dan makanan kepadaku. Mereka adalah dua orang Nona yang amat baik hati dan aku berterima kasih sekali kepada mereka...."
"Berterima kasih dengan memperkosa dan membunuh!" bentak kakak Siauw Lan dan dia sudah menggerakkan toya kayu di tangannya untuk menghantam ke arah Hay Hay, dan pada saat itu, seorang lain maju juga untuk membacokkan parangnya ke arah dada pemuda itu dengan penuh kebencian. Semua orang teringat akan nasib dua orang gadis itu dan kini mereka serentak maju mengeroyok!
Dalam keadaan seperti itu, Hay Hay tidak dapat menyembunyikan lagi kepandaiannya. Dia harus melindungi dirinya, akan tetapi dia maklum bahwa sekelompok orang dusun ini adalah orang-orang jujur yang tidak pandai ilmu silat dan memiliki tenaga biasa saja. Mereka bukanlah lawannya dan dia tidak ingin melukai orang-orang ini yang dia tahu tentu tidak berdosa dan yang kini sedang salah paham terhadap dirinya. Maka dia pun mengerahkan tenaga sinkang untuk membuat tubuhnya kebal, menggerakkan kedua tangan hanya untuk menangkis senjata yang menuju ke kepala dan mukanya.
Terdengar suara bak-bik-buk ketika belasan buah senjata keras dan tajam menghujani tubuh Hay Hay. Terdengar teriakan-teriakan kaget dan beberapa orang bahkan terpelanting karena tenaga mereka sendiri yang membalik. Pemuda yang mereka keroyok itu masih berdiri tegak, yang nampak bekas serangan itu hanyalah selimut dan baju yang robek-robek, akan tetapi kulit tubuh itu lecet sedikit pun tidak, bahkan semua senjata terpental dan tenaga mereka membalik, telapak tangan mereka terasa nyeri.
"Dia lihai.....!"
"Dia kebal......!"
"Punya ilmu setan........!"
"Saudara-saudara sekalian, apakah yang telah terjadi? Aku tidak bersalah apa-apa dan sejak tadi aku berada di sini, Siauw Lan dan temannya hanya berkunjung sebentar dan tidak terjadi apa-apa yang tidak semestinya di sini. Apa kesalahanku maka cuwi (kalian) marah-marah kepadaku?"
"Bohong! Dia memang laki-laki mata keranjang. Jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) yang pantas dihajar!" Tiba-tiba terdengar teriakan nyaring dan merdu. Semua orang menengok, juga Hay Hay, dan dia terkejut melihat munculnya gadis cantik jelita yang sudah dijumpainya di kuil sore tadi. Gadis itu memang Bi Lian. Dari kuil di mana ia beristirahat, malam itu ia mendengar suara berisik. Ia lalu keluar dan dari depan kuil, tempat yang tinggi, ia dapat melihat banyak orang berlarian sambil membawa obor. Tentu saja ia tertarik sekali karena orang-orang itu keluar dari dusun di bawah itu. Tentu telah terjadi hal yang hebat maka orang-orang itu keluar sambil membawa obor. Bi Lian lalu mempergunakan kepandaiannya, dengan cepat seperti terbang ia menuruni bukit menuju ke padang rumput di mana orang-orang itu berkumpul dan nampak melihat sesuatu.
Karena ia menuruni bukit itu seperti terbang cepatnya, ia tiba di padang rumput itu pada saat orang-orang dusun itu baru saja meninggalkan tempat itu untuk menyerbu ke tempat peristirahatan Hay Hay. Sebagai seorang yang berpengalaman, sekali pandang saja kepada Siauw Lan yang menangis dihibur A-liong, dan melihat keadaan A-kiu yang telanjang bulat dan hampir putus lehernya, Bi Lian tahu apa yang telah terjadi. Dua orang gadis itu telah dijadikan korban seorang jai-hwa-cat, penjahat pemetik bunga atau tukang memperkosa wanita! Kemarahannya timbul dan ia pun tahu bahwa jelas pelakunya tentulah pemuda tampan perayu wanita yang mata keranjang itu! Cepat ia pun lari dari situ tanpa diketahui Siauw Lan ataupun A-liong, dan pada saat semua penduduk sedang terkejut melihat betapa senjata mereka tidak mempan terhadap Hay Hay, Bi Lian muncul dan memaki Hay Hay.
Hay Hay mengerutkan alisnya. Gadis galak ini begitu muncul memakinya sebagai seorang penjahat pemetik bunga, sungguh keterlaluan!
"Nanti dulu!" bantahnya. "Aku tidak pernah melakukan perbuatan terkutuk seperti yang kalian tuduhkan itu!"
"Jangan percaya, laki-laki perayu bermulut manis mana bisa dipercaya omongannya? Biar aku yang akan menghajar dan menangkapnya untuk kalian!" Berkata demikian, Bi Lian sudah menerjang maju. Gadis ini tadi melihat betapa semua senjata mental dari tubuh Hay Hay. Tadi ia terkejut bukan main, juga terheran-heran, merasa kecele dan mukanya berubah merah. Kiranya pemuda ini memiliki kepandaian tinggi. Jadi sikapnya yang pura-pura tolol di kuil itu hanya main-main saja dan ia merasa dipermainkan. Maka, begitu menerjang, ia telah mengirim tamparan dengan tangan kiri ke arah kepala Hay Hay, sebuah serangan pancingan karena tangan kanannya, dengan cepat sekali mengirim serangan susulan menotok ke arah pundak pemuda itu untuk merobohkannya!
Melihat datangnya serangan gadis itu, walaupun hanya dengan tangan kosong, Hay Hay terkejut bukan main. Dia mengenal serangan ampuh, mengenal tangan ampuh yang memiliki tenaga sinkang yang amat hebat. Dan pukulan-pukulan itu sendiri amat ganas. Tamparan ke arah kepalanya itu mengandung hawa pukulan yang panas dan kalau mengenai sasaran tentu akan menewaskannya dan tangan kanan gadis itu membayangi gerakan tangan kiri, sukar diduga akan menyerang ke mana sebagai susulan! Dia tahu bahwa tamparan tangan kiri itu hanya gertakan, namun gertakan berbahaya karena merupakan pukulan maut, dan yang lebih berbahaya lagi adalah tangan kanan gadis itu yang siap mengirim serangan susulan.
"Plakk!" Hay Hay mengangkat tangan kanan menangkis tamparan sambil mengerahkan tenaga sinkang pula, sedangkan matanya waspada mengikuti gerakan tangan kanan Bi Lian. Ketika tangan itu menotok ke arah pundaknya untuk merobohkannya, dia pun cepat meloncat ke belakang sambil menangkis dengan tangan kirinya.
"Dukkkk!"
Dua kali kedua tangan mereka saling bertemu dan keduanya diam-diam terkejut, maklum akan kekuatan masing-masing. Karena serangannya dapat dihindarkan lawan, Bi Lian menjadi semakin penasaran.
"Jai-hwa-cat memiliki juga sedikit kepandaian!" katanya penuh ejekan dan kini ia menyerang lagi, akan tetapi sekali ini ia tidak main-main dan serangannya demikian kuat dan cepatnya, bertubi-tubi dengan gerakan yang aneh dan ganas sekali sehingga Hay Hay terpaksa berloncatan mundur dan terdesak hebat! Ketika serangannya yang bertubi-tubi itu tidak pernah mengenai sasaran, Bi Lian menjadi semakin sengit. Ia maklum bahwa lawannya ini benar-benar pandai maka berubahlah niatnya. Kalau tadi ia hanya ingin menangkapnya untuk diserahkan kepada para penduduk yang akan menghukumnya, kini melihat kelihaian lawan, ia bermaksud untuk merobohkannya, hidup atau mati! Perubahan ini tentu saja mengubah pula gerakannya yang menjadi semakin kuat dan setiap pukulan merupakan serangan maut! Ketika gadis itu menggosok kedua tangannya, saling menggosok telapak tangan, nampak asap mengepul dari kedua telapak tangannya, dan serangan-serangannya kini mengandung hawa yang panas sekali.
"Ehhh......!!" Hay Hay berkali-kali berseru kaget dan dia terpaksa selain mengelak juga melakukan tangkisan-tangkisan disertai pengerahan tenaga sinkangnya. Setiap kali lengannya bertemu dengan lengan gadis itu, dia merasa betapa kulit lengan itu kuat dan mengandung hawa panas! Kalau saja sinkangnya tidak kuat untuk melindungi kulitnya, tentu kulit tangannya akan terluka hangus bersentuhan dengan lengan gadis itu.
Para penduduk yang melihat munculnya seorang gadis gagah perkasa yang menyerang pemuda mata keranjang itu kalang-kabut, tidak tinggal diam. Mereka berbesar hati melihat ada seorang gadis yang agaknya lihai sekali dan dapat mengjmbangi kelihaian penjahat itu, maka mereka pun kini mulai bergerak mengurung dan setiap kali ada kesempatan, mereka menggerakkan senjata mereka untuk menyerang. Hay Hay menghadapi pengeroyokan! Baginya orang-orang dusun itu lebih berbahaya daripada Si Gadis lihal! Soalnya, kalau gadis itu dapat ia hadapi dengan sinkang dan ilmu silat, sebaliknya dia harus berhati-hati sekali kalau menangkis serangan orang-orang dusun, karena kalau dia kesalahan tangan dan terlalu kuat mempergunakan sinkang, ada bahayanya dia akan benar-benar menjadi pembunuh! Terpaksa Hay Hay lalu memainkan satu di antara ilmunya yang hebat, yaitu Jiauw-pouw-poan-soan, ilmu langkah kaki berputaran yang membuat tubuhnya dapat menghindarkan semua serangan, termasuk pukulan-pukulan yang dilancarkan oleh gadis itu. Ilmu Ini merupakan satu di antara ilmu pemberian See-thian Lama.
Diam-diam Bi Lian kagum bukan main. Baru sekali ini semenjak meninggalkan perguruan ia bertemu dengan lawan yang dapat menghindarkan semua serangannya, padahal sudah lebih dari dua puluh jurus ia menyerang tanpa pemuda itu membalas satu kalipun, bahkan disampingnya masih ada orang-orang dusun yang mengeroyok, walaupun bantuan mereka itu sama sekali tidak menguntungkannya, bahkan mengganggu gerakannya saja.
Tiba-tiba terdengar jeritan wanita. "Berhenti.....! Ahhhh, jangan keroyok dia! Dia tidak bersalah..... jangan keroyok dia....!"
Semua orang terkejut, menghentikan serangan mereka, bahkan Bi Lian juga meloncat ke belakang dan memutar tubuh memandang. Yang berteriak itu adalah Siauw Lan yang digandeng oleh A-liong.
"Apa maksudmu, Siauw Lan?" bentak kepala dusun kepada keponakannya.
"Paman, bukan dia yang memperkosa aku dan membunuh A-kiu! Dia tidak bersalah....."
Hay Hay membelalakkan matanya memandang kepada Siauw Lan. "Nona, engkau diperkosa dan temanmu itu dibunuh orang......??"
Siauw Lan menangis, memandang kepada Hay Hay dan mengangguk-angguk. "Hay-ko.....ahh.....Hay-ko....!"
A-liong mengeluarkan benda yang diterimanya dari Siauw Lan tadi dan berkata, lantang, "Kawan-kawan, kita memang telah salah sangka. Penjahat itu adalah seorang yang lebih tua dan dia meninggalkan tanda ini!"
Tiba-tiba Bi Lian menggerakkan tubuhnya dan tahu-tahu benda yang dipegang oleh A-liong itu telah pindah ke tangannya. A-liong terkejut dan terbelalak. Bi Lian mengamati benda itu dan mengangguk-angguk. "Hemm... Ang-hong-cu (Si Tawon Merah)...! Aku pernah mendengar namanya. Seorang jai-hwa-cat yang keji!" Ia mengembalikan benda itu kepada A-liong, kemudian memandang kepada Hay Hay. Sejenak pandang mereka bertemu dan Bi Lian merasa kikuk sekali. Ia memutar tubuh menghadapi kepala dusun dan berkata. "Kita telah salah sangka. Aku akan mencari penjahat itu!" Setelah berkata demikian, sekali berkelebat, gadis itu lenyap dari situ, membuat orang-orang dusun itu terkejut dan melongo. Hanya siluman saja yang dapat menghilang seperti itu, pikir mereka.
"Bagaimana sekarang? Apakah Cuwi masih menuduh aku yang melakukan perbuatan terkutuk itu?" Hay Hay bertanya sambil tersenyum. Dia tidak marah kepada orang-orang dusun ini. Dia marah kepada si jai-hwa-cat. Gadis bertahi lalat ini diperkosanya! Dan gadis hitam manis itu malah dibunuhnya.
Si Kepala Dusun menjura ke arah Hay Hay. "Maafkan kami. Kami salah sangka terhadap Kongcu"
"Sudahlah, kalau aku boleh pergi, sekarang juga aku akan mencoba untuk mengejar dan mencari keparat itu." Kemudian dia memandang kepada Siauw Lan dan berkata, "Adik manis, nasibmu memang buruk sekali. Akan tetapi peristiwa itu telah lalu dan aku melihat ada orang yang mencintamu dan tentu mau melindungimu. Kalau aku berhasil menemukan penjahat Ang-hong-cu itu, tentu akan kuhajar dia, kubalaskan sakit hatimu."
Siauw Lan masih menangis, hanya mengangguk dan bibirnya bergerak perlahan. "Terima kasih, Hay-ko."
Hay Hay mengambil buntalan pakaiannya, membuang selimut dan bajunya yang sudah robek-robek, kemudian dia pun tidak lagi menyembunyikan kepandaiannya dan sekali berkelebat, seperti yang dilakukan Bi Lian tadi, dia sudah lenyap pula dari situ. Untuk kedua kalinya, para penduduk dusun itu melongo dan menggeleng-geleng kepala, merasa malu akan kebodohan mereka sendiri. Mereka telah menuduh yang bukan-bukan terhadap pemuda itu, padahal pemuda itu demikian lihainya sehingga kalau dikehendaki, tentu pemuda itu berbalik akan mampu merobohkan mereka semua satu demi satu! Mereka lalu kembali ke dusun, mengambil dan mengurus jenazah A-kiu, sedangkan Siauw Lan terus diantar dan dihibur oleh A-liong sehingga ia pun merasa terhibur dan tidak lagi mempunyai niat untuk membunuh diri mencuci aib.
***
Pagi-pagi sekali Hay Hay sudah keluar dari daerah dusun dan pegunungan itu. Dia menuju ke barat karena dia sedang melakukan perjalanan untuk mencari keluarga Pek yang dulu tinggal di Tibet. Semenjak dia menjadi murid See-thian Lama dan Ciu-sian Sin-kai, keadaan dirinya membuat dia seringkali termenung dan termangu-mangu. Dua orang gurunya yang sakti itu pun tidak dapat menentukan dia anak siapa! Sejak bayi dia merasa menjadi putera suami isteri Siangkoan Leng dan Ma Kim Li, yang tidak tahunya adalah sepasang suami isteri iblis yang berjuluk Lam-hai Siang-mo. Dan ternyata suami isteri itu bukan orang tuanya, melainkan telah menculiknya dari rumah keluarga Pek. Kalau saja keluarga Pek mempunyai anak yang lumrah, tentu mudah sekali memastikan bahwa dia adalah anak keluarga Pek yang diculik oleh Lam-hai Siang-mo. Akan tetapi, dua orang gurunya yang sakti dan bijaksana memastikan bahwa dia bukan putera keluarga Pek, karena sudah dipastikan oleh para Dalai Lama bahwa putera keluarga Pek adalah seorang Sin-tong (anak ajaib) yang mempunyai tanda merah di punggungnya! Sedangkan dia tidak mempunyai tanda merah itu! Jelas, menurut kedua orang gurunya, dia bukan putera keluarga Pek!
Satu-satunya petunjuk tentang keadaan dirinya hanya bisa diharapkan datang dari keluarga Pek. Mereka tentu tahu siapa dia, siapa orang tuanya dan mengapa dia ketika bayi dapat berada di tangan keluarga Pek sehingga diculik oleh Lam-hai Siang-mo. Inilah sebabnya maka Hay Hay kini menuju ke barat untuk mencari keluarga Pek dan menyelidiki tentang asal-usul dirinya yang sebenarnya. Akan tetapi dia tidak tergesa-gesa dan melaksanakan keinginannya menemui keluarga Pek sambil lalu saja, yang terpenting baginya adalah menikmati perjalanan yang amat jauh itu.
Dia pernah melakukan perjalanan jauh seperti ini, akan tetapi dari barat ke timur, yaitu beberapa tahun yang lalu, ketika dia berusia kurang lebih tiga pelas tahun dan meninggalkan See-thian Lama untuk mengikuti gurunya yang baru, Ciu-sian Sin-kai menuju ke Pulau Hiu di lautan Pohai. Kalau dulu dia datang dari barat menuju ke timur, sekarang sebaliknya, dia datang dari pantai Pohai menuju ke barat, ke Tibet!
Dengan santai Hay Hay melakukan perjalanan dan sebelum dia menuruni bukit terakhir, dia berhenti lebih dulu dan membalikkan tubuhnya menghadap ke timur, untuk menikmati keindahan matahari terbit.
Bola merah yang besar itu perlahan-lahan tersembul dan naik ke atas. Hay Hay tidak berani terlalu lama memandang bola api itu, walaupun sinarnya belum terlalu menyilaukan, namun dia tahu bahwa hal itu tidak baik bagi matanya. Yang dinikmati adalah keindahan cahaya merah itu memandikan segalanya yang berada di permukaan bumi, dan cahaya merah kuning biru yang mewarnai awan-awan yang membentuk berbagai macam corak, demikian kaya dengan bentuk sehingga kita dapat membentuk awan-awan itu menjadi bentuk apa saja menurut khayal kita yang paling ajaib.
Setelah puas menikmati keindahan alam di waktu pagi, Hay Hay membalikkan tubuhnya lagi dan hendak menuruni lereng bukit terakhir. Akan tetapi tiba-tiba dia tertegun karena tak jauh di depannya, hanya belasan meter jauhnya, telah berdiri tegak seorang wanita yang bukan lain adalah gadis galak semalam! Namun hanya sebentar dia tertegun. Dia tidak kehilangan keluwesannya dan segera tersenyum ramah dan melangkah maju menghampiri lalu menjura.
"'Selamat pagi, Nona yang gagah perkasa! Sungguh pagi yang amat cerah dan indah, bukan?"
Akan tetapi gadis jelita dan manis itu cemberut. Aneh, pikir Hay Hay, kenapa gadis ini cemberut dapat nampak demikian manisnya? Apanya yang membuatnya demikian manis? Segalanya memang indah bentuknya, dan wajah itu ayu akan tetapi apanya yang paling menonjol? Dia menyelidiki keadaan gadis itu dengan penuh perhatian!
"Aku tidak tanya dan tidak peduli pagi ini cerah indah atau muram buruk! Aku berada di sini sengaja menantimu dan bicara denganmu!"
"Ahai, lebih baik lagi kalau begitu! Ah, kalau saja aku tahu Nona menantiku di sini, tentu tadi aku akan bersicepat dan tidak membiarkan diri terpesona oleh kecantikan alam di waktu pagi." Dengan ucapan itu dia seolah-olah hendak memuji bahwa keindahan gadis itu tidak kalah oleh keindahan alam pagi. "Suatu kehormatan yang teramat besar bagiku. Tidak tahu Nona hendak menyampaikan berita bahagia apakah kepada diriku yang miskin ini?
Sejenak Bi Lian, gadis itu, tertegun juga. Betapa indahnya kata-kata yang dikeluarkan oleh pemuda ini, sambil tersenyum, wajahnya berseri, sepasang matanya yang tajam itu memandang lembut. Akan tetapi ia teringat bahwa pemuda ini adalah seorang perayu wanita, seorang laki-laki mata keranjang, maka ia memasang muka cemberut lagi. Lebih cemberut daripada tadi. Akan tetapi lebih manis, pikir Hay Hay.
"Tak usah merayu dengan kata-kata indah! Aku menantimu untuk mengajakmu membuat perhitungan dan melunasi hutang-pihutang antara kita!"
Diam-diam Hay Hay terkejut dan juga heran. Dia maklum yang dimaksudkan dengan hutang-pihutang tentulah urusan perselisihan di antara mereka. Akan tetapi seingatnya, tidak ada lagi urusan di antara mereka. Bukankah dalam urusan ruangan di kuil tua dia sudah mengalah dan pergi, kemudian perkelahian semalam itu terjadi hanya karena salah paham dan salah duga terhadap dirinya? Dia anggap sudah habis dan selesai, kenapa nona ini bicara tentang penyelesaian hutang-pihutang? Akan tetapi wajahnya tetap berseri dan dia memasang muka gembira.
"Wah, menarik sekali!" Hay Hay menurunkan buntalan pakaiannya dan duduk di atas batu dl tepi jalan kecil itu, seperti orang yang ingin sekali mendengarkan sebuah cerita yang menarik. "Berapakah hutangku kepadamu dan bagaimana aku harus membayarnya, Nona? Aku seorang perantau miskin......"
"Bukan engkau yang masih ada hutang, akan tetapi aku yang hutang kepadamu."
"Aih, semakin menarik dan menyenangkan saja. Akan tetapi sungguh mati aku sudah lupa lagi kapan Nona berhutang kepadaku dan berapa jumlahnya?" "Pertama-tama aku mengusirmu dari kuil dan ke dua, aku telah menuduhmu melakukan perbuatan terkutuk yang tidak kaulakukan. Nah, aku telah hutang dua kali kepadamu dan aku ingin melunasinya sekarang!"
"Ehhh.....?" Sekali ini senyumnya menghilang dari wajah Hay Hay karena memang dia heran sekali. "Lalu bagaimana engkau akan melunasi hutang-hutang itu, Nona?"
Gadis itu memperlihatkan kedua lengannya yang diulur dengan jari-jari tangan terkepal. "Dengan ini! Bagaimana lagi orang-orang seperti kita menyelesaikan perhitungan kecuali dengan mengadu ilmu silat? Majulah dan bersiaplah, kita harus bertanding untuk membereskan perhitungan!"
"Wah-wah-wah!" Hay Hay mengangkat kedua tangannya ke atas kepala dan menggeleng-geleng kepala. "Kalau seperti itu pembayarannya, sudahlah, jangan kaubayar saja hutang-hutangmu, Nona! Aku sudah rela dan biarlah hutang-hutangmu itu kuanggap lunas saja!"
"Apa?" Gadis itu memandang dengan mata mendelik. "Engkau mau menghina aku rupanya! Kauanggap aku tidak mampu melunasi hutang-hutangku?"
"Eh, bukan begitu! Tapi......, wah kenapa pembayarannya harus seperti itu? Aku tidak merasa menghutangkan, aku tidak menaruh dendam sakit hati, dan aku tidak mengharapkan pembayaran. Sudahlah, hutang-hutangmu sudah lunas dan kita jangan membuat hutang-hutang lagi, Nona." Hay Hay lalu mengambil buntalan pakaiannya, akan tetapi tiba-tiba dia meloncat dengan elakan yang amat cepat karena pada saat itu ada angin pukulan yang panas dan kuat sekali menyambar ke arahnya, dibarengi bentakan nona itu.
"Heiiiitttt......!!"
"Brakkk.....!" Batu yang tadi diduduki Hay Hay pecah berantakan ujungnya terkena pukulan tangan gadis yang lihai itu. Debu mengepul dan Hay Hay terbelalak. Gadis itu memukul sungguh-sungguh! Kalau dia tidak cepat mengelak dan kena pukulan seampuh itu tentu dia akan celaka, mungkin tewas atau paling tidak terluka parah. Sungguh seorang gadis yang cantik jelita, manis, lihai akan tetapi ganas bukan main!
"Eh-eh, tahan dulu, Nona! Bagaimana sih engkau ini? Engkau merasa bersalah dan berhutang kepadaku, kenapa membayarnya bahkan dengan penambahan hutang yang lebih besar lagi? Bagaimana kalau sampai aku kena pukulanmu dan mati?"
"Berarti aku tidak hutang lagi kepadamu. Tidak ada orang berhutang kepada orang yang sudah mati."
Kalau saja nona itu tidak bicara sambil merengut, tentu Hay Hay akan menganggapnya main-main atau kelakar.
"Lalu bagaimana kalau sampai aku tidak dapat kaukalahkan?" Hay Hay menyelidik.
"Kalau aku yang mati, berarti hutangku juga lunas. Tidak ada orang mati mempunyai hutang kepada siapapun juga!"
Wah, pikir Hay Hay. Gadis ini bicara serius, akan tetapi ucapannya sungguh bocengli (tidak pantas)! Mana ada orang merasa bersalah dianggap hutang dan pembayarannya harus saling membunuh? Diam-diam dia memandang penuh perhatian. Seorang gadis yang benar-benar amat cantik, dan usianya tentu tidak berselisih banyak dengan usianya sendiri.
"Kau aneh, Nona."
"Sudahlah, aku tidak ingin mendengar pendapatmu tentang diriku. Hayo bersiap, kita lanjutkan penyelesaian hutang-pihutang ini!" Bi Lian sudah siap lagi untuk melakukan penyerangan. Kuda-kudanya amat indah akan tetapi aneh, kaki kanan berdiri tegak lurus di atas jari-jari kaki-kaki kiri ditekuk seperti kaki burung, tangan kanan diacungkan tinggi ke atas kepala, tangan kiri menyembah di dada, leher dimiringkan dan napas ditahan! Agaknya gadis itu sudah siap untuk melancarkan pukulan maut yang aneh lagi!
"Nanti dulu...! Nanti dulu, Nona." Hay Hay berkata cepat-cepat mendahului agar nona itu tidak keburu menyerang.
"Ada apa lagi? Cerewet benar engkau!" nona itu mengomel.
"Sebelum aku kaupukul mati, aku berhak untuk tahu siapa yang hutang kepadaku dan membayarnya dengan pukulan maut. Atau, menurut engkau, aturannya tidak boleh memperkenalkan nama dan sembunyi-sembunyi saja?"
"Huh!" Bi Lian mendengus melalui hidungnya. "Siapa sembunyi? Kaukira aku takut mempertanggungjawabkan? Namaku adalah Cu Bi Lian...."
"Nama yang amat indah dan cantik, seperti pemiliknya...."
"Aku tidak butuh pujianmu!"
"Aku tidak memuji, melainkan terus terang saja. Engkau sungguh cantik jelita, memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, dan memiliki nama yang indah. Bi Lian (Teratai Cantik), sungguh nama yang hebat. Sayang sekali....."
"Apa sayang?" Bi Lian cepat memotong dan diam-diam Hay Hay tersenyum di dalam hatinya. Bagaimanapun juga, gadis ini tetap seorang wanita yang wajar dan ingin sekali mendengar pujian, pantang mendengarkan celaan, maka cepat-cepat gadis itu bertanya ketika dia berkata sayang.
Hay Hay cukup cerdik untuk tidak mengucapkan celaannya. Di dalam hatinya dia berkata sayang bahwa gadis yang cantik dan lihai itu berperangai ganas dan kejam, akan tetapi mulutnya tidak mengatakan demikian. Belum pernah dia mencela seorang wanita, baginya wanita hanya pantas dipuji, tidak layak dicela!
"Sayang kalau aku mati olehmu, aku tidak lagi dapat menikmati kecantikanmu, dan engkau tidak lagi ada yang memuji."
"Sudahlah, jangan cerewet. Siap menghadapi seranganku!" kata Bi Lian dan Hay Hay melihat betapa wajah ltu tidak beringas lagi seperti tadi, melainkan menjadi manis karena ada senyum puas membayang di bibir yang merah membasah itu.
"Nanti dulu, nanti dulu! Aku sudah mengenal namamu, akan tetapi engkau belum mengenal namaku, Nona Cu Bi Lian yang cantik."
"Namamu... Kakak Hay, aku sudah tahu! Engkau perayu dan mata keranjang, gila perempuan. Itu saja! Nah, sambutlah ini!" Dan ia pun sudah menerjang lagi dengan hebatnya tanpa memberi kesempatan kepada Hay Hay untuk banyak cakap lagi!
"Haiiiittt.....!"
Serangan itu demikian ganas sehingga untuk menghindarkan diri, Hay Hay menjatuhkan diri di atas tanah dan bergulingan menjauh, melompat berdiri lagi. "Nanti dulu, kurasa engkau telah berbohong kepadaku, Nona!"
Bi Lian yang sudah siap mengirim serangan susulan, mengerutkan alisnya dan matanya mengeluarkan sinar berapi. "Apa? Kau bilang aku berbohong kepadamu? Untuk tuduhan itu saja engkau harus membayar nyawa!"
"Hutang lagi! Wah, engkau berbakat menjadi tukang kredit, Nona."
"Apa tukang kredit?"
"Itu, orang yang melepas uang dengan bunga, hutang-pihutang! Aku mengatakan bohong tentang namamu. Kau pernah mengaku bahwa engkau Dewi, sekarang engkau mengaku bernama Cu Bi Lian, nama seorang gadis, seorang manusia biasa. Nah, mana yang benar?" Hay Hay memang sengaja Cari-Cari urusan saja sebagai bahan untuk dibicarakan agar nona itu tidak menyerangnya. Dia khawatir juga melihat betapa serangan nona itu semakin lama semakin ganas dan berbahaya.
"Siapa berbohong! Namaku memang Cu Bi Lian dan julukanku Thiat-sim Sian-li!"
"Dewi Berhati Besi? Wah-wah-wah, ini namanya langit bertemu bumi!"
"Apa lagi itu? Mana mungkin langit bertemu bumi!"
Hay Hay tersenyum, senang telah dapat memancing nona itu bercakap-cakap. "Memang tidak mungkin, sama tidak mungkinnya dengan julukanmu, Nona. Dengar baik-baik, seorang Sian-li (Dewi) sudah pasti mempunyai hati yang lembut, penuh belas kasihan, penuh cinta kasih terhadap sesamanya. Sebaliknya, yang pantas memiliki hati besi hanyalah iblis-iblis dan setan-setan yang kejam, ganas dan suka membunuh orang tanpa salah. Dewi-dewi biasanya berwajah cantik-cantik, lemah lembut dan bijaksana, sedangkan iblis dan setan bertampang buruk, berwatak kasar dan keras. Nah, jelas bahwa tidak mungkin ada dewi berhati besi, bukan?"
"Peduli apa kau dengan keadaanku? Aku boleh berhati besi, berhati baja, berhati batu, atau berhati apa saja, sesukaku. Tidak ada sangkut-pautnya dengan engkau!"
"Memang, seribu prosen hakmu sendiri untuk memakai hati dari apa, Cu-lihiap (Pendekar Wanita Cu). Nah, pantas sekali sebutan Cu-lihiap untukmu, bukan? Memang engkau jauh lebih pantas menjadi seorang pendekar wanita daripada....."
"Daripada apa?" Cepat Bi Lian mendesak karena Hay Hay berhenti bicara. Pemuda ini kembali mengelak, berjaga-jaga agar jangan sampai menyinggung hati gadis itu dengan celaan.
"Engkau adalah seorang pendekar wanita. Nah, menjadi pendekar wanita lebih baik daripada jika seandainya engkau menjadi tokoh sesat yang jahat sekali, bukan?"
Kini Bi Lian agaknya sadar bahwa sejak tadi ia tidak diberi kesempatan untuk menyerang, bahkan terseret ke dalam serangkaian percakapan dengan pemuda ini! Marahlah gadis ini dan ia membentak. "Cukup sudah! Cerewet benar kau! Bersiaplah karena aku segera akan menyerangmu untuk menyelesaikan perhitungan!"
Hay Hay merasa kecewa bahwa dia tidak berhasil melembutkan hati yang keras itu. Pantas julukannya Dewi Berhati Besi, pikirnya. Akan tetapi dia masih mencoba juga. "Nanti dulu, Lihiap. Apakah aku tidak dapat membayar lunas... eh, siapa yang berhutang tadi? Engkau atau aku? Tidak peduli siapa yang berhutang dan siapa yang membayar, apakah tidak ada cara lain untuk melunasi hutang? Apakah aku sudah begini tidak berguna sehingga engkau hendak membunuhku? Ingat baik-baik, Nona cantik dan gagah perkasa. Mungkin orang macam aku ini masih ada juga gunanya selain untuk dijadikan pembayar hutang dan dibunuh."
Tentu saja Hay Hay mengeluarkan kata-kata ini hanya sekedar memperpanjang waktu dan mengalihkan perhatian gadis itu dari kehendaknya yang ingin menyerangnya maka tentu saja dia tidak mengharapkan tanggapan yang serius. Bahkan ucapannya itu seperti kelakar saja. Maka tentu saja terheran-heran ketika gadis itu menanggapinya dengan serius!
Sepasang mata itu memandang penuh selidik. Dan kini suaranya tidak seketus tadi, melainkan penuh harap. "Kalau engkau dapat membantuku dengan keterangan yang berguna, mungkin aku akan menganggap lunas perhitungan antara kita tanpa mengajakmu bertanding."
Wajah Hay Hay yang tadinya terkejut dan heran itu berubah girang sekali. Dengan senyum ramah dia cepat bertanya. "Keterangan apakah itu, Lihiap? Tentu aku akan suka sekali membantumu kalau memang aku dapat."
"Aku mencari dua pasang suami isteri, mudah-mudahan engkau mengenal mereka dan tahu di mana mereka berada."
"Siapakah mereka, Nona?"
"Mereka adalah Lam-hai Siang-mo dan suami isteri Guha Iblis Pantai Selatan."
Tentu saja Hay Hay merasa terkejut bukan main dan biarpun dia memiliki batin yang cukup kuat dan tidak mudah terkejut, sekali ini kekagetan itu nampak pada pandang matanya yang melebar.
"Kau kenal mereka? Di mana mereka? Aku mencari-cari mereka!"
Tentu saja Hay Hay mengenal dua pasang suami isteri itu! Lam-hai Siang-mo adalah Siangkoan Leng dan Ma Kim yang pernah dipanggilnya ayah dan ibu selama bertahun-tahun, sejak dia masih bayi! Dan suami isteri Guha Iblis Pantai Selatan adalah suami isteri yang hendak merampasnya dari tangan orang-orang yang tadinya dianggap sebagai ayah ibunya itu.
"Kenapa engkau mencari dua pasang suami isteri itu?"
"Aku hendak membunuh mereka!"
Kembali Hay Hay terkejut, akan tetapi diam-diam hatinya girang juga. Jawaban gadis itu menunjukkan bahwa ia bermusuhan dengan dua pasang suami isteri yang terkenal amat kejam dan jahat itu. Dan hal ini berarti bahwa gadis ini ternyata bukan dari golongan sesat!
"Nona Cu Bi Lian yang baik, mengapa engkau hendak membunuh dua pasang suami isteri itu?"
"Cerewet benar kau!" Gadis itu membentak dengan mata melotot. "Katakan saja, engkau mengenal mereka atau tidak? Tak perlu engkau mencampuri urusanku dan jangan kau membohong!"
Hay Hay mengangguk. "Aku kenal mereka, mengenal dengan baik sekali." katanya terus terang dengan sikap tenang.
Mendengar ini, Bi Lian menjadi girang sekali dan wajahnya nampak berseri, membuat Hay Hay bengong saking kagum dan melihat wajah yang demikian cantik dan manisnya.
"Wah, bukan main...!" Dia mengeluarkan pujian tanpa disadarinya lagi, matanya menatap wajah yang berseri itu penuh kagum. Bagaimana dia tidak akan kagum melihat betapa kedua pipi itu, tepat di bagian tulang menonjol di bawah kedua mata kini nampak kemerahan, mata itu bersinar-sinar bening, mulut yang bibirnya merah membasah itu tersenyum simpul.
"Apanya yang bukan main?" Bi Lian membentak, mengerutkan alisnya karena pandang mata pemuda itu demikian tajam dan ia pun mengenal bayangan kagum mata laki-laki seperti yang sering ia lihat kalau ia bertemu dengan kaum pria.
"Wajahmu itu, hemmm... cantik bukan main, Nona." kata pula Hay Hay terus terang. Sepasang mata itu terbelalak. Bermacam perasaan mengaduk di hati Bi Lian. Girang, bangga, akan tetapi juga marah dan kemarahanlah yang paling besar. Harus ia akui bahwa banyak ia menerima pujian kaum pria, baik melalui pandang mata atau pun melalui kata-kata, akan tetapi selalu laki-laki yang memujinya itu mempunyai pandang mata yang kurang ajar dan penuh nafsu, dan pujiannya merupakan rayuan. Akan tetapi, pemuda ini, yang dalam pertemuan pertama sudah memujinya, memandang dengan kekaguman yang terbuka, yang tidak menyembunyikan pandang mata kurang ajar, dan yang begitu terus terang dan jujur sehingga membuat dia tersipu.
"Simpan rayuanmu, manusia mata keranjang. Atau, sekali lagi aku akan menampar mukamu. Jangan pringas-pringis seperti monyet! Hayo katakan, di mana mereka?"
Hay Hay masih terpesona. Perubahan wajah gadis itu, dari keadaan berseri girang menjadi marah-marah, bahkan menambah kemanisannya. Bentakan itu membuat dia sadar dan dia pun menjawab bingung, "Mereka siapa?"
"Keparat, jangan kau mempermainkan aku!" Bi Lian membentak, tangannya membuat gerakan seperti hendak menampar. "Tentu saja dua pasang suami isteri itu! Sudah lama aku mencari mereka. Di mana mereka?"
Hay Hay menggeleng kepalanya, "Aku tidak tahu."
"Bohong!" Bi Lian membentak, kecewa dan marah sekali. "Engkau pembohong besar!"
Hay Hay kini mengerutkan alisnya dan memandang tajam. Sukar baginya untuk marah kepada seorang gadis secantik ini, akan tetapi sudah dua kali dalam waktu sehari saja dia dimaki sebagai pembohong oleh gadis ini. Pertama ketika dia menyangkal tuduhan pemerkosa dan pembunuh malam tadi, gadis itu pun memakinya pembohong sehingga dia dikeroyok banyak orang. Dan sekarang dia dimaki pembohong lagi, untuk kedua kalinya.
"Nona Cu Bi Lian, engkau sungguh keterlaluan memandang rendah dan memaki orang. Kalau sikapmu seperti itu, andaikata aku tahu juga di mana adanya dua pasang suami isteri itu, agaknya aku akan merasa enggan untuk memberi tahu kepadamu."
"Hemm, kaukira aku tidak akan dapat memaksamu membuka mulut kalau engkau tahu di mana mereka berada?"
Panas juga rasa perut Hay Hay mendengar kecongkakan gadis itu. Dia tahu bahwa gadis itu lihai, akan tetapi bukan karena takut kalau dia selalu bersikap mengalah, melainkan berat rasa hatinya kalau harus bermusuhan dengan wanita cantik. Jauh lebih baik, lebih enak dan menyenangkan untuk bersahabat dengan mereka daripada memusuhi mereka! Akan tetapi sikap Bi Lian yang terlalu memandang rendah, membuat dia merasa mendongkol juga. Selain itu, di tempat yang sunyi ini, di mana tidak terdapat orang lain yang menjadi saksi, apa salahnya kalau dia menguji kemampuan gadis ini? Dia ingin sekali tahu sampai di mana kehebatan gadis bernama Cu Bi Lian ini sehingga ia bersikap demikian angkuh.
"Aha, aku juga ingin sekali melihat bagaimana engkau akan dapat memaksaku."
"Dengan ini!" Dan Bi Lian sudah menerjang dengan pukulan yang amat hebat, kedua telapak tangannya mengeluarkan uap yang panas dan gerakannya cepat bukan main sampai sukar diikuti pandang mata, tahu-tahu tangan kanannya sudah mencengkeram ke arah muka Hay Hay sedangkan tangan kiri dengan jari terbuka telah menotok ke arah ulu hati. Sungguh merupakan serangan dahsyat yang amat kejam dan ganas sekali!
"Eiiihhh ......!" Hay Hay cepat meloncat ke belakang, mengelak dengan cepat sambil siap untuk melindungi tubuhnya. Dan memang hal ini penting sekali karena lengan tangan kiri yang menotok ulu hati itu ternyata dapat mengejarnya, mulur sampai panjang dan terus saja melanjutkan totokannya dengan cepat bukan main.
"Dukkk!" Terpaksa Hay Hay menangkis dengan mengerahkan tenaganya sehingga tangan kiri yang menotoknya itu terpental.
Bi Lian menjadi marah. "Mampuslah!" Ia membentak dan kini ia sudah menyerang lagi, kakinya menendang dengan tendangan berantai sampai tujuh kali, dengan kaki kanan dan kiri, sementara itu, di antara tendangan-tendangan yang bertubi-tubi itu, kedua tangannya masih membantu kaki dengan serangan tamparan-tamparan jarak jauh yang amat ganas dan kuat sehingga angin pukulan itu saja yang mengandung hawa panas sudah akan dapat merobohkan lawan yang kurang kuat.
Betapapun cepat dan kuat gerakan Bi Lian dalam serangan-serangannya, namun yang dihadapinya sekali ini adalah seorang murid terkasih dari dua orang di antara Pat Sian (Delapan Dewa)! Tingkat kepandaian dua orang gurunya itu jauh melampaui tingkat kepandaian dua orang guru Bi Lian, yaitu dua orang di antara Empat Setan, maka tentu saja tidak mengherankan kalau tingkat kepandaian Hay Hay juga lebih tinggi dibandingkan tingkat Bi Lian. Dia terkejut juga melihat kehebatan serangan-serangan gadis itu, namun dia tidak gugup. Dengan Ilmu Jiauw-pouw-poan-soan, yaitu langkah ajaib yang membuat tubuhnya berputar-putaran namun selalu dapat menghindarkan diri dari serangan lawan, dia berhasil membuat semua tendangan dan pukulan tangan Bi Lian mengenai angin kosong belaka. Dari See-thian Lama dia telah mewarisi ginkang istimewa, yang membuat tubuhnya dapat bergerak lebih cepat dari gerakan Bi Lian. Sampai belasan jurus gadis itu menyerang secara bertubi-tubi dan karena tidak satu pun serangannya mengenai sasaran, bahkan menyentuh baju pemuda itu pun tidak, Bi Lian menjadi semakin penasaran dan marah.
"Keparat, balaslah kalau engkau memang memiliki kepandaian!" Semakin Hay Hay mengalah, ia merasa semakin dipandang rendah dan dipermainkan.
"Baik, terimalah ini!" Hay Hay mulai membalas dengan tamparan ke arah pundak Bi Lian. Tamparan yang nampaknya perlahan saja. Akan tetapi Bi Lian tidak berani memandang rendah karena ia pun maklum bahwa pemuda ini, biarpun ugal-ugalan dan berlagak tolol, ternyata memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Ia pun cepat mengelak dan membalas dengan tusukan tangan miring ke arah lambung. Akan tetapi, Hay Hay membalikkan tangan yang menampar ke bawah, secara tak tersangka-sangka tangannya yang seperti kepala ular itu telah menyambar ke bawah dan dia berhasil menangkap pergelangan tangan gadis itu.
"He-heh...... !" Dia tertawa akan tetapi hanya sebentar karena bukan main kagetnya ketika tangan kedua dari gadis itu tahu-tahu telah menyambar ke arah mukanya, dengan telunjuk dan jari tengah menusuk ke arah mata!
"Eeiiiittt...! Aku belum mau menjadi buta!" katanya, terpaksa melepaskan tangkapan tangannya dan meloncat ke belakang. Bi Lian melihat betapa pergelangan tangannya yang dipegang tadi terdapat tanda bekas jari tangan dan ia pun menjadi marah bukan main.
Tiba-tiba dari mulutnya keluar suara melengking tinggi yang menggetarkan jantung Hay Hay. Pemuda ini terkejut bukan main ketika merasa betapa jantungnya terguncang dan tubuhnya menggigil mendengar suara melengking ini. Tahulah dia bahwa gadis itu mempergunakan semacam ho-kang (ilmu khikang yang dilancarkan melalui suara) yang amat kuat. Ilmu seperti ini hanya dapat dilakukan oleh orang yang memiliki sin-kang dan khikang yang amat kuat, seperti binatang harimau dan singa yang mampu melumpuhkan lawan hanya dengan gerengannya saja!. Maka dia pun cepat menahan napas mengerahkan sin-kangnya, lalu dia pun tertawa bergelak-gelak. Dari suara ketawanya ini keluar gelombang suara yang kuat, menahan gelombang suara lengkingan yang dikeluarkan Bi Lian.
Pada saat itu, Bi Lian, tanpa menghentikan lengkingannya, sudah menerjang lagi, kini pukulannya yang dilakukan dari kanan kiri, menampar-nampar ke arah kepala sampai ke pinggang, diselingi tendangan-tendangan maut yang amat cepat. Melihat ini, Hay Hay juga cepat mengeluarkan langkah ajaibnya, mengelak dan membalas serangan Bi Lian. Ketika tangan kanan Bi Lian yang menyambar pelipisnya dapat dielakkan, otomatis tangannya menotok ke arah leher gadis itu sambil tangan kirinya menangkis datangnya tendangan. Tangkisan tendangan itu membuat tubuh Bi Lian terguling dan Hay Hay merasa terkejut dan menyesal sekali. Tak disangkanya bahwa tangkisannya itu mempergunakan tenaga terlampau kuat sehingga dia membuat gadis itu terpelanting. Dia cepat membungkuk untuk membantu gadis itu bangun kembali, akan tetapi tiba-tiba kaki kiri gadis itu menyambar dari bawah dalam posisi terpelanting tadi.
Hay Hay terkejut. Baru tahulah dia bahwa gadis itu bukan terpelanting sungguh-sungguh, melainkan hanya pancingan saja. Tendangan yang demikian cepatnya menyambar selagi tubuhnya membungkuk untuk menolong, maka tak sempat lagi ditangkis atau dielakkan. Segera dia mengerahkan sinkang ke arah pinggangnya yang disambar tendangan itu.
"Bukkk...!" Dan tubuh Hay Hay terlempar sampai tiga meter, jatuh bergulingan, namun dia tidak terluka. Gadis itu seperti menendang sebuah bola karet saja yang terisi angin! Semua gerakan kedua orang tadi amat cepat tak dapat diikuti oleh pandangan mata orang biasa, dan mereka pun bergerak hanya mengandalkan kecepatan yang melebihi perhitungan pikiran. Gerakan yang sudah mendarah daging dan semuanya serba otomatis, baik menyerang, menangkis atau mengelak. Kepekaan syaraf yang memegang peran. Gerakan reflex yang merupakan reaksi daripada semua otot dan syaraf di dalam tubuh dan seringkali di luar kecepatan perhitungan pikiran.
"Heh-heh-heh!" Hay Hay bangkit dan mengebut-ngebut pakaiannya yang terkena debu. "Terima kasih, tendanganmu lumayan lunak membuat pegal-pegal di pinggangku lenyap seketika."
Hay Hay hanya bergurau, akan tetapi Bi Lian menjadi semakin marah karena ia menganggap pemuda itu mengejeknya. "Singgg..... !" Tiba-tiba tangan gadis itu sudah memegang sebatang pedang! Hay Hay terkejut. Gadis itu tidak kelihatan membawa pedang, akan tetapi kini tahu-tahu memegang sebatang pedang yang berkilauan saking tajamnya, seperti main sulap saja. Dia dapat menduga bahwa tentu pedang di tangan gadis itu sebatang pedang tipis yang dapat digulung, terbuat dari baja yang amat baik dan pedang seperti itu amat berbahaya dan tajam.
"Aihhh, nanti dulu, Nona Cu Bi Lian. Kenapa engkau mengeluarkan senjata? Apakah untuk urusan kecil ini saja engkau benar-benar bermaksud untuk membunuh aku? Kita baru saja berkenalan, tidak ada hal-hal yang pantas dijadikan alasan bagimu untuk membunuhku."
"Tak perlu banyak cakap lagi. Keluarkan senjatamu dan mari kita lanjutkan perkelahian ini. Kita berdua bukan anak-anak kecil lagi, sama-sama memiliki ilmu silat, dan mari kita bertanding untuk menentukan siapa yang lebih unggul!" kata Bi Lian, masih merasa penasaran sekali karena dalam perkelahian tadi, biarpun ia belum kalah, namun jauh untuk dapat dibilang ia menang. Dan sikap pemuda itu yang agaknya memandang ringan dan mengejeknya, sungguh membuat hatinya panas sekali. Tendangan tadi dikatakan lunak dan hanya dapat mengusir pegal-pegal!
Sebetulnya Hay Hay masih ingin untuk menguji kehebatan gadis itu bermain pedang. Namun, melihat betapa sepasang mata yang indah itu mencorong penuh dengan kemarahan, dia tahu bahwa dia tidak boleh mendesak terlalu jauh, karena salah-salah hal ini hanya akan menumbuhkan kebencian dalam hati gadis itu terhadap dirinya. Dan dibenci oleh gadis sejelita itu, wah, dia merasa keberatan sekali.
"Nona yang baik ......"
"Sudah, tak perlu lagi merayu. Aku bukan Nona yang baik!" Bi Lian memotong.
Hay Hay mengembangkan kedua lengan, mengangkat pundak. "Habis, apakah aku harus menyebut Nona yang jelek! Padahal engkau sama sekali tidak jelek, sama sekali tidak jahat. Nona yang baik, apakah engkau tidak merasa malu untuk menjilat ludah sendiri yang sudah dikeluarkan?"
Bi Lian mengerutkan alisnya. "Apa? Jangan bicara yang bukan-bukan engkau!"
"Nona tadi sudah mengatakan bahwa kalau aku dapat memberi keterangan tentang dua pasang suami isteri, maka Nona tidak akan mengajakku bertanding lagi. Dan aku sudah memberi keterangan bahwa aku mengenal mereka. Kenapa Nona hendak mengingkari janji sendiri? Bukankah itu berarti menjilat kembali ludah sendiri yang sudah dikeluarkan?"
"Tidak ada yang menjilat ludah, tidak ada yang melanggar janji! Engkau hanya mengatakan kenal saja, akan tetapi tidak tahu mereka tinggal di mana. Keterangan macam apa itu? Tidak ada harganya sekeping pun!"
Hay Hay mengangguk-angguk. "Kalau aku mengetahui di mana biasanya mereka itu tinggal, apakah Nona sudah menganggap lunas perhitungan antara kita dan tidak akan memaksaku bertanding lagi?"
Timbul harapan di hati Bi Lian. Memang ia ingin sekali menghajar laki-laki yang membuatnya jengkel itu. Akan tetapi kini ia pun sudah tahu bahwa Hay Hay lihai sekali, agaknya tidak akan mudah baginya untuk dapat menangkan pemuda itu. Ia tidak takut menghadapinya, bahkan merasa penasaran dan ingin sekali mengalahkannya, akan tetapi ia lebih membutuhkan keterangan tentang dua pasang suami isteri yang menjadi musuh besarnya itu. Sudah lama sekali ia mencari tanpa hasil dan kini ia bertemu dengan orang yang mengenal mereka dan tahu di mana biasanya mereka tinggal. Kalau ia hanya menurutkan kemarahan hatinya dan kehilangan kesempatan baik ini untuk mengetahui tempat tinggal musuh-musuhnya, sungguh ia rugi sekali.
"Baik, kuberi kesempatan sekali lagi. Katakan di mana mereka berada dan aku akan segera pergi meninggalkanmu, tidak memaksamu untuk bertanding." katanya, akan tetapi ia masih memegang pedangnya. "Kalau engkau merayu dan membohong sekali lagi, pedangku tentu akan memenggal batang lehermu!"
Hay Hay memanjangkan lehernya dan menggunakan kedua tangan mengulur lehernya sambil menjulurkan lidah, kelihatan merasa ngeri. "Wah, kalau sampai putus, bagaimana menyambungnya kembali? Nah, dengarlah baik-baik, Nona. Lam-hai Siang-mo adalah suami isteri yang bernama Siangkoan Leng dan Ma Kim Li. Mereka dulu tinggal di kota Nan-king sebagai pedagang obat. Mungkin Nona dapat mencari mereka di Nan-king atau di daerah pantai selatan, karena sesuai dengan julukan mereka, tentu suka berkeliaran di pantai laut selatan. Ada pun suami isteri Guha Iblis Pantai Selatan, bernama Kwee Siong dan isterinya Tong Ci Ki. Mereka pun merupakan tokoh-tokoh pantai selatan, tentu tidak akan sukar menemukan dua pasang suami isteri itu."
Girang rasa nati Bi Lian mendengar keterangan ini. Biarpun belum ada kepastian di mana tempat tinggal dua pasang suami isteri itu, setidaknya ia telah memperoleh pegangan dan dapat mencari jejak mereka.
"Keteranganmu cukup dan hari ini kau kubebaskan. Akan tetapi kalau sampai keteranganmu ini bohong, lain hari aku akan mencarimu dan akan membuat perhitungan sampai lunas!" Setelah berkata demikian, gadis itu meloncat dan berlari dengan cepat sekali sehingga sebentar saja lenyap dari pandang mata Hay Hay.
"Uhhhhh .......!" Hay Hay menarik napas lega. Seorang gadis yang bukan main! Dia merasa semakin kagum. Cu Bi Lian itu bukan saja cantik jelita dan manis, akan tetapi juga memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali. Sayang, ilmu silatnya memiliki sifat yang ganas, liar dan kejam, banyak gerakan-gerakan yang curang dan hanya dimiliki oleh orang-orang dari golongan sesat. Sayang dia tidak dapat mengetahui keadaan gadis itu lebih banyak, murid siapa, anak siapa dan dari golongan mana. Biarpun melihat wataknya yang ganas dan keras, juga ilmu silatnya menunjukkan bahwa gadis itu agaknya mempelajari ilmu silat tinggi dari kaum sesat, namun kenyataan bahwa gadis itu memusuhi dua pasang suami isteri iblis, melegakan hati Hay Hay. Memusuhi golongan sesat hanya berarti bahwa gadis itu sendiri bukan dari golongan sesat! Mudah-mudahan demikian, pikirnya sambil menarik napas panjang, teringat akan keganasan gadis itu yang hendak membunuhnya!
***
"'Han Siong, kini tibalah saatnya engkau harus pergi meninggalkan kuil ini dan memenuhi harapan yang selama ini terkandung di dalam hati kami. Tentu engkau mengerti akan isi hati kami dan tahu apa yang kami harapkan darimu, muridku."
Han Siong menundukkan mukanya dan mengangguk. Pemuda ini berlutut di depan suhu dan subonya. Siangkoan Ci Kang, laki-laki tinggi tegap yang gagah perkasa dan lengan kirinya buntung sebatas siku, kini telah berusia empat puluh tahun. Usia yang belum tua benar, namun wajahnya yang tampan dan dingin itu penuh dengan garis-garis keprihatinan. Pendekar ini sejak muda memang bernasib buruk, karena sebagai putera seorang datuk sesat yang amat kejam, dia memiliki watak gagah perkasa dan seringkali bertentangan dengan mendiang ayahnya. Kemudian pemuda ini pun gagal dalam cintanya, dan biarpun akhirnya dia bertemu dengan Toan Hui Cu yang senasib sehingga keduanya saling tertarik dan saling jatuh cinta, namun penderitaan hidupnya tidaklah berakhir. Bahkan, bersama Toan Hui Cu yang telah menjadi isterinya tanpa pernikahan, dia harus menjalani hukuman dua puluh tahun! Bukan hanya itu, puteri mereka satu-satunya,yang mereka titipkan kepada keluarga Cu di dusun, telah lenyap diculik orang! Mereka berdua tidak berdaya, tidak mampu melakukan pencarian karena mereka belum selesai menjalani hukuman. Kini dia duduk bersila, berdampingan dengan Toan Hui Cu yang kini usianya sudah tiga puluh sembilan tahun. Wanita ini pun nampak dingin dan mukanya agak pucat, pembawaannya anggun dan angkuh.
"Teecu (murid) mengerti apa yang diharapkan Suhu dan Subo. Teecu akan segera pergi mencari adik Siangkoan Bi Lian." jawab Han Siong dengan tegas karena memang dia ingin memegang janjinya, ingin membalas kebaikan suhu dan subonya dengan mencari puteri mereka sampai dapat. "Teecu hanya akan kembali ke sini menghadap Suhu dan Subo kalau teecu sudah berhasil menemukan Adik Bi Lian, dah tidak akan kembali kalau belum berhasil."
"Han Siong, engkau tentu tahu bahwa aku akan menanti kembalimu siang malam dengan hati yang penuh harapan." Toan Hui Cu bicara, suaranya penuh dengan keharuan walaupun wajahnya tetap dingin. "Carilah anakku sampai dapat, dan engkau hati-hatilah, muridku. Engkau sudah sering kami ceritakan tentang tokoh-tokoh di dunia persilatan dan ketahuilah bahwa selain mereka yang kami kenal dan sudah kami ceritakan kepadamu, masih banyak lagi orang pandai di dunia ini."
"Teecu akan selalu mengingat nasihat Subo dan Suhu." jawab Han Siong.
"Kami tahu bahwa tidak akan mudah mencari Bi Lian, karena tidak ada jejak ditinggalkan anak itu. Akan tetapi mengingat bahwa lenyapnya bersamaan dengan keributan yang terjadi di dusun, kabarnya ada manusia-manusia iblis yang berkelahi di sana, maka carilah ia diantara tokoh-tokoh dan kaum sesat.." Siangkoan Ci Kang menambahkan, "Selain itu, Han Siong, ada satu hal yang penting lagi yang telah kami ambil menjadi keputusan hati kami berdua. Kami hanya mengharapkan bahwa engkau tidak akan menolak apa yang menjadi keinginan hati kami ini." Gurunya itu berhenti dan agaknya merasa sukar untuk melanjutkan kata-katanya. Ketika Han Siong menengadah dan memandang mereka, dia melihat suhu dan subonya saling pandang dengan khawatir .
"Han Siong, selama ini engkau sudah seperti anak kami sendiri, bukan? Maka, kurasa engkau tidak akan menolak keinginan kami..." kata pula subonya, akan tetapi wanita itu juga tidak melanjutkan kata-katanya.
"Suhu dan Subo, apakah yang menjadi keinginan hati Ji-wi? Katakanlah, teecu pasti akan memenuhi keinginan Suhu dan Subo yang telah melimpahkan budi selama ini terhadap diri teecu. Katakanlah, Suhu."
Siangkoan Ci Kang menarik napas panjang, lalu berkata, "Hukuman kami masih tinggal dua tahun lagi, Han Siong. Setelah itu baru kami akan meninggalkan kuil ini dan pergi sendiri mencari anak kami. Kami telah mengambil keputusan untuk... menjodohkan Bi Lian denganmu, Han Siong. Karena itu, dalam waktu dua tahun, sebelum kami meninggalkan kuil, kami harap engkau suka datang untuk melaporkan hasil penyelidikanmu mengenai puteri kami."
Bukan main kagetnya hati Han Siong mendengar ucapan kedua gurunya itu. Dia dijodohkan dengan puteri gurunya? Melihat pun belum pernah puteri gurunya itu! Di lubuk hatinya timbul perasaan menentang karena dia sama sekali tidak pernah berpikir tentang perjodohan. Akan tetapi bagaimana mungkin dia akan menolak keinginan hati suhu dan subonya? Dia hanya menundukkan mukanya dan sampai lama tidak mampu menjawab. Melihat keraguan muridnya ini, suami isteri yang sakti itu saling pandang kemudian Toan Hui Cu mengerutkan alisnya bertanya. "Bagaimana, Han Siong. Maukah engkau menerima keinginan kami untuk menjadi calon jodoh anak kami Bi Lian?"
Melihat isterinya mendesak, Siangkoan Ci Kang cepat menyambung. "Han Siong, kami tahu bahwa perjodohan adalah satu di antara peristiwa yang ditentukan oleh Thian (Tuhan). Seperti kami katakan tadi, kami berdua melihat betapa baiknya kalau Bi Lian berjodoh denganmu, dan hal itu merupakan keinginan hati kami saja. Akan tetapi keputusannya kelak, terserah kepada kehendak Thian. Engkau perlu mengetahui saja bahwa kami ingin sekali menjodohkan Bi Lan denganmu, kami sama sekali tidak memaksa dan biarlah kita bicarakan lagi urusan perjodohan ini kalau engkau atau kami sudah berhasil menemukan kembali Bi Lian."
Lega rasa hati Han Siong mendengar ucapan suhunya itu. Dia tidak ingin mengecewakan hati kedua orang gurunya dengan penolakan. Akan tetapi bagaimana mungkin dia menerima begitu saja uluran tangan untuk berjodoh, tanpa lebih dulu melihat bagaimana keadaan orang yang akan dijadikan jodohnya, dan tanpa bertanya pula kepada pihak keluarganya? Ucapan suhunya membuat hatinya terasa lega dan cepat-cepat dia memberi hormat dan berkata.
"Suhu dan Subo, teecu selalu mentaati semua perintah Suhu dan Subo. Teecu rasa yang paling penting sekarang ini adalah lebih dulu menemukan Adik Bi Lian."
Suami isteri itu kembali saling pandang dan keduanya merasa lega juga. Bagaimanapun, murid mereka itu tidak menolak. Mereka lalu mempergunakan waktu semalam itu untuk memberi nasihat-nasihat kepada Han Siong, juga menceritakan kepada murid mereka itu tentang keadaan di dunia kang-ouw, tentang banyaknya orang pandai yang berwatak palsu, curang dan jahat sekali. Juga mereka menceritakan tentang para pendekar yang gagah perkasa yang pernah mereka kenal.
Pada keesokan harinya, barulah Han Siong meninggalkan kamar di mana suhu dan subonya menjalani hukuman kurungan mereka. Malam tadi, untuk pertemuan dengan murid mereka, Toan Hui Cu meninggalkan kamarnya dan mereka bertiga berkumpul di dalam kamar Siangkoan Ci Kang, tanpa diketahui siapapun juga. Ketika murid mereka hendak pergi, Siangkoan Ci Kang menyerahkan sebatang pedang kepadanya sambil berkata dengan suara halus.
"Muridku, kauterimalah pedang ini dari kami. Pedang ini adalah Kwan-im-kiam (Pedang Kwan Im), cocok sekali untuk ilmu silat pedang Kwan-im Kiam-sut yang sudah kami ajarkan kepadamu. Pedang ini tadinya kami simpan untuk Bi Lian, dan sekarang kami serahkan kepadamu sebagai bekal untuk melindungi dirimu sendiri dari orang-orang jahat. Selain itu, juga untuk peringatan bagimu bahwa Suhu dan Subomu telah menyerahkan puteri mereka kepadamu ........" Sampai di sini Siangkoan Ci Kang terhenti dan dia memandang terharu.
Han Siong menerima pedang itu, pedang yang ringan dan pendek, lalu menyimpannya di dalam buntalan pakaiannya. Dia meninggalkan kamar renungan dosa atau kamar penebus dosa itu, diikuti pandang mata suhu dan subonya yang merasa kehilangan karena selama delapan tahun ini mereka menggembleng Han Siong seperti anak sendiri. Sejak Han Siong masih seorang anak laki-laki sampai kini menjadi seorang pemuda dewasa berusia dua puluh tahun!
Pada keesokan harinya, Han Siong menghadap Ceng Hok Hwesio, ketua kuil itu yang kini telah menjadi seorang kakek yang tua sekali. Dengan usianya yang tujuh puluh tiga tahun, Ceng Hok Hwesio masih nampak gagah, tinggi besar bermuka hitam dan wataknya masih keras berdisiplin. Ketika Han Siong menghadap padanya untuk berpamit, hwesio ini mengangguk-angguk. Selama ini, Han Siong tinggal di kuil sebagai seorang kacung, namun karena pemuda ini titipan dari paman gurunya, Pek Khun, maka pemuda itu diperlakukan dengan sikap yang baik.
"Omitohud, betapa cepatnya waktu berlalu, Han Siong." kata Ceng Hok Hwesio ketika pemuda itu berlutut menghadapnya dan mengatakan bahwa hari itu juga dia hendak pergi meninggalkan kuil.
"Telah tiga belas tahun teecu berdiam di kuil ini dan telah menerima banyak kebaikan dari Suhu dan para Suhu di kuil ini. Teecu menghaturkan banyak terima kasih dan apabila selama ini teecu melakukan kesalahan-kesalahan, sudilah kiranya Suhu memberi maaf kepada teecu."
"Siancai...! Pinceng merasa bangga padamu, Han Siong. Walaupun engkau tidak menjadi hwesio, namun engkau telah mempelajari banyak tentang agama kita, mau memperhatikan tentang kebudayaan, filsafat dan pengertian tentang kehidupan. Dan walaupun engkau bukan murid Siauw-lim-pai, namun di sini engkau telah memperoleh ilmu silat yang pinceng tahu amat tinggi. Mudah-mudahan saja engkau pandai-pandai membawa diri di dalam dunia ramai dan tidak mengecewakan bahwa engkau telah pernah tinggal menggembleng diri di sini selama tiga belas tahun."
"Semua nasehat Suhu akan teecu perhatikan baik-baik."
"Ada satu hal penting yang perlu kauketahui, Han Siong. Tahukah engkau di mana adanya keluargamu?"
Han Siong menggelengkan kepalanya. "Justeru teecu ingin bertanya kepada Suhu di mana teecu dapat bertemu dengan kakek buyut Pek Khun yang dulu membawa teecu ke kuil ini."
Hwesio tua itu menarik napas panjang. "Aihhh pinceng sendiri tidak tahu di mana Pek Khun Susiok berada. Mungkin dia kembali ke Kun-lun-san. Akan tetapi menurut apa yang dipesannya kepada pinceng ketika dia menitipkan engkau di sini, setelah engkau dewasa, engkau diharuskan mencari keluargamu, yaitu keluarga Pek. Ayahmu adalah cucu Susiok Pek Khun. Ayahmu bernama Pek Kong, putera Ketua Pek-sim-pang yang berasal dari daerah Kong-goan di Propinsi Secuan. Nah, Engkau carilah keluargamu di sana, Han Siong."
Setelah menerima banyak petunjuk dari Ceng Hok Hwesio, berangkatlah Han Siong meninggalkan kuil itu. Tentu saja telah terjadi perubahan besar selama tiga belas tahun ini atas dirinya. Ketika dia datang bersama kakek buyutnya, dia hanya seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun yang belum tahu apa-apa, hanya memiliki dasar-dasar ilmu silat yang diajarkan oleh kakek buyutnya. Kini, dia telah menjadi seorang pemuda dewasa. Bukan saja luas pengetahuannya karena dia tekun mempelajari sastera dari kitab-kitab yang banyak terdapat di kuil itu. Akan tetapi juga dia telah digembleng secara tekun selama delapan tahun ini oleh suami isteri sakti Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu. Selain telah melatih diri dengan tiga belas jurus Pek-sim-kun yang merupakan inti dari ilmu silat perkumpulan Pek-sim-pang, juga dia telah digembleng oleh Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu yang memiliki bermacam-macam ilmu silat. Juga ilmu yang baru didapatkan oleh dua orang itu, yaitu ilmu Kwan-im Kiam-sut dan Kwan-im Sin-kun telah dipelajarinya dengan baik sekali. Selain semua ilmu silat itu, juga dari subonya, Toan Hui Cu, Han Siong telah pula mempelajari ilmu Hoat-sut atau sihir yang mempergunakan kekuatan hitam untuk menundukkan lawan! Hal ini tidaklah aneh karena Toan Hui Cu adalah puteri dari Raja dan Ratu Iblis yang selain tinggi sekali ilmu silatnya, juga merupakan datuk-datuk sesat.
Han Siong melakukan perjalanan cepat, menuju ke Secuan karena dia akan mencari keluarganya lebih dahulu sambil mendengarkan kalau-kalau ada jejak Bi Lian. Musim salju telah tiba dan di mana-mana hawanya dingin bukan main. Pohon-pohon yang sudah kehilangan daun-daunnya di musim rontok, kini dihias salju seperti kapas putih bersih, membuat pohon-pohon itu nampak seperti hiasan-hiasan yang indah.
Han Siong berjalan seorang diri melalui jalan yang tertutup salju. Hujan salju baru saja berhenti dan biarpun cuaca nampak sudah terang, namun dinginnya bukan kepalang. Han Siong mengenakan jubah yang cukup tebal, dan ini pun harus dibantu dengan pengerahan sinkang yang membuat tubuhnya terasa hangat. Nampak uap putih agak tebal keluar dari hldung dan mulutnya setiap kali dia menghembuskan napas. Pemuda ini telah menjadi seorang laki-laki dewasa yang tampan. Wajahnya yang berbentuk bulat itu memiliki kulit muka yang putih dan kedua pipinya membayangkan warna kemerahan yang sehat. Demikian pula bibirnya nampak merah tanda sehat. Alisnya lebat dan hitam, sepasang matanya yang agak sipit itu bersinar terang dan tajam lembut. Tubuhnya sedang dan tegap, kaki tangannya juga padat dan nampak kuat karena sejak kecil Han Siong melakukan segala macam pekerjaan yang kasar di dalam kuil, seperti menebang pohon, membelah kayu dan memikul air. Gerak-geriknya halus dan wajah itu anggun dan kemerahan bersinar dari pandang mata dan gerak bibirnya.
Han Siong adalah seorang pemuda yang sederhana. Pakaian yang menempel di tubuhnya adalah pakaian yang diterimanya dari pemberian Ceng Hok Hwesio, terbuat dari kain kasar berwarna putih dan kuning. Jubah tebal itu terbuat dari kapas, akan tetapi juga kasar, seperti yang dipakai oleh para hwesio kuil itu di musim salju. Buntalan pakaiannya hanya terisi beberapa potong pakaian dan juga pedang Kwan-im-kiam pemberian gurunya, dan sedikit uang perak yang berada di dalam buntalannya adalah pemberian Toan Hui Cu.
Hari telah menjelang senja ketika dia tiba di puncak bukit itu. Sebuah bukit gundul yang hanya ditumbuhi pohon-pohon yang kini sudah menjadi hiasan putih dari salju. Tempat itu nampak lengang dan dinginnya bukan kepalang. Han Siong memandang ke bawah, ke arah timur. Di lereng itu terdapat sebuah dusun, pikirnya girang. Di musim salju begini, dia harus mendapatkan rumah penduduk atau setidaknya guha atau tempat yang terlindung untuk melewatkan malam. Tidak seperti di musim lain, di mana dia dapat saja melewatkan malam di bawah pohon sambil membuat api unggun. Tersesat di tempat yang tidak terlindung dalam musim dingin seperti ini, amatlah berbahaya. Orang dapat mati kedinginan. Ketika Han Siong hendak menuruni bukit itu dengan cepat agar tidak sampai kemalaman tiba di dusun di lereng itu, tiba-tiba dia mendengar suara orang tertawa-tawa. Suara ketawa itu parau dan aneh, juga menyeramkan. Di tempat sunyi seperti itu, di mana hawa dingin membuat orang menggigil, bagaimana tiba-tiba saja terdengar suara orang tertawa-tawa? Han Siong merasa tertarik dan cepat dia menghampiri tempat dari mana datangnya suara itu, yaitu dari balik sebuah batu gunung. Ketika dia tiba di balik batu besar itu, Han Siong berdiri tertegun, bahkan matanya terbelalak memandang ke depan. Penglihatan di depan memang sungguh luar biasa sekali. Seorang kakek sukar ditaksir berapa usianya, berkepala gundul, berperut gendut sekali, sehingga tubuhnya nampak serba bulat, sedang membuat sebuah boneka salju! Hebatnya kakek yang tertawa-tawa itu bertelanjang dada, hanya memakai celana panjang saja, disambung sepatu rumput. Dalam hawa sedingih itu bertelanjang badan atas, sungguh merupakan hal yang luar biasa sekali. Apalagi masih sempat tertawa-tawa dah bermain-main seorang diri membuat boneka salju, tertawa dan membentuk boneka besar itu, sebesar dirinya, bahkan boneka itu pun menyerupai dirinya, seorang kakek gundul dengan perut gendut bukan main!
Biarpun Han Siong belum memiliki banyak pengalaman di dunia persilatan, namun melihat keadaan kakek gendut itu, dia dapat menduga bahwa tentu dia bertemu dengan seorang kakek yang sakti. Baru keadaannya setengah telanjang di antara salju itu saja sudah membuktikan akan kesaktiannya. Tanpa memiliki sin-kang yang luar biasa kuatnya, tidak mungkin orang dapat bertahan bermain-main dengan salju dengan tubuh atas telanjang. Dan masih dapat tertawa-tawa pula! Maka dia pun bermaksud untuk meninggalkan kakek itu, tidak ingin perjalanannya menuju ke dusun di bawah itu terganggu dan terlambat. Dia sudah memutar tubuh untuk pergi ketika terdengar suara dari belakangnya, suara yang parau dan nyaring.
"Heiii! ' Enak saja kau. Berhenti!"
Tentu saja Han Siong terkejut mendengar teguran yang tidak ramah, bahkan agak kasar ini. Dia tidak mau mencari urusan, maka dia pun membalik, memandang dengan wajah ramah penuh hormat.
"Maaf, saya tidak ingin mengganggu keasyikan Locianpwe." kata Han Siong, menyebut Locianpwe (Orang Tua Perkasa) dan bersikap hormat karena dia yakin bahwa kakek itu seorang sakti.
Sejenak kakek itu memandang penuh perhatian dan Han Siong melihat betapa sinar mata yang mencorong itu seolah-olah mendatangkan rasa hangat ketika menyoroti tubuhnya. Diam-diam ia bergidik.
"Orang muda, engkau datang melihat pekerjaanku tanpa diundang, maka kini engkau tidak boleh pergi begitu saja tanpa perkenanku!"
Han Siong terkejut, akan tetapi menahan sabar. Dia melihat kakek itu kini sudah melanjutkan pekerjaannya membuat boneka besar dari salju itu, agaknya sudah lupa kepadanya karena tidak mempedulikannya sama sekali. Han Siong berdiri saja menonton, tidak tahu harus berbuat apa, akan tetapi merasa lebih aman untuk tutup mulut untuk sementara ini. Jelas bahwa kakek ini berwatak kasar dan aneh, dan siapa tahu dia akan mendapat kesukaran kalau dia memaksa diri pergi meninggalkan kakek itu. Maka dia berdiri menonton, merasa betapa kedua kakinya hampir beku karena hawa dingin dari tanah berlapis salju itu seperti menembus sepatunya dan meresap masuk ke dalam kedua kaki melalui telapak kakinya. Terpaksa dia mengerahkan sin-kangnya ke arah kedua kaki, memaksa hawa dingin itu turun kembali dan karena pengerahan sinkang ini, maka uap putih mengepul tebal dari kepalanya.
Ada setengah jam Han Siong berdiri menonton. Dia pikir kalau kakek itu sudah selesai membuat boneka salju, tentu dia diperbolehkan pergi. Akan tetapi kakek itu masih terus memperbaiki boneka yang sudah selesai itu dan dia merasa betapa cuaca mulai agak gelap. Dia khawatir tidak akan dapat masuk ke dusun itu dalam waktu yang tepat, yaitu sebelum malam tiba.
"Locianpwe, maafkan saya. Saya harus pergi sekarang, khawatir kalau sampai kemalaman sebelum tiba di dusun bawah itu."
"Kemalaman atau tidak bukan urusanku. Engkau sudah datang dan melihat, sekarang katakan bagaimana dengan hasil seni ciptaanku ini, miripkah dengan aku, baguskah?"
Han Siong merasa mendongkol juga. Kakek ini selain kasar, juga mau enaknya sendiri saja, tidak menghormati dan menghargai keperluan orang lain. Dia mengamati boneka salju yang runtuh karena saljunya merekah atau terlepas, untuk menyatakan kedongkolan hatinya, dia menjawab. "Boneka salju itu tidak dapat dibilang bagus."
Mendengar jawaban ini, kakek gendut itu melotot memandang kepada Han Siong, kelihatan marah sekali. "Apa... ?" Dia berteriak. "Engkau tidak dapat menghargai hasil karya seniku yang hebat ini? Sungguh goblok, sungguh tolol, sungguh tidak berselera tinggi! Hasil karya seni yang begini hebat, timbul dari inspirasi murni, kaukatakan tidak bagus, hah?"
Melihat orang itu marah-marah, Han Siong terkejut. Dia tidak ingin membuat orang marah, apalagi kalau sampai terjadi pertengkaran, maka cepat dia berkata.
"Locianpwe, bagaimanapun juga, harus kuakui bahwa boneka salju buatan Locianpwe ini mirip sekali dengan Locianpwe." Dan pujian ini memang bukan kosong belaka. Memang boneka itu mirip sekali penciptanya, baik bentuk badannya, mukanya dan kepalanya.
Akan tetapi, betapa kaget hati Han Siong ketika dia melihat kakek itu kini menjadi semakin marah, membanting-banting kakinya dan menudingkan telunjuknya ke arah hidung Han Siong. "Bocah kemarin sore, kau berani menghina kakek-kakek macam aku ya? Dua kali engkau menghinaku. Pertama, engkau tidak menghargai karya seniku yang agung, dan ke dua, engkau samakan aku dengan sebuah boneka salju yang tidak bernyawa! Sungguh kurang ajar engkau, ya?"
Hamprr saja Han Siong tertawa. Kakek ini memang aneh dan mau enak sendiri, akan tetapi kemarahannya itu disebabkan oleh hal-hal yahg aneh dan tak masuk akal, seperti anak kecil saja. Maka timbullah kegembiraannya dalam usahanya untuk menyenangkan hati kakek itu. Dua kali dia salah omong, walaupun maksudnya baik untuk memuji. Pertama kali dia bicara sejujurnya diterima salah, kemudian untuk kedua kalinya dia bicara untuk menyenangkan hati dan memuji, diterima salah pula. Dia lalu mengerahkan tenaga batinnya seperti yang diajarkan oleh subonya, menunjuk ke arah boneka salju dan dengan suara yang halus namun mengandung wibawa untuk menguasai pikiraan orang, dia berkata, "Locianpwe, siapa bilang boneka salju itu tidak bernyawa? Lihat, dia pandai berjalan!"
Kakek itu menengok memandang dan benar saja, dia melihat betapa boneka salju buatannya tadi kini berjalan-jalan, dengan langkah satu-satu, lucu sekali! Han Siong telah mempergunakan kekuatan sihirnya, seperti yang dipelajarinya dari subonya, membuat boneka salju itu berjalan-jalan dalam pandang mata kakek yang kasar dan galak itu.
Kakek itu terbelalak, lalu sengaja berjalan di belakang boneka itu sambil tertawa-tawa ha-ha-he-he, sehingga nampaklah pemandangan yang lucu sekali. Sepasang kakek kembar, yang satu dari salju, yang satu manusia tulen, berbaris ke kanan-kiri hilir-mudik. Lucunya, kakek gendut bahkan kini memberi aba-aba. "Satu, dua, tu-wa, tu-wa .....!"
Melihat ini, Han Siong merasa geli akan tetapi juga kasihan, maka dia tersenyum lebar dan menghentikan ilmu sihirnya. Akan tetapi, kini dia terbelalak dan mukanya berubah karena dia terkejut bukan main dan merasa terheran-heran. Boneka salju itu tidak berhenti melangkah, melainkan masih terus melangkah dan kakek gendut itu masih mengikuti di belakangnya sambil berseru, "Tu-wa, tu-wa, tu-wa!" dan tertawa-tawa!
Tentu saja Han Siong merasa terkejut dan heran. Boneka salju itu tadi berjalan karena pengaruh sihirnya. Akan tetapi mengapa setetah dia menghentikan pengerahan tenaga sihirnya, boneka salju itu masih berjalan terus? Dia terbelalak memandang akan tetapi kakek gendut itu tetap tertawa bergelak, bahkan kini mengeluarkan kata -kata parau. "Ha-ha-ha-ha! Boneka salju ini dapat berjalan, bukan hanya berjalan bahkan dapat menyerang dan bermain-main dengan orang muda yang lancang, ha-ha!"
Kini boneka salju itu berjalan dengan langkah lebar menghampiri Han Siong, kemudian menyerang Han Siong dengan gerakan yang cepat dan kuat sekali! Tentu saja hal ini mengejutkan pemuda itu dan cepat dia mengelak dengan loncatan ke samping, lalu kakinya melayang, menendang ke arah perut boneka salju itu dengan cepat.
"Prokkk .....!" Boneka salju itu hancur berhamburan dan Han Siong melompat ke belakang, masih terheran-heran mengapa boneka salju yang tadi disihirnya sehingga dapat berjalan itu, tahu-tahu dapat mengamuk setelah dia tidak menyihirnya! Akan tetapi Han Siong seorang pemuda yang amat cerdik. Dia sudah dapat menduga bahwa tentu kakek gendut itulah yang main-main dengan dia. Tentu kakek itulah yang mempergunakan kekuatan sihir yang lebih ampuh daripada kekuatannya sendiri untuk melanjutkan permainan itu, juga untuk mengejeknya. Pantas kakek itu tadi mengatakan bahwa dia lancang!
Kakek gendut itu kini terbelalak, marah melihat betapa boneka kesayangannya yang dinamakannya sendiri sebagai hasil karya seni agung itu dirusak orang. Sambil bertolak pinggang dan menggembungkan perutnya yang sudah gendut, dia berteriak.
"Orang muda yang jahat! Engkau berani merusak boneka saljuku?"
"Maaf, Locianpwe ......"
"Apa maaf! Tidak ada maaf bagimu! Engkau tadi telah menyamakan aku dengan boneka salju, bahkan engkau telah mencela pula mengatakan buatanku, hasil karya seni yang agung itu tidak bagus. Engkau harus dihajar!"
"Maaf, saya tidak sengaja untuk membikin Locianpwe marah "
"Sengaja atau tidak, aku sudah marah sekarang. Nah, kaulihat seranganku. Aku harus membalas dendam kehancuran bonoke salju." Berkata demikian, tiba-tiba tubuh yang gendut itu menerjang ke depan, seperti sebuah bola besar menggelinding dan tahu-tahu, dua buah lengan yang besar pendek telah menyerang dari atas bawah, kanan kiri dan serangan kedua tangan itu mendatangkan angin pukulan berdesir yang mengandung hawa panas!
Dengan gerakan yang halus namun cepat, Han Siong sudah cepat mengelak dengan menggeser kakinya dan meloncat ke kiri. Pukulan kedua tangan itu meluncur lewat dan ketika hawa pukulan yang ganas itu menyambar dan mengenai salju yang menempel pada batang pohon, salju itu pun mencair dan nampaklah kulit batang yang kehitaman! Diam-diam Han Siong terkejut bukan main. Itulah pukulan yang amat ampuh, yang mengandung tenaga sinkang yang luar biasa. Maka dia pun cepat mainkan Pek-sim-kun yang dipelajarinya dari catatan kakek buyutnya. Tiga belas jurus Pek-sim-kun ini adalah perasan dari Ilmu Silat Pek-sim-kun, merupakan intinya, karena itu hebatnya bukan kepalang.
Melihat gerakan pemuda itu, yang dilakukan dengan mantap, cepat dan mengandung sinkang yang kuat, kakek gendut itu mengimbanginya dengan elakan dan tangkisan yang kuat pula, dan membalas dengan pukulan-pukulan yang gayanya mirip dengan Pek-sim-kun. Tahulah Han Siong bahwa kakek ini pandai pula dengan ilmu silat Siauw-lim-pai, maka dia bersilat dengan hati-hati dan berganti-ganti memainkan jurus Pek-sim-kun yang tiga belas banyaknya itu.
"Wuuuuutttt ......!" Angin pukulan keras menyambar ketika Han Siong menyondongkan tubuh ke depan, lengan kanannya menyambar dari sampinK dengan dahsyatnya, meninju ke arah pelipis lawan sedangkan tangan kirinya membuat gerakan terputar di depan dada, lalu meluncur ke bawah sebagai serangan susulan, menghantam dengan telapak tangan terbuka ke arah pusar.
Hebat sekali jurus tangan terbuka dari Pek-sim-kun ini. Kakek gendut menyambutnya dengan tangkisan sambil mengeluarkan sertian kagum.
"Dukk! Desss .......!" Benturan dua tenaga dahsyat membuat bumi di bawah mereka seolah-olah tergetar dan kakek gendut ini melangkah mundur tiga tindak, sedangkan Han Siong agak terhuyung saking hebatnya tenaga lawan yang menangkisnya.
"Ha-ha-ha, ilmu silatmu hebat, berdasarkan ilmu Siauw-lim-pai. Sungguh engkau seorang pemuda yang mengagumkan, akan tetapi juga menjengkelkan karena engkau telah mengganggu aku!"
Kini Han Siong sudah merasa yakin bahwa dia berhadapan dengan seorang kakek sakti, maka kesempatan ini dia pergunakan untuk berkata. "Harap Locianpwe memaafkan kelancangan saya tadi..."
"Enak saja. tidak ada maaf-maafan, hayo sambut seranganku ini!" kata kakek itu yang agaknya timbul kegembiraannya karena mendapatkan seorang lawan tangguh dan kini tubuhnya sudah "menggelinding" lagi ke depan, mengirim serangan yang lebih dahsyat daripada tadi. Melihat ini, Han Siong mengerutkan alisnya. Agaknya kakek itu bersungguh-sungguh hendak membunuh atau melukainya, maka dia pun terpaksa harus membela diri. Dan karena lawannya bukan orang sembarangan, serangannya amat berbahaya, dia pun cepat mengerahkan semua tenaga dan kini dia mainkan ilmu-ilmu yang dipelajarinya dari suhu dan subonya selama delapan tahun ini di kuil Siauw-lim-pai, di dalam kamar Penebus Dosa.
Harus diketahui bahwa selain ilmu-ilmu yang cukup bersih yang dulu diperolehnya dari gurunya, yaitu Ciu-sian Lo-kai, Siangkoan Ci Kang juga memiliki ilmu-ilmu dari ayahnya, seorang datuk sesat yang berjuluk Iblis Buta. Ilmu-ilmu dari ayahnya ini banyak yang bersifat kotor dan kejam. Semua ilmu ini oleh Siangkoan Ci Kang diajarkan kepada Han Siong sehingga pemuda ini selain menerima ilmu yang bersih, juga menerima ilmu silat yang sifatnya kotor dan curang, seperti biasa sifat ilmu-ilmu berkelahi dari golongan sesat. Apalagi dari subonya, dia memperoleh ilmu-ilmu kesaktian yang ganas sekali mengingat bahwa subonya adalah anak tunggal dari mendiang Raja dan Ratu Iblis. Maka ketika kini dia mengeluarkan ilmu-ilmunya, kakek gendut itu beberapa kali mengeluarkan seruan kaget dan heran.
"Ihh, ganas, keji .....! Ilmu setan! Ilmu iblis!" Berkali-kali kakek itu berseru penasaran sambil mengelak atau menangkis. Mendengar seruan-seruan ini, Han Siong merasa malu juga. Dia pun sudah mendapat penjelasan dari suhu dan subonya akan sifat ilmu-ilmu yang dipelajarinya. Bahkan suhunya berkata antara lain demikian. "Baik buruk atau baik jahatnya suatu ilmu tergantung dari penggunaannya, muridku, tergantung daripada manusianya yang mempergunakan ilmu itu. Akan tetapi harus diketahui bahwa dalam ilmu silat, memang terdapat ilmu-ilmu yang sifatnya memang jahat, kejam, curang dan licik. Ilmu-ilmu silat semacam itu dipergunakan oleh kaum atau golongan sesat. Karena kami berdua memiliki lebih banyak ilmu silat kaum sesat itu, maka kami ajarkan keduanya kepadamu dengan harapan agar engkau mengerti benar bahwa yang penting adalah penggunaannya. Pergunakanlah ilmu-ilmu itu untuk membela kebenaran dan keadilan, sedangkan ilmu silat yang sesat itu dapat kaupergunakan untuk menghadapi lawan golongan sesat dan untuk memperoleh kemenangan dalam suatu perkelahian. Akan tetapi jangan sekali-kali dipergunakan untuk kejahatan, karena betapapun bersihnya suatu ilmu, kalau dipergunakan untuk kejahatan, ilmu itu pun menjadi ilmu kotor ."
Kini, teringat akan pesan gurunya, Han Siong merasa malu. Kakek yang menjadi lawannya ini adalah orang aneh yang memaksanya bertanding. Akan tetapi dia belum mengenalnya, belum tahu dari golongan mana kakek ini. Maka, memalukan kalau dia harus mengeluarkan ilmu-ilmu yang bersifat curang dan kejam itu. Cepat dia pun merobah gerakannya dan kini Han Siong bersilat dengan gerakan yang lemah lembut, halus seperti orang menari, namun di balik kehalusan itu tersembunyi kekuatan yang dahsyat. Itulah Ilmu Silat Kwan-im-kun!
Kakek gendut itu mengeluarkan seruan kaget dan heran ketika Han Siong pertama kali mengeluarkan jurus Ilmu Silat Kwan-im-kun, dan dia selalu mengelak dengan loncatan-loncatan ke kanan kiri dan setelah dia yakin benar akan ilmu silat pemuda itu, tiba-tiba tubuhnya meloncat jauh ke belakang.
"Haiii, engkau mainkan ilmu silat dari Kwan Im Nio-nio! Ia itu apamukah?" tanyanya dengan mata terbelalak.
Mendengar nama ini, Han Siong terus terang menjawb, "Saya tidak mengenal Kwan Im Nio-nio, Locianpwe."
"Mustahil! Jangan bohong kau! Engkau memainkan ilmu silatnya dan engkau mengatakan tidak mengenal pemiliknya? Kalau begitu, tentu engkau mencuri ilmunya itu!"
"Saya mempelajarinya dari Suhu dan Subo."
"Siapa nama Suhu dan Subomu? Apakah mereka itu murid Kwan Im Nio-nio? Rasanya tidak mungkin. Perempuan angkuh itu tidak pernah mau mempunyai murid, katanya ingin membawa mati semua ilmunya."
"Bukan, Locianpwe. Suhu bernama Siangkoan Ci Kang dan Subo bernama Toan Hui Cu, dan mereka secara kebetulan saja menemukan kitab-kitab ilmu yang saya mainkan tadi."
"Di mana ditemukannya? Dan apakah Kwan Im Nio-nio masih hidup? Hayo ceritakan semua, orang muda." Kakek itu kini bersikap ramah dan dia duduk begitu saja di atas tanah yang tertutup salju, wajahnya seperti seorang anak kecil yang siap mendengarkan dongeng yang menarik. Melihat ini legalah hati Han Siong. Agaknya kakek aneh ini, sudah tidak memusuhinya lagi, maka dia pun lalu duduk di atas sebuah batu karena dia tidak ingin membiarkan celananya basah seperti kakek itu. Dia lalu menceritakan tentang pengalaman suhu dan subonya menemukan kitab-kitab dan pedang seperti yang diceritakan oleh mereka kepadanya.
Secara kebetulan dan tidak disengaja, ketika Siangkoan Ci Kang memeriksa kamar di mana dia harus menjalani hukuman, dia menemukan kitab-kitab yang ada gambarnya Kwan Im Pouwsat. Bersama Toan Hui Cu dia lalu mempelajari dua buah kitab itu yang mereka nama kan Kwan-im-kun dan Kwan-im Kiam-sut sesuai dengan gambar-gambar Kwan Im Pouwsat yang menghias sampul-sampul dua buah kitab itu.
Kemudian, beberapa tahun kermudian, giliran Toan Hui Cu yang menemukan lubang rahasia di kamar ia menjalani hukumannya. Ketika ia membongkarnya, lubang di lantai itu menembus ke sebuah kamar di bawah tanah dan di situ ia menemukan rangka manusia yang masih mengenakan pakaian seperti pakaian Dewi Kwan Im Pouwsat, dan di atas pangkuan kerangka manusia itu ia menemukan sebatang pedang tipis pendek. Itulah pedang yang mereka namakan pedang Kwan-im-kiam yang kemudian mereka berikan kepada Han Siong sebagai tanda ikatan jodoh antara murid mereka itu dengan puteri mereka yang hilang diculik orang.
"Demikianlah, Locianpwe. Saya mewarisi kedua ilmu itu bersama pedangnya dari Suhu dan Subo yang menemukan semua itu di dalam kamar-kamar mereka di kuil Siauw-lim-si." Han Siong mengakhiri ceritanya tanpa menyebut tentang ikatan jodoh itu tentu saja.
Kakek gendut itu tiba-tiba menangis! Tentu saja Han Siong menjadi bengong. Dia mengamati dengan penuh perhatian, mengira bahwa kakek sakti ini tentu seorang yang sudah miring otaknya, atau memiliki watak yang demikian anehnya sehingga mendekati gila. Kakek yang duduk di atas tanah bersalju itu menangis dengan kedua punggung tangan menghapus air mata, pundaknya bergoyang-goyang, perutnya yang gendut itu bergerak-gerak, persis seperti seorang anak kecil, dari mulutnya keluar suara tangisan yang parau. Diam-diam keadaan ini menimbulkan keharuan dalam hati Han Siong. Patut dikasihani kakek itu,pikirnya.
"Aihhh, perempuan, memang aneh sekali .....!" Kakek itu kini berhenti menangis dan bicara seperti kepada diri sendiri. "Kwan Im Nio-nio, nenek tua bangka, kenapa engkau menyiksa dirimu sampai demikian rupa? Hemm, aku mengerti, engkau agaknya hendak menghabiskan sisa umurmu untuk menebus dosa di dalam kuil, membawa ilmumu dan pedangmu mengubur diri di dalam kuil. Akan tetapi, ternyata ada orang-orang yang berjodoh denganmu sehingga mewarisi pedang dan ilmu-ilmumu."
Kembali dia terisak. Han Siong membiarkan saja kakek itu menangis sampai akhirnya dia berhenti menangis, memandang kepadanya dengan mata merah. "Orang muda, siapakah namamu?"
"Nama saya Pek Han Siong, Locianpwe."
Kakek itu terbelalak dan memandang tajam. "Engkau she Pek? Kalau begitu limu silatmu yang pertama tadi adalah ilmu silat dari Pek-sim-pang? Engkau masih ada hubungan dengan para ketua-ketua Pek-sim-pang?"
"Saya adalah keturunan Ketua Pek-sim-pang."
'Ehhh... ?" Tiba-tiba kakek itu menggerakkan kedua tangannya ke depan da da, membuat gerakan-gerakan aneh dengan kedua tangannya sehingga Han Siong mengikuti gerakan-gerakan itu dengan heran. "Jangan bergerak!" kakek itu membentak dan tubuhnya sudah menerjang ke depan. Han Siong terkejut sekali ketika hendak mengelak, tiba-tiba tubuhnya tak dapat digerakkan! Dia segera sadar bahwa kakek itu telah menggunakan kekuatan sihir ketika berteriak melarang dia bergerak tadi. Dia pun segera mengerahkan kekuatan batinnya untuk melawan, akan tetapi ketika akhirnya dia mampu bergerak, baju di punggungnya sudah dirobek oleh kakek itu.
"Aih, benar ...!" Kakek itu berteriak kaget. "Ada tanda merah di punggungmu dan engkau keturunan ketua Pek-sim-pang." Dan tiba-tiba saja kakek gendut itu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Han Siong!
Tentu saja Han Siong terkeut bukan main. "Locianpwe... harap... harap jangan melakukan ini .....!" serunya.
"Paduka adalah Sin-tong yang telah lama menggegerkan seluruh daerah barat, sudah sepatutnya kalau saya menghormati paduka dan sudah sepatutnya kalau saya menyerahkan seluruh kepandaian yang ada kepada paduka ....."
Celaka, pikir Han Siong. Kakek ini benar-benar sinting! "Locianpwe, bangkitlah dan mari kita bicara dengan baik-baik ...."
"Tidak, saya tidak akan bangkit lagi sampai mati sebelum paduka menyatakan mau menerima ilmu-ilmu yang akan saya ajarkan kepada paduka."
Gila, pikir Han Siong. Ini namanya dunia dan aturannya sudah terbalik semua. Biasanya, seorang calon murid yang memohon sambil berlutut agar diterima menjadi murid. Akan tetapi kini kakek yang sinting ini bahkan berlutut dan mohon kepadanya agar suka menerima ilmu-ilmu yang akan diajarkan oleh kakek itu kepadanya! Akan tetapi apa salahnya? Kakek ini sakti, dan agaknya mengenal baik pemilik kitab-kitab Kwan-im-kun yang namanya Kwan Im Nio-nio itu.
"Baik, Locianpwe, saya suka mempelajari ilmu-ilmu dari Locianpwe, akan tetapi ada syaratnya."
"Silakan sebutkan apa syarat itu. Berbahagialah saya kalau dapat memberi bimbingan kepada Sin-tong!" kakek itu bicara dengan suara yang gembira bukan main!
"Syaratnya ada dua: Pertama, saya hanya akan belajar satu tahun saja kepada Locianpwe karena banyak urusan harus saya selesaikan. Ke dua: Locianpwe agar bersikap biasa seperti seorang guru terhadap murid, jangan menyebut Sin-tong kepada saya, melainkan menyebut nama saya saja, dan saya akan menyebut Suhu kepada Locianpwe. Bagaimana?"
Kakek itu menarik napas panjang. "Syarat ke dua itu berat, akan tetapi baiklah, Han Siong." Kakek itu bangkit berdiri dan kini Han Siong yang cepat berlutut dan memberi hormat sambil menyebut "Suhu".
"Mari kita duduk dan bicara. Aku ingin sekali mendengar tentang dirimu, Han Siong. Ah, betapa banyak sudah aku mendengar tentang dirimu yang dijadikan rebutan oleh semua orang gagah di dunia barat. Selama ini, di mana saja engkau bersembunyi?"
Karena dia sudah mengangkat kakek itu menjadi gurunya, maka Han Siong pun tidak mau merahasiakan lagi keadaan dirinya. Dia lalu menceritakan betapa sejak bayi dia dirawat oleh kakek buyutnya bernama Pek Khun yang mengajaknya bertapa di Pegunungan Kun-lun-san, kemudian betapa dia oleh kakek buyutnya dikirim ke kuil Siauw-lim-pai di Pegunungan Heng-tuan-san dan menjadi kacung di kuil sana.
"Di kuil itulah teecu (murid) bertemu dengan Suhu Siangkoan Ci Kang dan Subo Toan Hui Cu, menerima pelajaran ilmu-ilmu silat di samping teecu juga tekun mempelajari ilmu-ilmu kebudayaan dari kitab-kitab di dalam kuil, di bawah bimbingan para hwesio di sana. Setelah tamat belajar, barulah Suhu dan Subo menyuruh teecu untuk keluar dari kuil dan mencari keluarga teecu, yaitu keluarga Pek di Kong-goan."
Kakek itu mengangguk-angguk. "Agaknya Subo dan Suhumu itu orang-orang yang baik dan juga cerdas sekali. Akan tetapi bagaimana engkau dapat mempelajari ilmu sihir seperti yang kaupergunakan untuk menghidupkan boneka saljuku tadi?"
"Teecu mempelajarinya sedikit dari Subo. Ketika Subo menjalani hukuman di kuil Siauw-lim-si, ia juga banyak mem baca kitab-kitab dan ia menemukan kitab yang mengatakan bahwa dalam diri setiap orang terdapat kekuatan gaib yang tersembunyi. Subo sendiri adalah keturunan orang-orang sakti yang diam-diam memiliki kekuatan gaib yang amat kuat. Mulailah Subo melatih diri membangkitkan kekuatan gaibnya dan dia pun mulai mempelajari ilmu sihir di dalam Kamar Penebusan Dosa itu dan dari Subo teecu mempelajari sedikit ilmu sihir yang tidak ada artinya dibandingkan dengan ilmu sihir dari Suhu sendiri."
"Hemmm, Subomu itu she Toan, ya? Aku seperti pernah mendengar akan kehebatan orang-orang dari keluarga Toan, kalau tak salah keluarga pangeran ....."
"Tidak salah, Suhu. Subo Toan Hui Cu adalah puteri mendiang Pangeran Toan Jit-ong yang berjuluk Raja Iblis ......"
"Ya Tuhan ......! Benar, Raja dan Ratu Iblis ......!" Kakek itu terbelalak dan mengangkat kedua tangan ke atas saking kagetnya. "Pantas saja ilmu-ilmu silatmu bermacam-macam, dan banyak yang merupakan ilmu yang sesat! Untung Suhu dan Subomu itu menemukan ilmu peninggalan Kwan Im Nio-nio dan diajarkan kepadamu, dan untung pula engkau bertemu dengan aku. Ketahuilah, Han Siong. Kwan Im Nio-nio dan aku adalah dua orang di antara orang-orang yang dijuluki Delapan Dewa."
Han Siong memandang kagum, akan tetapi terus terang menjawab, "Suhu dan Subo di dalam kuil banyak bercerita kepada teecu tentang tokoh-tokoh di dunia persilatan, akan tetapi terus terang saja, teecu belum pernah mendenga akan nama Delapan Dewa."
Kakek itu menarik napas panjang. "Salah kami sendiri. Puluhan tahun yang lalu kami pernah memperoleh nama besar dan disegani oleh seluruh golongan di dunia persilatan. Akan tetapi pada suatu hari kami bertemu dan bentrok dengan Raja dan Ratu Iblis. Kami mengadu ilmu dengan mereka dengan perjanjian bahwa siapa yang kalah harus pergi bertapa dan tidak boleh lagi muncul di dunia persilatan. Dan kami kalah! Kami memegang janji. Masing-masing pergi bertapa dan memperdalam ilmu silat. Setelah kami memperoleh ilmu-ilmu yang tinggi, ternyata Raja dan Ratu Iblis telah tewas di tangan pendekar-pendekar muda. Demikianlah, kami sudah terlanjur suka bertapa dan tidak muncul lagi di dunia persilatan."
Han Siong mendengarkan dengan kagum. Mereka tentulah orang-orang yang menjunjung tinggi kegagahan sehingga mereka setia terhadap janji sendiri sampai rela menderita dan mengasingkan diri. "Siapakah tokoh yang lain dari Delapan Dewa kecuali Suhu dan Locianpwe Kwan Im Nio-nio?" tanyanya.
Kakek gendut itu menarik napas panjang. "Nama Delapan Dewa yang tadinya gemilang itu telah menjadi muram, bahkan tenggelam dan lenyap setelah kami ditaklukkan oleh Raja dan Ratu Iblis. Kami cerai berai, pergi bertapa dan tidak saling berhubungan lagi sampai puluhan tahun. Di antara kami yang delapan orang, hanya terdapat dua orang wanitanya, yaitu Kwan Im Nio-nio dan In Liong Nio. Yang enam orang sisanya adalah pria semua, susunannya seperti ini. Aku sendiri disebut orang Ban Hok Lojin atau juga diejek dengan sebutan Ji-lai-hud, kemudian Ciu-sian Lo-kai atau Ciu-sian Sin-kai, Go-bi San-jin yang kabarnya sekarang telah masuk menjadi pendeta Lama berjuluk See-thian Lama, Wu-yi Lo-jin, Siang-kiang Lo-jin, dan Sian-eng-cu The Kok. Nah, itulah nama-nama Delapan Dewa yang sudah lama meninggalkan dunia ramai. Akan tetapi selama ini aku tidak pernah bertemu atau berhubungan dengan mereka, hanya kabarnya empat di antara kami, yaitu Go-bi San-jin, Ciu-sian Sin-kai, Wu-yi Lo-jin, dan Siang-kiang Lo-jin, ikut pula membantu ketika para pendekar muda yang menjadi murid-murid mereka membasmi Raja dan Ratu Iblis bersama gerombolannya. Sekarang aku tidak tahu di mana mereka, masih hidup ataukah sudah mati semua seperti Kwan Im Nio-nio." kembali kakek gendut itu menarik napas panjang, akan tetapi wajahnya sudah cerah kembali dan senyum menghias mulutnya.
Han Siong menjadi semakin kagum Kiranya kakek yang menjadi gurunya ini adalah seorang sakti dan dia pun girang bukan main. "Semoga dalam waktu setahun teecu akan menerima petunjuk-petunjuk yang berharga dari Suhu."
"Ilmu silatmu sudah tinggi tingkatnya, Han Siong. Kalau engkau sudah menguasainya dengan sempurna, agaknya aku sendiri pun tidak akan menang darimu. Sayang engkau terlalu banyak mempelajari ilmu-ilmu sesat, untuk itu aku akan mengajarkan ilmu silat Pek-hong-sin-ciang (Tangan Sakti Awan Putih) kepadamu. Dan ilmu sihirmu itu jangan kaupergunakan. Aku akan mengajarmu untuk mempergunakan tenaga batin yang bersih untuk menghadapi segala macam kekuatan ilmu hitam."
"Suhu, apakah perbedaan antara sihir putih dan sihir hitam? Antara kekuatan bersih dan kekuatan kotor?" Han Siong merasa penasaran dan bertanya.
"Sudah kukatakan tadi bahwa bersih dan kotornya suatu ilmu tergantung daripada watak orang yang mempergunakannya. Akan tetapi yang dinamakan ilmu silat kotor adalah ilmu silat di mana dipergunakan segala kecurangan, alat-alat rahasia, racun-racun, cara-cara yang penuh tipu muslihat licik. Sebaliknya ilmu silat bersih adalah ilmu silat yang berdasarkan kekuatan yang terlatih, gerakan-gerakan yang kuat dan cepat, kewaspadaan yang membuat gerakan menjadi tepat, tanpa mempergunakan cara-cara curang untuk mengalahkan lawan. Sihir putih adalah penggunaan kekuatan batin yang terhimpun di dalam tubuh, mempergunakan kekuasaan dan kekuatan alam dengan dasar iman dan kepercayaan kepada Tuhan dan para dewa. Sebaliknya sihir hitam adalah penggunaan kekuatan yang datang dari setan-setan, roh jahat, dan segala macam kekuatan gaib yang mendorong pemakainya ke arah perbuatan jahat."
Mulai hari itu, kembali Han Siong menerima gemblengan, sekali Ini dari seorang di antara Delapan Dewa yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali. Dia belajar dengan amat tekun, di dalam sebuah guha di puncak bukit yang sunyi.
***
Sungai itu mengalir dari Pegunungan Min-san dan sungai itu disebut Sungai Min-kiang. Ketika sungai itu tiba di dalam sebuah hutan di kaki Pegunungan Min-san, airnya masih jernih, belum dikotori sampah-sampah seperti kalau sudah melewati banyak dusun dan kota. Apalagi daerah itu merupakan pegunungan yang tanahnya dari tanah keras, tidak berlumpur sehingga airnya nampak jernih mengalir riang di antara batu-batu dan dasarnya pun nampak.
Sudah lebih dari setengah jam wanita itu mengintai pemuda yang sedang duduk di tepi sungai, di atas rumput tebal. Pemuda itu sedang memancing ikan seorang diri, nampaknya benar-benar dapat menikmati kesunyian dan keindahan keadaan di tepi Sungai Min-kiang di dalam hutan yang teduh itu. Air demikian jernihnya sehingga penuh dengan bayangan pohon-pohon di atasnya, bergerak-gerak sedikit karena tenangnya air yang mengalir perlahan. Aliran yang lambat ini, ditambah akar-akar pohon yang menciptakan tempat tinggal yang amat menyenangkan bagi ikan-ikan, apalagi bagian itu agak dalam, membuat tempat itu dihuni banyak ikan. Tidak mengherankan kalau dalam waktu setengah jam saja, pemuda itu telah berhasil mengangkat tiga ekor ikan yang lumayan besarnya.
Wanita itu mengintai dengan mata bersinar-sinar dan wajah berseri. Ia melihat betapa pemuda itu mengeluarkan teriakan girang dan kembali dia telah berhasil mendapatkan seekor ikan lagi, ikan yang kulitnya putih seperti perak, dengan perut kuning.
"Ha, seekor lagi saja aku akan pesta! Lima ekor sudah lebih dari cukup!" katanya. "Marilah manis, kausambar umpanku!" Pemuda itu tersenyum-senyum penuh kegembiraan dan sepasang mata yang mengintai itu menjadi semakin kagum.
Wanita yang mengintai itu kini berindap-indap mendekati, akan tetapi tetap saja ia melakukannya sambil bersembunyi, menyelinap di antara pohon-pohon, batu-batu dan semak-semak belukar. Gerakannya demikian ringan sehingga tidak menimbulkan suara dan akhirnya ia dapat bersembunyi di balik semak-semak terdekat, dapat memandang pemuda yang sedang memancing ikan itu dengan jelas sekali. Dan semakin jelas ia memandang, makin kagumlah ia, wajahnya makin berseri, mulutnya tersenyum dan matanya bersinar-sinar.
Seorang pemuda yang tampan dan gagah. Biarpun sedang duduk seenaknya di atas rumput, nampak betapa bidang dada itu, betapa tegap tubuh yang bentuknya sedang itu. Sepasang matanya bersinar-sinar penuh gairah hidup, mulutnya yang berbentuk manis itu selalu mengembangkan senyum, hidungnya mancung dan wajahnya membayangkan kejantanan dengan dagu yang dapat mengeras dan agak berlekuk di tengahnya. Senyumnya manis dan memikat. Pakaiannya berwarna biru muda dengan garis-garis kuning emas di tepinya. Sebuah buntalan pakaian terletak di sebelahnya. Usianya kurang lebih dua puluh tahun.
Wanita yang mengintai itu pun bukan wanita sembarangan. Dari pakaiannya saja mudah diduga bahwa ia bukanlah penghuni dusun atau wanita gunung sederhana, melainkan seorang wanita yang biasa tinggal di kota. Apalagi kalau melihat gelung rambutnya yang tinggi dan dihias seekor burung Hong dari emas dan permata yang tentu amat mahal harganya. Ia juga membawa sebuah buntalan kain panjang yang digendong di belakang punggungnya. Kenyataan ini menunjukkan bahwa wanita itu pun seorang yang sedang melakukan perjalanan jauh dan membawa bekal pakaian. Akan tetapi, pakaian yang menempel di tubuhnya nampak bersih, demikian pula sepatunya yang kecil dan baru.
Wajahnya bulat dengan kulit yang putih halus, dibuat semakin putih halus karena dibedaki. Sepasang matanya agak lebar dan penuh sinar dan gairah hidup, penuh semangat, juga sepasang bola matanya dapat bergerak lincah, tanda bahwa wanita ini biasa mempergunakan kecerdikannya. Alisnya kecil melengkung hitam, lengkung yang tidak wajar, dibuat dengan cara mencabuti sebagian rambut alisnya. Sepasang pipinya nampak segar kemerahan, bukan karena pemerah pipi. Hidungnya kecil mancung, ujungnya agak mencuat ke atas menjadi penambah manis, mulutnya kecil dengan bibir yang merah basah dan selalu agak terbuka seperti orang terengah, menimbulkan sifat menantang. Wanita berusia kurang lebih tiga puluh tahun ini memang memiliki wajah yang manis sekali. Juga bentuk tubuhnya padat dan ramping menggairahkan, dengan lekuk-lengkung yang sexy, bagian dada dan pinggul membusung, pinggangnya amat kecil seperti pinggang tawon kemit.
Pemuda yang sedang memancing ikan itu adalah Hay Hay! Memang pemuda ini memiliki wajah, bentuk tubuh dan pembawaan yang amat menarik hati bagi kaum wanita. Wajahnya yang tampan selalu cerah, pandang matanya selalu penuh gairah dan semangat, bibirnya selalu dibayangi senyum ramah. Seperti kita ketahui, Hay Hay melakukan perjalanan ke daerah itu untuk mencari keluarga Pek di Kong-goan. Ketika tiba di tepi sungai itu, dia melihat gerakan banyak ikan dan tertarik oleh keadaan yang indah dan nyaman, dia pun merasa lapar sekali dan segera dia membuat pancing sederhana dari peniti, tali dan ranting. Peniti dibentuk mata kail dan dengan cacing yang mudah didapatkan di tepi suhgai, dia pun mengail dan berhasil menangkap empat ekor ikan dada kuning.
Dia tidak akan patut disebut murid dari dua orang sakti, dua di antara Delapan Dewa, kalau saja dia tidak tahu bahwa ada orang sedang mengintainya. Sejak tadi pun dia sudah tahu dan hal ini membuat Hay Hay menjadi semakin gembira. Pemandangan alam di tempat itu demikian indah, hawanya sejuk nyaman, memancing ikan pun berhasil menangkap ikan-ikan yang gemuk, dan kini ada seorang wanita yang mengintainya pula! Dengan ujung matanya, dia tadi sekelebatan dapat menangkap bayangan pengintainya, dan tahu bahwa pengintai itu seorang wanita. Akan tetapi tentu saja dia tidak tahu siapa dan jantungnya berdegup agak keras penuh kegembiraan yang menegangkan ketika dia menduga pahwa bayangan itu mungkin saja Bi Lian, gadis cantik jelita yang amat menarik hati itu. Akan tetapi dia membantah sendiri dugaan itu. Kalau Bi Lian, tidak mungkin gadis itu demikian bodoh uhtuk mengintainya seperti itu. Bukankah Bi Lian sudah tahu bahwa dia memiliki kepandaian sehingga kalau diintai seperti itu akan mengetahuinya? Dan pula, apa perlunya Bi Lian mengintai seperti Itu? Gadis itu tentu akan langsung saja menemuinya kalau hal itu dikehendakinya. Bukan, wanita itu bukan Bi Lian, dan pendapat ini mendatangkan kegembiraan di hati Hay Hay. Membayangkan akan bertemu dengan seorang wanita lain yang penuh rahasia, belum apa-apa sudah membuatnya bergembira. Wanita merupakan mahluk yang selalu menarik perhatiannya.
Tiba-tiba tali pancingnya bergerak, seekor ikan yang agaknya berat dan lebih besar daripada empat ekor yang sudah ditangkapnya, bergantung di mata kailnya. Dengan gerakan cepat Hay Hay menarik tangkai pancingnya sehingga mata kailnya mengail mulut ikan dan dia meneruskannya dengan gerakan kuat sehingga terlemparlah seekor ikan yang benar saja lebih besar daripada tadi, ke atas. Hay Hay sengaja melepaskan ranting yang menjadi tangkai pancing sambil berteriak, "Ohh, terlepas .....!"
Ikan berikut tali dan tangkai pancing itu meluncur ke arah semak-semak di mana wanita itu bersembunyi! Tiba-tiba sebuah tangan yang kecil halus namun cekatan, menyambut dan menangkap tangkai pancing dan nampaklah seorang wanita muncul di balik semak-semak, memegang setangkai pancing di ujung mana nampak seekor ikan besar menggelepar-gelepar. Sambil tersenyum penuh daya daya pikat, wanita itu kini menghampiri Hay Hay, membawa ikan di ujung pancing itu.
"Ikan yang besar, gemuk dan mulus, tentu enak sekali!" Wanita itu berkata, senyumnya melebar membuat mulutnya merekah dan nampak rongga mulut yang merah sekali, dengan deretan gigi yang berkilauan dan putih rapi.
Hay Hay memandang dengan bengong. Dia seperti terpesona oleh kecantikan wanita yang kini sudah berdiri di depannya. Sejenak pandang matanya menjelajahi wanita itu dari ujung kaki sampai ke ujung rambut, kadang-kadang berhenti agak lama di bagian-bagian tertentu yang menarik, dan akhirnya dia menarik napas panjang.
"Ya ampun Dewi .....! Paduka ini Dewi Air ataukah Dewi Hutan yang sengaja turun dari kahyangan hendak memberi anugerah ikan gemuk kepada hamba?" Tentu saja Hay Hay hanya main-main dan berkelakar karena dia sudah tahu bahwa wanita ini sejak tadi mengintainya, akan tetapi dia jujur dengan pandang matanya yang penuh kagum karena memang wanita ini cantik manis dan menggairahkan, penuh daya tarik kewanitaan seperti sekuntum bunga yang selain indah juga harum semerbak.
Mula-mula sepasang mata yang lebar itu terbelalak heran mendengar ucapan itu, kemudian menjadi kemerahan, bukan karena marah melainkan karena bangga dan girang bukan main. Wanita itu terkekeh sambil memasang aksi, menutupi mulutnya dengan punggung tangan kiri.
"Kenapa engkau menganggap aku Dewi Air atau Dewi Hutan yang baru turun dari kahyangan?" tanyanya, suaranya merdu sekali seperti suara rebab digesek.
Dengan terbuka Hay Hay mengagumi mata, hidung dan mulut itu. Anak rambut membentuk sinom di sepanjang pelipis, di atas dahi dan di belakang telinga itu pun manis sekali, melingkar-lingkar seperti dilukis saja, nampak hitam indah dilatar-belakangi kulit yang putih kuning mulus.
"Karena rasanya tidak mungkin ada seorang gadis secantik Paduka. Hanya bidadari dan para dewi kahyangan sajalah kiranya yang dapat memiliki kecantikan seperti ini." Hay Hay memang pandai sekali merayu, bukan rayuan kosong, melainkan kata-kata manis dan pujian yang muncul dari lubuk hatinya. Dalam pandang matanya, wanita itu seperti bunga. Mana ada bunga yang buruk? Semua bunga, setiap kuntum bunga pasti indah, walaupun keindahannya berbeda-beda. Demikian pula wanita. Tidak ada yang buruk, walaupun kemanisannya pun berbeda-beda. Ada yang terletak pada matanya, pada hidungnya, pada mulutnya, atau rambutnya, kulitnya. Akan tetapi wanita di depannya ini memiliki keindahan di banyak bagian!
Wajah yang manis itu semakin gembira berseri, dan matanya menjadi semakin ta jam bersinar-sinar. "Aihh, orang muda, engkau sungguh terlalu memujiku. Aku seorang manusia biasa seperti engkau. Kebetulan saja aku dapat menangkap pancing dan ikanmu yang terlempar tadi. Nah, terimalah kembali pancingmu."
Wanita itu menyerahkan pancing dengan ikan yang menggelepar-gelepar itu, diterima dengan gembira oleh Hay Hay yang tersenyum ramah.
"Terima kasih Nona. Ya Tuhan, hampir aku tidak percaya bahwa Nona seorang manusia. Kemunculanmu demikian tiba-tiba dan kecantikanmu... hemmm, sukar untuk dipercaya!"
Wanita itu sudah seringkali menghadapi laki-laki yang kurang ajar dan tidak sopan, yang memuji kecantikannya untuk merayu dan menarik perhatian. Akan tetapi baru sekarang dia bertemu dengan pemuda yang memuji kecantikannya sedemikian jujur terbuka, dengan mata yang sama sekali tidak membayangkan kekurangajaran, seperti mata setiap laki-laki yang selalu menyembunyikan tantangan, ajakan dan uluran tangan! Maka ia menjadi semakin gembira walaupun mulutnya pura-pura cemberut ketika ia berkata. "Ihhh, orang muda, jangan terlampau memuji, membuat aku merasa rikuh saja."
"Aku tidak memuji kosong, Nona. Dan kuharap Nona tidak menyebut aku orang muda. Aihhh, seolah-olah Nona lebih tua saja dariku. Padahal, paling-paling usia kita sebaya." Tentu saja Hay Hay dapat menduga bahwa wanita itu agak lebih tua darinya, namun ia tahu bahwa paling tidak enak bagi wanita kalau diingatkan tentang usianya yang sudah lebih tua. Pula, wanita di depannya ini memang masih nampak muda sekali dan memang pantas kalau dikatakan sebaya dengannya.
Wanita itu tersenyum, manis sekali. "Pemuda yang tampan dan ganteng, berapakah usiamu sekarang?"
Jantung di dalam dada Hay Hay berdebar dan dia merasa aneh. Betapa beraninya wanita ini. Memujinya sebagai tampan dan ganteng, juga menanyakan usianya! Wah, sungguh seorang wanita yang tidak malu-malu lagi, seorang yang agaknya sudah berpengalaman!
"Berapa menurut dugaanmu, Nona yang cantik jelita?"
"Hemm, kiranya tidak akan lebih dari sembilan belas atau delapan belas tahun."
"Ha, dugaanmu keliru dan aku lebih tua dari itu, Nona. Usiaku sudah dua puluh tahun!" Hay Hay tertawa dan balas bertanya. "Dan berapakah usiamu, Nona?"
"Berapa menurut dugaanmu, pemuda yang tampan menarik?" tanya wanita itu menirukan kata-kata dan gaya Hay Hay tadi.
Kembali pandang mata Hay Hay menjelajahi seluruh tubuh wanita itu, kemudian dia mengangguk-angguk. "Paling banyak dua puluh tahun, Nona."
Wanita itu tersenyum semakin manis. Agaknya penaksiran itu menyenangkan hatinya. "Lebih berapa tahun lagi. Aku lebih tua darimu."
"Aku tidak percaya!" Hay Hay berseru penasaran. Karena dia menggerakkan tangkai pancing, ikan itu meronta-ronta dan agaknya baru dia teringat akan ikan itu.
"Hi-hik, mau diapakan sih ikan itu?" Si Wanita bertanya menggoda.
"Wah, aku sampai lupa. Oh, ya, karena engkau baik sekali, Nona, dan sudah membantuku menangkap ikan yang terlepas ini, biarlah kuundang engkau untuk makan bersamaku. Daging ikan-ikan ini tentu enak sekali."
Wanita itu memandang dengan mata bersinar-sinar. "Bagaimana engkau hendak memasaknya?" .
Hay Hay mengangkat dada dan menepuk dadanya. "Jangan khawatir. Aku ahli masak! Tunggu sebentar dan bantulah aku menghabiskan daging ikan-ikan ini sebagai teman roti kering dan anggur. Pasti lezat sekali!"
Wanita itu menelan ludah, nampak berselera sekali. "Tentu saja lezat."
"Kau tunggu sebentar, Nona." Hay Hay yang sudah menjadi gembira bukan main menemukan seorang kawan baik, seorang wanita cantik untuk teman bercakap-cakap di tempat yang sunyi indah itu, segera bekerja. Selama beberapa tahun menjadi murid See-thian Lama, dia hidup berdua saja dengan gurunya itu dan dialah yang melayani suhunya, dia yang masak setiap hari sehingga dia memang dapat dikata ahli masak. Apalagi ketika dia mengikuti gurunya yang ke dua, Ciu-sian Sin-kai, kakek berpakaian jembel yang sesungguhnya merupakan to-cu (majikan pulau) dari Pulau Hiu dan hidup serba cukup, dia pun mempelajari masak dari juru-juru masak suhunya itu. Ketika tinggal di Pulau Hiu, tentu saja dia sering ikut menangkap ikan dan memasak ikan, maka dia tahu banyak cara memasak ikan. Setiap macam ikan memerlukan cara memasak yang khusus baru akan lezat dan cocok sekali. Dan di dalam perantauannya, dia tidak melupakan bekal bumbu-bumbu yang diperlukan. Dia memang suka akan segala yang indah, segala yang enak, dapat menikmati kehidupan ini biarpun berada dalam keadaan yang bagaimanapun juga.
Wanita itu lalu melepaskan buntalan panjang dari punggungnya, meletakkannya di tepi sungai dan ia pun duduk di atas akar pohon sambil mengikuti gerakan-gerakan Hay Hay dengan sepasang mata yang bersinar-sinar dan wajah berseri. Pandang matanya penuh kekaguman ketika ia melihat betapa pemuda itu dengan cekatan membersihkan lima ekor ikan itu, menggunakan sebatang pisau yang dikeluarkan dari buntalan pakaiannya, kemudian menaburi ikan-ikan itu dengan bumbu dan garam, dan memanggangnya di atas bara api. Segera bau yang amat sedap menyerang hidungnya dan wanita itu tiba-tiba saja merasa betapa perutnya sudah lapar sekali! Mulutnya terasa basah oleh ludah karena ia sudah mengilar ingin merasakan bagaimana lezatnya ikan panggang itu.
Sambil kadang-kadang memandang kepada wanita itu dengan senyum, sekali dua kali dia mengedipkan matanya memberi tanda agar wanita itu bersabar, Hay Hay mempersiapkan makan untuk mereka. Roti kering dan anggur dikeluarkan dan ikan panggang ditaruh di dalam sebuah piring, dikeluarkannya pula bumbu dan saus yang selalu berada dalam perbekalannya.
"Mari silakan, Nona. Kita makan seadanya." Hay Hay mempersilakan dengan sikap ramah. Wanita itu tersenyum, bangkit dengan gerakan lemah gemulai dan setengah menggeliat sehingga nampaklah tonjolan-tonjolan tubuhnya hendak menembus bajunya yang ketat dari sutera tipis. Hay Hay tidak pura-pura, dia memandangi itu semua dengan penuh kagum.
"Eh, sobat, apa yang kau pandang?" tiba-tiba wanita itu bertanya, pura-pura marah padahal hatinya senang bukan main.
"Apa yang kupandang?" Hay Hay sama sekali tidak merasa gugup. "Apa lagi kalau bukan keindahan tubuhmu, Nona? Engkau seorang gadis yang beruntung sekali, dianugerahi wajah cantik manis dan tubuh yang indah. Sungguh lengkap. Eh, mari, mari kita makan, selagi daging ikannya masih panas."
Tanpa ragu-ragu atau malu-malu lagi wanita itu pun duduk di atas rumput, berhadapan dengan Hay Hay terhalang makanan yang diletakkan di atas rumput pula. Gadis itu menerima pemberian roti kering dan memilih panggang ikan yang nampak menimbulkan selera.
Mereka makan dan minum bersama, tanpa kata-kata. Wanita itu hanya mengeluarkan kata pujian karena memang daging ikan itu enak sekali. Belum pernah rasanya ia makan seenak ini! Padahal hanya roti kering dan panggang ikan saja, akan tetapi demikian nikmat, terasa lezatnya di setiap kunyahan.
Lima ekor ikan itu pun habis mereka makan, ditambah empat potong roti kering besar dan beberapa cawan anggur yang manis. Setelah selesai makan-makan, keduanya membersihkan tangan dan mulut di sungai itu, dengan air sungai yang jernih. Kemudian keduanya duduk di tepi sungai, berhadapan dan mulailah mereka bercakap-cakap.
"Hi-hik, alangkah lucunya!" Tiba-tiba gadis itu berkata, menutup mulut dengan punggung tangan kiri ketika ia tertawa.
Hay Hay mengangkat muka dan memandang. " Apanya yang lucu, Nona ?"
"Kita sudah makan bersama."
"Apa salahnya dengan itu?"
"Kita sudah saling mengetahui usia masing-masing."
"Wajar dalam perkenalan, akan tetapi aku belum mengetahui dengan pasti berapa usiamu......"
"Itu tidak penting. Akan tetapi anehnya, kita belum saling mengenal nama."
Hay Hay tertawa. Dia memang sengaja tadi. Bagaimanapun juga, keadaan wanita ini mencurigakan. Wanita itu ketika mengintainya, dapat bergerak dengan cepat dan amat ringan, itu saja menunjukkan bahwa wanita ini tentu memiliki ilmu kepandaian tinggi. Dan dia belum tahu siapa wanita ini, dari golongan mana, dan berdiri di pihak mana, kawan ataukah lawan. Karena itu, dia harus berhati-hati dan biarlah wanita ini yang lebih dahulu memperkenalkan diri. Maka dia pun tidak pernah memperkenalkan diri dan sekarang dia tertawa seperti baru melihat kelucuan keadaan mereka.
"Ah, benar juga! Aku merasa seolah-olah kita sudah menjadi sahabat baik selama puluhan tahun! Ha-ha, Nona yang baik, siapakah Anda? Di mana tempat tinggal, datang dari mana dan hendak ke mana?"
Gadis itu tertawa pula dan kini ia tidak lagi bersusah payah menutupi mulutnya dan Hay Hay melihat betapa manis dan menggairahkan mulut itu kalau tertawa. "Hi-hi-hik, pertanyaanmu menyerangku seperti ombak samudera saja. Sebaiknya kita saling mengenal nama lebih dulu. Namaku Sun Bi she Ji."
"Ji Sun Bi... hemmm, nama yang indah dan cantik, secantik orangnya." Hay Hay memuji sambil mengangguk-angguk.
"Sekarang giliranmu. Siapakah namamu?" Wanita yang bernama Ji Sun Bi itu bertanya.
"Namaku? Namaku Hay"
"Hay siapa??"
"Yah, Hay saja."
"Shemu apa?"
Hay Hay menggeleng kepalanya. "Aku sendiri pun tidak tahu, Sun Bi." kata Hay Hay, menyebut nama gadis itu begitu saja seolah-olah mereka telah menjadi kenalan lama, dan hal ini membuat Ji Sun Bi merasa senang sekali. Kalau pemuda itu menyebutnya Enci (Kakak) misalnya, ia akan merasa tidak enak, seolah-olah diingatkan bahwa ia lebih tua.
"Ah, mustahil orang tidak mengetahui shenya sendiri! Siapa nama ayahmu?"
Hay Hay menggeleng kepala, mengangkat pundak dan mengembangkan kedua lengannya.
"Aku sungguh tidak tahu. Aku tidak pernah mengenal Ayah Ibuku, sejak bayi aku dibawa orang lain dan sekarang aku sedang mencari orang tuaku. Aku tidak tahu she apa. Namaku hanya Hay saja, begitulah."
"Lalu aku harus menyebutmu bagaimana?"
"Ya, sebut saja Hay, atau biasa orang memanggil aku Hay Hay."
"Hay Hay... hemm, enak juga kedengarannya. Baiklah, Hay Hay. Sekarang kita telah benar-benar saling berkenalan dan menjadi sahabat. Secara kebetulan saja kita saling berjumpa di sini dan menjadi sahabat baik. Engkau datang dari mana dan hendak pergi ke manakah?"
"Aku tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap, Sun Bi. Sudah kukatakan bahwa aku sedang mencari orang tuaku, setelah selama dua puluh tahun ini aku selalu ikut orang lain. Aku belum tahu di mana adanya orang tuaku, apakah mereka masih hidup. Aku hidup sebatang kara di dunia ini, tidak punya keluarga tidak punya tempat tinggal. Ah, tidak menarik. bukan? Lebih baik kita bicara tentang dirimu, tentu lebih menarik."
"Aihh, kasihan sekali engkau, Hay Hay." Sun Bi berkata dengan suara halus dan nampak terharu, lalu tangannya diulur dan menyentuh lengan Hay Hay. Terasa hangat dan halus tangan itu, dan Hay Hay pun diam saja, hanya memandang tangan yang memiliki jari-jari yang kecil mungil. Ingin dia tahu sampai di mana besarnya kekuatan yang tersembunyi di dalam jari-jari tangan kecil mungil ini.
"Tidak perlu dikasihani. Aku hidup cukup bahagia, setiap hari aku hidup di alam bebas, bergembira melihat segala keindahan, burung-burung di udara binatang-binatang di hutan, kembang-kembang, air sungai yang jernih, gadis yang manis seperti engkau. Bukankah semua itu menyenangkan? Sekarang ceritakanlah, dari mana engkau datang dan hendak ke mana Sun Bi?"
Ditanya demikian, tiba-tiba wajah yang tadinya berseri itu menjadi murung dan gadis itu kini menundukkan mukanya dan perlahan-lahan dua titik air mata menuruni kedua ptpinya. Dua butir air mata itu dihapusnya dengan sehelai sapu tangan sutera, dan terdengar Wanlta itu berkata dengan suara yang penuh duka.
"Aihhh... Hay Hay, aku adalah se orang wanita yang paling sengsara di dunia ...."
Hay Hay mengerutkan alisnya dan berusaha untuk menatap wajah itu penuh selidik. Akan tetapi wajah itu menunduk terus. "Sun Bi, apakah yang telah terjadi? Mengapa engkau merasa sengsara?"
Dengan suara sedih dan kadang-kadang mengusap air matanya, Sun Bi lalu berkata. "Aku adalah wanita yang paling sengsara, Hay Hay. Baru menikah beberapa bulan saja, suamiku terserang penyakit berat dan meninggal dunia. Orang tuaku dan mertuaku menganggap aku seorang yang membawa kesialan dan aku lalu diusir pergi. Demikianlah, aku merantau seorang diri, sebatang kara, seperti juga engkau... hanya aku membawa kepedihan hati sebagai seorang janda muda tanpa ada yang melindungi... tanpa ada yang menghibur kedukaanku ....." Sun Bi lalu menangis lagi, sekali ini tangisnya sesenggukan dan menyedihkan sekali. Kedua tangannya dipergunakan untuk menutupi kedua matanya dan air mata bercucuran melalui kedua tanganhya.
Hay Hay merasa kasihan, juga penasaran sekali. "Hemm, suamimu meninggal dunia karena sakit berat, kenapa engkau yang dipersalahkan?"
Mendengar ucapan Hay Hay yang penuh perasaan itu, tiba-tiba Sun Bi terisak semakin keras. Hay Hay mendekat dan menyentuh pundaknya. "Sudahlah, Sun Bi. Mati hidup seseorang berada di tangan Tuhan, diratap-tangisi pun tidak ada gunanya lagi."
Sentuhan tangan Hay Hay pada pundaknya membuat wanita itu seolah-olah menjadi semakin sedih dan ia pun tiba-tiba mengguguk dan menjatuhkan kepalanya bersandar pada dada Hay Hay.
"Hay Hay... ah, Hay Hay ....!" Wanita itu menangis sejadi-jadinya. Hay Hay merasa terharu dan merangkul pundak itu, menggunakan tangannya untuk mengelus rambut yang hitam halus dan berbau harum itu.
"Sudahlah, Sun Bi, sudahlah, hentikan tangismu, tak perlu berduka lagi ......," hiburnya.
Setelah tangisnya mereda, dengan kepala masih bersandar pada pundak dan dada Hay Hay, terdengar Sun Bi terisak berkata, "Selama ini... dalam perantauan, semua laki-laki menghinaku... aku dipandang sebagai seorang janda muda yang boleh dipermainkan sesuka mereka... mereka bersikap kurang ajar mereka menghina, akan tetapi engkau... ah, Hay Hay, baru sekarang aku bertemu dengan seorang laki-laki yang benar-benar baik... yang menaruh kasihan kepada diriku ....."
Hay Hay tersenyum senang, akan tetapi juga terharu. Dia tahu bahwa seorang janda muda mudah merasa tersinggung, dan tentu saja membutuhkan pelindung, membutuhkan orang yang dapat menghiburnya, menyayangnya. Maka dia pun makin mesra mengelus rambut itu.
"Karena engkau cantik manis, Sun Bi, maka semua laki-laki ingin menggodamu dan memiliki dirimu. Asal engkau pandai menjaga diri, semua itu akan berlalu."
Dengan lembut Sun Bi mengangkat kepalanya, terlepas dari dada Hay Hay dan ia memandang. Dua muka itu berdekatan sehingga Hay Hay dapat mencium bau bedak harum bercampur bau air mata, juga terasa olehnya pernapasan yang hangat menyapu leher dan pipinya.
"Dan engkau... engkau tidak ingin menggoda dan... dan memiliki diriku, Hay Hay?"
Sejenak mereka saling berpandangan, dan Hay Hay mengerutkan alisnya. Darah mudanya sudah berdesir keras naik ke mukanya. Tubuh itu demikian dekatnya, bahkan terasa kehangatannya ketika menempel di tubuhnya dan dalam pandang mata itu dia melihat kemesraan dan pemasrahan diri, juga tantangan. Dia tersenyum dan berkata lirih.
"Sun Bi, engkau cantik manis dan aku adalah seorang yang suka sekali akan segala yang indah. Aku suka padamu, Sun Bi, akan tetapi rasa sukaku dan kecantikanmu bukan berarti bahwa aku harus menggodamu dan menghinamu atau ingin memiliki dirimu seperti mereka itu. Hubungan antara seorang pria dan seorang wanita harus didasari rasa cinta, Sun Bi, dan setiap pemerkosaan dalam bentuk apapun juga merupakan suatu kejahatan."
Sun Bi yang sejak tadi memandang wajah pemuda itu, menarik napas panjang dan kembali menyandarkan kepalanya di dada Hay Hay. Ia mengeluh panjang lalu berbisik. "Ah, Hay Hay... engkau seperti mendiang suamiku... engkau lembut, baik hati, dan engkau tampan... Hay Hay, apakah engkau cinta padaku?"
Hampir saja Hay Hay mendorong tubuh itu dari atas dadanya karena dia benar terkejut mendengar pertanyaan itu. Namun, dia masih dapat menguasai hatinya dan tersenyum menjawab. "Aku suka padamu, Sun Bi, aku suka dan kasihan, akan tetapi cinta? Aku tidak tahu bagaimana cinta itu, dan pula kita baru saja bertemu, bagaimana mungkin aku tahu tentang cinta?"
"Akan tetapi aku yakin, Hay Hay. Aku yakin bahwa aku... aku cinta padamu! Aku yakin, karena suara hatiku yang membisikkan padaku, dan kau mirip suamiku, bukan hanya wajahnya, juga sikapnya dan segalanya, ohhh.... " Dan wanita itu makin merapatkan tubuhnya. Hay Hay mulai merasa bingung dan khawatir, juga lehernya mulai berkeringat, bukan hanya oleh kehangatan yang keluar dari tubuh wanita yang bersandar padanya. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Ingin dia melepaskan diri, agar dapat bicara dengan baik, agar jantungnya tidak berdebar kencang karena kehangatan dan kelembutan tubuh itu demikian mengguncang perasaannya, akan tetapi dia pun tidak ingin menyinggung perasaan wanita yang sedang haus akan perlindungan dan hiburan ini.
"Hay Hay, maafkan aku, akan tetapi engkau... engkau belum menikah, bukan?" Di dalam suara itu terkandung kekhawatiran dan Hay Hay seperti dapat merasakan betapa tubuh di pangkuannya itu agak menegang
Untuk melawan perasaannya sendiri Hay Hay tertawa dan memang ketika dia tertawa, lenyap ketegangan karena dekatnya tubuh wanita itu. "Ha-ha-ha, mana ada kesempatan bagiku untuk menikah? Dan pula, wanita mana yang mau bersuamikan aku, seorang yang menjadi gelandangan seperti ini, tanpa tempat tinggal tanpa keluarga?"
"Jangan kau merendahkah diri, Hay Hay. Banyak wanita akan berebutan untuk memilikimu. Aku sendiri... ahhh, engkau seolah-olah menjadi pengganti suamiku yang telah tiada. Maafkan aku, aku... aku sudah bertahun-tahun merindukan suamiku, rindu akan pelukannya. Ah, Hay Hay, maukah engkau memelukku? Peluklah, Hay Hay, peluklah aku seperti dulu suamiku memelukku... ahhhhh ......."
Suara itu demikian memelas dan penuh permohonan sehingga Hay Hay merasa tidak tega. Apa salahnya memenuhi keinginan itu? Dia lalu merangkulkan kedua lengannya dan memeluk tubuh Sun Bi. Wanita itu mengerang dan makin merapatkan dirinya, kini bahkan duduk di atas pangkuan Hay Hay sambil merangkul pinggang pemuda itu dan membiarkan diri tenggelam dalam rangkulan Hay Hay. Pemuda itu sebaliknya merasa kepanasan dan mulai bingung. Degup jantungnya terdengar jelas di telinganya sendiri dan dia merasa malu kalau-kalau Sun Bi akan mendengarnya pula.
Tentu saja Sun Bi mendengarnya! Telinga wanita itu menempel di dadanya, dan diam-diam wanita itu tersenyum puas. Suara degup jantung pemuda ganteng itu seolah-olah menjadi sorak kemenangan baginya, atau sorak pertanda bahwa kemenangan sudah berada di ambang pintu! Ia harus pandai bersikap untuk menuntun pemuda ini memenuhi segala kehendaknya, memuaskan segala gairah dan hasratnya yang timbul. Hay Hay yang betapa lihai pun hanyalah seorang pemuda yang masih hijau dalam hal hubungan dengan wanita, walaupun dia terkenal mata keranjang dan perayu wanita, kini berhadapan dengan seorang wanita yang sudah matang, tentu saja dia tidak tahu bahwa dialah yang kini menjadi permainan.
Wanita itu bukan sembarang orang. Selain cantik manis, ia pun memiliki ilmu silat yang amat hebat dan merupakan seorang tokoh besar dalam dunia golongan hitam, terkenal pula sebagai seorang wanita cabul yang menjadi hamba nafsu berahi yang berkobar-kobar dan tak pernah mengenal puas. Entah sudah berapa banyak pria yang menjadi korbannya, menjadi korban permainannya atau pun menjadi mayat karena dibunuhnya karena pria itu tidak memuaskan hatinya atau berani menolaknya! Demikian jahat dan palsunya sampai ia diberi julukan Tok-sim Mo-li (lblis Betina Berhati Racun). Namanya memang Ji Sun Bi dan usianya sudah tiga puluh tahun. Karena pandainya merawat diri dan bersolek, maka ia selalu nampak jauh lebih muda daripada usia yang sebenarnya. Ketika ia menceritakan riwayatnya kepada Hay Hay, memang ada beberapa hal yang benar. Ia memang seorang janda dan suaminya memang telah mati. Akan tetapi suaminya itu mati karena dibunuhnya! Juga kedua mertuanya dibunuhnya! Padahal, baru tiga bulan saja ia menikah dengan suaminya itu.
Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi ini adalah murid tunggal dari Min-san Mo-ko (Iblis Gunung Min-san) yang usianya kini sudah enam puluh tahun. sejak masih kecil Ji Sun Bi yang sudah yatim piatu menjadi murid Min-san Mo-ko dan setelah ia menjadi dewasa, ia pun menjadi kekasih Min-san Mo-ko! Akan tetapi, guru yang mengambil murid menjadi kekasih ini memberi kebebasan kepada Sun Bi untuk bermain cinta dengan pria yang disukainya, di mana saja dan kapan saja! Bahkan gurunya ini mempunyai kesukaan yang aneh dan tidak patut. Dia suka mengintai kalau murid yang juga menjadi kekasihnya ini bermain cinta dengan orang lain! Dan Sun Bi tahu bahwa gurunya mengintai, akan tetapi ia pun malah senang kalau ditonton gurunya. Demikian bejat sudah ahlak kedua orang guru dan murid yang sebenarnya tak pernah berpisah ini sehingga mereka berdua terkenal sebagai sepasang iblis yang ditakuti, terutama di sepanjang sungai Min-kiang di Pegunungan Min-san.
Ketika Sun Bi menikah dengan pria yang membuatnya tergila-gila, Min-san Mo-ko tidak keberatan, bahkan dia yang bertindak sebagai "wali". Akan tetapi, hubungan di antara mereka masih saja dilanjutkan. Pada suatu hari, setelah menikah tiga bulan, suaminya menangkap basah hubungan antara isterinya dengan kakek itu. suaminya marah, akan tetapi Sun Bi yang sudah mulai bosan dengan suaminya, lalu turun tangan membunuhnya. Juga ayah dan ibu mertuanya dibunuhnya, kemudian ia melanjutkan permainan cintanya dengan Min-san Mo-ko di dalam ruangan di mana menggeletak mayat-mayat suaminya dan kedua mertuanya!
Pada suatu hari, kebetulan saja Sun Bi melihat Hay Hay yang sedang memancing ikan. Segera ia tertarik sekali karena Hay Hay memang memiliki banyak daya tarik yang kuat bagi wanita. Maka ia lalu mendekati Hay Hay, menggunakan kepandaiannya untuk bermain sandiwara. Hay Hay yang masih hijau itu tentu saja tidak menduga akan hal itu dan dia pun terkecoh, melayani wanita yang sebenarnya kehausan dan tak pernah puas dengan pria itu.
"Betapa rinduku selama bertahun-tahun ini kepada suamiku yang telah tiada..., siang malam aku merindukan pelukannya dan kini engkau mau memelukku seperti yang dilakukan suamiku dahulu ...... ah, terima kasih, Hay Hay, terima kasih ...."
Hay Hay merasa terharu sekali akan tetapi juga girang bahwa sedikitnya dia dapat menghibur wanita yang sengsara ini. Dan dia pun bukan asing dalam pergaulan dengan wanita. Bahkan sudah seringkali dia berdekatan dengan wanita, berpacaran. Walaupun belum pernah dia melakukan hubungan yang lebih mendalam. Karena itu, merangkul dan memeluk tubuh wanita yang hangat itu pun tidak membuat dia kehilangan keseimbangannya.
Akan tetapi, seperti tidak disengaja, kedua tangannya yang merangkul itu ditangkap oleh kedua tangan Sun Bi dan wanita itu mengeluh. "Hay Hay... peluklah aku, belailah aku seperti dahulu suamiku membelaiku... ciumlah aku ....."
Sun Bi seperti menuntun Hay Hay yang memenuhi semua permintaannya. Hay Hay membelai dan menciumnya. Ketika mendapat kenyataan bahwa pemuda ini agak canggung menurut ukuran ia yang sudah berpengalaman, Sun Bi lalu balas mencium, dan mengajarnya cara bermain asmara yang amat asing bagi Hay Hay, yang dianggap terlampau berani!
Kalau tadinya Ji Sun Bi berusaha menggoda dan membangkitkan gairah pada pemuda itu, akibatnya malah ia sendiri yang kebakaran! Wanita itu sendiri yang kini dicengkeram berahi sampai ke puncaknya dan tubuhnya sudah panas dingin, gemetaran ketika ia berbisik.
"Hay Hay... belum... belum pernahkah engkau dengan wanita ....?"
Menghadapi permainan asmara yang amat berani dan merangsang dari Sun Bi, betapapun juga Hay Hay merasa betapa seluruh tubuhnya panas dan gemetar. Dia memandang wanita itu dan menggeleng kepala, tidak menjawab karena dia tahu bahwa suaranya tentu terdengar aneh dan menggetar.
Melihat ini, nafsu berahi semakin kuat mencengkeram pikiran Ji Sun Bi. Bagaikan seekor kuda binal yang lepas kendali, ia menarik tangan Hay Hay untuk rebah di atas rumput. Akan tetapi tiba-tiba Hay Hay melepaskan diri dari pelukan dan melangkah mundur setelah dia tadi bangkit. Dia hanya menggeleng kepala sambil mengerutkan alis.
Sun Bi yang sudah kebakaran itu cepat meloncat berdiri dan menyambar tangan Hay Hay. "Hay Hay, kenapa? Marilah... aku... aku cinta padamu, Hay Hay, aku membutuhkan dirimu, aku..."
"Tidak, Sun Bi. Semua ada batasnya dan aku tidak mau melanggar batas itu. Aku belum siap untuk yang satu itu dan aku tidak mau melakukannya."
"Hay Hay...!" Sun Bi yang sudah mata gelap itu menarik, akan tetapi Hay Hay mempertahankan, bahkan lalu merenggutkan tangannya terlepas dari pegangan Sun Bi.
"Hay Hay, kasihanilah aku... aku kesepian .... aku ....."
"Tidak, Sun Bi. sadarlah, tenanglah! Engkau harus dapat menguasai dirimu. Aku mau menghiburmu, akan tetapi untuk yang satu itu, maaf, aku tidak mau melakukannya!" katanya tegas. Dia memang suka kepada wanita, suka berdekatan, suka bercumbuan, dan harus diakuinya bahwa bangkit pula gairahnya yang amat besar. Namun, dia tahu bahwa harus ada batasnya dan dia tidak boleh melanggar batas itu sembarangan saja. Dia hanya akan mau melakukan hal itu dengan wanita yang dicintanya, tidak dengan sembarang wanita, apalagi Ji Sun Bi yang janda muda dan baru saja dikenalnya.
Tiba-tiba terjadi perubahan pada wajah Ji Sun Bi. Wajah yang tadinya agak pucat dan pandang matanya sayu merayu itu, kini berubah kemerahan dan pandang matanya berubah sama sekali, menjadi berkilat. Mata yang tadinya memandang kepadanya dengan setengah terpejam, basah dan sayu, kini mencorong dan melotot. Mulut yang tadinya tersenyum manis, agak terengah dan menciuminya, juga diciuminya, kini ditarik keras dan terdengar suaranya membentak keras, "Hay Hay, sekali lagi. Benar engkau tidak memenuhi kehendak hatiku, memuaskan hasrat cintaku?"
Hay Hay terkejut melihat perubahan itu dan baru sekarang dia melihat kekejaman membayang pada sinar mata dan mulut itu. Dia hanya menggeleng kepala, merasa heran terkejut dan juga penasaran. Belum pernah dia bertemu dengan wanita senekat ini.
"Keparat jahanam! Apakah engkau lebih senang mampus?" Wanita itu, dengan mulutnya yang manis, hangat dan bergairah, kini memaki dengan kata-kata yang penuh kebencian.
"Sun Bi, ingatlah. Kita bersahabat, bukan? Kita baru saja bertemu, dan kita telah menjadi teman "
"Cukup! Untuk yang terakhir, mau tidak engkau melayani aku?"
Hay Hay mengerti apa yang dimaksudkan dan dengan sikap tegas dia menggeleng kepala.
"Mampuslah!" Tiba-tiba saja wanita itu sudah menerjang dengan pukulan tangan miring ke arah lehernya. Pukulan maut! Wanita ini jelas bermaksud membunuhnya sebagai pelampiasan kemarahan dan kekecewaan hatinya. Keganasan dan kekejamannya ini mengejutkan Hay Hay, walaupun serangan itu sendiri tidak mengejutkannya karena dia memang sudah bersikap waspada sejak tadi. Dengan mudah saja dia mengelak ke kiri, membiarkan pukulan itu lewat tanpa membalas.
Kini Jin Sun Bi yang merasa terkejut sendiri. Ia tadi sudah merasa yakin bahwa dengan sekali pukulan saja, pria yang mengecewakan hatinya itu tentu akan roboh dan tewas. Pukulannya tadi selain keras bertenaga, juga dilakukan dengan kecepatan kilat. Akan tetapi, siapa kira bahwa pemuda yang kelihatannya lemah ini mampu mengelak dan menghindarkan diri dari pukulan pertamanya. Ia masih merasa penasaran dan mengira bahwa hal itu hanya kebetulan saja.
"Heiiiittt .....!" Serangan berikutnya menyusul dan sekali ini, kedua tangannya mencengkeram dari kanan kiri, disusul tendangan kakinya.
"Wuuuttt... dukkk!" Tubuh Ji Sun Bi hampir terpelanting ketika tendangannya ditangkis Hay Hay setelah kedua cengkeramannya mengenai angin saja. Barulah wanita itu sadar bahwa pemuda itu ternyata tidaklah selemah yang disangkanya.
"Keparat, kiranya engkau dapat bersilat? Nah, kausambutlah ini!" Dan kini Ji Sun Bi menyerang seperti datangnya gelombang lautan yang ganas sekali, menghujankan serangan bertubi-tubi dengan gencar sekali dan setiap pukulan mengandung tenaga sin-kang yang akan dapat menewaskan seorang lawan tangguh!
Hay Hay maklum bahwa dia tidak boleh main-main lagi. Bagaimanapun juga, wanita ini ternyata memiliki ilmu kepandaian yang jauh lebih tinggi daripada yang diduganya semula. Hal ini dapat diukurnya dari pertemuan tangan ketika dia menangkis tadi, juga dari kecepatan gerakannya. Maka, dia pun tidak mungkin tinggal diam dan hanya mengandalkan elakan dan tangkisan. Kalau hal ini terus dilakukan, dia dapat terancam bahaya. Apalagi karena dia maklum bahwa wanita ini jahat sekali, tentu inilah golongan wanita sesat yang pernah dia dengar diceritakan oleh Ciu-sian Sin-kai, gurunya yang ke dua. Menurut gurunya, dia harus berhati-hati menghadapi wanita-wanita cantik yang berwatak cabul, karena selain mereka itu lihai, juga licik dan pandai merayu. "Hati-hati," demikian antara lain gurunya berpesan, "engkau memiliki kelemahan terhadap wanita, dan rayuan wanita cantik jauh lebih berbahaya dan sukar dielakkan daripada serangan yang bagaimanapun dahsyatnya."
Kini baru dia mengalammya sendiri. Memang Sun Bi wanita hebat. Tadi hampir saja dia jatuh. Kepandaian wanita itu bercumbu rayu membuat dia hampir taluk. Untung dia masih dapat bertahan dan menghindar pada saat terakhir. Dan dalam pengalaman pertama ini, Hay Hay memperoleh pelajaran yang baik sekali, yaitu bahwa yang berat bukan mengelakkan diri dari cumbu rayu wanita cantik, melainkan mengalahkan nafsunya sendiri! Dalam hal ini, dia berhasil karena dia telah digembleng sejak kecil oleh dua orang sakti sehingga dia memiliki kekuatan batin yang cukup untuk menguasai nafsunya sendiri.
"Ah, kiranya engkau seorang wanita yang kejam sekali, Ji Sun Bi!" kata Hay Hay sambil menangkis sebuah pukulan, lalu membalas dengan tamparan ke arah pundak wanita itu.
"Aihhh ?..!" Sun Bi melempar tubuh ke belakang karena nyaris pundaknya terkena tamparan yang datangnya demikian cepat, tidak terduga, juga kuat bukan main. Ia menjadi semakin terkejut dan penasaran. Kiranya pemuda ini bukan hanya dapat bersilat, bahkan memiliki kepandaian yang tinggi! Gairah cintanya bangkit kembali, akan tetapi segera hatinya kecewa teringat betapa pemuda yang tampan, menarik hati ini menolaknya mentah-mentah. Ah, alangkah senangnya kalau dia dapat memiliki seorang kekasih seperti ini, selain tampan dan romantis, juga dapat menjadi kawan yang amat kuat untuk menghadapi musuh. Ia merasa kecewa sekali dan kekecewaan ini menimbulkan kebencian.
"Jahanam keparat, engkau harus mampus di tanganku!" bentaknya dan begitu kedua tangannya bergerak menyambar buntalannya yang panjang, ia telah mencabut keluar sepasang pedang yang berkilauan saking tajamnya. Kini, ia menerjang dengan sepasang pedangnya, demikian cepat dan kuat gerakannya sehingga yang nampak hanya dua gulungan sinar pedang yang mengeluarkan suara berdesing-desing! Diam-diam Hay Hay terkejut dan kagum. Wanita ini benar-benar lihai sekali, walaupun belum tentu selihai Bi Lian, akan tetapi juga amat berbahaya dan sudah mencapai tingkat yang tinggi. Dia masih bersikap tenang dan menghadapi serangan sepasang periang itu dengan tangan kosong saja. Dengan Jiauw-pouw-poan-soan, yaitu langkah ajaib yang dipelajarinya dari See-thian Lama, tubuhnya dapat berputar-putaran secara tenang dan aneh sekali, semua sambaran pedang-pedang di kedua tangan lawan itu tidak pernah dapat menyentuhnya. Ilmu ini memang hebat, merupakan sebuah di antara ilmu-ilmu yang aneh dan tinggi dari See-thian Lama, seorang di antara Delapan Dewa itu. Bahkan dari dalam lingkaran yang dibuat oleh gerakan kedua kakinya yang melakukan langkah-langkah berputaran, dia dapat membalas dengan serangan-serangan pembalasan. Setiap kali tangannya mencuat keluar dari lingkaran dan mengirim tamparan, tentu lawannya berteriak kaget dan terpaksa menyelamatkan diri dengan pelemparan tubuh ke belakang.
Pada saat itu, tiba-tiba terdengar bentakan orang, suaranya tinggi kecil melengking, menyakitkan anak telinga, "Heiii, siapa berani kurang ajar terhadap muridku?"
Hay Hay cepat melangkah ke belakang dan memandang. Kiranya yang muncul adalah seorang laki-laki berusia kurang lebih enam puluh tahun. Orang ini bertubuh kurus dan bermuka pucat seperti orang berpenyakitan. Akan tetapi pakaiannya mewah dan pesolek, sedangkan sebatang pedang tergantung di punggungnya. Kakek ini demikian pesolek sehingga menggelikan karena dia memakai penghitam alis dan pemerah bibir!
Sementara itu, melihat munculnya kakek ini, Ji Sun Bi cepat berkata dengan sikap dan suara yang manja sekali. "Suhu... ah, suhu, bantulah aku menghukum laki-laki ini. Dia telah berani menolak untuk melayaniku bermain cinta!"
"Apa... ?? Wah, itu penghinaan namanya. Tidak ada laki-laki di dunia ini, kecuali aku, cukup berharga untuk bercinta dengan Sun Bi, dan dia berani menolakmu? Wah, dia harus mampus!"
Kakek itu mencabut pedangnya dan kini bersama Ji Sun Bi, dia menerjang dan mengeroyok Hay Hay. Pemuda ini terkejut melihat kehebatan dan kekuatan dalam serangan kakek itu, maka cepat dia meloncat ke belakang untuk menghindarkan serangan mereka. Dia merasa tidak perlu lagi bicara dengan kakek itu. Dari percakapan mereka saja dia sudah tahu bahwa guru dan murid itu adalah manusia-manusia iblis, orang-orang sesat yang mungkin merupakan tokoh-tokoh golongan hitam yang tidak dikenalnya. Percuma bicara dengan orang-orang seperti mereka, pikirnya, maka sambil melompat tadi, dia melihat-lihat untuk mencari buntalan pakaiannya. Buntalan itu masih di tempat tadi, di dekat bekas api unggun di tepi sungai. Maka cepat dia melompat ke sana, menyambar buntalan pakaiannya dan mencabut keluar sebatang suling terbuat dari kayu hitam. Suling seperti milik Ciu-sian Sin-kai, terbuat dari semacam kayu pohon yang hanya tumbuh di Pulau Hiu, kayunya ulet sekali dan suling kayu sepanjang tiga kaki itu selain dapat ditiup seperti suling biasa, juga merupakan senjata yang ampuh, senjata khas dari Ciu-sian Sin-kai!
Dengan suling kayu hitam di tangan, dan buntalan diikat di punggung. Hay Hay kini menghadapi dua orang pengeroyoknya. Guru dan murid itu kini mengepung dari kanan kiri dan begitu kakek itu mengeluarkan pekik melengking yang menggetarkan jantung, dia dan muridnya sudah menerjang dari kanan kiri dengan cepat dan kuat, dengan serangan maut karena memang mereka menyerang untuk membunuh.
"Cring ?..! Tranggg!!" Bunga api berpijar di kanan kiri Hay Hay. Kakek itu berseru kaget dan pedangnya terpental, sedangkan Sun Bi terhuyung oleh tangkisan itu. Guru dan murid itu semakin terkejut. Kiranya pemuda itu benar-benar hebat, pikir mereka dengan penasaran dan kini mereka menyerang dengan lebih hebat pula.
Akan tetapi Hay Hay sudah siap siaga. Dengan langkah-langkah Jiauw-pouw-poan-soan yang dipelajarinya dari See-thian Lama dia dapat menghindarkan diri dari kepungan lawan, dan suling hitamnya menciptakan gulungan sinar hitam yang mengeluarkan bunyi berdengung-dengung, dengan gerakan aneh namun mantap dan kuat sekali.
Biarpun guru dan murid itu memiliki ilmu pedang yang ganas, liar dah lihai, namun sebagai murid dari dua orang kakek sakti yang menjadi dua orang di antara Delapan Dewa, tingkat ilmu kepandaian Hay Hay lebih tinggi sehingga setelah mereka berkelahi selama lima Ipuluh jurus lebih, guru dan murid itu mulai mendesak.
"Haiiiittt ...!" Sun Bi menubruk dengan nekat, menggunakan pedangnya untuk membacok kepala Hay Hay, sedangkan tangan kirinya mencengkeram ke arah dada, tubuhnya meloncat seperti seekor harimau menubruk. Hay Hay mulai merasa muak dengan kekejaman guru dan murid itu ini. Dia menangkis pedang, mengelak dari cengkeraman tangan kiri wanita itu dan kakinya menendang.
"Desss..." Tubuh Sun Bi terlempar sampai tiga meter dan terbanting ke atas tanah. Untung baginya bahwa Hay Hay tidak bermaksud membunuhnya, sehingga tendangan itu mengandung tenaga yang terbatas saja. Melihat muridnya roboh, kakek itu tidak jadi menyerang Hay Hay melainkan cepat menghampiri muridnya yang merintih kesakitan. Dengan sikap amat menyayang, kakek itu bertanya. "Di mana yang sakit, Sun Bi? Apanya yang sakit?"
"Aduh, Suhu... lengan kiriku...terbanting, nyeri sekali...," kata wanita itu sambil merintih-rintih.
Kakek itu cepat mengurut lengan kiri, menyingsingkan lengan bajunya. Setelah mengurut lengan itu, dia lalu menundukkan mukanya dan menciumi lengan yang nampak membiru itu. "Sudah, nanti sebentar tentu sembuh."
Hay Hay berdiri bengong. Kalau dia mau, tentu saja dengan muda dia akan menyerang dan merobohkan mereka. Akan tetapi dia terlampau heran melihat apa yang terjadi antara guru dan murid itu. Gilakah kakek itu? Murid itu demikian manja kekanak-kanakan, dan gurunya juga demikian menyayang, menciumi lengan yang terbanting, sikapnya seperti seorang yang mencumbu pacarnya saja! Dia menggeleng-geleng kepala, menyelipkan suling di buntalan pakaiannya, kemudian menggerakkan kedua pundak dan memutar tubuh untuk meninggalkan guru dan murid itu. Muak dia melihat tingkah mereka.
"Heiii! Berhenti dulu kau, keparat!"
Bentakan dengan suara melengking tinggi ini membuat Hay Hay menahan kakinya dan dengan alis berkerut dan hati marah dia membalikkan tubuh menghadapi kakek yang membentaknya itu. Kakek itu masih berjongkok dekat muridnya, akan tetapi kini sudah menghadapi Hay Hay, sepasang matanya mencorong dan kedua tangannya menepuk-nepuk tanah secara aneh sekali, kemudian kedua tangan itu diangkat dengan telapak tangan menghadap ke arah Hay Hay dan terdengarlah suara kecil melengking aneh.
"Majulah engkau ke sini!"
Tentu saja Hay Hay tidak sudi mentaati perintah itu, akan tetapi tiba-tiba saja kedua kakinya melangkah ke depan! Tak dapat ditahannya lagi, seolah-olah kedua kaki itu sudah bukan miliknya lagi, tidak menurut lagi terhadap kehendak dan perintahnya. Terkejutlah dia dan maklumlah Hay Hay bahwa ini tentulah kekuatan sihir yang aneh! Dia mengerahkan kekuatan batinnya dan tiba-tiba ke dua kakinya terhenti melangkah.
Akan tetapi kakek itu menggerak-gerakkan kedua tangannya dengan aneh, sepasang matanya semakin tajam mencorong seperti mata kucing dan suaranya semakin tinggi melengking, "Berlututlah engkau!"
Kembali Hay Hay ingin menolak, akan tetapi tiba-tiba kedua kakinya sudah bertekuk lutut!
"Jangan mencoba bergerak, engkau tidak mampu bergerak dan tidak akan bergerak sebelum kuperintahkan!"
Hay Hay membantah dalam hatinya, memaksa diri untuk meronta dan bangkit berdiri, akan tetapi seluruh tubuhnya sudah mogok! Dia tetap dalam keadaan berlutut dan tidak mampu bergerak seperti sebuah arca dan matanya seperti melekat pada sepasang mata yang mencorong kehijauan itu!
Melihat ini, tiba-tiba Sun Bi bangkit berdiri. "Suhu... Suhu... jangan bunuh dia dulu. Biarkan dia melayani aku dulu, baru dibunuh. Suhu suruh dia melayani aku!" Berkata demikian, wanita itu mulai meraba-raba kancing bajunya!
"Heh-heh-heh, bagus sekali!" Kakek itu tertawa, lalu terdengar lagi suaranya yang melengking tinggi penuh wibawa. "Orang muda, engkau harus melayani Ji Sun Bi. Hayo kau buka bajumu!"
Hay Hay masih berada dalam keadaan sadar dan dia terbelalak. Mau apa perempuan itu? Mau memperkosanya dan di depan gurunya sendiri? Gilakah perempuan itu? Gilakah kakek itu? Ataukah dia yang sudah gila? Pikirannya menjadi semakin kacau ketika dia melihat betapa kedua tangannya sendiri mulai membuka kancing bajunya, seperti yang dilakukan oleh Sun Bi yang kini tersenyum-senyum menyeramkan baginya! Dia berusaha melawan, namun semakin dilawan, kedua tangannya bekerja semakin cepat seperti terdorong oleh tenaga yang tidak nampak atau seolah-olah kedua tangannya telah menjadi tangan-tangan orang lain yang membukakan kancing bajunya!
Pada saat Hay Hay berperang dengan tenaga aneh yang hendak menelanjanginya itu, tiba-tiba ada angin lembut bertiup dan terdengarlah suara yang halus lunak dibawa angin yang bersilir lembut. "Min-san Mo-ko dan Tok-sim Mo-li, kejahatan takkan membawa kalian ke alam kebahagiaan...!"
Ketika terdengar suara itu, dan merasakan angin semilir meniup mukanya, tiba-tiba Hay Hay merasa kesadarannya pulih kembali, kedua tangannya menurut perintahnya dan berhenti dengan kegiatan mereka yang sama sekali tidak dikehendakinya. Ketika dia memandang, dia bergidik melihat betapa baju atasnya telah tanggal, sedangkan kedua tangannya tadi mulai membuka celananya. Terlambat sedikit saja tentu dia sudah bertelanjang bulat! Cepat dia mengenakan kembali bajunya dan meloncat berdiri, memandang kepada seorang kakek berambut putih yang tiba-tiba muncul di situ.
"Keparat"' Min-san Mo-ko membentak marah dengan mata melotot. "Berani kau mencampuri urusanku? Aku akan membunuhmu!" Berkata demikian, Min-san Mo-ko mengangkat pedangnya dan menerjang ke depan. Akan tetapi tiba-tiba tubuhnya tersentak ke belakang, seperti tertolak oleh kekuatan yang hebat, dan betapapun dia berusaha untuk maju, kedua kakinya tetap saja tertumbuk sesuatu dan tidak dapat maju, tidak dapat mendekati kakek yang rambut dan jenggotnya sudah putih semua itu.
"Setan, lihat kekuatanku"' Min-san Mo-ko berseru dan dia menghentakkan kakinya di atas tanah beberapa kali, mulutnya berkemak-kemik. Hay Hay hanya menonton saja karena merasa tidak mampu menghadapi ilmu-ilmu sihir yang aneh itu. Tiba-tiba Min-san Mo-ko menggerakkan tangannya dan angin yang keras sekali menyambar ke arahnya, ke arah kakek berambut putih. Rambut dan pakaian kakek itu sampai melambai-lambai dan angin itu mengeluarkan suara menderu-deru. Akan tetapi di tengah badai yang mengamuk itu, terdengar suara yang lunak dan lembut seperti tadi,
"Min-san Mo-ko, perbuatan jahat hanya akan menimpa diri sendiri, bukan orang lain."
Aneh sekali, angin itu kini berputaran di sekeliling kakek berambut putih, dan setelah berputaran beberapa kali, angin itu membalik dan menerjang Min-san Mo-ko dengan kekuatan yang berlipat ganda. Hay Hay melihat betapa Min-san Mo-ko terjengkang dan bergulingan, sedangkan Ji Sun Bi berlindung di balik batu besar dan sedang memakai kembali pakaiannya karena perempuan ini tadi sudah hampir telanjang sama sekali.
Min-san Mo-ko berteriak-teriak dengan suaranya yang melengking, lalu meloncat bangkit lagi. Kini dia mendorong dengan kedua telapak tangannya dan dari kedua telapak tangan itu kini mencuat sinar yang kemerahan, seperti api yang menyambar perlahan-lahan menuju ke arah kakek berambut putih.
"Siancai-siancai-siancai ......!" Kakek itu berkata halus, dan dia pun menjulurkan kedua tangan dengan telapak tangan menghadap keluar. Dari kedua telapak tangannya kini keluar sinar terang yang perlahan-lahan meluncur ke depan, menyambut sinar kemerahan yang keluar dari telapak tangan Min-san Mo-ko. Dua gulung sinar itu bertemu di antara mereka dan bertaut, akan tetapi Hay Hay melihat betapa perlahan akan tetapi pasti, sinar kemerahan dari Min-san Mo-ko terdorong mundur, terus mundur oleh sinar terang. Akan tetapi Hay Hay juga melihat betapa tubuh Ji Sun Bi berkelebat dan dengan sepasang pedangnya, wanita itu berindap-indap menghampiri kakek berambut putih dari belakang, siap untuk menusuk dari belakang dan agaknya kakek rambut putih itu tidak melihatnya. Melihat hal ini, Hay Hay meloncat dan membentak.
"Manusia curang!" Dan kakinya sudah menendang.
"Desss .......!" Tubuh Ji Sun Bi terlempar dan terbanting keras. Akan tetapi sekali ini pun Hay Hay membatasi tenaganya sehingga wanita itu hanya terbanting saja dengan keras, tidak sampai menderita luka parah.
Sementara itu, sinar merah telah kembali ke telapak tangan Min-san Mo-ko dan sinar terang pun kembali ke ta ngan kakek berambut putih. "Pergilah kalian!" Kakek berambut putih itu berseru perlahan dan tangan kirinya melambai seperti menyuruh mereka pergi dan guru bersama muridnya itu seperti mentaati perintah ini dan mereka berdua pun mengambil langkah seribu, melarikan diri dari tempat itu!
Setelah kedua orang itu pergi dan tidak nampak lagi, tiba-tiba kakek berambut putih itu mengeluh dan tubuhnya terhuyung, lalu dia jatuh terduduk dan bersila di atas rumput. Hay Hay terkejut bukan main, cepat dia menghampiri dan berlutut di dekat kakek itu.
"Locianpwe kenapakah ?" tanyanya, khawatir melihat betapa wajah kakek ini pucat sekali.
Kakek itu membuka matanya, memandang kepada Hay Hay dan tersenyum, wajahnya ramah dan nampak kesabaran luar biasa membayang di seluruh bagian wajahnya. "Orang muda yang gagah, jangan menyebut Locianpwe padaku, karena aku hanyalah seorang pertapa yang lemah. Bahkan kalau tidak ada engkau, tadi aku tentu sudah tewas di ujung pedang wanita itu."
"Akan tetapi... Locianpwe telah menyelamatkan saya dari... dari ....." Tiba-tiba wajah Hay Hay berubah merah karena dia teringat akan peristiwa yang amat memalukan tadi.
Kakek itu mengangguk-angguk. "Aku tahu, engkau akan mengalami penghinaan, kemudian mungkin sekali kematian. Guru dan murid itu memang jahat sekali dan mereka seperti bukan manusia lagi, tidak mengenal tata susila dan kesopanan lagi. Akan tetapi, aku hanya dapat mengusir mereka dengan kekuatan sihir. Kalau mereka menyerangku dengan ilmu silat, hemmm, aku sama sekali tidak pandai ilmu silat dan... ahhhhhh!" Kakek itu memejamkan kedua matanya dan menggigit bibir, nampaknya menahan rasa nyeri yang hebat.
"Locianpwe... apakah Locianpwe terluka .....?" Hay Hay bertanya khawatir, masih belum dapat menerima bahwa kakek yang telah menyelamatkannya ini seorang pertapa lemah yang tidak pandai silat, hanya pandai dengan ilmu sihir saja.
Kakek itu mengangguk. "Aku memang sedang menderita sakit, akan tetapi bukan karena pertandingan tadi. Penggunaan sihir memaksa aku mengerahkan tenaga dan membuat penyakitku menjadi bertambah berat. Aahhh, orang muda, kalau tidak mendapatkan obatnya, agaknya paling lama dua puluh empat jam lagi aku akan terpaksa meninggalkan dunia yang keruh ini ...."
Tentu saja Hay Hay menjadi prihatin sekali. Bagaimanapun juga, kakek ini adalah penolongnya! "Locianpwe, apakah obat itu? Di mana mencarinya? Biarlah saya yang akan mencarikan untukmu."
Sepasang mata yang sayu itu kini menjadi terang dan wajah kakek itu berseri, jelas nampak harapan timbul dalam hatinya ketika dia memandang Hay Hay.
"Benarkah engkau mau menolongku, orang muda yang gagah?"
"Harap Locianpwe tidak meragukan kesanggupan saya. Apa artinya saya mempelajari ilmu kalau tidak untuk, menolong siapa saja yang terancam bahaya? Apalagi Locianpwe baru saja menyelamatkan saya. Katakanlah di mana saya dapat menemukan obat itu dan apakah macamnya obat itu."
"Ah, kalau saja kekuatan sihirku dapat menundukkan harimau seperti menundukkan manusia, tentu sudah lama dapat aku mencari sendiri obat itu. Obat yang akan dapat menyembuhkan penyakitku adalah otak seekor harimau dan di di hutan yang nampak dari sini itu terdapat banyak harimau hitam yang kumaksudkan."
"Otak seekor harimau hitam? Di hutan itu? Baiklah, harap Locianpwe menunggu di sini sebentar, saya akan mencarikannya!" Setelah berkata demikian, Hay Hay meloncat dan berlari cepat. Kakek itu tertegun melihat betapa sekali berkelebat saja pemuda itu telah lenyap dari depannya. Seorang pemuda yang gagah perkasa dan memiliki ilmu silat tinggi, pikirnya. Sayang dia tidak mahir ilmu sihir sehingga tadi hampir saja menjadi korban kekuatan sihir Min-san Mo-ko! Kakek ini pun mengangguk-angguk karena dia tahu dengan cara apa dia akan membalas kalau pemuda itu benar-benar dapat mencarikan obat dan dapat menyembuhkan penyakit yang dideritanya selama ini.
Dengan ilmu berlari cepat, sebentar saja Hay Hay tiba di tempat tujuan, memasuki hutan yang agak gelap karena di situ tumbuh pohon-pohon yang besar sekali, usianya sudah ratusan tahun dan amat lebat dan liar. Dia segera mencari binatang yang dikehendaki kakek itu dan akhirnya, jauh di tengah hutan, dia melihat dua ekor harimau hitam yang sedang mendekam di bawah pohon besar. Harimau-harimau itu sebesar anak lembu, nampaknya tangkas dan cekatan, liar dengan mata kehijauan yang bersinar-sinar. Belum pernah Hay Hay berkelahi dengan harimau, maka berdebar juga jantungnya karena tegang ketika dia menghampiri dua ekor binatang buas itu.
Dua ekor harimau itu segera dapat mencium bau manusia yang datang mendekat. Mereka bangkit dan menoleh. Ketika melihat Hay Hay muncul, mereka hanya mengeluarkan suara menggereng, memperlihatkan taring-taring yang runcing, akan tetapi tidak membuat gerakan menyerang. Hay Hay menenangkan hatinya dan dia pun mendekat, sikapnya hati-hati dan penuh kewaspadaan. Dia dapat menduga bahwa dua ekor harimau itu tentu jantan dan betina, dan tahu bahwa kedua ekor binatang itu tentu akan menyerangnya berbareng Dia belum tahu sampai di mana kekuatan atau kecepatan dua ekor harimau itu, namun maklum bahwa mereka tentu berbahaya sekali. Maka dia pun waspada, dan sudah mempersiapkan suling kayu hitamnya. Dia harus dapat membunuh keduanya, karena melarikan diri dari seekor harimau tentu saja amat berbahaya.
Dia pun berindap-indap mendekat, dan melihat betapa dua ekor harimau itu hanya mengikuti semua gerakannya dengan pandang mata mereka yang mencorong, Hay Hay mengerti bahwa dua ekor binatang itu berbahaya sekali dan agaknya cukup cerdik dan seperti juga dia, dua ekor harimau itu agaknya hendak mengukur kekuatannya dan mencari kesempatan baik.
"Hemmmmm .....!" Hay Hay menggereng dan kini dua ekor harimau itu memutar tubuh menghadapinya, menggereng-gereng dan makin lebar menyeringai dan memperlihatkan gigi mereka.
Melihat betapa mereka masih belum mau bergerak menyerang, hanya mengambil ancang-ancang dan agaknya mereka mengatur jarak karena kalau dia mendekat mereka mundur dan kalau dia mundur mereka maju, Hay Hay lalu menggunakan kakinya menendang sebatang kayu kering ke arah mereka untuk mengusik mereka.
Pancingannya berhasil. Dua ekor harimau itu nampak marah, merendahkan tubuhnya, mencengkeram tanah dan tiba-tiba seekor di antara mereka mendahului penyerangan, menubruk dengan loncatan yang amat kuat dan cepat. Hay Hay yang sudah siap siaga, melihat tubrukan yang demikian kuat dan cepatnya, segera menghindarkan diri dengan meloncat ke kiri, akan tetapi tidak lupa untuk menyambut dengan tendangan kaki kanan ketika tubuh harimau itu meluncur lewat di sampingnya.
"Bukkk!!" Tendangan itu cukup keras, membuat tubuh harimau itu terpelanting dan terbanting. Binatang itu mengaum keras dengan marahnya dan kini harimau ke dua sudah menerjang dengan dahsyatnya, tidak menubruk seperti tadi, melainkan menerjang dengan penyerangan dua buah kaki depannya, tubuhnya berdiri di atas kedua kaki belakang.
Akan tetapi Hay Hay sudah cepat meloncat lagi dengan elakan yang cepat. Pada saat itu, harimau jantan sebagai penyerang pertama, sudah meloncat dan menubruknya lagi dari belakang! Hay Hay maklum betapa hebatnya bahaya mengancam. Tak mungkin cengkeraman kuku-kuku sekuat baja dari kaki yang amat kokoh kuat itu dihadapi dengan kekebalan sinkang. Dia pun mengelak lagi. Ketika dia mengelak, kaki kiri depan binatang itu masih mencakar ke samping. Hay Hay mengayun suling kayu hitamnya, menangkis.
"Dukk!" Kembali tubuh harimau itu terpelanting. Hay Hay tidak menyiakan kesempatan ini, cepat dia menerjang dengan tendangannya pula yang mengenai tubuh belakang harimau itu.
"Desss .....!" Harimau itu terlempar dan terbanting jatuh sampai bergulingan. Hal ini membuat harimau betina marah. Sambil mengeluarkan suara mengaum dahsyat, ia pun sudah menubruk dari samping. Pada saat itu, Hay Hay yang baru saja melakukan tendangan berada dalam posisi yang kurang baik, maka tidak sempat lagi baginya untuk mengelak. Terpaksa dia menyambut tubrukan itu dengan ayunan suling kayunya yang menusuk dari samping ke arah leher harimau, disusul tangan kirinya yang diayun dan melakukan pukulan ke arah kepala harimau itu. Tentu saja dia mengerahkan tenaga ketika memukul.
"Dukkkk...!" Harimau itu terbanting dan berkelojotan.
Tiba-tiba, dua ekor cakar harimau telah menubruk dan mencengkeram pundaknya dari belakang! Hay Hay terkejut, tidak mengira bahwa harimau jantan tadi sudah dapat menyerangnya demikian cepat. Dia merasa kedua pundaknya nyeri dan ada bau amis dan apak mendekati tengkuknya. Maklum bahwa kalau harimau itu sudah menggigit tengkuknya dia akan celaka, cepat dia menggerakkan suling kayu hitamnya ke arah belakang tubuh sambil membalik.
"Capppp...!!" Suling kayu hitam itu menusuk dada harimau dan menembus jantung.
Untung Hay Hay sudah menggunakan tangan kirinya menyiku ke belakang sebagai susulan tusukannya sehingga cengkeraman pada pundaknya terlepas. Kalau tidak, tubuhnya bisa cabik-cabik oleh kuku-kuku harimau yang kini berkelojotan dalam sekarat itu.
Hay Hay tidak membuang waktu lagi. Ditangkapnya ekor harimau jantan yang masih berkelojotan itu dan diseretnya keluar dari hutan sambil berlari cepat. Setelah harimau itu tidak bergerak lagi, cepat dipanggulnya tubuh binatang itu dan dilarikannya ke tempat di mana kakek tua renta itu menantinya, yaitu di tepi sungai. Dia tidak peduli betapa bajunya menjadi kotor berlepotan darah dan dia merasa betapa tubuh yang sudah tidak bernyawa itu masih hangat.
Hampir kakek itu tidak dapat percaya ketika melihat pemuda perkasa itu dalam waktu yang amat singkat telah datang kembali memanggul bangkai binatang liar itu. Akan tetapi dia menyambutnya dengan girang bukan main.
"Luar biasa... sungguh luar biasai..!!" Dia memuji kagum. "Orang muda perkasa, jangan kepalang menolongku. Bukalah kepala harimau itu dengan hati-hati, keluarkan segumpal otaknya dan masaklah dengan obat ini, dengan air tiga mangkok sampai mendidih dan airnya menguap tinggal sedikit." Dia mengeluarkan sebuah bungkusan kertas. Hay Hay menerimanya. Untung bahwa perabot masak yang dibawanya tidak rusak ketika tadi terjadi perkelahian.
Dengan sebatang pisau dia membuka kepala harimau itu, mengeluarkan otaknya yang masih mengandung darah, memasukkannya dalam panci bersama obat yang ternyata berupa akar-akar dan daun-daun kering itu, mengisi panci dengan air lalu memasaknya di atas api unggun yang dibuatnya. Kakek itu sendiri masih duduk bersila dan memejamkan mata, seperti orang bersamadhi.
Sambil menanti dan menjaga obat yang dimasaknya itu, Hay Hay memotong daging harimau, memilih bagian yang gemuk, mengumpulkannya, mencuci dan menggaraminya, memberi bumbu dan menusuk daging-daging itu dengan potongan-potongan bambu, lalu memanggangnya. Bau sedap membuat kakek itu membuka kedua matanya, menoleh dan dia tersenyum.
"Daging harimau hitam itu panas, akan tetapi justru amat baik untuk memulihkan tenaga."
Tak lama kemudian obat itu pun masak sudah, airnya tinggal sedikit dan otak harimau itu nampak merah kecoklatan bercampur dengan sari obat rempa-rempa tadi. Setelah agak dingin, kakek itu lalu menganyangnya sampai habis! Dan mukanya nampak merah, matanya berseri.
"Orang muda, engkau telah menolongku. Obat ini melenyapkan penyakitku dan mungkin akan menambah usiaku beberapa tahun lagi. Aku ingin mengisi sisa hidupku yang tidak lama ini untuk membalas budimu..."
"Ah, Locianpwe, harap jangan bicara tentang budi. Locianpwe tadi menyelamatkan saya dari ancaman maut yang lebih mengerikan, kalau sekarang saya mencarikan obat untuk Locianpwe, apakah artinya itu? Harap dianggap saja bahwa kita berdua telah melaksanakan kewajiban sebagai orang-orang yang tahu bahwa selagi hidup harus saling bantu. Bukankah begitu, Locianpwe?"
Kakek itu tersenyum dan mengangguk-angguk. "Engkau gagah perkasa dan bijaksana, anak baik. Karena itulah timbul keinginanku untuk mewariskan kepandaianku kepadamu. Biarpun engkau ahli silat yang pandai, ternyata tadi menghadapi serangan sihir dari Min-san Mo-ko saja, engkau hampir celaka. Maukah engkau belajar ilmu sihir dariku?"
Tentu saja Hay Hay merasa girang bukan main! Memang harus diakuinya bahwa ketika dia berhadapan dengan Min-san Mo-ko tadi, hampir dia celaka oleh serangan ilmu hitam dari kakek kurus pucat itu. Dia pun lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kakek tua renta itu. "Kalau Suhu ingin mengajarkan ilmu kepada teecu, tentu saja teecu menerimanya dengan rasa sukur dan terima kasih."
"Bangkitlah, anak baik. Lihat, daging yang kaupanggang bisa hangus." Kata kakek itu. Hay Hay bangkit dan kembali ke api unggun karena dia sedang memanggang daging harimau tadi. Setelah daging itu masak, mereka lalu duduk berhadapan di atas rumput dan makan daging yang masih panas itu, gurih dan manis rasanya, juga lunak. Mereka makan sambil bercakap-cakap.
"Siapakah namamu?"
"Nama teecu Hay dan biasa disebut. Hay Hay. Teecu tidak tahu siapakah nama keturunan teecu karena sejak kecil sudah terpisah dari orang tua kandung. Teecu kini sedang dalam perjalanan mencari tahu tentang orang tua teecu. Teecu hidup sebatang kara dan tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap." Hay Hay memberi keterangan yang sejelasnya sebelum kakek itu bertanya.
Kakek itu memandang tajam dan mengerutkan alisnya, di dalam hatinya merasa kasihan. "Dan dari siapakah engkau mempelajari ilmu-ilmu silat yang tinggi itu sehingga engkau menjadi seorang pemuda yang lihai?"
Kakek yang duduk di depannya ini telah menjadi gurunya yang ke tiga, Hay Hay tidak mau merahasiakan keadaannya lagi. "Sejak kecil teecu dirawat dan dididik oleh dua orang Suhu, yaitu See-thian Lama dan Suhu Ciu-si,an Sin-kai ..."
"Ya Tuhan ......!" Kakek itu terbelalak memandang kepada pemuda itu seperti tidak percaya akan pendengarannya sendiri. "See-thian Lama dan Ciu-sian Sin-kai...... ? Bukankah mereka itu... dari Delapan Dewa....?
Hay Hay mengangguk. "Benar, Suhu. Mereka adalah dua dari Delapan Dewa yang masih hidup."
"Hebat hebat...! Engkau bahagia sekali dapat menjadi murid mereka dan aku bangga bukan main dapat membimbing seorang murid dari See-thian Lama dan Ciu-sian Sin-kai. Ohhh, kini aku akan dapat mati dengan tenang."
"Suhu, bolehkan teecu mengetahui nama dan julukan Suhu?"
Kini kakek itu menghela napas panjang. "Aku sendiri sudah lupa siapa namaku, karena selama puluhan tahun aku bertapa dan tidak berhubungan dengan manusia lain sehingga namaku pun tak pernah disebut-sebut lagi. Akan tetapi, tentu saja untukmu aku harus mempunyai nama. Nah, sebut saja namaku Pek Mau San-jin (Pertapa Gunung Berambut Putih), cocok dengan keadaanku, bukan?"
Hay Hay tidak mendesak lagi dan mulai hari itu, dia pun mengikuti Pek Mau San-jin, pergi ke puncak Pegunungan Min-san, ke dalam guha-guha yang paling sunyi untuk belajar ilmu sihir yang banyak membutuhkan latihan samadhi di tempat yang amat hening. Kakek itu dengan tekun melatih muridnya dengan dasar-dasar latihan kekuatan batin sebagai dasar pelajaran ilmu sihir. Akan tetapi sebelum memulai dengan pelajaran ilmu sihir, kakek itu dengan tegas memperingatkan muridnya. "Hay Hay, ingat baik-baik. Biarpun segala macam ilmu kalau dipergunakan dengan sesat akhirnya akan menjadi kutuk bagi sendiri, namun ilmu sihir ini mendatangkan akibat yang langsung. Sejak ribuan tahun turun-temurun, yang mempelajari ilmu sihir seperti yang akan kuajarkan kepadamu, tidak terlepas daripada syarat batin yang tak dapat dihindarkan lagi. Yaitu, ilmu ini harus dipergunakan untuk kebaikan saja, dan dilarang keras untuk dipergunakan secara sesat. Tidak boleh dipergunakan untuk melakukan kejahatan atau merugikan orang lain, lahir maupun batin. Kalau sampai larangan ini dilanggar, maka akibatnya akan menghantam diri sendiri. Ilmu itu sendiri yang akan menghancurkannya, sedikitnya mendatangkan penyakit seperti yang kualami, besar kecilnya hukuman itu sesuai dengan besar kecilnya pelanggaran. Bahkan ilmu itu sendiri akan dapat membunuh kalau sampai melakukan kejahatan yang besar. Karena itu, ingatlah selalu, muridku, bahwa ilmu ini tidak sekali-kali boleh dipergunakan untuk kejahatan, karena engkau tidak akan bebas daripada hukumannya."
Hay Hay mengangguk-angguk, sedikit pun tidak merasa khawatir. "Akan teecu ingat selalu, Suhu."
Demikianlah, mulai hari itu Hay Hay belajar dengan tekun. Akan tetapi, dia hanya sempat belajar satu tahun saja pada Pek Mau San-jin, karena setelah kurang lebih setahun mempelajari ilmu sihir dari kakek itu, Pek Mau San-jin meninggal dunia karena usia tua. Hay Hay mengubur jenazah kakek yang menjadi gurunya itu seperti pesannya ketika masih hidup, di bawah sebatang pohon di dekat guha tempat gurunya bertapa, meletakkan sebuah batu besar sebagai tanda makam. Setelah melakukan sembahyang untuk memberi hormat terakhir kepada gurunya, Hay Hay lalu pergi meninggalkan tempat itu. Kini dibekali sebuah ilmu baru, yaitu ilmu sihir yang walaupun belum dipelajari sampai tamat karena gurunya keburu meninggal dunia, namun kiranya cukup untuk memperlengkap bekal ilmu pembela dan pelindung diri.
***
Sungai Yalong merupakan sebatang sungai yang amat panjang, mengalir dari utara jauh melampaui tapal batas Propinsi Secuan, merupakan satu di antara anak Sungai Yang-ce yang amat panjang. Sungai Yalong mengalir dari Cing-hai, masuk ke Propinsi Secuan sebelah utara, mengalir sepanjang Propinsi Secuan ke selatan, sampai dekat kota Takou di ujung selatan Propinsi Secuan, Sungai Yalong bertemu dengan Sungai Jin-sha, membelok ke timur dan menjadi Sungai Yang-ce yang amat terkenal itu.
Sungai Yalong mengalir melalui Pegunungan Jin-ping-san dan di pegunungan inilah, di sepanjang Sungai Yalong, terdapat sebuah perkampungan yang menjadi pusat dari perkumpulan Pek-sim-pang. Keluarga Pek yang belasan tahun yang lalu meninggalkan Tibet karena dimusuhi para pendeta Lama yang menghendaki keturunan mereka yang dianggap Sin-tong, membawa anak buah Pek-sim-pang yang setia kepada keluarga itu, mengungsi masuk Propinsi Secuan yang menjadi tempat asal keluarga Pek. Akhirnya keluarga itu, bersama para anggauta Pek-sim-pang yang juga menjadi murid-murid mereka, rombongan itu menetap di tepi Sungai Yalong itu. Tempat itu amat indahnya, merupakan daerah perbukitan yang menjadi lereng Pegunungan Jin-ping-san. Daerah itu memiliki tanah yang subur dan hutan-hutan lebat yang dihuni banyak binatang-binatang buruan. Karena air cukup, tanah subur dan hutan-hutan lebar, keluarga besar Pek-sim-pang tinggal di tempat itu dengan senang, bertani, berburu dan dari sungai itu sendiri mereka dapat memperoleh ikan. Juga dari dalam hutan mereka bisa mendapatkan kayu-kayu besar untuk membangun rumah-rumah mereka. Kini, keluarga itu terkenal sebagai pedagang hasil bumi dan rempa-rempa, disamping terkenal pula sebagai perkumpulan orang-orang gagah yang disegani dan ditakuti oleh para penjahat. Semenjak Pek-sim-pang bermarkas di tempat itu, daerah itu sampai berpuluh li luasnya menjadi aman. Para penjahat terpaksa pergi mengungsi, dan hanya berani melakukan kejahatan jauh di luar jangkauan kekuasaan dan pengaruh keluarga besar Pek-sim-pang.
Setelah tinggal di daerah itu selama belasan tahun, Pek-sim-pang menjadi semakin terkenal. Anggauta atau murid Pek-sim-pang yang jumlahnya kurang lebih seratus orang itu kini bertambah karena di antara mereka ada yang sudah berkeluarga dan tinggal di dalam perkampungan yang merupakan markas atau benteng perkumpulan Pek-sim-pang itu. Perkampungan itu kini memiliki hampir dua ratus orang penghuni tetap. Setelah banyak di antara murid Pek-sim-pang bekerja menjadi pengawal-pengawal perjalanan, penjaga-penjaga keamanan dan sebagainya, maka pengaruh Pek-sim-pang menjadi semakin meluas, sampai meliputi banyak kota besar di Propinsi Secuan.
Perkampungan itu cukup luas, berada di lereng sebuah bukit. Dari jauh sudah nampak tembok putih tinggi yang menjadi pagar perkampungan itu. Dua pintu gerbang depan dan belakang dibuka lebar-lebar di waktu siang hari, dan untuk menjaga keamanan karena sebagai perkumpulan orang gagah tentu ada saja pihak penjahat yang menaruh dendam, setiap hari, siang malam, pintu-pintu gerbang itu dijaga secara bergilir. Rumah keluarga Pek berada di tengah perkampungan, dikelilingi rumah-rumah para anggauta. Rumah keluarga Pek itu cukup besar, terbuat dari tembok dan kayu-kayu besar. Pekarangan depannya luas, ditanami pohon-pohon buah, dan di belakang rumah terdapat kebun sayur yang cukup luas, sebuah taman bunga mungil berada di sebelah timur rumah.
Pada waktu itu, yang menjadi ketua Pek-sim-pang adalah Pek Kong yang telah berusia empat puluh satu tahun. Para ketua Pek-sim-pang memang keturunan keluarga Pek, turun temurun. Pek Kong beristerikan Souw Bwee yang sudah berusia tiga puluh delapan tahun, seorang wanita yang juga memiliki ilmu silat bersumber kepada ilmu silat Siauw-lim-pai. Walaupun kepandaian silatnya tidak setinggi suaminya, namun wanita itu termasuk seorang wanita perkasa. Ayah dari Pek Kong yang bernama Pek Ki Bu, bekas Ketua Pek-sim-pang pula, telah mengundurkan diri dan kini hanya menjadi penasehat saja dari puteranya yang menggantikannya menjadi ketua. Dalam usianya yang enam puluh tahun, Pek Ki Bu telah menjadi seorang duda karena isterinya telah meninggal dunia karena penyakit. Hidupnya terasa sunyi dan untung bahwa dia mempunyai seorang cucu perempuan yang menjadi penghibur hatinya. Seperti diketahui, Pek Kong mempunyai seorang putera yang menjadi sebab keributan sehingga keluarga Pek terpaksa melarikan diri dari Tibet, dianggap sebagai Sin-tong (Anak Ajaib) calon Dalai Lama! Dan semenjak puteranya itu dibawa pergi oleh kakek buyutnya, yaitu Pek Khun, pendiri dari Pek-sim-pang, untuk diselamatkan dan disembunyikan dari pengejaran para pendeta Lama dan para tokoh sesat di dunia hitam yang memperebutkannya, kehidupan keluarga Pek menjadi muram dan sunyi. Akan tetapi empat tahun kemudian sejak anak yang menghebohkan itu terlahir, Souw Bwee atau Nyonya Pek Kong telah melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Pek Eng. Anak inilah yang kemudian menjadi hiburan bagi Kakek Pek Ki Bu yang ditinggal mati isterinya. Dia mendidik cucunya itu penuh kasih sayang.
Kini Pek Eng telah menjadi seorang gadis berusia enam belas tahun yang berwajah manis sekali. Ia lincah gembira, jenaka dan nakal suka menggoda orang, juga galak dan manja karena sejak kecil dimanjakan oleh kakeknya. Tentu saja ia mewarisi ilmu silat yang diajarkan sendiri oleh kakeknya dan karena ia seorang anak yang cerdas dan berbakat maka dalam usia enam ibelas tahun, ia telah menjadi seorang gadis yang gagah perkasa dan kiranya tidak ada di antara murid Pek-sim-pang yang dapat menandinginya.
Pek Eng seorang gadis remaja yang bertubuh tinggi ramping, dengan sepasang kaki yang panjang, pinggang yang kecil, namun dalam usia enam belas tahun, bagaikan setangkai bunga yang mulai mekar semerbak harum, tubuhnya sudah nampak padat berisi dengan lekuk-lekung yang sempurna. Kecepatan dewasanya ini adalah karena ia hidup di alam bebas, suka berburu binatang dan sudah biasa terpanggang terik matahari, tertiup angin badai, tertimpa hujan lebat, pendeknya ia sudah biasa menghadapi keadaan yang keras dan sulit. Kaeena di daerah Secuan bagian selatan banyak terdapat orang-orang dari suku bangsa Yi, maka sedikit banyak kehidupan Pek Eng terpengaruh pula oleh kebiasaan suku bangsa Yi. Apalagi karena kakeknya, setelah kini mengundurkan diri, tertarik oleh kehidupan rohani yang menjadi tradisi suku bangsa Yi, yaitu mendasarkan kehidupan agama mereka dari kitab-kitab suci, kitab-kitab kuno yang bersumber kepada Agama Hindu kuno. Kakek Pek Ki Bu kini tekun membaca kitab-kitab kuno itu dan membiarkan cucunya banyak bergaul dengan suku bangsa Yi. Pakaian dari suku bangsa ini amat indah, juga gagah, sesuai dengan watak suku bangsa Yi yang terkenal sejak jaman dahulu sebagai perajurit-perajurit yang gagah perkasa. Selain terkenal sebagai perajurit-perajurit yang gagah perkasa, juga suku bangsa Yi terkenal sebagai orang-orang yang mempertahankan kebudayaan dan tradisi mereka, hidup sebagai keluarga dan masyarakat golongan tinggi dan menganggap kelompok mereka lebih tinggi derajatnya dengan suku-suku lain. Tidaklah mengherankan kalau hampir setiap keluarga Yi, walaupun yang tergolong kurang mampu, memiliki budak belian atau hamba sahaya yang terdiri dari orang-orang yang pernah mereka talukkan, dari suku-suku lain yang dianggap lebih rendah martabat dan derajat mereka.
Suku bangsa Yi suka mengenakan pakaian yang berwarna hitam sebagai dasar, dengan beraneka ragam dan warna hiasan. Juga mereka biasa menghias dan menutupi kepala mereka dengan kain sorban yang dihias dengan bulu burung, atau yang bagian ujung sorbannya dibentuk mencuat ke atas sebagai pengganti bulu burung.
Pek Eng juga sering kali mengenakan pakaian suku bangsa Yi, walaupun adakalanya dia mengenakan pakaian biasa sebagai seorang gadis bersuku bangsa Han, yaitu suku bangsa terbesar di seluruh Tiongkok. Dan tentu saja Pek Eng pandai berbahasa Yi. Pandai pula ia menunggang kuda, mempergunakan anak panah dan suling, di samping tentu saja pandai bermain silat tangan kosong dan pedang dari ilmu silat keluarganya.
Keluarga Ketua Pek-sim-pang itu sudah lama prihatin kalau mereka memikirkan tentang keturunan mereka, yaitu Pek Han Siong. Ketika Kakek Pek Khun yang sudah tua sekali itu meninggal dunia, dia tidak meninggalkan pesan apa pun mengenai putera Pek Kong itu, yang memang dirahasiakan oleh kakek tua itu sejak dahulu. Sebelum kakek itu mati, kalau ada keluarga Pek yang bertanya tentang Pek Han Siong, selalu dijawab bahwa anak yang diperebutkan itu berada dalam tangan yang dapat dipercaya, keadaannya selamat, sehat dan aman. Dan selalu mengatakan bahwa kalau anak itu sudah dewasa kelak, tentu akan datang sendiri mencari keluarganya di Secuan!
Pada suatu sore, ketika Pek Ki Bu datang ke ruangan menengok keluarga puteranya, kakek ini sekarang berdiam di sebuah rumah kecil yang menyendiri di sudut perkampungan agar dapat bersamadhi dan mempelajari kitab dengan tenteram, Souw Bwee isteri Pek Kong kembali teringat akan puteranya dan nyonya ini pun menangis dengan sedihnya. Suaminya, juga puterinya, berada di situ menghiburnya.
"Sudahlah, disusahkan dan ditangisi apa gunanya?" demikian Kakek Pek Ki Bu berkata untuk menghibur mantunya. "Persoalan apa pun yang timbul dalam kehidupan merupakan tantangan hidup yang harus dihadapi dan diatasi dengan usaha yang didasari akal budi kita. Dan tangis tidak ada gunanya sama sekali untuk dijadikan dasar usaha mengatasi persoalan itu karena tangis bahkan akan menumpulkan akal budi."
Mendengar ucapan ayah mertuanya, Souw Bwee menghapus air matanya dan setelah tangisnya terhenti ia pun berkata, "Harap Ayah memaafkan saya. Akan tetapi saya merasa heran sekali, mengapa mendiang Kakek menyembunyikan keadaan Han Siong dari kita?"
"Tentu mendiang Ayah mempunyai alasan yang kuat untuk itu. Mungkin saja dia melihat bahwa rahasia tentang keadaan Han Siong perlu dipegang kuat-kuat karena masih terdapat banyak ancaman. Pula, bukankah mendiang Kakek kalian itu sudah berpesan bahwa kelak, kalau sudah dewasa, Han Siong tentu akan mencari sendiri keluarganya di sini?"
Pek Kong mengerutkan alisnya. Dia merasa kasihan kepada isterinya yang sudah menderita bertahun-tahun, selalu berduka kalau teringat akan putera mereka. "Ayah, memang tidak seharusnya membenamkan diri dalam duka dan tangis. Akan tetapi, menurut perhitungan saya, kini Han Siong sudah berusia dua puluh tahun lebih, sudah cukup dewasa. Kenapa belum juga dia pulang? Tentu kami merasa khawatir sekali, Ayah, karena bagaimanapun juga, dia adalah putera kami satu-satunya, dialah penyambung satu-satunya keturunan keluarga Pek!"
Mendengar puteranya menyinggung tentang keturunan keluarga Pek, Kakek Pek Ki Bu terdiam dan dia pun mengerutkan alisnya dengan khawatir. Kekhawatiran timbul karena andaikata cucunya itu benar-benar telah tidak ada, bukankah hal itu berarti bahwa keluarga Pek akan terputus keturunannya? Dan hal ini tentu saja akan merupakan hal yang amat menyedihkan.
Sejak tadi Pek Eng mendengarkan dengan alis berkerut. Ia duduk bersimpuh merangkul ibunya untuk menghiburnya ketika ibunya menangis, sementara ia mendengarkan percakapan mereka. Ketika ayahnya menyinggung soal keturunan keluarga Pek, kerut alisnya makin mendalam dan sepasang matanya yang agak sipit itu mengeluarkan sinar penasaran, mukanya yang manis itu menjadi merah gelap. Hatinya tak pernah mau menerima sikap orang-orang tua bangsanya yang selalu mementingkan anak laki-laki daripada anak perempuan. Keturunan! Hanya nama keturunan, hanya she. Ia tahu bahwa ia tidak akan melahirkan keturunan Pek, melainkan keturunan marga orang yang akan menjadi suaminya. Dan hal ini menyakitkan hatinya sekali! Ia merasa seolah-olah didorong ke samping sehingga berdiri di luar kalangan atau lingkaran keluarga Pek!
Tiba-tiba ia melepaskan rangkulan dari pundak ibunya dan bangkit berdiri. Sikapnya gagah ketika ia berkata. "Kakek, Ayah dan Ibu, biarkan aku berangkat pergi mencari Koko Pek Han Siong yang menimbulkan kedukaan dalam keluarga Pek!"
Tiga orang tua itu terkejut, seolah-olah baru ingat akan adanya Pek Eng di situ. "Eng-ji (Anak Eng), engkau seorang anak perempuan ......!" Seru ibunya.
Seruan ibunya membuat rasa penasaran dan marah di hati Pek Eng semakin bergelora. "Apa salahnya seorang anak perempuan, Ibu? Aku tidak kalah oleh seorang anak laki-laki. Aku tidak pernah menyusahkan hati Ibu, tidak seperti Koko! Daripada Ibu susah-susah selalu, biarlah aku akan pergi mencari Koko sampai dapat!"
"Eng-ji, jangan bicara tidak karuan!" bentak ayahnya. "Kami saja tidak tahu di mana Han Siong berada, apalagi engkau. Kemana engkau hendak mencarinya?"
"Kemana saja, Ayah. Kalau memang Koko masih hidup, pasti akan dapat kucari dan kutemukan. Aku akan mulai dengan daerah Kun-lun-san di mana kakek buyut bertapa dan mencari keterangan di sana."
"Jangan, Eng-ji, engkau jangan pergi!" Ibunya berseru penuh kekhawatiran.
"Pek Eng, apakah engkau akan menjadi seorang anak yang durhaka? Ibumu sedang berduka memikirkan kakakmu yang belum juga pulang dan sekarang engkau malah hendak pergi meninggalkannya?" Terdengar Pek Ki Bu berkata halus menegur cucunya yang amat disayangnya.
Pek Eng cemberut memandang kakeknya. Anak ini paling manja terhadap kakeknya, dan setiap kali ditegur, ia merasa kecewa dan marah. "Kong-kong, aku hendak mencari Koko justeru agar Ibu tidak selalu berduka. Hemmm, mentang-mentang aku ini anak perempuan, apa pun yang kulakukan serba tidak kebetulan saja. Huh!" Gadis itu membanting kakinya lalu meninggalkan ruangan itu.
Dengan uring-uringan Pek Eng keluar dari rumahnya, lalu berjalan-jalan menuju ke pintu gerbang di depan perkampungan mereka. Hatinya masih terasa jengkel dan kesal. Diam-diam ia merasa tak suka kepada kakaknya, rasa tidak suka yang timbul pada saat itu karena ia merasa iri hati. Biasanya ia sendiri merasa rindu kepada kakak yang selama hidup belum pernah dilihatnya itu. Sudah seringkali ibu dan ayahnya bicara tentang kakak yang sejak bayi dibawa pergi kakek buyutnya. Ia ingin sekali melihat bagaimana wajah kakak kandungnya itu. Seperti ayahnyakah? Atau seperti ibunya? Orang bilang ia sendiri mirip ibunya dan ia merasa bangga karena ibunya amat cantik.
Setelah tiba di pintu gerbang, ia hanya menjawab sambil lalu saja ketika para penjaga pintu gerbang menyapanya. Semua anggauta Pek-sim-pang yang sebetulnya masih terhitung saudara-saudara seperguruannya, karena mereka adalah murid-murid ayahnya atau kakeknya, menyebutnya Pek-siocia (Nona Pek), panggilan menghormat karena biarpun saudara seperguruan, gadis remaja ini adalah puteri ketua mereka.
"Pek-siocia, senja telah mendatang, engkau hendak ke manakah? Sebentar lagi pintu gerbang akan ditutup." Kata seorang di antara mereka. Semua penjaga memandang gadis itu dengan sinar mata penuh kagum. karena siapakah yang tidak tertarik dan kagum kepada gadis yang amat manis itu?
Biasanya Pek Eng bersikap manis kepada semua anggauta Pek-sim-pang. Ia memang seorang gadis yang lincah jenaka dan gembira. Akan tetapi saat itu hatinya sedang murung, maka pertanyaan orang itu diterimanya sebagai suatu gangguan.
"Aku mau pergi jalan-jalan. Biar sudah kaututup, apa disangka aku tidak dapat masuk?" Berkata demikian, ia lalu meloncat dan berlari cepat sekali sehingga sebentar saja bayangannya sudah menghilang. Para penjaga itu hanya menggeleng kepala, kagum akan kelihaian gadis itu. Tentu saja mereka akan selalu berjaga di situ, walaupun pintu gerbang sudah ditutup nanti, besiap-siap untuk cepat membuka pintu gerbang kalau gadis itu pulang. Tentu saja mereka maklum bahwa walaupun pintu gerbang ditutup, tanpa dibuka sekalipun, dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi, gadis itu akan mampu meloncat dah masuk melalui atas pagar tembok.
Dengan hati masih kesal Pek Eng lalu berlari menuju ke kaki bukit di mana ia tahu merupakan tempat tinggal sekelompok suku bangsa Yi yang menjadi sahabatnya. Dusun suku Yi itu sudah nampak dari situ dan ia mempunyai banyak kawan baik di sana. Senang mendengar cerita orang-orang tua suku bangsa Yi menceritakan pengalaman mereka yang menegangkan ketika terjadi perang, menceritakan kegagahan nenek moyang mereka.
Akan tetapi ketika ia tiba di pintu gerbang dusun Yi, ia melihat belasan orang Yi mengepung seorang pemuda yang menggendong buntalan, dan seorang gadis Yi nampak duduk bersimpuh di atas tanah sambil menangis, seorang pemuda Yi marah-marah sedangkan orang-orang Yi lainnya mendengarkan, tangan memegang gagang senjata dan semua mata ditujukan kepada pemuda itu.
Karena tidak ingin mengganggu dan ingin sekali tahu apa yang terjadi, Pek Eng lalu menyelinap dan mengintai sambil mendengarkan. Juga ia memperhatikan pemuda itu yang kelihatannya tenang-tenang saja dikepung oleh orang-orang Yi yang kelihatannya marah-marah. Seorang pemuda yang bertubuh sedang namun tegap, dengan dada bidang. Yang menarik adalah wajahnya yang berseri dan sikapnya yang tenang, matanya bersinar-sinar, mulutnya tersenyum-senyum, seolah-olah dia menghadapi sekumpulan sahabat baik yang menyambutnya, bukan sekumpulan orang Yi yang sedang marah kepadanya.
Pemuda itu bukan lain adalah Hay Hay! Seperti kita ketahui, Hay Hay berguru kepada Pek Mau San-jin selama satu tahun dan setelah gurunya itu meninggal dunia dan dikuburnya sebagaimana mestinya, Hay Hay lalu melanjutkan perjalanannya, yaitu mencari keluarga Pek di Secuan. Sore hari itu, tibalah dia di sebuah hutan, tak jauh dari dusun Yi itu. Karena hari telah sore, dia bergegas hendak menuju ke dusun yang sudah dilihatnya dari jauh tadi, agar dia dapat melewatkan malam di dusun itu. Akan tetapi tiba-tiba dia mendengar suara wanita menjerit. Cepat dia lari ke arah datangnya suara dan betapa marahnya melihat seorang gadis suku Yi sedang dipeganggi dua orang laki-laki suku Miau yang agaknya hendak menyeretnya dan menculiknya. Dia mengenal mereka dari pakaian-pakaian mereka dan memang dia sudah mendengar dalam perjalanannya bahwa ada permusuhan antara kedua suku bangsa itu. Tidak salah lagi, dua orang suku Miau itu tentu hendak menculik gadis Yi yang cukup cantik itu.
"Lepaskan gadis itu!" Hay Hay membentak dalam bahasa Han karena dia tidak dapat berbahasa Yi ataupun Miau. Dua orang laki-laki itu terkejut dan ketika mereka melihat bahwa yang membentak itu adalah seorang pemuda Han yang kelihatan biasa saja, keduanya menjadi marah. Seorang di antara mereka mencabut parang, sedangkan orang ke dua masih memegangi kedua lengan gadis yang meronta-ronta itu. Si pemegang Parang yang tinggi besar itu segera menerjang Hay Hay dengan parangnya, menyerang dengan dahsyat. Namun Hay Hay melihat bahwa orang ini hanya memiliki tenaga besar saja, maka dengan mudah dia mengelak dan sekali kakinya bergerak, lutut kanan orang itu telah tercium ujung sepatu Hay Hay dan dia pun terpelanting.
Melihat ini, orang ke dua melepaskan gadis Yi dan ikut mengeroyok. Namun, dengan kedua kakinya saja, tanpa menggunakan tangan, Hay Hay menghajar mereka, menendangi mereka sampai akhirnya mereka lari tunggang-langgang meninggalkan gadis yang masih menangis terisak-isak.
Hay Hay tidak mengejar, hanya tersenyum dan dia menghampiri gadis itu. Gadis itu mengangkat muka memandang, kemudian sambil menangis menubruk dan merangkul Hay Hay, menangis di dada pemuda itu. Tentu saja Hay Hay merasa senang sekali karena gadis itu memang manis. Otomatis tangannya mengusap-usap rambut itu, dibelainya rambut itu dan dia pun balas merangkul. Sampai beberapa lamanya gadis itu berada dalam pelukannya.
"Nona manis, di manakah rumahmu? Hari sudah hampir malam, sebaiknya kalau engkau pulang saja." akhirnya Hay Hay berkata setelah bajunya menjadi basah di bagian dada oleh air mata gadis Yi itu.
Gadis itu melepaskan diri dan bicara dalam bahasa Yi, akan tetapi karena Hay Hay tidak mengerti gadis itu lalu menuding-nuding ke arah letak dusunnya. Hay Hay mengangguk, lalu menggandeng tangan gadis itu, diajaknya pulang ke dusunnya. Mereka berjalan sambil bergandeng tangan dan biarpun mereka tak dapat saling bicara, namun setiap kali gadis itu menoleh dan memandang wajahnya, Hay Hay dapat menangkap sinar mata penuh rasa syukur dan terima kasih terpancar dari sinar mata yang bening itu. Seorang gadis yang manis, pikirnya senang bahwa dia sudah secara kebetulan dapat menyelamatkan gadis ini dari tangan dua orang penculiknya. Dia membayangkan betapa malam ini dia akan diterima sebagai tamu agung oleh keluarga gadis itu, dijamu dan memperoleh kamar yang enak di mana dia dapat membiarkan tubuhnya yang penat itu beristirahat!
Karena berpikir demikian, wajah Hay Hay cerah, berseri dan mulutnya tersenyum ketika dia dan gadis itu tiba di luar pintu gerbang dusun tempat tinggal suku bangsa Yi itu dan melihat beberapa orang keluar dari pintu gerbang dan bicara dengan hiruk-pikuk sambil menuding-nuding ke arah dia dan gadis itu. Gadis itu melepaskan tangannya yang digandeng Hay Hay, lalu berlari menghampiri kelompok orang itu, bicara kepada mereka sambil tangannya menuding ke arah Hay Hay, agaknya menceritakan apa yang telah terjadi. Akan tetapi seorang di antara mereka, seorang pemuda yang bertubuh jangkung mengeluarkan suara keras dan menampar gadis itu. Gadis itu menjerit, lalu menjatuhkan diri bersimpuh dan menangis. Melihat ini, Hay Hay terkejut sekali dan cepat dia berlari menghampiri mereka. Orang-orang itu mengurungnya dengan sikap mengancam.
Demikianlah keadaan di situ ketika Pek Eng tiba dan gadis ini mengintai untuk melihat dan mendengar apa yang telah terjadi. Ia melihat sikap pemuda Han itu yang tenang dan tersenyum-senyum. Seorang di antara para pengepung itu yang agaknya merupakan satu-satunya di antara mereka yang pandai berbahasa Han, melangkah maju dan menudingkan telunjuknya dengan marah kepada Hay Hay.
"Engkau telah menodai nama baik keluarga Hamani!"
Hay Hay mengerutkan alisnya. "Aku? Menodai nama baik keluarga orang? Hemm, apa kesalahanku? Dan siapa itu Hamani?"
Tiba-tiba gadis itu bangkit berdiri, menghampiri Hay Hay dan dengan muka ketakutan ia bicara dalam bahasa Yi dan menepuk dada sendiri sambil berkata, "Hamani."
Mengertilah Hay Hay bahwa gadis yang ditolongnya itu berkata Hamani dan agaknya dimarahi orang banyak dan agaknya membutuhkan perlindungannya pula. Maka dengan sikap melindungi, dia merangkul pinggang gadis itu. "Jangan takut, Hamani, aku akan melindungimu." bisiknya. Melihat ini, orang-orang itu makin ribut dan menuding-nuding.
"Orang asing, engkau telah menggandeng dan merangkul Hamani. Tidak seorang pun laki-laki boleh memeluk seorang gadis kecuali dia menjadi tunangannya atau suaminya."
Hay Hay terkejut dan otomatis rangkulannya pada plnggang ramping itu pun dilepaskan. " Akan tetapi aku... aku hanya menolongnya dari ancaman orang-orang jahat, dan aku hanya ingin melindungi...!" Dia memprotes keras.
"Apalagi engkau seorang asing, telah berani menghina seorang gadis kami. Oleh karena itu, engkau harus ikut bersama kami untuk melangsungkan pernikahan!"
Kalau pada saat itu ada kilat menyambarnya, belum tentu Hay Hay akan sekaget seperti ketika mendengar ucapan orang itu. Sepasang matanya terbelalak dan dia undur dua langkah, menjauhi Hamani. Menikah? Apa-apaan ini? Dia menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku tidak mau menikah " katanya.
Pek Eng mendengarkan semua itu dan merasa geli hatinya. Ia tahu akan peraturan dan kebiasaan suku bangsa Yi. Kalau seorang gadis sudah mau digandeng, apalagi dipeluk oleh seorang pemuda, maka berarti bahwa gadis dan pemuda itu saling mencinta. Dan bagi keluarga gadis itu, tentu akan merasa ternoda dan terhina kalau si pemuda tidak mau kawin dengan gadis yang telah "dinodainya" itu, dalam arti kata, diperlakukan dengan mesra di depan umum.
Mendengar penolakan Hay Hay, orang itu menterjemahkannya dalam bahasa Yi dan marahlah orang-orang itu.
"Dia menghina kita!"
"Dia hendak mempermainkan gadis kita!"
"Orang asing. ini harus dibunuh sebagai musuh kalau tidak mau mengawini Hamani!" Ucapan terakhir ini dikeluarkan oleh pemuda yang tadi menampar Hamani karena dia adalah kakak kandung gadis itu.
Mendengar betapa pemuda yang menolongnya itu menolak untuk menjadi suaminya, Hamani sendiri terkejut dan ia pun lari menghampiri Hay Hay dengan muka pucat dan mata terbelalak. Dalam bahasa Yi ia berteriak-teriak. "Engkau telah menyelamatkan aku, dan aku telah menyerahkan diri, dan engkau menerimaku, memelukku, menggandengku, memandang dengan mesra, kita telah sama-sama tersenyum dan sepakat dalam pandang mata kita, dan kau... kau sekarang menolak untuk menikah dengan aku? Aihhh, engkau merayuku dan hendak meninggalkan? Engkau jahat... jahat sekali...!" Dan kini Hamani menggunakan kedua tangannya untuk memukul dan mencakar muka Hay Hay.
Hay Hay tidak mengerti akan semua itu, akan tetapi melihat sikap Hamani, dia terkejut dan cepat dia mengelak ke belakang. Akan tetapi pada saat itu, semua orang telah maju dengan sikap mengancam untuk menyerangnya. Hay Hay merasa bingung sekali. Tak disangkanya sama sekali bahwa dia akan menerima penyambutan seperti ini! Tidak ada gunanya untuk membela diri dengan kata-kata karena agaknya di antara mereka hanya seorang saja yang dapat mengerti bahasanya. Dan tidak ada gunanya melayani mereka yang marah-marah itu, maka dia pun cepat membalikkan tubuhnya dan melarikan diri dari tempat itu!
"Kejar .....!"
"Tangkap ....!"
"Hajar dia .....!"
Orang-orang itu mengejarnya, akan tetapi Hay Hay telah berlari cepat memasuki hutan yang mulai gelap.
Pek Eng yang melihat semua ini, diam-diam merasa geli hatinya. Biarlah, pemuda itu memang perlu dihajar, pikirnya. Tentu pemuda itu telah mempergunakan ketampanan wajahnya yang selalu cerah tersenyum-senyum itu untuk memikat hati Hamani, akan tetapi dia tidak berani bertanggung jawab dan menolak ketika disuruh mengawini gadis itu. Bukan urusannya. Ia pun lalu meninggalkan tempat itu untuk kembali ke perkampungannya sendiri. Dibatalkan niatnya untuk berkunjung ke dusun orang-orang Yi itu. Ia merasa tidak enak karena pemuda itu adalah bangsa Han, bangsanya. Tentu kalau ia berkunjung, percakapan akan mengenai pemuda Han itu dan bagaimanapun juga, ia akan merasa tersinggung. Hemm, pemuda mata keranjang tukang perayu, rasakan kau sekarang, pikirnya sambil tersenyum geli, akan tetapi juga jengkel terhadap pemuda itu. Hamani adalah kembang dusun itu dan ia mengenalnya sebagai seorang gadis yang baik.
Bagaimanapun juga, sedikit ketegangan karena persitiwa di dusun suku Yi tadi telah banyak mengurangi perasaan kesal dan dongkolnya yang dibawa dari rumah tadi, dan begitu tiba di pintu gerbang, ternyata para penjaga masih berada di situ menunggunya dan membukakan pintu. Hal ini membuat ia semakin tenang dan ia pun kembali ke rumah keluarganya, langsung masuk ke kamar dan tidur.
***
Dengan sikap uring-uringan Hay Hay merebahkan diri di antara cabang-cabang pohon yang tinggi itu. Sialan, dia mengomel. Membayangkan sambutan yang meriah dan ramah ternyata yang diterima adalah caci maki bahkan serangan dan ancaman! Membayangkan tidur nyenyak dengan perut kenyang di dalam kamar yang bersih di atas tempat tidur beralaskan kasur dqn bantal, ternyata kini dia rebah tak enak sekali di atas cabang pohon, di antara ranting dan daun, kotor dan basah, dengan perut lapar pula! Sialan! Sialan gadis itu, pikirnya penasaran. Ditolong malah mencelakakan! Itu namanya dia memberi air susu dibalas air tuba! Tapi gadis itu manis, dan pinggangnya ramping sekali, dia membayangkan dan senyumnya muncul kembali. Bagaimanapun juga, dia sudah merangkulnya, merasakan kehangatan tubuhnya, kelembutan kulitnya, dan jalan bersama sambil bergandeng tangan! Kawin? Sialan! Siapa yang ingin kawin?
Dengan keadaan gelisah akhirnya Hay Hay dapat tidur nyenyak di antara ranting dan daun pohon, jauh tinggi di atas, aman dari pengejaran orang-orang Yi yang sama sekali tidak menyangka bahwa orang buruan mereka itu berada di atas pohon yang tinggi, yang beberapa kali mereka lewati.
Baru setelah matahari menembuskan sinarnya di antara celah-celah daun dan menimpa mukanya, Hay Hay terbangun pada keesokan harinya. Sinar keemasan matahari pagi nampak indah, seperti jalur-jalur benang emas di antara daun-daun. Hay Hay bangkit duduk, lalu berdiri di atas cabang yang paling tinggi, memandang ke kanan kiri untuk melihat apakah masih ada orang-orang Yi yang mencarinya di tempat itu. Sunyi saja di sekeliling pohon itu, akan tetapi dia melihat sesuatu yang menarik. Tidak jauh dari situ, di lereng bukit, dia melihat tembok perkampungan dan jantungnya berdebar tegang. Dia mengenal bentuk pagar tembok orang-orang Han. Perkampungan itu tentulah perkampungan orang Han dan agaknya dia akan dapat mencari keterangan tentang keluarga Pek yang kabarnya tinggal di sekitar pegunungan ini. Dia lalu meloncat turun setelah mengikatkan buntalan pakaian yang tadi dipakai sebagai bantal itu di punggungnya. Hay Hay segera keluar dari hutan itu dan menuju ke arah bukit di mana dia tadi melihat ada pagar tembok sebuah perkampungan. Tak lama kemudian dia sudah berdiri di depan pintu gerbang perkampungan Pek-sim-pang! Hatinya girang bukan main ketika dia melihat papan dengan huruf-huruf besar PEK SIM PANG terpasang di depan pintu gerbang itu. Tidak salah, inilah perkampungan Pek-sim-pang, tempat tinggal keluarga Pek yang merupakan satu-satunya keluarga di dunia ini yang dapat menceritakan siapa dirinya yang sesungguhnya, siapa pula orang tuanya! Jantungnya berdebar penuh ketegangan, juga keharuan. Pagi itu suasana di situ masih sunyi, pintu gerbang agaknya baru saja dibuka dan masih nampak kesibukan di sebelah dalam perkampungan itu, akan tetapi tidak nampak orang keluar masuk.
Tiba-tiba saja, muncul seorang gadis yang membuat Hay Hay membelalakkan matanya. Seorang gadis yang baru saja berangkat dewasa berusia antara enam belas atau tujuh belas tahun. Mata itu, bibir itu! Mempesonakan! Dengan wajah penuh senyum cerah Hay Hay melangkah maju menghampiri gadis yang baru keluar dari pintu gerbang itu.
Gadis itu adalah Pek Eng. Begitu ia melihat Hay Hay, alisnya berkerut. Tentu saja ia segera mengenal pemuda yang menjadi orang buruan suku Yi semalam. Kiranya dia dapat melarikan diri, pikirnya. Melihat pemuda itu menghampirinya dengan wajah berseri, pandang mata bersinar dan mulut tersenyum-senyurn, Pek Eng menghardiknya.
"Mau apa kau cengar-cengir di sini? Hayo pergi atau aku akan menyeretmu ke dusun orang-orang Yi agar engkau dihukum!"
Hay Hay membelalakkan matanya. "Ehh? Bagaimana Nona tahu? Pernahkah kita saling bertemu? Rasanya belum pernah walaupun aku akan merasa berbahagia sekali dapat bertemu dengan Nona, biarpun hanya dalam mimpi."
Selama hidupnya belum pernah Pek Eng menghadapi seorang laki-laki yang bicara seperti ini, maka ia tertegun, hatinya tertarik untuk mengetahui dan bertanya, "Kenapa merasa berbahagia kalau dapat bertemu denganku?" Pemuda ini memang tampan dan memiliki wajah yang ramah menyenangkan dan menarik hati, pikirnya sambil menatap wajah Hay Hay.
Kini Hay Hay juga memandang dengan penuh kagum. Setelah tadi membuka mulut dan bicara, nampak jelas bahwa gadis ia memang manis bukan main, ketika menggerakkan mulutnya, muncullah lesung pipit di pipi sebelah kiri. Dan sinar mata gadis itu pun demikian penuh gairah hidup, wajahnya membayangkan kelincahan dan kejenekaan. Seorang gadis pilihan di antara seribu!
"Kenapa, Nona? Siapa yang takkan berbahagia bertemu dengan seorang gadis yang cantik jelita dan manis sepertimu ini?"
Pek Eng adalah seorang gadis yang lincah jenaka, pandai berdebat. Akan tetapi dia sudah melihat pemuda ini hampir dikeroyok orang kemarin sore, karena berani bermain-main dengan seorang gadis Yi. Kiranya seorang pemuda yang pandai merayu wanita, dengan kata-kata manis.
"Hemm, engkau memang mata keranjang dan perayu. Akan tetepi jangan harap akan dapat memikat aku dengan rayuan gombalmu itu, ya? Hayo lekas pergi dari sini, kalau tidak, terpaksa aku akan menghajarmu!"
Hay Hay membuka mata lebar-lebar dan mulutnya mengomel. "Hayaaa... agaknya daerah ini ditinggali oleh orang-orang yang ringan mulut ringan tangan, mudah menghajar orang yang tidak bersalah. Nona yang baik, aku jauh-jauh datang untuk bertemu dengan Ketua Pek-sim-pang, maka ijinkanlah aku masuk dan menghadap Pek-sim Pangcu (Ketua)."
Pek Eng mengerutkan alisnya. Orang ini benar tidak tahu diri. Mau apa minta bertemu dengan Ketua Pek-sim-pang? Ia tidak percaya bahwa ayahnya mengenal seorang pemuda seperti ini...tiba-tiba wajahnya berubah pucat dan ia bertanya dengan suara agak gemetar.
"Kau... kau... siapakah namamu .....?"
Hay Hay merasa terkejut juga melihat perubahan pada wajah dara cantik ini. Kalau tadi nampak galak dan lincah, kini nampaknya pucat dan suaranya gemetar. Dia merasa tidak tega untuk bermain-main, maka dengan suara sungguh-sungguh dia pun menjawab. "Namaku Hay, biasa dipanggil Hay Hay ......"
Wajah itu nampak lega akan tetapi masih ragu-ragu. "Benarkah? Namamu bukan... Han Siong .....?"
Hay Hay tersenyum lebar. "Aih, kalau namaku Han Siong, kenapa aku mengaku Hay Hay? Aku tidak mempermainkanmu, Nona, aku tidak berani. Namaku Hay Hay, dan aku ingin sekali bertemu dengan Ketua Pek-sim-pang...."
"Apakah engkau mengenal Ayahku?"
Kini Hay Hay terkejut bukan main. "Eh, jadi Nona... engkau adalah puteri Pek-sim-pang?"
"Benar, sekarang jawab, apakah engkau mengenal Ayahku?"
Hay Hay menggeleng kepala.
"Kalau begitu pergilah dan jangan ganggu kami lagi. Pergilah sebelum ada orang Yi datang ke sini dan mengenalmu. Engkau tentu akan diseret!"
"Tidak, Nona, aku harus menghadap Pangcu lebih dulu. Aku mempunyai keperluan yang teramat penting ....." Hay Hay mendesak.
Pada saat itu, tujuh orang penjaga pintu gerbang murid-murid Pek-sim-pang, sudah keluar karena mereka tertarik oleh keributan antara nona mereka dengan seorang pemuda asing.
"Pek-siocia, apakah yang terjadi?"
"Siapakah dia ini?"
Pek Eng menoleh kepada para penjaga itu. "Dia seorang pendatang yang kemarin telah membuat keributan di perkampungan orang Yi, dan sekarang minta bertemu dengan Ayah. Suruh dia pergi dan jangan mengganggu lebih lanjut." kata Pek Eng dan ia pun masuk ke dalam gardu penjagaan di pintu gerbang dengan sikap tidak peduli lagi.
"Eh, sobat. Kalau engkau datang untuk minta pekerjaan, di sini tidak ada pekerjaan." kata komandan jaga kepada Hay Hay.
"Aku datang bukan ingin minta pekerjaan atau minta apa pun, aku datang untuk bertemu dengan Pek-sim Pangcu karena ada suatu hal yang amat penting bagiku untuk kutanyakan kepada Pangcu. Harap kalian suka menyampajkan hal ini kepada Pangcu agar aku dapat diterima menghadap."
Karena tadi Pek Eng sudah memberi perintah agar pemuda ini diusir, maka para anggauta Pek-sim-pang itu bersikap keras. "Tidak bisa, Pangcu tidak boleh diganggu dan Siocia tadi sudah minta agar engkau pergi. Pergilah dan jangan ganggu kami." kata komandan jaga.
Hay Hay mengerutkan alisnya dan melirik ke arah Pek Eng yang sudah duduk di bangku tempat jaga dengan sikap acuh. Dia menarik napas panjang lalu berkata seperti kepada diri sendlri. "Ribuan li jauhnya aku melakukan perjalanan dan mendengar bahwa Pek-sim-pang adalah perkumpulan orang-orang gagah. Akan tetapi melihat kenyataannya, lebih tepat kalau huruf Pek (Putih) di diganti dengan Hek (Hitam) saja!"
"Ee-eeeh-eeehhh!" Tiba-tiba saja tubuh Pek Eng meluncur dari dalam gardu itu, bagaikan seekor burung terbang saja kini melayang dan tiba di depan Hay Hay, bertolak pinggang dan matanya terbelalak walaupun masih agak sipit mencorong penuh kemarahan, dan ia berdiri tegak, dada dibusungkan, kepala ditegakkan dan kedua tangannya bertolak pinggang, lalu tangan kirinya bergerak, telunjuknya yang agak melengkung bentuknya itu, kecil mungil, menunjuk ke arah hidung Hay Hay.
"Apa kamu bilang tadi? Menghina kami, ya? Apa maksudmu mengatakan bahwa Pek-sim-pang harus diganti menjadi Hek-sim-pang (Perkumpulan Hati Hitam)?"
Hay Hay juga sudah marah karena dia ditolak menghadap Ketua Pek-sim-pang. "Sikap kalian yang menyebabkan aku bermulut lancang, Nona. Nama perkumpulannya Pek-sim-pang, sepatutnya para anggautanya juga berhati putih. Hati putih berarti hatinya baik, akan tetapi melihat sikap kalian menerima kunjunganku sungguh jauh daripada baik dan lebih pantas kalau kalian menjadi anggauta Perkumpulan Hati Hitam saja."
"Keparat bermulut kotor! Kau muncul dan merayu gadis orang, kemudian melarikan diri ketika akan dikawinkan, sudah terlalu bagus perbuatanmu itu, ya? Kamu sendiri jahat, hatimu lebih hitam daripada arang, masih berani memaki kami?"
"Pukul saja mulut lancang itu, Pek-siocia!" kata komandan jaga yang marah sekali mendengar perkumpulannya dihina orang.
Para murid Pek-sim-pang sudah menghampiri Hay Hay dengan sikap mengancam. Pada saat ini terdengar suara yang berat, "Omitohud... orang-orang Pek-sim-pang sekarang hanya menjadi tukang-tukang pukul yang suka mengeroyok orang!"
Pek Eng dan para murid Pek-sim-pang terkejut dan cepat menengok. Kiranya di situ telah berdiri tiga orang pendeta Lama. Usia mereka antara enam puluh sampai enam puluh lima tahun, memakai jubah panjang berwarna kuning dengan garis-garis merah. Pek Eng dan para murid Pek-sim-pang sudah mendengar belaka akan riwayat perkumpulan mereka yang terpaksa lari mengungsi dari Tibet karena ulah para pendeta Lama ini. Apalagi Pek Eng. Sejak kecil ia mendengar tentang peristiwa yang menimpa keluarganya, gara-gara para pendeta Lama ingin merampas kakaknya yang mereka namakan Sin-tong. Maka, sejak kecil sudah tertanam perasaan tidak suka kepada para pendeta Lama. Kini di situ muncul tiga orang pendeta Lama, maka seketika ia dan para murid Pek-sim-pang tidak lagi memperhatikan Hay Hay yang dianggap tidak penting.
"Apakah kalian bertiga ini pendeta-pendeta Lama dari Tibet?" tanya Pek Eng dengan sikap yang sama sekali tidak menghormat. Bukan wataknya demikian. Ia cukup terdidik baik dan biasanya ia bersikap sopan dan halus terhadap orang-orang tua, apalagi terhadap pendeta. Akan tetapi, karena memang ia sudah merasa sakit hati kepada pendeta-pendeta Lama, maka kini ia bersikap kasar ketika menduga bahwa tiga orang ini tentulah pendeta-pendeta Lama dari Tibet.
"Omitohud, tidak keliru dugaanmu, Nona. Kami adalah tiga orang pendeta Lama dari Tibet. Kami ingin bertemu dengan Pek Kong atau ayahnya, Pek Ki Bu." kata seorang di antara mereka yang mukanya penuh bopeng dan matanya melotot lebar.
"Aku adalah Pek Eng, puteri Ketua Pek-sim-pang. Tidak perlu bicara dengan Ayahku, kalau ada keperluan, cukup kalian bicara saja dengan aku. Mau apakah kalian datang ke tempat kami ini?" Hatinya makin kesal membayangkan betapa keluarganya bersama para anggauta Pek-sim-pang terpaksa melarikan diri karena ulah orang-orang ini.
Tiga orang pendeta itu saling pandang, kemudian Si Muka Bopeng yang agaknya menjadi wakil pembicara mereka, berseru. "Omitohud...! Kiranya Nona adalah puteri Pek Kong? Jadi Nona adalah Adik Sin-tong... hemmm, baiklah, kami akan bicara denganmu, Nona. Sampaikan kepada Ayahmu bahwa kami datang untuk menagih hutang. Sudah dua puluh tahun kami menanti dengan sabar, kini Sin-tong telah menjadi dewasa, maka keluarga Pek harus menyerahkan Sin-tong kepada kami!"
Tentu saja hati Pek Eng yang sudah sakit dan marah terhadap para pendeta Lama, kini menjadi semakin panas mendengar ucapan pendeta muka bopeng itu. Ia pun melangkah maju, membusungkan dadanya dan suaranya nyaring dan keras penuh kemarahan ketika ia membentak. "Kalian iblis-iblis neraka yang menyamar menjadi pendeta-pendeta, seperti harimau-harimau berkerudung bulu domba! Kalian inIlah manusia-manusia terkutuk yang telah membuat kakak kandungku semenjak lahir berpisah dengan keluarga kami. Masih belum puas kalian yang jahat ini mengacau keluarga kami sampai dua puluh tahun, kini datang lagi. Sungguh, manusia-manusia terkutuk macam kalian ini harus dibasmi!"
Kini ada dua belas orang anak murid Pek-sim-pang yang berkumpul di situ dan mendengar kata-kata keras nona mereka, empat orang yang berada paling depan sudah menerjang pendeta Lama muka bopeng itu.
"Pergilah!" pendeta Lama itu membentak sambil mengebutkan lengan bajunya ke depan, menyambut serangan empat orang itu. Empat orang itu seperti daun-daun kering dilanda angin keras, tubuh mereka terpelanting dan terbanting keras sampai bergulingan di atas tanah.
Melihat ini, delapan orang murid Pek-sim-pang lainnya cepat mengikuti gerakan Pek Eng yang mengepung tiga orang pendeta Lama itu. Pek Eng sudah mencabut sebatang pedang, juga delapan orang itu mengambil senjata masing-masing. Empat orang murid yang tadi roboh ternyata tidak terluka berat dan mereka pun kini ikut mengepung.
"Omitohud, kiranya Pek-sim-pang kini hanya menjadi Perkumpulan tukang pukul yang beraninya hanya main keroyokan saja!" kembali kakek pendeta bermuka bopeng itu berseru mengejek.
Mendengar ini, Pek Eng lalu membentak para murid itu. "Kalian mundurlah dan jangan mengeroyok! Biarkan aku menghadapi anjing gundul muka bopeng ini!" Kemarahan Pek Eng sudah memuncak sehingga ia tidak ingat akan sopan santun lagi, kini terang-terangan ia memaki pendeta Lama itu sebagai anjing!
Pendeta Lama termuda di antara mereka lalu maju, dan dengan bahasa Han yang lucu dan patah-patah dia berkata, "Omitohud, biarlah pinceng yang melayani Nona ini, Suheng."
Kiranya pendeta ini sute dari Si Muka Bopeng. Dia seorang pendeta yang tubuhnya kurus sekali, seperti tulang-tulang dibungkus kulit saja, mukanya seperti tengkorak hidup, sepasang mata yang cekung itu nampak kehitaman, mengerikan sekali wajah pendeta Lama ini. Dia melangkah maju sambil mengebutkan jubah kuningnya. Si Muka Bopeng mengangguk dan mundur, berdiri di samping pendeta lainnya yang sejak tadi diam saja.
"Huh, engkau ini anjing kurus kurang makan mau banyak menjual lagak? Menggelindinglah dari sini!" bentak Pek Eng yang marah dan gadis ini sudah melangkah maju dan mengirim tendangan yang cepat dan kuat dengan kaki kanannya. Tendangan itu cepat datangnya, mengarah pusar lawan, gerakannya seperti terputar dan ini merupakan tendangan khas dari ilmu silat keluarga Pek, yaitu ilmu silat yang mereka namakan Pek-sim-kun.
"Hemm, gadis manis yang ganas!" terdengar pendeta kurus kering itu berseru perlahan, namun dengan miringkan tubuhnya, dia dapat mengelak dari sambaran kaki Pek Eng; tangannya menyambar untuk menangkap kaki yang menendang itu. Melihat ini, Hay Hay mengerutkan alisnya. Orang ini, biarpun memakai pakaian jubah pendeta, akan tetapi, mempunyai hati yang condong ke arah kecabulan dan kekurangajaran, pikirnya. Dia sendiri tidak akan tega, bahkan malu sendiri kalau menyerang dengan cara menangkap kaki lawan yang merupakan seorang gadis remaja!
Akan tetapi, pedang di tangan Pek Eng berkelebat menyambut tangan pendeta Lama itu! Sang Pendeta menarik kembali tangannya, membuat langkah memutar sehingga tubuhnya berputar dan keetika membalik, dia sudah membalas dengan cengkeraman tangannya ke arah kepala Pek Eng. Sungguh merupakan serangan yang amat ganas dan juga berbahaya sekali! Begitu melihat gerakan-gerakan mereka, Hay Hay sudah maklum bahwa agaknya lawan gadis itu lebih unggul dan lebih berbahaya, maka diam-diam dia sudah siap siaga untuk membantu dan menyelamatkan kalau sampai gadis itu terancam bahaya. Tentu saja dia menaruh perhatian besar atas peristiwa ini, peristiwa yang dekat sekali hubungannya dengan dirinya. Masih teringat dia betapa ketika masih kecil dia menjadi rebutan orang-orang sakti, karena dia disangka Sin-tong. Kiranya sampai sekarang, para pendeta Lama di Tibet itu masih saja meributkan urusan Sin-tong dan masih merasa penasaran, berani datang menyerbu Pek-sim-pang untuk menuntut agar Sin-tong yang kini lelah dewasa itu diserahkan kepada mereka!
Pek Eng dapat bergerak lincah. Ketika melihat sambaran tangan dengan lengan baju lebar itu ke arah kepalanya, ia cepat melempar tubuh ke belakang, berjungkir balik, lalu memutar pedangnya dan membuat serangan lagi. Pedangnya yang diputaar-putar itu mendahului gerakan kakinya ke depan dan tiba-tiba pedang meluncur menjadi serangan tusukan ke arah dada pendeta Lama yang kurus kering.
"Trakkk .....!" Pedang di tangan Pek Eng terpukul miring dan gadis itu harus mempertahankan pedangnya yang hampir saja terlepas dari tangannya saking keras dan kuat tangkisan pendeta itu. Dan kesempatan ini dipergunakan oleh Sang Pendeta untuk mencengkeram pundak Pek Eng dari samping. Namun, gadis itu memiliki gerakan lincah dan gesit sekali. Dalam keadaan berbahaya itu ia masih sempat melempar tubuh ke atas tanah, bergulingan menjauh dan melompat bangun lagi setelah terbebas dari ancaman lawan. Bukan main marahnya hati Pek Eng. Ia mengeluarkan suara melengking nyaring dan menyerang lagi.
Hay Hay kini siap siaga. Gadis itu sudah nekat dan ini tandanya ia terancam bahaya. Ilmu silat gadis itu memang cukup baik, apalagi ia memiliki ginkang yang lumayan, yang membuat tubuhnya dapat bergerak dengan gesit sekali, akan tetapi dalam hal ilmu kepandaian silat, jelas ia masih kalah jauh dibandingkan pendeta kurus kering itu. Kalau ia nekat menyerang, ia dapat celaka.
Terjangan Pek Eng disambut dengan senyum dingin oleh pendeta kurus kering. Beberapa kali ia mengelak dan mengebutkan lengan baju, melindungi diri sambil mencari kesempatan. Ketika tangkisan kebutan lengan bajunya kembali membuat tubuh gadis itu miring, kakinya menendang cepat. Pek Eng berusaha menarik kakinya dan miringkan tubuh namun tetap saja pahanya tersentuh ujung sepatu lawan dan ia pun terpelanting, lalu cepat bergulingan menjauhi. Ketika ia meloncat bangun, mukanya agak pucat, pakaiannya kotor dan kakinya agak terpincang. Akan tetapi agaknya ia tidak menjadi kapok bahkan kini ia memutar pedang di atas kepala untuk melakukan serangan lebih nekat lagi. Pada saat itu muncullah beberapa orang keluar dari pintu gerbang.
"Eng-ji, tahan senjata!" terdengar bentakan orang dan Pek Eng terpaksa menghentikan gerakan pedangnya ketika mendengar suara ayahnya. Dengan muka merah saking marah dan penasaran, ia lalu berdiri dengan pedang masih di tangan.
Pek Kong dan Pek Ki Bu telah berdiri di situ bersama Souw Bwee dan beberapa murid Pek-sim-pang yang lebih tua. Melihat betapa Pek Eng berkelahi melawan seorang pendeta Lama, Ketua Pek-sim-pang dan ayahnya memandang kepada tiga orang pendeta Lama itu dengan alis berkerut. Mereka berdua mengenal tiga orang pendeta Lama itu sebagai tokoh-tokoh para Lama di Tibet, tokoh tingkat tiga yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Jangankan Pek Eng, walaupun Pek Kong sendiri bukan lawan mereka, dan Pek Ki Bu sendiri pun meragukan apakah dia akan mampu melawan seorang di antara mereka.
"Omitohud... selamat bertemu, Pek-sim-pangcu!" kata pendeta Lama muka bopeng sambil menjura kepada Pek Ki Bu diturut oleh dua orang temannya.
Pek Ki Bu balas menjura dan berkata, "Sam-wi keliru, bukan saya yang menjadi ketua sekarang, melainkan anak saya Pek Kong."
"Aih, maaf... maaf... kiranya Pek-taihiap telah memperoleh banyak kemajuan dan menjadi Ketua Pek-sim-pang." kata pula pendeta muka bopeng.
Pek Kong mengerutkan alisnya dan menjura ke arah tiga orang pendeta itu. "Harap maafkan kalau puteri kami yang masih terlalu muda itu berlancang tangan dan mulut terhadap Sam-wi Losuhu. Akan tetapi, kami Pek-sim-pang agaknya sudah tidak mempunyai urusan lagi dengan Cu-wi di Tibet, maka, apa maksud Sam-wi datang berkunjung ke tempat kami?" Kata-kata itu sopan dan merendah, namun mengandung teguran. Sejak tadi Hay Hay memandang penuh perhatian dan dia merasa kagum kepada keluarga Pek itu. Mereka adalah orang-orang gagah, pikirnya.
"Perlukah Pangcu bertanya lagi? Sudah dua puluh tahun lebih kami bersabar dan kini terpaksa kami harus datang untuk menjemput Sin-tong yang kini tentu telah menjadi dewasa, untuk mengangkatnya dengan upacara kebesaran menjadi seorang pendeta Lama, calon Dalai Lama."
Pek Kong mengerutkan alisnya dan dia mendongkol bukan main. "Pihak para Lama di Tibet sungguh terlalu mendesak orang!" dia berkata, nada suaranya jelas menunjukkan kemarahannya. "Sejak kecil putera kami itu hilang entah ke mana, hal ini semua orang juga mengetahui. Bahkan kami sebagai orang tuanya, merasa prihatin dan berduka karena kami tidak tahu dia berada di mana. Bagaimana sekarang Sam-wi datang-datang menuntut kami menyerahkan putera kami? Kami sedang berduka akan tetapi Sam-wi bahkan hendak menekan, sungguh suatu perbuatan yang tidak layak dan tidak mulia sama sekali."
"Omitohud, semoga Sang Buddha mengampuni kita sekalian!" pendeta muka bopeng berseru, lalu dia tersenyum menyeringai. "Pangcu dapat saja membohongi orang lain, akan tetapi tidak mungkin membohongi para Dalai Lama yang arif bijaksana dan mengetahui segala sesuatu yang terjadi di permukaan bumi ini. Menurut ramalan dan penglihatan tajam beliau, kini Sin-tong telah menjadi dewasa. Selama ini, anak itu diberi nama Pek Han Siong, bukan? Dan dia mempelajan ilmu-ilmu dan kini telah menjadi seorang pemuda dewasa yang perkasa. Nah, kalau dia belum pulang ke sini, katakan saja dimana dia dan kami akan segera menjemputnya, Pangcu."
"Kami tidak tahu!" Tiba-tiba Souw Bwee, isteri Pek Kong menjawab dengan suara mengandung isak. "Andaikata kami tahu sekalipun, tidak akan kami beritahukan kepada kalian, pendeta-pendeta keparat!" Sakit sekali rasa hati ibu yang dipisahkan dari puteranya ini, merasa sakit hati yang dipendam selama ini sekarang meledak setelah melihat betapa tiga orang pendeta Lama itu mendesak.
"Omitohud..., Toanio, tidak baik memaki kami para pendeta. Toanio akan dikutuk dan akan hidup dalam kesengsaraan ......" Pendeta muka bopeng menegur.
"Tidak peduli!" Wanita yang sudah marah itu membentak. "Selama ini aku sudah hidup sengsara dlpisahkan dari puteraku oleh kalian pendeta-pendeta busuk. Sekarang aku malah ingin membunuh kalian!" Berkata demikian, nyonya itu sudah bergerak maju menyerang Si Muka Bopeng. Suaminya terkejut sekali, akan tetapi tidak keburu mencegah.
"Plakk!" Si Muka Bopeng menggerakkan tangan dan lengan bajunya yang panjang lebar itu menyambar. Tubuh nyonya itu terhuyung ke belakang.
"Ibu .....!" Pek Eng menubruk dan merangkul ibunya yang mukanya menjadi pucat. Pipi kanan ibunya membiru dan darah mengalir dari mulutnya. Ternyata ujung lengan baju itu menampar muka dan biarpun tidak mengakibatkan luka berbahaya, namun pipi wanita itu bengkak dan membiru.
Melihat ini, Pek Kong tak dapat menahan kesabarannya lagi, demikian pula Pek Ki Bu. "Kalian sungguh tak tahu diri!" kata Pek Ki Bu sambil menerjang ke depan.
"Tamu-tamu tak tahu aturan!" Pek Kong juga menerjang maju. Pek Kong disambut oleh pendeta muka bopeng, sedangkan Pek Ki Bu disambut oleh pendeta tinggi besar muka hitam yang agaknya merupakan pendeta tertua dan terlihai di antara mereka.
Dess....!" Pukulan tangan Pek Ki Bu ditangkis dan disambut oleh pendeta muka hitam, mengakibatkan Pek Ki Bu terdorong ke belakang tiga langkah, sedangkan lawannya hanya mundur selangkah.
"Dukkk!" Pukulan Pek Kong juga tertangkis oleh Si Muka Bopeng dan tangkisan ini membuat tubuh Pek Kong terhuyung. Dalam pertemuan segebrakan ini saja dapat dilihat bahwa baik Pek Kong maupun Pek Ki Bu bukanlah lawan para pendeta yang amat lihai dan kokoh kuat itu. Akan tetapi kini anak buah Pek-sim-pang sudah keluar semua, jumlah mereka berpuluh-puluh dan mereka sudah memegang senjata semua, siap untuk mengepung dan mengeroyok.
Pada saat itu, Hay Hay yang sejak tadi hanya menjadi penonton, merasa perlu untuk turun tangan. Bagaimanapun juga, dirinya terlibat secara langsung dalam urusan Sin-tong ini, maka dia pun melangkah lebar ke depan tiga orang pendeta itu dan dengan suara lantang dia berkata, "Sam-wi Losuhu jauh-jauh datang dari Tibet, apakah untuk menjemput Sin-tong? Nah, setelah Sin-tong berada di depan kalian, mengapa kalian tidak lekas menyambut dan memberi hormat?" Berkata demikian, dia berdiri tegak dengan dada terangkat dan sikapnya angkuh dan agung sekali.
Semua orang terkejut. Pek Eng juga terkejut akan tetapi dara ini pun mendongkol bukan main, segera membisiki ayahnya yang berdiri di dekatnya, "Ayah, dia itu pemuda mata keranjang yang kurang ajar."
Akan tetapi Pek Kong dan Pek Ki Bu memandang tajam penuh perhatian, bahkan Pek Kong mengangkat tangan memberi isyarat kepada anak buah atau murid-murid Pek-sim-pang agar tidak bergerak dan tidak menyerang sebelum ada aba-aba darinya. Semua orang kini memandang kepada Hay Hay dan tiga orang pendeta itu dengan hati tegang, apalagi mereka tadi mendengar pengakuan pemuda itu bahwa dia adalah Sin-tong, putera ketua mereka yang selalu ditunggu-tunggu kedatangannya. Juga tiga orang pendeta Lama itu terbelalak, mengamati Hay Hay dengan penuh perhatian, penuh selidik memandang pemuda itu dari kepala sampai ke kaki. Sementara itu, Pek Kong dan isterinya, Siauw Bwee, terbelalak menatap wajah Hay Hay, mengingat-ingat, apakah benar pemuda tampan yang kini berdiri dengan mulut tersenyum itu adalah Pek Han Siong, putera mereka. Demikian pula Pek Ki Bu memandang dengan penuh keheranan, juga penuh harapan karena dia pun tidak dapat menentukan apakah benar pemuda ini adalah cucunya atau bukan. Hanya Pek Eng yang mendongkol, ingin dara ini memaki pemuda itu karena ialah yang tahu bahwa pemuda itu bukan Pek Han Siong, bukan kakaknya, melainkan seorang pemuda mata keranjang. Akan tetapi karena kemunculan pemuda ini agaknya hendak membantu dan berpihak kepada keluarganya, maka ia pun diam saja dan hanya memandang dengan heran mengapa pemuda itu berani menentang tiga orang pendeta Lama yang demikian lihainya. Bahkan mulai timbul keraguan. Siapa tahu pemuda itu memang benar kakaknya, Pek Han Siong, dan tadi tidak mau mengaku kepadanya hanya untuk mempermainkannya saja. Siapa tahu!.
Tiga orang pendeta Lama itu kini berdiri bingung, kadang-kadang saling pandang dan pada wajah mereka terbayang ketegangan, harapan akan tetapi juga keraguan. Selama ini Sin-tong dilarikan keluarganya, disembunyikan dari para pendeta Lama. Mungkinkah kini Sin-tong muncul dan memperkenalkan diri begitu saja? Mereka adalah tokoh-tokoh Tibet, termasuk pimpinan para pendeta Lama tingkat tiga. Tentu saja selain memiliki ilmu kepandaian tinggi, juga tiga orang Pendeta Lama ini adalah orang-orang yang cerdik, tidak akan mudah menipu mereka.
"Orang muda, jangan engkau main-main dengan kami! Kalau kau hendak menipu kami, dosamu besar sehingga kematian pun belum akan membebaskanmu daripada hukuman!" kata pendeta yang kurus pucat.
"Omitohud ......!" Hay Hay berseru, menirukan lagak seorang pendeta. "Menipu adalah perbuatan yang tidak benar, aku sebagai Sin-tong mana mau melakukannya? Sejak terlahir aku disebut Sin-tong, diperebutkan sebagai Sin-tong, setelah kini menjadi dewasa dan mengaku bahwa akulah Sin-tong, Sam-wi Losuhu dari Tibet malah tidak percaya kepadaku! Sam-wi mengingkari Sin-tong, bukankah itu merupakan dosa yang amat besar pula?"
Tiga orang pendeta Lama itu saling pandang dan kini sikap mereka menjadi agak berbeda, pandang mata mereka mulai menghormat walaupun masih ada keraguan. Nampaknya mereka mulai percaya bahwa pemuda di depan mereka itu mungkin sekali Sin-tong yang mereka cari-cari.
"Dia bukan Sin-tong! Dia bukan putera kami!" tiba-tiba Souw Bwee berseru. Tentu saja seruan ini mengejutkan dan mengherankan hati Pek Kong dan Pek Ki Bu. Bagaimana wanita itu dapat memastikan bahwa pemuda itu bukan Pek Han Siong?
"Memang Ibu benar! Dia bukan Kakak Pek Han Siong, dia seorang pemuda mata keranjang yang tidak tahu malu, berani memalsukan Kakakku!" teriak pula Pek Eng yang mengira ibunya mengenal betul bahwa pemuda itu bukan Pek Han Siong. Padahal teriakan Souw Bwee tadi sama sekali bukan karena ia tahu bahwa pemuda itu bukan puteranya. Ia sendiri ragu-ragu dan tentu saja tidak tahu benar, karena puteranya itu dipisahkan dari sampingnya semenjak masih bayi. Kalau ia tadi berteriak menyangkal justru terdorong oleh rasa khawatirnya. Kalau benar pemuda ini puteranya dan hal ini diketahui oleh tiga orang pendeta Lama yang lihai itu, tentu puteranya itu akan mereka bawa! Dan ia tidak mau kehilangan lagi puteranya yang baru saja pulang. Inilah sebabnya ia berteriak menyangkal agar tiga orang pendeta Lama itu percaya kepadanya dan tidak akan membawa pergi puteranya. Dan Pek Eng yang salah mengerti, kini bahkan membantunya dengan sangkalannya bahwa pemuda itu bukan kakaknya yang dicari-cari.
Pek Kong dan Pek Ki Bu memandang dengan bingung, akan tetapi begitu bertemu pandang dengan isterinya, Pek Kong melihat betapa sinar mata isterinya itu mengandung kegelisahan dan ketakutan dan tahulah dia bahwa penyangkalan isterinya tadi hanya merupakan usaha untuk menyelamatkan pemuda itu! Maka dia sendiri pun merasa bingung dan tidak berkata apa-pa, hanya menanti untuk melihat perkembangan selanjutnya. Sementara itu, Hay Hay juga terkejut mendengar teriakan nyonya dan puterinya itu. Tak disangkanya mereka berteriak menyangkalnya. Dia berpura-pura menjadi Sin-tong untuk mengalihkan perhatian tiga orang pendeta yang lihai agar tidak lagi mendesak keluarga Pek, akan tetapi ternyata nyonya rumah bahkan menyangkalnya! Apakah mereka itu tidak tahu bahwa dia sengaja hendak membantu mereka? Ataukah keluarga Pek itu demikian tinggi hati sehingga tidak sudi menerima pertolongannya, walaupun jelas bahwa mereka terancam bahaya? Ataukah nyonya itu tidak ingin orang lain celaka karena keluarga mereka? Banyak sekali kemungkinan untuk menjawab dan mencari sebab ulah ibu dan anak itu, akan tetapi dia harus dapat meyakinkan tiga orang pendeta Lama itu bahwa dia benar-benar Sin-tong!
"Hemm, Sam-wi Losuhu adalah tokoh-tokoh pandai dari Tibet, mana mungkin dapat dibohongi? Mereka menyangkal diriku, tentu saja, karena tentu saja mereka tidak ingin melihat aku kalian bawa pergi dari sini!" Ucapan Hay Hay ini memang tepat sekali sehingga Nyonya Souw Bwee menahan jeritnya, mukanya menjadi pucat dan matanya terbelalak memandang kepada pemuda itu.
Tiga orang pendeta Lama yang tadinya sudah merasa ragu-ragu mendengar teriakan Nyonya Souw Bwee dan Pek Eng yang menyangkal pemuda itu sebagai Sin-tong, kini saling pandang dan harapan baru memancar lagi dari wajah mereka ketika mereka memandang Hay Hay. Memang tepat sekali ucapan pemuda itu, pikir mereka. Kalau benar pemuda ini Sin-tong, tentu ibunya dan adiknya berusaha menyelamatkannya dan satu-satunya cara adalah menyangkalnya!
"Omitohud ......!" Pendeta Lama bermuka bopeng berseru lalu tertawa bergelak. "Ha-ha-ha, kami bukanlah orang-orang bodoh yang mudah dipermainkan dan ditipu. Orang muda, kautanggalkanlah bajumu!"
Keluarga Pek menjadi pucat. Mereka tahu bahwa Pek Han Siong yang dianggap Sin-tong oleh para pendeta Lama itu memang memiliki tanda tahi lalat merah di punggungnya sehingga kalau pemuda ini tidak memillki tanda itu, biar mengaku bagaimanapun juga akan nampak bohongnya. Akan tetapi di samping kekhawatirannya ini, juga mereka merasa tegang karena mereka pun ingin melihat siapa sebenarnya pemuda ini, Pek Han Siong ataukah bukan.
Hay Hay tersenyum. Sebelum tuntutan ini diajukan, dia memang sudah menduganya. Sambil tersenyum dia berkata kepada Pek Eng. "Adik yang baik, jangan menuduh aku kurang ajar kalau aku melepas bajuku di depanmu, karena aku dipaksa oleh ketiga Locianpwe ini." Berkata demikian, Hay Hay lalu menanggalkan bajunya, membiarkan tubuhnya bagian atas telanjang. Nampak dadanya yang bidang dan tubuh, bagian atas yang tegap, dengan otot-otot yang menonjol kuat dan kulit yang putih halus, dada seorang pemuda yang sedang mekar dan kokoh kuat. Dia lalu membalikkan tubuhnya, membiarkan punggungnya nampak oleh mereka.
Keluarga Pek dan tiga orang pendeta Lama ini memandang ke arah punggung dan dengan mudah menemukan tahi lalat merah yang cukup besar dl punggung itu!
"Anakku......!" terlak Souw Bwee.
"Koko ......!" Pek Eng juga berseru, akan tetapi ketika mereka hendak maju, keduanya dicegah oleh Pek Kong dan Pek Ki Bu. Keluarga itu lalu menonton saja, ingin tahu dengan hati tegang apa yang selanjutnya akan terjadi. Kiranya pemuda itu benar Pek Han Siong, piikir mereka dengan jantung berdebar.
Tentu saja dugaan mereka itu keliru. Pemuda itu adalah Hay Hay, bukan Pek Han Siong. Tanda merah di punggungnya ltu hanyalah hasil muslihat Hay Hay saja. Sebelum tadi turun tangan, pemuda ini sudah berpikir panjang dan teringat bahwa satu-satunya tanda dari Sin-tong yang tak pernah muncul sejak bayi, hanyalah tahi lalat tanda merah di punggungnya, maka tadi diam-diam sebelum turun gelanggang, dia telah lebih dulu menutul kulit punggungnya dengan tinta merah. Dengan kecerdikannya, menggunakan kesempatan selagi orang ribut-ribut mengepung tiga orang pendeta Lama, dia menyelinap masuk ke dalam rumah dan berhasil mendapatkan tinta merah yang dicarinya. Maka, ketika dIa terjun ke dalam lapangan itu, di balik bajunya, di atas kulit punggungnya, telah terdapat tanda merah yang sengaja dibuatnya itu!
"Sin-tong ......!" Tiga orang pendeta Lama itu terkecoh dan mereka bertiga cepat merangkapkan kedua tangan di depan dada dan memberi hormat kepada "Anak Ajaib" itu!
"Pinceng bertiga mendapat kehormatan untuk menjemput Paduka dan mengiringkan Paduka menuju ke istana Paduka di Tibet." kata pendeta Lama bermuka bopeng dengan sikap hormat sekali, seperti sikap seorang menteri terhadap rajanya.
Hampir saja Hay Hay tertawa karena gelinya. Sikap tiga orang Lama itu menggelitik hatinya. Demikian lucu seolah-olah dia sedang main sandiwara di atas panggung saja. Biarlah, dia akan bermain sandiwara sepuasnya, pikirnya. Bagaimanapun juga, dia telah berhasil memindahkan perhatian tiga orang pendeta Lama yang lihai itu dari keluarga Pek kepada dirinya. Tentu kini yang terpenting bagi mereka hanyalah dirinya yang sudah dipercaya dan diterima sebagai Sin-tong!
"Hemm, begini sajakah penerimaan para pendeta Lama terhadap diriku? Tahukah kalian siapa yang menjelma menjadi diriku sekarang ini?" tanyanya dengan sikap agung berwibawa.
"Pinceng tahu... Paduka adalah calon Dalai Lama, penjelmaan Sang Buddha, omitohud ......!" kata pendeta Lama bermuka bopeng.
"Nah, kalau kau sudah tahu, kenapa yang menyambutku hanya tiga orang pendeta Lama tingkat rendahan saja?"
"Kami bertiga yang rendah adalah anggauta pimpinan tingkat tiga....." kata pendeta Lama kurus pucat untuk memberi tahu bahwa tingkat mereka sudah terhitung tinggi.
"Hemm, seharusnya Dalai Lama sendiri, atau setidaknya harus utusan yang berilmu tinggi. Akan tetapi karena kalian bertiga sudah tiba di sini, baiklah. Aku akan ikut kalian kalau saja kuanggap ilmu kepandalan kalian tinggi sehingga aku akan merasa cukup terhormat. Nah, kalian majulah. Ingin kulihat sampai di mana kelihaian kalian, apakah patut untuk menjadi orang-orang yang ditugaskan menjemput diriku."
Tiga orang pendeta Lama itu saling pandang dan mereka kelihatan terkejut dan juga terheran-heran, lalu menjadi bingung sendiri. Selama mereka menjadi pendeta Lama, baru sekali inilah ada Sin-tong yang ketika dijemput hendak menguji dulu kepandaian para penjemputnya! Biasanya, yang sudah-sudah, seorang Sin-tong hanya pandai menghafal isi kitab-kitab suci, merupakan seorang setengah dewa yang lemah-lembut dan sama sekali tidak pernah mempergunakan kekerasan. Akan tetapi, Sin-tong yang ini menantang mereka untuk menguji kepandalan silat! Padahal tingkat mereka dalam ilmu silat sudah amat tinggi. Keluarga Pek yang merupakan orang-orang gagah terkenal dari Pek-sim-pang saja bukan tandingan mereka, apalagi pemuda ini yang kelihatan begitu lemah!
"Hayo mulai, kenapa kalian diam saja?" Hay Hay mendesak. Keluarga Pek dan juga para anggauta Pek-sim-pang memandang dengan muka pucat dan jantung berdebar. Betapa beraninya pemuda itu, menantang tiga orang pendeta Lama yang demikian lihainya sehingga Ketua Pek-sim-pang dan ayahnya saja bukan tandingan mereka!
"Kami... mana kami berani?" Akhirnya pendeta bermuka bopeng mewakili dua orang temannya menjawab.
Hay Hay mengerutkan alisnya, pura-pura marah. "Kalau kalian tidak memenuhi permintaanku, berarti kalian memandang rendah kepadaku dan selain aku tidak akan sudi ikut ke Tibet, juga kelak aku akan melapor kepada Dalai Lama bahwa kalian bertiga telah menghina diriku!"
Terkejutlah tiga orang pendeta Lama itu. Mereka saling pandang, lalu berbisik-bisik dan mengadakan perundingan di antara mereka sendiri dalam bahasa Tibet. Akhirnya, Si Pendeta Kurus Pucat yang melangkah maju dan menjura dengan hormat kepada Hay Hay.
"Biarlah pinceng mewakili teman-teman untuk menerima perintah Sin-tong dan siap untuk diuji kepandaian pinceng." katanya dengan sikap hormat. Melihat ini, diam-diam Hay Hay tersenyum. Tiga orang pendeta Lama ini ternyata memandang rendah kepadanya. Dari gerakan-gerakan mereka tadi ketika berkelahi dalam beberapa gebrakan melawan orang-orang Pek-sim-pang, dia dapat menilai bahwa di antara mereka bertiga, Si Kurus Pucat ini yang paling rendah ilmunya, sedangkan yang tinggi besar muka hitam itu yang paling lihai.
"Baik, majulah. Akan tetapi kalau engkau kalah, dua yang lain harus kuuji pula kepandaiannya. Kalau aku tidak mampu mengalahkanmu, berarti tingkat kepandaian kalian bertiga sudah cukup tinggi." kata Hay Hay dan dengan sikap sembarangan saja dia lalu membuat kuda-kuda.
Melihat betapa pemuda itu membuat kuda-kuda dengan kedua kaki berdiri tegak, lututnya bengkak-bengkok seperti orang yang tidak bertenaga, pinggangnya juga menggeliat-geliat ke sana-sini seperti orang habis bangun tidur, matanya melirik-lirik ke sana-sini, terutama ke arah Pek Eng, kedua tangannya juga tergantung agak ke belakang, sungguh sikap ini sama sekali tidak meyakinkan! Bukan sikap atau kuda-kuda seorang ahli silat yang tangguh. Diam-diam keluarga Pek merasa kecewa dan gelisah, sedangkan pendeta kurus pucat itu bersama kawan-kawannya merasa geli. Sin-tong yang ini tidak becus ilmu silat akan tetapi hendak menyombongkan diri, pikir mereka. Akan tetapi karena pemuda itu Sin-tong, tentu saja mereka tidak berani mentertawakan, juga Si Kurus Pucat tidak akan berani menjatuhkan tangan besi melukai, apalagi membunuh Sin-tong! Hanya saja, melihat gaya Sin-tong yang lemah ini, hatinya merasa lega. Dari Dalai Lama dia mendengar bahwa Sin-tong telah menjadi seorang pemuda dewasa yang berilmu tinggi, akan tetapi melihat sikap tidak meyakinkan itu, dia tahu bahwa dengan mudah dIa akan mampu mengalahkan pemuda ini. Dia hanya akan mengelak dan menangkis sajaa, membuat pemuda itu kehabisan tenaga dan napas agar menyerah dengan sendirinya, tanpa membalas serangan dan tanpa memukul atau menendang!
"Hayo seranglah!" kata Hay Hay.
"Pinceng tidak berani, harap Paduka Yang Mulia menyerang." jawab kakek pendeta kurus pucat itu.
"Rewel benar kau! Kalau tidak mau menyerang, mana aku tahu sampai di mana kelihaianmu?"
Pek Eng memandang dengan alis berkerut. Benarkah pemuda tolol ini kakak kandungnya? Kenapa begitu tolol, apakah tidak melihat bahwa pendeta kurus pucat itu lihai bukan main? Sungguh mencari penyakit saja, pikirnya tak puas. Hatinya kecewa, tidak puas memiliki seorang kakak kandung seperti itu, sombong dan brengsek!
"Baiklah, pinceng menyerang, harap disambut!" kata pendeta kurus pucat dan dia pun menyerang. Akan tetapi itu sama sekali tidak dapat dinamakan serangan, karena tangan kirinya bergerak perlahan, seperti hendak mengusap pundak kanan Hay Hay saja. Gerakannya juga lambat dan tidak mengandung tenaga.
Hay Hay dengan gerakan kaku mundur untuk mengelak, mulutnya mengomel panjang pendek. "Wah, kalau pukulanmu hanya seperti itu, untuk memukul tahu pun tidak akan pecah. Mana bisa dibilang lihai?"
Pendeta Lama itu maklum bahwa gerakannya terlalu lambat dan lemah, maka agar tidak kentara bahwa dia mengalah, dia maju lagi dan menyerang lagi, kini agak lebih cepat dan lebih kuat, maksudnya pun hanya mengelus ke arah pundak kiri pemuda itu, sambil menanti pemuda itu membalas serangannya.
Akan tetapi kembali dengan gerakan kaku Hay Hay mengelak, kini mengelak ke samping dan masih mengomel. "Hanya sebegini? Tidak ada mutunya sama sekali. Ilmu silat apa sih ini?" Dia mengejek dan mencela.
Muka yang pucat itu kini berubah agak merah, apalagi ketika pendeta itu mendengar suara ketawa di sana-sini, suara ketawa para anggauta Pek-sim-pang yang merasa betapa lucunya pertunjukan itu.
"Pinceng akan menyerang lagi lebih cepat, harap siap siaga!" Dia membentak lalu kini menubruk dengan lebih cepat dan bertenaga. Maksudnya untuk menangkap dan memeluk Sin-tong agar tidak dapat bergerak meronta lagi dan langsung membawanya lari ke Tibet.
"Wuuuttt... brukkk .......!" Hampir saja pendeta itu berteriak kaget karena yang ditubruknya hanya angin belaka! Tubrukannya luput! Betapa mungkin ini? Dia tadi menggunakan kecepatan dan tenaga sinkang, akan tetapi tanpa diketahuinya bagaimana caranya, tahu-tahu tubrukannya mengenai tempat kosong dan pemuda itu entah pergi ke mana.
"Heii, muka pucat. Engkau sedang apa-apaan di situ? Jangan main-main, aku minta engkau menggunakan ilmu silat mengalahkan aku, bukan untuk main-main seperti orang mencari kodok saja. Apakah engkau biasa menangkap dan makan daging kodok?"
Kini lebih banyak lagi terdengar suara ketawa dan keluarga Pek memandang dengan terheran-heran. Tadinya mereka merasa kecewa dan tidak puas melihat sikap ketololan dari pemuda yang mereka sangka Pek Han Siong itu. Mereka tahu bahwa pendeta kurus pucat itu mengalah dan tidak berani menggunakan kekerasan. Pemuda itu yang mereka anggap tidak tahu diri. Akan tetapi tubrukan tadi cukup cepat, dan mereka melihat betapa pemuda itu hanya memutar kakinya seperti gasing dan tahu-tahu sudah berada di luar tubrukan dan tubrukan itu pun mengenai tempat kosong sedangkan pemuda itu tahu-tahu dengan terhuyung-huyung, telah berada di belakang Si Pendeta dan menegurnya dengan kata-kata mengejek. Seperti juga pendeta kurus pucat itu, para keluarga Pek juga mengira bahwa keberhasilan pemuda itu menghindarkan diri dari tubrukan hanyalah kebetulan saja.
"Hayo pukullah aku, seranglah dan jangan main-main. Apa engkau ingin aku menjadi marah dan memukulmu sampai babak belur?' Mendengar ucapan keras pemuda ini, kembali memancing suara ketawa geli di sana-sini. Pemuda yang agaknya sama sekali tidak pandai ilmu silat itu kini malah mengancam hendak memukul si pendeta lihai sampai babak belur!
"Baik, dan Paduka sambutlah!" kata Si Pendeta Kurus Pucat. Kini dia harus berhasil, pikirnya. Dia mengerahkan sinkang dan dengan cepat sekali pukulan tangannya yang dikepal sudah meluncur ke arah perut Hay Hay. Semua orang terkejut. Pukulan itu cepat dan dahsyat, kalau mengenai perut pemuda yang tidak pandai silat itu tentu akan mengakibatkan isi perutnya berantakan dan Sin-tong pasti tewas! Wajah Pek Kong, Souw Bwee, Pek Ki Bu dan Pek Eng sudah menjadi pucat sekali, bahkan Souw Bwee memejamkan mata, tidak tega melihat puteranya terpukul mati. Dan semua orang melihat betapa pemuda yang tidak pandai silat itu agaknya tidak tahu akan datangnya pukulan, buktinya dia masih menyeringai dan tidak bergerak untuk mengelak atau menangkis!
Pendeta kurus pucat itu memang sudah menduga bahwa Sin-tong pasti tidak akan mampu mengelak, maka dengan kepandaiannya yang tinggi dia sudah dapat menguasai gerakannya sepenuhnya, maka begitu kepalan tangannya mendekati perut lawan, dia sudah dapat menahan dan mengeremnya sehingga kepalan itu hanya menyentuh kulit perut perlahan saja, tanpa ada angin pukulan tenaga sinkang.
"Plekk!" kepalan itu hanya menempel lirih saja, lembut dan tidak mendatangkan rasa nyeri sama sekali. Hay Hay tersenyum mengejek.
"Ha-ha, begitu saja pukulanmu! Wah, lebih lunak daripada tahu! Mana bisa dibilang lihai kalau pukulannya hanya seperti ini?"
"Sin-tong, pinceng tidak berani memukul sungguh-sungguh. Paduka tidak akan kuat menerima pukulan pinceng!" kata Si Kurus Pucat yang menjadi mendongkol juga karena semua orang tersenyum, ada pula yang tertawa mendengar ejekan Hay Hay tadi. Mereka semua tidak suka kepada para Lama yang menyebabkan Pek-sim-pang harus pergi mengungsi, apalagi kini tiga orang Lama datang untuk membawa pergi putera ketua mereka. Maka, melihat betapa pendeta Lama yang kurus pucat itu dipermainkan, mereka merasa gembira juga
"Apa ........? Aku tidak tahan menerima pukulanmu? Ha-ha-ha, jangan bergurau! Pukulanmu tidak akan menghancurkan sepotong tahu, apalagi perutku!" Hay Hay tidak, menyombong. Tadi pun sudah melindungi perutnya dengan sin-kang yang terkuat, untuk menjaga diri Andalkata tadi Si Pendeta Lama memukulnya benar-benar, tetap saja dia tidak akan terluka!
"Sebaiknya kalau Paduka saja yang memukul pinceng dan pinceng akan menjaga diri. Kalau sampai pinceng dapat terpukul roboh satu kali saja, biarlah pinceng mengaku kalah." kata pula hwesio kurus pucat dengan sikap serba salah. Diam-diam dia mendongkol bukan main karena ucapan-ucapan yang mengejek itu, yang membuat dia menjadi bahan tertawaan orang banyak. Memukul sungguh-sungguh, tentu saja dia tidak berani melukai Sin-tong, tidak sungguh-sungguh, dia dijadikan bahan ejekan dan tertawaan.
"Benarkah? Saudara-saudara semua mendengar sendiri bahwa kalau aku mampu memukul dia roboh satu kali saja, dia akan mengaku kalah. Harap Saudara sekalian menjadi saksi!" kata Hay Hay sambil memutar tubuh ke empat penjuru. Para anggauta Pek-sim-pang sudah menjadi semakin gembira.
"Kami menjadi saksi!" terdengar teriakan di sana-sini.
"Nah, puluhan orang menjadi saksi agar engkau nanti tidak melanggar janjimu sendiri. Bersiaplah, aku akan segera menyerang!" kata Hay Hay. Kini pendeta itu bersiap siaga, memasang kuda-kuda yang kokoh kuat, sedangkan para keluarga Pek menonton dengan hati tegang dan penuh perhatian. Kini mereka ingin melihat bagaimana sebenarnya kepandaian pemuda itu karena sejak tadi, pemuda itu belum pernah memperlihatkan satu kali pun gerakan ilmu silat. Sekarang, karena dia hendak menyerang, tentu dia akan menggunakan jurus-jurus silat dan mereka ingin mengenal aliran silat apa yang dimiliki pemuda itu.
"Pinceng sudah siap!" kata hwesio Lama yang kurus pucat itu.
"Awas, aku menyerang, sambutlah!" Hay Hay membentak, suaranya nyaring dan semua orang menduga akan terjadi serangan yang dahsyat. Akan tetapi mereka semua kecewa. Pemuda itu menyerang dengan gerakan liar dan sembarangan saja, bukan seperti orang bersilat, melainkan seperti anak kecil berkelahi di tepi jalan, asal memukul saja tanpa pememilih sasaran. Kepalan kedua tangannya diayun dan dipukulkan bergantian ke arah tubuh pendeta Lama itu. Melihat datangnya pukulan yang lamban dan tanpa tenaga sinkang ini, pendeta Lama itu tersenyum dan dengan mudahnya mengelak ke belakang.
"Mau lari ke mana kau?" Hay Hay berseru, lagaknya seperti orang yang mendesak lawannya, mengejar dengan pukulan-pukulan dan tendangan-tendangan ngawur. Setiap kali pukulan atau tendangan dielakkan oleh pendeta lama itu, tubuh pemuda itu terhuyung, bahkan hampir saja jatuh tertelungkup ke depan. Semua orang kecewa, terutama sekali Pek Eng.
"Tolol yang tak tahu malu!" gadis itu membentak, cukup keras karena hatinya kecewa, bahkan marah sekali melihat pemuda yang mengaku sebagai Sin-tong ini. Memalukan sekali mempunyai seorang kakak kandung seperti itu, pikirnya gemas.
Hay Hay mendengar celaan ini, dan tiba-tiba dia menghentikan serangannya, menoleh kepada Pek Eng sambil menyeringai. "Memang dia ini tolol sekali, bukan, Adik yang manis? Seorang pendeta Lama yang tolol memang, engkau benar sekali dan karena ketololannya, dia akan kubikin roboh sekarang!"
Kalau saja tidak ingat bahwa pemuda itu kemungkinan besar adalah kakak kandungnya, dan karena di situ terdapat banyak orang, tentu Pek Eng akan memaki dan mencela terang-terangan pemuda itu. Ia mendongkol bukan main, dan terpaksa menelan kegemasan hatinya ketika pemuda itu sudah membalik lagi danmenghadapi pendeta Lama yang kurus itu.
"Nah, sekarang kau robohlah!" Hay Hay membentak dan bentakannya yang penuh keyakinan ini memancing suara ketawa dari banyak orang. Kini Hay Hay yang menjadi bahan tertawaan karena pemuda itu tampak demikian tolol. Jelas bahwa pemuda itu tidak becus apa-apa, bersilat sejurus pun tidak becus, akan tetapi lagaknya demikian hebat, memastikan bahwa pendeta Lama yang lihai itu roboh! Diiringi suara ketawa riuh rendah, kini Hay Hay meloncat. Gerakannya bukan gerakan silat, melainkan gerakan katak melompat ke depan, ke arah lawannya, dengan kedua kaki dan tangan bergerak-gerak di udara ketika meloncat, seperti seorang anak kecil mencoba untuk melompati sebuah got. Kedua tangannya dengan jari-jari terbuka menusuk ke arah muka pendeta itu, dan kedua kakinya bergerak ke depan dengan liar dan ngawur. Semua orang semakin geli melihat loncatan katak itu dan suara ketawa makin riuh.
Tiba-tiba saja suara ketawa itu terhenti dan tubuh pendeta Lama itu jatuh berlutut! Seperti seekor jengkerik mengerik kini terpijak, suara ketawa itu seperti dicekik dan semua orang memandang dengan mata terbelalak, tidak percaya akan apa yang disaksikannya. Lebih terkejut dan terheran lagi adalah pendeta lama kurus pucat itu. Tadi ketika pemuda itu membuat loncatan katak, tentu saja dia menjadi geli dan memandang rendah. Ketika kedua tangan pemuda itu menusuk dengan jari-jarinya ke arah kedua matanya, barulah dia agak terkejut dan cepat dia miringkan kepala untuk menghindarkan diri dari tusukan jari-jari tangan yang meluncur dengan cepat sekali itu. Saking cepatnya tusukan jari-jari itu ke arah matanya, pendeta Lama ini terkejut dan hanya memperhatikan serangan ke arah matanya itu. Tiba-tiba, kedua lututnya dicium ujung sepatu kedua kaki Hay Hay dan karena yang tertotok ujung sepatu itu adalah sambungan lutut, maka seketika tubuh pendeta itu tak dapat bertahan untuk berdiri lagi. Kedua lututnya seketika lemas dan lumpuh dan dia pun jatuh berlutut!
"Nah, engkau sudah roboh, berarti engkau sudah kalah!" Hay Hay berkata sambil tersenyum-senyum memandang ke empat penjuru. Barulah kini suara sorak sorai dan tepuk tangan meledak. Semua orang bergembira melihat betapa tanpa disangka-sangka, pemuda itu telah berhasil mengalahkan seorang di antara tiga pendeta Lama yang lihai itu. Walaupun mereka sendiri tidak tahu bagaimana mungkin pendeta itu roboh berlutut, dan walaupun sebagian besar di antara mereka, juga keluarga Pek, menyangka bahwa kejadian itu hanyalah kebetulan saja, namun mereka semua gembira bahwa seorang di antara para Lama itu telah roboh dan kalah!
Kalau saja yang dihadapinya bukan Sin-tong, pendeta Lama itu tentu akan marah dan mengamuk, menyerang pemuda itu. Akan tetapi yang dihadapinya adalah Sin-tong, dan peristiwa tadi kalau diingat membuat bulu tengkuknya meremang. Tentu para dewa melindungi Sin-tong, pikirnya. Kalau tidak begitu, bagaimana mungkin dia sendiri roboh hanya oleh tendangan-tendangan yang tidak berarti, yang secara kebetulan sekali mengenai sambungan kedua lututnya? Para Dewa yang agaknya menuntun gerakan-gerakan kacau dan ngawur itu dan menghadapi kekuasaan para dewa, tentu saja dia kalah! Maka dia pun bangkit berdiri, merangkap kedua tangan depan dada dan berkata dengan suara merendah. "Pinceng mengaku kalah dan terima kasih atas petunjuk Sin-tong."
"Ha-ha, bagus, engkau tahu diri juga. Nah, siapa orang kedua yang akan mencoba ilmu silatnya!" kata Hay Hay sengaja berlagak dan senyumnya melebar ketika dia mengerling dan melihat betapa Pek Eng merengut dan mengerutkan alisnya. Kemenangannya tadi agaknya membuat gadis itu tidak merasa puas dan hal ini menambah kegembiraan di hati Hay Hay. Memang dia ingin mempermainkan tiga orang pendeta Lama ini, juga ingin menggoda semua orang, terutama gadis manis berlesung pipit yang amat menarik hatinya itu.
Diam-diam dua orang pendeta Lama lainnya mengerutkan alis dan menyesal atas kesembronoan teman mereka. Mereka berdua merasa yakin bahwa tidak mungkin teman mereka itu kalah dan dirobohkankan oleh Sin-tong, melihat betapa Sin-tong tidak pandai ilmu silat. Walaupun tendangan mengenai kedua lutut itu luar biasa dan aneh sekali, akan tetapi mereka yakin bahwa hal itu tentu terjadi hanya karena suatu kebetulan yang sial belaka. Kini pendeta bermuka bopeng yang melangkah maju dan menjura kepada Hay Hay.
"Biarlah pinceng yang mohon petunjuk Sin-tong. Pinceng akan mengeluarkan semua kebodohan pinceng untuk menyerang Paduka dan mencoba untuk merobohkan Paduka seperti yang Paduka lakukan terhadap teman pinceng tadi."
Diam-diam Hay Hay memandang tajam penuh perhatian. Pendeta bermuka buruk ini kelihatan cerdik sekali, dan dia tahu bahwa tentu kata-katanya bukan sekedar basa-basi, melainkan merupakan ancaman yang akan dipenuhi. Tentu pendeta ini akan benar-benar berusaha untuk merobohkan dia tanpa mendatangkan luka berat, dan hal itu tidaklah sukar bagi seorang yang memlliki ilmu kepandaian tinggi. Maka dia harus berlaku hati-hati terhadap orang ini, pikirnya.
"Ha-ha, bagus sekali engkau mengakui kebodohanmu sehingga nanti kalau engkau gagal merobohkan aku, kebodohanmu tidak akan bertambah. Biar sampai seratus jurus, aku yakin engkau tidak akan mampu merobohkan aku."
Pek Eng dan ayah ibunya, juga kakeknya, mengerutkan alisnya. Pemuda itu sungguh luar biasa beraninya. Menentang dan mengadu kepandaian dengan pendeta-pendeta lihai itu saja sudah amat berat dan sudah berani sekali. Akan tetapi pemuda ini masih demikian beraninya untuk membual bahwa dia sanggup melayani sampai seratus jurus! Hal ini pun terasa oleh pendeta muka bopeng. Hemm, pikirnya dengan gemas, belum sepuluh jurus saja tentu engkau akan roboh. Apalagi kalau dia menghadapi pemuda ini sebagai musuh, bukan sebagai Sin-tong, mungkin sejurus saja dia akan mampu merobohkan dan membunuhnya!
"Mungkin saja Paduka jauh lebih pandai daripada pinceng. Nah, harap Paduka siap. Pinceng mulai menyerang!" Berkata demikian, pendeta bermuka buruk itu sudah mengembangkan kedua lengannya, kemudian menggerakkan kaki tangannya menyerang ke arah Hay Hay. Serangannya itu merupakan tamparan dari kanan kiri susul-menyusul, dan ketika tangan pendeta itu menyambar, terdengar suara bersiutan dan terasa oleh Hay Hay ada hawa panas sekali menyambar ke arah tubuhnya! Dia terkejut. Kiranya pendeta ini mengeluarkan kepandaiannya dan menyerang sungguh-sungguh dengan pengerahan tenaga sinkang! Memang inilah maksud pendeta itu, merobohkan Hay Hay, kalau mungkin melalui angin, dan hawa pukulan saja, mengandalkan sin-kangnya!
"Siuuuuttt.... Siuutttt......!" Dua tamparan dengan kedua tangan menyambar dari kanan kiri, atas bawah.
"Haiiittt...... ouuuuttt...... lupuuutttt.....!" Hay Hay sudah mengelak ke belakang, gerakannya kaku dan lucu, namun kenyataannya, dua tamparan itu memang tidak mengenai sasaran! Biarpun kaku, namun tubuh pemuda itu nampak sedemikian ringannya, seolah-olah tubuh itu berubah menjadi kapas yang dapat menjauh dan mengelak sendiri tertiup angin pukulan!
Akan tetapi kakek pendeta itu mendesak terus dengan tamparan-tamparan yang lebih cepat, lebih kuat dan lebih panas lagi hawanya. Menghadapi desakan ini, tiba-tiba Hay Hay nampak terhuyung-huyung, kakinya bergeser ke sana-sini dan mulutnya nyerocos, "Hooshhhh... heshhhh... luput lagi ....!" Dan memang benar, pukulan atau tamparan beruntun itu tidak mengenai sasaran, selalu lewat saja di kanan kiri tubuh Hay Hay, seolah-olah kakek itu yang pikun dan bodoh, tidak mampu memukul sasaran dan selalu pukulannya menyeleweng ke samping!
Namun kakek pendeta itu terus mendesak dengan pukulan-pukulan,. tamparan, totokan bahkan mulai melakukan tendangan-tendangan. Memang hebat sekali ilmu silat pendeta ini, tubuhnya bahkan mulai sukar diikuti pandang mata saking cepatnya dia bergerak.
Mula-mula maslh terdengar suara ketawa disana-sini karena memang lucu sekali gerakan Hay Hay yang megal-megol, loncat sana-sini, kadang-kadang membungkuk, kadang-kadang hampir rebah, menungging, berjongkok, dan lain gerakan aneh dan lucu lagi. Akan tetapi kini semua orang mulai merasa tegang dan kagum. Betapa pun aneh gerakan pemuda itu kenyataannya, semua serangan pendeta itu luput!
"Manusia tolol.....!" Pek Eng mencela, akan tetapi tiba-tiba tangannya dipegang oleh ayahnya yang berdiri di sampingnya.
"Anak bodoh, lihat baik-baik .....!" bisik ayahnya dan ketua Pek-sim-pang ini, seperti juga Kakek Pek Ki Bu, menonton dengan wajah tegang dan pandang mata penuh kagum. Penglihatan di situ memang aneh. Seorang pendeta Lama, dengan jubah dan mantel lebar berkibar-kibar, gerakannya cepat sehingga sukar mengikuti bentuk tubuhnya dengan mata, menghujankan serangan-serangan yang mendatangkan angin pukulan dahsyat, sedangkan pemuda yang diserangnya itu selalu dapat mengelak dengan gerakan yang aneh bukan main. Namun karena kini diserang dan didesak hebat, terpaksa Hay Hay tak berani main-main lagi. Biarpun gerakan-gerakannya masih dibuat-buat sehingga nampak aneh dan konyol, namun kedua kakinya kini mulai melakukan gerakan ilmu kesaktian yang dipelajarinya dari See-thian Lama yang dahulu berjuluk Go-bi San-jin, seorang di antara Delapan Dewa. Gerakan ini adalah Jiauw-pouw-poan-soan, yaitu langkah-langkah berputaran yang amat aneh karena langkah-langkah ini dapat menghindarkan dirinya dari serangan-serangan berbahaya. Tubuhnya juga mulai sukar diikuti gerakannya saking cepatnya dan mulailah para penonton memandang kagum, dan dapat menduga bahwa bukan karena nasib baik atau kebetulan saja pemuda itu tadi mempermainkan Lama pertama dan merobohkannya, melainkan karena memang pemuda itu lihai sekali!
Pendeta Lama bermuka bopeng juga terkejut ketika melihat gerakan langkah-langkah ajaib itu. Biarpun dia sendiri tidak menguasai ilmu itu, namun pernah dia mendengar tentang langkah-langkah ajaib yang mengandung garis-garis pat-kwa yang amat luar biasa. Akan tetapi hanya tokoh-tokoh besar yang memiliki tingkat tinggi saja yang kabarnya mampu menguasai langkah-langkah ajaib seperti itu. Mungkinkah seorang pemuda seperti ini sudah mampu menguasainya? Dia teringat bahwa pemuda ini adalah Sin-tong, bukan pemuda sembarangan. Tentu saja mungkin bagi Sin-tong untuk menguasai ilmu apa saja!
"Hesshhh... hosshhh... tidak kena! Heii, sudah berapa ratus jurus seranganmu ini? Wahhh, panasnya... gerah sekali, dan keringatrnu mengeluarkan bau amat busuk! Tak tahan aku ....!" kata Hay Hay dan tiba-tiba saja tubuhnya sudah menjauh. Karena sejak tadi dia memainkan ilmu langkah ajaib Jiauw-pouw-poan-soan sedangkan lawannya menyerangnya dengan cepat, maka dia pun telah mengeluarkan banyak tenaga dan tubuh bagian atas yang tidak berbaju itu kini basah oleh keringat.
Tiba-tiba terdengar teriakan pendeta Lama yang bertubuh tinggi besar bermuka hitam, orang terlihai di antara tiga pendeta itu, "Lihat, dia bukan Sin-tong! Tanda merah itu luntur oleh keringatnya!"
Semua orang kjnj dapat melihat dengan jelas, "tahi lalat" merah yang berada di punggung Hay Hay itu kini luntur karena keringatnya membasahi tanda yang dibuat dari tinta merah itu! Melihat ini, pendeta kurus pucat menjadi marah sekali. Dia kini tahu bahwa pemuda itu bukan Sin-tong, melainkan seorang pemuda yang memalsukan nama Sin-tong dan tadi telah mempermainkannya.
"Manusia jahat!" bentakan ini disusul oleh serangannya yang hebat. Pendeta lama ini agaknya sudah marah sekali dan serangannya merupakan serangan maut. Dia menyerang dengan kedua ujung lengan bajunya yang menyambar bagaikan sepasang senjata yang ampuh melakukan totokan-totokan ke arah jalan darah di bagian depan. Bertubi-tubi kedua ujung lengan baju itu menotok ke arah tujuh titik jalan darah yang dapat mendatangkan maut apabila tepat mengenai sasaran!
"Celaka ....!" Pek Ki Bu berseru kaget karena melihat betapa hebatnya serangan pendeta lama yang kurus pucat itu. Sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi dia mengenal serangan maut yang amat ampuh dan berbahaya sekali.
Namun, dengan gerakan lincah sekali Hay Hay sudah mengelak ke sana-sini dan masih mempergunakan langkah-langkah ajaibnya. Kini dia pun tidak mau main-main lagi, menghadapi serangan yang sungguh-sungguh itu dia pun lalu mengeluarkan kepandaiannya. Dengan sebuah jurus pilihan dari ilmu Silat Ciu-sian Cap-pik-ciang (Delapan Belas Pukulan Dewa Arak) dia membalas, tangan kanan mencengkeram ke depan dan ketika lawan mengelak ke kiri, tangan kirinya memapaki dengan tamparan.
"Plakkk....... !" Tubuh kakek Lama yang kurus itu terpelanting! Masih untung bahwa pemuda itu tidak mempergunakan tenaga sepenuhnya sehingga ketika pundaknya kena ditampar, tulangnya tidak sampai patah-patah, hanya tubuhnya yang terpelanting dan terbanting ke atas tanah!
Semua orang terkejut dan Pek Eng memandang dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Gerakan pemuda itu kini nampak demikian indah dan gagah, tidak ketolol-tololan seperti tadi. Dan dalam segebrakan saja pemuda itu mampu merobohkan pendeta Lama muka pucat yang demikian lihainya! Hati Pek Eng menjadi kagum sekali dan mukanya berubah merah ketika ia teringat betapa tadi ia memandang rendah kepada pemuda itu. Akan tetapi pemuda itu bukan kakak kandungnya dan kembali ia merasa menyesal! Kalau saja pemuda itu kakak kandungnya, tentu ia sudah bersorak karena senang dan bangganya mempunyai seorang kakak yang demikian lihainya. Akan tetapi pemuda itu jelas bukan Pek Han Siong, karena bukankah tanda merah di punggungnya itu palsu belaka?
Sementara itu orang-orang Pek-sim-pang menjadi gembira bukan main dan mereka bertepuk tangan memuji, senang bahwa pendeta Lama yang mereka benci itu telah ada yang menandingi. Pendeta Lama bermuka bopeng menjadi terkejut akan tetapi juga marah melihat temannya roboh. Dan dia pun mengeluarkan suara menggereng dahsyat dan tubuhnya sudah menerjang maju dengan cepat dan kedua tangannya mengeluarkan uap putih ketika dia melancarkan pukulan-pukulan maut yang mengandung angin pukulan dahsyat sampai debu mengepul di sekitarnya.
Hay Hay kembali mengeluarkan kelihaiannya. Dengan gerakan yang gagah dan lincah, tubuhnya mengelak dan tangannya menangkis dari atas ke bawah. Dua buah lengan yang mengandung tenaga sinkang bertemu dengan kerasnya.
"Dukk!!" Akibatnya, tubuh pendeta Lama itu tergetar dan terhuyung, sedangkan Hay Hay masih berdiri tegak. Pendeta Lama bermuka bopeng itu maklum bahwa pemuda ini ternyata kuat bukan main.!
"Orang muda, siapakah engkau? Kenapa engkau mencampuri urusan kami dengan Pek-sim-pang?" dia bertanya karena hatinya menjadi ragu mendapat kenyataan bahwa pemuda yang sakti ini bukanlah Sin-tong dan tidak baik untuk menanam permusuhan dengan golongan lain. Juga dia perlu mengenal lawan yang tangguh ini agar urusan menjadi jelas.
Hay Hay tersenyum dan dengan tenang sekali dan kini mengenakan kembali bajunya yang tadi dilepas, sikapnya seperti tidak sedang menghadapi ancaman tiga orang pendeta Lama yang lihai.
"Sam-wi Losuhu adalah tiga orang tokoh dari Tibet, ingin mengenal namaku? Aku bernama Hay Hay dan aku akan mencampuri urusan siapa saja kalau kulihat di situ orang menggunakan kepandaian untuk memaksa para orang gagah di sini, tentu saja aku tidak dapat tinggal diam saja. Keluarga Pek yang gagah perkasa ini dengan jujur mengatakan bahwa mereka tidak tahu tentang putera mereka, akan tetapi kenapa Sam-wi hendak memaksa dan menggunakan kepandaian untuk menekan?"
"Bocah sombong, engkau hendak menentang kami? Siapakah gurumu?" bentak pula pendeta Lama bermuka bopeng. Melihat sikap ini, Hay Hay mengerutkan alisnya, akan tetapi dia masih tersenyum.
"Locianpwe, aku tidak perlu membawa nama suhu-suhuku yang mulia dalam urusan ini. Pergilah saja pulang ke Tibet dan jangan mengotorkan nama besar para pendeta Lama dengan perbuatan kekerasan yang tidak patut dilakukan pendeta-pendeta yang suci."
"Keparat sombong!" Tiba-tiba pendeta Lama yang bertubuh tinggi besar sudah menerjang ke depan. Tubuhnya menyerang bagaikan seekor gajah marah. Angin besar terasa oleh orang banyak ketika tubuh yang tinggi besar itu menerjang maju dan bertubi-tubi kedua lengan panjang dan kaki panjang itu menyerang dengan pukulan dan tendangan ke arah Hay Hay. Kembali semua orang menonton dengan hati tegang, terutama sekali Pek Ki Bu dan Pek Kong yang memiliki ilmu silat lebih tinggi daripada orang-orang Pek-sim-pang dan mereka berdua dapat mengikuti perkelahian itu lebih teliti lagi. Mereka maklum betapa lihainya tiga orang pendeta itu, maka tentu saja mereka mengkhawatirkan keselamatan pemuda yang berpihak kepada mereka itu.
Akan tetapi sekali ini, Hay Hay tidak berani main-main lagi. Dia pun tahu bahwa biarpun ilmu silatnya masih lebih tinggi daripada mereka bertiga, namun dia kalah pengalaman dan tiga orang pendeta itu merupakan lawan yang sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Dia pun cepat menggerakkan kakinya, mengelak ke sana-sini dengan cepat bukan main. Dia masih tetap menggunakan Jiauw-pouw-poan-soan untuk menghindarkan terjangan dahsyat dari pendeta Lama tinggi besar itu.
Dengan lincahnya, tubuhnya berloncatan ke sana-sini, kadang-kadang tubuhnya melejit-lejit, kedua kakinya digeser secara aneh dan ke mana pun tangan dan kaki pendeta tinggi besar itu menyambar, tubuh Hay Hay selalu dapat mengelak dengan indah dan tepat sekali. Melihat betapa pendeta tinggi besar itu tidak mampu mengenai tubuh lawan dengan semua serangannya, dua orang pendeta Lama lainnya cepat maju dan kini Hay Hay dikeroyok oleh mereka bertiga! Tentu saja Hay Hay menjadi repot sekali! Tiga orang pendeta itu adalah tokoh-tokoh tingkat tiga dari Tibet, kini maju bersama. Tentu saja gabungan tiga tenaga itu amat kuatnya. Namun Hay Hay masih mampu mengelak, menangkis, bahkan membalas dengan serangan-serangan yang membuat tiga orang lawannya kadang-kadang terhuyung ke belakang.
Tepuk sorak semakin riuh menyambut kehebatan Hay Hay menghadapi pengeroyokan tiga orang pendeta itu. Keluarga Pek kini melongo. Biarpun mereka sudah tahu bahwa pemuda yang mengaku Sin-tong itu amat lihai, namun tak pernah mereka dapat membayangkan bahwa pemuda itu mampu menghadapi pengeroyokan tiga orang pendeta Lama yang demikian lihainya.
"Anak itu luar biasa sekali ......!" Pek Ki Bu sampai berseru saking kagumnya. Pek Eng memandang dengan muka merah. Pemuda yang demikian lihainya, jauh lebih lihai dari ayahnya, bahkan dari kakeknya sendiri, dan ia tadi telah menantang pemuda itu! Kalau pemuda itu menghendaki, agaknya dalam segebrakan saja ia tentu sudah roboh!
Perkelahian itu berlangsung dengan amat cepatnya. Tiga orang pendeta Lama itu memang tangguh, apalagi mereka kini maju bersama. Bahkan kini pendeta kurus pucat mempergunakan kedua ujung lengan bajunya, pendeta muka bopeng mengeluarkan sebuah kipas sebagai senjata sedangkan pendeta tinggi besar mengeluarkan seuntai tasbeh yang dipergunakan sebagai senjata. Hay Hay yang mengandalkan ilmu langkah ajaibnya menjadi kewalahan dan terpaksa dia pun menggunakan Ilmu Yan-cu Coan-in sehingga dia dapat mengerahkan ginkang (ilmu meringankan tubuh) sepenuhnya. Tubuhnya kadang-kadang lenyap saking cepatnya dia bergerak, menyelinap di antara gulungan sinar senjata yang menyambar-nyambar dan mengepungnya. Para penonton menjadi kabur pandangan mereka, dan tidak mampu lagi mengikuti gerakan empat orang itu dengan jelas.
Hay Hay tidak mau melukai tiga orang pendeta Lama itu, apalagi membunuh mereka. Inilah yang membuat dia semakin kewalahan. Tiga orang lawan itu menyerangnya dengan sungguh-sungguh, dengan serangan maut, sedangkan dia hanya mempertahankan diri saja, dan serangan balasannya bukan ditujukan untuk merobohkan lawan, melainkan untuk membendung banjir serangan itu. Tentu saja keadaan seperti itu tidak menguntungkan dan dia pun kini terdesak dan tertekan, berada dalam ancaman bahaya.
Maklum bahwa kalau dia terus melayani tiga orang lawan itu akhirnya dia tentu akan terpaksa melukai mereka karena kalau tidak dia sendiri yang akan celaka, Hay Hay lalu mengambil keputusan untuk mencoba ilmu barunya yang belum lama ini dipelajarinya dari Pek Mau San-jin selama setahun. Diam-diam dia mengerahkan tenaga batinnya dan mulutnya berkemak-kemik membaca mantera, kemudian, dia meloncat jauh ke belakang sampai kurang lebih enam meter. Ketika tiga orang lawannya mengejar, dia berseru dan suaranya lembut namun mengandung getaran yang amat kuat.
"Heii, tiga orang pendeta Lama dari Tibet, buka mata kalian dan lihat baik-baik siapa aku. Aku adalah Sin-tong yang siap untuk ikut dengan kalian ke Tibet, menghadap Dalai Lama!"
Semua orang terkejut karena ucapan itu seperti memaksa mereka untuk percaya bahwa pemuda itu benar-benar Sin-tong. Bahkan Souw Bwee sudah berseru dengan hati terharu. "Anakku Pek Han Siong !" Akan tetapi tangannya keburu dipegang oleh Pek Kong yang tidak ingin melihat isterinya lari kepada pemuda itu. Bagaimanapun juga, pengaruh suara Hay Hay itu tidak begitu hebat terhadap mereka karena ditujukan kepada tiga orang pendeta Lama. Tiga orang pendeta itulah yang langsung menerima serangan ilmu sihir dari Hay Hay dan tiba-tiba mereka bertiga mengubah sikap mereka, menyimpan senjata masing-masing, lalu mereka menjura dengan hormat kepada Hay Hay! Bahkan pendeta muka bopeng yang agaknya menjadi juru bicara mereka, segera berkata dengan sikap hormat sekali.
"Marilah, Sin-tong, pinceng bertiga datang untuk menjemput dan mengantar Paduka ke Lasha di Tibet."
Hay Hay masih memandang dengn sinar mata mencorong, kemudian dia berkata.
"Aku lelah sekali, aku mau ke Tibet asal digendong."
"Pinceng yang siap menggendong Paduka!" kata pendeta Lama yang bertubuh tinggi besar, siap untuk menggendong Hay Hay.
Hay Hay lalu mengambil sebongkah batu besar yang berada tak jauh dari situ kemudian meletakkan batu itu di depannya. Kembali suaranya mengandung getaran kuat sekali ketika dia berkata, "Sin-tong telah siap, angkat dan pondonglah ke Tibet!"
Suara itu mengandung kekuatan yang luar biasa, dan kini kakek pendeta Lama yang tinggi besar itu menghampiri batu dan segera mengangkat dan memondongnya, dipandang oleh dua orang rekannya. Kemudian, mereka bertiga lalu membalikkan tubuh dan berjalan hendak pergi meninggalkan tempat itu, Si Pendeta Tinggi Besar masih memondong batu besar tadi.
Tentu saja peristiwa itu membuat semua orang terheran-heran. Mereka merasa seperti sedang menonton pertunjukan sandiwara di panggung saja, atau pertunjukan pelawak. Melihat betapa pendeta tinggi besar itu menggendong batu besar seperti menggendong tubuh Sin-tong seperti yang diucapkan oleh pemuda itu, beberapa orang tak dapat menahan ketawanya, mereka tertawa karena merasa heran dan juga lucu. Suara ketawa amat mudah menular sehingga tak lama kemudian meledaklah suara ketawa.
Suara ini memiliki kekuatan dan membuyarkan pengaruh sihir atas diri tiga orang pendeta itu. Tiba-tiba Si Pendeta Tinggi Besar berteriak kaget dan memandang batu dalam pondongannya, juga dua orang temannya terbelalak.
"Omitohud... Si Keparat!" teriak pendeta tinggi besar dan dia pun membalik, kemudian dia melontarkan batu besar itu ke arah Hay Hay! Lontaran ini mengandung tenaga yang amat kuat, membuat batu besar itu meluncur cepat seperti sebuah peluru meriam yang amat besar menuju ke arah tubuh Hay Hay. Pemuda ini terkejut, kalau dia mengelak, batu itu tentu akan menyerang murid-murid Pek-sim-pang yang berada di belakangnya. Kalau menerimanya, dia khawatir tenaganya tidak mampu menahan lajunya lontaran itu. Jalan satu-satunya hanyalah menyambut batu itu dengan pukulan.
Hay Hay mengerahkan tenaga sin-kangnya dan begitu batu menyambar sampai di depannya, dia pun memukul batu itu dengan tangan miring, menggunakan tangan kirinya yang mengandung tenaga sepenuhnya itu.
"Darrr ...!" Batu besar itu pecah berhamburan, pecahannya yang kecil-kecil melesat ke mana-mana, akan tetapi tidak berbahaya lagi andaikata mengenai orang-orang yang berada di sekitar tempat itu. Kembali semua orang memuji dengan sorak dan tepuk tangan!
Kini tiga orang pendeta Lama itu sudah maju lagi menghampiri Hay Hay dengan pandang mata penuh kemarahan dan dendam. Akan tetapi begitu tiba di depan pemuda itu, Hay Hay membentak, "Kalian bertiga mau apa? Lihat baik-baik, aku adalah Dalai Lama!"
Dan tiga orang pendeta itu tiba-tiba saja menjatuhkan diri berlutut di depan Hay Hay sambil memberi hormat. Tentu saja semua murid Pek-sim-pang terkejut dan terheran-heran, akan tetapi mereka kini mulai mengerti bahwa pemuda yang luar biasa itu tentu telah mempergunakan ilmu sihir! Karena mereka dapat menduga bahwa tiga orang pendeta itu kini tentu melihat pemuda itu berubah menjadi Dalai Lama, tentu saja mereka merasa geli dan kembali mereka tertawa-tawa. Suara ketawa ini kembali membuyarkan kekuatan sihir. Suara orang banyak memang mengandung kekuatan yang luar biasa. Tiga orang pendeta itu sadar.
Pendeta kurus pucat meloncat dan menerjang, akan tetapi disambut tamparan oleh Hay Hay yang membuat dia terpelanting jatuh. Orang kedua, yang bermuka bopeng, maju dan disambut tendangan yang membuatnya terjungkal pula. Pendeta tinggi besar menerkam Hay Hay, dan dia pun terpelanting oleh pukulan tangan kiri Hay Hay yang menyambutnya. Tiga orang pendeta itu tidak terluka, dan mereka sudah bangkit lagi, siap untuk mengeroyok, sementara para murid Pek-sim-pang memandang kagum metihat betapa pemuda itu merobohkan tiga orang Lama itu satu demi satu.
"Hemm, kalian ini tiga orang pendeta Lama, sungguh tidak tahu malu, berdiri di sini dengan telanjang bulat! Tak tahu malu!"
Kini para murid Pek-sim-pang yang mulai mengerti bahwa suara ketawa mereka membuyarkan kekuatan sihir pemuda itu, tidak mau tertawa, bahkan dengan suara bulat mereka pun mengejek. "Tak tahu malu!"
Tiga orang pendeta Lama itu memandang kepada tubuh sendiri dan saling pandang dengan mata terbelalak. Suara orang banyak itu memperkuat pengaruh sihir yang dilancarkan Hay Hay sehingga mereka bertiga melihat betapa mereka benar-benar telah telanjang bulat. Dengan malu bukan main, ketiganya lalu menggunakan kedua tangan, sedapat mungkin menutupi tubuh di bawah pusar, dan seperti tiga ekor anjing yang ketakutan, mereka pun lari meninggalkan tempat itu. Pemandangan yang amat lucu ini tentu saja membuat semua orang tertawa, tak dapat ditahan lagi mereka tertawa. Dan sekali ini, biarpun suara ketawa itu membuyarkan pengaruh sihir dan tiga orang pendeta Lama itu melihat bahwa sesungguhnya mereka tidak telanjang, namun mereka maklum bahwa mereka takkan menang menghadapi pemuda luar biasa itu. Mereka pun sudah agak jauh, maka daripada menderita malu lebih parah lagi, ketiganya lalu melarikan diri tanpa menoleh lagi, diiringi suara ketawa banyak orang.
Kini Pek Ki Bu sudah menghampiri pemuda itu, memandang penuh perhatian lalu bertanya, suaranya sungguh-sungguh,
"Orang muda, sebenarnya siapakah engkau? Benarkah engkau Sin-tong?"
Hay Hay cepat memberi hormat. Teringat dia akan nasibnya di waktu kecil, oleh keluarga ini dia diambil dan dibiarkan menjadi Sin-tong dalam pandangan banyak orang sehingga dia diperebutkan. Maka dia pun tidak membohong ketika dia mengangguk dan menjawab. "Benar, Locianpwe. Saya adalah Sin-tong...."
Semua orang yang tadi melihat tanda merah di punggung itu luntur, kemudian melihat betapa pemuda ini pandai ilmu sihir, mengira bahwa lunturnya tanda merah itu pun hanya karena pengaruh sihir saja, maka muncul kembali harapan dan dugaan bahwa pemuda ini memang benar Pek Han Siong. Maka, jawaban Hay Hay yang membenarkan bahwa dia adalah Sin-tong, membuat Pek Eng berteriak dengan girang dan bangga sekali.
"Koko .....! Ah, kiranya engkau kakakku Pek Han Siong! Koko ....!" Dan saking girang dan bangganya, Pek Eng lari menghampiri, merangkul leher pemuda itu dan mencium pipinya! Ketika merasa betapa pipinya dingok oleh gadis manis itu, dengan girang Hay Hay membalas pula dengan dua kali ngok pada kedua pipi Pek Eng!
"Anakku .....!" Souw Bwee juga lari dan merangkul leher Hay Hay, mencium dahi pemuda itu. Hay Hay hanya menyeringai saja dirangkul dua orang wanita itu. Kalau Pek Eng yang merangkul dan menciuminya, biar sehari pun dia tidak akan merasa keberatan dan akan membiarkannya saja, akan tetapi melihat nyonya itu pun menyangka bahwa dia Pek Han Siong, hati Hay Hay merasa tidak enak. Tidak baik mempermainkan seorang nyonya yang sedang kehilangan puteranya, pikirnya. Maka dia pun dengan halus melepaskan diri dari rangkulan nyonya itu tanpa melepaskan rangkulan Pek Eng pada pundaknya dan rangkulan lengannya sendiri pada pinggang ramping itu, kemudian dia berkata halus.
"Maaf, menyesal sekali saya harus mengecewakan Cu-wi (Anda Sekalian) karena sesungguhnyalah saya bukanlah Pek Han Siong. Nama saya Hay Hay "
"Aihhh ......!" Souw Bwee mundur tiga langkah, mukanya berubah pucat, dan Pek Eng juga cepat melepaskan rangkulannya dan melangkah mundur dengan muka berubah merah sekali.
"Tapi kau .... kau ......!" teriaknya
"Ya, aku kenapakah, adik yang baik?"
"Kalau engkau bukan kakakku, aku pun bukan adikmu! Kalau engkau bukan Kakak Pek Han Siong, lalu kenapa kau... kau .. kau .... tadi menciumku ....."
Hay Hay memandang wajah yang manis itu sambil tersenyum. Bukan main indahnya mata dan mulut itu, pikirnya. Wajah yang manis sekali, biarpun kulitnya agak gelap seperti terlalu banyak terbakar sinar matahari, namun bahkan menambah manisnya dan kulit itu pun halus dan betapa hangatnya ketika kedua lengan itu tadi merangkul lehernya, ketika hidung dan bibir itu tadi menyentuh pipinya. Sepasang mata yang agak sipit itu indah sekali bentuknya, dengan kedua ujung di kanan kiri meruncing seperti dilukis, bulu matanya panjang melengkung, alisnya hitam panjang. Manisnya hidung itu, kecil dan ujungnya agak naik seperti menantang, membuat wajah itu nampak mungil dan lucu penuh kelincahan. Bibir yang merah basah itu nampak segar tanda kesehatan yang sempurna, dan dipermanis lagi oleh sebuah lesung pipit di pipi kiri. Gadis yang lincah jenaka, galak dan manja, dan memiliki daya tarik amat kuatnya.
"Heeiii! Jawab pertanyaanku, jangan longang-longong seperti kerbau tolol!" Pek Eng memaki karena ia merasa kecelik, marah dan malu telah berciuman dengan pemuda itu di depan orang banyak lagi!
"Nona, aku tidak pernah mengaku sebagai kakakmu, sejak semula aku memperkenalkan namaku, yaitu Hay Hay, bukan Pek Han Siong. Dan tentang ciuman itu... eh, siapakah yang memulai lebih dulu, Nona?"
Wajah itu menjadi semakin merah saking malunya, karena harus diakuinya bahwa ialah yang tadi memeluk dan mencium dengan hati penuh keyakinan bahwa pemuda ini adalah kakak kandungnya. "Kau... kau... memang laki-laki kurang ajar, laki-laki mata keranjang ...!" Ia memaki dan kedua tangannya sudah dikepal karena saking malu dan marahnya ia hendak menyerang pemuda itu.
"Eng-ji, jangan!" bentak Pek Kong kepada puterinya. "Mundurlah!"
Biarpun hatinya masih panas sekali, Pek Eng mundur juga dibentak ayahnya. Pek Kong lalu melangkah maju menghadapi pemuda itu. Sejenak dia memandang penuh perhatian dan penuh selidik, kemudian dia bertanya, "Orang muda, kalau engkau bukan puteraku Pek Han Siong, bagaimana engkau dapat mengaku bahwa engkau adalah Sin-tong?"
Jantung Hay Hay berdebar tegang ketika dia memandang laki-laki gagah di depannya itu. Seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih, bertubuh tegap dan berwajah tampan dan gagah, pembawaannya penuh wibawa dan matanya bersinar tajam. Dia tahu bahwa laki-laki inilah yang pernah menjadi ayahnya, ayah angkat mungkin, dan bahwa laki-laki ini sajalah yang tahu tentang riwayat dirinya! Cepat dia memberi hormat.
"Apakah saya berhadapan dengan Pek-pangcu, Ketua Pek-sim-pang?" tanyanya.
"Benar, aku adalah Ketua Pek-sim-pang bernama Pek Kong."
"Ah, Pangcu. Justru pertanyaan tadi itulah yang mendorong saya untuk berkunjung ke sini, karena hanya Pangcu yang akan dapat menjawabnya."
"Maksudmu?" tanya Pek Kong terbelalak.
Pada saat itu, Pek Ki Bu yang tidak menghendaki percakapan itu dilakukan di tempat terbuka dan terdengar oleh semua murid Pek-sim-pang, cepat melangkah maju dan berkata. "Sebaiknya kita bicara saja di dalam. Bagaimanapun juga, orang muda ini telah menyelamatkan kita dari keadaan yang tidak enak sekali tadi. Marilah, orang muda, marr kita masuk dan bicara di dalam."
Hay Hay mengangguk, akan tetapi kakinya ragu-ragu melangkah karena ketika dia menoleh kepada Pek Eng, dia melihat gadis itu berdiri melotot kepadanya dan seolah-olah gadis itu tidak rela menerimanya sebagai tamu di rumahnya. Melihat pemuda itu ragu-ragu, kemudian mengikuti pandang mata pemuda itu dan melihat sikap puterinya, Nyonya Souw Bwee lalu menggandeng tangan puterinya.
"Eng-ji, mari kita masuk dulu dan mempersiapkan hidangan untuk menyambut tamu!" Pek Eng tidak dapat membantah dan ditarik ibunya masuk lebih dulu. Hay Hay melempar senyum kepadanya dan gadis itu membuang muka, membuat senyum Hay Hay menjadi semakin lebar.
Kini mereka duduk berhadapan mengelilingi sebuah meja besar di ruangan belakang. Nyonya Souw Bwee, setelah memerintahkan pelayan mempersiapkan hidangan, ikut pula duduk karena ia ingin sekali mendengar penuturan pemuda itu. Juga Pek Eng ikut duduk, akan tetapi ia duduk agak di belakang, tidak mau berdekatan dengan pemuda itu.
"Nah, sekarang ceritakan kepada kami tentang dirimu dan tentang pengakuanmu sebagai Sin-tong tadi, orang muda." Kata Pek Kong.
Sejenak Hay Hay memandang kepada wajah mereka, seorang demi seorang. Mula-mula dipandangnya wajah Pek Kong, kemudian Souw Bwee, kemudian wajah Kakek Pek Ki Bu, dan kepada Pek Eng yang duduk di belakang orang tuanya, dia melirik. Setelah itu dia pun berkata, "Saya sendiri tidak tahu siapa saya ini sebenarnya. Setahu saya, saya bernama Hay Hay dan saya dianggap Sin-tong, diperebutkan banyak orang. Saya tahu bahwa jawabannya terletak dalam rahasia keluarga Pek, karena semenjak bayi saya dianggap sebagai putera keluarga Pek. Kemudian ketika masih bayi, saya diculik orang dari tangan keluarga Pek, ditukar dengan bayi mati dan ......"
"Ahhhh ......!!" Pek Kong dan isterinya, berteriak kaget sehingga Hay Hay menghentikan ceritanya dan memandang kepada dua orang suami isteri itu dengan sinar mata penuh harap dan permohonan.
"Karena itulah, Pangcu. Saya sengaja datang mencari Pek-sim-pang untuk bertanya tentang rahasia diri saya ini kepada Pek-pangcu. Siapakah sebenarnya saya ini, dan mengapa menjadi putera keluarga Pek lalu diculik orang?"
"Ah, kiranya engkau anak yang malang itu .....!" Tiba-tiba Pek Ki Bu berseru dan dia menggeleng-geleng kepala saking takjubnya. Anak itu kini muncul dan menuntut agar diceritakan asal-usulnya.
"Baiklah, kami akan ceritakan semua kepadamu. Sudah menjadi hakmu untuk mengetahui segalanya tentang dirimu, anak yang malang." kata Pek Kong.
Dengan jantung berdebar dan muka agak pucat karena saat inilah yang dinanti-nantikan selama bertahun-tahun ini, Hay Hay memandang kepada Ketua Pek-sim-pang itu, siap mendengarkan semua cerita yang akan keluar dari mulut Pek Kong.
Pek Kong lalu menceritakan peristiwa yang terjadi kurang lebih dua puluh satu tahun yang lalu, ketika isterinya, Souw Bwee mengandung dan pada waktu itu Pek-sim-pang masih berada di Nam-co, di daerah Tibet. Kandungan isterinya itu menimbulkan masalah karena para Lama di Tibet meramalkan bahwa anak yang dikandung adalah Sin-tong dan kelak harus diserahkan kepada para pendeta Lama untuk dirawat dan dididik, karena Sin-tong setelah dewasa akan menjadi Dalai Lama. Pek Kong dan isterinya lalu melarikan diri mengungsi ke timur.
"Pada saat kelahiran putera kami itulah engkau muncul." Pek Kong melanjutkan ceritanya yang didengarkan penuh perhatian oleh Hay Hay. "Ketika itu kakekku, yaitu Kakek Pek Khun, melihat seorang ibu muda bunuh diri di laut bersama puteranya. Kakek Pek Khun berhasil menyelamatkan anak laki-laki itu, akan tetapi ibu muda itu meninggal dunia setelah meninggalkan sedikit pesan. Bayi laki-laki yang diselamatkan oleh Kakek Pek Khun itu ....."
Sayalah bayi itu!" kata Hay Hay, wajahnya agak pucat dan suaranya gemetar.
"Benar sekali! Engkaulah bayi laki-laki itu. Karena putera kami terancam dan dicari para Lama, maka putera kami itu dibawa pergi dan disembunyikan oleh Kakek Pek Khun, sedangkan engkau kami pelihara sebagai gantinya. Akan tetapi, tak lama kemudian engkau diculik orang dan sebagai gantinya, di tempat tidurmu diletakkan seorang bayi lain yang sudah mati. Dua orang penjagamu juga dibunuh oleh penculik itu."
"Hemmm, Lam-hai Siang-mo .....!" kata Hay Hay.
"Apa maksudmu?" tanya Pek Kong.
"Yang menculik saya di waktu bayi itu adalah suami isteri Lam-hai Siang-mo."
"Ah kiranya Siangkoan Leng dan Ma Kim Li?" kata Pek Ki Bu mengepal tinju. "Kalau aku tahu tentu kucari mereka. Mereka begitu kejam, membunuh anak sendiri untuk ditukar denganmu, dan membunuh dua orang penjaga."
"Mereka memang orang-orang kejam dan jahat. Mereka lalu merawat saya dan sejak kecil saya menganggap bahwa mereka adalah ayah dan ibu saya. Akan tetapi ketika saya berusia tujuh tahun, muncul suami isteri Guha Iblis Pantai Selatan ....."
"Kwee Siong Si Tangan Maut dan Tong Ci Ki Si Jarum Sakti?" tanya Kakek Pek Ki Bu yang agaknya mengenal tokoh-tokoh persilatan di selatan.
"Benar," kata Hay Hay. "Mereka merampas saya dan mulailah saya dijadikan perebutan dan baru saya mendengar bahwa saya bukanlah anak kandung Lam-hai Siang-mo, melainkan anak kandung keluarga Pek. Akan tetapi, setelah kemudian orang tahu bahwa tidak ada tanda merah di punggung saya, saya pun mengerti bahwa sesungguhnya saya bukanlah putera kandung keluarga Pek, dan bahwa rahasia tentang diri saya berada di sini, di antara keluarga Pek. Oleh karena itu, saya mohon kepada Cu-wi untuk dapat membuka rahasia itu. Siapakah saya? Siapakah ibu saya itu yang membunuh diri di lautan dan siapa pula ayah saya?"
Pek Ki Bu saling pandang dengan putera dan mantunya. Pek Kong mengangguk lalu dia berkata, "Tunggulah sebentar, saya ingin mengambil sesuatu dari dalam kamar." Dia pun pergi dan tak lama kemudian kembali lagi ke ruangan itu.
"Ketahuilah, orang muda. Sebelum wanita muda yang membunuh diri itu tewas, ia sempat meninggalkan pesan kepada Kakek Pek Khun. Ia sempat bercerita di saat terakhir itu bahwa ia membunuh diri karena ingin melarikan diri dari aib."
"Ahhh .....Hay Hay menahan napas dan Souw Bwee memandang kepadanya dengan sinar mata penuh rasa iba. Sedangkan Pek Eng yang juga belum pernah mendengar cerita itu, ikut mendengarkan dengan hati tertarik.
"Menurut pengakuannya, ibu muda itu adalan seorang gadis yang diperkosa dan dipaksa oleh seorang... laki-laki ......" Pek Kong tidak tega mengatakan bahwa pemerkosa itu seorang jai-hwa-cat (penjahat pemerkosa wanita), "dan ketika wanita itu mengandung dan melahirkan anak karena hubungan itu, ia tidak kuat menghadapi aib itu dan mencoba membunuh diri bersama anaknya itu. Laki-laki yang menjadi... ayah kandungmu itu adalah she (bernama keturunan) Tang ......."
"Hemmm, jadi saya she Tang? Tang Hay ......?" kata Hay Hay seperti kepada diri sendiri dengan hati amat tidak enak rasanya. Ibunya diperkosa orang sampai mengandung dan melahirkan dia. Dia seorang anak haram! Anak yang lahir dari perkosaan. Jadi ayahnya adalah seorang yang amat jahat, she Tang!
"Dan di manakah adanya Ayah saya yang she Tang itu?"
Pek Kong menggeleng kepala sambil merogoh saku jubahnya. "Kami juga tidak tahu, hanya Ibumu dalam pesan terakhir itu menyerahkan benda ini kepada Kakek Pek Khun. Katanya benda ini adalah milik ayahmu, orang she Tang itu. dan Ibumu berpesan agar engkau mencarinya...." Pek Kong menyerahkan benda itu kepada Hay Hay.
Hay Hay menerima benda itu, mengamatinya, dan tiba-tiba dia mengeluarkan teriakan keras dan jatuh terguling dari kursi yang didudukinya. Pingsan! Tentu saja semua orang terkejut dan Pek Kong segera memondongnya ke atas dipan dan mengurut beberapa jalan darah untuk membuatnya siuman kembali.
Tidak mengherankan kalau Hay Hay menjadi pingsan saking kagetnya ketika dia menerima benda itu dan mengenalnya. Benda itu adalah sebuah tawon merah terbuat dari emas dan permata persis dengan benda yang ditinggalkan oleh jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) yang telah membunuh seorang gadis dusun yang hitam manis dan kemudian memperkosa Siauw Lan, gadis dusun yang lain sehingga dialah yang dituduh sebagai pembunuh dan pemerkosa. Kiranya yang melakukan itu adalah jai-hwa-cat yang berjuluk Ang Hong Cu, Si Tawon Merah, yang meninggalkan perhiasan berbentuk tawon merah itu. Dan Ang Hong Cu bukan lain adalah ayah kandungnya! Jai-hwa-cat itu telah memperkosa gadis yang kemudian mengandung dan melahirkan dia. Dia anak seorang jai-hwa-cat, lahir dari hasil perkosaan. Anak haram! Darah penjahat keji! Maka, tidaklah mengherankan ketika melihat benda itu dan menyadari siapa dirinya, Hay Hay langsung roboh pingsan.
Setelah siuman kembali, dia mengeluh dan cepat bangkit duduk, lalu bangkit pula berdiri memberi hormat kepada Pek Ki Bu, Pek Kong dan Souw Bwee. "Harap Cu-wi memaafkan saya. sekarang setelah saya mendengar dari Cu-wi tentang rahalsia diri saya, maka saya mohon pamit. Terima kasih atas pertolongan yang diberikan oleh Locianpwe Pek Khun kepada mendiang Ibu saya dan kepada saya sendiri karena kalau tidak ditolong, tentu saya sudah mati bersama Ibu dan... tidak akan mendengar kenyataan yang amat pahit ini. Dan maafkanlah bahwa saya telah membikin repot keluarga Pek yang budiman."
Hati tiga orang itu merasa kasihan, bahkan Pek Eng memandang dengan terharu, walaupun di dalam hatinya ia pun memandang rendah. Anak seorang jai-hwa-cat yang lahir dari hubungan perkosaan!
"Jangan berkata demikian... Tang-taihiap" kata Pek Ki Bu. "Bagaimanapun juga, keluarga kami berhutang budi kepadamu dan pernah melakukan kesalahan kepada dirimu ketika engkau masih bayi. Engkau telah menyelamatkan Pek Han Siong dari pengejaran orang, dan kami bahkan telah menggantikan tempatnya dengan engkau sehingga engkau menjadi perebutan orang-orang kang-ouw. Maafkanlah kami."
"Tidak, tidak ....! Dan harap Locianpwe jangan menyebut Taihiap (Pendekar Besar) kepada saya. Saya hanya... hanya anak jai-hwa-cat ....." Hay Hay memberi hormat lagi dan hendak pergi ketika pada saat itu seorang pelayan masuk ke ruangan dan melaporkan bahwa ada tamu-tamu dari Cin-an, yaitu keluarga Song, datang berkunjung.
Mendengar ini, wajah Pek Ki Bu dan Pek Kong berseri-seri. "Aih, kiranya mereka yang datang! Tang-taihiap, kuharap engkau tidak tergesa-gesa pergi karena kami masih ingin berbincang-bincang denganmu mengenai masa lampau. Marilah kami perkenalkan dengan tamu-tamu terhormat, yaitu keluarga Song yang gagah perkasa dari Cin-an, keluarga para pimpinan Kang-jiu-pang (Perkumpulan Tangan Baja) yang amat terkenal sebagai pejuang-pejuang dan pendekar-pendekar yang budimar."
Hay Hay yang baru saja menemukan dirinya dan masih berada dalam keadaan nelangsa, sebenarnya ingin sekali pergi. Akan tetapi karena pihak tuan rumah meminta dengan sangat, dan dia pun tertarik mendengar datangnya keluarga pendekar yang terkenal dan ingin melihat mereka, dia pun menerima tanpa banyak cakap dan bersama rombongan tuan rumah dia pun ikut keluar menyambut tamu.
Rombongan tamu itu terdiri dari tiga orang. Orang pertama adalah seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun, jangkung kurus dan muka keras dan mata membayangkan kejujuran dan kekuatan. Orang ini adalah ketua perkumpulan Kang-jiu-pang dan bernama Song Un Tek. Orang ke dua adalah adiknya yang berusia empat puluh lima tahun yang bertubuh pendek gendut seperti bola dan yang memiliki muka bulat yang selalu tersenyum mengejek. Orang ini bernama Song Un Sui, tidak kalah terkenalnya dibandingkan kakaknya yang menjadi pangcu dari Kang-jiu-pang karena ilmu silatnya yang tinggi dan jiwanya yang patriotik. Hanya sedikit sayang bahwa si gendut Song Un Sui ini agak tinggi hati, terlalu mengandalkan kepandaian sendiri dan suka memandang rendah orang lain. Adapun orang ke tiga merupakan seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun yang bertubuh tinggi besar, gagah sekali nampaknya dengan pakaian seperti seorang pendekar dan di pinggangnya tergantung sebatang pedang, yang berada dalam sarung pedang terukir indah dan terhias ronce merah di bagian gagangnya. Pemuda ini adalah putera Ketua Kang-jiu-pang bernama Song Bu Hok, dan dia telah digembleng oleh ayahnya dan pamannya, mewarisi ilmu kepandaian mereka dan juga jiwa kepahlawanan mereka. Akan tetapi, Bu Hok ini pun agaknya mewarisi ketinggian hati pamannya, hal ini nampak pada pandangan matanya dan tarikan dagunya yang gagah.
Perkumpulan Kang-jiu-pang belum tua benar umurnya. Didirikan oleh mendiang ayah dari kedua orang pimpinan Kang-jiu-pang itu, yaitu Song Pak Lun, seorang bekas perwira tinggi di Pao-teng yang berjiwa pahlawan. Karena merasa tidak setuju dengan sepak terjang Kaisar Ceng Tek, yaitu kaisar yang lalu sebelum Kaisar Cia Ceng yang sekarang, karena Kaisar Ceng Tek terlalu percaya kepada para pembesar Thaikam (Orang Kebiri) sehingga kekuasaan hampir dicengkeram oleh para thaikam, maka Song Pak Lun lalu mendirikan perkumpulan Kang-jiu-pang. Perkumpulan ini terdiri dari orang-orang gagah yang menentang kekuasaan para thaikam demi menyelamatkan rakyat daripada penekanan dan penindasan, dan berpusat di dekat kota Cin-an di Lembah Sungai Huang-ho.
Setelah Kakek Song Pak Lun meninggal dunia, Kang-jiu-pang diketuai oleh puteranya, yaitu Song Un Tek yang dibantu oleh adiknya, Song Un Sui itu. Dua orang kakak beradik inilah yang menjadi pimpinan Kang-jiu-pang, akan tetapi karena kini tidak terdapat lagi thaikam yang ditentang seperti ketika jaman ayah mereka, setelah thaikam yang lalim ditangkap dan dihukum, maka perkumpulan itu lebih menyerupai perkumpulan orang gagah. Murid-murid Kang-jiu-pang, seperti para murid perkumpulan orang gagah lainnya, bertindak seperti para pendekar yang menentang dunia hitam atau kaum sesat di dunia kang-ouw. Nama Kang-jiu-pang menjulang tinggi karena sepak terjang anak buahnya yang rata-rata merupakan pendekar yang gagah perkasa.
Telah lama terjalin persahabatan antara pimpinan Kang-jiu-pang dan pimpinan Pek-sim-pang, maka dapat dibayangkan betapa gembira pihak Pek-sim-pang menerima kunjungan para sahabat mereka itu. Karena sudah menjadi sahabat yang akrab dan lama, maka Souw Bwee dan Pek Eng tidak ketinggalan menyambut para tamu, walaupun tamu itu hanya tiga orang laki-laki belaka. Pek Eng juga sudah mengenal Song Bu Hok, bahkan sudah berteman dengan pemuda tinggi besar itu.
Ketika pihak tuan rumah yang diikuti oleh Hay Hay keluar dari dalam, tiga orang tamu yang tadinya duduk di ruangan tunggu itu bangkit berdiri dan memberi hormat.
"Aihh, angin apakah yang membawa Sam-wi melayang-layang ke sini dari Cin-an?" kata Pek Kong dengan gemblra.
"Kami harap Pangcu sekeluarga dalam sehat dan Kang-jiu-pang menjadi semakin besar dan jaya." kata pula Pek Ki Bu dengan wajah gembira. Dia pun telah menjadi sahabat Song Pak Lun ketika kakek itu masih hidup dan menjadi Ketua Kang-jiu-pang.
"Kami baik-baik saja, terima kasih dan mudah-mudahan Pek-sim-pang semakin maju dan para keluarga Pek juga dalam sehat bahagia." jawab Song Un Tek dan Song Un Sui dengan ramah. Akan tetapi Song Bu Hok yang tadinya memandang kepada Pek Eng dengan wajah berseri, kini mengerutkan alisnya melihat munculnya seorang pemuda tampan yang tak dikenalnya di belakang gadis itu. Dia menatap tajam dan lupa untuk memberi salam.
"Bu Hok, kenapa engkau diam saja?" ayahnya menegur dan menoleh, kemudian dia pun melihat ke arah yang dipandang puteranya dan dia melihat pula pemuda di belakang Pek Eng itu.
"Pek-locianpwe dan Paman Pek Kong, terimalah hormat saya. Bibi, terimalah hormat saya." kata Bu Hok.
Akan tetapi kini Song Un Tek yang menatap tajam ke arah Hay Hay, lalu berseru. "Aha! Kalau tidak keliru dugaanku, pemuda yang gagah ini tentu putera kalian, Pek Han Siong alias Sin-tong itu yang sudah pulang! Benarkah?"
Mendengar seruan ayahnya, pandang mata yang tadinya keruh dan penuh curiga dari Bu Hok segera terganti cerah dan berseri. "Aih, Eng-moi, inikah kakakmu yang amat terkenal sebagai Sin-tong?" tanyanya kepada Pek Eng.
"Jangan sembarang sangka, Song-toako!" kata Pek Eng cemberut. Tak senang hatinya mendengar sangkaan orang bahwa ia adalah adik Hay Hay, pemuda mata keranjang keturunan jai-hwa-cat itu!
"Kalian salah sangka." Pek Kong menerangkan dengan ramah. "Pemuda ini adalah seorang tarnu kami yang baru saja datang, namanya adalah... Tang Hay. Mari silakan duduk di dalam."
Berbondong-bondong mereka memasuki rumah dan tak lama kemudian mereka sudah duduk di ruangan dalam yang luas. Hay Hay yang juga dipersilakan duduk, mengambil tempat duduk di sudut, agak jauh dari rombongan tamu dan tuan rumah yang sedang bercakap-cakap dengan meriah dan gembiranya itu. Bahkan dia melihat betapa Pek Eng bercakap-cakap dengan ramah pula bersama pemuda tinggi besar yang gagah itu. Akan tetapi dia melihat pula pemuda tinggi besar itu berkali-kali melempar kerling ke arahnya, dengan sinar mata yang tidak ramah, akan tetapi dia pura-pura tidak melihatnya.
"Song-pangcu, bagaimana kabarnya di kota raja? Engkau baru saja datang dari sana, dekat kota raja, tentu banyak mendengar tentang keadaan di sana. Jangan-jangan kalian ini datang membawa kabar buruk yang akan membangkitkan kembali Kang-jiu-pang menjadi pejuang-pejuang yang gagah dan mengobarkan perang!" kata Pek Kong.
"Ah, untung tidak demikian, Pek-pangcu. Keadaan kota raja kini tenteram saja semenjak Kaisar Cia Ceng memegang tahta kerajaan. Semua ini berkat kebijaksanaan dua orang Tiong-sin (Menteri Setia) di istana ...."
"Kaumaksudkan dua orang Menteri Yang Ting Hoo dan Cang Ku Ceng?" Pek Ki Bu menyela.
"Benar sekali, Paman." kata Song Un Tek.
Kakek Pek Ki Bu menarik napas panjang. "Benar kata para cerdik pandai di jaman dahulu bahwa kalau negara merupakan sebatang pohon besar, maka kaisar dan para pejabat tinggi yang membantunya merupakan batang dan akar-akarnya. Kalau batang dan akar-akarnya sehat dan subur, maka semua cabang, ranting, daun dan bunga serta buahnya tentu akan sehat dan subur pula. Sebaliknya, kalau kaisar dan para pembesar yang membantunya busuk, tentu negara akan menjadi rapuh dan kehidupan rakyat menjadi sengsara."
"Benar sekali, Paman." kata pula ketua Kang-jiu-pang. "Memang besar sekali jasa dua orang menteri bijaksana itu, sehingga para Kan-sin (Menteri Durna) menjadi keder dan kehilangan pengaruh, bahkan banyak yang mengundurkan diri. Mudah-mudahan saja Sribaginda Kaisar Cia Ceng ini akan dapat membuat Kerajaan Beng menjadi benar-benar Beng (Terang) dan rakyat dapat hidup sejahtera."
"Sayang sekali bahwa para pimpinan itu tidak seperti akar dan batang pohon yang hanya bekerja demi kehidupan pohon seutuhnya, juga kepentingan daun-daunnya, cabang ranting kembang dan buahnya. Para pimpinan itu biasanya hanya memikirkan kepentingan dan kesenangan diri sendiri belaka. Di waktu perjuangan, mereka membujuk rakyat, menggandeng rakyat untuk memperoleh kekuatan, dengan segala macam slogan dan kata-kata indah patriotik, akan tetapi setelah berhasil memperoleh kemenangan dan mereka itu berkuasa, mereka lupa sama sekali kepada rakyat jelata. Mereka lupa bahwa tanpa dukungan rakyat, tanpa bantuan rakyat, mereka tidak mungkin dapat memperoleh kemenangan dan memperoleh kedudukan mereka yang sekarang." kata Kakek Pek Ki Bu.
Song Un Tek, ketua Kang-jiu-pang tersenyum lebar dan mengangguk-angguk. "Kiranya hal itu tidak mengherankan, Paman, karena bagaimanapun juga, para pimpinan itu hanyalah manusia-manusia biasa dan manusia memang lemah, mudah mabok kekuasaan. Akan tetapi, ada pula pemimpin yang benar-benar memperhatikan kepentingan rakyat jelata, ada yang agak memperhatikan, dan ada pula yang sama sekali tidak. Yang sama sekali tidak memperhatikan ini, yang hanya mengejar kesenangan pribadi berlandaskan kekuasaan yang didapatnya dengan bantuan rakyat, adalah pembesar lalim dan orang seperti itu pasti lambat laun akan digilas oleh roda perputaran dunia yang adil."
Kedua pimpinan perkumpulan orang-orang gagah itu bercakap-cakap tentang perjuangan, tentang kepahlawanan, didengarkan oleh Hay Hay yang dlam-diam merasa kagum kepada mereka. Dia sendiri tidak tertarik oleh urusan itu, namun dia dapat merasakan bahwa kedua pihak yang sedang bercakap-cakap itu memang orang-orang gagah perkasa yang patut dihormati. Kalau dia teringat betapa orang-orang muda seperti Pek Eng dan Song Bu Hok ini adalah keturunan orang-orang tua yang gagah perkasa dan terhormat, sedangkan dia sendiri adalah anak seorang jai-hwa-cat, hatinya terasa seperti ditusuk-tusuk dan dia pun menundukkan mukanya, merasa betapa dirinya rendah dan hina. Akan tetapi hanya sebentar saja dia berhal demikian. Wataknya yang periang dan tidak pernah mau terbenam di dalam perasaannya, membuat wajahnya menjadi cerah.
"Song-pangcu, selain ingin bertemu karena rindu, agaknya Pangcu mempunyai urusan penting yang dibawa dari rumah. Benarkah dugaanku itu dan kalau memang ada urusan penting, harap segera disampaikan kepada kami." Pek Kong berkata kepada temannya.
Song Un Tek tertawa dan mengangguk-angguk, mengelus jenggotnya yang pendek dan lebat. "Tidak salah dugaanmu, Pek-pangcu. Aku teringat akan permufakatan kita pada awal perkenalan kita dahulu dan ingin sekali menegaskan kepada keluarga Pek. Akan tetapi karena yang akan dibicarakan ini urusan orang-orang tua, dapatkah kita bicara sendiri?" Dia mengerling ke arah Pek Eng dan Hay Hay.
Pek Kong dan isterinya tersenyum, kemudian Pek Kong berkata kepada puterinya, "Eng-ji, kauajaklah Song Bu Hok dan Tang Hay berjalan-jalan di taman bunga. Biar kami orang-orang tua bicara sendiri dan kalian orang-orang muda bersenang-senang di taman."
Sebetulnya Pek Eng ingin mendengarkan terus percakapan mereka, maka hatinya merasa kecewa dan tidak senang mendengar perintah ayahnya. Akan tetapi ia juga tidak berani membantah, maka ia memandang dengan alis berkerut dan merasa malas untuk bangkit berdiri.
"Eng-moi, marilah!" Tiba-tiba Song Bu Hok yang bangkit lebih dulu dan berkata dengan wajah berseri. "Mari kita pergi ke taman, aku ingin sekali melihat betapa hebatnya kemajuan ilmu silatmu sejak dua tahun yang lalu."
Ajakan ini membuat Pek Eng bangkit berdiri dan timbul kegembiraannya. Memang gadis ini paling suka kalau bicara tentang ilmu silat, apalagi untuk saling menguji kepandaian. Dua tahun yang lalu pernah ayahnya mengajak ia merantau dan singgah di perkampungan Kang-jiu-pang di mana ia berkenalan dengan Song Bu Hok, bahkan berkesempatan untuk saling menguji kepandaian masing-masing. Akan tetapi pada waktu itu, usianya baru empat belas tahun lebih sedangkan Song Bu Hok sudah berusia dua puluh tahun sehingga tentu saja ia masih kalah matang dalam latihan. Kini, ia telah lebih matang dan ia ingin sekali melihat apakah kini ia dapat mengatasi kepandaian putea Ketua Kang-jiu-pang itu.
"Mari...!" katanya sambil bangkit berdiri dan melangkah pergi bersama putera Ketua Kang-jiu-pang itu.
"Eng-ji, ajak dia!" kata Ibunya sambil menunjuk ke arah Hay Hay yang masih duduk karena tidak diajak pergi. Barulah Pek Eng teringat akan tetapi alisnya berkerut ketika ia menoleh kepada Hay Hay.
"Mari ikut dengan kami." ajakya, suaranya agak kaku.
Akan tetapi Hay Hay tersenyum ramah. Dia bangkit berdiri dan berkata. "Terima kasih, Nona, engkau baik sekali!" Melihat sikap dan mendengar ucapan ini, Bu Hok mengerutkan alisnya dan memandang tajam. Pemuda itu tampan dan pandai menarik hati, pikirnya, dan dia merasa adanya seorang saingan yang berbahaya. Dari mana sih munculnya pemuda ini, pikirnya. Ayah dan pamannya mengajaknya berkunjung ke sini untuk mengajukan pinangan terhadap Pek Eng, untuk menjadi jodohnya, seperti pernah disetujui bersama oleh kedua orang tua mereka ketika mereka masih kecil. Dia sendiri memang telah tergila-gila dan amat tertarik sejak dua tahun yang lalu dia, bermain dengan Pek Eng yang ketika itu baru berusia empat belas tahun lebih namun sudah amat lincah menarik. Kini, dua tahun kemudian, ternyata Pek Eng telah menjadi seorang gadis dewasa yang lebih memikat lagi. Manis bukan main sehingga begitu tadi melihatnya, langsung saja Bu Hok yang memang sudah tertarik sekali itu menjadi jatuh cinta! Akan tetapi di situ terdapat seorang pemuda yang sikapnya demikian manis terhadap Pek Eng!
Bu Hok bersikap acuh saja terhadap Hay Hay ketika dia berjalan di samping Pek Eng menuju ke taman di belakang rumah besar keluarga Pek. Hay Hay berjalan di belakang mereka, tersenyum-senyum dan ingin sekali tahu apa yang akan dilakukan dua orang itu terhadap dirinya yang agaknya tidak diinginkan kehadirannya. Dari belakang, dia melihat betapa pinggul Pek Eng yang padat itu menari-nari ketika gadis itu berjalan dengan lenggang yang santai dan lemah gemulai. Pinggangnya yang ceking seperti pinggang lebah kemit itu seperti mau jatuh ke kanan kiri, kedua kaki ketika melangkah itu merapat sehingga lututnya saling bersentuhan. Sungguh seorang dara yang mulai mekar dewasa dengan tubuh yang menggiurkan!
Mereka memasuki taman dan ternyata di tengah-tengah taman itu terdapat sebuah taman rumput yang cukup luas dan tempat ini memang biasa dipergunakan Pek Eng untuk berlatih ilmu silat. Enak sekali berolah raga di taman itu, di atas petak rumput dikelilingi bunga-bunga yang indah dan pohon-pohon yang menimbulkan hawa segar. Apalagi berolah raga pi waktu pagi-pagi sekali, amat sejuk dan menyegarkan tubuh.
"Eng-moi, aku percaya bahwa engkau sekarang tentu telah memperoleh kemajuan pesat dalam ilmu silatmu. Maukah engkau memainkan ilmu silat keluargamu agar aku dapat mengaguminya?" kata Bu Hok.
Kalau saja di situ tidak ada Hay Hay, tentu Pek Eng akan suka sekali memamerkan ilmu silat keluarganya. Akan tetapi di situ terdapat Hay Hay dan ia tahu betapa lihainya pemuda ini, jauh lebih lihai dari dirinya, bahkan lebih lihai dari ayahnya dan kakeknya. Bagaimana mungkin ia dapat memamerkan ilmu silatnya di depan seorang yang lihai seperti Tang Hay itu? Ia tentu hanya akan menjadi buah tertawaan saja. Maka sambil melirik ke arah Hay Hay yang berdiri di tepi petak rumput itu, agak menjauh dari mereka, ia pun menggeleng kepala.
"Tidak, Song-toako. Aku sedang lelah sekali karena baru saja tadi di sini datang tiga orang pendeta Lama yang mengacau. Kami semua turun tangan berkelahi dan aku lelah sekali."
"Ahhhh ......!!" Bu Hok berseru kaget. "Tiga orang pendeta Lama membikin kacau di sini? Mana mereka itu sekarang? Biar kuhajar mereka dengan pedangku!" katanya dengan sikap angkuh seolah-olah dengan mudah dia akan mampu membasmi mereka yang berani mengacau keluarga gadis itu.
"Mereka sudah pergi. Belum ada satu jam mereka pergi dan engkau bersama Ayah dan pamanmu datang."
"Akan tetapi mengapa ada pendeta-pendeta mengacau? Apakah mereka itu masih terus mendesak dan mencari Kakak kandungmu yang disebut Sin-tong itu?"
Pemuda ini memang sudah mendengar tentang peristiwa yang menimpa keluarga Pek dengan lahirnya kakak Pek Eng yang dianggap Sin-tong dan diminta oleh para pendeta Lama di Tibet.
Gadis itu mengangguk. "Mereka masih terus mencari kakakku yang belum juga pulang. Ah, sudahlah, Toako. Sekarang aku lelah sekali dan kuharap engkau tidak pelit untuk memperlihatkan ilmumu. Tentu Ilmu Silat Tangan Baja darimu kini sudah maju pesat dan engkau tentu sudah menjadi lihai sekali."
Bu Hok adalah seorang yang amat mengagulkan kepandaiannya sendiri. Harus diakui bahwa dia telah mewarisi ilmu kepandaian ayahnya dan pamannya, dan dia dapat dikatakan murid terpandai di Kang-jiu-pang dan tingkatnya hanyalah sedikit di bawah tingkat ayahnya dan pamannya!
"Ilmu silat tangan kosong dari Kang-jiu-pang telah kukuasai semua, Eng-moi, dan latihanku telah matang dan mencapai puncaknya. Kiranya hanya Ayah dan Paman saja yang dapat mengimbangi aku. Akan tetapi itu masih belum dapat dinamakan maju pesat. Dengan bantuan Ayah dan Paman, aku telah dapat merangkai semacam ilmu pedang yang bersumber dari gerakan Ilmu Silat Tangan Baja, dan karena itu, kuberi nama Ilmu Pedang Tangan Baja (Kang-jiu-kiam). Ilmu pedang ini sedang kulatih terus dan kuperbaiki dengan petunjuk-petunjuk Ayah dan Paman, dan aku baru akan puas kalau dapat menciptakan ilmu pedang itu sebagai ilmu pedang terkuat di dunia persilatan."
Pek Eng memandang kagum. Pemuda Kang-jiu-pang ini memang selalu mengagumkan hatinya, seorang pemuda yang gagah dan selalu bersikap ramah dan manis kepadanya sebagai seorang sahabat baik atau seorang kakak yang bersikap melindungi. Akan tetapi kini kekagumannya terhadap Bu Hok ternoda oleh kenyataan bahwa kiranya tidak mungkin Bu Hok lebih pandai dari pemuda anak jai-hwa-cat yang berdiri di sudut petak rumput itu! Hay Hay seperti merusak semua kegembiraannya, membuat segalanya menjadi tawar. Akan tetapi juga kini sikap Bu Hok dan sikap Hay Hay membuat Pek Eng melihat kenyataan lain yang menggugah hatinya. Dia telah melihat sendiri kelihaian Hay Hay yang mampu mengusir tiga orang pendeta Lama yang berilmu tinggi tadi, akan tetapi sikap Hay Hay demikian merendah, bahkan kelihatan seperti seorang pemuda lemah dan tolol, sedikit pun tidak menonjolkan kepandaiannya. Sebaliknya, kini dalam pandang matanya, Bu Hok kelihatan terlalu mengagulkan dirinya! Maka, timbullah keinginan hatinya untuk mengadu kedua orang pemuda ini!
"Song-toako, perlihatkanlah ilmu silatmu agar aku dan... Saudara Tang Hay di sana itu dapat mengaguminya."
Bu Hok menoleh ke arah Hay Hay, agaknya baru sekarang dia teringat bahwa Hay Hay berada di situ bersama mereka. "Baik, aku akan berdemonstrasi untukmu, Eng-moi. Akan tetapi apakah dia itu akan dapat menilai dan menghargai ilmu silatku? Seorang laki-laki yang tidak pandai ilmu silat adalah seperti seekor harimau yang kehilangan taring dan kukunya, tidak ada harganya lagi."
"Aih, Song-toako, jangan pandang rendah kepada dia itu. Ilmu silatnya lihai sekali dan kita berdua bukanlah tandingannya!" Pek Eng berkata sungguh-sungguh akan tetapi juga bermaksud membakar hati Bu Hok.
Mendengar ucapan ini, Bu Hok memandang kepada Hay Hay dengan sinar mata tajam penuh selidik, alisnya berkerut dan hatinya sama sekali tidak percaya. Dia lalu menghampiri Hay Hay dan dengan sikap hormat namun angkuh dia bertanya. "Saudara Tang Hay, benarkah engkau lihai sekali dalam ilmu silat?"
Hay Hay sejak tadi tersenyum saja dan kini menghadapi pertanyaan putera Ketua Kang-jiu-pang, dia tersenyum makin lebar. Dari sikap pemuda itu, dia tahu bahwa pemuda tinggi besar itu agaknya tertarik atau bahkan jatuh cinta kepada Pek Eng dan dalam gerak-gerik dan kata-katanya, juga pandang mata dan ucapannya, jelas bahwa pemuda tinggi besar itu sedang berusaha untuk memamerkan diri dan memancing kekaguman dari gadis itu. Hal ini dianggapnya wajar dan dia tidak merasa heran kalau pemuda itu agak angkuh dan sombong nampaknya, memang demikian sikap orang yang ingin menonjolkan diri untuk menarik perhatian seorang gadis.
"Ah, tidak, Song-kongcu (Tuan Muda Song), aku hanya mempelajari sedikit saja gerakan untuk membela diri." katanya merendah karena dia tidak ingin mengurangi nilai pribadi yang sedang dipupuk oleh pemuda Kang-jiu-pang itu.
Akan tetapi Song Bu Hok masih belum merasa puas. Gadis tadi mengatakan bahwa ia berdua dengan dirinya tidak akan mampu menandingi pemuda yang senyum-senyum tolol ini!
"Saudara Tang, engkau dari perguruan manakah?" tanyanya pula, agak lega bahwa setidaknya pemuda tni menyebut "kongcu" kepadanya, tanda bahwa pemuda ini menghormat dan menghargainya, dan tahu bahwa derajatnya lebih tinggi daripada pemuda itu.
Kembali Hay Hay menjawab sambil tersenyum, "Ah, aku hanya belajar begitu saja, tidak dari perguruan mana pun."
Tentu saja Bu Hok tidak percaya. Kalau bukan dari perguruan yang terkenal, tak mungkin Pek Eng memujinya, dan lebih tidak mungkin lagi pemuda ini dapat berkenalan dengan keluarga Pek dan agaknya diterima oleh keluarga itu dengan baik dan hormat.
"Kalau begitu, bagaimana engkau dapat berada di sini sebagai tamu keluarga Pek yang terhormat?" Dia menuntut, dan matanya memandang penuh selidik, alisnya berkerut dan wajahnya membayangkan ketidaksenangan dan keraguan.
Diam-diam Hay Hay merasa mendongkol juga. Pemuda ini boleh saja tidak menganggapnya sederajat, boleh saja tidak memperhatikannya, akan tetapi kenapa Pek Eng juga mengacuhkannya? Bukankah gadis itu tadi sudah mendengar semua penuturan tentang dirinya? Hemm, agaknya gadis ini merasa malu untuk menerimanya sebagai seorang sahabat dan tamu.
"Begini, Song-kongcu. Keluarga Pek sudah sedemikian baik dan ramahnya terhadap diriku sehingga ketika untuk pertama kali tadi aku tiba di sini, aku disambut rangkulan dan ciuman, tidakkah begitu, Nona Pek Eng?"
Tiba-tiba wajah Pek Eng menjadi merah sekali. "Ihhh .....!" Ia mengeluarkan seruan kaget akan tetapi tidak dapat menjawab, hanya memandang wajah Hay Hay dengan muka merah dan mata terbelalak.
"Eng-moi, apa. artinya itu? Kalau dia bermaksud menghina ....." Bu Hok mengepal tinjunya, sinar matanya mengandung ancaman.
"Dia datang tiba-tiba dan kami sekeluarga menyangka bahwa dia kakakku Pek Han Siong, karena itu aku dan Ibu yang mengira dia kakakku, menyambutnya dengan gembira dan... dan menciumnya. Dia tidak berhak untuk mengingat-ingat hal itu dan membicarakannya!" Pek Eng berterus terang dan memandang kepada Hay Hay dengan marah.
"Aku tidak mengingat-ingat, akan tetapi peristiwa itu takkan terlupakan selama hidupku, Nona."
"Dasar engkau laki-laki ...... mata keranjang!" Pek Eng berseru marah. "Buah takkan jatuh terlalu jauh dari pohonnya!" Dengan ucapan ini Pek Eng mengingatkan bahwa Hay Hay tidak akan banyak berbeda dengan ayahnya yang jai-hwa-cat itu. Mendengar ini, wajah Hay Hay menjadi merah dan matanya yang tadinya bersinar-sinar kini menjadi sayu dan muram, akan tetapi dia tidak berkata apa-apa. Sebaliknya, mendengar seruan gadis itu, Bu Hok tertarik dan dia segera mendesak.
"Eng-moi, dia putera siapakah?" Dia mengharapkan keterangan gadis itu dan menduga bahwa tentu pemuda itu putera seorang datuk sesat. Akan tetapi Pek Eng sudah merasa menyesal bahwa ia telah mengumbar kemarahannya. Ia menggeleng kepala dan menjawab dengan sikap acuh.
"Sudahlah, tak perlu mengurus keadaan orang lain, Toako. Perlihatkanlah ilmu silatmu dan dia sebagai tamu kami boleh saja kalau mau menonton."
Bu Hok tidak mendesak, akan tetapi merasa penasaran bahwa pemuda itu telah disambut oleh Pek Eng dengan ciuman! Dia membayangkan betapa mesranya mereka itu saling berciuman, dan makin dibayangkan, makin panaslah hatinya, panas oleh cemburu dan iri!
"Saudara Tang Hay, mendengar bahwa Saudara lihai sekali, marilah kita main-main sebentar untuk menggembirakan Nona rumah kita. Bagaimana?"
"Ah, tidak, Song-kongcu, aku... aku tidak bisa ....."
"Hemm, kenapa pura-pura? Kalau hanya untuk sekedar pi-bu (pertandingan silat) secara persahabatan, apa salahnya?" Pek Eng berkata.
"Tidak, aku tidak berani main-main dengan Song-kongcu. Silakan Kongcu bersilat sendiri, biar aku menonton saja untuk menambah pengetahuanku."
Song Bu Hok membusungkan dadanya, merasa bangga. Orang ini tidak berani! Dia tersenyum mengejek, mengangguk dan berkata kepada Pek Eng. "Kalau dia tidak berani, aku pun tidak perlu memaksanya. Lihat aku akan bermain pedang, Eng-moi, dan coba engkau menilainya, apakah permainan pedangku cukup baik." Berkata demikian, pemuda itu menggerakkan tangannya dan nampaklah sinar terang berkelebat ketika pedang itu telah tercabut dari sarungnya. Sebatang pedang yang bagus, berkilauan saking tajamnya, terbuat dari baja yang pilihan.
Song Bu Hok memang bertubuh gagah dan kini dia beraksi dengan pedangnya, memasang kuda-kuda dengan kedua kaki terpentang lebar, pedangnya menunjuk ke atas di depan dahinya, tangan kiri menyembah di dada, memang hebat sekali. Tiba-tiba dia mengeluarkan seruan nyaring dan pedangnya berkelebat, lalu nampaklah gulungan sinar terang berkelebatan ketika pedangnya digerakkan dengan cepat dan kuat.
Diam-diam Hay Hay memperhatikan gerakan pemuda itu. Memang indah dan cukup cepat dan kuat, namun gerakan pemuda itu masih belum masak dan tenaga yang dikandung gerakan itu pun tidak cukup kokoh. Hal ini nampak jelas olehnya, akan tetapi harus diakui bahwa pemuda itu memang gagah sekali dan kalau saja tidak angkuh dan mau belajar dengan tekun, tentu ilmu pedangnya itu akan menjadi ilmu yang ampuh. Karena ingin memamerkan kepandaiannya, Bu Hok bersilat dengan cepat, setiap kali menusuk atau membabat, dibarengi bentakannya yang nyaring. Kemudian dia mengeluarkan suara melengking dan pedangnya berubah menjadi sinar bergulung-gulung yang mendekati sebuah pohon di taman itu. Pohon yang tingginya seorang akan tetapi daunnya lebat. Gulungan sinar pedang itu kini menyambar di sekeliling pohon, cepat sekali dan tubuh Bu Hok sendiri tertutup sinar pedang, hanya nampak kedua kakinya berloncatan mengitari pohon kembang itu. Nampaklah daun pohon itu berhamburan dan ketika akhirnya dia menghentikan gerakannya dan berdiri tegak dengan pedang di belakang lengan, pohon itu telah berubah. Kini daun-daun yang tumbuh pada pohon itu terbabat rata dan seperti dicukur bulat dan rapi!
"Kiam-hoat (ilmu pedang) yang bagus!" Hay Hay memuji, sekedar untuk mengisi kekosongan.
Akan tetapi Pek Eng mengerutkan alisnya. Hatinya tidak senang. Pohon bunga itu merupakan satu di antara pohon kesayangannya dan pada waktu itu sudah dekat masanya pohon itu berbunga. Kini dibabat oleh pedang Bu Hok. Alangkah lancangnya orang ini, pikirnya. Kenapa menggunakan pohon itu sebagai sasaran tanpa lebih dulu minta perkenan pemiliknya? Maka, mendengar pujian yang keluar dari mulut Hay Hay, untuk melampiaskan kedongkolan hatinya terhadap Bu Hok yang merusak pohonnya, ia pun berkata ditujukan kepada Hay Hay.
"Ah, tidak perlu pura-pura memuji!" Kemudian dia menoleh kepada Bu Hok, "Song-toako, dia memuji dengan mulutnya akan tetapi hatinya tentu mengejek karena aku tahu benar bahwa betapa pun indah dan kuatnya ilmu pedangmu, kalau dipakai melawan dia, tidak ada artiya sama sekali!"
"Nona Pek Eng ...!" Hay Hay berseru kaget.
Wajah Song Bu Hok berubah merah saking marahnya dan dengan langkah lebar dia menghampiri Hay Hay. "Kalau begitu, Saudara Tang, mari beri aku sedikit pelajaran dan hadapilah ilmu pedangku yang jelek!"
"Tidak, Song-kongcu, aku ....."
"Apakah harus kukatakan bahwa engkau adalah seorang pengecut yang tidak berani terang-terangan menyatakan dengan mulut, melainkan melontarkan celaan dalam hati saja? Benarkah engkau seorang pengecut?"
"Song Bu Hok ....!" Hay Hay menjadi marah. "Engkau tidak layak memaki aku sebagai pengecut!"
"Kalau bukan pengecut, hayo hadapi pedangku!" teriak Song Bu Hok marah sekali mendengar betapa tadi Pek Eng memuji-muji Hay Hay dan mencelanya.
"Aku tidak ingin berkelahi, sungguhpun aku tidak takut menghadapi pedangmu sama sekali!" kata Hay Hay.
Ucapan ini merupakan minyak yang menambah berkobarnya api dalam dada Bu Hok. Ucapan bahwa Hay Hay tidak takut menghadapi ilmu pedangnya dianggap sebagai tantangan.
"Kalau begitu, sambutlah pedangku!" Song Bu Hok berteriak dan teriakan ini diikuti serangannya. Dengan pedangnya dia menusuk ke arah dada, tusukannya cepat dan kuat.
Hay Hay mengelak dengan mudah.
"Song-toako, aku berani bertaruh bahwa sampai seratus jurus sekalipun engkau takkan mungkin dapat mengenai tubuhnya dengan pedangmu!" Ucapan Pek Eng ini bukan sekedar memanaskan hati, melainkan karena ia sudah melihat tadi betapa dengan langkah-langkah ajaib, pemuda itu mampu mengelak dari semua serangan pendeta-pendeta Lama yang jauh lebih lihai daripada Bu Hok! Akan tetapi, teriakan ini membuat hati Bu Hok menjadi semakin panas dan penasaran.
"Hendak kulihat sampai di mana hebatnya pengecut ini!" bentaknya marah dan dia memperhebat serangannya. Tadinya Hay Hay ingin meloncat keluar dan tidak melayani putera Ketua Kang-jiu-pang itu, akan tetapi mendengar betapa dia dimaki pengecut lagi, hatinya menjadi panas juga. Pemuda ini terlalu tinggi hati dan perlu diberi pelajaran, pikirnya, maka dia pun lalu menggerakkan kedua kakinya, menggunakan langkah-langkah ajaib untuk menghindarkan diri dari serangkaian serangan yang bertubi-tubl itu. Dengan mudah saja dia mengelak dan berloncatan ke sana-sini, menggeser kaki ke kanan kiri, depan dan belakang, akan tetapi senjata pedang di tangan Bu Hok sama sekali tak pernah dapat menyentuh tubuhnya! Ketika Bu Hok menyerang dengan cepat sehingga pedangnya nampak berubah menjadi gulungan sinar, tubuh Hay Hay juga menyelinap di antara gulungan sinar itu dan selalu saja serangan Bu Hok mengenai angin kosong!
Bu Hok yang berwatak keras dan angkuh itu tidak menyadari kebenaran kata-kata Pek Eng tadi tentang kelihaian Hay Hay. Dia tidak sadar bahwa ilmu kepandaian lawan itu jauh lebih tinggi daripada tingkatnya, bahkan dia merasa penasaran sekali. Diperhebat serangannya sampai akhirnya dia terengah-engah dan tubuhnya basah oleh keringat, sedangkan Hay Hay masih enak-enak saja melangkah dan menggeser kaki ke sana-sini.
"Bu Hok, apa yang kaulakukan itu? Hentikan!" tiba-tiba terdengar bentakan suara Song Un Tek. Kiranya Song Un Tek dan adiknya, Song Un Sui, bersama pihak tuan rumah, telah keluar dari rumah memasuki taman dan melihat betapa puteranya menyerang Hay Hay kalang kabut dengan pedangnya, Ketua Kang-jiu-pang itu terkejut dan cepat membentak menyuruh puteranya menghentikan serangan. Namun Bu Hok yang sudah mabok karena penasaran dan marah, masih mengirim beberapa tusukan dan sabetan pedang. Hay Hay menggunakan jari tangannya menyentil ke arah pedang di dekat gagang. Terdengar suara nyaring dan Bu Hok merasa betapa tangan kanan yang memegang pedang seperti lumpuh. Hampir saja dia melepaskan pedangnya yang tergetar hebat. Dia tidak melihat apa yang terjadi, tidak tahu bahwa pedangnya telah disentil jari tangan lawan. Akan tetapi Hay Hay melompat keluar petak rumput, menjura ke arah Song Bu Hok dan meraba baju di bagian dadanya yang terobek, agaknya terkena ujung pedang. Akan tetapi hanya robek saja dan kulitnya tidak terluka.
"Kian-hoatmu hebat, Song-kongcu, aku mengaku kalah."
Kalau tadinya dia terkejut dan heran, kini Song Bu Hok membusungkan dadanya. Bagaimanapun juga, pedangnya mampu merobek baju di bagian dada lawan, bahkan Tang Hay mengakui keunggulannya! Dia menoleh kepada Pek Eng dan berkata. "Eng-moi, biarpun dia boleh juga, akan tetapi tidak dapat menghindarkan kehebatan pedangku." Berkata demikian, dia hendak menyarungkan pedangnya kembali, akan tetapi tiba-tiba terdengar suara berdetak dan pedangnya patah dekat gagangnya, dan jatuh keluar dari sarung.
"Eehhhhh ......!!" Song Bu Hok memandang gagang pedang yang masih dipegangnya dengan mata terbelalak dan muka pucat, lalu memandang kepada pedang yang sudah buntung dan kini menggeletak di dekat kakinya. "Pedang... pusakaku ?"
Melihat betapa pedang pusaka itu patah, sekali loncat Song Un Sui yang berperut gendut itu telah berada di dekat keponakannya. Mengagumkan sekali gerakan Si Gendut ini karena melihat perutnya yang gendut dan tubuhnya yang gemuk bulat, agaknya tak mungkin dia dapat bergerak seringan dan secepat itu. Dia sudah membungkuk dan mengambil pedang yang buntung, lalu memeriksa bagian dekat gagang yang patah. Nampak jelas betapa pedang itu memang patah, agaknya terpukul benda yang amat kuat, lebih kuat daripada pedang itu sendiri. Padahal dia tahu benar bahwa pedang itu bukan pedang murahan, melainkan sebuah pedang pusaka terbuat dari baja pilihan. Dia tadi juga melihat keponakannya menyerang pemuda sederhana yang bertangan kosong itu, bagaimana kini tahu-tahu pedang itu dapat menjadi patah? Tadi ketika bercakap-cakap bersama kakaknya dan pihak tuan rumah di sebelah dalam, selain pembicaraan mengenai kematangan ikatan jodoh antara Song Bu Hok dan Pek Eng, juga pihak tuan rumah menceritakan tentang kedatangan tiga orang pendeta Lama yang mengungkit kembali persoalan Sin-tong, juga menceritakan bahwa pemuda bernama Tang Hay itu muncul membantu keluarga Pek dan bahwa pemuda itu memiliki kepandaian tinggi. Akan tetapi, Song Un Sui ini memiliki watak yang tinggi hati dan mengagulkan kepandaian sendiri, watak yang di tiru oleh keponakannya. Biarpun kini dia melihat bahwa pedang keponakannya patah dan menduga bahwa tentu pemuda she Tang itu yang mematahkan, dia menjadi marah. Dia tidak mau melihat kenyataan bahwa patahnya pedang itu membuktikan kebenaran cerita keluarga Pek bahwa pemuda she Tang itu benar-benar memiliki ilmu kepandaian yang hebat.
"Bocah she Tang, berani engkau mematahkan pedang pusaka keponakanku?" bentaknya dan sikapnya ini terdorong pula oleh pengetahuan bahwa pemuda itu bukan keluarga dari Pek-sim-pang, bukan murid dan bukan keluarga, hanya tamu, maka dia pun berani menentangnya.
"Aku hanya membela diri ...." Hay Hay menjawab.
"Bocah sombong, engkau hendak memamerkan kepandaian dengan menghina kami? sambutlah seranganku!" Si Gendut itu kini sudah menerjang ke depan dengan pukulan tangan terbuka ke arah dada Hay Hay. Melihat serangan yang hebat, dengan tenaga yang lebih kuat daripada tenaga Bu Hok tadi, Hay Hay cepat mengelak. Lawannya mendesaknya dengan serangan bertubi-tubi, namun Hay Hay segera mainkan langkah-langkah ajaib dan dengan mudah menghindarkan diri dari semua serangan. Melihat pamannya sudah maju menyerang, tanpa berkata apa-apa lagi Bu Hok yang merasa penasaran juga meloncat dan membantu pamannya menyerang Hay Hay. Namun, Hay Hay masih terus mengelak, dengan Jiauw-pouw-poan-soan dan serangan kedua orang itu selalu mengenai tempat kosong. Secara aneh tubuhnya selalu dapat menghindar, dan nampaknya dia hanya bergerak dengan tenang dan lembat saja!
Keluarga Pek merasa bingung sekali melihat perkelahian ini, Mereka menjadi serba salah. Mau melerai, Pek Kong khawatir kalau dia disangka memihak Hay Hay, tidak dilerai, dia khawatir sekali karena dia maklum bahwa tiga orang Kang-jiu-pang ini pun tidak akan menang melawan Hay Hay yang bukan saja memiliki ilmu silat tinggi, akan tetapi juga pandai ilmu sihir. Para murid Pek-sim-pang yang tertarik oleh keributan itu dan sudah berkumpul nonton di situ, diam-diam berpihak kepada Hay Hay yang mereka kagumi, pemuda yang tadi sudah mengusir musuh-musuh mereka, yaitu para pendeta Lama. Apalagi para murid muda dari Pek-sim-pang. Mereka mendengar bahwa kunjungan keluarga Song itu untuk meminang Pek Eng, maka timbullah rasa iri hati, apalagi melihat sikap Song Bu Hok yang tinggi hati, mereka merasa tidak senang. Kini mereka nonton perkelahian dan mengharap, agar Hay Hay mau menghajar keluarga Song itu!
Akan tetapi Hay Hay juga merasa serba salah. Dia tidak mau membikin malu keluarga Song yang menjadi tamu terhormat dan sahabat baik keluarga Pek. Kalau tadi dia sengaja mematahkan pedang dengan sentilan jarinya adalah karena dia mendongkol melihat sikap sombong Bu Hok dan ingin memberi pelajaran kepadanya. Tak disangkanya bahwa perbuatannya itu menimbulkan kemarahan laki-laki perut gendut yang menjadi paman Bu Hok. Kini dia memainkan Jiauw-pouw-poan-soan untuk menghindarkan diri dari serangan dua orang lawannya. Melihat tingkat kepandaian dua orang penyerangnya ini, dia merasa yakin bahwa biarpun dia menghadapi mereka tanpa membalas, mereka tidak akan mampu memukulnya. Maka dia pun hanya mengelak ke sana-sini dengan gerakan lincah dan indah, tidak seperti ketika dia menghadapi para pendeta Lama di mana dia membuat gerakan kaku dan lucu untuk mempermainkan mereka. Diam-diam kini dla merasa menyesal mengapa tadi dia menuruti emosi hatinya dan mematahkan pedang Bu Hok.
Sementara itu, Ketua Pek-sim-pang, yaitu Pek Kong dan Pek Ki Bu kini dapat mengikuti dengan baik gerakan Hay Hay yang tidak dibuat-buat dan diam-diam mereka terkejut sekali ketika mengenal bahwa langkah-langkah ajaib yang dimainkan Hay Hay itu mirip dengan langkah-langkah ajaib Jiauw-pouw-poan-soan yang pernah mereka lihat, ilmu kesaktian yang dimiliki oleh seorang tokoh besar di Tibet!
Song Un Tek, Ketua Kang-jiu-pang tidak tinggi hati seperti adiknya dan puteranya. Dia tadi sudah mendengar betapa Hay Hay merupakan seorang tamu terhormat dari keluarga Pek, bahkan pemuda itu telah membantu keluarga Pek mengusir para pendeta Lama yang datang mengacau. Biarpun patahnya pedang puteranya merupakan hal yang memalukan, namun dia harus mendengar dulu perkaranya, apa yang telah terjadi antara dua orang muda itu sebelum turun tangan seperti adiknya. Maka dia pun lalu melangkah maju dan berseru kepada adiknya dan puteranya untuk menghentikan serangan mereka.
"Tidak baik urusan kecil dibikin besar." katanya setelah adiknya dan anaknya mundur mendengar perintah Song Un Tek. "Kalau ada urusan, sebaiknya dibicarakan dengan baik. Bu Hok, apa yang telah terjadi? Kenapa tadi engkau berkelahi dengan Saudara Tang Hay?"
Bu Hok adalah seorang pemuda yang tinggi hati dan mengagulkan diri sendiri, akan tetapi dia juga seorang pemuda yang gagah dan jujur. Mendengar pertanyaan ayahnya, mukanya berubah merah. Tak perlu dia berbohong, dan di situ terdapat pula Pek Eng yang tadi menjadi saksi.
"Aku hanya ingin mencoba kepandaiannya, Ayah." katanya.
Song Un Tek mengerutkan alisnya dan menegur adiknya. "Sui-te, engkau mendengar sendiri. Keponakanmu itu mencari gara-gara dengan mencoba kepandaian Saudara Tang, kenapa engkau tanpa penyelidikan lebih dulu sudah lancang turun tangan menyerang orang yang tidak bersalah?"
Song Un Sui menundukkan mukanya, tak disangkanya bahwa keponakannya itu hanya menguji kepandaian saja. "Aku melihat pedang itu patah, maka ....."
"Nah, lain kali harap suka bersabar." tegur kakaknya, kemudian dia memandang lagi kepada puteranya, "Bu Hok, sungguh sikapmu itu memalukan. Engkau menguji kepandaian orang secara persahabat, hal itu biasa saja. Akan tetapi engkau menggunakan pedang, menyerang Saudara Tang yang bertangan kosong. Apakah perbuatan itu patut? Masih untung bagimu bahwa pedangmu yang dipatahkan, bukan kaki, tangan atau lehermu. Hayo kau sadari kesalahanmu dan minta maaf."
Dengan muka merah Bu Hok lalu menghadapi Hay Hay dan menjura. Suaranya terdengar lantang dan jujur ketika dia berkata, "Saudara Tang Hay, harap kau suka memaafkan kebodohanku tadi."
Song Un Sui juga buru-buru berkata, "Dan aku pun minta maaf atas kecerobohanku, Saudara Tang."
"Aku sendiri mintakan maaf atas kelancangan mereka, Saudara Tang yang gagah perkasa," kata Ketua Kang-jiu-pang.
Melihat sikap dan mendengar ucapan tiga orang ini, Hay Hay merasa kagum bukan main dan sekaligus perasaannya terhadap mereka menjadi lain. Dengan cepat dia pun menjura dan memberi hormat kepada mereka. "Harap Sam-wi tidak berkata demikian! Sayalah yang mohon maaf, dan sikap Sam-wi ini membuktikan bahwa Kang-jiu-pang dipimpin oleh keluarga yang amat gagah perkasa, patut menjadi tauladan orang-orang yang mengaku dirinya gagah! Saya merasa kagum sekali!"
Tentu saja dengan adanya kata-kata ini, lenyap semua sikap bermusuhan tadi, bahkan diam-diam Song Bu Hok kagum sekali kepada Hay Hay. Dia mendekat dan memegang lengan Hay Hay dengan sikap yang bersahabat dan akrab.
"Saudara Tang Hay, sungguh aku kagum bukan main. Ilmu kepandaianmu memang hebat, dan sekarang aku tidak merasa ragu atau heran lagi untuk mempercaya kebenaran keterangan Eng-moi tadi bahwa engkau memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi daripada kami."
"Ah, jangan memuji terlalu tinggi, Song-kongcu ....."
"Sudahlah, siapa mau disebut kongcu? Namaku Song Bu Hok, sebut saja namaku, dan aku menyebut namamu. Bukankah kita sudah menjadi sahabat? Malah sahabat akrab, karena sudah saling beradu lengan memuji ilmu. Bagaimana, Hay Hay? Maukah engkau menjadi sahabatku?"
Bukan main girang rasa hati Hay Hay. Tak disangkanya bahwa pemuda yang tadi kelihatan demikian sombong itu ternyata adalah seorang laki-laki yang jujur dan gagah perkasa, seorang sahabat yang menyenangkan.
"Baiklah, Bu Hok."
Melihat kerukunan itu semua orang menjadi girang dan tiba-tiba Pek Ki Bu berkata kepada Hay Hay, "Tang -taihiap..."
"Ya Tuhan ...... Pek-locianpwe, harap jangan menyebut Tai-hiap (Pendekar Besar) kepada saya! Pek-locianpwe, bukankah saya pernah berada di antara keluarga Pek ketika masih bayi? Apakah Cu-wi (Anda Sekalian) tidak sudi menerima saya sebagai Hay Hay saja, tanpa sebutan sungkan-sungkan seperti itu?"
Pek Ki Bu, Pek Kong dan Souw Bwee saling pandang, kemudian Pek Ki Bu tertawa. "Ha-ha-ha, baiklah, Hay Hay. Bagaimanapun juga,engkau sebaya dengan cucuku dan engkau pun pantas menjadi cucuku. Nah, sekarang aku ingin bertanya. Bukankah engkau tadi memainkan ilmu langkah ajaib ketika engkau menghindarkan serangan, dan kalau aku tidak salah ilmu itu adalah ilmu sakti Jiauw-pouw-poan-soan?"
Hay Hay terkejut dan cepat memberi hormat. "Pek-locianpwe sungguh bermata tajam sekali. Memang benar, saya tadi mainkan Jiauw-pouw-poan-soan."
"Kalau begitu, apakah hubunganmu dengan See-thian Lama? Bukankah ilmu itu miliknya?"
"See-thian Lama adalah guru saya."
"Ahhhh ......!" Seruan ini keluar dari mulut Pek Ki Bu, Pek Kong, dan Souw Bwee. "Ha-ha-ha, pantas saja engkau begini lihai, kiranya murid dari seorang di antara Delapan Dewa itu! Ketahuilah bahwa kami sekeluarga Pek menjunjung tinggi dan menghormat See-thian Lama sebagai seorang suci yang selain sakti, juga bijaksana. Ketika keluarga kami diserbu para pendeta Lama di Tibet, Locianpwe See-thian Lama itulah yang melerai dan melindungi kami, bahkan beliau pula yang menganjurkan kepada kami untuk meninggalkan daerah Tibet dan pindah ke sini. Ah, kiranya engkau muridnya ....."
"Sungguh merupakan kenyataan yang amat menggembirakan. Hay Hay, engkau tidak boleh pergi dulu. Engkau harus tinggal di sini beberapa hari lamanya. Kami ingin mendengar segala ceritamu tentang pengalamanmu dahulu, tentang See-thian Lama dan lain-lain." kata pula Pek Kong sambil memegang pundak Hay Hay. Melihat keramahan semua orang terhadap dirinya, Hay Hay yang baru saja mengalami guncangan batin dan tekanan yang membuatnya menderita duka di dalam hatinya, kini menjadi terharu dan dia hanya mengangguk-angguk sambil mengucapkan terima kasih.
"Mari kita semua masuk dan bicara di dalam. Kalian orang-orang muda juga masuk karena kami hendak membicarakan urusan penting." kata Pek Kong sambil menggandeng tangan Hay Hay.
Setelah mereka duduk menghadapi meja di ruangan besar itu, Pek Kong lalu berkata, "Karena kami sekeluarga menganggap Hay Hay bukan orang luar, maka biarlah dia ikut mendengarkan urusan keluarga yang akan kita bicarakan. Setujukah engkau, Song-pangcu?"
Song Un Tek yang juga merasa kagum kepada Hay Hay, mengangguk dan tertawa. "Apa yang kita bicarakan bukan suatu rahasia, melainkan berita yang menggembirakan, makin banyak yang ikut mendengarkan, semakin baik."
"Pertama-tama, kutujukan ini kepadamu, Eng-ji. Tahukah engkau betapa usiamu sekarang?"
Ditanya usianya, Pek Eng memandang ayahnya dengan mata terbelalak, akan tetapi mukanya berubah merah. "Apa-apaan sih Ayah ini menanyakan usia didepan orang banyak? Pula, tanpa bertanya pun Ayah dan Ibu tentu tahu berapa usiaku." katanya manja.
Ibunya menolong puterinya yang berada dalam keadaan malu itu. "Usianya sudah hampir tujuh belas tahun, kurang dua bulan lagi."
Aku dan Ibumu sudah sejak dahulu sama-sama setuju dengan keluarga Song untuk menjodohkan engkau dengan Bu Hok, dan hari ini mereka datang untuk meminang secara resmi ......"
"Ayah .....!" Tiba-tiba Pek Eng bangkit berdiri dan lari menuju ke kamarnya.
Ayahnya tertawa dan memandang kepada tiga orang tamunya yang nampak bingung melihat sikap Pek Eng itu.
"Anakku itu memang manja dan pemalu, ia tentu lari ke kamarnya karena malu, akan tetapi aku yakin bahwa ia setuju pula. Bukankah sikapnya selama ini terhadap Bu Hok menunjukkan bahwa ia tidak akan keberatan? Eng-ji pasti setuju, harap Sam-wi tidak merasa ragu dan khawatir."
"Biarlah aku yang akan bicara dengan Eng-ji." kata Souw Bwee yang kemudian meninggalkan ruangan itu menyusul puterinya ke kamar Pek Eng.
"Ha-ha-ha, pinangan itu sudah kami terima, sudah pula kami sampaikan ke pada anak kami. Marilah kita minum arak untuk keselamatan kedua orang anak kita, Song-pangcu!" kata Pek Kong.
Mereka mengangkat cawan dan melihat betapa Hay Hay diam saja, Pek Ki Bu lalu berkata kepadanya. "Hay Hay, engkau pun kami ajak minum arak untuk memberi selamat kepada Bu Hok dan Pek Eng dalam pertunangan mereka hari ini."
Hay Hay mengangkat cawannya dan pada saat itu, Pek Kong bertanya, "Hay Hay, bagaimana pendapatmu dengan pasangan ini, antara Bu Hok dan adikmu Pek Eng?"
Sambil memegang cawan araknya, Hay Hay berkata dengan sejujurnya. "Pasangan yang amat serasi, Bu Hok seorang pemuda yang gagah perkasa sedangkan Adik Eng adalah seorang gadis yang cantik dan lihai pula, Pek-pangcu."
"Hushh, jangan sebut pangcu kepadaku. Engkau seperti keponakanku sendiri, sebut saja Paman padaku."
"Baik, Paman. Nah, selamat untuk sepasang orang muda yang hari ini bertunangan!" katanya sambil meneguk arak dari cawannya, diikuti oleh semua orang.
Malam itu pihak tuan rumah mengadakan pesta. Mereka semua, kecuali Pek Eng, makan minum dengan gembira di satu meja besar. Pek Eng tidak mau keluar walaupun sudah dibujuk ibunya, "Ia tentu malu, maklumlah ia tidak punya saudara yang pernah menikah. Pengalaman dilamar orang tentu amat menegangkan hatinya dan membuatnya merasa canggung dan malu." katanya sebagai permintaan maaf kepada para tamunya. Dua orang pangcu itu makan minum dengan gembira sekali. Betapa mereka tidak akan gembira. Sejak belasan tahun mereka sudah menjadi sahabat baik, keduanya merasa cocok dan sepaham, sepihak pejuang dan pendekar, pihak lain juga pendekar yang terkenal, dan kedua orang anak mereka memang merupakan seorang pemuda dari seorang gadis pilihan. Kalau kini mereka berbesan, tentu saja hati mereka merasa puas sekali.
"Tentang penentuan hari pernikahan, biarlah kelak aku akan memberi kabar kepadamu, Song-pangcu." kata Pek Kong. "Bagaimanapun juga, hati kami tidak akan merasa tenteram dan puas kalau putera kami, Pek Han Siong, belum pulang. Dia harus menyaksikan adiknya menikah dan harus memberi persetujuan bahwa adiknya akan menikah lebih dahulu."
Song Un Tek dapat mengerti alasan ini dan dia pun tidak merasa keberatan. Mereka makan minum dan mengobrol sampai jauh malam sebelum akhirnya para tamu itu dipersilakan mengaso di dalam kamar masing-masing yang sudah dipersiapkan. Hay Hay juga dipersilakan masuk ke kamarnya yang berada di ujung belakang, karena kamar-kamar besar di dalam diperuntukkan tamu-tamu agung keluarga Song itu!
***
Hati atau batin yang gelisah dan tidak tenteram selalu menjadi akibat dari sibuknya pikiran! Kalau pikiran tenang dan hening seperti air telaga yang tidak diusik, maka batin akan menjadi hening dan bebas dari segala macam perasaan pula. Akan tetapi sekali pikiran kacau dan keruh seperti air yang diaduk sehingga semua lumpur dan kotoran dari dasar yang tadinya mengendap itu timbul dan mengeruhkan, keheningan air pun lenyap. Jadi yang penting bukanlah menekan kesibukan pikiran karena penekanan ini pun merupakan kesibukan lain lagi dari pikiran itu sendiri. Yang penting adalah menyelami dan mempelajari, mengamati kesibukan pikiran sendiri, bukan pengamatan dengan pamrih mendiamkan pikiran, melainkan pengamatan yang timbul dari kewaspadaan. Tanpa penekanan dan perlawanan, tanpa adanya si aku yang menekan atau mengamati, tanpa adanya aku yang ingin melihat pikiran menjadi tenang, maka bagaikan kehabisan setrum, pikiran akan menjadi diam dengan sendirinya, bukan DIBIKIN diam.
Kehidupan kita seolah-olah sejak kecil sampai tua sampai mati, dipenuhi dengan berbagai macam masalah dan persoalan. Masing-masing dari kita mempunyai masalah sendiri, menghadapi persoalan tertentu sendiri-sendiri, suka duka selalu menyelang-nyeling, susah senang menjadi pakaian sehari-hari. Semua ini bukan lain ditimbulkan oleh pikiran atau si aku karena si aku adalah bentukan pikiran kita sendiri. Ingin ini, ingin itu, mengapa begini, mengapa tidak begitu seperti yang kita inginkan, mengapa harapan kita menjadi hampa, mengapa keinginan kita tidak terlaksana, mengapa orang lain senang dan kita susah, orang lain pandai dan kita bodoh, orang lain kaya dan kita miskin, dan sebagainya. Perang atau konflik terjadi di dalam diri kita masing-masing, konflik antara kenyataan dan keinginan lain, konflik antara keadaan seperti adanya dengan keadaan seperti yang kita kehendaki. Konflik dalam diri setiap manusia ini menjalar menjadi konflik antara kelompok, golongan, bahkan antara bangsa dan menjadi perang yang mengguncang dunia.
Semua pertikaian atau konflik antara dua orang selalu timbul karena pikiran masing-masing, karena si aku yang selalu ingin disenangkan walaupun jarang sekali ingin menyenangkan, selalu ingin dikasihani walaupun jarang mengasihani. Masing-masing memperebutkan kebenaran sendiri, dan kebenaran yang diperebutkan itu sudah pasti kebenaran yang didasari ingin senang sendiri. Keduanya memperebutkan kebenaran sendiri-sendiri yang berbeda, bahkan berlawanan.
Tradisi usarig dan kebiasaan lama kadang-kadang merupakan kebijaksanaan pada suatu masa atau kurun waktu tertentu dan kalau selalu dipertahankan, maka akan menimbulkan konflik karena segala sesuatu akan berubah dengan berubahnya waktu. Mengekor saja kepada kebiasaan atau tradisi lama tanpa pertimbangan yang bijaksana, merupakan suatu kebodohan.
Semenjak ribuan tahun, di Tiongkok terdapat suatu anggapan yang sudah berakar di dalam hati setiap keluarga, merupakan tradisi yang amat kokoh kuat, yaitu bahwa setiap keluarga HARUS mempunyai keturunan laki-laki! Mungkin sekali anggapan ini terdorong oleh kedua keadaan. Pertama, seorang anak laki-laki dianggap akan dapat membantu keluarga orang tuanya di sawah karena pada waktu itu, sebagian besar rakyat hidup sebagai petani yang miskin. Kebutuhan akan tenaga bantuan inilah yang mendorong mereka beranggapan bahwa kalau mempunyai anak laki-laki berarti memperoleh tenaga bantuan yang amat baik dan dapat dipercaya, dan berarti meringankan beban keluarga. Dan ke dua, anak laki-laki akan melanjutkan tradisi nenek moyang, akan melanjutkan keturunan marga mereka masing-masing, dan akan memelihara abu nenek moyang.
Jelasnya, seorang anak laki-laki akan dapat melanjutkan silsilah keluarga, melanjutkan riwayat marga itu. Sebaliknya, anak perempuan hanya menjadi beban sejak kecil, merupakan mahluk lemah yang tenaganya tak dapat banyak diharapkan di waktu anak itu menjadi dewasa, bahkan mengundang datangnya gangguan yang datang dari orang-orang muda, dan akhirnya anak itu hanya akan diboyong oleh orang lain, membantu rumah tangga keluarga lain! Yang dianggap lebih celaka lagi begitu menikah, seorang anak perempuan telah berganti she (nama marga) yang berarti telah menjadi anggauta keluarga marga baru itu, dan marganya sendiri sudah terlepas darinya.
Tentu saja pendapat yang menjadi tradisi seperti ini merupakan suatu pendapat yang seluruhnya berdasarkan kepentingan si aku, dalam hal ini kepentingan si orang tua sendiri. Dan pendapat yang berdasarkan kepentingan diri sendiri selalu mendatangkan tindakan-tindakan yang jahat. Demikian pula dengan tradisi tentang anak laki-laki ini, menimbulkan banyak tindakan yang sesat di kalangan orang-orang tua. Banyak yang menganggap keluarga mereka sial kalau mempunyai anak perempuan, bahkan bukan merupakan dongeng belaka kalau ada keluarga yang anaknya terlahir perempuan melulu, tanpa ada yang laki-laki, memperlakukan anak-anak mereka dengan kejam, bahkan ada yang membunuh anak yang ke sekian dan terlahir perempuan, atau menjual anak itu kepada keluarga lain untuk dijadikan budak, selir, atau bahkan pelacur! Sungguh menyedihkah akibat dari suatu kebiasaan yang turun-temurun dilakukan orang tanpa mempergunakan pertimbangan kebijaksanaan lagi.
Tentu saja karena si aku adalah bentukan pikiran kita sendiri. Ingin ini, ingin itu, mengapa begini, mengapa tidak begitu seperti yang kita inginkan, mengapa harapan kita menjadi hampa, mengapa keinginan kita tidak terlaksana, mengapa orang lain senang dan kita susah, orang lain pandai dan kita bodoh, orang lain kaya dan kita miskin, dan sebagainya. Perang atau konflik terjadi di dalam diri kita masing-masing, konflik antara kenyataan dan keinginan lain, konflik antara keadaan seperti adanya dengan keadaan seperti yang kita kehendaki. Konflik dalam diri setiap manusia ini menjalar menjadi konflik antata kelompok, golongan, bahkan antara bangsa dan menjadi perang yang mengguncang dunia.
Semua pertikaian atau konflik antara dua orang selalu timbul karena pikiran masing-masing, karena si aku yang selalu ingin disenangkan walaupun jarang sekali ingin menyenangkan, selalu ingin dikasihani walaupun jarang mengasihani. Masing-masing memperebutkan kebenaran sendiri, dan kebenaran yang diperebutkan.
Di dalam kedudukannya sebagai Ketua Cin-ling-pai, dia dibantu oleh putera tunggalnya yang bernama Cia Hui Song, seorang pendekar yang usianya kurang lebih tiga puluh delapan tahun, lihai karena selain telah mewarisi kepandaian ayah dan mendiang ibunya, juga dia pernah digembleng oleh mendiang Siangkiang Lojin atau San-sian, seorang di antara Delapan Dewa, dan menerima ilmu-ilmu tinggi dalam hal sinkang dan ginkang. Sejak belasan tahun yang lalu, Cia Hui Song ini menikah dengan Ceng Sui Cin, seorang wanita perkasa pula, pendekar wanita gemblengan karena ia adalah puteri dari Pendekar Sadis Ceng Thian Sin yang tinggal di Pulau Teratai Merah dl lautan selatan. Ibunya juga seorang pendekar yang lihai bukan main, bernama Toan Kim Hong. Ceng Sui Cin selain menerima ilmu-ilmu dari ayah ibunya, juga ia menerima gemblengan dalam hal ginkang oleh Wu-yi Lo-jin, seorang di antara Delapan Dewa pula. Maka, dapat dibayangkan betapa lihainya Ceng Sui Cin, bahkan lebih lihai dari suaminya!
Cia Hui Song dan Ceng SuI Cin mempunyai seorang anak gadis yang telah berusia lima belas tahun bernama Cia Kui Hong. Kui Hong merupakan seorang anak perempuan yang sehat dan mungil sejak kecilnya, juga memiliki kecerdasan dan bak:at yang baik sekali dalam ilmu silat sehingga ketika ia berusia lima belas tahun, ia telah mewarisi ilmu kepandaian dari ayah dan ibunya. Wataknya juga sama dengan watak Ibu dan ayahnya. Ia manis, galak dan berandalan, akan tetapi jenaka dan lincah, juga berjiwa pendekar yang gagah perkasa.
Melihat keadaan keluarga Cia ini, orang lain tentu membayangkan bahwa mereka merupakan keluarga yang berbahagia. Kedudukan mereka sebagai keluarga pimpinan perkumpulan yang terpandang dan terhormat, juga mereka tidak kekurangan, merupakan keluarga yang sehat dan selalu gembira nampaknya. Akan tetapi sesungguhnya tidaklah demikian. Sejak bertahun-tahun yang lalu, Ketua Cin-ling-pai, Cia Kong Liang, dengan berterang menyatakan harapannya sendiri sudah terlepas darinya. Tentu saja pendapat yang menjadi tradisi seperti ini merupakan suatu pendapat yang seluruhnya berdasarkan kepentingan si aku, dalam hal ini kepentingan si orang tua sendiri. Dan pendapat yang berdasarkan kepentingan diri sendiri selalu mendatangkan tindakan-tindakan yang jahat.
Demikian pula dengan tradisi tentang anak laki-laki ini, menimbulkan banyak tindakan yang sesat di kalangan orang-orang tua. Banyak yang menganggap keluarga mereka sial kalau mempunyai anak perempuan, bahkan bukan merupakan dongeng belaka kalau ada keluarga yang anaknya, terlahir perempuan melulu, tanpa ada yang laki-laki, memperlakukan anak-anak mereka dengan kejam, bahkan ada yang membunuh anak yang ke sekian dan terlahir perempuan, atau menjual anak iTu kepada keluarga lain untuk dijadikan budak, selir, atau bahkan pelacur! Sungguh menyedihkan akibat dari suatu kebiasaan yang turun-temurun dilakukan orang tanpa mempergunakan pertimbangan kebijaksanaan lagi.
"Hui Song, sekarang di depan isterimu aku minta ketegasan dan keputusanmu. Bagaimana dengan permintaanku agar engkau menikah lagi?"
Mendengar ini Sui Cin terkejut bukan main. Suaminya belum pernah menceritakan tentang keinginan hati ayah mertuanya itu, dan mendengar betapa kini orang tua itu minta kepada suaminya agar menikah lagi, tiba-tiba mukanya menjadi pucat, lalu berubah merah sekali. Akan tetapi karena yang ditanya adalah suaminya maka ia pun diam saja, hanya memandang kepada suaminya dengan penuh perhatian.
Hui Song juga terkejut. Ayahnya telah berterus terang di depan isterinya, hal ini merupakan desakan yang terakhir dan amat kuat, yang memaksa dia untuk mengambil keputusan, tidak seperti biasanya yang hanya dia elakkan dan tangguhkan saja. Diam-diam dia merasa kasihan kepada isterinya dan tidak berani menoleh untuk memandang wajahnya. Kalau mengingat isterinya dan cinta kasih di antara mereka, ingin rasanya dia meneriakkan keberatannya, namun untuk menolak dia pun takut kepada ayahnya yang dia tahu menganggap amat penting keturunan laki-laki yang amat diharapkannya itu. Maka dalanm keadaan bingung dia menunduk dan berkata dengan suara lirih.
"Ayah, aku... aku tidak mempunyai pikiran untuk ....."
"Hui Song!" Cia Kong Liang membentak karena sejak tadi amarahnya sudah menyesak di dada dan dia menduga bahwa puteranya tentu menolak sehingga jawaban kalimat yang belum putus itu sudah dianggap sebagai penolakan. "Apakah engkau ingin menjadi seorang anak yang put-hauw (tidak berbakti atau durhaka)? Ingat, sudah lama aku ingin mengundurkan diri dan menyerahkan kedudukan Ketua Cin-ling-pai kepadamu, akan tetapi selama engkau belum mempunyai seorang anak laki-laki, terpaksa aku tidak berani mengundurkan diri dan mengoperkan kedudukan pimpinan padamu. Aku hanya ingin engkau mengambil yang tadinya mengendap itu timbul dan mengeruhkan, keheningan air pun lenyap. Jadi yang penting bukanlah menekan kesibukan pikiran karena penekanan ini pun merupakan kesibukan lain lagi dari pikiran itu sendiri. Yang penting adalah menyelami dan mempelajari, mengamati kesibukan pikiran sendiri, bukan pengamatan dengan pamrih mendiamkan pikiran, melainkan pengamatan yang timbul dari kewaspadaan. Tanpa penekanan dan perlawanan, tanpa adanya si aku yang menekan atau mengamati, tanpa adanya aku yang ingin melihat pikiran menjadi tenang, maka bagaikan kehabisan setrum, pikiran akan menjadi diam dengan sendirinya, bukan DIBIKIN diam.
Kehidupan kita seolah-olah sejak kecil sampai tua sampai mati, dipenuhi dengan berbagai macam masalah dan persoalan. Masing-masing dari kita mempunyai masalah sendiri, menghadapi persoalan tertentu sendiri-sendiri, suka duka selalu menyelang-nyeling, susah senang menjadi pakaian sehari-hari. Semua ini bukan lain ditimbulkan oleh pikiran atau si aku olah jantungnya ditusuk-tusuk dan sejak tadi ia sudah menahan kemarahannya yang makin berkobar. Kini, mendengar suaminya melibatkannya, dan melihat betapa ayah mertuanya itu menanggapinya secara acuh saja, ia tidak tahan lagi.
"Ayah, apakah keluarga ini masih menganggap saya sebagai manusia, ataukah sebagai kertas pembungkus saja?"
Cia Kong Liang melebarkan matanya mendengar pertanyaan ini. "Maksudmu?"
"Kalau saya dianggap kertas pembungkus, maka hanya dipergunakan dan dirawat sewaktu diperlukan saja, kalau tidak diperlukan lagi boleh dibuang begitu saja! Akan tetapi kalau diperlakukan sebagai manusia, kenapa saya tidak pernah diajak berunding? Saya adalah isteri Cia Hui Song, saya berhak untuk menentukan tentang dirinya!"
"Tapi... tapi aku yakin bahwa engkau tentu akan menyetujui kalau Hui Song mengambil seorang gadis lain sebagai isteri, untuk menyambung keturunan she Cia ...."
"Saya tidak setuju!" teriak Sui Cin, kini tidak lagi bersopan-sopan, melainkan secara spontan mengeluarkan isi hati dan kemarahannya. Mendengar teriakan ini dan melihat sikap anak mantunya, Cia Kong Liang yang juga berhati keras itu seketika bangkit kemarahannya.
"Engkau... tidak berhak untuk menolak atau tidak menyetujui! Engkau hanya seorang isteri, hanya seorang anak mantu, yang harus patuh kepada suaminya, kepada ayah mertuanya!"
"Ayah, kapankah aku tidak pernah patuh?" teriak Sui Cin. "Selama belasan tahun tinggal di sini, bukankah aku selalu patuh? Akan tetapi sekali ini menyangkut hubungan antara suami isteri. Aku tidak pernah bersalah kepada Hui Song, aku menjadi seorang isteri yang dicinta dan mencinta, kenapa tiba-tiba saja Hui Song harus menjadi milik wanita lain? Aku tidak mau membaginya dengan wanita lain! Aku tidak setuju kalau dia mengambil seorang wanita lain sebagai isteri ke dua!"
"Engkau tidak berhak melarang!" teriak Cia Kong Liang pula dengan sama marahnya dan menudingkan telunjuknya kepada muka anak mantu yang biasanya amat disayangnya itu. "Engkau telah tidak mampu melahirkan seorang keturunan laki-laki!"
"Belum tentu kalau aku yang tidak mampu! Siapa tahu Hui Song juga tidak mampu mempunyai turunan laki-laki? Jangan hanya salahkan diriku seorang!" Kedua mata Sui Cin sudah mulai basah dengan air mata, akan tetapi ia tidak menangis dan memandang kepada ayah mertuanya dengan mata terbelalak walaupun sudah basah bahkan air matanya mulai jatuh berderai.
"Kalau dia mengambil gadis lain, tentu dapat mempunyai keturunan laki-laki!"
"Mungkin saja! Kalau aku menikah lagi dengan pria lain juga mungkin saja aku melahirkan anak laki-laki! Akan tetapi, pernikahan antara kami, kalau tidak membuahkan anak laki-laki, itu bukanlah salahku, atau salah Hui Song. Jangan salahkan kepadaku Ayah, pendeknya aku tidak setuju kalau Hui Song menikah lagi!"
Ketua Cin-ling-pai itu menjadi marah bukan main. Belum pernah dia didebat dan ditentang orang seperti itu, apalagi kini yang menentangnya adalah anak mantunya sendiri. Hal ini merupakan pukulan batin yang hebat, yang membuat dia marah bukan main dan dia sudah bangkit dari kursinya, mengepal tinju dan agaknya sudah siap untuk menyerang Sui Cin. Melihat ini, Sui Cin juga bangkit berdiri, siap untuk membela diri!
"Sui Cin, jangan ......!" Hui Song berteriak dan dia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan ayahnya membentur-benturkan dahinya di lantai. "Ayah... Ayah, ampunkanlah isteriku, Ayah. Kalau Ayah hendak menjatuhkan hukuman, hukumlah aku. Ayah, tenanglah dan ampunkan kami."
Melihat ini, Cia Kong Liang sadar kembali. Dia tahu bahwa kalau dia menyerang Sui Cin dan mantunya itu melawan, dia bahkan akan kalah oleh anak mantunya yang lihai itu. Dan kalau sampai terjadi hal demikian, bukankah akan memalukan sekali dan nama besar Cin-ling-pai akan hancur sama sekali. Bayangkan bagaimana akan pendapat orang kalau mendengar bahwa Ketua Cin-ling-pai bentrok dengan mantu perempuannya, bahkan dipukul roboh oleh mantu perempuannya sendiri! Dia menjatuhkan dirinya lagi di atas kursi, napasnya terengah-engah dan mukanya masih merah sekali.
"Sudahlah, sekarang engkau boleh pilih. Engkau menuruti permintaan ayahmu, mengambil seorang gadis lain untuk menyambung keturunan she Cia, atau aku yang akan memungut seorang murid yang baik untuk menjadi putera angkatku, kuberikan she Cia kepadanya, kemudian dia kukawinkan agar dapat menyambung keturunan she Cia, walaupun secara memungut anak. Dan engkau... jangan harap lagi aku mengakuimu sebagai anak."
"Ayah ......!" Hui Song berteriak dan kini air matanya pun jatuh bertitik. Sui Cin menjadi semakin marah. Dianggapnya bahwa orang tua itu sungguh tidak adil dan keterlaluan. Maka, melihat suaminya menangis, ia pun segera berkata sambil memandang ayah mertuanya dengan pandang mata tajam.
"Ayah, kenapa Ayah begitu mendesak Hui Song? Kenapa tidak Ayah sendiri saja yang menikah lagi dan mempunyai seorang anak keturunan laki-Iaki yang lain?"
Mendengar ini, Hui Song, merasa mempunyai harapan untuk mengatasi persoalan itu. "Itu benar, Ayah ....."
"Diam .....!!" Cia Kong Liang membentak penuh kemarahan. "Ceng Sui Cin, jangan kau mengajukan usul yang gila!" Baru sekarang sejak Sui Cin menjadi mantunya, dia menyebut nama mantunya itu dengan nama shenya, dan Sui Cin merasakan benar sebutan itu. Ia sudah mulai dianggap orang luar oleh ayah mertuanya ini!
"Bukan aku yang mengajukan usul yang gila, Ayah, melainkan Ayah sendiri yang mengajukan permintaan yang bukan-bukan."
"Cukup!" Kembali Ketua Cin-lin-pai itu membentak. "Sekali lagi, Hui Song, kau boleh pilih. Engkau menikah lagi dengan gadis lain untuk memperoleh keturunan she Cia, atau engkau tidak kuanggap sebagai anakku lagi dan boleh pergi dari sini dengan isteri dan anakmu."
Mendengar ini, Sui Cin juga berteriak, "Cia Hui Song, dengarkan kata-kataku. Aku akan pergi bersama Kui Hong kembali ke rumah orang tuaku. Kalau engkau kawin lagi, kita tak perlu berjumpa kembali. Kalau engkau masih memberatkan kami, susullah kami ke Pulau Teratai Merah!" Setelah berkata demikian, sekali berkelebat Sui Cin sudah lenyap dari ruangan itu, keluar untuk mencari anaknya.
"Sui Cin .....!!" Hui Song berkata dan dia pun terkejut bukan main, bangkit berdiri.
"Hui Song, kalau engkau tinggalkan ruangan ini, jangan harap akan dapat kembali kepadaku!"
Hui Song yang sudah bangkit itu, tersentak dan menoleh kepada ayahnya, kemudian menoleh ke arah pintu, hatinya terobek menjadi dua, tubuhnya menggigil dan tiba-tiba dia pun mengeluh dan terpelanting jatuh pingsan saking hebatnya pukulan batin yang dideritanya.
Tiada sesuatu yang abadi di dalam kehidupan ini! Perubahan terjadi setiap saat, seperti matahari yang tiba-tiba tertutup awan hitam sehingga dunia menjadi gelap. Hujan yang deras pun tiba-tiba dapat terhenti dan langit kembali menjadi terang. Bahkan perubahan yang paling hebat dapat saja setiap saat terjadi dengan tiba-tiba, yaitu kalau kematian datang menjemput. Orang yang selalu waspada akan memiliki kebijaksanaan untuk menerima segala sesuatu yang terjadi sebagai suatu kewajaran, sebagai suatu hal yang sudah semestinya terjadi, karena itu tidak akan mengguncangkan batinnya. Bahkan kematian pun yang datang menjemput akan diterima dengan iklas, pasrah dan mulut tersenyum karena maklum bahwa dia tidak berdaya, tidak berkuasa, hanya menjadi anak wayang saja yang harus tunduk dan patuh terhadap peraturan yang dijalankan oleh Sang Sutradara! Dijadikan pemegang peran apa pun tidak penting, biar dijadikan raja atau pengemis, orang kaya atau orang miskin, pintar atau bodoh, sehat atau berpenyakitan. Tidak mengeluh kalau memegang peran rendah, tidak berlebihan gaya kalau memegang peran mulia, karena yang penting adalah menghayati peran itu, memainkan peran yang dipegangnya sebaik mungkin. Memegang peran apa pun juga, baik yang menang atau yang kalah, yang tinggi atau yang rendah, yang kaya atau miskin, pintar atau bodoh, kesemuanya itu hanya untuk sementara saja dan semua akan berakhir sama, yaitu tamatnya cerita atau kematian. Karena maklum bahwa segala sesuatu, yang baik maupun yang buruk, tidak abadi, bahwa kehidupan sebagai roda, maka tidak akan mengeluh selagi berada di bawah dan tidak akan sombong selagi berada di atas. Demikianlah seorang yang bijaksana.
***
Dapat dibayangkan betapa hancur rasa hati Cia Hui Song. Dia mengeluh panjang pendek, sampai tiga hari dia tidak mampu meninggalkan kamarnya, hanya rebah dengan gelisah dan menyesali nasibnya setelah dia mendekati usia empat puluh tahun itu. Hatinya ingin sekali pergi menyusul isteri dan puterinya yang pergi secara mendadak tanpa pamit lagi, hanya membawa buntalan pakaian saja. Dia tahu akan kekerasan hati dan keangkuhan isterinya, tentu isterinya itu mengajak Kui Hong untuk pergi ke Pulau Teratai Merah dan isterinya tidak akan kembali ke Cin-ling-san sebelum dia datang menyusul. Akan tetapi, dia pun mengenal baik kekerasan hati ayahnya. Kalau dia nekat pergi, tentu dia benar-benar tidak akan diakui lagi sebagai anak dan ayahnya tak mungkin mau mengampuninya lagi. Terjadi perang di dalam batinnya dan dia membayangkan betapa ayannya akan menderita batin yang amat hebat kalau dia memaksa diri meninggalkan ayahnya. Ayahnya hanya mempunyai dia seorang, tidak ada lagi keluarga lain dan hanya kepada ayahnya memandang dan bergantung. Kalau dia pergi, mungkin hal itu akan menghancurkan hati ayahnya dan dia akan mempercepat kematiannya dan dia tentu akan merasa berdosa selama hidupnya kalau sampai terjadi hal seperti itu. Sebaliknya, isteri dan puterinya akan hidup aman dan terjamin kalau berada di Pulau Teratai Merah dan mudah-mudahan saja Sui Cin akan melunak perasaannya kelak. Bagaimanapun juga, sebagai putera tunggal tak mungkin dia meninggalkan ayahnya, tak mungkin menjadi anak durhaka yang dikutuk ayah sendiri. Selain itu, dia pun harus menjaga nama dan kehormatan Cin-ling-pai," biarpun dia harus mengorbankan perasaannya yang seperti tertindih selalu dan semangatnya seolah-olah terbang mengikuti isteri dan puterinya.
Bagaikan seorang yang patah semangat, Cia Hui Song pendekar sakti itu menurut saja ketika ayahnya mencarikan seorang gadis untuk menjadi isterinya, untuk dapat memberi seorang putera penyambung keturunan Cia, keturunan keluarganya. Demi ayahnya, demi keluarga Cia, dia harus mentaati perintah ayahnya walaupun diam-diam hatinya hancur. Dia tidak mungkin dapat mencinta isterinya yang baru, seorang gadis berusia delapan belas tahun dari keluarga Siok, seperti cintanya terhadap Sui Cin. Dia hanya merasa kasihan kepada isteri barunya, Siok Bi Nio, karena seperti sudah lajim pada jaman itu, gadis ini pun menjadi isterinya karena kehendak orang tuanya. Orang tua mana yang tidak akan merasa bangga kalau anak perempuannya menjadi mantu Ketua Cin-ling-pai, walaupun hanya menjadi isteri ke dua? Nama besar Cin-ling-pai akan mengangkat derajat keluarga Siok pula di samping kehidupan makmur yang akan dapat dinikmati oleh gadis she Siok itu.
Demikianlah, Cia Hui Song menikah lagi tanpa dirayakan secara meriah karena sungguhpun dia tidak berani menolak kehendak ayahnya untuk kawin lagi, dia berkeras tidak mau kalau pernikahan itu dirayakan, melainkan terjadi secara sederhana saja dan hanya melakukan upacara sembahyangan sebagaimana mestinya tanpa mengundang banyak tamu.
Hati Kakek Cia Kong Liang puas dan girang sekali karena puteranya mau memenuhi permintaannya. Tanpa ada yang mengetahuinya, dia sendiri merasa amat berduka dengan kepergian Kui Hong tanpa pamit. Dia amat sayang kepada cucunya itu, bahkan ketika Kui Hong masih kecil, dialah yang menimang-nimang anak itu. Akan tetapi, sayang bahwa Kui Hong adalah seorang cucu perempuan dan kakek ini merasa prihatin dan bahkan malu kalau sampai puteranya tidak mempunyai anak laki-laki yang kelak akan menyambung keturunan keluarga Cia. Setelah Kui Hong pergi bersama ibunya tanpa pamit, dia merasa kehilangan dan sering kali, seorang diri dalam kamarnya, kakek ini menutupi mukanya dan menghapus beberapa butir air mata karena duka teringat akan cucu perempuan yang amat disayangnya itu. Dia tidak merasa bersalah dalam urusan itu, merasa bahwa keputusannya itu sudah benar dan tepat, dan mantunyalah yang tidak tahu diri, yang tidak adil, tidak seperti para wanita lainnya yang tentu bahkan akan menganjurkan sang suami untuk mengambil isteri muda agar memperoleh keturunan laki-laki!
Lebih gembira dan puas lagi hati Kakek Cia Kong Liang ketika setahun setelah Hui Song menikah dengan Siok Bi Nio, mantu perempuannya itu melahirkan seorang anak laki-laki. Harapannya dan dambaannya terkabul sudah! Keluarga Cia tidak akan putus, melainkan akan bersambung terus dengan lahirnya Cia Kui Bu, cucunya yang kedua itu. Maka, begitu cucu ini terlahir, Cia Kong Liang lalu mengundurkan diri dan mengangkat Cia Hui Song menjadi Ketua Cin-ling-pai!
Jabatan ini sedikit banyak menghibur hati Hui Song yang selalu teringat kepada Ceng Sui Cin dan Kui Hong. Kesibukan di dalam perkumpulannya menyita banyak waktu dan pemikiran. Dia bekerja keras untuk memperbaiki segala kekurangan dalam perkumpulan Cin-ling-pai, memperketat peraturan dan menambah latihan-latihan untuk menggembleng para anggauta dan murid agar kelak dapat mengangkat tinggi nama besar Cin-ling-pai. Bahkan dia sendiri terjun untuk melatih murid-murid kepala. Sementara itu, Cia Kong Liang mernperoleh pekerjaan baru yang mengasyikkan hatinya, dan merupakan hiburan pula padanya karena kini dia dapat mengasuh cucunya sebagai pengganti Kui Hong!
Kita tinggalkan dulu keluarga Cia di Cin-ling-san ini dan mari kita ikuti perjalanan Ceng Sui Cin dan anaknya, Cia Kui Hong. Pada hari itu juga, malam-malam setelah ia ribut mulut dengan ayah mertuanya, Sui Cin memanggil anaknya, dan Kui Hong terkejut sekali melihat ibunya berkemas dan melihat betapa di wajah ibunya ada tanda bahwa ibunya habis menangis.
"Ibu, ada apakah, Ibu?" tanyanya, hatinya tidak enak. Biasanya, ibunya selalu ramah dan suka bergurau, dan ia sendiri pun paling suka bergurau dan memandang dunia ini dengan sepasang mata berkilauan dan wajah berseri dan hati yang lapang dan terang. Akan tetapi, kini ibunya nampak murung dan kusut, maka ia pun tidak berani bergurau seperti biasa dan tidak berani merangkul, hanya menyentuh lengan ibunya sambil mengajukan pertanyaan itu.
Dengan menahan tangisnya karena ia tidak mau memperlihatkan kelemahan terhadap anaknya, ia berkata, "Kui Hong, engkau berkemaslah, keluarkan semua pakaianmu yang terbaik, kita pergi sekarang juga ke Pulau Teratai Merah."
Sejenak wajah yang manis itu berseri dan matanya terbelalak. "Ke tempat tinggal Kakek dan Nenek di Laut Selatan?"
"Benar, cepatlah berkemas!" kata ibunya singkat.
"Horeee... kita pesiar ke lautan, ke tempat Kakek Ceng!" Gadis itu berteriak dan bersorak seperti anak kecil saking girang hatinya. Baru dua kali ia berkunjung ke tempat yang jauh itu, dan yang terakhir kalinya ketika ia baru berusia sepuluh tahun. Kini ia telah berusia lima belas tahun, dan mengenang tempat yang indah sekali di pulau itu, dikelilingi lautan yang liar dan luas, ia merasa girang bukan main.
Setelah mereka berdua selesai berkemas, Sui Cin yang sudah selesai lebih dahulu, segera menggendong buntalan besar pakaiannya dan menyuruh puterinya melakukan hal yang sama. "Mari kita berangkat!" -
"Eh, apakah Ayah tidak ikut, Ibu?" tiba-tiba gadis remaja itu bertanya.
Ibunya hanya menggeleng kepala tanpa menjawab. Mereka keluar dari dalam kamar dan ibunya mengajak ia langsung keluar.
"Ibu, kita pamit dulu dari Kong-kong (Kakek) dan Ayah "
"Tidak usah, aku sudah pamit tadi. Kita langsung berangkat!" kata ibunya singkat. Tentu saja hal ini tidak dapat diterima oleh Kui Hong yang amat sayang kepada kakeknya dan ayahnya.
"Tapi, Ibu ......"
"Cukup! Tak perlu banyak cakap lagi, mari kita langsung berangkat, lihat, malam telah semakin gelap!" "Tapi mengapa tergesa-gesa, Ibu? Bukankah berangkat besok pagi-pagi lebih baik dan aku harus pamit..... "
"Diam dan mari kita pergi!" Tiba-tiba Sui Cin membentak dan gadis remaja itu terkejut bukan main melihat ibunya demikian galak, apalagi melihat dua titik air mata meloncat keluar dari mata ibunya. Ia maklum bahwa ibunya sedang marah sekali, maka ia pun tidak berani membantah lagi dan keluarlah ia mengikuti ibunya. Lebih lagi merasa terkejut dan heran melihat betapa ibunya setelah berada di luar rumah, langsung saja mempergunakan ilmu berlari cepat, meluncur di dalam gelap seperti terbang saja. Terpaksa ia pun mengerahkan tenaganya untuk mengimbangi kecepatan lari ibunya dan mereka lalu melakukan perjalanan yang amat cepat menuju ke tenggara. Dapat dibayangkan betapa heran rasa hati Kui Hong melihat ibunya tak pernah mau berhenti berlari sampai akhirnya, beberapa jam kemudian, lewat tengah malam. Kui Hong yang sudah berkeringat dan napasnya memburu, berkata kepada ibunya.
"Ibu, jangan cepat-cepat... ah, aku... aku sudah lelah sekali ....." Dan gadis itu pun mogok lari.
Melihat ini, Sui Cin baru teringat akan keadaan puterinya. Ia pun berhenti berlari dan mengajak puterinya beristirahat di bawah sebatang pohon besar. Ia sendiri pun baru sadar bahwa keringat telah membasahi leher dan mukanya, betapa napasnya juga memburu. Mereka duduk di atas batu-batu yang banyak terdapat di kaki gunung itu, memandang ke atas. Tidak ada bulan di langit, namun langit yang kelam itu penuh dengan bintang yang nampak gemerlapan indah sekali pada latar belakang hitam itu, nampak bagaikan ratna mutu manikam di atas beledu hitam. Kadang-kadang nampak bintang meluncur dengan berekor panjang lalu lenyap ditelan kegelapan. Bintang jatuh? Atau bintang pindah? Kui Hong selalu kagum memandang angkasa penuh bintang, atau angkasa diterangi bulan purnama. Baginya, angkasa penuh dengan rahasia alam yang hebat, sehingga orang-orang pandai seperti ayahnya dan bahkan kakeknya pun tidak mampu memberi penjelasan ketika ia bertanya kepada mereka tentang bulan dan bintang. Ia tahu bahwa ibunya juga suka menikmati kebesaran alam, bahkan ibunya suka berkhayal dan bercerita bahwa karena menurut dongeng, bintang-bintang itu merupakan dunia-dunia, maka tentu di setiap bintang dikuasai oleh seorang dewa. Kalau begitu, alangkah banyaknya dewa-dewa di langit! Tak terhitung banyaknya! Lebih banyak bintang di langit daripada rambut di kepalamu, demikian kata ibunya. Dan mungkin benar, pikir Kui Hong, karena walaupun amat banyak, kalau memang dikehendaki, rambut di kepala masih dapat dihitung manusia. Akan tetapi bintang di langit? Siapa mampu menghitungnya? Makin gelap langit, makin banyaklah bintang yang nampak, sampai berdempetan dan tak mungkin dihitung.
"Aduh, bukan main indahnya bintang-bintang itu, Ibu ......" Kui Hong yang sejenak lupa akan segala hal itu berkata penuh kagum. Akan tetapi ibunya tidak menjawab dan ia terheran. Biasanya ibunya paling suka memuji keindahan alam. Ia menengok dan di dalam keremangan malam, ia melihat ibunya menyembunyikan muka di balik lengan yang memeluk lutut! Baru ia teringat akan keadaan mereka dan Kui Hong merasa gelisah sekali. Ia bukan anak kecil. Tentu telah terjadi sesuatu yang hebat, yang membuat ibunya berduka seperti itu. Jangan-jangan kakeknya atau neneknya yang di Pulau Teratai Merah meninggal dunia, pikirnya dan ia pun bergidik ngeri. Tak mungkin! Kalau benar terjadi hal demikian, tentu ayahnya pun ikut pergi, bahkan Kakek Cia Kong Liang juga tentu pergi melayat. Tidak, tentu ada peristiwa lain.
"lbu... lbu, engkau kenapakah, Ibu .....?" tanyanya lirih sambil menyentuh tangan ibunya.
Tersentuh senar yang terhalus di dalam hati Sui Cin oleh pertanyaan puterinya ini. Ia terisak dan menyembunyikan muka di balik kedua tangannya. Ia menangis! Ibunya menangis! Kui Hong tersentak kaget. Belum pernah ia melihat ibunya menangis! Ia selalu menganggap ibunya seorang wanita yang paling hebat, yang gagah perkasa dan pantang menangis. Bahkan ibunya sering memberi nasihat ketika ia masih kecil dan suka menangis, bahwa seorang wanita gagah lebih menghargai air mata daripada darah! Keringat dan darah sekalipun boleh menetes kalau perlu, akan tetapi air mata harus dipantang! Tangis menunjukkan kelemahan dan seorang wanita yang gagah perkasa bukanlaln seorang yang lemah. Demikian kata-kata ibunya yang selalu masih diingatnya, kata-kata yang ikut menggemblengnya menjadi seorang gadis yang tabah, keras hati, penuh keberanian menghadapi apapun juga tanpa mengeluh. Dan sekarang, ibunya menangis!
"Ibu......!" Kui Hong merangkul ibunya dan memaksa ibunya menurunkan tangan. Dipandanginya wajah ibunya. Memang tidak banyak air mata yang mengalir keluar, akan tetapi tetap saja terbukti bahwa ibunya menangis. "Ibu, engkau menangis? Mungkinkah ini? Ada apakah yang telah terjadi, Ibuku?" Kui Hong bertanya sambil menciumi pipi ibunya yang agak basah oleh air mata.
Dengan sekuat tenaga Sui Cin menekan perasaannya, menghapus air matanya. Anaknya ini bukan kanak-kanak lagi, melainkan seorang gadis menjelang dewasa, tak perlu menyembunyikan keadaan yang sebenarnya, karena tentu Kui Hong kini sudah dapat mengerti.
" Ayahmu... Ayahmu harus menikah lagi." jawabnya dan begitu ia menjawab, ia merasa lancar dan dapat menahan getaran perasaannya. Kini kedukaannya terganti oleh rasa penasaran dan kemarahan.
Mendengar keterangan ini, Kui Hong terkejut sekali, juga heran dan sejenak ia kehilangan akal, hampir tidak dapat mengerti dan tidak dapat menangkap maksud kata-kata ibunya. Ayahnya harus menikah lagi? Keterangan macam apa ini? Akan tetapi, semuda itu, Kui Hong sudah digembleng untuk menguasai hatinya dan sikapnya masih tetap tenang walaupun keterangan ibunya itu membuatnya terkejut dan terheran-heran. Sukar ia dapat percaya bahwa ayahnya akan menikah lagi! Ia mempertimbangkan keterangan ibunya dalam satu kalimat tadi. Ayahnya harus menikah lagi. Harus?
"Ibu, siapa yang mengharuskan Ayah menikah lagi?"
"Kakekmu, siapa lagi?" Suara ibunya mengandung penasaran dan kemarahan sehingga Kui Hong dapat menduga bahwa tentu ibunya sudah ribut dengan kakeknya.
"Menikah dengan siapa?"
"Dengan siapa saja, Ayahmu sendiri pun belum tahu."
"Tapi, kenapa? Kenapa Kong-kong menyuruh dan bahkan mengharuskan Ayah menikah lagi? Bukankah Ayah sudah menikah dengan Ibu?"
"Kong-kongmu ingin mempunyai seorang cucu laki-laki ....."
"Akan tetapi, Kong-kong sudah mempunyai cucu aku!"
"Dia ingin cucu laki-laki untuk menyambung keluarga Cia! Karena aku tidak mempunyai anak laki-laki, maka Ayahmu diharuskan menikah lagi."
"Dan Ayah ..... Ayah mau .....?"
"Ayahmu terpaksa, kalau tidak, dia tidak akan diakui lagi sebagai anak Kong-kongmu, akan diusir!"
"Ahhh ......!!" Wajah Kui Hong berubah, kini agak pucat karena ia mulai mengerti benar dan tahu bahwa memang telah terjadi urusan yang hebat sekali, bahkan merupakan malapetaka bagi ibu dan ayahnya, yang mengubah kehidupan keluarga mereka semua!
"Jadi karena itulah Ibu pergi? Tapi... tapi kenapa pergi, Ibu? Kenapa kalau Ibu tidak setuju, Ibu tidak melarang saja pada Ayah agar dia tidak usah menikah lagi?"
"Aku sudah menyatakan tidak setuju, bahkan aku sampai cekcok dengan Kong-kongmu, akan tetapi Kong-kongmu memaksa Ayahmu, kalau Ayahmu tidak mau, Ayahmu harus pergi dan tidak diakui sebagai anak lagi."
"Ah, kenapa Ibu tidak bilang begitu selagi kita pergi. Biarlah aku kembali ke sana dan aku tegur Kong-kong dan Ayah!" Kui Hong bangkit berdiri sambil mengepal tinju, akan tetapi melihat itu, Sui Cin merangkul anaknya disuruhnya duduk kembali..
"Tidak ada gunanya, Kui Hong. Engkau tidak tahu betapa keras hati Kong-kongmu dan betapa pentingnya cucu laki-laki baginya, atau bagi laki-laki yang manapun juga di dunia ini agaknya. Sungguh menjemukan! Sudahlah, biarlah kita pergi saja dan kalau memang Ayahmu ingin berbakti kepada Kong-kongmu dan melupakan kita, biarlah kita hidup sendiri, di rumah orang tuaku di Pulau Teratai Merah."
"Tapi, Ibu, kenapa Ibu tidak menentang dengan kekerasan saja?"
"Tidak ada gunanya, juga tidak baik dan memalukan! Aku sudah mengambil keputusan untuk pulang saja ke Pulau Teratai Merah dan kalau Ayahmu menyusul kita, dan mengurungkan niat Kong-kongmu yang mengharuskan dia menikah lagi, baru aku mau ikut dengannya. Kalau sebaliknya terjadi, dia menikah lagi, biarlah selamanya kita tinggal saja di Pulau Teratai Merah."
Percakapan itu terhenti dan kedua orang wanita itu tenggelam ke dalam lamunan masing-masing. Beberapa kali Cia Kui Hong mengepal tinju, hatinya marah dan panas sekali, melebihi panasnya hati ibunya. Kalau kelak ayahnya benar menikah lagi, ia akan menegur ayahnya itu, dan menegur kakeknya, kalau perlu ia akan membunuh wanita yang menjadi isteri ayahnya, ibu tirinya yang mendatangkan kehancuran dalam kehidupan ibunya. Ibunya kini sampai meninggalkan rumah, kedinginan di kaki gunung ini, di bawah pohon, terlunta-lunta!
***
Perjalanan yang dilakukan oleh Ceng Sui Cin dan puterinya, Cia Kui Hong, adalah sebuah perjalanan yang amat jauh dan akan makan waktu beberapa bulan lamanya walaupun mereka mempergunakan ilmu berlari cepat! Tentu saja ibu dan anak ini mengalami banyak kesukaran. Selain lelah dan hati mereka tertekan duka, juga masih banyak gangguan mereka hadapi sebagai dua orang wanita cantik melakukan perjalaran tanpa kawalan. Biarpun usianya sudah tiga puluh tiga tahun, namun Sui Cin masih nampak cantik jelita. Tubuhnya yang ramping itu kini memang agak gemuk dibandingkan sebelum ia mempunyai anak, akan tetapi bukan gemuk karena kebanyakan gajih sehingga nampak kedodoran, melainkan gemuk padat karena ia masih terus berlatih silat sehingga ia lebih tepat dikatakan bertubuh montok. Wajahnya nampak lebih muda dari usianya yang sebenarnya sehingga dalam melakukan perjalanan bersama Kui Hong, mereka lebih pantas disebut enci adik, daripada ibu dan anak.
Sampai sekarang pun Sui Cin masih tidak mengubah kebiasaannya yang dahulu, yaitu sikapnya bebas dan pakaiannyapun agak nyentrik. Ia lebih mengutamakan enak dipakai daripada indah dipakai. Karena ia melakukan perjalanan yang jauh, ia tidak lupa membawa payungnya yang merupakan senjata pusakanya, yang telah mengangkat namanya ketika ia masih gadis, di samping benda itu dapat pula dipergunakan sebagai payung untuk melindungi muka dari sengatan terik matahari dan curahan air hujan. Juga puterinya mengenakan pakaian yang nyentrik, pakaian pria yang ketat sehingga tubuhnya yang bagaikan bunga sedang mulai mekar itu nampak indah menarik seperti buah yang sedang ranum. Berbeda dengan ibunya yang membawa sebuah payung, yang diikat pada buntalan pakaiannya di punggung kalau tidak dipergunakan sebagai payung, gadis yang berusia lima belas tahun ini membawa sebatang pedang yang dipasang di atas buntalan di punggung.
Karena gadis ini membawa pedang secara mencolok itulah agaknya yang banyak menolong mereka, karena kalau ada laki-laki yang tertarik dan berniat kurang ajar, mereka mundur teratur melihat pedang itu, maklum bahwa dua orang wanita itu adalah dua orang wanita kang-ouw (sungai telaga, golongan ahli silat) yang tidak boleh sembarang diganggu.
Kurang lebih sebulan kemudian setelah meninggalkan Cin-ling-san, pada suatu sore ibu dan anak ini tiba di kota Nan-sian yang terletak di tepi Telaga Tung-ting. Kota ini memang indah karena letaknya di tepi telaga besar itu yang menampung air dari Sungai Yang-ce-kiang yang lebar. Karena hari telah menjelang sore dan tidak mengenal baik daerah itu, pula melihat betapa puterinya tadi mengagumi keindahan pemandangan alam di telaga itu dari suatu ketinggian, Ceng Sui Cin lalu mengambil keputusan untuk bermalam saja di kota Nan-sian ini.
Mereka memasuki kota Nan-sian, menyewa sebuah kamar yang cukup bersih di sebuah rumah penginapan yang terletak di tempat indah sekali, di tepi telaga. Setelah mandi dan berganti pakaian, ibu dan anak ini meninggalkan buntalan pakaian mereka di dalam kamar, akan tetapi tidak lupa membawa senjata mereka yang sedapat mungkin mereka sembunyikan di bawah baju, sedangkan Sui Cin membawa payungnya, mereka lalu menlnggalkan rumah penginapan untuk melihat keindahan telaga itu di mana terdapat banyak sekali perahu sewaan untuk orang pesiar ke telaga.
"Ibu, kita menyewa perahu, membeli makanan dan makan di atas perahu. Tentu menyenangkan sekali!" kata Kui Hong. Sui Cin tersenyum. Setelah melakukan perjalanan dengan puterinya, sedikit demi sedikit Sui Cin dapat menutup kedukaan hatinya dan ia merasa kasihan kepada puterinya yang ikut terbawa terlunta-lunta bersamanya.
"Baik, Kui Hong. Mari kita memilih rumah makan yang baik dan minta kepada pelayan untuk mengantar ke perahu yang kita sewa."
Dengan gembira,seperti dua orang ibu dan anak yang sedang pergi pelesir dan samasekali melupakan kedukaan mereka. Sui Cin dan Kui Hong lalu memilih perahu yang catnya masih baru dan berbentuk naga, tukang perahunya juga seorang kakek yang berpakaian rapi dan bersih. Setelah mendapatkan perahu, mereka lalu memesan makanan dan arak yang diantar ke perahu oleh pelayan restoran dibantu oleh kakek pemilik perahu.
Tak lama kemudian, perahu itu pun didayung perlahan oleh kakek tukang perahu sedangkan Sui Cin dan Kui Hong makan minum di kepala perahu yang sengaja didayung menuju ke barat, menyongsong matahari yang sedang tenggelam. Bukan main indahnya pemandangan itu. Matahari yang condong ke barat itu membakar langit di barat dan bayangannya di air yang tenang dan jernih sungguh merupakan pemandangan yang menakjubkan sekali. Gembira hati ibu dan anak ini makan minum sambil melihat pemandangan indah itu, dan banyak pula perahu-perahu pesiar yang hilir mudik di permukaan telaga yang teramat luas. Terdengar pula suara musik dipukul orang, ada pula gadis-gadis penyanyi yang bermain yangkim dan suling, bernyanyi menghibur hati para tuan muda yang bersenang-senang dan bermabok-mabokan di atas perahu besar. Sui Cin dan Kui Hong tidak senang melihat lagak para kongcu yang bersenang di atas perahu bersama gadis-gadis penyanyi itu, lalu menyuruh tukang perahu untuk mendayung perahu itu menjauh, mencari tempat yang ramai. Dari jauh nampak perahu-perahu pelesir yang di cat indah itu seperti binatang-binatang aneh yang meluncur berenang di permukaan air. Hanya ada satu dua buah perahu yang kadang-kadang bersimpangan jalan dengan perahu ibu dan anak itu yang masih belum selesai makan minum dengan sangat asyiknya karena mereka tidak tergesa-gesa.
Tiba-tiba terdengar suara merdu dari tiupan suling yang diiringi suara sentilan yang-kim (semacam siter). Di tempat yang sunyi itu, jauh dari perahu-perahu lain yang bising, suara ini terdengar amat merdu, menambah keindahan pemandangan senja hari itu. Petikan yang-kim yang mengiringi tiupan suling itu sungguh amat indah dan paduan suara itu demikian tepat dan serasi sehingga merupakan musik yang seolah-olah memberi penghormatan dan mengiringkan Sang Raja Hari yang sedang mengundurkan diri di istana barat.
Ibu dan anak itu tertarik dan menoleh. Ternyata suara itu keluar dari sebuah perahu kecil sederhana bercat merah yang meluncur perlahan dari arah kiri ke arah mereka. Perahu itu meluncur tenang dan ternyata digerakkan oleh layar kecil yang terpasang di atas perahu, dibiarkan meluncur ke mana pun arahnya karena penumpangnya hanya seorang saja dan orang ini pun tidak mengemudikan perahu karena dialah yang sedang asyik membunyikan musik itu. Akan tetapi, seorang saja memainkan paduan musik suling dan yang-kim, demikian indahnya pula, sungguh sukar untuk dipercaya!
"Dekati perahu itu ...." kata Kui Hong kepada kakek tukang perahu karena ia tertarik dan gembira, juga Sui Cin mengangguk setuju. Akan tetapi kakek itu mengerutkan alisnya, bahkan menggeleng kepala. "Tidak boleh terlalu dekat, Toanio dan Siocia (Nyonya Besar dan Nona)."
"Eh, memangnya kenapa?" tanya Kui Hong dan Sui Cin juga memandang heran.
"Saya adalah tukang perahu yang setiap hari bekerja di sini dan segala peristiwa yang terjadi di telaga ini saya ketahui, Nona. Sudah kurang lebih dua minggu perahu kecil itu muncul dan orang-orang tidak berani mengganggunya, karena pada hari pertama, ada perahu besar mengganggu dan perahu itu langsung saja dibalikkan sehingga tenggelam oleh penumpang perahu yang bermain suling dan yang-kim itu!"
Tentu saja Sui Cin dan Kul Hong tertarik sekali mendengar berita yang aneh itu. "Jahat sekali dia! Siapa sih orang itu?" tanya Kui Hong, mencoba untuk memandang orang yang duduk di dalam perahu kecil itu, akan tetapi karena jarak di antara perahunya dan perahu itu masih agak jauh dan cuaca sudah mulai remang-remang, ia tidak mampu melihat jelas. Hanya kelihatan seorang laki-lakl yang bertubuh sedang duduk menunduk di perahu itu, memangku sebuah yang-kim dan memegang sebuah suling. Karena dia memegang suling itu dengan tangan kirinya, agaknya dia meniup suling dan memainkan suling itu dengan tangan kirinya saja, sedangkan tangan kanannya dipergunakan untuk memainkan senar-senar yang-kim yang berada di atas pangkuannya.
"Saya tidak tabu, Nona. Tak seorangpun tahu siapa dia. Akan tetapi semua tukang perahu tidak berani mendekatinya. Kalau dia tidak diganggu, dia pun tidak pernah melakukan sesuatu yang merugikan orang lain, bahkan menyenangkan dengan permainan suling dan yang-kimnya yang luar biasa. Merdu, bukan?"
"Bagaimana dia menggulingkan perahu besar?" Sui Cin yang tertarik, bertanya.
Kakek itu menggelengkan kepala. "Siapa mengerti, Toanio? Tahu-tahu perahu itu terbalik dan orang itu berhenti meniup suling dan memainkan yang-kim. Setelah perahu besar itu terbalik, barulah dia main musik lagi dan perahu kecilnya meluncur pergi."
"Apa yang telah dilakukan oleh perahu besar itu sehingga dia terganggu dan marah?" Sui Cin bertanya lagi, semakin tertarik hatinya.
"Perahu besar itu hanya lewat terlalu dekat sehingga ada air memercik membasahi pakaian dan yang-kimnya, dan para penghuni perahu besar mentertawakannya." jawab tukang perahu yang menghentikan dayungnya karena tidak mau datang terlalu dekat.
"Sombong benar orang itu, ingin aku melihat bagaimana sih macam orangnya. Paman tua, dekatkan perahu kita dengan perahunya!" kata Kui Hong yang sudah merasa tertarik dan penasaran sekali.
Sui Cin juga tertarik, karena menduga bahwa orang dapat bermain suling dan yang-kim sekaligus menjadi paduan suara yang amat serasi, dan yang berwatak aneh seperti itu menggulingkan perahu besar yang airnya memercik kepadanya, tentu merupakan orang yang luar biasa. Apalagi kalau dipikir bahwa menggulingkan perahu bukan pekerjaan yang mudah.
"Dekatkan perahu kita." katanya pula kepada tukang perahu.
"Tidak, Toanio, Siocia. Saya tidak berani. Bagaimana kalau nanti perahuku digulingkan pula? Celaka, saya akan menderita rugi." Dia lalu memandang kepada mereka. "Dan belum tentu Ji-wi (Anda Berdua) dapat menyelamatkan diri dan berenang seperti para penumpang perahu besar itu. Bagaimana kalau Ji-wi sampai tenggelam?"
"Aku akan mengganti kerugianmu kalau terjadi demikian." kata Sui Cin sambil tersenyum.
"Saya tidak berani, Toanio."
"Heh, tukang perahu cerewet! Kalau engkau mendekatkan perahumu ke sana, belum tentu dia akan menggulingkan perahumu, akan tetapi kalau engkau tidak mau dan masih banyak cerewet, yang jelas sekarang juga aku akan membikin perahumu terguling!" bentak Kui Hong yang gemas sekali melihat tukang perahu itu ketakutan dan menolak permintaan mereka.
Mata tukang perahu itu terbelalak kaget dan mukanya berubah pucat. Celaka, pikirnya, kiranya dua orang perempuan yang menumpang di perahunya ini sama gilanya dengan laki-laki peniup suling itu! Akan tetapi karena yang mengancamnya hanya seorang gadis remaja, tentu saja dia tidak begitu takut. Agaknya Kui Hong melihat pula hal ini, maka ia pun menggerakkan jari-jari tangan kirinya, menusuk pinggiran perahu yang terbuat dari papan tebal itu.
"Cusss .......!" Tiga buah jari yang kecil mungil itu menusuk masuk ke dalam kayu yang keras itu seolah-olah papan tebal itu hanya merupakan tahu yang lunak saja.
"Kau ingin aku membikin lubang-lubang di dasar perahumu?" Kui Hong membentak.
Mata kakek itu semakin melebar dan mukanya semakin pucat. "Tidak... tidak, Siocia, baiklah... saya... saya mendekatkan perahu ...." katanya dengan suara gemetar. Hampir dia tidak dapat percaya melihat betapa tiga buah jari tangan yang kecil mungil dan halus itu dapat menusuk dan amblas ke papan perahu seperti tiga batang jari baja memasuki agar-agar saja! Karena maklum bahwa ancaman di dalam perahun